Kualitas Pellet Pakan Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan Unggas

6 11 2009

 Devi Joni Taufik
Abstrak
Pellet merupakan pakan yang baik untuk digunakan sebagai pakan penambah berat badan pada unggas. Kualitas pellet bervariasi untuk jenis-jenis unggas pedaging. Kualitas pellet terutama penting untuk itik dimana index ketahanan pellet (PDI = pellet durability index) diupayakan 96 % untuk penampilan produksi yang optimum, sedangkan untuk pakan kalkun target PDI 90 % atau broiler PDI 80 %. Pada umumnya upaya mengoptimalkan PDI tetap merupakan alasan yang baik sepanjang perbaikan PDI bisa mengefisienkan biaya. Kendalanya adalah memastikan teknik manajemen dan teknologi pelleting mana yang paling efisien untuk diaplikasikan dalam produksi pakan unggas.

Kebanyakan pakan unggas di banyak negara diproduksi dalam bentuk butiran maupun pellet. Keuntungan memproses pellet adalah: mengurangi pengambilan pakan secara seletif oleh unggas, meningkatkan ketersediaan nutrisi, menurunkan energi yang dibutuhkan sewaktu mengkonsumsi pakan, mengurangi kandungan bakteri pathogen, meningkatkan kepadatan pakan sehingga dapat mengurangi biaya penggunaan truk, mengurangi penyusutan pakan karena debu, dan memperbaiki penanganan pakan pada penggunaan alat makan otomatis. Semua keuntungan ini akan secara dratis menurunkan biaya produksi.

Kualitas pellet bagi ternak terrestrial, berbeda dengan spesies akuatik, sangat terkait dengan durabilitas, yaitu ketahanan fisik dari pakan pellet menghadapi proses penanganan dan transportasi sehingga dihasilkan tepung maupun patahan pellet dalam jumlah minimum. Durabilitas diukur dengan nilai persentase pellet ataupun tepung dalam pakan jadi disingkat sebagai PDI (“pellet durability index”). PDI menggambarkan persentase berat pellet yang tetap utuh setelah melewati alat uji standar (KSU tumbling cane, Holman tester, Kahl tester, dll). Dengan masih terbatasnya pengetahuan kita tentang  pellet maka kita harus mencari, melihat membaca, mengetahui, dan memahami semua tentang pellet dari proses pengolahan, bentuk yang baik, menjaga kualitas,dsb.

 Kata Kunci : pellet, pakan, unggas. 

 PENDAHULUAN :

Pada dasarnya ada tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan ternak agar diperoleh berat badan yang diharapkan, yaitu faktor genetik, faktor lingkungan dan manajemen.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan pada Unggas, Bentuk pakan pelet akan lebih efisien dalam menghasilkan berat badan jika dibadingkan dengan pakan dalam bentuk tepung. Pakan bentuk tepung akan banyak yang terbuang sebagai debu (urip santoso.2008). Salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi produksi unggas adalah pakan, pakan yang baik juga mempengaruhi kualitas dan pertumbuhan berat badan unggas. Pellet merupakan pakan yang sangat baik untuk pertambahan berat badan, walaupun kemungkinan-kemungkinan adanya ditemukan pakan- pakan yang lebih baik dari pada pellet yang harus melakukan penelitian-penelitian yang membutuhkan waktu yang lama dan sulit sebelumnya.

Strain ayam pedaging final stock diperoleh dari keturunan parent stock dan merupakan hasil seleksi yang dilakukan secara terus menerus sehingga diperoleh hasil yang betul-betul produktif (Anonymous, l983). Kalaupun ada perbedaan pada berat badan, hal tersebut logis karena disebabkan oleh perbedaan genetik dan pengaruh faktor makanan yang diberikan serta seleksi telur yang ditetaskan (Aitken et al., l969) yang dikutip oleh Nathaneal (l975).

Banyaknya penelitian-penelitian untuk mengetahui pakan yang baik dan dapat dijadikan pakan pengganti pellet untuk menambah berat badan unggas. Tetapi sampai saat ini pellet masih dianggap pakan yang paling baik, meskipun untuk proses pembuatannnya masih sulit untuk kita yang masih belum begitu mengetahui tentang ilmu tersebut. Tetapi sekarang pellet dengan mudah dapat kita temukan di tempat-tempat atau took-toko yang menjual pakan-pakan ternak di daerah-daerah kita tinggal.

Dengan masih terbatasnya pengetahuan kita tentang pellet maka kita harus mencari, melihat membaca, mengetahui, dan memahami semua hal yang berhubungan dengan pellet dari proses pengolahan, bentuk yang baik, menjaga kualitas,dsb. Karena itu merupakan hal yang harus kita pahami lebih dalam untuk dapat berternak dengan baik.

 Penampilan Ayam VS Kualitas Pellet

Zatari et al (1990) membandingkan dua jenis pakan yang berbeda kualitas pellet (75 % pellet dan 25 % tepung versus 25 % pellet dan 75 % tepung) terhadap penampilan ayam broiler selama periode pemeliharaan 49 hari. Pakan 75 % pellet memberikan keuntungan dalam hal berat badan akhir dan nilai konversi pakan kumulatif dibandingkan pakan 25 % pellet. Dibandingkan dengan ayam broiler, kalkun bereaksi negatip terhadap peningkatan persentase tepung dalam pakan. Kualitas pellet merupakan faktor kritis bagi kalkun mengingat spesies ini menghabiskan banyak waktu mengkonsumsi pakan sehingga kualitas pellet yang kurang baik menyebabkan lebih banyak pakan sisa. Menggunakan kalkun jantan yang dipelihara sejak umur 7 sampai 18 minggu, Brewer et al (1990) memperlihatkan adanya perbaikan nilai konversi pakan sebesar 7 dan 10 point pada kalkun yang mengkonsumsi pakan 10 % tepung dibandingkan jika diberikan pakan 50 % tepung.

Kualitas pellet memberikan pengaruh yang lebih beragam jika diberikan kepada itik, dibandingkan terhadap broiler dan kalkun. Seringkali ditemukan material lengket pada paruh itik yang diberi pakan tepung. Pengerasan sisa pakan tersebut mengurangi konsumsi pakan dan meningkatkan pakan yang terbuang sementara itik membersihkan paruhnya dengan air dalam upaya untuk menyingkirkan material yang melekat tersebut Dean (1986) menunjukkan bahwa penurunan kandungan tepung dalam pakan dari 16 % menjadi 0 % mengarah pada peningkatan 2,8 % nisbah konversi pakan.

Tahap-tahap Memperbaiki Kualitas Pellet

Bahan baku mempunyai pengaruh yang sangat nyata terhadap kualitas pellet. Kandungan perekat (binder) alami (misalnya pati), protein, serat, mineral dan lemak dari bahan baku akan mempengaruhi kualitas pellet. Barley, gandum, kanola dan rape seed meal mengandung perekat alami yang membentuk ikatan fisik – kimia selama proses untuk menghasilkan pellet yang berkualitas lebih baik. Meskipun demikian, di luar kawasan Eropa dimana banyak menggunakan gandum dan rape seed meal sebagai bahan utama, pakan unggas yang banyak menggunakan bijian (jagung atau sorghum) dan bungkil kedele mempunyai daya rekat yang rendah.

Dalam banyak hal, formulasi pakan ayam pedaging mendasarkan pada metoda “least cost” maupun “optimal cost” yang tidak memperhitungkan “pelletabilitas” setiap bahan baku. Selain pilihan bahan baku, teknik manajemen lainnya menawarkan upaya-upaya mengefektifkan biaya untuk memperbaiki kualitas pellet. Pakan mengandung bijian kasar dalam jumlah banyak membutuhkan penanganan yang ekstra dinitikberatkan pada ukuran partikel, kondisioner, kondisi die dan kandungan lemak (Tabel 1).

 Tabel 1. Pengaruh Faktor-faktor Pelleting terhadap Kualitas Pellet

Faktor Perbaikan PDI (%)
Penambahan 15 % gandum ke pakan basis jagung-bungkil kedele 11,6
Penambahan perekat sintetis (binder) 1,25 % ke dalam pakan basis jagung – bungkil kedele 12,5
Meningkatkan suhu kondisioning 10oF (1) 10,0
Mengurangi lemak dalam mixer dari 1 % ke 0 % 5,0
Mengurangi ukuran partikel dari 665 menjadi 500 mikron (2) 14,5
Meningkatkan kelembaban bahan tepung dalam mixer dari 12 ke 14,5 % (3) 10,0
Menggunakan expander plus pelleting versus pelleting (4) 15,0

1)Winowiski, 1999 (2)McEllhiney, 1992 (3)Greer and Fairchild, 1999 (4)Smith et al., 1995

Menghindari Penggilingan Tidak Ekonomis

Menggiling bijian menjadi ukuran partikel yang halus akan meningkatkan kualitas pellet. Semakin kecil partikel akan semakin besar luas permukaan yang memungkinkan penetrasi panas dan kelembaban lebih cepat ke inti partikel selama proses kondisioning sehingga dapat meningkatkan pemasakan dan gelatinasi sel-sel pati. Ukuran partikel yang optimum untuk meningkatkan durabilitas pellet pada pakan unggas dengan kandungan utama jagung-kedele haruslah dalam kisaran 650 – 700 mikron. Memperkecil ukuran partikel jagung menjadi 500 mikron akan memperbaiki kualitas pellet dibandingkan ukuran 700 mikron, tetapi pengurangan ukuran partikel akan meningkatkan kebutuhan enerji penggilingan menjadi dua kali lipat (McEllhiney, 1992).

Mengoptimalkan Kelembaban Tepung

Riset terakhir dari Kansas State University (KSU) menunjukkan bahwa kandungan kelembaban dari tepung sebelum kondisioning mempunyai pengaruh yang linier (R=0,97) terhadap kualitas pellet (Geer and Fairchild, 1999). Teknik baru memungkinkan penambahan kelembaban sejak dari mixer, yang dapat menjadi cukup menguntungkan apabila menggunakan bijian dengan kelembaban yang rendah. Beyer et al (2000) pada penelitian terhadap broiler sampai umur 42 hari melaporkan bahwa peningkatan PDI (61,7 % vs 87,3 %) dengan cara mengendalikan kelembaban di mixer dapat memperbaiki konversi pakan. FCR diperbaiki 5 point pada fase umur 3 – 6 minggu dan membaik 2 point selama umur 0 – 6 minggu. Sebaliknya peneliti KSU juga menemukan beberapa kerugian yaitu bahwa penambahan kelembaban di mixer akan meningkatkan berat per volume pakan yang menjadikan tidak efektivifnya transportasi. Termasuk juga berakibat negatif terhadap densitas nutrisi.

Kualitas Steam

Pakan unggas dengan kandungan utama jagung atau sorghum membutuhkan kondisioning yang baik untuk mengaktifkan perekat alami dan meningkatkan kualitas pellet. Kondisioning yang tepat membuka sel-sel pati dari jagung (sebagai contoh), mengubah susunan molekul-molekul amilosa dan amilopektin yang akan membentuk bulatan di sekeliling molekul bahan baku lain dalam proses yang dikenal sebagai gelatinasi. Amilopektin bebas dari kondisioning adalah yang paling berperan dalam hal kualitas pellet.

Kondisioning yang cukup harus berlangsung dalam periode yang singkat, tidak lebih dari beberapa menit dalam sistem steam konvensional atau 30 detik dalam super conditioner atau sistem expander. Steam berkualitas baik akan membantu mengoptimalkan pengaruh panas dan kelembaban terhadap bahan tepung. Kualitas steam didefinisikan sebagai jumlah uap air dibagi campuran air bebas dan uap air. Steam jenuh terdiri atas 100 % uap air, sedangkan steam basah mengandung air bebas dan uap air sehingga kandungan uap air lebih kecil dari 100 %. Turner (1995) menyarankan bahwa dalam menggunakan steam jenuh (steam kualitas baik) suhu bahan tepung meningkat sekitar 16oC untuk setiap peningkatan 1 % kelembaban bahan tepung. Jika kualitas steam dikurangi menjadi 80 % (steam basah) maka suhu bahan tepung hanya meningkat 13,5oC untuk setiap peningkatan 1 % kelembaban. Kualitas steam yang jelek dapat mengurangi suhu kondisioning 6 – 11oC tergantung pada jumlah kelembaban yang ditambahkan.

Rendahnya kualitas steam bisa terjadi akibat kehilangan panas dalam saluran steam atau akibat masuknya buih-buih ke dalam saluran steam. Apabila steam menjadi masalah maka bisa dipasang steam trap untuk membuang kondensat ke luar saluran steam. Trap harus dipasang pada interval jarak 30 meter dan pada belokan steam. Sistem untuk menghasilkan steam berkualitas baik harus mengkombinasikan separator – regulator – steam trap pada jalur steam ke kondisioning untuk membuang tetesan – tetesan air yang tidak bisa dibuang melalui steam trap sepanjang saluran steam. Dengan sistim steam yang konvensional diharapkan steam kualitas baik (97 %) yang masuk ke kondisioning untuk memungkinkan tercapainya suhu kondisioning 88oC.

Dimana dan Bagaimana Aplikasi Lemak

Dimana dan bagaimana mengaplikasikan lemak dalam proses produksi pakan membuat perbedaan yang besar dalam kualitas pellet. Pengalaman menunjukkan bahwa penambahan lemak lebih dari 2 % di mixer menyebabkan penurunan kualitas pellet. Kandungan lemak yang tinggi dalam bahan tepung cenderung mengurangi pergesekan antara pakan, die dan roller. Ini menghindari roller menekan pakan melewati die secara efektif dan berkompresi.

Sebaliknya sistem aplikasi yang lebih moderen (untuk post pelleting) bisa menambahkan lemak tanpa mempengaruhi kualitas pellet. Lemak dapat ditambahkan di die meskipun ini akan menimbulkan masalah kebersihan di jalur setelah mesin pellet khususnya di dalam cooler. Belakangan ini adakecenderungan untuk menambahkan lemak pada fase akhir (load out) menggunakan sistem coating yang disemprotkan (bertekanan atau tidak). Apabila penambahan lemak di die hanya bisa mengaplikasikan 2 – 3 %, maka teknologi terakhir (load out) memungkinkan penambahan lemak 6 – 8 %. Teknologi ini memberikan waktu yang cukup bagi lemak untuk diserap ke dalam pellet tanpa masalah pelepasan panas dan kelembaban dari pellet seperti yang biasa terjadi pada die.

Perawatan Die yang Hati-hati

Mempertahankan kondisi optimum dari die adalah vital untuk menghasilkan pellet berkualitas tinggi. Beberapa masalah umum yang mempengaruhi kualitas pellet adalah keausan pemukaan die, korosif, lubang melebar. Masalah ini menurunkan kualitas pellet akibat berkurangnya ketebalan efektif die dan rasio kompresi lubang die. Apabila kualita pellet terlihat menurun dalam waktu lama tanpa penyebab yang jelas, maka rekondisi die atau penggantian die perlu dilakukan.

Rekondisi die dapat memperpanjang umur die dan memberikan kapasitas produksi tambahan, diperkirakan sebanyak 65.000 ton untuk pakan broiler, yang biayanya lebih murah dibandingkan mengganti dengan die baru. Meskipun demikian, keuntungan dari performans ayam sebagai konsekuensi kualitas pellet yang optimum harus seimbang dengan biaya pergantian die. Sebagai contoh, produsen pakan itik merekondisi die tiga kali lebih sering daripada produsen pakan broiler karena kepentingan untuk kualitas pellet yang lebih baik. Lubrikasi pellet mill yang lebih sering, membersihkan logam-logam yang terperangkap di atas mesin pellet, dan penyesuaian jarak antara roller dan die secara hati-harti dapat membantu mengurangi masalah die.

Pengembalian Investasi Atas Penampilan Produksi Unggas

Dari sudut pandang efektivitas biaya, maka kualitas steam, aplikasi lemak dan perawatan die adalah yang paling menguntungkan untuk optimalisasi kualitas pellet. Pilihan – pilihan lain bisa juga memperbaiki kualitas pellet secara nyata tetapi akan membutuhkan peralatan baru atau modifikasi yang dapat meningkatkan biaya produksi. Juga adalah memungkinkan untuk meningkatkan kualitas pellet dengan menggunakan bahan baku yang mengandung perekat alami seperti gandum dan produk ikutannya. Jalan lain juga dengan menambahkan perekat pellet komersial. Manipulasi formula untuk meningkatkan kualitas pellet akan mengurangi keleluasaan dalam formulasi (“least cost”) dan dalam jangka panjang meningkatkan biaya.

 Proses pengolahan pellet terdiri dari 3 tahap yaitu:

(1) Pengolahan Pendahuluan: Ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan,

(2) Pembuatan pellet terdiri atas proses penguapan, pencetakan, pendinginan dan pengeringan dan

(3) Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan.
Pada proses pembuatan pellet terdapat proses kondisioning dimana campuran bahan pakan dipanaskan dengan air dengan tujuan untuk gelatinisasi.

Tujuan gelatinisasi yaitu agar terjadi pencetakan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pellet kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus. Penguapan dalam proses pembuatan pakan berbentuk pellet bertujuan:

(1) Pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit,

(2) Menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat,

(3) Pakan menjadi lunak, sehingga apabila diberikan pada ternak ayam maka akan lebih mudah mencernanya dan

(4) menciptakan aroma pakan yang lebih merangsang nafsu makan ayam (Pond and Church, 1995).

Penguapan tidak boleh dilakukan diatas suhu yang diizinkan, yaitu sekitar 800C. Penguapan dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino. Bentuk fisik pellet yang baik:

(1) Hardness (tingkat kekerasan): Pellet yang baik mempunyai tingkat kekerasan yang sedang. Pellet tidak boleh terlampau keras atau terlalu lunak,

(2) Durabilitas: Durabilitas yaitu kemampuan dari pellet untuk mempertahankan bentuknya dari penanganan atau pada saat pengiriman. Pellet yang baik tidak mudah pecah, tidak retak-retak dan tidak berdebu dan

(3) Appearance (penampilan): Pellet yang baik mempunyai ukuran yang agak panjang dan seragam, bentuk rupanya baik dan kompak serta tidak ditumbuhi oleh jamur.

Menjaga kualitas Pelet

Menjaga kualitas pellet dapat kita lakukan dari beberapa segi yaitu:

1.Bahan Baku

Untuk membuat pakan yang bermutu diperlukan bahan baku yang berkualitas baik. Contohnya jagung kuning, kadar airnya tidak boleh berlebih karena jagung seperti ini kandungan nutrisinya akan menyimpang jauh dari nilai standar.

2.Formula pakan yang baik

Formula yang dibuat harus seimbang dengan kebutuhan nutrien yang diperlukan tidak berlebih atau kurang (Sutardi, 2003). Perlu dicermati apabila terjadi kesalahan pada penyusunan formula maka akan dapat mempengaruhi kualitas pellet dan itu juga akan mempengaruhi metabolisme dalam tubuh ternak yang mengkonsumsinya.

3.Proses penyimpanan pellet: Pellet yang telah dikemas dijaga supaya tidak terjadi kerusakan selama penyimpanan. Untuk itu, Perlu memperhatikan hal-hal berikut:

4.Kadar air tidak lebih dari 14%: Pakan harus dikemas dengan menggunakan karung plastik supaya tidak terjadi kontak langsung dengan udara

5.Pakan disimpan dalam ruangan yang sejuk, kering, tidak lembap, sirkulasi udara baik dan tidak terkena sinar matahari langsung

6.Tumpukan karung pakan sebaiknya tidak terlalu tinggi dan harus diberikan alas berupa platform dari kayu atau papan dengan ketinggian 10-15 cm dari lantai

7.Penerapan manajemen pergudangan, pakan yang akan digunakan adalah yang masuk ke

gudang lebih awal (fifo-first in first out).

 KESIMPULAN

Pellet merupakan pakan yang baik untuk pertambahan berat badan ternak unggas. Khususnya unggas pedaging.  Walaupun proses pembuatan pellet tersebut sulit tetapi sudah banyak dan dapat kita beli ditoko-toko yang menjual pakan-pakan ternak di daerah-daerah kita. Manipulasi formula untuk meningkatkan kualitas pellet akan mengurangi keleluasaan dalam formulasi (“least cost”) dan dalam jangka panjang meningkatkan biaya. Untuk mengoptimalkan kualitas pellet dengan biaya efektif, produsen pakan harus yakin bahwa pabrik sudah melakukan dengan benar penanganan steam, lemak dan die. Menyesuaikan perubahan-perubahan besar dalam formulasi pakan maupun proses produksi, pengembalian dari diperbaikinya penampilan produksi unggas akan harus melebihi dari peningkatan biaya dari produksi pakan.

 DAFTAR PUSTAKA

 Feed International, June 2001, W.A.Dozier, III. Phd

 Santoso Urip.2008.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan Pada Unggas. Universitas Bengkulu

 Anonymous. l983. Pedoman Beternak Ayam Negeri. Cetakan II. Penerbit Kanisius, Jakarta.

 Morrison, F.B. l96l. Feed and Feeding. Nine Ed. The Morrison Publ. Company, Clinton. Iowa.

 Morgan, J.T. and D. Lewis. l96l. Nutrition of Pigs and Poultry. Butter Worths. London.

 Mount. L.E. l979. Adaptation to Thermal Environment, Man and His Productive Animal. Edward Arnold Publishing, London. p. 333.

 Murtidjo, B.A. l987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Penerbit Kanisius Yogyakarta.

 Stell, R.G.D. and J.H. Torrie. l989. Principle and Procedures of Statistics. 2nd. McGraw-Hill International Book Company, London.

 United State Department of Agriculture. l977. Poultry Grading Manual. U.S. Goverment Printing Office Washington D.C.

 Wahju, J. l978. Cara Pemberian dan Penyusunan Ransum Unggas. Cetakan ke Empat, Fakultas Peternakan IPB., Bogor.

 Wathes, C.M. l98l. Insulation of Animal Houses. In : J.A. Clark, Ed. Environmental Aspect of Housing for Animal Production. University of Nottingham.

Winter, A.R., and E.M. Funk. l960. Poultry Science and Practices. Lippincott and Co. New York.

About these ads

Actions

Information

9 responses

22 11 2009
informasi peternakan ayam

terimakasih informasi nya, sangat berguna dan bermanfaaat buat saya….
makasih dan salam kenal

25 11 2009
uripsantoso

Thanks juga, IPA, dan salam kenal juga.

31 01 2010
dion

thank’s infonya bermanfaat bangtt bt saya,,,,,, bleh ngak saya mnta d krimin efek megatif n positif pemeletan dalam hal kolposisi kimia m daya cerna unggas!!! thank’s

1 02 2010
uripsantoso

terima kasih kembali dion.

17 03 2011
ani susanti w

Pak Urip, thanks atas tulisannya…alhamdulillah banyak kasih masukan karena saya sedang mengajukan dana bantuan untuk mengembangkan ternak puyuh…mohon bantuanya jika berkenan untuk merinci pembuatan pakan puyuh beserta mesin yg dibutuhkan pak…trims B4..
Salam Kenal
Wass.

28 10 2012
hikman

hikman/e1c009056
bagaiman kalau pakan pellet diberikan pada ayam petelur?
apakah juga nejadi lebih baik atau sebaliknya..

4 03 2013
hendra apiko

trma kasih pak ats artikel ny, berkat artikel ini, saya tertolong untk menyelesaikan tugas kulyah saya..”

30 12 2013
CV. Pradipta Paramita

Articlenya bagus sekali, semoga dengan ini bisa bermanfaat buat peternak peternak lainnya. Kami menyediakan probiotik yang dapat membantu penyerapan nutrisi sekaligus menghidupkan plankton dan zooplankton di kolam, 081 226 339 79

http://jualprobiotikternak.wordpress.com/probiotik_lele/

http://probiotikpakanternak.wordpress.com/jual_obat-_ternak/

24 01 2014
Haliman Adiwijaya

Mantap artikelnya… Trmksh bnyak sudah mensharenya.
Semoga bermanfaat dan barokah bagi yg lain. Amiinn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: