KEWAJIBAN ANAK TERHADAP ORANGTUA

16 04 2009

Oleh: Urip Santoso

 

            Islam mengatur semua sendi-sendi kehidupan di dunia ini, agar manusia selamat di dunia dan di akherat. Suatu karunia yang tak terhingga bahwa Allah berkenan menurunkan pedoman hidup bagi manusia, agar mereka mendapatkan kebahagiaan sejati. Alangkah ruginya jika kita tidak mentaatinya. Berikut ini adalah uraian tentang bagaimana seorang anak seharusnya bersikap kepada kedua orangtuanya.

 

A. Ketika Orangtua Masih Hidup

1. Menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah Ta’ala.
Menaati kedua orangtua hukumnya wajib atas setiap muslim, sedang me
ndurhakai keduanya merupakan perbuatan yang diharamkan, kecuali jika mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah Ta’ala (berbuat syirik) atau bermaksiat kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, ….” (QS.Luqman: 15). Anda juga dapat membaca hal yang sama dalam Surat Al Israa’ ayat 23-24 serta Ash Shaaffat ayat 102.
            Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan”. (HR. Al-Bukhari)

            Adapun contoh ketaatan anak kepada orangtuanya dapat diwujudkan dalam bentuk:

            a. Apabila orang tua meminta makan maka anak wajib memberikan makan.
            b. Apabila orang tua butuh dilayani maka anak waji melayani.
            c. Apabila orang tua membutuhkan pakaian maka anak wajib membelikannya.
            d. Jika anak dipanggil maka wajib segera datang.
            e. Perintah apapun asal bukan maksiat maka wajib dilaksanakan.

2. Berbakti dan merendahkan diri di hadapan kedua orangtua
Allah Ta’ala berfirman, artinya, “…dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (QS. Al-Israa’: 23-24)  Anda akan mendapati ayat serupa dalam Al Baqarah ayat 83, An Nisaa’ ayat 36, Al An’aam ayat 151, Al ‘Ankabuut ayat 8, Lukman ayat 14, Al Ahqaaf ayat 15
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orangtuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Muslim) .
            Di antara bakti terhadap kedua orangtua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti mereka, walaupun berupa isyarat atau dengan ucapan ‘ah’, tidak mengeraskan suara melebihi suara mereka. Rendahkanlah diri di hadapan keduanya dengan cara mendahulukan segala urusan mereka.

            Wujud lain sebagai pernyataan anak berbakti dan merendahkan diri kepada orangtuanya adalah:
            a. Jangan memanggil orang tua dengan namanya.
            b. Apabila berjalan tidak boleh mendahului orang tua (jika berjalan bersama).
            c. Anak wajib ridho terhadap sesuatu yang terjadi / yang ada pada dirinya .
            * Sesuatu yang membuat kita senang beritahukan kepada orang tua agar senang,

                tetapi jika sesuatu membuat kita sedih jangan diberitahukan pada orang tua.

3. Berbicara lemah lembut di hadapan mereka

            Bergaul dengan orangtua dengan cara yang baik, antara lain adalah dengan berbicara yang lemah lembut kepada keduanya. Tawadlu (rendah hati) kepada keduanya merupakan suatu hal yang wajib  bagi anak.
4.
Menyediakan makanan untuk mereka
Hal ini juga termasuk bentuk bakti kepada kedua orang tua, terutama jika hal tersebut merupakan hasil jerih payah sendiri. Lebih-lebih jika kondisi keduanya sudah renta.
Sudah seyogyanya, mereka disediakan makanan dan minuman yang terbaik dan lebih mendahulukan mereka berdua dari pada dirinya, anaknya dan istrinya.
5. Meminta izin kepada mereka sebelum berjihad dan pergi untuk urusan lainnya.
Izin kepada orangtua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan (kewajibannya untuk dirinya-pent). Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya, ‘Apakah kamu masih mempunyai kedua orangtua?’ Laki-laki tersebut menjawab, ‘Masih’. Beliau bersabda, ‘Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim), dan masih banyak hadits yang semakna dengan hadits tersebut.
6. Memberikan nafkah kepada orangtua

            Beberapa ayat dalam Al Qur’an yang membahas tentang hal ini adalah Al Baqarah ayat 15 dan Ar Rum ayat 38. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata, “Ayahku ingin mengambil hartaku”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil, serta telah berbuat baik kepadanya.
7. Membuat keduanya ridha dengan berbuat baik kepada orang-orang yang dicintainya.
Hendaknya seseorang membuat kedua orang tuanya ridha dengan berbuat baik kepada orang-orang yang mereka cintai. Yaitu dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka, dan lain sebagainya.
8. Memenuhi sumpah/Nazar kedua orangtua
Jika kedua orang tua bersumpah untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena hal itu termasuk hak mereka.
9. Tidak Mencaci maki kedua orangtua.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci maki orangtuanya.”
Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa ada orang yang mencaci maki orangtuanya?’ Beliau menjawab, “ Ada. Dia mencaci maki ayah orang lain kemudian orang tersebut membalas mencaci maki orangtuanya. Dia mencaci maki ibu orang lain lalu orang itu membalas mencaci maki ibunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Terkadang perbuatan tersebut tidak dirasakan oleh seorang anak, dan dilakukan dengan bergurau padahal hal ini merupakan perbuatan dosa besar.
10. Mendahulukan berbakti kepada ibu daripada ayah
Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” beliau menjawab, “Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau kembali menjawab, “Ibumu”. Lelaki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu siapa lagi? Tanyanya. “Ayahmu,” jawab beliau.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas tidak bermakna lebih menaati ibu daripada ayah. Sebab, menaati ayah lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dalam hal yang dibolehkan syari’at. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan taat kepada suaminya.
Maksud ‘lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu’ dalam hadits tersebut adalah bersikap lebih halus dan lembut kepada ibu daripada ayah. Sebagian Ulama salaf berkata, “Hak ayah lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi.”
11. Mendahulukan berbakti kepada kedua orang tua daripada berbuat baik kepada istri.
Di antara hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua lalu mereka tidak bisa keluar kemudian mereka bertawasul dengan amal baik mereka, di antara amal mereka, ‘ada yang mendahulukan memberi susu untuk kedua orang tuanya, walaupun anak dan istrinya membutuhkan’.

12. Mendoakan kedua orang tua

            Ayat Al Qur’an yang membahas tentang kewajiban anak mendoakan keduanya adalah Ibrahim ayat 41, Al Israa’ ayat 24 dan Nuh ayat 28.

13. Memelihara Orangtua

            Ayat Al Qur’an yang membahas tentang hal ini dapat anda jumpai dalam Al Israa’ ayat 23 dan Al Ahqaaf ayat 15.

B. Ketika Orangtua Telah Meninggal

            Ada suatu dialog di zaman Rasulullah. Seorang sahabat menemui Rasulullah dan menyatakan penyesalannya bahwa selama orangtuanya masih hidup ia tidak sempat berbuat baik kepada bapak-ibunya. Ia sekarang menyesal karena merasa sudah tertutup baginya untuk berbuat baik kepada bapak-ibunya. Mendengar keluhan itu Rasulullah menyatakan bahwa berbuat baik kepada kedua orangtua ada dua macam, yaitu ketika mereka masih hidup dan ketika mereka sudah meninggal dunia.

            Ada empat perkara yang dapat dilakukan oleh seorang anak untuk berbuat baik atau berbakti kepada orang tuanya, yaitu: 1) mendoakan keduanya, 2) menjaga tali silaturahmi yang telah dijaga dan dirintis oleh kedua orang tua, 3) melanjutkan kebaikkan yang selama ini dilakukan oleh keduanya, dan 4) jika memungkinkan menziarahi makam keduanya. Uraian lebih rinci adalah seperti uraian di bawah ini.

1. Mengurus jenazahnya dan banyak mendoakan keduanya, karena hal ini merupakan bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya. Menguburkan jenazah orang muslim harus disegerakan, tidak boleh ditunda-tunda. Mungkin kita dapat menundanya untuk waktu yang tidak terlalu lama.
2. Beristighfar (memohonkan ampun kepada Allah Ta’ala) untuk mereka berdua, karena merekalah orang yang paling utama untuk didoakan agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa mereka dan menerima amal baik mereka.
3. Menunaikan janji dan wasiat kedua orang tua yang belum terpenuhi semasa hidup mereka yang sesuai dengan syariat, dan melanjutkan amal-amal baik yang pernah mereka kerjakan selama hidup mereka. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amal baik tersebut dilanjutkan.
4. Memuliakan teman atau sahabat dekat kedua orang tua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya meninggal”. (HR. Muslim)
5. Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat Ibu dan Ayah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang ingin menyambung silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal”.
(HR. Ibnu Hibban).

6. Mendoakan kedua orangtua

            Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda bahwa sesungguhnya ketika seorang hamba meninggal dunia maka putuslah segala amalnya kecuali: a) ilmu yang bermanfaat, b) amal jariyah, c) anak sholeh yang mendoakan keduanya.

            Pengertian anak dalam hadist ini bukan sekadar anak kandung, tetapi juga anak tiri, anak angkat, atau anak muslim. Jadi bagi mereka yang tidak ada mempunyai anak kandung tidak usah khawatir. Agar anak itu mendoakan orangtua  baik ketika hidup maupun sudah meninggal, maka tentu saja orangtua harus menunaikan kewajibannya sebagai orangtua. Bukankah ketika kita berdoa, kita diajarkan untuk mendoakan diri sendiri, orangtua dan kaum muslimin.

7. Membayarkan hutang-hutang keduanya

            Hutang adalah salah satu hal yang harus segera ditunaikan ketika kita mampu membayarkan. Tidak boleh ditunda-tunda. Oleh sebab itu, jika kita mengetahui orangtua kita meninggalkan hutang segera kita melunasinya jika kita mampu.

 

            Ada dua perbuatan yang negatif yang akan segera dibalas oleh Allah di dunia. Salah satu diantaranya adalah durhaka kepada kedua orangtua. Agar kita terhindar dari perbuatan itu maka ada baiknya kita memahami bentuk-bentuk durhaka kepada orangtua.

Diantara bentuk bentuk durhaka (uquq) adalah:
            a. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan)

                ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih atau sakit hati.
            b. Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua
            c. Membentak atau menghardik orang tua
            d. Melaknak dan mencaci kedua orang tua
            e. Bakhil (pelit) tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang

                lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat

                membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh

                perhitungan.
            f. Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua,

                mengatakan bodoh, kolot, dll
            g. Menyuruh orang tua
            h. Menyebutkan kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan

                nama baik orang tua
            i. Memasukkan kemungkaran ke dalam rumah, misalnya alat musik, menghisap

                rokok, dll.
            j. Mendahulukan taat kepada istri daripada orang tua. Bahkan ada sebagian

                  orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya,

                  na’udzubillah.
            k. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan

                  keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya

                  meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat

                  tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

            Sebab sebab anak durhaka kepada orang tua adalah :
            1. Karena kebodohan
            2. Jeleknya pendidikan orang tua dalam mendidik anak
            3. Paradok, orang tua menyuruh anak berbuat baik tapi orang tua tidak berbuat
            4. Bapak dan ibunya dahulu pernah durhaka kepada orang tua sehingga dibalas

                oleh anaknya
            5. Orang tua tidak membantu anak dalam berbuat kebajikan
            6. Jeleknya akhlak istri

Bahan bacaan

Naila’s life. http://nailaslife.multiple.com

Resensi Buku Islam: Birrul Walidain.

Makarim Weblog

Rahmat Blog: http://blog.re.or.id

About these ads

Actions

Information

61 responses

30 07 2009
yuswanto

assalamualaikum wr.wb,
mohon saran dan nasehat, kami mempunyai orangtua (ayah umur 75 thn) sedangkan ibu sudah lama meninggal, saudara kami 4 orang. Ayah ikut adik bungsu (perempuan umur 37 thn yang sudah mapan dan masih lajang), kakak sulung saya sudah beristri dan juga ekonominya juga sudah mapan, tapi ayah kepingin ikut adik saya sedangkan saya dan saudara lainnya keadaanny biasa saja … masalahnya sekarang adik saya sudah jenuh mengurus ayah dengan alasan ayah sering membuat jengkel adik saya ( contoh : ikut urusan adik, sering makan diluar, atau hal2 yang bagi saya sepele )… pernah suatu ketika ada kejadian anak2 beliau(termasuk saya)pernah mendudukkan ayah untuk di beri wejangan (bhs jawa nuturi. hal ini karena adik saya sudah tidak mampu untuk mengurus ayah…sedangkan ayah tidak mau ikut selain ke adik perempuan saya. bagaimana sikap saya saudara saya, mohon nasehatnya. Saya takut masuk kategori durhaka… mohon secepatnya dibalas terima kasih. wassalam

30 07 2009
uripsantoso

Jika kita mengacu kepada agama Islam, terdapat perintah Allah dalam Al Qur’an tentang hal ini. Kurang lebih begini. Dan jika kedua orangtua berusia panjang dan dalam pengasuhanmu, maka jangan sekali-kali kamu berkata “ah” kepada keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang lembut. Jika kita bandingkan dengan jasa orangtua yang pasti tidak bisa kita hitung, maka apa yang diberikan anak kepada kedua orang tua tidak sebanding. Oleh sebab itu, kita harus sabar dan ikhlas jika orangtua kita dalam pengasuhan kita. Insya Allah, Allah akan membalas kesabaran dan keikhlasan kita. Saya pikir anda bisa berembuk dengan saudara-saudara anda masalah ini. Memang tidak mudah mengasuh (?) orangtua yang sudah menjadi anak-anak lagi. Dengan berembuk, mudah-mudahan dapat dicari solusinya. Jika orangtua hanya ingin di rumah adik anda, barangkali anda semua dapat berembuk mencari cara-cara lain agar orangtua dapat lebih menyesuaikan diri. Anda mungkin bisa mencari pihak ketiga yang disegani oleh orangtua anda, sehingga apa yang disampaikan diperhatikan oleh orangtua anda. Bersabar dan ikhlas, Insya Allah akan berbuah manis, baik di dunia dan apalagi di akhirat. Anda dapat juga berkonsultasi dengan psikolog mengenai hal ini. tq.

31 01 2010
lena

Saya berasal dr kluarga yg alhmd berkecukupan. Sya anak pertama dri 5 bersaudara, Sya disekolahkan hingga selesai oleh ayah sya. Tp sya tidak pernah tau dan merasakan figur ayah yg sebenarnya. Beliau kerja dilain pulau dn hy plg 3 bln sekali. Padahal kalau beliau mau bisa plg lebih sering. Skarang malah sdh 6 bln sekali.
Sya kasihan dgn ibu sya. Dia selalu kesepian. Padahal dlm islam kan suami tdk boleh terlalu lama meninggalkan istri dan keluarga kan?
Setiap pulang pun ayah saya selalu bersikap tidak ramah kepada kami. Yang saya tidak bisa pahami, sejak saya mulai paham tentang hubungan 2 org dewasa,beliau selalu bersikap kasar dan membentak2 ibu saya, bahkan didepan umum.
Saya selalu sedih dan sakit hati. Tapi selalu diam dan hanya mendengarkan cerita kesedihan ibu saya. Tetapi ibu saya tidak pernah membalas, hanya diam dan menangis setelah itu tetap melayani ayah saya dgn santun. Sya padahal berharap, beliau hanya plg sebentar, sebaiknya bersikap rukun dan bukan marah2 begini
Beliau jg selalu menganggap ibu saya seperti pembantu., yang digaji untuk mengurus anak2 dan dia. Dengan saya pun terkadang perasaan seperti bawahan, dpt saya rasakan, dari dulu hingga sekarang, beliau tidak pernah dpt mengurangi volume suaranya kpd ibu saya, sekecil apapun hal, selalu berujung bentakan dan marah
Selain uang belanja, ibu saya tdk pernah menerima uang lainnya. Disaat ayah saya menghambur2kan utk org lain, ibu saya tdk mendapat apa2. Padahal dia sudah sangat baik, sangat tawakal dan penyabar.suatu kali, saya pernah menegur ayah saya secara halus melalui sms, karena kalau bicara, dia akan selalu membentak2 saya,
Saya cuma bilang, tolong tinggalkan sedikit uang ditangan ibu, dan tolong jangan bentak2 beliau didepan teman2 ayah. Saat itu ibu sedang menemani ayah saya berobat ke penang.sewaktu pulang dia marah besar dan menganggap saya mengatur2 dirinya serta tidak sopan. Beliau mengatakan sya anak yang tdk ad otak dan mengungkit2 karena sudah memberi makan sya, menyekolahkan saya.
Saya yang memberi makan kamu, kamu belum bisa memberi makan saya sudah berani mengatur saya.beliau berkata seperti itu. Padahal saya hanya ingin beliau bersikap baik kepada ibu saya, karena kesetiaan ibu saya padanya.saya merasa berhak menegurnya dengan halus utk kebaikan kami bersma dan kebaikan ayah diakhirat nantinya.beliau bahkan
Lebih lembut berkata2 dengan wanita lain daripada ibu saya, saya pun hanya ingin beliau adil. Tp sejak beliau berkata begitu, saya merasa apakah saya telah durhakauntuk meluruskan sesuatu yg saya anggap kurang benar?
Bukankah, memberi makan, menyekolahkan bahkan mengawinkan anak adalah kewajiban org tua? Sya merasakan ketidakikhlasan dlm kata2 ayah saya. Dan bukan sekali beliau mengungkit2 hal ini. Saya harus bagaimana, sya merasa ingin ditelan kembali kedalam rahim ibu saya, terkadang. Karena saya bahkan tidak tahu lagi ap hak saya.
Saya selalu bersikap lemah lembut dengan beliau. Tp apabila terus menerus beliau ulangi telah berjasa banyak. Apa yang bisa saya lakukan utk memperbaiki ketimpangan ini?, demi kebaikan bersama.dunia dan akhirat.

1 02 2010
uripsantoso

Sdr Lena, memang berat masalah anda ini. Sebagai anak anda memang punya kewajiban untuk memberi ingat kepada ayah anda dengan cara yang santun. Mungkin anda bisa cari waktu dan kondisi bagaimana ayah anda bisa menerima apa yang anda sampaikan. Memang tidak mudah. Sambil berusaha terus, anda sebaiknya berdoa agar ayah anda diberi hidayah. Berdoa dan bersabarlah. Mungkin ini salah satu ujian buat anda sebagai anak.
Mengenai ibu anda mungkin ibu anda telah memutuskan dalam hatinya untuk selalu setia kepada suaminya meskipun suaminya berlaku tidak baik. Semoga Allah memberi ampunan dan rahmat kepada ibu anda. Sebenarnya, ibu anda berhak untuk minta cerai, tapi saya yakin ibu anda telah berpikir panjang sehingga ia memutuskan untuk bersabar. Ada baiknya jika ibu anda juga mencoba memberi masukkan kepada suaminya. Tentu saja perlahan-lahan. Anda juga bisa minta tolong kepada pihak ketiga yang disegani oleh ayah anda untuk mengingatkan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah. thanks.

6 03 2010
gagab

gimana kalau ortu kita ngak setuju dengan istri kita ? sedangkan kita menyangi wanita yang kita cintai?…………………………………….apa yang harus saya lakukan……thanks

8 03 2010
uripsantoso

Kita berusaha menyampaikannya dengan santun. Sebelumnya kita perhatikan apa yang menjadi alasan ortu. Jika alasan itu sesuai dengan prinsip agama Islam, maka kita sebaiknya memenuhinya. Misal, calon isteri kita beda agama. Jika ternyata tidak melanggar ketentuan agama sampaikan dengan santun dan sabar.

6 03 2010
gagab

jawabanya adalahhhhh??????????????????

30 06 2010
maiya

Saya punya ibu mertua yang selalu saja berbohong kepada anaknya (suami saya), berbohong masalah keuangan, selalu saja berhutang, sekali punya hutang bukan sedikit sampai 30 juta untuk pertama kalinya, jdi karna saya kasihan dan ekonomi kmi msh bisa di cukupkan, saya suruh suami saya membayar semua hutangnya, setelah itu ketahuan lagi punya hutang sebesar 20 juta, kami bayar lagi, terus katehuan lagi punya hutang 17 juta, di bayar lagi, dst,,,,dengan jumlah yang besar, sampai saat ini masih juga, yang akhir2 ini, berbohong lgi kalau uang untuk membayar rumah/ pelunasan rumah sebesar 20 juta hilang juga, jdi saya pusing sekali, gimna saya mau bernafas, saat ini saya punya seorang putri berumur 1 tahun 8 bulan, sementara putri saya kan butuh dana juga, krn sudah saya masukkan playgroup semenjak umurnya 1tahun setengah, sementara mertua laki laki saya sudah tidak bisa lagi mencari nafkah karna punya penyakit kelainan jantung, jdi untuk biaya berobatnya saja kami yang menanggung, trus adik ipar saya yang perempuan juga kuliah masuk akbid kami juga yang menanggung. gak tau lagi saya mau bilang apa,menurut ibu mertua saya dia banyak hutang karna rugi dagang, jdi kami suruh berhenti dagang dan sy bilng gak apa2 kami yang nanggung makan tiap bulannya sebesar 3 juta, jadi kurang apalagi, masih aj gak mau, jdi aku bingung, klo dengar2 dr keluarga yang lain katanya ibu mertua sy reintenir, Y aaaa entah lah…..rasanya saya mo pergi aja dri rumah, tpi gimana dengan suami saya? memang pengobat hati saya karna suami saya baik dan bertanggung jawab terhadap saya dan putri saya, tpi klo keterusan aj bayar hutang ibu mertua saya, gimana?????? saya mohon solusinya

5 07 2010
uripsantoso

Bu Maiya, memang berat cobaan yang ibu alami. Memang kita berkewajiban menyantuni orangtua. Tapi untuk kasus ibu sangat spesifik. Saya terus terang belum bisa memberikan solusi. Coba diskusikan dg suami mencari alternatif baru. Yang jelas, perilaku mertua ibu kurang baik. Jadi barangkali perlu berbicara terus terang dari hati ke hati. Bila perlu ibu dan suami ibu didampingi oleh pihak ketiga yang disegani oleh mertua ibu.

3 09 2010
Rudi

bagaimana kalo orang tua kita sudah gk ada trus di waktu masa hidupnya dia punya hutang ma orang lain apakah kita wajib membayarkannya dan sedang kan orang yg di hutanginya pun sudah mengiklhaskan supaya tidak membayarnya
trima kasih ….

4 09 2010
uripsantoso

Hutang tetap harus dibayar meskipun orangtua telah meninggal dunia. Ahli warisnyalah yang wajib membayarnya. Akan tetapi jika telah diikhlaskan oleh orang yang memberi hutang, maka kewajiban hutang telah hapus dengan sendirinya.

6 12 2010
Thaddeus Dollison

This domain seems to get a great deal of visitors. How do you advertise it? It gives a nice unique twist on things. I guess having something authentic or substantial to talk about is the most important thing.

13 01 2011
tiyok

Pak, yg dibagian kewajiban anak kepada orang tua, salah satunya menafkahi orang tua, di situ dituliskan tercantum di albaqarah ayat 15,,
kalo ga salah terjemahan ayat 15 :
“Allah akan (membalas) olok2an mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dlm kesesatan mereka”
mohon penjelasan korelasinya ya pak,
terima kasih

13 01 2011
sedihbingung

Assalamualaikum. Pak, mohon sarannya. Ayah saya sudah mendiamkan ibu lebih dari 10 thn, dari mulai saya menikah. Saya, suami, dan anak-anak tetap tinggal serumah, krn kuatir dengan nasib ibu yg dulu sering dihardik ayah, bahkan didukuni. Alhamdulillah ibu tetap tegar dan insya Allah makin mendalami agama dengan baik.

Masalahnya hal ini sudah terlalu lama, dan walau ibu melarang kami untuk ikut campur, hati saya sungguh tersiksa, apalagi anak-anak saya semakin besar. Kondisi seperti ini tidak baik untuk mereka. Tapi kalau saya pindah, kasian ibu.

Apa yang harus saya lakukan Pak ? oya, awal pertengkaran sptnya karena ada pihak-pihak yang menginginkan harta orang tua kami. Ibu saya yang sangat berbakti pada suami tiba-tiba menjadi sangat dibenci ayah, dibilang istri durhaka, diteror dengan kata-kata yang kotor via telpon maupun surat kaleng. Saya sungguh tersiksa dengan perlakuan mereka terhadap ibu. Semoga Allah mengganjar Ibu saya dengan surga terbaik, kelak. Aamiin

Sepertinya ayah sudah menikah lagi, itu yg saya dengar dari orang2. Saya juga beberapa kali mendengar suara perempuan cerewet sekali (maaf) di telpon ayah. Hal ini tidak pernah ada waktu ortu kami masih rukun.

Mohon sarannya Pak, jazakallah khairan.

13 01 2011
uripsantoso

Sungguh persoalan yang rumit. Tujuan berumah tangga adalah untuk mencapai keluarga yang diridloi oleh Allah. Sebenarnya jika ibu Anda bermaksud bercerai maka hal ini dapat dilakukan. Sebab dalam peraturan pernikahan jika suami tidak memberikan nafkah lahir & batin selama 6 bulan dan isteri tidak ridlo maka isteri bisa mengajukan gugatan cerai. Tapi tampaknya ibu Anda tidak bersedia bercerai. Ini masalahnya.
Coba Anda cari akar masalah, apa yang menjadi sebab utama pertengkaran yang berkepanjangan. Jika sudah ketemu, maka cobalah dselesaikan dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku. Cobalah lakukan pendekatan dengan ibu dan ayah agar masalah rumah tangga tersebut jangan dibiarkan berlarut-larut. Bila perlu lbatkan pihak ketiga yang amat disegani oleh bapak & ibu Anda. Sebab masalah itu harus segera tuntas agar kedua belah pihak tidak terus menerus tersiksa.

14 01 2011
tiyok

Pak, mohon saya diberi pencerahan lebih lengkap mengenai kewajiban menafkahi orang tua,,
terima kasih

14 01 2011
uripsantoso

Jika kedua orangtua mencapai usia lanjut, maka kewajiban anak adalah menyantuni keduanya termasuk memberi nafkah jika mereka tidak mampu. Seorang anak bahkan tidak dibenarkan berkata “ah”, apalagi membentak mereka.
Selain itu, jika seorang anak sukses dan orangtua miskin maka menjadi kewajiban anak untuk menyantuni/memberi nafkah kedua orangtua. Singkatnya seseorang mempunyai kewajiban memberi nafkah pada garis lurus, seperti anak, orangtua, kakek-nenek dst jika mereka tidak mampu. Tentu saja sejauh kemampuan seseorang. Kita tidak bisa memberi zakat kepada mereka. tq

3 02 2011
dyah kusumastuti

Pak, saya ingin share di facebook gimana caranya, makasih

3 02 2011
uripsantoso

Saya sekarang tidak aktif lagi di FB. Bisa ke e-mail sy: santosoburgo60@yahoo.com

20 03 2011
nikmah

Assalamu’alaikum,,,
Saya punya ibu, beliau sekarang ini tengah sakit,, dan sudah di periksa ke rumah sakit, dan beberapa alternatif namun tetap belum sembuh. Sampai2 ibu saya putus asa, saya tidak tega melihatnya,. Apa yang harus saya lakukan? Supaya ibu saya bisa semangat lagi…
Terima kasih,,,

Wassalamu’alaikum,,,

20 03 2011
uripsantoso

Sebagai hamba Allah kita wajib berusaha untuk berobat dan berdoa, setelah itu pasrah, ikhlas dan bersabar. Apapun yang kemudian terjadi pasrahkan kepada Allah. Banyak berdzikir dan memperbaiki diri. Mudah-mudahan dengan cara itu Allah akan mempermudah jalan hambaNya.

12 09 2011
t-mobile g2 review

There are certainly a whole lot of details like that to take into consideration. That is a great level to deliver up. I offer the ideas above as general inspiration however clearly there are questions like the one you bring up the place the most important thing shall be working in honest good faith. I don?t know if finest practices have emerged around issues like that, but I’m certain that your job is clearly identified as a fair game. Each girls and boys feel the influence of just a second’s pleasure, for the rest of their lives.

10 10 2011
ade

maaf sy bingung..
sy puny suami yg orang tuany berpisah..jd sy punya dua pasang orang tua..
sy bingung menghadapi pasangn ayahmertua-ibu tiriny karena sang ibu tiri sangat boros..jd sering minta uang sama suami sy..awalny sy biasa,tp lama2 sy sebel,,krn sy merasa tdk adil kl pasangn ibumertua-suami tiriny tdk bisa km beri..krn sy ingin keadilan(jk diberi satu,,semuany harus dapat) untuk orang tua dan ibumertua..krn org tua sy dan ibumertua-suami tiri juga butuh dana.terima kasih

10 10 2011
uripsantoso

Ade, kedua pasang tersebut tentu saja menjadi mertua Anda. Tidak usah bingung.

10 10 2011
ade

mohon pencerahanny
krn sy takut mjd anak yg durhakaterima kasih

10 10 2011
uripsantoso

Ade, cara berbakti kepada kedua orangtuanya adalah taat kepada keduanya selagi keduanya berjalan di jalan yang lurus (taat kepada Allah dan Rasulullah). Jika keduanya telah melenceng maka janganlah ikuti perintahnya dengan cara menolak yang lemah lembut tanpa menyakiti fisik dan hatinya.

10 12 2011
enjel

Pak, bagaimanakah kewajiban seorang anak perempuan kepada orang tuanya setelah anak perempuan tersebut menikah?

Pada kasus lain, ada seorang anak perempuan yang mualaf, sedangkan ibu-bapaknya tidak, lalu karena dirasakan / diketahui bahwa suami si anak perempuannya kerap menyakiti hati anaknya tersebut, maka ibu meminta si anak perempuan meninggalkan suaminya. Wajibkah hal ini dipenuhi oleh sang anak perempuan tersebut? Durhaka kah dia bila tidak memenuhi pernintaan sang ibu?

Bisa minta nasihatnya.
Terima kasih.

10 12 2011
uripsantoso

Kewajiban wanita setelah menikah adalah berbakti kepada suaminya yang paling utama, baru kemudian kepada kedua orangtuanya. Ada beberapa hadist tentang hal ini. Mohon maaf kalau kurang benar. Dalam hal suaminya selalu menyakitinya, si isteri bisa meminta cerai. Ini adalah jalan terakhir setelah ditempuh berbagai cara. Walau bagaimanapun perceraian adalah hal yang dibolehkan tetapi juga dibenci oleh Allah.

10 02 2012
iidds

pak, kami 6 bersaudara 3 anak laki2 dan 3 anak permpuan. tp diantara ke 6 saudara saya, (maaf bukan saya riya atau sombong) hanya sy yang bisa dikatakan sedikit punya pemahaman islam , dan karena saya anak bungsu jadi apa yang saya sampaikan kebenaran mereka tidak mw mendengar atw menerima mungkin saya dianggap tidak penting. sekarang kami masing2 sudah berkeluarga dan tinggal berjauhan dan ekonomi kami ada yang kekurangan tp ada juga yang aga lumayan. Saat ini ke-2 orang tua sy sudah sepuh, bapak sudah hampir 5th kena strock dan tidak bisa berbuat apa2, sedang ibu saya baru sembuh dari komanya jadi fisiknya sangat lemah, pernah saya memintah untuk tinggal bersama tapi ibu tidak mau karena alasannya lebih nyaman tinggal dirumah sendiri dan ibu bilang masih punya kewajiban mengurus bapk, tp saat ini bapak saya sedang drop dan ibu saya juga sudah tidak kuat karena fisik semakain hari semakin lemah, ibu saya mengharap ada anak laki2nya untuk ikut membantu mengurus atau menginap tapi kaka2 saya semua lepas tangan alasannya sibuk..sibuk…dan sibuk, sedang saya sendiri tidak bisa karena saya punya anak kecil yang sedang aktif2nya dan kondisi saya juga tak fit (menderita kista) klw terlalu cape saya suka drop dan bila saya ijin kesuami untuk menginap dirumah orang tua, kadang2 suami aga berat, memang saya tidak punya penghasilan jadi kalw kerumah orang tua, saya selalu minta uang untuk membawa makanan dan memberikan kpada orang tua saya…jadi saya takut kalw sering minta sama suami karena suami saya juga masih punya ibu, mertua saya juga orang tak mampu dan suami saya jarang memberi kepada ibunya…Tolong pak, gmana solusinya yang terbaik, agar saya jangan jadi anak durhaka yang tak berbakti kepada orang tua dan menyesal dikemudian hari. Jazakallah.

10 02 2012
uripsantoso

Sebenarnya ibu sudah berusaha berbuat sesuatu sebatas kemampuan ibu. Cobalah lakukan pendekatan kepada saudara-saudara ibu. Memang tidak mudah. Mungkin tidak, ada orang yang disegani oleh mereka. Jika ada cobalah minta tolong sama beliau. Mudah-mudahan ada perubahan dengan seizin Allah. Berdo’alah semoga Allah membuka hati saudara ibu untuk membantu orangua. Tks

19 04 2012
riski ariyanto

kang ijin copas N share boleh ???

26 04 2012
firman özil

trima kasih,
cmua,a cukup jelas. . .
dan memberi arahan positif.

27 04 2012
firman özil

saya punya adik,perempuan
dia bekerja di salah 1 pabrik,
kami 3 bersodara, kami sekarang hidup terpisah,berjauhan. . .
karna ke 2 org tua kami telah bercerai.
meski bgt, kmi msh sering berkumpul dngan ke 2 nya scra bergantian,
ibu saya telah punya suami lg, dan melahirkan 2 orang ank,dari suami,a yg baru,

nah, ibu saya, sering meminta uang, sama adik perempuan saya it, ibu bilang hanya pinjam,
tapi adik saya ngerasa, ibu memanfaatkan,
apa bnar ibu saya bgtu,
dan jumlah uang yg akan di pinjam ,
bahkan 75% dari gaji adik saya itu,
adik saya ngeluh sama saya,
dan saya bngung,
di satu sisi saya ksian sama adik saya, tapi saya juga takut, kalo adik saya jadi anak yg durhaka, krna kikir, sama ibu,nya.

Mohon, di beri pengarahan.
trimakasih.

27 04 2012
uripsantoso

Sebagai anak, memang berkewajiban membantu orangtua, tetapi sejauh kemampuan sang anak. Ibu Anda sebenarnya sudah menjadi tanggungan suami yang baru, sementara adik Anda sebenarnya juga ditanggung oleh suaminya. Namun sebagai seorang isteri juga mempunyai kewajiban membantu kesulitan sang suami. Jadi, adik Anda bisa membantu ibu jika memang mampu atau sejauh kemampuan nya. Jangan sampai membantu ibu tapi kebutuhan rumah tangganya tidak terpenuhi, yang membuat rumah tangga menjadi berantakan. Sejauh pengetahuan saya (mohon maaf jika salah), wanita yang sudah bersuami lebih mempunyai kewajiban berbakti kepada suami daripada ke orangtua. Ini bukan berarti anak tidak perlu memikirkan keadaan orangtua. Sang anak wajib membantu kesulitan orangtua sejauh ia mampu. Atau Anda kan 3 bersaudara, cobalah bantu membantu untuk mengatasi kesulitan ibu. Itupun jika ibu Anda kesulitan. Nah, coba tanyakan ke ibu Anda untuk apa sebenarnya uang itu. Jika memamng untuk kebutuhan primer (sandang, papan, pangan, kesehatan, pendidikan) maka bahu membahulah membantu kesulitan ibu Anda, sehingga menjadi lebih ringan. Tks.

27 04 2012
firman özil

saya hanya kasian sama adik saya,
saya juga udah nyaranin pda adik saya, untuk membantu se mampu dia,

seandainya saya berpenghasilan lebih. . .
Saya tdak akan tnggal diam. . .pasti saya bantu ibu saya,

oh ia pak,
kami 3 bersodara,
umur kami hanya saling terpaut 5 thn,
sdang saya anak yg paling tua, baru berusia 21 thn,
kami bertiga mash lajang,
sejak kcil sya sudah terbiasa hdup dari org tua, sya blajar mandiri dari umur 13 th,
dan sampai skrg saya belum mapan,
atau berpenghasilan yg cukup.

Ktika ibu dalam ksulitan, saya sering tdak bisa membantu,
saya gx pngen,jadi anak yg tdak berbakti, tapi untuk skrg blum bisa,
apa saya termasuk anak yg tdk berbakti pak?

terimaksh pak, atas pengarahan,ya.
wasalam

27 04 2012
uripsantoso

Pertama sudah ada niat yang tulus dari Anda. Jika sekarang belum bisa bantu saya pikir tak apa2. Cuma jika memungkinkan sisihkan barang sedikit setiap bulan untuk membantu ibu. Jika sudah terkumpul berapapun adanya sampaikan kepada ibu. Jadi niat yang sudah ada ditindaklanjuti dengan menyisihkan meski hanya sedikit, sesuai dengan kemampuan. Jadi jangan pula memaksakan diri! Selain itu, jangan lupa mendoakan kedua orangtua Anda. Bukankah yang ini bisa dilakukan setiap saat?

27 04 2012
shinta

sy punya mertua, sy tau suami sy punya kwajiban mengurusi ortu ny, cm yg sy sesalkan, mertua sy (kondisi ekonomi susah) tp beliau tdk bs menempatkan diri, hidup boros, slalu ingin hidup enak. sy kasihan suami sy, dia hrs menghidupi sy, 2 anak n d tuntut ibunya n adik ny (gaji suami sy, utk sy n anak2 ja lom cukup). apa salah kl ibu n adik ny d tanggung bareng2 sama kakak suami sy??? jd g terlalu berat beban suami sy. tp ibuny cm nuntut k suami sy, tdk mau nuntut kakak suami sy. tlg ksh pengarahan, biar sy tdk stress dlm kondisi ini. makasih

27 04 2012
uripsantoso

Benar suami Anda punya kewwajiban kepada orangruanya sejauh kemampuannya. Seperti yang Anda sampaikan hal ini bisa ditanggung bareng-bareng dengan kakak-kakak suami Anda sehingga dapat memperingan beban suami Anda. Coba usulkan ke suami Anda membicarakan hal ini dengan kakak-kakaknya. Mengenai mertua yang hidup boros, hal ini mungkin suami/Anda bisa minta tolong sama orang yang disegani mertua Anda untuk mengingatkan hal ini secara bijaksana. Tks.

1 05 2012
firman özil

ia pak,
trimaksh atas masukan nya,

16 11 2012
mbak yolanda olan

saya baru mnikah tuk yg kedua kali.saat ni saya sbgai anak bingung hrus bagaimana memberikan pengrtian kepada ibu dan suami baru saya,ibu saya seorang janda yg sllu membutuhkan saya tuk curhat dan bantuan uang saya,tpi suami saya memberikan opini lebih mementingkan kepentingan anak saya dri pada orang tua saya,kenapa hrus saya katanya yg selalu diandalkan ibu saya,sementara saudara kandung saya cuek saja ketika orang tua saya susah,apa yg hrus saya lakukan???

17 11 2012
uripsantoso

Kalau boleh saya memberi masukkan: 1) cobalah secara perlahan-lahan berikan pengertian kepada saudara-saudara mbak Yolanda bahwa membantu ibu itu wajib terutama bagi anak laki-laki, sedangkan anak perempuan masih tergantung pada suami; 2) jika mbak Yolanda punya sedikit kelebihan cobalah berbagi dengan ibunda. Diskusikan dengan hati-hati dengan suami Anda. Membantu orangtua yang kesulitan itu wajib bagi seorang anak. Tks

1 12 2012
LIZA TRI ASTINI E1C011052

kewajiban anak terhadap orang tua,banyak sekali kewajiban kita kepada orang tua kita selagi mereka hidup atau pun sudah meninggal.diantara nya menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah SWT,berbicara lemah lembut, apabila orangtua kita sudah meninggal yang pasti kwjiban kita paling utama yaitu menguruskan jenazah nya,serta mendoakan orang tua kita di alamsana.Apabila kita masih mmpunyai orang tua yang masih lengkap harus bersyukur dan jangan pernah menyianyiakan mereka apalgi sampai durhaka,saat kita merasa kehilangan maka saat itulah kita akan merasa betapa penting dan berarti nya mereka untuk kita,,,saat mereka marah kpada kita itu tanda nya mereka peduli,mereka sayang kpda kita,kita selalu di perhatikan oleh mereka….dan ketika kita jauh pun,pasti kita akan sangat merindukan kedua orang tua kita,,,,semoga kita semua bis menjadi anak yang berbakti kepda orang tu kita dan dapat membahagia kan mereka amiiiiin,eiits jangan lupa minta restu orang tua agar memperlancar dan mempermudah segala urusan yang kita hadapi.
i love my parents so much

3 12 2012
Noviandi Erlangga (E1C011019)

Menurut saya, kewajiban kita sebagai anak yang paling penting adalah berbakti kepada ortu, dengan cara berusaha membahagiakan mereka dan menjadi anak yang soleh..dengan begitu kita tidak hanya membahgiakan mereka didunia tetapi juga diakhirat, karena doa anak yang soleh merupakan amalan yang akan terus mengalir pahalanya walau pemiliknya telah tinggalkan dunia fana..
“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”
Artinya : “ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”
amiinnnn…Ya Allah…

3 12 2012
Noviandi Erlangga (E1C011019)

Menurut saya kewajiban anak terhadap orang tua yang paling penting yaitu, berbakti kepada mereka dengan berusaha membhagiakan mereka dan dengan menjadi anak yang soleh dan solehah,,karena dengan demikian kita bisa membhagiakan mereka didunia maupun diakhirat kelak..
Doa anak yang soleh merupakan amalan yang akan terus mengalir pahalanya walau pemiliknya telah tinggalkan dunia fana..
ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”
Artinya : “ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”.
amiinn…Ya Roubbil Allamiinnn…

27 12 2012
nazarudin(E1C011039)

sangat menarik sekali kalau berbicara tentang kewajiban anak terhadap orang tuanya…
trimakasih atas informasinya.

1 01 2013
Yanto

Assalamu’alaikum , Pak Ustadz mohon penjelasannya,
Saya punya mertua yang hutangnya sangat banyak kepada rentenir , hutang ini dilakukannya untuk menutup hutang-hutang sebelumnya. dalam berhutang mertua memakai kartu pensiun palsu sehingga ada unsur penipuan terhadap orang yang di hutangi. apakah kita wajib membayarkan semua hutangnya sementara ekonomi anak-2 nya masih banyak yang belum mapan. kalau kita tidak segera melunasi hutang-2 nya maka ibu mertua akan berhutang lagi ke rentenir untuk menutup hutang sebelumnya sehingga jumlah hutang akan semakin membesar. terima kasih penjelasannya
Wassalamu’alaikum

1 01 2013
uripsantoso

Sejauh pengetahuan saya, ibu mertua Anda hanya wajib melunasi hutang pokok bukan bunganya, sebab bunga itu dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Tapi, di Indonesia ini tidak berlaku. Jadi, berdasarkan hukum Indonesia ya mertua Anda harus melunasi semuanya, kalau tidak akan terkena tuntutan sesuai dengan hukum di Indonesia. Segera dilunasi agar tidak menjadi beban. Apapun bentuknya, penipuan dilarang dalam Islam. Demikian pula halnya dengan hukum di Indonesia. Jangan hutang ke rentenir, coba cari Bazis di kota Anda untuk memperoleh bantuan (zakat, infak, sedekah).

11 01 2013
sahrin

Ass, Mohon saran dan nasihat,
Saya punya adik bungsu yang sudah bekeluarga dan memiliki 2 orang anak, adik saya bekerja sebagai guru, dan suaminya sebagai tukang cuci mobil, tinggal dengan orang tua, ke 2 anak nya di jaga oleh ortu, yang ingin saya tanyakan dan minta nasehat kalau adik saya belum membereskan rumah, masak, mencuci pakaian anaknya (membuang pempers) dan lain-lain karena capek baru pulang kerja ortu selalu marah, sikap apa yang harus adik saya lakukan, karena sering adik saya pengen ngontrak aja, tapi taku ortu sapa yang ngurus, karena ortu gak mau ikut dengan anak-anaknya yang jauh, karena selama ini kakak dan adik2 lainya tinggal diluar kota, trims sebelumnya

12 01 2013
uripsantoso

Alternatif 1: Pisah dengan orangtua (ngontrak) dengan segala konsekwensinya seperti ada pembantu, uang kontrak dll. Alternatif 2: Tetap seperti sekarang, dan memperbaiki diri artinya mengatur waktu antara kerja dan urusan rumah tangga sehingga urusan kerja dan rumah bisa terselesaikan. Atau ajak suami untuk juga mengurus rumah. Zaman sekarang sudah biasa ada kerjasama antara suami & isteri dalam menyelesaikan urusan rumah tangga yang memang berat. Seterusnya, adalah bersabar terhadap sikap orangtua. Tks.

29 04 2013
Arya

Assalamualaikum wr.wb mohon nasehat dan sarannya. Saya seorg lelaki bngsu dri ke 4 brsodara yg brstatus lajng.usia saya saat ini 32 thn,kakak lelaki yg prtama mengidap gangguan jiwa,kakak lelaki yg ke 2 tlah mnikah nmun blum di karuniai anak dan tdk tnggal satu rumah dgn kami,kakak yang ke 3 prempuan(almarhumah). Bpk saya sdh tua renta bkrja sbagai buruh tpi masih bkerja,sdngkan saya bkerja sbagai buruh jga dgn pnghasiln mnim,apakah saya brdosa bila mmbiarkn y trus bkerja,mhn nasehat dan saran y

30 04 2013
uripsantoso

Setiap manusia pasti diuji oleh Allah untuk menentukan/membuktikan kesungguhan dalam beriman dan bertaqwa kepada Allah. Keluarga bapak diuji dengan berbagai masalah seperti yang Bapak gambarkan. Allah tidak membebani manusia melebihi kesanggupan manusia. Demikian pula dengan Anda. Kemiskinan yang Anda jalani hendaknya dijalani dengan sabar dan tawakal sambil berusaha dan berdoa. Mengenai masalah Anda, apakah kakak nomor 2 juga tidak mampu? Jika kondisinya lebih baik maka ada baiknya Anda berembuk untuk memecahkan masalah itu. Adalah kewajiban seorang anak untuk mengurangi beban orangtua jika sang anak itu mampu. Jika tidak mampu, maka Allah tidak akan membebankan apa-apa yang melebihi kemampuan Anda sekeluarga. Namun, tetaplah berusaha agar kehidupan Anda sekeluarga besar bisa lebih baik. Tks

1 05 2013
sri menganti

asalamualikum ,mohon saran dan pendapat….ni dengan de sri
mempunyasi ayah slama berumah tangga ibu bhkan anak2 ya tak pernah di nafkahi,tiap hari hanya marah2 pada keluarga…dulu yang menafkahi kami adalah sang nenek kini telah tiada…smenjak tiada ayah semakin tak berarah…dan aku pun sekarang jadi tulang punggung ibu dan adik….padahal sang ayah masih kuat utk kerja…bagaimana kah agar ayah kami mau kerja dan mau menafkahi kami…mohon kasih pendpat nya?

2 05 2013
uripsantoso

Pertama-tama yang sebaiknya dilakukan adalah mencari pihak ketiga yang disegani oleh ayah Anda. Minta tolonglah padanya untuk memberi masukan kepada ayah anda. Kedua, taat dan berdoa kepada Allah dg sungguh2. Ketiga, bersabar dan bertawakal karena semua itu berproses. Tks

20 06 2013
indri

assalamualaikum

21 06 2013
uripsantoso

waallaikumsalam

21 06 2013
indri apple

walaikumsalam pak, terimakasih atas jawabannya & nasehat bapak sangat bermanfaat. wasalamualaikum wr wb.

22 06 2013
uripsantoso

Tks kembali Indri, semoga Anda segera bisa menuntaskan masalah Anda.

20 06 2013
indri

assalamualaikum
saya punya orang tua yg berpisah tp blm bercerai…dulu sblm mnikah dgn bapak,ibu saya beragama kristen…lalu pindah ke Islam…tp setelah berpisah ibu kembali lg pada kristen… skarang bapak saya sudah punya kluarga baru & tidak pernah menafkahi sejak 7th yg lalu…
kakak saya yg tadinya Islam sekarang murtad karena mengikuti agama suami..
sekarang kakak serumah dengan ibu, rumah yg ibu& kakak tempati adalah milik bapak, 1th yg lalu diam” bapak menemui kakak saya & memberikannya pada kakak saya…kakak saya pun bilang pada saya & meminta agar saya tidak usah meminta bagian warisan bapak..,lalu saya setuju karena tidak mau ribut mslh harta.
Namun saat proses balik nama sertifikat tanah kakak saya tersendat karena pak lurah desa kami keberatan& mnyuruh kakak saya membagi dgn saya agar adil, tapi kakak saya bilang kata notaris 1 tanah hanya bisa 1 nama di sertifikat, tp pak lurah tdk percaya & menelefon notaris yg bersangkutan, ternyata notarisny blg kalau 1 tanah&rmh bisa 2 nama dlm sertifikat…lalu kakak saya terpaksa setuju namun dia tetap bilang pada saya kalau saya hanya numpang nama & tidak usah minta…
Namun sekarang saya dibebani biaya untuk balik nama& hutang ibu saya di bank yg saya tidak tau untuk apa karena ibu tidak jujur…& hutang ibu semakin banyak selama kakak saya& suaminy serumah dgn ibu…
karena dr dulu smpai sekarang ibu selalu hutang dr dl sblm saya mnikah saya yg bayar&skrg saya sudah menikah suami saya yg membayar…suami saya kadang jengkel karena ibu saya tidak jujur, kakak saya jg trus meminta uang setoran bank yg seharusnya menjadi tanggungannya..
Pernah saya sedang mepet keuangany saya bilang pada kakak saya seminggu lg baru bisa ngasih tapi dia malah bilang bukan urusan dia saya tidak punya uang pokoknya harus kirim uang…padahal jika kakak sedang kekurangan selalu pinjam tp saya diberi & saya tidak minta ganti,
Saat saya minta bantuan ibu saya untuk menemani saya dirumah saat melahirkan ibu blg tidak bs karena repot dirumah mengurus 2 cucu dr kakak saya yg 1 TK yg 1 br 2th….ibu mau menemani saya kalau saya memberi uang ibu yg ibu tidak mau menyebutkan untuk ap padahal tiap bln ibu saya menerima uang pensiun.
Sekarang suami saya tidak mau membantu pdhl ibu & kakaksaya selalu tiap menelfon tidak pernah menanyakan kabar tp minta uang… saya bingung kl saya tidak bisa membantu ibu lg ats printah suami durhaka kah saya?

21 06 2013
uripsantoso

Sdr Indri, pertama-tasma kewajiban isteri admenurut saya alah mematuhi suami melebihi orangtua selama suami dlm kebenaran. Kalau membaca surat sdri. maka sebenarnya suami Anda juga sdh berusaha untuk membantu keluarga Anda, tapi tampaknya ibu dan kakak Anda malah memanfaatkannya. Bantuan tentu saja terbatas dan yang lebih penting adalah menyadarkan ibu dan kakak Anda agar lebih memahami kondisi Anda. Jadi dlm hal ini Anda menurut saya tidak bersalah dan tidak termasuk dlm golongan anak durhaka. Namun demikian, terus bersabarlah kepada ibu dan tetap santun kepadanya dan cobalah sadarkan ibu dan kakak Anda. Jika Anda merasa tak mampu maka mintalah pertolongan kepada pihak lain yang disegani ibu dan kakak Anda. Tks

16 07 2013
sity

Assalamualaikum wr.wb,,pak saya mw tnya,saya ank bungsu dr 6 bersaudara,dari segi ekonomi saya lumayan mapan,memang saya tidak bekerja,suami lah Ɣªήğ bekerja,permasalahan nya,bpk saya mau naik haji,tetapi kekurangan biaya,apakah sbgai ank wajib membantu ? Sementara ayah pelit terhadap anak2 nya,perhitungan,apa Ɣªήğ sudah diberi kepada anak,selalu ϑî ungkit nya,,bagaimana ini pak ?

16 07 2013
uripsantoso

Pertama, Bersabarlah terhadap sikap Bapak Anda. Tetaplah bersikap santun kepada bapak. Bila perlu ingatkan bapak melalui pihak ketiga (pihak yang disegani bapak Anda). Kedua, berhaji itu wajib hukumnya bagi yang mampu. Jika belum mampu maka tidak ada kewajiban. Namun, jika Anda dengan persetujuan suami Anda membantu Bapak itu juga baik. Tapi jika suami Anda tidak setuju maka Anda jangan memaksa. Kewajiban seorang isteri adalah berbakti kepada suami selama suami dalam kebenaran. Tks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: