h-index Saya Duabelas

21 02 2015

h-index merupakan salah satu indeks yang digunakan untuk mengukur produktivitas dari seorang peneliti. Saat ini h-index dijadikan salah satu kriteria oleh Dikti bagi dosen yang mengajukan proposal penelitian. Peneliti dapat meneliti lebih dari 1 jika h index-nya pada nilai tertentu. Yang saya belum tahu adalah h index siapa yang dijadikan dasar penilaian dan dimulai tahun berapa. Ada beberapa organisasi yang menghitung h index antara lain google scholar, scopus, web of science dll.
h-index dapat dihitung secara manual dengan melihat jumlah sitasi dari semua paper yang diterbitkan oleh seorang peneliti.
Saya coba menghitung h index berdasarkan sitasi/kutipan dari google scholar. Untuk menentukan h-index, maka urutkan paper anda berdasarkan jumlah sitasi terbanyak. Sebagai contoh, saya mempunyai kurang lebih 80 paper yang dipublikasikan sejak tahun 1993-2014. Dari sekian banyak paper yang saya publikasikan tersebut terdapat 13 paper yang terbanyak disitasi, yaitu masing-masing sebanyak 89, 32, 32, 24, 23, 21, 18, 15, 13, 12, 12, 12 dan 12 paper.
Paper Jumlah sitasi
1              89
2             32

3            32
4             24
5             23
6             22
7             21
8             18
9             15
10           13
11            12
12           12
13           12
Cara menghitung h-index yaitu:
• h-index 1 = ada 1 paper yang disitasi minimal satu kali
• h-index 2 = ada 2 paper yang disitasi minimal dua kali
• h-index 3 = ada 3 paper yang disitasi minimal tiga kali
• h-index 4 = ada 4 paper yang disitasi minimal empat kali
• h-index 5 = ada 5 paper yang disitasi minimal lima kali
• h-index 6 = ada 6 paper yang disitasi minimal enam kali.
Dari data jumlah sitasi paper saya tersebut, maka saya hanya memiliki 12 paper yang disitasi minimal 12 kali sehingga h-index saya= 12. Sisanya tidak berpengaruh dalam penghitungan h index.

h index saya periode 2007-2012 hanya 2 dan periode 2007-2014 hanya 3, dan periode 2012-2014 hanya 2.





Kriteria Pemeringkatan Universitas Global

17 02 2015

Dikompilasi oeh: Urip Santoso

Wibometrics
Webometrics bukanlah pemeringkatan universitas di dunia, melainkan pemeringkatan website universitas di dunia. Ini yang harus dipahami oleh masyarakat. Filosofi dasar dari Webometrics Ranking adalah untuk mempromosikan publikasi web. Secara lebih terinci tujuannya adalah mendukung inisiatif akses terbuka, akses elektronik untuk publikasi ilmiah dan materi akademik lainnya. Indikator pemeringkatan web disini, tidak saja didasarkan pada jumlah kunjungan atau desain halaman tapi yang lebih penting adalah kinerja global dan visibilitas dari universitas itu sendiri. Jadi, kuncinya adalah bagaimana universitas bisa memperbanyak konten (scientific paper) yang dishare ke publik, diindeks di mesin pencari, dan kepiawaian universitas memainkan Search Engine Optimization (SEO) untuk mengarahkan mesin pencari ke situs universitas. Pelopor perangkingan universitas Webometrics ini adalah Cybermetrics Lab, sebuah group penelitian dari Centro de Información y Documentación (CINDOC) yang merupakan bagian dari National Research Council (CSIC), Spanyol. Mulai melakukan perangkingan universitas pada tahun 2004, dan mempublikasikan rangking universitas setiap enam bulan sekali (bulan Januari dan Juli).
Metode perhitungannya adalah sebagai berikut.
Visibility (50%)
• IMPACT, jumlah backlink atau link yang didapat oleh sebuah universitas dari pihak ketiga, dan dalam perhitungan ini jenis backlink dibagi menjadi dua, yaitu backlink aktif saat ini yang diambil dari perhitungan oleh website Majesticseo dan backlink histori yang diambil dari website ahrefs.
Activity (50%)
• PRESENCE, banyaknya jumlah halaman website dan banyaknya file (rich file) yang ada pada sebuah domain ataupun subdomain dari suatu universitas yang terindeks oleh mesin pencari Google.
• OPENNESS, jumlah jurnal, artikel ilmiah ataupun penelitian yang ada dan telah diterbitkan ke dalam website pada domain ataupun subdomain sebuah universitas, dan syarat utamanya adalah file atau tulisan harus dalam bentuk pdf.
• EXCELLENCE, jumlah penelitian ilmiah yang berlabel internasional dan terdaftar pada Scimago Group, dalam hal ini juga termasuk jurnal internasional yang telah terindeks atau terpublish pada Scopus. Read the rest of this entry »





Hubungan Tridharma Perguruan Tinggi

25 01 2015

Perguruan tinggi mempunyai tiga tugas pokok dan fungsi yang disebut dengan tridharma perguruan tinggi. Ketiga dharma tersebut adalah pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan ilmu, dan pengabdian pada masyarakat. Ketiga dharma tersebut harus dilaksanakan secara simultan. Dalam pelaksanaannya, ketiga dharma tersebut dibebankan kepada dosen. Jadi dosen mempunyai tugas yang amat berat. Dosen diibaratkan mempunyai tiga kali lipat tugas jika dibandingkan dengan PNS yang lain. Dosen bertugas sebagai pendidik sebagaimana tugas guru.  Dosen juga bertugas sebagai peneliti sebagaimana tugas peneliti di lembaga penelitian. Dosen juga bertugas sebagai penyuluh sebagaimana tugas para penyuluh di dinas-dinas. Selain dosen, mahasiswa juga diharapkan untuk melaksanakan ketiga dharma tersebut. Dosen dan mahasiswa disebut sebagai sivitas akademika yang berperan melaksanakan tridharma perguruan tinggi, sementara karyawan di perguruan tinggi berperan dalam bidang administrasi agar pelaksanaan tridharma perguruan tinggi berjalan dengan baik.

Hubungan ketiga dharma tersebut disajikan dalam gambar 1. Tujuan dharma pertama adalah menghasilkan lulusan yang mempunyai karater saintifik yang mampu mengaplikasikan ilmunya di lapangan baik sebagai ilmuwan mandiri maupun sebagai wirausahawan baru. Intinya, di dalam dharma pertama ini terjadi transfer ilmu sekaligus pembentukkan karakter mahasiswa. Permasalahan yang berkembang dalam dharma pertama dapat  menghasilkan ide atau gagasan untuk melakukan pengembangan ilmu baik melalui penelitian maupun hasil pemikiran. Dharma kedua ini intinya melalui penelitian dikembangkanlah ilmu, teknologi dan seni. Melalui pendidikan dan pengajaran juga akan dihasilkan para penggerak pembangunan (para mahasiswa, dosen dan lulusan) di masyarakat. Read the rest of this entry »





Sasaran Kerja PNS (SKP) sebagai Pengganti DP3

20 01 2014

Mulai tahun 2014 penilaian PNS yaitu DP3 diganti dengan SKP menurut PP 46 Tahun 2011. Sementara petunjuk teknisnya juga telah diterbitkan yaitu Perka BKN no 1 tahun 2013. Meskipun demikian Perka BKN itu harus diterjemahkan lebih lanjut oleh institusi  agar operasional.

Sebagai contoh, untuk dosen contoh yang diberikan oleh BKN dalam Perka tersebut kurang menggambarkan  Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) dosen. Dalam Perka tersebut hanya mencontohkan sebagian kecil tugas dosen. Jika contoh itu diterapkan begitu saja maka akan banyak dosen yang tidak bisa memperoleh SKP yang baik. Mengapa? Sebab ada poin-poin yang tidak semua dosen dapat dilaksanakannya. Contohnya adalah membimbing mahasiswa KKN. Jumlah mahasiswa KKN itu kan terbatas, maka tidak memungkinkan semua dosen menjadi pembimbing KKN. Lalu, tidak semua perguruan tinggi mewajibkan mahasiswa KKN.  Jika membimbing KKN itu wajib ada, maka banyak dosen yang tidak mendapat nilai dari poin ini. Demikian pula membimbing seminar mahasiswa, membimbing skripsi, menguji skripsi dll. Tidak semua dosen memperoleh bimbingan, karena jumlah mahasiswa di Program Studi tertentu juga terbatas. Disamping itu dalam contoh yang dibuat oleh BKN itu kurang menggambarkan keseimbangan Tri Dharma Perguruan Tinggi, karena BKN lebih menekankan pada pendidikan & pengajaran.

Untuk itu, khusus untuk dosen SKP bisa disesuaikan dengan peraturan Beban Kerja Dosen (BKD) atau peraturan tentang Angka Kredit Dosen (AKD) yang tertuang dalam Permenpan no. 17 tahun 2013.  Lalu siapa yang berwenang untuk membuat aturan SKP itu, sebab dalam SKP juga ada angka kredit yang besarnya berbeda dengan aturan BKD dan AKD. Menurut saya institusi yang berwenang untuk membuat aturan angka kredit SKP adalah Dikti. Sayangnya sampai detik ini belum ada tanda-tanda Dikti membuatnya, padahal aturan SKP ini berlaku mulai tahun 2014.

Nah, sambil menunggu peraturan angka kredit SKP dari Dikti, sebaiknya setiap perguruan tinggi mencoba menjabarkan angka kredit SKP dengan mengacu pada contoh pada Perka BKN no 1 tahun 2013 khusus untuk dosen.

Kalau membaca contoh-contoh dalam Perka itu tampaknya perguruan tinggi bukan saja harus membuat angka kredit SKP untuk dosen, tapi juga untuk non-dosen, agar setiap PNS bisa mengisi SKP sesuai dengan Tupoksinya masing-masing.

Berikut saya sajikan power point Petunjuk Teknis SKP dan contoh SKP. Semoga bermanfaat bagi pembaca.





Menggugat Perpres 88 Tahun 2013

19 12 2013

Remunerasi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah ditandatangani oleh Presiden RI. Namun sayangnya, dosen tidak dimasukkan ke dalam daftar penerima remunerasi dengan alasan bahwa dosen sudah menerima tunjangan sertifikasi. Suatu alasan yang dibuat-buat, sebab sertifikasi dan remunerasi adalah dua hal yang berbeda. Kalau dosen di lingkungan kementerian lain memperoleh remunerasi, mengapa di Kemendikbud tidak menerima? Kalau dosen di lingkungan kementerian lain memperoleh  remunerasi dari selisih nilai grade remunerasi dan tunjangan sertifikasi, mengapa di Kemendikbud tidak? Ini jelas pemerintah tidak menunjukkan keadilan! Dosen di satu sisi termasuk PNS sehingga kewajiban sebagai PNS harus dipenuhi termasuk kehadiran, di sisi lain dosen diperlakukan lain seperti tidak mendapat cuti tahunan dan tidak memperoleh remunerasi. Padahal dosen dituntut untuk   menghasilkan produk-produk yang bermutu tinggi seperti menghasilkan patent, artikel ilmiah berskala nasional dan internasional dsb.

Dosen adalah pelaku utama di perguruan tinggi, tetapi mengapa dosen selalu diperlakukan tidak adil? Karyawan yang notabene sebagai pelaku pendukung di perguruan tinggi malahan mendapat gaji yang jauh lebih besar daripada dosen. Guru besar yang notabene sebagai ikon perguruan tinggi dan dituntut menghasilkan produk-produk yang bermutu internasional menerima gaji yang jauh lebih rendah daripada Kepala Biro, sementara Lektor Kepala akan menerima gaji lebih rendah daripada Kepala Bagian, dst.

Kalau alasan dosen sudah menerima tunjangan profesi, maka ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan:

1) apakah tunjangan profesi itu sudah senilai tunjangan remunerasi?

2) apakah sudah semua dosen menerima tunjangan profesi? Bukankah tunjangan itu diperoleh dengan susah payah dengan memenuhi kriteria tertentu? Bukankah dosen yang tidak memenuhi kinerja akan diputus tunjangan profesinya? Bukankah dosen yang sekolah juga diputus tunjangan profesinya?

3) Dosen dituntut berkinerja setinggi langit agar citra  Indonesia di dunia internasional terdongkrak tapi malahan  haknya tidak diperhatikan>

4) Bukankah dosen dan guru itu  merupakan garda terdepan dalam menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu? Bukankah negara yang maju adalah negara yang mempunyai SDM yang bagus?

5) Bukankah dosen dituntut harus berpendidikan S3  untuk mencapai jenjang Lektor Kepala dan Guru Besar?

6) dan masih banyak pertanyaan mengapa dosen diperlakukan kurang adil.

Bagi  mereka yang berpendapat bahwa dosen sudah menerima berbagai tunjangan, cobalah lihat besaran rupiahnya. Sangat kecil! Itu tidak sepadan dengan tugas dosen yang amat berat, yaitu mendidik dan mengajar, mengembangkan ilmu dan mengabdi kepada masyarakat. Oleh sebab itu wajarlah jika timbul petisi sebagai reaksi dari Perpres 88 tahun 2013.

Berikut  petisi dosen yang perlu didukung oleh semua dosen.

Petisi thd Perpres 88 2013

Bagi yang penasaran tentang Perpress 88 2013 dapat berkunjung disini.

Selain itu, petisi juga menggugat Perpress 65 Tahun 2007 mengenai tunjangan fungsional dosen. Memang kalau dilihat nilai rupiah dari perpres tersebut memang tidak masuk akal. Dosen yang berkewajiban melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi mendapat tunjangan fungsional yang rendah. Apalagi perpres itu sudah 7 tahun dan selama 7 tahun nilai rupiah semakin anjlok. Jadi rupiah dalam perpres tersebut sudah tidak relevan lagi saat ini (tahun 2014). Tunjangan fungsional  sebagai guru besar (jenjang jabatan tertinggi dosen) hanya Rp 1.350.000,-/bulan. Tunjangan ini jauh lebih rendah dari Kepala Biro di suatu perguruan tinggi. Padahal karyawan dalam suatu perguruan tinggi fungsinya adalah sebagai SDM pendukung sementara pelaku utama adalah dosen.

Berikut saya sajikan perpres 65 tahun 2007! Perpres65-2007Tunjangan

Sebagai tambahan berikut saya sajikan tulisan M. Arifinal. yang dikirmkan kepada saya melalui e-mail.





Refleksi Pelatihan ALIHE Hari Kedua

13 11 2013

Hari ini adalah hari kedua saya mengikuti Alihe. Saya sangat terkesan terhadap cara pembelajaran yang dicontohkan oleh para instruktur. Mereka benar-benar mempraktekkan pembelajaran aktif. Mereka benar-benar mampu memotivasi saya dan teman-teman saya untuk menyelesaikan tugas sebaik-baiknya. Saya tidak merasa bosan meskipun saya harus belajar dari jam 08.00 sampai jam 17.00. Sungguh suatu praktek pembelajaran aktif yang bagus. Saya termotivasi untuk berusaha mempraktekkan pembelajaran aktif pada matakuliah  yang saya asuh nanti setelah selesai pelatihan ini. Sebab banyak hal yang harus saya perbaiki dari proses belajar mengajar yang telah saya lakukan selama puluhan tahun menjadi dosen. Saya menjadi sadar bahwa saya harus selalu memperbaiki Proses belajar mengajar saya, sehingga saya bukan saja hanya berperan sebagai pengajar  namun juga sebagai pendidik. Saya sadar saya harus memperbaiki proses belajar mengajar saya secara berkala sesuai dengan perkembangan zaman, kondisi mahasiswa, perkembangan teknologi pembelajaran, kondisi fasilitas yang tersedia. Dengan demikian saya mampu mengembangkan metode belajar mengajar sesuai dengan kondisi dan situasi saat itu. Read the rest of this entry »





Refleksi Pelatihan ALIHE Hari Pertama

13 11 2013

Pada hari pertama saya mengikuti pelatihan ALIHE paling tidak saya mendapat penyegaran mengenai metode pembelajaran yang pernah saya ikuti beberapa puluh tahun yang lalu. Saya diingatkan kembali kepada beberapa hal antara lain bagaimana seharusnya dosen  mengajar dan memotivasi mahasiswa agar apa yang disampaikan oleh saya dapat dengan mudah dikuasai oleh mahasiswa. Meskipun apa yang disampaikan dalam pelatihan itu beberapa hal sudah saya praktekkan namun pada dasarnya saya memperoleh atau diingatkan kembali beberapa poin penting yang saya lupakan. Dengan demikian, mudah-mudahan saya bisa memperbaiki  metode belajar-mengajar saya di semester-semester berikutnya.

Pembelajaran itu bukan sekadar transfer ilmu, tetapi yang lebih penting lagi adalah mendidik bagaimana mahasiswa itu mempunyai moral yang mulia. IQ hanyalah memberikan sedikit kontribusi pada kesuksesan mahasiswa, hanya berkisar antara 5-20%. Selebihnya adalah EQ, SQ & kecerdasan sosial dan kecerdasan kinetestik. Saya sangat setuju itu. Dalam pembelajaran yang saya praktekkan selama ini juga telah menyelipkan nilai-nilai moral. Hal ini bertujuan mengingatkan kepada mahasiswa agar tidak terjebak hanya kepada pencapaian nilai tertinggi, tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana menjadi insan yang cerdas secara menyeluruh. Read the rest of this entry »