<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL URIP SANTOSO</title>
	<atom:link href="http://uripsantoso.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://uripsantoso.wordpress.com</link>
	<description>MENUJU PEMIKIRAN MANDIRI</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Nov 2009 03:55:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='uripsantoso.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/27296ca42705914d0ad62627faf6a118?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JURNAL URIP SANTOSO</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>BURUNG PERKUTUT (Geopelia striata Linn) SEBAGAI HEWAN POTENSIAL</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/10/burung-perkutut-geopelia-striata-linn-sebagai-hewan-potensial/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/10/burung-perkutut-geopelia-striata-linn-sebagai-hewan-potensial/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 03:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Animal Science]]></category>
		<category><![CDATA[hewan potensial]]></category>
		<category><![CDATA[perkutut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1547</guid>
		<description><![CDATA[ 
Dicky Trisaputra
Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
 Abstrak
            Burung perkutut (Geopelia striata Linn) sebagai hewan potensial karena memiliki suara kicauan yang sangat indah, sehingga ribuan orang yang menggemari untuk memelihara burung perkutut. Burung perkutut dicatagorikan termasuk golongan hewan potensial maka dari itu diadakan adanya perkembangbiakan, pencegahan penyakit, dan sebagai peluang tenaga kerja.
            Hasil penulisan karya ilmiah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1547&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong> </strong></p>
<p>Dicky Trisaputra</p>
<p>Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu</p>
<p> <strong>Abstrak</strong></p>
<p><strong>            </strong>Burung perkutut (Geopelia striata Linn) sebagai hewan potensial karena memiliki suara kicauan yang sangat indah, sehingga ribuan orang yang menggemari untuk memelihara burung perkutut. Burung perkutut dicatagorikan termasuk golongan hewan potensial maka dari itu diadakan adanya perkembangbiakan, pencegahan penyakit, dan sebagai peluang tenaga kerja.</p>
<p>            Hasil penulisan karya ilmiah ini menyimpulkan bahwa Burung perkutut (Geopelia striata Linn) sebagai hewan potensial untuk peluang pekerjaan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari, serta peluang tenaga kerja bagi siapa yang membutuhkan.</p>
<p> Kata kunci: Burung Perkutut, hewan potensial, peluang tenaga kerja<span id="more-1547"></span><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p><strong>            </strong>Burung prkutut (Geopelia striata Linn) pada dasarnya adalah Satwa liar merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat dipulihkan. Hal ini berarti satwa liar dapat dipertahankan keberadaannya. Sejalan dengan maksud tersebut, pemerintah Indonesia telah merintis beberapa bentuk usaha pelesarian satwa liar baik secara ex-situ maupun in-situ.</p>
<p>            Burung perkutut berasal dari satwa liar maka dari itu didomestikasikan terlebih dahulu sehingga akan diadakan perkembangbiakkan untuk menghasilkan keuntungan yang tinggi. Dengan demikian burung perkutut memiliki potensi.</p>
<p>            Penangkaran jati padang dan penangkaran kebon duren merupakan penangkaran milik perorangan. Penangkaran ini lebih bersifat sebagai usaha sambilan (sebagai tabungan), hobi dan percobaan. Disamping memilihara perkutut, pemilik penangkaran memilki penghasilan tetap sebagai pegawai dan wiraswasta. Pendidikan pegawai dipenangkaran ini berkisar pada jenjang SMTP dan SMTA. Tingkat pendidikan ini menentukan kemampuan berpikir pekerja. Keterampilan dan pengalaman pekerja dalam memelihara burung perkutut belum diikuti oleh pendidikan khusus dibidang penangkaran, secara formal.</p>
<p>            Penulisan karya ilmiah menunjukkan bahwa Burung perkutut (Geopelia striata Linn) sebagai hewan potensial serta penangkaran pemeliharaannya.</p>
<p> <strong>Perkembangbiakan</strong></p>
<p><strong>            </strong>Burung perkutut mencapai dewasa kelamin pada umur 6 bulan dan siap untuk kawin pada umur 10 bulan (sarwono, 1991). Burung mencapai masa dewasa kelamin tergantung pada faktor genetis, lingkungan dan makanan. Semakin baik kualitas makanan yang diberikan akan semakin cepat mencapai masa dewasa kelamin. Menurut Sarwono, (1991) bibit yang baik adalah Pejantan dipilih dari burung yang suaranya bagus (nyaring, bening dan jelas), sehat, bertubuh besar dan rajin berbunyi. Burung mempunyai sifat monogamus, dimana sex ratio jantan dan betina adalah sama yaitu, 1:1. untuk menghasilkan keturunan yang berkualitas diperlukan bibit induk dan jantan yang sudah diseleksi.</p>
<p>            Menurut Warwick et al. (1990), silang dalam (inbreeding) adalah Perkawinan individi-individu yang lebih dekat hubungannya dibandingkan rata-rata ternak dalam bangsa atau populasi, yaitu ternak-ternak yang mempunyai moyang bersama dalam 4 sampai 6 generasi pertama dari silsilahnya. Pengaruh genetik dari silang dalam yaitu meningkatkan proporsi lokus-lokus genetik yang homosigot, sedangkan efek fenotipik dari silang dalam adalah menurunnya ukuran kekuatan (vigor) badan dan fertillitas, kadang-kadang diikuti dengan bentuk yang cacat, sedangkan out-breeding (silang luar) merupakan kebalikan dari silang dalam. </p>
<p>            Menurut Nugroho (1986), mengawinkan burung yang masih muda akan menyebabkan :</p>
<ol>
<li>Daya tetas telur dan kualitas anak yang akan</li>
<li>Umur muda cenderung belum dapat mengasuh anak secara baik.</li>
<li>Kesempatan seleksi kurang.</li>
</ol>
<p>Waktu yang tepat untuk mengawinkan burung yaitu, apabila calon-calon</p>
<p>pasangan burung telah siap kondisi badan, dan datangnya masa birahi. Secara alami musim kawin burung perkutut adalah antara bulan april-juni (Grzimek, 1972).</p>
<p><strong>Pencegahan penyakit</strong></p>
<p><strong>            </strong>Pendekatan untuk pencegahan penyakit menurut Mcardle (1972), harus memperhatikan pengandangan dan pemberian makanan. Beberapa hal yang menyebabkan masalah penyakit adalah pemberian makanan yang tidak tepat dan tidak disukai, keadaan kandang yang buruk, kandang terlalu padat isinya, sirkulasi udara buruk dan secara umum pengontrolan terhadap pemberian makan, minum dan hama penganggu kurang diperhatikan secara rutin. Ciri-ciri perkutut sakit menurut Sarwono (1991), Bulu tampak kasar, suka berdiri dan diam ditepi sangkar, tidak mau makan dan minum, serta tidak lincah. Beberapa jenis penyakit yang bisa menyerang perkutut adalah Stres, bulu rontok disebabkan oleh (kutu, jamur kulit, tungau atau parasit lain) yang merusak bulu dan kulit, pilek, keracunan makanan, cacingan, menceret dan pilar.    </p>
<p><strong>Peluang tenaga pekerjaan</strong></p>
<p><strong>            </strong>Keberhasilan suatu organisasi, baik organisasi besar maupun organisasi kecil bukan semata-mata ditentukan oleh sumber daya alam yang tersedia tetapi banyak ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang berperan dalam merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan organisasi yang bersangkutan (manullang, 1990).</p>
<p>            Pembagian kerja didalam suatu perusahaan sangat penting, karena jika tidak ada pembagian kerja kemungkinan terjadinya tumpang tindih menjadi amat besar. Dalam mengadakan pembagian kerja, ada beberapa yang dapat dipakai pedoman (Manullang, 1990), yaitu :</p>
<ol>
<li>Pembagian kerja atas dasar wilayah atau teritorial.</li>
<li>Pembagian kerja atas dasar jenis benda yang diproduksi.</li>
<li>Pembagian kerja atas dasar langganan yang dilayani.</li>
<li>Pembagian kerja atas dasar fungsi.</li>
<li>Pembagian kerja atas dasar waktu.   </li>
</ol>
<p>Jumlah tenaga kerja dipenagkaran jati padang sebamyak 4 orang dengan tugas yang berbeda. Satu orang bertugas sebagai penanggung jawab dikandang reproduksi, satu orang bertugas sebagai penanggung jawab dikandang soliter, dan dua orang bertugas membantu dikandang reproduksi dan soliter. Tingkat pendidikan yang bertanggung jawab dikandang reproduksi adalah sekolah menengah atas (SMA), yang bertanggung jawab dikandang soliter sekolah teknik (ST), dan yang membantu dikandang reproduksi dan soliter Sekolah menengah pertama (SMP). Sedangkan dipenangkaran kebon duren tenaga kerja satu orang yang menangani seluruh pekerjaan penangkaran.</p>
<p>            Penangkaran jati padang dan penangkaran kebon duren merupakan penangkaran milik perorangan. Penangkaran ini lebih bersifat sebagai usaha sambilan (sebagai tabungan), hobi dan percobaan. Disamping memilihara burung perkutut, pemilik penangkaran memilki penghasilan tetap sebagai pegawai dan wiraswasta.</p>
<p>            Pendidikan pegawai dipenangkaran ini berkisar pada jenjang sekolah SMTP dan SMTA. Tingkat pendidikan ini menentukan kemampuan berpikir pekerja. Keterampilan dan pengalaman pekerja dalam memelihara burung perkutu belum diikuti oleh pendidikan khusus dibidang penangkaran, secara formal. Tenaga kerja yang digunakan pada pemeliharaan burung perkutut hanya untuk memberi makan, minum, membersihkan kandang, memandikan burung, melatih mental burung, menjemur dan mengontrol kesehatan burung.</p>
<p>            Menurut Manullang (1990), agar suatu organisasi dapat berjalan baik perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>perumusan dengan jelas.</li>
<li>Pembagian kerja.</li>
<li>Delegasi kekuasaan</li>
<li>Rentang kekuasaan</li>
<li>Tingkat pengawasan.</li>
<li>Kesatuan perintah dan tanggung jawab</li>
<li>koordinasi  </li>
</ol>
<p>Dari data-data literatur yang tercantum diatas maka bahwa didalam suatu</p>
<p>organisasi dapat dijadikan sebagai peluang tenaga kerja, akan tetapi selalu penuh dengan persaingan. Dalam penangkaran pemeliharaan burung perkutut sangat berpotensi sehingga terciptanya sebuah perusahaan penangkaran pemeliharaan burung perkutut dan akan menghasilkan keuntungan yang maksimal. Suatu perusahaan harus lebih teliti dengan system pemeliharan sehingga konsumen akan lebih puas untuk memiliki burung perkutut yang sangat indah suaranya, baik fisik dan kesehatan akan terjamin seutuhnya.</p>
<p><strong>Simpulan</strong></p>
<p><strong>            </strong>Berdasarkan  isi penulisan karya ilmiah, maka dapat disimpulkan bahwa burung perkutut (Geopelia striata Linn) adalah sebagai hewan potensial yang memilki potensi melalui kicauan suara yang sangat indah dengan demikian sangat banyak orang untuk berminat memilihara burung perkutut. Akan tetapi dibalik semua itu ada beberapa tokoh masyarakat dan nenek moyang mengatakan bahwa memelihara burung perkutut akan membawa Rezeki bagi yang memelihara.</p>
<p><strong>Daftar pustaka</strong></p>
<p><strong> </strong>Sarwono, B. dan Sujatmaka. 1991. Perkutut bali yang istimewa. Trubus, no. 208-Tahun       XV111-1 Maret. Pp :271-273</p>
<p>Sarwono, B. 1991. Perkutut manakah yang anda piara. Trubus, no.209-Tahun XV111-1 April.</p>
<p>Warwick, E.J., J.M. Astuti., dan W. Hardjosubroto. 1990. Pemulian Ternak Gajah Mada University Press. Yogyakarta.</p>
<p>Nugroho. 1986a. Beternak burung puyuh. Penerbit Eka Offset. Semarang.</p>
<p>Grzimek, B.H.C. 1972. Animal life Encyclopedia Bird 11. Vol 8. Van nonstrand Reindhold Company. New York. Pp:275-276</p>
<p>Mcardle, A.A. 1972. Poultry Management and Production. Angus and  Robertson. Australia.</p>
<p>Manullang, M. 1990. dasar-dasar Manajemen. Ghalia Indonesia. Jakarta.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1547/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1547&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/10/burung-perkutut-geopelia-striata-linn-sebagai-hewan-potensial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>POLA PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI KELAPA SAWIT-SAPI  SEBAGAI PENJAMIN KETERSEDIAN  PAKAN TERNAK</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/09/pola-pengembangan-sistem-integrasi-kelapa-sawit-sapi-sebagai-ketersedian-pakan-ternak/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/09/pola-pengembangan-sistem-integrasi-kelapa-sawit-sapi-sebagai-ketersedian-pakan-ternak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 03:46:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Animal Science]]></category>
		<category><![CDATA[kelapa sawit]]></category>
		<category><![CDATA[pakan ternak]]></category>
		<category><![CDATA[sapi]]></category>
		<category><![CDATA[SISKA]]></category>
		<category><![CDATA[sistem integrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1535</guid>
		<description><![CDATA[EFRYANTONI ,E1C006013 FAKULTAS PERTANIAN : UNIVERSITAS BENGKULU
 ABSTRAK
Pengembangan program integrasi kelapa sawit-sapi mempunyai peluang pengembangan yang sangat prosfektif ditinjau dari aspek permintaan atas sapi  nasional, ketersediaan pakan sapi melalui sinergi dengan kebun sawit dan hasil sampingan proses pengolahan hasil kebun, serta pemanfaatan kotoran sapi secara maksimal. Produksi limbah pertanian sangat tergantung pada waktu panenan yang mengakibatakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1535&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>EFRYANTONI ,E1C006013 FAKULTAS PERTANIAN : UNIVERSITAS BENGKULU</p>
<p> <strong>ABSTRAK</strong></p>
<p>Pengembangan program integrasi kelapa sawit-sapi mempunyai peluang pengembangan yang sangat prosfektif ditinjau dari aspek permintaan atas sapi  nasional, ketersediaan pakan sapi melalui sinergi dengan kebun sawit dan hasil sampingan proses pengolahan hasil kebun, serta pemanfaatan kotoran sapi secara maksimal. Produksi limbah pertanian sangat tergantung pada waktu panenan yang mengakibatakan ketersediaan secara kontinue sepanjang tahun untuk dibutuhkan tempat penyimpanan untuk menampung limbah pertanian saat panen. Didalam pola integrasi ini, tanaman kelapa sawit sebagai komponen utama, sedangkan ternak sebagai komponen pelengkap. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebagai faktor pembatas dalam pemanfaatanya sebagai pakan. Limbah kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan oleh ternak sebagai pakan adalah : pelepah sawit, lumpur sawit, bungkul inti sawit. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa: pelepah sawit mengandung protein sebesar 1,9%, lemak 0,5% dan lignin 17,4%, Kombinasi serat buah (25%), BIS (15%) dan lumpur sawit (10%) dengan total kontribusi 50% dapat digunakan untuk sapi. Disamping memanfatkan limbah hasil kelapa sawit, sapi yang intgrasikan dengan kelapa sawit ini juga bisa memakan gulma yang berada disekitar perkebunan kelapa sawit. Tanaman penutup lahan kelapa swit juga bisa dimanfaatkan oleh ternak sebagai hijauan, seperti : <em>Callopogonium mucunoides, Centrocema pubescent, Pueraria javanica, Psophocarpus palustris, Callopogonnium caerulium dan Muchuma cochinensisc.</em> Dimana tanaman leguminosa  penutup lahan dapat memproduksi hijauan setara dengan 5-7 ton. Tujuan pembangunan penutup tanah adalah untuk mengurangi erosi permukaan tanah, menambah bahan organik dan cadangan unsure hara, memperbaiki aerasi, menjaga kelembaban tanah menekan perkembanagn gulma, menghemat penyiangan dan pemupukan serta menekan gangguan kumbang orycites. Untuk menunjang keberhasilan sistem integrasi  ternak denagn perkebunan kelapa sawit dibutuhkan teknologi tepat guna dan sosialisasi berkelanjutan dalam hal ; Pengolahan limbah perkebunan/pabrikan sebagai sumber pakan ternak, Pengolahan kompos yang berkualiatas dalam waktu pendek, Pendugaan kapasitas tampungan lahan perkebunan untuk jenis ternak tertentu, Manajemen pemelihararan ternak yang intensif. Disamping itu ternak sapi yang di intgrasikan denagn kelapa sawit juga bisa dimanfaatkan sebagai penarik gerobak maupun mengangkut hasil panenan kelapa sawit dan kotoran sapi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, yang mana pada akhirnaya bisa menghemat biaya produksi.</p>
<p><strong>Kata kunci:  </strong>Integrasi,kelapa sawit, hijauan pakan ternak, limbah, sapi<span id="more-1535"></span></p>
<p><strong> </strong><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Permintatan daging sapi cenderung meningkat seirama  dengan pertambahan jumlah penduduk, perkembangan ekonomi, perubahan gaya hidup, kesadaran gizi, dan perbaikan tingkat pendididkan (DELGADO <em>et al,.</em>1999). Ke depan diramalkan akan terus terjadi peningkatan permintaan daging sehingga akan membuka peluang pasar domestik yang sangat besar . Saat ini rata-rata  konsumsi daging nasional  masih sangat rendah (&lt;2 kg/kapita/tahun), dan diduga akan terjadi peningkatan permintaan mencapai sekitar 3 kg/kapita /tahun dalam dasawarsa mendatang. Peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan rata-rata konsumsi tersebut memerlukan tambahana pasokan sapi potong sangat besar ,yaitu 1,5 juta/tahun.</p>
<p>Beberapa factor ysng menghambat penyediaan hijauan pakan, yakni terjadi perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan untuk tanamana pangan, dan tanamana industri (DJAJANEGARA,1999).Untuk mengatasi masalah tersebut integrasi kelapa sawit-sapi sangat cocok untuk dilakukan karena memberikan keuntungan satu sama lainnya.</p>
<p>Integrasi ternak dengan perkebunan kelapa sawit sangat dibatasi oleh rendahnya hijauan yang eksis di lahan perkebunan kelapa sawit. Tetapi potensi vegetasi hijauan diantara pohon kelapa sawit dapat dimanfaatkan oleh ternak,  sehingga integrasi ini sangat menguntungkan yakni hijauan dapat dimanfaatkan oleh ternak yang kemudian diubah menjadi daging dan pihak perkebunan dapat menghemat biaya penyiangan 25-50%  dan meningkatkan produksi rendemen buah segar 16,7% (HARUN dan CHEN, 1994­).</p>
<p>Perkebunan kelapa sawit <em>( elaeis guineensis</em>) merupakan tanaman tropik yang penting dan berkembang pesat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Luas perkebunan sawit di Indonesia telah mencapai 2.461.827 ton  pada tahun 1997 (DIREKTORAT JENDRAL PETKEBUNAN, 1997) dan pada tahun 2000 telah mencapai 2,014 juta ha, dengan laju pertumbuhan 12,6%/tahun ( LIWANG,2003). Kelapa sawit merupakan salah satu penghasil devisa Negara dari sektor non-migas. Prospek kelapa sawit cukup menjanjikan seperti yang dilaporkan <em>Oil Word</em> (Lembaga penyedia jasa informasi dan perkiraan produksi minyak nabati)</p>
<p>Beberapa upaya penyediaan pakan hijauan untuk ternak terutama sapi potong telah banyak dilakukan diantaranya melalaui pemanfaatan limbah pertanian. Penggunaan limbah pertanian sebagai sumber serat disertai dengan supplmentasi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan zat-zat nutrisi yang diperlukan ternak  (TILLLMAN <em>et al</em>., 1983). Disamping berpengaruh terhadap produktivitas ternak, pakan juga merupakan biaya produksi terbesar  dalam usaha peternakan yakni sekitar 60-80% dari keseluruhan biaya produksi ( HARDIATO <em>et al</em> ., 2002). Menurut SUTARDI (1997) tiap hektar kebun kelapa sawit dapat menghasilkan 10-15 ton tandan buah sawit segar (TBS) dan jika diolah maka tiap ton TBS akan menghasilkan 3 jenis limbah yang dapat digunakan sebagai pakan ternak yaitu 45-46% bungkil inti sawit, 12 % sabut sawit dan 2% Lumpur sawit (DAVENDRA ,1983).</p>
<p> Dengan demikian dalam hal penyediian pakan tidak hanya dituntut pencapaian aspek kualitas tetapi juga aspek ekonomis (SIREGAR ,1994). Salah satu perkebunna yang cocok digunakan sebagai sumber pakan hijauan adalah perkebunna kelapa sawit Diperkirakan bahwa sekitar 70-80% dari areal perkebunan kelapa sawit dapat dimanfaaatkan sebagai sumber hijauan  pakan ternak. Pola pengembanagan usaha yang memadukan usaha perkebunan kelapa sawit-sapi merupakan pengembangan usaha peternakan tanpa harus membuka lahan baru. Didalam pola integrasi ini, tanaman kelapa sawit sebagai komponen utama, sedangkan ternak sebagai komponen pelengkap. Pada perkebunan kelapa sawit terdapat potensi vegetasi rumput-rumput liar dan tanaman penggangu yang bisa dimakan oleh ternak seperti : <em>Axonopus compresus, Ottochloa nodosa, Paspolum conjugotum. </em>Pengendalian tanaman penggangu dapat dilakukan dengan penggembalaan ternak sapi tersebut. Produksi rumput liar tersebut dapat digunakan sebagai pakan ternak dengan produksi sekitar 3-5 ton /ha/tahun (ANOMIOUS ,1981 dalam ARITONANG ,1989).</p>
<p>Batang kelapa sawit berpotensi sebagai pakan dasar untuk menggantikan hijauan sebagian atau seluruhnya. Penelitian OSHIO <em>et al</em>. (1988) menunjukan bahwa batang kelapa sawit dapat digunakan dalam pakan sebanyak 30% dari total pakan . dengan komposisi 30% batang sawit dan 70% konsentrat diperoleh pertambahan berat badan 0,66-0,72 kg pada sapi. Sedangkan pelepah sawit dapat digunakan sebagai pengganti rumput, pelepah dapat diberikan dalam bentuk segar maupun silase. Selain menghasilkan CPO pabrik kelapa sawit juga mengahasilkan bungkil inti sawit, Lumpur sawit/solid. Keberadaan bungkil inti sawit salid selama ini umumnya menjadi limbah yang memerlukan biaya untuk penangannya . Potensi ini dapat  dimanfaatkan sebagai pakan untuk ternak sapi, karena ternyata ternak sapi mampu tumbuh dan berkembang. Disamping itu ternak sapi jiga menghasilkan kotoran yang dapat dijadiakan kompos bagi perkebunan sawit.penggunaaan kompos disamping akan meningkatkan kesuburan dan memperbaiki struktur maupaun tekstur tanah.</p>
<p>Dengan demikian peluang alternatife untuk memeperbaiki perkebunan kelapa sawit adalah adalah dengan mengintergrasikan usaha peternakan, khususnya ternak ruminansia seperti sapi potong, sapi perah dan domba/kambing (PT PERKEBUNAN 11, 1994; DAMANIK, 1994; DIRJEN BINA PRODUKSI PETERNAKAN, 2002). Dimana kondisi produktivitas ternak sanagt tergantung pada ketersediaan pakan yang berkualitas untuk mendapatkan produksi yang optimal. Kekurangan zat nutrisi pakan akan mempengaruhi seluruh fungsi tubuh, yang mana sampai 95% dipengaruhi oleh faktor lingkungan, termasuk pakan yang diberikan.</p>
<p><strong>Prospek pengembangan integrasi kelapa sawit-sapi</strong></p>
<p>Pengembangan program integrasi kelapa sawit-sapi mempunyai peluang pengembangan yang sangat prosfektif ditinjau dari aspek permintaan atas sapi (daging) nasional, ketersediaan pakan sapi melalui sinergi dengan kebun sawit dan hasil sampingan proses pengolahan hasil kebun, serta pemanfaatan kotoran sapi secara maksimal (untuk pembuatan biogas dan pupuk alami). Integrasi produksi ternak dengan perkebunan kelapa sawit dapat menjadi cikal bakal pengembangan agribisnis berbasist ruminant-perkebunan. Dalam kaitannya dengan pengembangan peternakan SITORUS <em>et al,.</em> (1984) juga manyarankan dilakukan penelaahan potensi wilayah dan kebutuhan peternak, yang meliputi rumput-rumputan danl imbah pertanian untu pakan ternak (diantaranya sapi) sebagai sumber tenaga, penghasil pupuk kandang dan sumber pendapatan . Berdasarkan  potensi dan daya dukung maka limbah pertanian dapat menyediakan pakan untuk ternak ruminansia besar yang cukup besar. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebagai factor pembatas dalam pemanfaatanya sebagai pakan. Produksi limbah pertanian sangat tergantung pada waktu panaen yang mengakibatakan ketersediaan secara kontinue sepanjang tahun untuk dibutuhkan tempat penyimpanan untuk menampung limbah pertanian saat panen ( SOETANTO, 2001). Kendala laiannya adalah nilai nutrisi limbah pertanian yang amat beragam tergantung dari spesies (SOETANTO, 2001). Nilai nutrisi yang rendah seperti kandungan protein yang rendah dan serat vkasr yang tinggi menyebabkan limbah pertanian terbatas untuk digunakan sebagai pakan, disamping juga adanaya anti nutrisi dan racun yang mungkin terkandung dalam limbah tersebut (SOFYAN,1998). Hasil utama industri kelapa sawit adalah minyak sawit dan minyak inti sawit yang pada umumnya banyak digunakan untuk keperluan industri makanan, cat, sabun dan kosmetik. Mutu suatu bahan pakan ditentukan oleh interaksi antara konsentrasi unsur gizi, tingkat kecernaan dan tingkat konsumsi. Kandungan unsur gizi merupakan indikator awal yang menunjukan potensi suatu bahan pakan. Tingkat kecernaan akan menentukan seberapa besar unsure gizi yang terkandung dalam bahan pakan secara potensial dapat dimanfaatkan untuk produksi ternak.</p>
<p>Produksi pelepah sawit mencapai 40-50 pelepah/pohon/tahun. Dimana pelepah sawit bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak sapi. Daun kelapa sawit dipanen 1-2 pelepah/panen/pohon merupakan potensi yang cukup besar sebagai pakan ruminnansia (SURYAHADI, 1997). Abu Hassan dan  Ishida melaporkan bahwa pelepah kelapa sawit dapat dipergunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia, sebagai sumber pengganti hijauan atau dapat dalam bentuk silase yang dikombinasikan denagan bahana lain atau konsentrat sebagai bahan campuran. Studi awal yang dilakukan Abbu Hassan dan Ishida  (1992) menunjukan bahwa tingkat kecernaan bahan kering pelepah dapat mencapai 45%. Hal yang sama berlaku untuk daun kelapa  sawit yang secara teknis dapat dipergunakan sebagai sumber atau pengganti pakan hijauan tetapi harus diberi perlakuan terlebih dahulu. Pemenfaatan pelepah sawit sebagai bahan paka ternak juga harus mempertimbangkan aspek keseimbangan bahan organic di kebun, dimana baiasanya pelepah  sawit dikembalikan atau disebar ke kebun untuk menjaga tingkat kesuburan tanah serta mendukung usaha perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.</p>
<p>Hasil analisis kualitas menunjukan pelepah sawit mengandung protein sebesar 1,9%, lemak 0,5% dan lignin 17,4%.Dengan kandungan lignin yang cukup tinggi,maka sebelum diberikan kepada ternak dilakuakan perlakuan fisik, kimia ataupun biolaogi misalnya dengan menggunakan probiotik atau dikombinasikan dengan suplementasi., seperti dengan penggunaan NaOH  yang bertujuan untuk meningkatkan kecernaan dengan memutuskan ikatan selulosa atau hemiseluosa dengan lignin, sehingga energi tersedia dapat meningkat, teknik ini telah dicobakan pada batang dan pelepah sawit ( OSHIO <em>et al,.</em>1988). Pemberian  daun sawit disarankan jangan melebihi 20% dari ransum, penggunaan daun sawit lebih dari 20% sebaiknya diberi <em>pre-treatmen</em> lebih dahulu karena daun sawit dibatasi oleh tinngi kadar lignin, sehinggan perlu dilakukan pengolahan untuk meningkatkan daya cerna melalui perlakuan fisik, senyawa kimia, biologis atau kombinasi. BATUBARA (2002), hasil penelitianya menunjukan bahwa penggunaan daun sawit segar sebagai pengganti hijauan dalam konsentrat menngandung 30% BIS, memberikan pertambahan berat badan 760 g /ekor/hari dengan R/C –ratio 1,5 pada sapi persilangan.</p>
<p>Perlakuan fermentasi untuk menghasilkan silase pada prinsipnya bertujuan untuk preservasi dan konservasi. Pengaruhnya  terhadap nilai gizi relative kecil. Untuk meningkatakan kandungan gizi dalam proses fermentasi dapat ditambahkan dengan urea . hasil penelitian HASAN <em>et al</em>. (1996) menunjukan bahawa fermentasi pelepah sawit menjadi produk silase tidak meningkatakan pencernaan.</p>
<p>Percobaan pemanfaatan hasil ikutan perkebunan kelapa sawit sebagai ransum komplit (100%) ataupun sebagai campuran pakan telah banyak dilakaukan. WONG  dan ZAHARI  (1992) melaporkan bahwa bungkil inti sawit dapat diberikan 50% untuk sapi dan 30% untuk domba.</p>
<p>Lumpur sawit dan bungkil inti sawit merupakan hasil ikutan pengolahan minyak sawit. Bungkil inti sawit merupakan hasil ikutan yang paling tinggi nilai gizinya untuk pakan ternak. Produk sampingan pengolahan kelapa sawit kelapa sawit dilaporkan mengandung serat kasar yang cukup tinggi, namun untuk Lumpur/solid dan bungkil kelapa sawit  mengandung protein kasar yang berpotensi untuk dapat dijadikan bahan ransom berkualitas. Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal, maka produk sampingan tanaman dan pengolahan kelapa sawit harus diberi perlakuan terlebih dahulu. Dimana perlakuan tersebut dapat di[erlakukan secara fisik (cacah, giling, tekanan uap), kimia (NaOH , urea), biologis (fermentasi) dan kombinasi semuanya.</p>
<p>Lumpur sawit diketahui merupakan hasil ikutan proses ekstrasi minyak sawit yang mengandung air cukup tinggi. Sehingga upaya mengatasinya yaitu mengurangi kandungan air Lumpur sawit untuk selanjutnya dapat dipergunakan sebagai pakan ternak , khususnya ternak ruminansia. Melihat karakteristik nutrisi berbagai hasil sampingan perkebunan kelapa sawit seperti diuraikan diatas, maka terdapat peluang besar untuk menyusun berbagai jenis ransum untuk ternak dari hasil sampingan tanaman kelapa sawit . Yang perlu diperhaikan dalam penyusunan ransum tersebut adalah pemanfaatan bahan-bahan yang berserat tinggi sebagai pakan dasar dan pakan yang mengandung konsentrasi protein dan energi tinggi sebagai suplemen dalam suatu ramuan . Kombinasi serat buah (25%), BIS (15%) dan lumpur sawit (10%) denagan total kontribusi 50% dapat digunakan untuk sapi (DALZEEL, 1977). Untuk hidup pokok atau sedikit pertumbuhan, maka komposisi BIS (30%) , serat perasan buah (15%), Lumpur minyak sawit (18%) dengan total kontribusi 63 % dapat digunakan untuk sapi (WONG <em>et al., </em>1987). Peluang untuk menyusun pakan komplit yang secara fisik dibentuk menjadi blok merupakan alternative yang perlu dipertimbangkan untuk memudahan penanganan , terutama untuk produksi dalam skala besar.</p>
<p>Di samping dari pemanfaatan hasi ikutan limbah kelapa sawit, kita bisa memanfaatkan rumput yang barada di sekitar areal perkebunan. Dimana rumput tersebut sebagai gulma dapat dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak sapi. Tanaman budidaya penutup lahan perkebunan kelapa sawit adalah berupa leguminosa. Jenis spesise leguminosa yang sering digunakan sebagai tanaman penutup lahan adalah <em>Callopogonium mucunoides, Centrocema pubescent, Pueraria javanica, Psophocarpus palustris, Callopogonnium caerulium dan Muchuma cochinensisc </em>(DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN ,1984;risza,1995).</p>
<p>Tujuan pembangunan penutup tanah adalah untuk mengurangi erosi permukaan tanah, menambah bahan organic dan cadangan unsur hara, memperbaiki aerasi, menjaga kelembaban tanah menekan perkembanagn gulma, menghemat penyiangan dan pemupukan serta menekan gangguan kumbang orycites (RISZA,1995). Tanaman budidaya penutup lahan merupakan factor tindakan kultur teknis dalam budidaya kelapa sawit yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit. Di areal perkebunan, intensitas cahaya matahari yang mencapai permukaan tanah sanagat dipengaruhi oleh umur tanaman pokok. Penanam berbagai macam legume dan tumbuhnya beberapa jenis rumput diperkebunan kelapa sawit juga mengalami fluktuasi produksi mengikuti perubahan tinggi-rendahnya intensitas cahaya matahari.</p>
<p>Dimana tanaman leguminosa  penutup lahan dapat memproduksi hijauan setara dengan 5-7 ton BK/ha/tahun MOHAMED <em>et al,.</em> (1987) mengemukakan bahwajenis leguminosa akan mendominasi areal kalapa sawit hingga 55% selama 3 tahaun pertama umur tanaman pokok. Sedangkan pada tahun keempat, terjadi perubahan komposisi; rumput akan mendominasi areal hingga 60%. Sehingg hujauan dapat dimanfaatkan dengan cara dipotong maupun pengembalaan ternak. Perbaikan hijauan perlu dilakukan pada lahan perkebunan di mana tanaman utama sudah mencapai umur 6-25 tahun misalnya denagan penanaman leguminosa pohon pada areal-areal yang tidak ditanami pohon utama (HORNE <em>at al,.</em> 1994).</p>
<p>Beberapa keuntungan dari pemanfaatan hasil perkebunan kelapa sawit pada usaha peternakan sapi adalah ; A) secara teknis bahan pakan inimudah didapat dan produksinaya berkesinambungan B) secara ekonomi membantu peningkatan pendapatan perkebunan C) membantu pengawasan lingkungan serta mengurangi pencemaran D) menambah penyedian bahan pakan (ARITONANG, 1986).</p>
<p>Spesias leguminosa yang digunakan sebagai tanaman penutup lahan bersifat spesifik yaitu ;</p>
<ul>
<li><em>Pueraria javanica</em> mempunyai sifat pertumbuhan awal yang agak lambat tetapi setelah tumbuh dapat bertahan lama dan than naungan daripada <em>Callopogonium mucunoides</em> dan <em>Centrocema pubescent</em>, selain itu <em>P.javanica</em> paling disukai ternak (RISZA, 1995).</li>
<li><em>Callopogonium mucunoides </em>mempunyai sifat pertumbuhan awal yang cepat tetapi tidak bertahan lama dan tidak tahan naungan (RISZA, 1995). <em>Callopogonium mucunoides </em>dapat tumbuh baik bersama <em>Centrocema pubescent</em>, dan <em>P.javanica </em>( DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN,1984). Palatabilitasnya rendan dan mempunyai kandungan nutrisi 25,7% (BK); 15,6% (PK); 31,5%(SK) (GOHL,1981).</li>
<li><em>Psophocarpus palutris </em>mempunyai sifat hampir sama denagan <em>P.javanica </em>tetapi lebih tahan air, namun bijinya cepat busuk (RISZA, 1995).</li>
<li><em>Muchuma chochines </em>mempunyai sifat cepat tumbuh tetapi umurnya pendek serta dapat mengeluarkan bau spesifik yang dapat mengusir hama <em>Oryicites rhinoceros</em> (RISZA,1995).<em></em></li>
<li><em>Callopogonium mucunoides </em>mempunyai sifat<em> </em>pertunbuhannaya awalnya agak lama,tahan naungan, cepat, berumur panjang panjang (RISZA, 1995). Leguminosa ini mempunyai palatabilitas yang rendah dan diduga mengandung zat anti nutrisi. Kandungan nutrisinya adalah 21,8% (BK); 15,40% (PK); 57,1% (SK) dan 4,13 cal/g.<em></em></li>
</ul>
<p>Untuk pemupukan leguminosa dapat memanfaatkan tandan kosong sebagai bahan kompos yang memberikan hasil cukup memuaskan. Selain mengurangi pencemaran lingkungan sebagai akibat keberadaan biomasa tersebut. Hasil kompos olahan dari tandan kosong tersebut memberi nilai tambah sendiri penggunaan pupuk organic secara terus-menerus  dalam jangka waktu yang lama ternyata dapat menyebabkan kondisi tanah menjadi sakit untuk pertumbuhan tanaman. Hal ini berkaitan dengan perubahan fisik dan mikrobiologi tanah sedemikian rupa sehingga pertumbuhan perakaran tanaman menjadi terganggu yang pada akhirnya mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Hal ini berarti memerlukan pupuk organic untuk mempertahankan kesehatan lahan. Sehingga integrasi tanaman kelapa sawit-sapi saling memberikan keuntungan, dimana ternak sapi menghasilkan kotoran yang dapat diproses menjadi pupuk organic. Kandungann mikroba rumen dapat dimanfaatkan untuk membantu proses dekomposisi manure dan proses ini dapat dipercepat dengan penambahan mikroba unggul (PUSLITBANGNAK, 2000). Sedangakan gulma-gulama penggangu di perkebunan kalapa sawit bisa dimanfaatkan oleh ternak sebagai pakan hijauan. GINTING (1999) melaporkan bahwa ternak dapat berperan sebagai industri biologis dan penyiangan biologis sekaligus mampu meningkatkan produksi daging dan penyedian kompos. Pemeliharaan intensif untuk ruminansia besar secara empiris mencegah pamadatan tanah dan sentuhan langsung dari tanaman yang dikuatirkan rusak merusaka tanaman pokok, sedangakan untuk ruminansia kecil tidak menjadi masalah.</p>
<p>Selain spesies tanaman leguminosa yang biasa ditanam sebagai tanaman punutup, diperlukan introduksi tanaman baru yang bermutu tinggi. Introduksi tanaman baru diperlukan karena masih terdapat pembatas terhadap penampilan produksi ternak yang disebabkan oleh ketidak cukupan pakan dan kualitas pakan yang rendah, sehingga untuk keperluan introduksi ternak  diperluakan penyediaan pakan suplementasi  (hijauan atau konsentrat) atau dilakukan perbaikan terhadap konsumsi pakan dan kualitas pakan pada sumber pakan hijauan (HORNE <em>et al,.</em> 1994).</p>
<p>Untuk menunjang keberhasilan sistem integrasi  ternak denagn perkebunan kelapa sawit dibutuhkan teknologi tepat guna dan sosialisasi berkelanjutan dalam hal ;</p>
<ul>
<li>Pengolahan limbah perkebunan/pabrikan sebagai sumber pakan ternak</li>
<li>Pengolahan kompos yang berkualiatas dalam waktu pendek</li>
<li>Pendugaan kapasitas tampungan lahan perkebunan untuk jenis ternak tertentu</li>
<li>Manajemen pemelihararan ternak yang intensif</li>
</ul>
<p>Disamping itu ternak sapi juga bisa dimanfaatkan sebagai penarik gerobak maupun mengangkut hasil panenan kelapa sawit, sehingga mengurangi biata pengangkutan TBS. Perawatan kebun terutama pengangkutan pupuk juga dapat dilakukan lebih efisien, sehingga berdamapak pada penghematan biaya tenaga kerja secara signifikan</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Permintatan daging sapi cenderung meningkat seirama  dengan pertambahan jumlah penduduk, perkembangan ekonomi, perubahan gaya hidup, kesadaran gizi, dan perbaiakan tingkat pendididkan. Beberapa factor ysng menghambat penyediaan hijauan pakan, yakni terjadi perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan untuk tanamana pangan, dan tanamana industri.</p>
<p>Produksi pelepah sawit mencapai 40-50 pelepah/pohon/tahun. Dimana pelepah sawit bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak sapi. Daun kelapa sawit dipanen 1-2 pelepah/panen/pohon merupakan potensi yang cukup besar sebagai pakan ruminnansia. Hasil analisis kualitas menunjukan pelepah sawit mengandung protein sebesar 1,9%, lemak 0,5% dan lignin 17,4%.Dengan kandungan lignin yang cukup tinggi,maka sebelum diberikan kepada ternak dilakuakan perlakuan fisik, kimia ataupun biolaogi misalnya dengan menggunakan probiotik atau dikombinasikan dengan suplementasi., seperti dengan penggunaan NaOH  yang bertujuan untuk meningkatkan kecernaan dengan memutuskan ikatan selulosa atau hemiseluosa dengan lignin, sehingga energi tersedia dapat meningkat, teknik ini telah dicobakan pada batang dan pelepah sawit.</p>
<p>Lumpur sawit dan bungkil inti sawit merupakan hasil ikutan pengolahan minyak sawit. Bungkil inti sawit merupakan hasil ikutan yang paling tinggi nilai gizinya untuk pakan ternak. Produk sampingan pengolahan kelapa sawit kelapa sawit dilaporkan mengandung serat kasar yang cukup tinggi, namun untuk Lumpur/solid dan bungkilkelapa sawit  mengandung protein kasar yang berpotensi untuk dapat dijadikan bahan ransom berkualitas. Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal, maka produk sampingan tanaman dan pengolahan kelapa sawit harus diberi perlakuan terlebih dahulu. Dimana perlakuan tersebut dapat di[erlakukan secara fisik (cacah, giling, tekanan uap), kimia (NaOH , urea), biologis (fermentasi) dan kombinasi semuanya.</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA </strong></p>
<p>ROEMOKOV, A. 2003. Dukungan Pembiayaan Dalam Pengembangan Usaha Integrasi Sapi-kelapa sawit. Loka karya Nasional Integrasi Kelapa sawit-sapi 9-10 september.Bengkulu.</p>
<p> SIMON, P dan ELIZABETH, j. 2003. Teknologi Pakan Berbahan Dasar Hasil Sampingan Perkebunan Kelapa     Sawit. 2003. Loka Panelitian Kambing Potong Sei Putih. Galang Sumatra Utara. Medan</p>
<p>Diwiyanto, K. SITOMPUL, D. MATHIUS, W. SOENTORO. 2003. Pengkajian Pengembangan Usaha Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Bengkulu<strong></strong></p>
<p>Uum, U. Angggraeny, YN. 2003. Keterpaduan Sistem Usaha Perkebunan Denagan Ternak : Tinjauan Tentang Ketersedian Hijauan Pakan Untuk Sapi Potong Di Kawasan  Perkebuna Kelapa Sawit. Loka Penelitian sapi Potong.Grati</p>
<p>SUHARTO. 2003. Pengalaman Pengembangan Usaha SIstem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit Di Riau. Riset Dan Pengembangan Peternakan PT. Tri Bakti Sari Mas. Riau</p>
<p>UTOMO,BN. WIDJAJA, E. Limbah Padat Pengolahan Minyak Sawit Sebagai Nutrisi Ternak Ruminansia.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah. Palangkaraya</p>
<p>WIJONO, DB. AFFANDHI, L. RASYID, A. 2003. Integrasi Ternak Dengan Perkebunan Kelapa Sawit. Loka Penelitian Sapi Potong. Grati-Pasuruan</p>
<p>MATHIUS,I. SITOMPUL, D. MANURUNG,B.P Dan AZMI. 2003. Produk Sampingan Tanaman Dan Pengolahan Kelapa Sawit Sebagai Bahan Dasar Pakan Komplit Untuk Sapi ; Suatu Tinjauan. Balai Penelitian Ternak. Balai Pengkajian Teknologi Pertanaian. Bengkulu</p>
<p>LIMAN, KUSUMA, A. 2007. Pemanfaatan Limbah  Kelapa Sawit Melalui Pengolahan dan Suplementasi Mineral Organik Dalam Rangka Integrasi Industri Kelapa Sawit Dan Ternak Ruminansia. Laporan Penalitian. Universitas Lampung</p>
<p>MANTI, I. PRIYOTOMO, E. SITOMPUL, D. Kajaian Sosial Ekonomi Sistem Integrasi sapi Dengan Kelapa Sawit ( SISKA). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.PT Agricinal. Bengkulu</p>
<p>HARYANTO, B.2008. Panduan Lengkap Pengelolaan Kebun Dan Pabrik Kelapa Sawit. Cet 1. Agromedia Pustaka. Jakarta</p>
<p>Abidin, Z. 2009. Buku Tentang Penggemukan Sapi Potong. CEt 12. Firman Mitra Mandiri. Jakarta</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1535/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1535&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/09/pola-pengembangan-sistem-integrasi-kelapa-sawit-sapi-sebagai-ketersedian-pakan-ternak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kualitas Pellet Pakan Mempengaruhi  Pertambahan Berat Badan Unggas</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/06/kualitas-pellet-mempengaruhi-baiknya-pakan-untuk-pertambahan-berat-badan-unggas/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/06/kualitas-pellet-mempengaruhi-baiknya-pakan-untuk-pertambahan-berat-badan-unggas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 09:35:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Animal Science]]></category>
		<category><![CDATA[berat badan]]></category>
		<category><![CDATA[pelet]]></category>
		<category><![CDATA[unggas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1532</guid>
		<description><![CDATA[ Devi Joni Taufik
Abstrak
Pellet merupakan pakan yang baik untuk digunakan sebagai pakan penambah berat badan pada unggas. Kualitas pellet bervariasi untuk jenis-jenis unggas pedaging. Kualitas pellet terutama penting untuk itik dimana index ketahanan pellet (PDI = pellet durability index) diupayakan 96 % untuk penampilan produksi yang optimum, sedangkan untuk pakan kalkun target PDI 90 % atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1532&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong> </strong><strong>Devi Joni Taufik</strong><br />
<strong>Abstrak</strong><br />
Pellet merupakan pakan yang baik untuk digunakan sebagai pakan penambah berat badan pada unggas. Kualitas pellet bervariasi untuk jenis-jenis unggas pedaging. Kualitas pellet terutama penting untuk itik dimana index ketahanan pellet (PDI = pellet durability index) diupayakan 96 % untuk penampilan produksi yang optimum, sedangkan untuk pakan kalkun target PDI 90 % atau broiler PDI 80 %. Pada umumnya upaya mengoptimalkan PDI tetap merupakan alasan yang baik sepanjang perbaikan PDI bisa mengefisienkan biaya. Kendalanya adalah memastikan teknik manajemen dan teknologi pelleting mana yang paling efisien untuk diaplikasikan dalam produksi pakan unggas.</p>
<p>Kebanyakan pakan unggas di banyak negara diproduksi dalam bentuk butiran maupun pellet. Keuntungan memproses pellet adalah: mengurangi pengambilan pakan secara seletif oleh unggas, meningkatkan ketersediaan nutrisi, menurunkan energi yang dibutuhkan sewaktu mengkonsumsi pakan, mengurangi kandungan bakteri pathogen, meningkatkan kepadatan pakan sehingga dapat mengurangi biaya penggunaan truk, mengurangi penyusutan pakan karena debu, dan memperbaiki penanganan pakan pada penggunaan alat makan otomatis. Semua keuntungan ini akan secara dratis menurunkan biaya produksi.</p>
<p>Kualitas pellet bagi ternak terrestrial, berbeda dengan spesies akuatik, sangat terkait dengan durabilitas, yaitu ketahanan fisik dari pakan pellet menghadapi proses penanganan dan transportasi sehingga dihasilkan tepung maupun patahan pellet dalam jumlah minimum. Durabilitas diukur dengan nilai persentase pellet ataupun tepung dalam pakan jadi disingkat sebagai PDI (&#8220;pellet durability index&#8221;). PDI menggambarkan persentase berat pellet yang tetap utuh setelah melewati alat uji standar (KSU tumbling cane, Holman tester, Kahl tester, dll). Dengan masih terbatasnya pengetahuan kita tentang  pellet maka kita harus mencari, melihat membaca, mengetahui, dan memahami semua tentang pellet dari proses pengolahan, bentuk yang baik, menjaga kualitas,dsb.</p>
<p> Kata Kunci : pellet, pakan, unggas. <span id="more-1532"></span></p>
<p> <strong>PENDAHULUAN :</strong></p>
<p>Pada dasarnya ada tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan ternak agar diperoleh berat badan yang diharapkan, yaitu faktor genetik, faktor lingkungan dan manajemen.</p>
<p><a title="Permanent Link: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan  pada Unggas" href="http://uripsantoso.wordpress.com/2008/06/29/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pertambahan-berat-badan-pada-unggas/">Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan pada Unggas</a>, Bentuk pakan pelet akan lebih efisien dalam menghasilkan berat badan jika dibadingkan dengan pakan dalam bentuk tepung. Pakan bentuk tepung akan banyak yang terbuang sebagai debu (urip santoso.2008). Salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi produksi unggas adalah pakan, pakan yang baik juga mempengaruhi kualitas dan pertumbuhan berat badan unggas. Pellet merupakan pakan yang sangat baik untuk pertambahan berat badan, walaupun kemungkinan-kemungkinan adanya ditemukan pakan- pakan yang lebih baik dari pada pellet yang harus melakukan penelitian-penelitian yang membutuhkan waktu yang lama dan sulit sebelumnya.</p>
<p><em>Strain </em>ayam pedaging <em>final stock </em>diperoleh dari keturunan <em>parent stock </em>dan merupakan hasil seleksi yang dilakukan secara terus menerus sehingga diperoleh hasil yang betul-betul produktif (Anonymous, l983). Kalaupun ada perbedaan pada berat badan, hal tersebut logis karena disebabkan oleh perbedaan genetik dan pengaruh faktor makanan yang diberikan serta seleksi telur yang ditetaskan (Aitken <em>et al</em>., l969) yang dikutip oleh Nathaneal (l975).</p>
<p>Banyaknya penelitian-penelitian untuk mengetahui pakan yang baik dan dapat dijadikan pakan pengganti pellet untuk menambah berat badan unggas. Tetapi sampai saat ini pellet masih dianggap pakan yang paling baik, meskipun untuk proses pembuatannnya masih sulit untuk kita yang masih belum begitu mengetahui tentang ilmu tersebut. Tetapi sekarang pellet dengan mudah dapat kita temukan di tempat-tempat atau took-toko yang menjual pakan-pakan ternak di daerah-daerah kita tinggal.</p>
<p>Dengan masih terbatasnya pengetahuan kita tentang pellet maka kita harus mencari, melihat membaca, mengetahui, dan memahami semua hal yang berhubungan dengan pellet dari proses pengolahan, bentuk yang baik, menjaga kualitas,dsb. Karena itu merupakan hal yang harus kita pahami lebih dalam untuk dapat berternak dengan baik.</p>
<p> <strong>Penampilan Ayam VS Kualitas Pellet</strong></p>
<p>Zatari et al (1990) membandingkan dua jenis pakan yang berbeda kualitas pellet (75 % pellet dan 25 % tepung versus 25 % pellet dan 75 % tepung) terhadap penampilan ayam broiler selama periode pemeliharaan 49 hari. Pakan 75 % pellet memberikan keuntungan dalam hal berat badan akhir dan nilai konversi pakan kumulatif dibandingkan pakan 25 % pellet. Dibandingkan dengan ayam broiler, kalkun bereaksi negatip terhadap peningkatan persentase tepung dalam pakan. Kualitas pellet merupakan faktor kritis bagi kalkun mengingat spesies ini menghabiskan banyak waktu mengkonsumsi pakan sehingga kualitas pellet yang kurang baik menyebabkan lebih banyak pakan sisa. Menggunakan kalkun jantan yang dipelihara sejak umur 7 sampai 18 minggu, Brewer et al (1990) memperlihatkan adanya perbaikan nilai konversi pakan sebesar 7 dan 10 point pada kalkun yang mengkonsumsi pakan 10 % tepung dibandingkan jika diberikan pakan 50 % tepung.</p>
<p>Kualitas pellet memberikan pengaruh yang lebih beragam jika diberikan kepada itik, dibandingkan terhadap broiler dan kalkun. Seringkali ditemukan material lengket pada paruh itik yang diberi pakan tepung. Pengerasan sisa pakan tersebut mengurangi konsumsi pakan dan meningkatkan pakan yang terbuang sementara itik membersihkan paruhnya dengan air dalam upaya untuk menyingkirkan material yang melekat tersebut Dean (1986) menunjukkan bahwa penurunan kandungan tepung dalam pakan dari 16 % menjadi 0 % mengarah pada peningkatan 2,8 % nisbah konversi pakan.</p>
<p><strong>Tahap-tahap Memperbaiki Kualitas Pellet</strong></p>
<p>Bahan baku mempunyai pengaruh yang sangat nyata terhadap kualitas pellet. Kandungan perekat (binder) alami (misalnya pati), protein, serat, mineral dan lemak dari bahan baku akan mempengaruhi kualitas pellet. Barley, gandum, kanola dan rape seed meal mengandung perekat alami yang membentuk ikatan fisik &#8211; kimia selama proses untuk menghasilkan pellet yang berkualitas lebih baik. Meskipun demikian, di luar kawasan Eropa dimana banyak menggunakan gandum dan rape seed meal sebagai bahan utama, pakan unggas yang banyak menggunakan bijian (jagung atau sorghum) dan bungkil kedele mempunyai daya rekat yang rendah.</p>
<p>Dalam banyak hal, formulasi pakan ayam pedaging mendasarkan pada metoda &#8220;least cost&#8221; maupun &#8220;optimal cost&#8221; yang tidak memperhitungkan &#8220;pelletabilitas&#8221; setiap bahan baku. Selain pilihan bahan baku, teknik manajemen lainnya menawarkan upaya-upaya mengefektifkan biaya untuk memperbaiki kualitas pellet. Pakan mengandung bijian kasar dalam jumlah banyak membutuhkan penanganan yang ekstra dinitikberatkan pada ukuran partikel, kondisioner, kondisi die dan kandungan lemak (Tabel 1).</p>
<p> <strong>Tabel 1. Pengaruh Faktor-faktor Pelleting terhadap Kualitas Pellet</strong></p>
<table border="1" cellpadding="0" width="440">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Faktor</strong></td>
<td><strong>Perbaikan PDI (%)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>Penambahan 15 % gandum ke pakan basis jagung-bungkil kedele</td>
<td>11,6</td>
</tr>
<tr>
<td>Penambahan perekat sintetis (binder) 1,25 % ke dalam pakan basis jagung &#8211; bungkil kedele</td>
<td>12,5</td>
</tr>
<tr>
<td>Meningkatkan suhu kondisioning 10<sup>o</sup>F <sub>(1)</sub></td>
<td>10,0</td>
</tr>
<tr>
<td>Mengurangi lemak dalam mixer dari 1 % ke 0 %</td>
<td>5,0</td>
</tr>
<tr>
<td>Mengurangi ukuran partikel dari 665 menjadi 500 mikron <sub>(2)</sub></td>
<td>14,5</td>
</tr>
<tr>
<td>Meningkatkan kelembaban bahan tepung dalam mixer dari 12 ke 14,5 % <sub>(3)</sub></td>
<td>10,0</td>
</tr>
<tr>
<td>Menggunakan expander plus pelleting versus pelleting <sub>(4)</sub></td>
<td>15,0</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><sub>1)</sub>Winowiski, 1999 <sub>(2)</sub>McEllhiney, 1992 <sub>(3)</sub>Greer and Fairchild, 1999 <sub>(4)</sub>Smith et al., 1995</p>
<p><strong>Menghindari Penggilingan Tidak Ekonomis</strong></p>
<p>Menggiling bijian menjadi ukuran partikel yang halus akan meningkatkan kualitas pellet. Semakin kecil partikel akan semakin besar luas permukaan yang memungkinkan penetrasi panas dan kelembaban lebih cepat ke inti partikel selama proses kondisioning sehingga dapat meningkatkan pemasakan dan gelatinasi sel-sel pati. Ukuran partikel yang optimum untuk meningkatkan durabilitas pellet pada pakan unggas dengan kandungan utama jagung-kedele haruslah dalam kisaran 650 &#8211; 700 mikron. Memperkecil ukuran partikel jagung menjadi 500 mikron akan memperbaiki kualitas pellet dibandingkan ukuran 700 mikron, tetapi pengurangan ukuran partikel akan meningkatkan kebutuhan enerji penggilingan menjadi dua kali lipat (McEllhiney, 1992).</p>
<p><strong>Mengoptimalkan Kelembaban Tepung</strong></p>
<p>Riset terakhir dari Kansas State University (KSU) menunjukkan bahwa kandungan kelembaban dari tepung sebelum kondisioning mempunyai pengaruh yang linier (R=0,97) terhadap kualitas pellet (Geer and Fairchild, 1999). Teknik baru memungkinkan penambahan kelembaban sejak dari mixer, yang dapat menjadi cukup menguntungkan apabila menggunakan bijian dengan kelembaban yang rendah. Beyer et al (2000) pada penelitian terhadap broiler sampai umur 42 hari melaporkan bahwa peningkatan PDI (61,7 % vs 87,3 %) dengan cara mengendalikan kelembaban di mixer dapat memperbaiki konversi pakan. FCR diperbaiki 5 point pada fase umur 3 &#8211; 6 minggu dan membaik 2 point selama umur 0 &#8211; 6 minggu. Sebaliknya peneliti KSU juga menemukan beberapa kerugian yaitu bahwa penambahan kelembaban di mixer akan meningkatkan berat per volume pakan yang menjadikan tidak efektivifnya transportasi. Termasuk juga berakibat negatif terhadap densitas nutrisi.</p>
<p><strong>Kualitas Steam</strong></p>
<p>Pakan unggas dengan kandungan utama jagung atau sorghum membutuhkan kondisioning yang baik untuk mengaktifkan perekat alami dan meningkatkan kualitas pellet. Kondisioning yang tepat membuka sel-sel pati dari jagung (sebagai contoh), mengubah susunan molekul-molekul amilosa dan amilopektin yang akan membentuk bulatan di sekeliling molekul bahan baku lain dalam proses yang dikenal sebagai gelatinasi. Amilopektin bebas dari kondisioning adalah yang paling berperan dalam hal kualitas pellet.</p>
<p>Kondisioning yang cukup harus berlangsung dalam periode yang singkat, tidak lebih dari beberapa menit dalam sistem steam konvensional atau 30 detik dalam super conditioner atau sistem expander. Steam berkualitas baik akan membantu mengoptimalkan pengaruh panas dan kelembaban terhadap bahan tepung. Kualitas steam didefinisikan sebagai jumlah uap air dibagi campuran air bebas dan uap air. Steam jenuh terdiri atas 100 % uap air, sedangkan steam basah mengandung air bebas dan uap air sehingga kandungan uap air lebih kecil dari 100 %. Turner (1995) menyarankan bahwa dalam menggunakan steam jenuh (steam kualitas baik) suhu bahan tepung meningkat sekitar 16<sup>o</sup>C untuk setiap peningkatan 1 % kelembaban bahan tepung. Jika kualitas steam dikurangi menjadi 80 % (steam basah) maka suhu bahan tepung hanya meningkat 13,5<sup>o</sup>C untuk setiap peningkatan 1 % kelembaban. Kualitas steam yang jelek dapat mengurangi suhu kondisioning 6 &#8211; 11<sup>o</sup>C tergantung pada jumlah kelembaban yang ditambahkan.</p>
<p>Rendahnya kualitas steam bisa terjadi akibat kehilangan panas dalam saluran steam atau akibat masuknya buih-buih ke dalam saluran steam. Apabila steam menjadi masalah maka bisa dipasang steam trap untuk membuang kondensat ke luar saluran steam. Trap harus dipasang pada interval jarak 30 meter dan pada belokan steam. Sistem untuk menghasilkan steam berkualitas baik harus mengkombinasikan separator &#8211; regulator &#8211; steam trap pada jalur steam ke kondisioning untuk membuang tetesan &#8211; tetesan air yang tidak bisa dibuang melalui steam trap sepanjang saluran steam. Dengan sistim steam yang konvensional diharapkan steam kualitas baik (97 %) yang masuk ke kondisioning untuk memungkinkan tercapainya suhu kondisioning 88<sup>o</sup>C.</p>
<p><strong>Dimana dan Bagaimana Aplikasi Lemak</strong></p>
<p>Dimana dan bagaimana mengaplikasikan lemak dalam proses produksi pakan membuat perbedaan yang besar dalam kualitas pellet. Pengalaman menunjukkan bahwa penambahan lemak lebih dari 2 % di mixer menyebabkan penurunan kualitas pellet. Kandungan lemak yang tinggi dalam bahan tepung cenderung mengurangi pergesekan antara pakan, die dan roller. Ini menghindari roller menekan pakan melewati die secara efektif dan berkompresi.</p>
<p>Sebaliknya sistem aplikasi yang lebih moderen (untuk post pelleting) bisa menambahkan lemak tanpa mempengaruhi kualitas pellet. Lemak dapat ditambahkan di die meskipun ini akan menimbulkan masalah kebersihan di jalur setelah mesin pellet khususnya di dalam cooler. Belakangan ini adakecenderungan untuk menambahkan lemak pada fase akhir (<em>load out</em>) menggunakan sistem coating yang disemprotkan (bertekanan atau tidak). Apabila penambahan lemak di die hanya bisa mengaplikasikan 2 &#8211; 3 %, maka teknologi terakhir (<em>load out</em>) memungkinkan penambahan lemak 6 &#8211; 8 %. Teknologi ini memberikan waktu yang cukup bagi lemak untuk diserap ke dalam pellet tanpa masalah pelepasan panas dan kelembaban dari pellet seperti yang biasa terjadi pada die.</p>
<p><strong>Perawatan Die yang Hati-hati</strong></p>
<p>Mempertahankan kondisi optimum dari die adalah vital untuk menghasilkan pellet berkualitas tinggi. Beberapa masalah umum yang mempengaruhi kualitas pellet adalah keausan pemukaan die, korosif, lubang melebar. Masalah ini menurunkan kualitas pellet akibat berkurangnya ketebalan efektif die dan rasio kompresi lubang die. Apabila kualita pellet terlihat menurun dalam waktu lama tanpa penyebab yang jelas, maka rekondisi die atau penggantian die perlu dilakukan.</p>
<p>Rekondisi die dapat memperpanjang umur die dan memberikan kapasitas produksi tambahan, diperkirakan sebanyak 65.000 ton untuk pakan broiler, yang biayanya lebih murah dibandingkan mengganti dengan die baru. Meskipun demikian, keuntungan dari performans ayam sebagai konsekuensi kualitas pellet yang optimum harus seimbang dengan biaya pergantian die. Sebagai contoh, produsen pakan itik merekondisi die tiga kali lebih sering daripada produsen pakan broiler karena kepentingan untuk kualitas pellet yang lebih baik. Lubrikasi pellet mill yang lebih sering, membersihkan logam-logam yang terperangkap di atas mesin pellet, dan penyesuaian jarak antara roller dan die secara hati-harti dapat membantu mengurangi masalah die.</p>
<p><strong>Pengembalian Investasi Atas Penampilan Produksi Unggas</strong></p>
<p>Dari sudut pandang efektivitas biaya, maka kualitas steam, aplikasi lemak dan perawatan die adalah yang paling menguntungkan untuk optimalisasi kualitas pellet. Pilihan &#8211; pilihan lain bisa juga memperbaiki kualitas pellet secara nyata tetapi akan membutuhkan peralatan baru atau modifikasi yang dapat meningkatkan biaya produksi. Juga adalah memungkinkan untuk meningkatkan kualitas pellet dengan menggunakan bahan baku yang mengandung perekat alami seperti gandum dan produk ikutannya. Jalan lain juga dengan menambahkan perekat pellet komersial. Manipulasi formula untuk meningkatkan kualitas pellet akan mengurangi keleluasaan dalam formulasi (&#8220;<em>least cos</em>t&#8221;) dan dalam jangka panjang meningkatkan biaya.</p>
<p> Proses pengolahan pellet terdiri dari 3 tahap yaitu:</p>
<p>(1) Pengolahan Pendahuluan: Ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan,</p>
<p>(2) Pembuatan pellet terdiri atas proses penguapan, pencetakan, pendinginan dan pengeringan dan</p>
<p>(3) Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan.<br />
Pada proses pembuatan pellet terdapat proses kondisioning dimana campuran bahan pakan dipanaskan dengan air dengan tujuan untuk gelatinisasi.</p>
<p>Tujuan gelatinisasi yaitu agar terjadi pencetakan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pellet kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus. Penguapan dalam proses pembuatan pakan berbentuk pellet bertujuan:</p>
<p>(1) Pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit,</p>
<p>(2) Menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat,</p>
<p>(3) Pakan menjadi lunak, sehingga apabila diberikan pada ternak ayam maka akan lebih mudah mencernanya dan</p>
<p>(4) menciptakan aroma pakan yang lebih merangsang nafsu makan ayam (Pond and Church, 1995).</p>
<p>Penguapan tidak boleh dilakukan diatas suhu yang diizinkan, yaitu sekitar 800C. Penguapan dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino. Bentuk fisik pellet yang baik:</p>
<p>(1) Hardness (tingkat kekerasan): Pellet yang baik mempunyai tingkat kekerasan yang sedang. Pellet tidak boleh terlampau keras atau terlalu lunak,</p>
<p>(2) Durabilitas: Durabilitas yaitu kemampuan dari pellet untuk mempertahankan bentuknya dari penanganan atau pada saat pengiriman. Pellet yang baik tidak mudah pecah, tidak retak-retak dan tidak berdebu dan</p>
<p>(3) Appearance (penampilan): Pellet yang baik mempunyai ukuran yang agak panjang dan seragam, bentuk rupanya baik dan kompak serta tidak ditumbuhi oleh jamur.</p>
<p>Menjaga kualitas Pelet</p>
<p>Menjaga kualitas pellet dapat kita lakukan dari beberapa segi yaitu:</p>
<p>1.Bahan Baku</p>
<p>Untuk membuat pakan yang bermutu diperlukan bahan baku yang berkualitas baik. Contohnya jagung kuning, kadar airnya tidak boleh berlebih karena jagung seperti ini kandungan nutrisinya akan menyimpang jauh dari nilai standar.</p>
<p>2.Formula pakan yang baik</p>
<p>Formula yang dibuat harus seimbang dengan kebutuhan nutrien yang diperlukan tidak berlebih atau kurang (Sutardi, 2003). Perlu dicermati apabila terjadi kesalahan pada penyusunan formula maka akan dapat mempengaruhi kualitas pellet dan itu juga akan mempengaruhi metabolisme dalam tubuh ternak yang mengkonsumsinya.</p>
<p>3.Proses penyimpanan pellet: Pellet yang telah dikemas dijaga supaya tidak terjadi kerusakan selama penyimpanan. Untuk itu, Perlu memperhatikan hal-hal berikut:</p>
<p>4.Kadar air tidak lebih dari 14%: Pakan harus dikemas dengan menggunakan karung plastik supaya tidak terjadi kontak langsung dengan udara</p>
<p>5.Pakan disimpan dalam ruangan yang sejuk, kering, tidak lembap, sirkulasi udara baik dan tidak terkena sinar matahari langsung</p>
<p>6.Tumpukan karung pakan sebaiknya tidak terlalu tinggi dan harus diberikan alas berupa platform dari kayu atau papan dengan ketinggian 10-15 cm dari lantai</p>
<p>7.Penerapan manajemen pergudangan, pakan yang akan digunakan adalah yang masuk ke</p>
<p>gudang lebih awal (fifo-first in first out).</p>
<p> <strong>KESIMPULAN </strong></p>
<p>Pellet merupakan pakan yang baik untuk pertambahan berat badan ternak unggas. Khususnya unggas pedaging.  Walaupun proses pembuatan pellet tersebut sulit tetapi sudah banyak dan dapat kita beli ditoko-toko yang menjual pakan-pakan ternak di daerah-daerah kita. Manipulasi formula untuk meningkatkan kualitas pellet akan mengurangi keleluasaan dalam formulasi (&#8220;<em>least cos</em>t&#8221;) dan dalam jangka panjang meningkatkan biaya. Untuk mengoptimalkan kualitas pellet dengan biaya efektif, produsen pakan harus yakin bahwa pabrik sudah melakukan dengan benar penanganan steam, lemak dan die. Menyesuaikan perubahan-perubahan besar dalam formulasi pakan maupun proses produksi, pengembalian dari diperbaikinya penampilan produksi unggas akan harus melebihi dari peningkatan biaya dari produksi pakan.</p>
<p> <strong>DAFTAR PUSTAKA </strong></p>
<p> <em>Feed International, June 2001, W.A.Dozier, III. Phd</em></p>
<p> Santoso Urip.2008.<a title="Permanent Link: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan  pada Unggas" href="http://uripsantoso.wordpress.com/2008/06/29/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pertambahan-berat-badan-pada-unggas/">Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan Pada Unggas</a>. Universitas Bengkulu</p>
<p> Anonymous. l983. Pedoman Beternak Ayam Negeri. Cetakan II. Penerbit Kanisius, Jakarta.</p>
<p> Morrison, F.B. l96l. Feed and Feeding. Nine Ed. The Morrison Publ. Company, Clinton. Iowa.</p>
<p> Morgan, J.T. and D. Lewis. l96l. Nutrition of Pigs and Poultry. Butter Worths. London.</p>
<p> Mount. L.E. l979. Adaptation to Thermal Environment, Man and His Productive Animal. Edward Arnold Publishing, London. p. 333.</p>
<p> Murtidjo, B.A. l987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Penerbit Kanisius Yogyakarta.</p>
<p> Stell, R.G.D. and J.H. Torrie. l989. Principle and Procedures of Statistics. 2nd. McGraw-Hill International Book Company, London.</p>
<p> United State Department of Agriculture. l977. Poultry Grading Manual. U.S. Goverment Printing Office Washington D.C.</p>
<p> Wahju, J. l978. Cara Pemberian dan Penyusunan Ransum Unggas. Cetakan ke Empat, Fakultas Peternakan IPB., Bogor.</p>
<p> Wathes, C.M. l98l. Insulation of Animal Houses. In : J.A. Clark, Ed. Environmental Aspect of Housing for Animal Production. University of Nottingham.</p>
<p>Winter, A.R., and E.M. Funk. l960. Poultry Science and Practices. Lippincott and Co. New York.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1532/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1532&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/06/kualitas-pellet-mempengaruhi-baiknya-pakan-untuk-pertambahan-berat-badan-unggas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saran Terbuka terhadap Universitas Bengkulu</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/03/saran-terbuka-terhadap-universitas-bengkulu/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/03/saran-terbuka-terhadap-universitas-bengkulu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 05:35:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[saran terbuka]]></category>
		<category><![CDATA[UNIB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1528</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Urip Santoso
Sebagai salah seorang sivitas akademika Universitas Bengkulu saya termotivasi untuk menyampaikan beberapa usulan terkait dengan tugas dosen. Ada beberapa hal yang saya yakin perlu dilakukan perubahan terkait dengan sudah berubahnya peraturan yang terkait dengan dosen.
Adapun usulan saya antara lain:
1) revisi peraturan rektor tentang EWMP, sebab peraturan rektor tahun 1998 tentang EWMP sudah tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1528&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Urip Santoso</p>
<p>Sebagai salah seorang sivitas akademika Universitas Bengkulu saya termotivasi untuk menyampaikan beberapa usulan terkait dengan tugas dosen. Ada beberapa hal yang saya yakin perlu dilakukan perubahan terkait dengan sudah berubahnya peraturan yang terkait dengan dosen.</p>
<p>Adapun usulan saya antara lain:</p>
<p>1) revisi peraturan rektor tentang EWMP, sebab peraturan rektor tahun 1998 tentang EWMP sudah tidak relevan lagi karena adanya perubahan peraturan yang terkait dengan dosen. Oleh sebab itu perlu penafsiran yang baru terhadap keputusan Dirjen Dikti nomor 48 tahun 1983.</p>
<p>2) hendaknya secara rutin dosen dievaluasi kinerja melalui EWMP. Bagi yang kurang 12 sks barangkali perlu dicarikan solusinya, dan bagi yang lebih dari 12 sks alangkah baiknya jika dipikirkan insentifnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Praktek pemberian insentif yang diberlakukan di UNIB saya berpendapat tidak sesuai dengan peraturan yang ada.</p>
<p>3) UNIB perlu membuat pedoman penilaian angka kredit bagi dosen, sebab ternyata masih ada beberapa item yang perlu penafsiran. Agar penafsirannya seragam maka perlu diterbitkan pedoman penilaian angka kredit dosen di lingkungan Universitas Bengkulu.</p>
<p>4) Perlu dibuatnya pedoman penilaian angka kredit bidang pengembangan ilmu agar tidak terjadi penafsiran yang beranekaragam. Kondisi ini tentu saja amat menyulitkan tim reviewer dalam menilai angka kredit dalam bagian ini.</p>
<p>5) Sudah waktunya Universitas Bengkulu lebih mengedepankan kegiatan akademik daripada kegiatan fisik, sebab ruh perguruan tinggi adalah ada di kegiatan akademik ini. UNIB dapat mulai dari yang kecil-kecil seperti misalnya anggaran untuk seminar nasional, publikasi ilmiah dan yang sejenis perlu diperhatikan.</p>
<p>6) Hendaknya Universitas Bengkulu segera menerbitkan pedoman atau tata cara kenaikkan jabatan tertinggi dosen (guru besar), sehingga diharapkan akan muncul para guru besar yang prestatif.</p>
<p>7) Hendaknya Universitas Bengkulu segera menerbitkan peraturan tentang kewajiban guru besar, sebab dengan penghasilan yang cukup besar tentu saja para guru besar dituntut lebih, misalnya menghasilkan karya ilmiah internasional, buku ilmiah yang diterbitkan dan didistribusikan ke seluruh Indonesia, paten atau hak cipta dan karya-karya prestatif lainnya. Ini perlu ditekankan, sehingga rakyat tidak rugi menggaji para guru besar. Saya tidak setuju dengan istilah guru besar prabayar &#8212; artinya kalau sudah jadi guru besar ya sudah berhenti berkarya &#8211;. Wah ini tentu saja sebuah dosa yang besar.</p>
<p>8. Hendaknya UNIB segera membuat langkah-langkah agar budaya ilmiah di UNIB semakin membumi di kalangan sivitas akademika. Berbarengan dengan ini maka peningkatan peran UNIB bagi kemajuan pembangunan khususnya di Provinsi Bengkulu perlu segera direalisir, baik melalui kerjasama maupun kegiatan yang digagas oleh UNIB itu sendiri.</p>
<p>9. Kerjasama dengan Pemda itu sangat berarti bagi UNIB. UNIB dan Pemda sesungguhnya ibarat dua sisi mata uang. Masing-masing tidak bisa berkembang pesat jika bekerja sendiri-sendiri. Untuk itu, tim kerjasama UNIB perlu bekerja lebih profesional agar dicapai kerjasama yang baik dan setara.</p>
<p>10. Hendaknya para dosen dan karyawan yang bertugas diluar UNIB dibatasi waktunya. Tidak seperti sekarang ini, seolah-olah tidak ada batas waktunya. Ini jelas merugikan UNIB, sebab biasanya mereka yang bertugas di luar UNIB adalah dosen dan karyawan terpilih. Oleh sebab itu kontribusinya kepada UNIB sangat menentukan. Nah, jika mereka di luar saja, maka akan menghambat kemajuan UNIB. Oleh sebab itu saya sarnkan UNIB mengelola mereka dengan sebaik-baiknya. Jika perlu bisa gantian. Saya yakin ini bisa jika UNIB mau mengelola distribusi dosen dan karyawan keluar dan ke dalam UNIB. </p>
<p>11. Sudah waktunya jika UNIB mewajibkan kepada semua dosen untuk mengelola administrasi dosen. Administrasi dosen sangat penting agar dosen mampu mengevaluasi kinerjanya dan mahasiswanya. Bertitik tolak dari hal ini dosen kemudian membuat perencanaan akademik, pelaksanaan, monev dan semuanya tercatat dalam bentuk arsip yang tertata. Mudah-mudahan dengan cara ini kinerja dan prestasi dosen meningkat. Kita semua tahu bahwa dosen adalah tulang punggung universitas. Jika para dosen mempunyai kinerja yang baik dan prestatif dan dibarengi oleh managemen yang baik dari para pemimpin universitas, saya yakin UNIB akan menjadi PT terdepan di negeri ini sebagaimana yang dicita-citakan dalam visi UNIB.  (bersambung).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1528/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1528&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/03/saran-terbuka-terhadap-universitas-bengkulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEDOMAN PENGHITUNGAN EKIVALEN WAKTU MENGAJAR PENUH (EWMP) FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS BENGKULU (usulan draft ke 2)</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/03/pedoman-penghitungan-ekivalen-waktu-mengajar-penuh-ewmp-fakultas-pertanian-universitas-bengkulu-usulan-draft-ke-2/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/03/pedoman-penghitungan-ekivalen-waktu-mengajar-penuh-ewmp-fakultas-pertanian-universitas-bengkulu-usulan-draft-ke-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 05:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[perguruan tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[EWMP]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Bengkulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1526</guid>
		<description><![CDATA[ I. KETENTUAN UMUM
1. Beban tugas tenaga pengajar ialah jumlah pekerjaan yang wajib dilakukan oleh seorang tenaga pengajar perguruan tinggi negeri sebagai tugas institusional dalam menyelenggarakan fungsi pendidikan tinggi seperti yang dibuat dalam Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 1980 pasal 26.
2. Tugas institusional ialah pekerjaan dalam batas-batas fungsi pendidikan tinggi yang dilakukan secara terjadwal ataupun tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1526&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong> </strong><strong>I. KETENTUAN UMUM</strong></p>
<p>1. Beban tugas tenaga pengajar ialah jumlah pekerjaan yang wajib dilakukan oleh seorang tenaga pengajar perguruan tinggi negeri sebagai tugas institusional dalam menyelenggarakan fungsi pendidikan tinggi seperti yang dibuat dalam Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 1980 pasal 26.</p>
<p>2. Tugas institusional ialah pekerjaan dalam batas-batas fungsi pendidikan tinggi yang dilakukan secara terjadwal ataupun tidak terjadwal oleh tenaga pengajar yang:</p>
<p>-         ditugaskan oleh pimpinan perguruan tinggi untuk dilaksanakan di tingkat universitas atau institut, fakultas, lembaga, jurusan, pusat, laboratorium atau studio dan balai.</p>
<p>-         Dilakukan atas prakarsa pribadi atau kelompok dan disetujui, dicatat dan hasilnya diajukan kepada pimpinan perguruan tinggi untuk dinilai oleh sejawat perguruan tinggi.</p>
<p>-         Dilakukan dalam rangka kerjasama pihak luar perguruan tinggi yang disetujui, dicatat dan hasilnya diajukan melalui pimpinan perguruan tinggi.</p>
<p>3. Beban tugas tenaga pengajar perguruan tinggi negeri dinyatakan dengan Ekivalensi Waktu Mengajar Penuh (EWMP) yang setara dengan 38 jam kerja per minggu, yaitu jam kerja wajib bagi seorang pegawai negeri sebagai imbalan terhadap gaji dan hak lain yang diterima dari negara.</p>
<p>4. Ekivalensi Waktu Mengajar Penuh (EWMP) seorang tenaga pengajar perguruan tinggi negeri ditetapkan setara dengan 12 sks dan dihitung untuk setiap semester dengan pengertian 1 (satu) sks setara dengan 3 jam kerja per minggu selama 1 semester atau 6 bulan, atau 1 (satu) sks setara dengan 50 jam kerja per semester.<span id="more-1526"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>II. PENGHITUNGAN EKIVALENSI WAKTU MENGAJAR PENUH TENAGA PENGAJAR (EWMP)</strong></p>
<p>a. Beban, Sebaran, Syarat dan Imbalan</p>
<p>1. EWMP bagi seorang tenaga pengajar biasa ditetapkan 12 sks yang dapat disebar ke dalam tugas-tugas institusional sebagai berikut:</p>
<p>                        – Pendidikan                                                    = 2-8 sks</p>
<p>                        – Penelitian dan Pengembangan Ilmu                 = 2-6 sks</p>
<p>                        – Pengabdian pada Masyarakat                        = 1-6 sks</p>
<p>                        – Pembinaan Sivitas Akademika                       = 1-4 sks</p>
<p>                        – Administrasi dan Manajemen                         = 0-3 sks (kecuali untuk jabatan-jabatan  tetap yang ekivalensinya ditentukan khusus).</p>
<p>2. EWMP diperhitungkan untuk semua beban tugas institusional yang dilaksanakan oleh tenaga pengajar yang bersangkutan di Universitas Bengkulu</p>
<p>3. Untuk pelaksanaan tugas institusional di atas EWMP, kepada pengajar yang bersangkutan dapat diberikan honorarium atau imbalan khusus lain sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.</p>
<p>b. Ekuivalen Tugas-Tugas Fungsional Dalam Takaran Sks ditetapkan sebagai berikut</p>
<p><strong>A. Pendidikan</strong></p>
<p>Tabel 1. Bobot sks staf per 1 sks mahasiswa pada kegiatan kuliah reguler, <em>ekstensi dan kuliah antar semester (KAS)</em> untuk jenjang S0 dan S1</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="78" valign="top">Jml dosen</td>
<td colspan="9" width="500" valign="top">Jumlah mahasiswa per kelas</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"> (orang)</td>
<td width="47" valign="top">1-40</td>
<td width="49" valign="top">41-50</td>
<td width="58" valign="top">51-60</td>
<td width="58" valign="top">61-70</td>
<td width="58" valign="top">71-80</td>
<td width="60" valign="top">81-90</td>
<td width="56" valign="top">91-100</td>
<td width="58" valign="top">101-110</td>
<td width="58" valign="top">111-120</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top">1</td>
<td width="47" valign="top">1</td>
<td width="49" valign="top">1.1</td>
<td width="58" valign="top">1.2</td>
<td width="58" valign="top">1.3</td>
<td width="58" valign="top">1.4</td>
<td width="60" valign="top">1.5</td>
<td width="56" valign="top">1.6</td>
<td width="58" valign="top">1.7</td>
<td width="58" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top">2</td>
<td width="47" valign="top">0.5</td>
<td width="49" valign="top">0.55</td>
<td width="58" valign="top">0.60</td>
<td width="58" valign="top">0.65</td>
<td width="58" valign="top">0.70</td>
<td width="60" valign="top">0.75</td>
<td width="56" valign="top">0.80</td>
<td width="58" valign="top">0.85</td>
<td width="58" valign="top">0.90</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Catatan: a) 3 dosen dst dibagi secara proporsional; b) kelipatan 40 mahasiswa dapat dipecah menjadi kelas paralel dengan bobot sks masing-masing kelas sebesar 1 sks.</em></p>
<p><em>Tabel 2. Bobot sks staf per 1 sks mahasiswa pada kegiatan kuliah untuk jenjang Pasca Sarjana selama 1 semester.</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>Jml dosen</em></td>
<td colspan="8" width="439" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa per kelas</em></td>
<td width="3">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em> (orang)</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1-25</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>26-30</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>31-35</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>36-40</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>41-45</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>46-50</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>51-55</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>56-60</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.1</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.2</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.4</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>1.7</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>2</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.5</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>0.55</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.60</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.65</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.70</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>0.75</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>0.80</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>0.85</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78"> </td>
<td width="47"> </td>
<td width="49"> </td>
<td width="58"> </td>
<td width="58"> </td>
<td width="58"> </td>
<td width="60"> </td>
<td width="56"> </td>
<td width="55"> </td>
<td width="3"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Catatan: a) 3 dosen dst dibagi secara proporsional; b) kelipatan 25  mahasiswa dapat dipecah menjadi kelas paralel dengan bobot sks masing-masing kelas sebesar 1 sks.</em></p>
<p> Tabel 3. Bobot sks  staf per 1 sks mahasiswa pada kegiatan praktikum untuk jenjang S0, S1 dan <em>Pasca Sarjana</em> selama 1 semester</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="76" valign="top">Jml dosen</td>
<td colspan="9" width="480" valign="top">Jumlah mahasiswa per kelas</td>
</tr>
<tr>
<td width="76" valign="top"> (orang)</td>
<td width="45" valign="top">1-25</td>
<td width="47" valign="top">26-30</td>
<td width="55" valign="top">31-35</td>
<td width="55" valign="top">36-40</td>
<td width="55" valign="top">41-45</td>
<td width="57" valign="top">46-50</td>
<td width="54" valign="top">51-55</td>
<td width="55" valign="top">56-60</td>
<td width="55" valign="top">61-65</td>
</tr>
<tr>
<td width="76" valign="top">1</td>
<td width="45" valign="top">1</td>
<td width="47" valign="top">1.1</td>
<td width="55" valign="top">1.2</td>
<td width="55" valign="top">1.3</td>
<td width="55" valign="top">1.4</td>
<td width="57" valign="top">1.5</td>
<td width="54" valign="top">1.6</td>
<td width="55" valign="top">1.7</td>
<td width="55" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="76" valign="top">2</td>
<td width="45" valign="top">0.5</td>
<td width="47" valign="top">0.55</td>
<td width="55" valign="top">0.60</td>
<td width="55" valign="top">0.65</td>
<td width="55" valign="top">0.70</td>
<td width="57" valign="top">0.75</td>
<td width="54" valign="top">0.80</td>
<td width="55" valign="top">0.85</td>
<td width="55" valign="top">0.90</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Catatan: a) 3 dosen dst dibagi secara proporsional; b) kelipatan 25 mahasiswa dapat dipecah menjadi kelas paralel dengan bobot sks masing-masing kelas sebesar 1 sks.</em></p>
<p><em>  </em><em>Tabel 4. Bobot sks  staf per 1 sks mahasiswa pada kegiatan asistensi kuliah atau tutorial atau remedial untuk jenjang S0, S1dan Pasca Sarjana selama 1 semester</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="76" valign="top"><em>Jml dosen</em></td>
<td colspan="9" width="480" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa per kelas</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="76" valign="top"><em> (orang)</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>1-25</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>26-30</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>31-35</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>36-40</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>41-45</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>46-50</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>51-55</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>56-60</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>61-65</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="76" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1.1</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1.2</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1.4</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1.7</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1.8</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="76" valign="top"><em>2</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>0.5</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.55</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>0.60</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>0.65</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>0.70</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.75</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0.80</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>0.85</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>0.90</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Catatan: a) 3 dosen dst dibagi secara proporsional; b) Asistensi kuliah misalnya memberi asistensi kepada mahasiswa yang bermaksud untuk – misalnya – mendudkung  skrpsi/tugas akhir; b) kelipatan 25 mahasiswa dapat dipecah menjadi kelas paralel dengan bobot sks masing-masing kelas sebesar 1 sks.</em></p>
<p>Tabel 5. Bobot sks  staf setiap kegiatan bimbingan kuliah kerja (PPL, PPSD, KKN, KKU, Magang) untuk jenjang S0, S1 atau <em>Pasca Sarjana</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="76" valign="top">Jml dosen</td>
<td colspan="9" width="480" valign="top">Jumlah mahasiswa per kelompok</td>
</tr>
<tr>
<td width="76" valign="top"> (orang)</td>
<td width="45" valign="top">1-25</td>
<td width="47" valign="top">26-30</td>
<td width="55" valign="top">31-35</td>
<td width="55" valign="top">36-40</td>
<td width="55" valign="top">41-45</td>
<td width="57" valign="top">46-50</td>
<td width="54" valign="top">51-55</td>
<td width="55" valign="top">56-60</td>
<td width="55" valign="top">61-65</td>
</tr>
<tr>
<td width="76" valign="top">1</td>
<td width="45" valign="top">1</td>
<td width="47" valign="top">1.1</td>
<td width="55" valign="top">1.2</td>
<td width="55" valign="top">1.3</td>
<td width="55" valign="top">1.4</td>
<td width="57" valign="top">1.5</td>
<td width="54" valign="top">1.6</td>
<td width="55" valign="top">1.7</td>
<td width="55" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="76" valign="top">2</td>
<td width="45" valign="top">0.5</td>
<td width="47" valign="top">0.55</td>
<td width="55" valign="top">0.60</td>
<td width="55" valign="top">0.65</td>
<td width="55" valign="top">0.70</td>
<td width="57" valign="top">0.75</td>
<td width="54" valign="top">0.80</td>
<td width="55" valign="top">0.85</td>
<td width="55" valign="top">0.90</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Catatan: a) 3 dosen dst dibagi secara proporsional; b) kuliah kerja lapang termasuk kategori magang.</em></p>
<p>Tabel 6. Bobot sks  staf setiap kegiatan bimbingan tugas akhir/skripsi untuk jenjang S0 dan S1</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="78" valign="top">Status</td>
<td colspan="9" width="477" valign="top">Jumlah mahasiswa</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"> Pebimbing</td>
<td width="45" valign="top">1-6</td>
<td width="48" valign="top">7</td>
<td width="54" valign="top">8</td>
<td width="55" valign="top">9</td>
<td width="54" valign="top">10</td>
<td width="57" valign="top">11</td>
<td width="54" valign="top">12</td>
<td width="55" valign="top">13</td>
<td width="54" valign="top">14</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top">PU</td>
<td width="45" valign="top">1</td>
<td width="48" valign="top">1.15</td>
<td width="54" valign="top">1.3</td>
<td width="55" valign="top">1.45</td>
<td width="54" valign="top">1.60</td>
<td width="57" valign="top">1.75</td>
<td width="54" valign="top">1.90</td>
<td width="55" valign="top">2.05</td>
<td width="54" valign="top">2.20</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top">PP</td>
<td width="45" valign="top">0.75</td>
<td width="48" valign="top">0.825</td>
<td width="54" valign="top">0.90</td>
<td width="55" valign="top">0.975</td>
<td width="54" valign="top">1,20</td>
<td width="57" valign="top">1.312</td>
<td width="54" valign="top">1.425</td>
<td width="55" valign="top">1.537</td>
<td width="54" valign="top">1.65</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Tabel 7. Bobot sks  staf setiap kegiatan bimbingan tesis  untuk jenjang S2</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>Status</em></td>
<td colspan="7" width="390" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em> Pebimbing</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1-3</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>4</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>5</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>6</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>7</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>8</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>9</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>PU</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.33</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1.67</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.99</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>2,32</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>2,65</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>2,98</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>PP</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.75</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1,0</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1,25</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1,50</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1,70</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>2,00</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>2,25</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Tabel 8. Bobot sks  staf setiap kegiatan bimbingan disertasi  untuk jenjang S3</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>Status</em></td>
<td colspan="7" width="390" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em> Pebimbing</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1-2</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>3</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>4</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>5</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>6</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>7</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>8</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>PU</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>2,0</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>2,5</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>3,0</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>3,5</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>4,0</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>PP</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0,75</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1,125</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1,50</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1,875</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>2,25</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>2,625</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>3,0</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tabel 9. Bobot sks  staf setiap kegiatan seminar dihadapan sekelompok mahasiswa untuk jenjang S0 dan S1</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="79" valign="top">Jumlah dan</td>
<td colspan="9" width="511" valign="top">Jumlah mahasiswa per kelas</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"> Lama keg.</td>
<td width="48" valign="top">1-40</td>
<td width="50" valign="top">41-50</td>
<td width="59" valign="top">51-60</td>
<td width="59" valign="top">61-70</td>
<td width="59" valign="top">71-80</td>
<td width="61" valign="top">81-90</td>
<td width="57" valign="top">91-100</td>
<td width="59" valign="top">101-110</td>
<td width="59" valign="top">111-120</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">6 x 1 jam</td>
<td width="48" valign="top">0.3</td>
<td width="50" valign="top">0.37</td>
<td width="59" valign="top">0.4</td>
<td width="59" valign="top">0.43</td>
<td width="59" valign="top">0.47</td>
<td width="61" valign="top">0.50</td>
<td width="57" valign="top">0.53</td>
<td width="59" valign="top">0.57</td>
<td width="59" valign="top">0.60</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">9 x 1 jam</td>
<td width="48" valign="top">0.5</td>
<td width="50" valign="top">0.55</td>
<td width="59" valign="top">0.6</td>
<td width="59" valign="top">0.65</td>
<td width="59" valign="top">0.70</td>
<td width="61" valign="top">0.75</td>
<td width="57" valign="top">0.80</td>
<td width="59" valign="top">0.85</td>
<td width="59" valign="top">0.90</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">18 x 1 jam</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
<td width="50" valign="top">1.1</td>
<td width="59" valign="top">1.2</td>
<td width="59" valign="top">1.3</td>
<td width="59" valign="top">1.4</td>
<td width="61" valign="top">1.5</td>
<td width="57" valign="top">1.6</td>
<td width="59" valign="top">1.7</td>
<td width="59" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">6 x 2 jam</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
<td width="50" valign="top">1.1</td>
<td width="59" valign="top">1.2</td>
<td width="59" valign="top">1.3</td>
<td width="59" valign="top">1.4</td>
<td width="61" valign="top">1.5</td>
<td width="57" valign="top">1.6</td>
<td width="59" valign="top">1.7</td>
<td width="59" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">9 x 2 jam</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
<td width="50" valign="top">1.1</td>
<td width="59" valign="top">1.2</td>
<td width="59" valign="top">1.3</td>
<td width="59" valign="top">1.4</td>
<td width="61" valign="top">1.5</td>
<td width="57" valign="top">1.6</td>
<td width="59" valign="top">1.7</td>
<td width="59" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">18 x 2 jam</td>
<td width="48" valign="top">2</td>
<td width="50" valign="top">2.2</td>
<td width="59" valign="top">2.4</td>
<td width="59" valign="top">2.6</td>
<td width="59" valign="top">2.8</td>
<td width="61" valign="top">3.0</td>
<td width="57" valign="top">3.2</td>
<td width="59" valign="top">3.4</td>
<td width="59" valign="top">3.6</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em> Tabel 10. Bobot sks  staf setiap kegiatan seminar dihadapan sekelompok mahasiswa untuk jenjang Pasca Sarjana</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>Jumlah dan</em></td>
<td colspan="8" width="439" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa per kelas</em></td>
<td width="3">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em> Lama keg.</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1-25</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>26-30</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>31-35</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>36-40</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>41-45</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>46-50</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>51-55</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>56-60</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>6 x 1 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.3</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>0.37</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.4</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.43</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.47</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>0.50</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>0.53</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>0.57</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>9 x 1 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.5</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>0.55</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.6</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.65</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.70</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>0.75</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>0.80</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>0.85</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>18 x 1 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.1</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1.2</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.4</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>1.7</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>6 x 2 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.1</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1.2</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.4</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>1.7</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>9 x 2 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.1</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1.2</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.4</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>1.7</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>18 x 2 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>2</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>2.2</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>2.4</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>2.6</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>2.8</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>3.0</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>3.2</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>3.4</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78"> </td>
<td width="47"> </td>
<td width="49"> </td>
<td width="57"> </td>
<td width="58"> </td>
<td width="58"> </td>
<td width="60"> </td>
<td width="56"> </td>
<td width="55"> </td>
<td width="3"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tabel 11. Bobot sks  staf setiap kegiatan menguji tugas akhir/skripsi, Bimbingan Seminar Akademik, Pembimbing Akademik dan Bimbingan Konseling untuk jenjang S0 dan S1</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="99" valign="top">Jenis</td>
<td colspan="9" width="456" valign="top">Jumlah mahasiswa</td>
</tr>
<tr>
<td width="99" valign="top">Kegiatan</td>
<td width="45" valign="top">1</td>
<td width="46" valign="top">2</td>
<td width="52" valign="top">3</td>
<td width="52" valign="top">4</td>
<td width="53" valign="top">5</td>
<td width="53" valign="top">6</td>
<td width="52" valign="top">7</td>
<td width="52" valign="top">8</td>
<td width="52" valign="top">9</td>
</tr>
<tr>
<td width="99" valign="top">Menguji tugas akhisr/skripsi</td>
<td width="45" valign="top">0.1</td>
<td width="46" valign="top">0.2</td>
<td width="52" valign="top">0.3</td>
<td width="52" valign="top">0.4</td>
<td width="53" valign="top">0.5</td>
<td width="53" valign="top">0.6</td>
<td width="52" valign="top">0.7</td>
<td width="52" valign="top">0.8</td>
<td width="52" valign="top">0.9</td>
</tr>
<tr>
<td width="99" valign="top">Membimbing Sem. Akad.</td>
<td width="45" valign="top">0.1</td>
<td width="46" valign="top">0.2</td>
<td width="52" valign="top">0.3</td>
<td width="52" valign="top">0.4</td>
<td width="53" valign="top">0.5</td>
<td width="53" valign="top">0.6</td>
<td width="52" valign="top">0.7</td>
<td width="52" valign="top">0.8</td>
<td width="52" valign="top">0.9</td>
</tr>
<tr>
<td width="99" valign="top">Pb. Akademik</td>
<td width="45" valign="top">0.083</td>
<td width="46" valign="top">0.167</td>
<td width="52" valign="top">0.25</td>
<td width="52" valign="top">0.33</td>
<td width="53" valign="top">0.417</td>
<td width="53" valign="top">0.50</td>
<td width="52" valign="top">0.583</td>
<td width="52" valign="top">0.67</td>
<td width="52" valign="top">0.75</td>
</tr>
<tr>
<td width="99" valign="top">Bimbimgan &amp; Konseling</td>
<td width="45" valign="top">0.083</td>
<td width="46" valign="top">0.165</td>
<td width="52" valign="top">0.25</td>
<td width="52" valign="top">0.33</td>
<td width="53" valign="top">0.417</td>
<td width="53" valign="top">0.50</td>
<td width="52" valign="top">0.583</td>
<td width="52" valign="top">0.67</td>
<td width="52" valign="top">0.75</td>
</tr>
<tr>
<td width="99" valign="top"><em>Dosen penelaah seminar  mahasiswa</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>0,1</em></td>
<td width="46" valign="top"><em>0,2</em></td>
<td width="52" valign="top"><em>0,3</em></td>
<td width="52" valign="top"><em>0,4</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>0,5</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>0,6</em></td>
<td width="52" valign="top"><em>0,7</em></td>
<td width="52" valign="top"><em>0,8</em></td>
<td width="52" valign="top"><em>0,9</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Tabel 12. Bobot sks  staf setiap kegiatan menguji tesis atau disertasi, Bimbingan Seminar Akademik, Pembimbing Akademik dan Bimbingan Konseling untuk jenjang Pasca Sarjana</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Jenis</em></td>
<td colspan="9" width="469" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Kegiatan</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>2</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>3</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>4</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>5</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>6</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>7</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>8</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>9</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Menguji tesis</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>0.2</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.4</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0.6</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>0.8</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>1,0</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1,2</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>1,4</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>1,6</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>1,8</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Menguji disertasi</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>0,3</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0,6</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0,9</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>1,2</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>1,5</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1,8</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>2,1</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>2,4</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>2,7</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Membimbing Sem. Akad. S2 dan S3</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>0.2</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.4</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0.6</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>0.8</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>1,0</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1,2</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>1,4</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>1,6</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>1,8</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Pb. Akademik S2 dan S3</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>0.166</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.334</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0.500</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>0.66</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0.834</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1,0</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>1,166</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>1,34</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>1,5</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Bimbimgan &amp; Konseling S2 dan S3</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>0.166</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.334</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0.500</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>0.66</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0.834</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1,0</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>1,166</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>1,34</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>1,5</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Dosen penelaah seminar mahasiswa S2 atau S3</em></td>
<td width="45" valign="top"><em>0,1</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0,2</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0,3</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>0,4</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0,5</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>0,6</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>0,7</em></td>
<td width="53" valign="top"><em>0,8</em></td>
<td width="54" valign="top"><em>0,9</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>13. Menyampaikan orasi ilmiah di bidang keahliannya di tingkat  perguruan tinggi (misalnya pada dies natalis, wisuda lulusan) = 0,4 sks</em></p>
<p><em>14. Mengembangkan inovasi pembelajaran   = 0,3 sks </em></p>
<p><em>15. Mengembangkan bahan ajar berupa:</em></p>
<p><em>            &#8211; buku ajar yang dterbitkan oleh penerbit      = 2 sks</em></p>
<p><em>            &#8211; kalangan sendiri (diktat)                              = 0,66 sks</em></p>
<p><em>            &#8211; modul, petunjuk praktikum, naskah tutorial = 0,66 sks</em></p>
<p><strong>B. Penelitian dan Pengembangan Ilmu</strong></p>
<p> 1. Satu judul penelitian kelompok dihargai 4 sks, dengan rincian</p>
<p>            Ketua               = 2 sks</p>
<p>            Anggota           = 2 sks jika jumlah anggota 1 orang</p>
<p>            Anggota           = 1 sks, jika jumlah anggota 2 orang</p>
<p> 2. Satu judul penelitian mandiri 4 sks</p>
<p> 3. Menulis 1 judul naskah buku – <em>sesuai bidang ilmu</em> &#8212; yang akan diterbitkan dalam waktu sebanyak-banyaknya 4 semester (disetujui oleh pimpinan dan tercatat).</p>
<p>            Diterbitkan oleh penerbit           = 3 sks</p>
<p>            Kalangan sendiri                       = 1 sks</p>
<p> 4. Menterjemahkan atau menyadur 1 judul naskah buku yang akan diterbitkan dalam waktu waktu sebanyak-banyaknya 4 semester (disetujui oleh pimpinan dan tercatat)</p>
<p>            Diterbitkan oleh penerbit           = 2 sks</p>
<p>            Kalangan sendiri                       = 0.75 sks</p>
<p> 5. Menyunting 1 judul naskah buku yang akan diterbitkan dalam waktu waktu sebanyak-banyaknya 4 semester (disetujui oleh pimpinan dan tercatat)</p>
<p>            Diterbitkan oleh penerbit           = 2 sks</p>
<p>            Kalangan sendiri                       = 0.75 sks</p>
<p>6. Menulis artikel ilmiah – <em>yaitu pengembangan ilmu (darma 2)  dan pengabdian pada masyarakat</em> <em> (darma 3)</em> &#8212; yang diterbitkan dalam jurnal</p>
<p>            Lokal               = 1 sks</p>
<p>            Nasional           = 2 sks</p>
<p>            Internasional     = 3 sks</p>
<p><em>(Catatan lokal = jurnal tak terakreditas; nasional = jurnal nasional terakreditasi; internasional = jurnal internasional terakreditasi).</em></p>
<p><em>7. Artikel ilmiah dalam bentuk presentasi ilmiah</em></p>
<p><em>            Lokal               = 1 sks</em></p>
<p><em>            Nasional          = 2 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 3 sks</em></p>
<p><em>(seminar internasional= a) peserta dan pembicara dari berbagai negara; b) menggunakan bahasa internasional).</em></p>
<p><em>8. Menulis artikel ilmiah dalam bentuk poster</em></p>
<p><em>            Lokal               = 0,5 sks</em></p>
<p><em>            Nasional          = 1 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 2 sks</em></p>
<p><em>9. Menulis satu judul artikel ilmiah populer di majalah atau koran</em></p>
<p><em>            Lokal               = 0,1  sks</em></p>
<p><em>            Nasional          = 0,2 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 0,4 sks</em></p>
<p><em>10. Berperan aktif dalam seminar nasional = 0,2 sks; /internasional = 0,3 sks</em></p>
<p><em>11. Membuat satu naskah monografi yang </em></p>
<p><em>            Diterbitkan secara nasional    = 1,5 sks</em></p>
<p><em>            Kalangan sendiri                     = 0,75 sks</em></p>
<p><em>12. Memperoleh  rancangan &amp; karya teknologi yang dipatenkan</em></p>
<p><em>            Nasional          = 3 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 6 sks</em></p>
<p><em>13. Membuat rancangan &amp; karya teknologi yang tidak dipatenkan</em></p>
<p><em>            Lokal               = 0,5 sks</em></p>
<p><em>            Nasional          = 1 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 2 sks</em></p>
<p> 14. Tugas belajar S2/S3 = 12 sks</p>
<p> 15. Tugas belajar untuk Akta Mengajar V = 6 sks</p>
<p> <em>16. Detasering = 8 sks</em></p>
<p><strong> C. Pengabdian pada Masyarakat</strong></p>
<p>Jenis pengabdian</p>
<p>1. Membantu 1 perkara di pengadilan (disetujui oleh pimpinan dan tercatat)      = 1 sks</p>
<p>2. Satu kegiatan pengabdian pada masyarakat insidental (disetujui oleh pimpinan    dan tercatat) = 0,1 sks.</p>
<p><em>3. Satu judul pengabdian (disetujui oleh peimpinan dan tercatat) yang dilakukan selama:</em></p>
<p><em>            Satu bulan       = 0,2 sks</em></p>
<p><em>            Dua bulan       = 0,4 sks</em></p>
<p><em>            Tiga bulan       = 0,6 sks</em></p>
<p><em>            Empat bulan   = 0,8 sks</em></p>
<p>4. Satu judul pengabdian yang dilakukan selama  5 bulan  = 1 sks</p>
<p>5. Satu judul pengabdian yang dilakukan selama  10 bulan = 2 sks (<em> 1 sks per semester</em>)</p>
<p><em>6. Menulis karya pengabdian di bidang ilmunya yang tidak dipublikasikan   per makalah =0,1 sks (karya dapat berupa tulisan yang menyertai laporan perencanaan, rancangan rekayasa, karya arsitektur  yang dilaksanakan dalam suatu proyek praktis secara kelembagaan; atau dapat pula tulisan berupa cara-cara melaksanakan/mengembangkan sesuatu untuk dimanfaatkan oleh masyarakat).</em></p>
<p><em>7. Narasumber/instruktur pada suatu pelatihan atau di  media massa per kegiatan            = 0,1 sks</em></p>
<p><em>8. Reviewer atau penelaah(insidental)  pada kegiatan tridarma perguruan tinggi per kegiatan = 0,1 sks.</em></p>
<p><em>9. Menulis buku diluar bidang ilmunya</em></p>
<p><em>            Diterbitkan secara nasional    = 1,5 sks</em></p>
<p><em>            Kalangan sendiri                     = 0,75 sks</em></p>
<p><em>10. Reviewer/penelaah/instruktur/narasumber tersturktur (minimal 2 semester) pada kegiatan tri darma perguruan tinggi</em></p>
<p><em>            Lokal               = 0,5 sks</em></p>
<p><em>            Nasional          = 1 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 1,5 sks</em></p>
<p><em>(Catatan: maksimal 2 kegiatan per semester) </em></p>
<p><em>11. Melakukan pengabdian pada masyarakat di luar bidang ilmu (misalnya menjadi pengurus RT, RW, masjid, organisasi sosial di luar perguruan tinggi ybs., organisasi massa dll.  (minimal 2 semester dan disetujui oleh pimpinan)</em></p>
<p><em>            Ketua                          = 0,15 sks</em></p>
<p><em>            Sekretaris/wakil          = 0,1 sks</em></p>
<p><em>            Anggota                      = 0,05 sks</em></p>
<p><em>12. Memberi pelayanan kepada masyarakat atau kegiatan lain yang menunjang pelaksanaan tugas pemerintah dan pembangunan:</em></p>
<p><em>            (a) tim pakar Penasehat Pembangunan Daerah  = 0,1 sks </em></p>
<p><em>            (b) narasumber Penasehat Pembangunan Daerah  = 0,1 sks</em></p>
<p><em>            ( c) memberikan penataran bagi pejabat daerah yang diselenggarakan oleh</em></p>
<p><em>                lembaga di UNIB)   = 0,1 sks.</em></p>
<p><em>            </em><em>(d)memberikan konsultasi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat = 0,1</em></p>
<p><em>                Sks</em></p>
<p><em>13. Melaksanakan pengembangan hasil pendidikan dan penelitian melalui praktek nyata di lapangan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat:</em></p>
<p><em>            a) lama kegiatan 10 jam per semester = 0,2 sks</em></p>
<p><em>            </em><em>b) lama kegiatan 20 jam per semester = 0,4 sks</em></p>
<p><em>            c) lama kegiatan 30 jam per semester = 0,6 sks</em></p>
<p><em>            d) lama kegiatan 40 jam per semester = 0,8 sks</em></p>
<p><em>            e) lama kegiatan 50 jam per semester = 1 sks</em></p>
<p><em>14. menulis buku pelajaran SLTA ke bawah yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional tiap buku    = 1 sks.</em></p>
<p>Jika kegiatan tersebut dilakukan secara berkelompok dirinci sebagai berikut:</p>
<p>Ketua = 60% dan sisanya (40%) dibagi rata sesuai dengan jumlah anggotanya.</p>
<p><strong> D. Pembinaan Sivitas Akademika</strong></p>
<p>1. Pimpinan pembinaan unit kegiatan mahasiswa tingkat <em>universitas atau fakultas</em> (penalaran, UKM dll) = 1 sks;  Sekretaris dan Wakil Ketua       = 0,75 sks;  Anggota Pengurus = 0,50 sks, <em>Pembimbing = 0,5 sks; tingkat jurusan sebagai ketua = 0,5 sks, sekretaris/wakil ketua = 0,375 sks, anggota = 0,25 sks. </em></p>
<p> 2. Pimpinan organisasi sosial intern UNIB tingkat <em>universitas atau fakultas</em> (Korpri, Dharma wanita dll) = 1 sks; Sekretaris dan Wakil Ketua = 0,75 sks; dan Anggota Pengurus = 0,50 sks; <em>tingkat jurusan sebagai ketua = 0,5 sks, sekretaris/wakil ketua = 0,375 sks, anggota = 0,25 sks.</em></p>
<p><em>3. Membimbing dosen yang lebih rendah jabatan fungsional sebanyak-banyaknya 6 orang dosen = 1 sks, dan selebihnya ditambahkan secara proporsional.</em></p>
<p><strong> E. Administrasi dan Manajemen</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="577">
<tbody>
<tr>
<td width="217" valign="top">Jabatan Struktural</td>
<td width="48" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Universitas/Fakultas/Pemda</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>1</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Rektor UNIB</td>
<td width="48" valign="top">12</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Jurusan</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,5</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Pembantu Rektor</td>
<td width="48" valign="top">10</td>
<td width="264" valign="top"><em>Sekretaris panitia ad hock</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>:</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Dekan</td>
<td width="48" valign="top">10</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Universitas/Fakultas/Pemda</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,75</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Ketua Lembaga</td>
<td width="48" valign="top">8</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Jurusan</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,375</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Sekretaris lembaga</td>
<td width="48" valign="top">6</td>
<td width="264" valign="top"><em>Anggota panitia ad hock</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>:</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Kepala UPT</td>
<td width="48" valign="top">8</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Universitas/Fakultas/Pemda</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,25</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Sekretaris UPT</td>
<td width="48" valign="top">6</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Jurusan</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,25</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Pembantu Dekan</td>
<td width="48" valign="top">6</td>
<td width="264" valign="top">Ketua editor jurnal</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Ketua Jurusan</td>
<td width="48" valign="top">6</td>
<td width="264" valign="top">Sekretaris editor jurnal</td>
<td width="48" valign="top">0.75</td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Sekretaris Jurusan</td>
<td width="48" valign="top">4</td>
<td width="264" valign="top">Anggota pengurus jurnal</td>
<td width="48" valign="top">0.25</td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Kepala Pusat</td>
<td width="48" valign="top">6</td>
<td width="264" valign="top"><em>Ketua panitia ad hock &lt; 1 semester</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>:</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Sekretaris Pusat</td>
<td width="48" valign="top">4</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Universitas/Fakultas/Pemda</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,5</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Kepala lab/studio</td>
<td width="48" valign="top">3</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Jurusan</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,25</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top"><em>Sekretaris lab/studion</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>2</em></td>
<td width="264" valign="top"><em>Sekretaris panitia ad hock &lt; 1 sem</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>:</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Ketua PS setara jurusan</td>
<td width="48" valign="top">6</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Universitas/Fakultas/Pemda</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,375</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Sekretaris PSSJ</td>
<td width="48" valign="top">4</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Jurusan</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,188</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Jabatan non structural</td>
<td width="48" valign="top">:</td>
<td width="264" valign="top"><em>Anggota panitia ad hock &lt; 1 sem</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>:</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Sekretaris senat universitas</td>
<td width="48" valign="top">4</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Universitas/Fakultas/Pemda</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,25</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Sekretaris senat fakultas</td>
<td width="48" valign="top">4</td>
<td width="264" valign="top"><em>       Jurusan</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0,125</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Ketua Program Studi</td>
<td width="48" valign="top">4</td>
<td width="264" valign="top">Ketua panitia tetap (&gt;2 smt)</td>
<td width="48" valign="top"> :</td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Sekretaris Program Studi</td>
<td width="48" valign="top">3</td>
<td width="264" valign="top">    Tingkat universitas/fakultas/Pemda</td>
<td width="48" valign="top">2</td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top"><em>Direktur Sekolah Pasca Sarjana setingkat Dekan</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>10</em></td>
<td width="264" valign="top">    Tingkat jurusan/PS</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top"><em>Asisten Direktur Sekolah Pasca Sarjana</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>6</em></td>
<td width="264" valign="top">    Sekretaris/wakil (universitas/</p>
<p>     Fakultas/Pemda)</td>
<td width="48" valign="top">1.5</td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top"><em>Ketua Program Studi Pasca Sarjana (misal PSDAL, MM)</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>4</em></td>
<td width="264" valign="top">    Anggota pengurus (universitas/</p>
<p>    Fakultas/Pemda)</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top"><em>Asisten Program Studi Pasca Sarjana (misal PSDAL, MM)</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>3</em></td>
<td width="264" valign="top">    Sekretaris/wakil (Jur/PS)</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
</tr>
<tr>
<td width="217" valign="top">Ketua Panitia ad hok (&gt; 2 smt)</td>
<td width="48" valign="top"> :</td>
<td width="264" valign="top">    Anggota pengurus (Jur/PS)</td>
<td width="48" valign="top">0.5</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Catatan:</p>
<p>1) Dalam satu event seminar, seorang dosen hanya diperbolehkan satu sebagai pemakalah utama dan satu sebagai pemakalah pendamping.</p>
<p>2) Dalam EWMP bidang pengembangan ilmu dan pengabdian pada masyarakat jika lebih dari satu dosen, maka penulis utama = 60% dan penulis pendamping 40% dibagi secara proporsional bergantung kepada jumlah anggota.</p>
<p>3) Senat, BPPU, BPM, BATIK, UPM, Komisi Skripsi, Pusat Kajian di tingkat fakultas, Dewan Riset Daerah, badan di lingkungan pemerintah daerah, pengurus organisasi profesi atau yang sejenis merupakan panitia tetap.</p>
<p>4) Yang dicetak miring adalah baru (yang diusulkan), sementara yang tidak dicetak miring adalah Peraturan Rektor tentang EWMP.</p>
<p>5) Kegiatan yang dilakukan oleh dosen dapat dibuktikan dengan surat tugas atau keputusan minimal dikeluarkan oleh pejabat setingkat jurusan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1526/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1526/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1526/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1526/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1526/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1526/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1526&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/03/pedoman-penghitungan-ekivalen-waktu-mengajar-penuh-ewmp-fakultas-pertanian-universitas-bengkulu-usulan-draft-ke-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMANFAATAN DAN ANALISIS EKONOMI USAHA TERNAK KELINCI DI PEDESAAN MELALUI DIVERSIFIKASI PRODUK</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/30/pemanfaatan-dan-analisis-ekonomi-usaha/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/30/pemanfaatan-dan-analisis-ekonomi-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 21:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[analisis ekonomi usaha]]></category>
		<category><![CDATA[Diversifikasi produk]]></category>
		<category><![CDATA[kelinci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1523</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh: Pobi Tarosman
      NPM: E2A009018
ABSTRAK
Pengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada wilayah sentra pariwisata. Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya pengaruh psychologis antara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1523&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong> </strong><strong>Oleh: Pobi Tarosman</strong></p>
<p><strong>      NPM:</strong> <strong>E2A009018</strong></p>
<p><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p>Pengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada wilayah sentra pariwisata. Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya pengaruh psychologis antara manusia dengan ternak kelinci dalam hal memotong dan sekaligus untuk dimakan. Kendala lainnya adalah angka kematian yang cukup tinggi dan masih perlu adanya sosialisasi mengkonsumsi daging dan penyediaan produk daging olahan yang menarik konsumen. Disisi lain ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak beranak yang pendek sehingga mampu menghasilkan jumlah anak yang cukup tinggi pada satuan waktu yang singkat (per tahun) sehingga dikenal sebagai penyedia daging yang handal. Teknologi pengolahan daging kelinci meliputi teknologi pembuatan sosis, kornet, burger, nugget, karage, bakso, abon dan lain-lain,Manfaat lainnya adalah sebagai penghasil kulit bulu, kotoran (feces) dan sebagai ternak kesayangan. Semua manfaat tersebut dapat menjadi tambahan pendapatan peternak. Usaha peternakan kelinci selain sebagai pemenuhan gizi (subsisten) perlu adanya dukungan untuk mengarah pada usaha komersil berorientasi pasar. Telah dicoba dilakukan analisis terhadap usaha kelinci intensif yang berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan pada skala usaha tersebut adalah sebesar Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan (dalam perhitungan ini dilakukan penilaian terhadap sisa kelinci yang belum berumur potong, karena dalam kas opnam masih tersisa sejumlah (ternak muda).</p>
<p> <strong>Kata Kunci: </strong>Kelinci, Teknologi, Pengolahan, Pemanfaatan, Keuntungan</p>
<p><span id="more-1523"></span></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Di Indonesia ternak kelinci mempunyai kemampuan kompetitif untuk bersaing dengan sumber daging lain dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia ( kebutuhan gizi) dan merupakan alternatif penyedia daging yang perlu dipertimbangkan dimasa datang, daging kelinci merupakan salah satu daging yang berkualitas baik dan layak dikonsumsi oleh berbagai kelas lapisan masyarakat. Bahkan dibandingkan dengan kondidi daging ayam dilihat dari segi aroma, warna daging dan dalam berbagai bentuk masakan tidak ditemukan perbedaan yang nyata DIWYANTO <em>et al</em>. (1995)</p>
<p>Dicermati dari pengalaman terdahulu, pada tahun 80 an, ternak kelinci telah dikenalkan dan dikembangkan dimasyarakat secara luas dengan berbagai bentuk promosi, bahkan promosi pengembangannya dimotori secara langsung oleh Kepala Negara. Berbagai program aksi dalam rangka pemberdayaan pengembangan kelinci telah digulirkan dimasyarakat guna menambah pilihan pemanfaatan daging sebagai sumber gizi. Namun sangat disayangkan perkembangannya kurang menggembirakan dan terus menurun popularitasnya, bahkan hingga saat ini sentra –sentra produksi kelinci hanya terdapat di daerah-daerah pariwisata, misalnya di Lembang (Jawa Barat), Bedugul (Bali), Kaliurang (Yogyakarta), tentunya denganwilayah penyebaran yang terbatas permintaan daging kelinci akan menjadi terbatas pula. Kendala lain yang terdeteksi adalah adanya pengaruh kejiwaan ”tidak tega” apabila manusia hendak memakan daging kelinci (SARTIKA, 1998).</p>
<p>Teknik budidaya maupun pengolahan hasil ternak kelinci telah banyak dipelajari oleh para ahli, bahkan banyak pula peternak yang telah mengadopsinya. Dengan demikian saat ini dimana krisis ekonomi terus berlangsung dan adanya issue penyakit ”flu burung” yang menyerang ternak unggas, maka usaha kelinci merupakan kesempatan yang baik untuk memulai menggiatkan kembali usaha <em>Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Kelinci</em> 140 pengembangannya dimasyarakat. Harapannya adalah masyarakat dapat memperoleh pendapatan dan sekaligus untuk pemenuhan gizinya.</p>
<p>Teknologi pascapanen untuk mengolah daging dan kulit bulu kelinci masih terus digali dan dikembangkan. Pemilihan jenis kelinci perlu mendapat perhatian sesuai dengan tujuan pemeliharaan, diambil daging atau kulit bulunya. Untuk mendapatkan bulu dan kulit bulu maka yang cocok dipelihara adalah jenis American Chinchilla, Rex atau Reza (Rex Satin) dan Angora, sedangkan untuk tujuan diambil dagingnya dipelihara jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand (http://www. republika.co.id/koran_detail.asp?id=181910&amp;k at_id=149). Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan produk dari komoditas kelinci adalah masih terbatasnya ketersediaan bahan baku. Disamping teknologi budidaya kelinci yang belum dikuasai oleh masyarakat, teknologi pengolahan produk berbahan baku dari daging kelinci dan penyamakan kulit  bulu kelinci belum banyak dikenal dan dikuasai masyarakat.</p>
<p><strong>Industri ternak kelinci</strong></p>
<p>Keberadaan ternak kelinci bagi manusia dapat dimanfaatkan dalam berbagai hasil produk. Hasil pemotongan ternak kelinci menghasilkan daging dan kulit bulu. Melalui serangkaian kegiatan (proses) dan penambahan beberapa bahan lain maka dapat dihasilkan bahan pangan (Nuget, baso, burger, sosis, sate, dll.) maupun bahan industri kerajinan kuli (tas, mantel, hiasan, dll.). Produk lain dari ternak kelinci adalah ternak sebagai binatang kesayangan dan penghasil kotoran untuk pupuk. Beberapa tipe kelinci sebagai ternak kesayangan mempunyai nilai harga harga yang lebih baik dibanding ternak kelinci pedaging. Sedangkan kotoran ternak (feses, air kencing dan sisa hijauan) setelah diproses menjadi kompos berguna sebagai penyubur tanah maupun tanaman(SARTIKA, 1998).</p>
<p> FAREL dan RAHARJO (1994) mengatakan bahwa kelinci sapihan dapat menghasilkan kotoran sebanyak 28 gram kotoran lunak atau setara dengan 3 gram protein/hari/ekor. Penggunaan kotoran kelinci dengan tambahan probiotik (kompos) berguna untuk kesuburan tanah dan tanaman dan telah dilakukan percobaan skala penelitian. SAJIMIN<em>et al. </em>(2005) mengatakan bahwa penggunaan kompos kelinci dengan feses kelinci ditambah probiotik kandungan bahan organik dengan C/N ratio (11−12%) lebih baik dibanding tanpa probion C/N (10%). Manfaat lain adalah kompos feses kelinci dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman <em>Stylosanthes hamata </em>secara nyata lebih tinggi 58,4% dibandingkan dengan tanpa probiotik.</p>
<p>Industri pengolahan ternak kelinci meliputi: teknologi pengolahan daging (Nuget, Sosis, Burger, Dendeng, Baso, Sate, Gule, Tongseng, Soup). Sedangkan kulit dan buluh kelinci dapat diolah menjadi bahan kerajinan Hiasan dan Souvenir (Gantungan Kunci, Pajangan yang berupa Wayang Kulit) dan pakaian seperti : Mantel, Jaket). Selain itu kotoran ternak kelinci dapat dijadikan pupuk kompos. (<em>Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Kelinci</em> 141).</p>
<p><strong>Potensi kelinci sebagai penghasil daging</strong></p>
<p>Menurut SARTIKA <em>et al. </em>(1998) dari seekor induk yang dipelihara selama 1 tahun dapat menghasilkan sebanyak 117 kg daging untuk kelinci Ras biasa dan 144 kg daging untuk kelinci Hybreed pada pemeliharaan secara intensif dan manajemen yang baik. Hal tersebut dikarenakan ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak antar kelahiran yang cukup pendek. Sedangkan prosentase karkas kelinci mencapai 42,6 sampai 46,7%.</p>
<p>Menurut FAREL dan RAHARJO (1994) bahwa daging kelinci mempunyai kualitas kandungan gizi yang cukup baik, karena mengandung lemak, kolesterol dan garam yang rendah. Dalam kajiannya tentang preferensi daging kelinci yang dilakukan oleh DIWYANTO <em>et al. </em>(1985) diperoleh hasil bahwa warna, aroma, rasa dan keempukan daging kelinci panggang antara berbagai jenis kelinci tidak berbeda nyata. Selanjutnya dikatakan antara warna, aroma dan rasa daging kelinci dengan ayam ras tidak menunjukkan hasil yang berbeda, kecuali keempukan dimana ternak ayam lebih empuk.</p>
<p><strong>DIVERSIFIKASI PRODUK</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daging kelinci</strong></p>
<p>Kelinci mempunyai potensi yang besar sebagai penghasil daging, pada umur delapan minggu mampu mencapai bobot lebih dari dua kilogram (FARREL dan RAHARDJO, 1984). Seekor kelinci dengan bobot hidup dua kilogram dapat menghasilkan karkas seberat 900 g. Daging kelinci mempunyai kemiripan dengan daging ayam yaitu warna putih pucat. Daging kelinci mempunyai berbagai  kelebihan dibanding jenis daging lainnya, antara lain kadar kolesterolnya terendah kedua setelah daging kalkun, kadar garam dan lemak jenuh rendah, sedangkan kadar proteinnya tinggi. Kadar kolesterol daging kelinci hanya 50 mg/kg, sedangkan domba 320 mg/kg, dan kadar proteinnya berturut-turut adalah 20,8 dan</p>
<p>13,7% (FARREL dan RAHARDJO, 1984).</p>
<p>Permintaan daging kelinci tidak begitu berkembang dibandingkan jenis ternak lain,</p>
<p>yang antara lain disebabkan ketersediaan terbatas, dan adanya hambatan psikologis pada masyarakat karena lebih dikenal sebagai binatang kesayangan (peliharaan). Melihat potensinya yang cukup besar karena kecepatan perkembangbiakannya dan sebagai sumber protein maka agar konsumsi daging kelinci meningkat perlu dilakukan pengenalan dan diversifikasi produk olahan yang dapat diterima masyarakat. Daging kelinci dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan bercitarasa tinggi seperti sosis, nugget, bakso, kornet, dan abon. Perbaikan mutu produk olahan dari daging kelinci dapat dilakukan dengan modifikasi bahan tambahan yang digunakan antara lain penambahan omega 3 dan 6 yang antara lain terdapat dalam minyak jagung , serat maupun protein untuk meningkatkan nilai gizinya. Pengolahan daging kelinci akan memberikan keuntungan yang cukup tinggi bagi pengolah. Hasil perhitungan secara sederhana diketahui bahwa dari 15 kg daging seharga Rp. 450.000 dan biaya tenaga produksi Rp. 75.000 serta bumbu dan campuran pelengkap Rp. 75.000 diperoleh hasil Rp. 1.125.000, sehingga margin keuntungan adalah Rp. 525.000. Dalam makalah ini akan dibahas teknis pengolahan beberapa produk olahan daging kelinci yang cukup potensial untuk dikembangkan yaitu nugget, sosis, kornet dan karage.</p>
<p><strong>Kulit dan bulu kelinci</strong></p>
<p>Kulit/kulit bulu memiliki potensi pengembangan dan prospek pasar yang cukup baik, bahan dan produknya merupakan komoditas ekspor non-migas yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Namun pengembangan kulit bulu masih mengalami kendala. Selain kuantitas yang belum memadai, kualitas hasil olahan kulit dan produknya dari Indonesia dinilai masih rendah terutama yang disamak secara tradisional dibandingkan dengan kulit dan kulit bulu dari Italia, Perancis, Jerman dan Jepang. Ketersediaan bahan baku yang terbatas, mutu awal sebelum diproses yang seadanya serta penguasaan teknologi yang terbatas merupakan beberapa faktor kritis penyebab rendahnya mutu kulit/kulit bulu Indonesia. Untuk membantu mengatasi keterbatasan pasokan kulit, kelinci dapat menjadi alternatif ternak yang perlu dikembangkan. Kelinci dapat tumbuh dan berkembangbiak dengan cepat dan dapat memasok tidak hanya kulit tetapi juga dagingnya dalam jumlah yang relatif cepat. Namun, karena kelinci adalah jenis ternak yang kecil maka kulit/kulit bulunya diarahkan untuk produk-produk yang berukuran kecil serta produk yang tidak membutuhkan kuat tarik dan kuat sobek yang tinggi (RAHARDJO, 1994).</p>
<p>Menurut informasi dari BLPP Ciawi, Bogor, pasar komoditas kulit bulu kelinci  semakin meningkat. Peningkatan terjadi karena santernya kritik yang dilontarkan para pecinta alam dan lingkungan seperti <em>Green Peace</em> terhadap perburuan dan pembantaian satwa liar. Sebelumnya, bulu untuk pembuatan jaket dan aksesorinya di negara-negara beriklim dingin umumnya menggunakan kulit beruang hasil buruan. Dengan santernya kritik tersebut para produsen jaket kulit lantas berusaha melirik bahan baku lain. Kelinci dianggap sebagai salah satu ternak yang bisa menggantikan kebutuhan bulu untuk jaket (<a href="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/071/hob1.html">http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/071/hob1.html</a>). Berbagai produk eksotik sebelumnya berasal dari kulit atau kulit bulu domba, kulit itik dan kulit reptil, maka kulit bulu kelinci sangat potensial dikembangkan karena kekhasan dari kehalusan bulunya yang dapat dijadikan mantel dengan harga yang tinggi (nilai ekonomi yang tinggi) serta memiliki pangsa pasar tersendiri di kalangan tertentu. Sayangnya penyamakan kulit bulu kelinci di Indonesia masih sangat terbatas dan memerlukan penguasaan teknologi penyamakan yang baik dan memadai karena akan berpengaruh terhadap kualitas kulit bulu terutama terhadap kehalusan dan struktur kulit bulu serta agar tidak mengalami pembusukan. Rendahnya mutu kulit bulu dapat dipahami mengingat teknologi penyamakan yang umum dikenal di Indonesia lebih diarahkan kepada penyamakan kulit tanpa bulu.</p>
<p><strong>Jenis Pengolahan Daging Kelinci </strong></p>
<p>Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk penganekaragaman pengolahan kelinci antara lain adalah pembuatan nugget, sosis, bakso dan karage. Pembuatan produk-produk tersebut tidak terlalu rumit sehingga bisa dikerjakan dalam skala rumah tangga. Peralatan yang dibutuhkan hampir sama yaitu <em>food processor </em>(Gambar 1) untuk menggiling daging dan mencampur dengan bahan tambahan lainnya, sedangkan untuk sosis dibutuhkan alat <em>sausage stuffer</em>.<em> </em></p>
<p><strong>Gambar 1. </strong><em>Food processor </em>untuk menghaluskan daging</p>
<p><strong>Nugget</strong></p>
<p>Nugget adalah suatu bentuk produk daging giling yang telah dibumbui, kemudian dilumuri perekat tepung dan diselimuti tepung roti, digoreng setengah matang lalu dibekukan untuk mempertahankan mutunya selama penyimpanan. Dikatakan lebih lanjut oleh OWENS (2001), nugget dibuat dari campuran daging merah dan daging putih dengan tujuan untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan cita rasa nugget yang dihasilkan. Bahan-bahan tambahan yang diperlukan dalam pembuatan nugget antara lain bahan pengisi, bahan pengikat, es atau air es, minyak dan bumbu-bumbu. Bahan pengisi merupakan bahan tambahan selain daging dengan kandungan protein rendah seperti berbagai jenis pati seperti tepung jagung, kentang, tapioka dan terigu. Fungsi bahan pengisi adalah untuk untuk mengikat air. Bahan pengikat merupakan bahan tambahan yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi, berfungsi untuk menambah daya emulsifikasidan daya mengikat air  susu skim bubuk, tepung kedelai dan isolat protein kedelai. Es atau air es berfungsi   meningkatkan keempukan dan juiciness dari produk akhir. Untuk pembuatan nugget skala kecil, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung tapioka dianggap paling memungkinkan dari segi biaya produksi yang lebih rendah, rasa dan tekstur secara organoleptik lebih disukai. Gambar 2 menunjukkan diagram alir pembuatan nugget daging kelinci (RAHARDJO,2002).</p>
<p>Daging kelinci</p>
<p>↓</p>
<p>Penggilingan daging ← es batu</p>
<p>↓</p>
<p>Pencampuran bahan tambahan</p>
<p>(susu skim, bumbu, bahan pengisi/tepung)</p>
<p>↓</p>
<p>Pencetakan dalam loyang</p>
<p>↓</p>
<p>Pembentukan produk</p>
<p>↓</p>
<p>Coating dengan tepung roti</p>
<p>↓</p>
<p>Penggorengan</p>
<p>↓</p>
<p>Nugget matang</p>
<p><strong>Gambar 2. </strong>Diagram alir proses pembuatan nugget daging kelinci</p>
<p><strong>Sosis</strong></p>
<p>Sosis adalah bahan pangan yang berasal dari potongan-potongan daging yang digiling dan diberi bumbu dan dimasukkan ke dalam selongsong (casing) menjadi bentuk yang simetris. Beberapa tahapan dalam pembuatan sosis antara lain curing (pengawetan daging dengan natrium nitrit), pembuatan adonan, pengisian ke selongsong, pengasapan, dan perebusan. pengolahan, dan pengisian ke dalam kaleng, penghampaan, penutupan kaleng dan sterilisasi. Bahan pengisi yang digunakan antara lain tepung tapioka, tepung aren, sedangkan bahan pengikat yang ditambahkan antara lain susu skim atau isolat protein kedelai. Kandungan campuran bahan pengisi (susu skim dan isolat protein kedelai) yang ditambahkan umumnya berkisar 10−15%. Untuk produk kornet, ternyata konsentrasi skim yang lebih tinggi dalam kombinasinya dengan tepung aren lebih disukai daripada tepung tapioka (RAHARJO <em>et</em> <em>al, </em>2003). Diagram alir pembuatan kornet disajikan pada Gambar 4.</p>
<p>Daging kelinci</p>
<p>↓</p>
<p>Penggilingan daging I</p>
<p>↓</p>
<p>Pencampuran adonan</p>
<p>(tepung aren, skim, isolat protein kedelai, bumbu,</p>
<p>minyak jagung)</p>
<p>↓</p>
<p>Penggilingan II</p>
<p>↓</p>
<p>Pencetakan</p>
<p>↓</p>
<p>Pemasakan</p>
<p>(pengukusan 30 menit)</p>
<p>↓</p>
<p>Pendinginan</p>
<p>↓</p>
<p>Pemotongan produk</p>
<p>↓</p>
<p>Kornet</p>
<p><strong>Gambar 3. </strong>Diagram alir proses pembuatan kornet daging kelinci</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KENDALA PENGEMBANGAN KELINCI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>SASTRODIHARDJO <em>et al. </em>(1992) mengatakan bahwa beberapa kendala   pengembangan kelinci antara lain: 1) daging kelinci belum memasyarakat, 2) harga dagingnya belum terjangkau oleh daya beli masyarakat, 3) kurang gencarnya promosi tentang perlunya masyarakat mengkonsumsi daging kelinci. Kendala non teknis diduga lebih kuat pada pengembangan kelinci sebagaimana diutarakan oleh SARTIKA <em>et al. </em>(1998) yang mengatakan ditinjau dari segi preferensi sebetulnya daging kelinci tidak mengalami kendala yang serius, namun kendala mengkonsumsi daging kelinci diduga dari segi psikologis yang mengungkapkan adanya rasa sayang, atau kasihan dalam pemotongannya maupun dalam hal memakannya. Kendala secara teknis banyak ditemui tentang faktor kematian yang mencapai lebih dari 20% pada tingkat umur potong.</p>
<p>DIWYANTO <em>et al</em>. (1985) mengatakan bahwa budidaya ternak yang dilakukan masyarakat masih perlu ditingkatkan melalui perbaikan tatalaksana pemeliharaan. Oleh karena itu diperlukan langkah kongkrit untuk memperkecil atau meniadakannya melalui penyuluhan budidaya dan pemahaman terhadap nilai kemanfaatan kelinci bagi kebutuhan gizi masyarakat. Perlu dipertimbangkan terhadap pengadaan tempat pemotongan yang dilokalisir sehingga perasaan kasihan bagi peternak dapat dihindari. Dilain pihak dengan adanya tempat pemotongan khusus ternak kelinci akan mempermudah pengumpulan kulit bulunya.</p>
<p><strong>Pemasaran ternak kelinci</strong></p>
<p>Produk ternak kelinci yang dapat dipasarkan adalah dalam bentuk hidup, bentuk produk segar maupun produk olahan. Transaksi jual-beli kelinci hidup antara produsen dan konsumen dapat berlangsung di lokasi produsen maupun di pasar (pasar umum, pasar hewan, bahkan tempat rekreasi). Ternak yang diperjual belikan mulai dari status lepas sapih hingga ternak siap kawin.</p>
<p>Daerah pemasaran kelinci, mempunyai tingkatan, mulai dari produsen, pedagang/penyalur, konsumen.</p>
<ol>
<li>Pemasaran kelinci di tingkat produsen; transaksi antara peternak dengan pedagang, pedagang melakukan pembelian kelinci kepada produsen (peternak), ternak yang diperjual belikan adalah ternak bibit, siap potong maupun kelinci dewasa. Transaksi yang terjadi pada produsen selain pedagang adalah juga terdapat peternak dimana tujuannya adalah membeli ternak untuk dikembangkan lebih lanjut.</li>
<li> Pemasaran di tingkat pedagang; transaksi antara pedagang dengan konsumen akhir (lokal maupun luar daerah), transaksi seperti ini dilakukan di tempat tertentu (pasar umum, maupun pasar hewan, dan tempat pariwisata daerah).</li>
<li>Pemasaran di tingkat konsumen biasnya langsung diolah oleh pedagang-pedagang masakan yang mengolah makanan yang terbuat dari daging kelinci seperti : Sate, soup, dan Tongseng kelinci yang menjual makanannya kepada konsumen penyuka masakan tersebut.</li>
</ol>
<p> Pemasaran kelinci biasanya juga banyak terdapat dilokasi pariwisata seperti:  Kebun Raya, tempat-tempat wisata pegunungan. Komoditas ternak kelinci yang diperjual belikan didominasi oleh ternak kelinci usia sapih. Namun demikian terdapat pula daerah pariwisata tertentu yang mempunyai ciri tertentu pada komoditas kelinci yaitu sate kelinci di Tawang Mangu, Jawa Tengah, daerah lainnya seperti di Lembang terdapat banyak penjaja tukang sate kelinci di pingggiran jalan.Pemasaran produk daging; pasar dagingkelinci belum banyak dan populer bila dibandingkan dengan daging ternak lain (sapi, kambing dan ayam). Pemasaran daging kelinci perlu usaha yang gigih dan dilakukan melalui usaha-usaha promosi antara lain: melakukan demo pada berbagai instansi tertentu dalam acara seremonial (ulang tahun kemerdekaan atau pameran pembangunan daerah). Peluang akan diterima oleh masyarakat lebih terbuka bila daging kelinci diolah menjadi bentuk lain dari yang sekarang ada, bentuk tersebut antara lain; Nugget, Burger, Fried, atau jenis lainnya seperti: abon, baso dan sosis. Bila dijual dalam bentuk daging segar maka hendaknya diwujudkan dalam bentuk potongan yang menarik misalnya: potongan kaki belakang/paha, potongan pinggang, <em>Schnittzel </em>(bagian daging tanpa tulang yang berasal dari kakidepan),</p>
<p> (<a href="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/071/hob1.html">http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/071/hob1.html</a>).</p>
<p><strong>Analisis usaha kelinci di pedesaan</strong></p>
<p>Pemanfaatan ternak kelinci dan pengolahan produk kelinci telah dapat memberikan keuntungan yang cukup berarti bagi kehidupan masyarakat di pedesaan, terutama pada sentra-sentra produksi di daerah pariwisata. Seberapa jauh nilai keuntungan yang dapat diraih bagi produsen (peternak), apabila peternak di pedesaan akan mengusahakan sebanyak 20 kelinci induk dan lima pejantan selama setahun. Dengan memperhatikan nilai koefisien teknis produktivitas kelinci dari berbagai hasil penelitian sebelumnya oleh para ahli dan nilai jual produk kelinci (daging, kulit bulu dankotoran) saat ini, maka hasil pendapatannya dapat diketahui. Uraian detail analisa ekonomi sederhana terhadap usaha kelinci dengan skala 20 ekor induk dan 5 ekor jantan selama setahun disajikan pada Tabel 1.<strong> </strong></p>
<p><strong>Tabel 1. </strong>Analisa ekonomi sederhana usaha kelinci dalam jangka satu tahun</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="595" valign="top">Item pengeluaran dan penerimaan                                                     Rp</td>
</tr>
<tr>
<td width="301" valign="top">PengeluaranBibit</p>
<p>Induk (20 ekor)</p>
<p>Jantan (5 ekor)</p>
<p>Pakan</p>
<p>Induk</p>
<p>Pejantan</p>
<p>Anak 24 minggu</p>
<p>Anak 20 minggu</p>
<p>Anak 12 minggu</p>
<p>Anak 4 minggu</p>
<p>Kandang</p>
<p>Induk</p>
<p>Pejantan</p>
<p>Box anak</p>
<p> Anak lepas sapih</p>
<p>Tempat pakan/minum</p>
<p>Induk</p>
<p>Pejantan</p>
<p>Anak LS</p>
<p>Tenaga kerja upahan 1 orang/tahun</p>
<p>Obat-Obatan</p>
<p>Peralatan lainnya</p>
<p>Total pengeluaran</p>
<p>Penerimaan</p>
<p>Jual daging dan kulit bulu ternak</p>
<p>umur potong</p>
<p>Jual daging dan kulit bulu ternak</p>
<p>umur 5 bulan</p>
<p>Jual daging dan kulit bulu ternak</p>
<p>umur 3 bulan</p>
<p>Jual daging dan kulit bulu ternak</p>
<p>umur 1 bulan</p>
<p>Kotoran (kg lunak)</p>
<p>Total penerimaan</p>
<p>Pendapatan</p>
<p>B/C Ratio</td>
<td width="295" valign="top">837.600</p>
<p>675.600</p>
<p>162.000</p>
<p>38.139.600</p>
<p>2.664.000</p>
<p>666.000</p>
<p>25.574000</p>
<p>6.216.000</p>
<p>2.664.000</p>
<p>355.200</p>
<p>740.000,-</p>
<p>100.000</p>
<p>20.000</p>
<p>20.000</p>
<p>600.000</p>
<p>290.000,-</p>
<p>40.000</p>
<p>10.000</p>
<p>240.000</p>
<p>2.400.000,-</p>
<p>500.000,-</p>
<p>100.000,-</p>
<p>43.012.000,-</p>
<p>26.112.000,-</p>
<p>9.360.000,-</p>
<p>7.776.000,-</p>
<p>7.840.000</p>
<p>1.130.400,-</p>
<p>52.218.400,-</p>
<p>9.206.200,-</p>
<p>1,21</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>1. Ternak pada waktu kas opnam terdapat sejumlah kelinci hidup berbagai umur, dalam perhitungan diperhitungkan nilai jual kulibulu dan bobot hidup yang sama dengan ternak usia potong.</p>
<p>2. Biaya kelinci bibit sudah diperhitungkan dalam nilai kelinci afkir.</p>
<p>Dari Tabel 1 dapat diuraikan bahwa jumlah</p>
<p>pengeluaran usaha kelinci yang terbanyak adalah untuk pembelian pakan konsentrat yaitu sebanyak Rp 38.139.600/tahun atau 88,89%. Dari total pengeluaran sebanyak Rp43.012.200/tahun. Pengeluaran terbanyak<em> </em>kedua adalah untuk membayar tenaga kerja,<em> </em>lalu untuk perkandangan dan obat-obatan.</p>
<p>Sedangkan sumber penerimaan terbanyak diperoleh dari penjualan daging kelinci dan kulit bulu umur potong selama 1 tahun sebanyak 384 ekor, yaitu sebanyak Rp</p>
<p>26.112.000. Meskipun kotoran kelinci dapat menghasilkan uang, namun nilainya masih cukup sedikit, yaitu sekitar Rp 1.130.400/tahun. Dari usaha kelinci dengan skala usaha 20 ekor induk dan lima ekor jantan, maka diperoleh pendapatan (keuntungan) sebanyak Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan. Hasil perhitungan pada penerimaan telah mencantumkan tentang ternak kelinci yang masih berusia dibawah umur potong yang terdiri dari umur 5 bulan ( 144 ekor), umur 3 bulan sebanyak (144 ekor) dan umur 1 bulan sebanyak (160 ekor).</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Ternak kelinci mempunyai potensi sebgai penghasil daging, kulit bulu, ternak hidup dan kotoran yang sangat bernilai bagi kepentingan manusia.</li>
<li>Faktor teknis terutama kematian merupakan kendala pada teknis budidaya, sedangkan faktor nonteknis adalah masalah psikologis dan daya beli mayarakat masih rendah.</li>
<li>Promosi pengembangan kelinci melalui pengenalan produk-produk olahan sehingga masyarakat mempunyai pilihan atas produk daging kelinci.</li>
<li>Di bidang pertanian dan peternakan, peran teknologi di bidang pascapanen atau pengolahan hasil sangat penting untuk meningkatkan nilai tambahnya.</li>
<li>Pengembangan ternak kelinci diharapkan berorientasi komersiil, dengan spesifikasi aktivitas usaha ( pembibitan, budidaya dan pengolahan hasil).</li>
<li>Usaha kelinci dengan skala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan untuk menghasilkan daging dan kulit bulu dapat diperoleh keuntungan sebesar Rp 9.206.200,-/tahun atau Rp 767.183/bulan (dengan memasukkan penilaian sejumlah kelinci yang masih berusia dibawah umur potong).</li>
</ol>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>DIWYANTO, K., SUMANTO, B. SUDARYANTO, T. SARTIKA dan DARWINSYAH. L. 1985. Suatu Studi Kasus Mengenai Budidaya Ternak Kelinci di Desa Pandansari. Jawa Tengah (aspek Manajemen dan produktivitas ternak). Ilmu dan Peternakan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. 1(10).</li>
</ol>
<ol>
<li>DIWYANTO, K., T. SARTIKA. MOERFIAH dan SUBANDRIYO. 1985. Pengaruh PersilanganTerhadap Nilai Karkas dan Preferensi Daging Kelinci Panggang. Ilmu dan Peternakan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.1(10).</li>
</ol>
<ol>
<li>FAREL, D.J. dan Y.C. RAHARJO. 1994. Potensi Ternak Kelinci Sebagai Penghasil Daging.Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.</li>
</ol>
<ol>
<li>SAJIMIN, Y.C. RAHARJO, N.D. PURWANTARI dan LUGIO. 2005. Produksi Tanaman Pakan Ternak Stylosantethes hamata Yang Diberi Pupuk Kelinci.Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Departemen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian .Puasat Penelitian</li>
</ol>
<p>dan Pengembangan Peternakan. Bogor</p>
<ol>
<li>ANONIMOUS. 2005. Untuk Dipotong, atau demi Bulu. <a href="http://www.republika.co.id/koran_detail">http://www.republika.co.id/koran_detail</a>. asp?id=181910&amp;kat_id=149.</li>
</ol>
<p>(10 September 2005).</p>
<ol>
<li><em>6.      </em>OWENS, C.M. 2001. Coated poultry products. <em>In: </em>SAMS, A.S. (Ed.). Poultry meat processing.<em> </em>CRC Press, Boca Raton.<em> </em></li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>SASTRODIHARDJO, S. dan Y.C. RAHARJO. 1992. Pengkajian Kelayakan Usaha Pembesaran Kelinci Rex yang Diberi Pola Pkan Berbeda pada Lahan Pekarangan di Dataran Tinggi Desa Pandansari, Kabupaten Berebes, Jawa Tengah. Pros. Agro-Industri Peternakan di Pedesaan. Balai Penelitian Ternak, Ciawi.hlm. 150-162.</li>
</ol>
<ol>
<li>TIKE SARTIKA, TATA ANTAWIJAYA dan K. DIWYANTO. 1998. Peluang Ternak Kelinci Sebagai Sumber Daging Yang Potensial Di Indonesia. Wartazoa 7(2).</li>
</ol>
<p><em> </em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1523/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1523/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1523/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1523&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/30/pemanfaatan-dan-analisis-ekonomi-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN GRATIS, SALAH SATU PILAR PEMBANGUNAN DI KOTA BENGKULU</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/29/pendidikan-gratis-salah-satu-pilar-pembangunan-di-kota-bengkulu/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/29/pendidikan-gratis-salah-satu-pilar-pembangunan-di-kota-bengkulu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 22:13:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[BOS]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Bengkulu]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan gratis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1521</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Urip Santoso
            Kota Bengkulu menggulirkan tiga pilar pembangunan yang amat menggiurkan. Bagaimana tidak menggiurkan, sebab masyarakat dibuai buatnya. Tiga pilar pembangunan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kota Bengkulu adalah kesehatan gratis, pendidikan gratis dan ekonomi kerakyatan. Beberapa saat yang lalu walikota mendapat penghargaan karena dinilai telah mampu mengembangkan koperasi di Kota Bengkulu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1521&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Urip Santoso</p>
<p>            Kota Bengkulu menggulirkan tiga pilar pembangunan yang amat menggiurkan. Bagaimana tidak menggiurkan, sebab masyarakat dibuai buatnya. Tiga pilar pembangunan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kota Bengkulu adalah kesehatan gratis, pendidikan gratis dan ekonomi kerakyatan. Beberapa saat yang lalu walikota mendapat penghargaan karena dinilai telah mampu mengembangkan koperasi di Kota Bengkulu sebagai bentuk perwujudan dari pilar ekonomi kerakyatan. Namun, apakah benar ekonomi yang mengedepankan rakyat itu telah mampu mendongkrak ekonomi rakyat masih menjadi tanda Tanya yang besar.</p>
<p>            Kali ini saya akan mencoba urun rembuk tentang pendidikan gratis yang dicanangkan oleh walikota itu. Masyarakatpun terbuai dibuatnya. Masyarakat kita terbuai dengan keindahan dan harapan kosong bahwa pendidikan dasar dan menengah SEHARUSNYA GRATIS. Dengan dianggarkannya bahwa anggaran pendidikan 20% dari APBD, banyak yang bisa dikurangi beban biaya untuk mencerdaskan rakyat Kota Bengkulu ini. Secara konsep, sekolah gratis sudah sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat (1); Pendidikan menjadi tanggung jawab negara. Masalahnya, pemerintah hanya mampu membuat iklan pendidikan gratis namun tidak mampu merealisasikan pendidikan gratis menjadi kenyataan. Depdiknas sendiri berdalih konsep pendidikan gratis hanya menggratiskan biaya operasional yang langsung mendukung kegiatan belajar-mengajar sekolah negeri, bukan sekolah rintisan bertaraf internasional, juga bukan sekolah bertaraf internasional. Biaya pribadi seperti pakaian, sepatu, transportasi, alat dan buku tulis adalah tanggungan orang tua murid. Pendidikan gratis melarang pungutan kepada orang tua tetapi mendorong anggota masyarakat dan orang tua yang mampu memberikan sumbangan sukarela. Konsep ini tentu saja amat rancu.<span id="more-1521"></span></p>
<p>            Pada kenyataannya program ini masih belum jelas pelaksanaannya, sehingga menimbulkan justru permasalahan yang berkepanjangan. Masalah timbul mulai dari ketidaksamaan persepsi pendidikan gratis antara pemerintah, sekolah dan masyarakat sampai dengan persoalan anggaran. Ketidaksamaan persepsi ini dikarenakan tidak jelasnya batasan gratis itu. Masyarakat  beranggapan kalau gratis kan berarti tidak bayar apa-apa lagi dari sumbangan pendidikan sampai dengan baju dan buku. Sementara pihak Pemda lain lagi, gratis bukan berarti gratis semuanya. Bebas sumbangan pendidikan kan berarti sudah gratis. Apalagi dengan adanya dana BOS (bantuan operasional sekolah). Sementara pihak sekolah (terutama sekolah favorit) berargumentasi dana BOS tidak cukup untuk operasional sekolah, maka tidak bisa tidak wali murid harus membuka koceknya melalui sumbangan pembangunan dan sumbangan pendidikan serta uiran lainnya. Lah, pendidikan berkualitas memang mahal, kilahnya.</p>
<p>            Untuk itu, Pemkot perlu membuat program pendidikan lebih rasional. Saya piker tidak perlu pakai embel-embel gratis. Barangkali akan lebih bijak jika pendidikan gratis itu ada batasannya dan siapa yang akan memperolehnya. Misalnya, bagi mereka yang miskin mendapat bantuan sepenuhnya dari Pemkot untuk dapat mengenyam pendidikan dasar dan menengah. Bantuan dari berupa dibebaskannya mereka dari sumbangan pendidikan, sumbangan pembangunan dan uiran lainnya sampai dengan kebutuhan dasar siswa seperti alat tulis, buku, baju dll. Sementara bagi yang mampu tetap diminta sumbangan sebagaimana yang disekapati di komite sekolah. Dengan cara ini, barangkali pendidikan gratis di Kota Bengkulu akan lebih realistic dan dapat dilaksanakan.</p>
<p>            Sekolah hendaknya juga membuat perencanaan kegiatan dan anggaran yang rasional juga. Saya berharap BOS itu digunakan sesuai dengan aturan yang berlaku, sementara uang komite juga digunakan benar-benar untuk keperluan sekolah bukan untuk keperluan guru. Contohnya uang tersebut tidak benar jika digunakan untuk konsumsi guru, transportasi guru, baju seragam guru, dan lain-lain keperluan guru. Bukankah guru sudah mendapatkan gaji untuk itu? Apalagi yang sudah mendapat tunjangan profesi guru. Layakkah mereka mendapatkan fasilitas tersebut? Kecuali jika uang itu digunakan untuk menggaji guru honorer atau penjaga sekolah yang bukan PNS masih bisa dimengerti. Seharusnya, BOS dan uang komite digunakan untuk operasional sekolah yang dapat menunjang peningkatan kualitas anak didik, dan memberi fasilitas kepada siswa miskin agar mereka juga mampu bersaing dalam kualitas.</p>
<p>            Dengan cara ini saya yakin bahwa program wajib sekolah 9 tahun dapat dilaksanakan dengan sukses. Tanpa memperhatikan kondisi ekonomi rakyat miskin, maka sangat sulit program wajib sekolah 9 tahun itu terlaksana. Sebab masih sangat banyak rakyat miskin di Kota Bengkulu khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Keluarga miskin masih akan berkutat pada persoalan seputas makan dan mempertahankan hidup. Jadi buat mereka untuk apa sekolah, untuk apa belajar. Kecuali, barangkali jika gratis sepenuhnya. Inipun barangkali mereka masih berkeberatan. Mengapa? Sebab jika anak mereka sekolah, lalu siapa yang membantu mereka mencari sesuap nasi? Ya, anak-anak mereka itu juga bekerja. Apa saja! Menyemir sepatu jadi. Mengemis jadilah daripada tidak dapat uang. Jadi pemulung juga okey. Jadi, selain bantuan sepenuh untuk sekolah, Pemkot juga harus memikirkan bagaimana meningkatkan kesejahteraan mereka. Inilah barangkali salah satu yang hendak dibidik oleh Pemkot melalui pilarnya ”ekonomi kerakyatan”.</p>
<p>            Jadi, alangkah baiknya jika pendidikan gratis itu bagi mereka yang miskin saja.Bahkan bukan itu saja! Pemkot hendaknya benar-benar mengangkat ekonomi mereka, sehingga mereka tidak kehilangan sumber penghasilan dikarenakan anak mereka sekolah. Bagi mereka yang mampu tentu saja diberi beban sesuai dengan kemampuan untuk berpartisipasi dalam pendidikan melalui sumbangan pembangunan, sumbangan pendidikan atau jenis iuran lain yang disepakati. Hendaknya sekolah juga mengelola uang itu sebaik-baiknya dan transparan serta digunakan untuk keperluan peningkatan kualitas peserta didik. Ya, pendidikan memang memerlukan partisipasi masyarakat. Jika hanya mengandalkan BOS saya pikir tidak cukup untuk menghasilkan siswa-siswa yang unggul.</p>
<p>            Program pendidikan gratis bagi warga miskin saya pikir cukup adil dan rasional. Pertama, untuk menggratiskan seluruh warga Kota Bengkulu dari biaya sekolah itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Saya yakin dengan PAD kota yang sangat terbatas ini tidak akan mampu membiayainya. Dan ini memerlukan program yang berkesinambungan dan penuh perhatian. Tidak bisa berhenti ditengah jalan. Kedua, sangat wajar jika warga yang mempunyai kemampuan lebih itu memberikan kontribusinya bagi pelaksanaan proses belajar-mengajar di sekolah.</p>
<p>            Meskipun demikian, ada beberapa catatan bagi sekolah dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar bagi siswa. Pertama, hendaknya anggaran yang disusun adalah diprioritaskan bagi peningkatan kualitas siswa. Hal ini perlu saya tekankan karena banyak sekolah yang menggunakan dana komite untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan peningkatan mutu siswa, seperti baju seragam guru, makan dan minum guru, transportasi guru di jam kerja dsb. Bukankah guru sudah mendapat haknya berupa gaji setiap bulannya? Kedua, hendaknya sekolah meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran, baik yang berasal dari BOS maupun dari wali murid ataupun dari sumber lain.</p>
<p>            Bagi Pemkot  c.q. Dinas Pendidikan Nasional juga diharapkan mengevaluasi kembali anggaran BOS  bagi sekolah. Saya mengusulkan untuk kemungkinan meningkatkan anggaran tersebut bagi sekolah. Konsep pendidikan gratis yang hanya mengandalkan dana BOS yang besarnya 30 persen dari total biaya operasional sesuai standar pelayanan minimum adalah sangat mustahil. Jadi, untuk mencapai standar pelayanan minimum saja, BOS tidak akan pernah mencukupi. Apalagi untuk menggratiskan pendidikan. Juga, dinas perlu mengevaluasi apakah sekolah yang ada di kota telah memenuhi standard yang diberlakukan dalam undang-undang sisdiknas. Untuk menghasilkan SDM yang berkualitas tinggi maka setiap sekolah yang ada di kota harus telah memenuhi standard baku tertentu. Jika belum semua, maka inilah tugas yang besar bagi pelaku pendidikan di kota ini. Jadi, standardisasi itu perlu, sehingga mutu sekolah di kota ini tidak sangat bervariasi sebagaimana yang terjadi saat ini. Selain menambah anggaran pendidikan, hendaknya dinas melakukan efisiensi penggunaan anggaran baik dinas itu sendiri maupun yang di sekolah. Pengawasan yang ketat terhadap penggunaan anggaran itu sangat penting agar tujuan program dapat dicapai dengan efektif dan efisien.</p>
<p>            Nah, untuk mensukseskan program pendidikan gratis bagi warga miskin maka pertama-tama kita perlu melakukan survei tentang warga miskin di Kota Bengkulu ini. Hal ini sangat penting bagi Pemkot untuk  memprediksi anggaran yang dibutuhkan. Warga miskin itu kemudian dikategorikan misalnya: 1) warga sangat miskin, 2) warga miskin tidak punya pekerjaan tetap; 3) warga miskin mempunyai penghasilan tetap. Kategori ini sangat penting untuk menetapkan berapa biaya yang harus dialokasikan untuk setiap kategori. Selain itu, perlu disurvei data anak usia 7-15 tahun yang merupakan sasaran wajib sekolah 9 tahun. Setelah itu kita evaluasi berapa anggaran yang tersedia, dan kemudian membuat paket-paket bantuan bagi ketiga kategori di atas. Dengan cara ini diharapkan program pendidikan gratis akan langsung mengenai sasaran dan kemungkinan berhasil sangat besar. Tentu saja dengan syarat anggaran yang tersedia benar-benar tepat sasaran.</p>
<p>            Meskipun saya setuju bahwa partisipasi masyarakat dalam pendidikan (misalnya sumbangan pendidikan dll.) sangat diperlukan, tetapi bukan berarti sekolah boleh mengeluarkan kebijakan terkait dengan sumbangan secara semena-mena. Maksudnya tanpa pertimbangan efisiensi dalam penggunaan anggaran. Terdapat indikasi bahwa penggunaan dana masyarakat tidak transparan sehingga banyak wali murid kecewa. Seharusnya, sekolah menghitung ulang kebutuhan operasional sekolah yang nyata, dan kemudian berapa jumlah BOS atau sumber lain yang mereka terima. Nah, baru kekurangannya dikomunikasikan dengan para wali murid yang tergolong mampu sementara yang miskin bebas atau mendapat bantuan dari Pemkot (jika Pemkot sungguh-sungguh dengan program pendidikan gratisnya). Nah, dana yang dikumpulkan dari wali murid hendaknya dilaporkan secara transparan kepada wali murid. Jika ini dijalankan maka akan mendorong partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan lebih lanjut. Partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan bukan saja yang terkait dengan dana tetapi juga pemikiran atau gagasan atau ide atau apa saja yang dapat mendorong kemajuan bagi pendidikan dasar dan menengah. Jadi dengan demikian amsyarakat yang miskin pun dapat memberikan kontribusinya.</p>
<p>            Satu hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa pendidikan adalah pembelajaran terhadap hidup dan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi hidup. Pendidikan yang berkualitas haruslah diawali dari hati bukan materi. Hati yang mempunyai tekad yang kuat dan mampu menularkan semangat menggairahkan dalam mencari ilmu, berekplorasi, bereksperimentasi dalam membaca alam dan tanda-tanda alam. Hati yang membebaskan, mencerdaskan, yang memberi inpirasi dalam mengolah berbagai hal di depan kita, di sekitar kita. Pendidikan yang kita butuhkan adalah pendidikan yang mengenalkan anak-anak didiknya dengan lingkungannya, sehingga mereka tumbuh besar menjadi insan-insan yang mengerti tentang apa yang telah, sedang, dan akan kita hadapi. Yang mengerti apa potensi-potensi diri serta potensi-potensi yang dimiliki bumi pertiwi, peluang-peluang apa yang kita punya dalam menjadi pemenang dalam kompetisi global. Pendidikan yang membentuk karakter kita sebagai bangsa yang terhormat.  Ini tentu saja membutuhkan guru yang berkualitas. Guru yang mempunyai visi, misi dan motivasi terhadap dunia pendidikan. Bukan guru yang hanya menguasai materi pelajaran, tetapi kosong dlam idealisme.  Sayangnya, dewasa ini lebih banyak guru yang kejar target kurikulum, tetapi kurang memperhatikan bagaimana mencerdaskan anak didiknya secara total dan bagaimana membangun perilaku anak didiknya sesuai dengan karakteristik bangsa.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1521/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1521&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/29/pendidikan-gratis-salah-satu-pilar-pembangunan-di-kota-bengkulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEDOMAN PENGHITUNGAN EKIVALEN WAKTU MENGAJAR PENUH (EWMP) UNIVERSITAS BENGKULU (Usulan Draft Revisi)</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/29/pedoman-penghitungan-ekivalen-waktu-mengajar-penuh-ewmp-universitas-bengkulu-usulan-draft-revisi/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/29/pedoman-penghitungan-ekivalen-waktu-mengajar-penuh-ewmp-universitas-bengkulu-usulan-draft-revisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 02:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[perguruan tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>
		<category><![CDATA[Ekuivalensi Waktu Mengajar Penuh]]></category>
		<category><![CDATA[EWMP]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Bengkulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1512</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Urip Santoso
Saya coba mengusulkan revisi pedoman EWMP di Universitas Bengkulu. Semoga coretan ini bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkannya. Revisi pedoman EWMP ini sangat penting bagi dosen, agar semua aktivitasnya dapat dihitung ke dalam EWMP. Saya mengharap masukkan dari semua pihak agar revisi ini lebih sempurna. thanks.
 I. KETENTUAN UMUM
1. Beban tugas tenaga pengajar ialah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1512&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh: Urip Santoso</strong></p>
<p>Saya coba mengusulkan revisi pedoman EWMP di Universitas Bengkulu. Semoga coretan ini bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkannya. Revisi pedoman EWMP ini sangat penting bagi dosen, agar semua aktivitasnya dapat dihitung ke dalam EWMP. Saya mengharap masukkan dari semua pihak agar revisi ini lebih sempurna. thanks.</p>
<p><strong> I. KETENTUAN UMUM</strong></p>
<p>1. Beban tugas tenaga pengajar ialah jumlah pekerjaan yang wajib dilakukan oleh seorang tenaga pengajar perguruan tinggi negeri sebagai tugas institusional dalam menyelenggarakan fungsi pendidikan tinggi seperti yang dibuat dalam Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 1980 pasal 26.</p>
<p>2. Tugas institusional ialah pekerjaan dalam batas-batas fungsi pendidikan tinggi yang dilakukan secara terjadwal ataupun tidak terjadwal oleh tenaga pengajar yang:<span id="more-1512"></span></p>
<p>-         ditugaskan oleh pimpinan perguruan tinggi untuk dilaksanakan di tingkat universitas atau institut, fakultas, lembaga, jurusan, pusat, laboratorium atau studio dan balai.</p>
<p>-         Dilakukan atas prakarsa pribadi atau kelompok dan disetujui, dicatat dan hasilnya diajukan kepada pimpinan perguruan tinggi untuk dinilai oleh sejawat perguruan tinggi.</p>
<p>-         Dilakukan dalam rangka kerjasama pihak luar perguruan tinggi yang disetujui, dicatat dan hasilnya diajukan melalui pimpinan perguruan tinggi.</p>
<p>3. Beban tugas tenaga pengajar perguruan tinggi negeri dinyatakan dengan Ekivalensi Waktu Mengajar Penuh (EWMP) yang setara dengan 38 jam kerja per minggu, yaitu jam kerja wajib bagi seorang pegawai negeri sebagai imbalan terhadap gaji dan hak lain yang diterima dari negara.</p>
<p>4. Ekivalensi Waktu Mengajar Penuh (EWMP) seorang tenaga pengajar perguruan tinggi negeri ditetapkan setara dengan 12 sks dan dihitung untuk setiap semester dengan pengertian 1 (satu) sks setara dengan 3 jam kerja per minggu selama 1 semester atau 6 bulan, atau 1 (satu) sks setara dengan 50 jam kerja per semester.</p>
<p><strong>II. PENGHITUNGAN EKIVALENSI WAKTU MENGAJAR PENUH TENAGA PENGAJAR (EWMP)</strong></p>
<p>a. Beban, Sebaran, Syarat dan Imbalan</p>
<p>1. EWMP bagi seorang tenaga pengajar biasa ditetapkan 12 sks yang dapat disebar ke dalam tugas-tugas institusional sebagai berikut:</p>
<p>                        – Pendidikan                                         : 2-8 sks</p>
<p>                        – Penelitian dan Pengembangan Ilmu      : 2-6 sks</p>
<p>                        – Pengabdian pada Masyarakat : 1-6 sks</p>
<p>                        – Pembinaan Sivitas Akademika            : 1-4 sks</p>
<p>                        – Administrasi dan Manajemen  : 0-3 sks (kecuali untuk jabatan-jabatan  tetap yang ekivalensinya ditentukan khusus).</p>
<p>2. EWMP diperhitungkan untuk semua beban tugas institusional yang dilaksanakan oleh tenaga pengajar yang bersangkutan di Universitas Bengkulu</p>
<p>3. Untuk pelaksanaan tugas institusional di atas EWMP, kepada pengajar yang bersangkutan dapat diberikan honorarium atau imbalan khusus lain sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.</p>
<p>b. Ekuivalen Tugas-Tugas Fungsional Dalam Takaran Sks ditetapkan sebagai berikut</p>
<p><strong>A. Pendidikan</strong></p>
<p>Tabel 1. Bobot sks staf per 1 sks mahasiswa pada kegiatan kuliah untuk jenjang S0 dan S1</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="78" valign="top">Jml dosen</td>
<td colspan="9" width="500" valign="top">Jumlah mahasiswa per kelas</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"> (orang)</td>
<td width="47" valign="top">1-40</td>
<td width="49" valign="top">41-50</td>
<td width="58" valign="top">51-60</td>
<td width="58" valign="top">61-70</td>
<td width="58" valign="top">71-80</td>
<td width="60" valign="top">81-90</td>
<td width="56" valign="top">91-100</td>
<td width="58" valign="top">101-110</td>
<td width="58" valign="top">111-120</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top">1</td>
<td width="47" valign="top">1</td>
<td width="49" valign="top">1.1</td>
<td width="58" valign="top">1.2</td>
<td width="58" valign="top">1.3</td>
<td width="58" valign="top">1.4</td>
<td width="60" valign="top">1.5</td>
<td width="56" valign="top">1.6</td>
<td width="58" valign="top">1.7</td>
<td width="58" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top">2</td>
<td width="47" valign="top">0.5</td>
<td width="49" valign="top">0.55</td>
<td width="58" valign="top">0.60</td>
<td width="58" valign="top">0.65</td>
<td width="58" valign="top">0.70</td>
<td width="60" valign="top">0.75</td>
<td width="56" valign="top">0.80</td>
<td width="58" valign="top">0.85</td>
<td width="58" valign="top">0.90</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Tabel 2. Bobot sks staf per 1 sks mahasiswa pada kegiatan kuliah untuk jenjang Pasca Sarjana selama 1 semester.</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>Jml dosen</em></td>
<td colspan="8" width="439" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa per kelas</em></td>
<td width="3">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em> (orang)</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1-25</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>26-30</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>31-35</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>36-40</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>41-45</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>46-50</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>51-55</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>56-60</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.1</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.2</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.4</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>1.7</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>2</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.5</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>0.55</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.60</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.65</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.70</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>0.75</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>0.80</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>0.85</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78"> </td>
<td width="47"> </td>
<td width="49"> </td>
<td width="58"> </td>
<td width="58"> </td>
<td width="58"> </td>
<td width="60"> </td>
<td width="56"> </td>
<td width="55"> </td>
<td width="3"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p> Tabel 3. Bobot sks  staf per 1 sks mahasiswa pada kegiatan praktikum untuk jenjang S0, S1 dan <em>Pasca Sarjana</em> selama 1 semester</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="79" valign="top">Jml dosen</td>
<td colspan="9" width="511" valign="top">Jumlah mahasiswa per kelas</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"> (orang)</td>
<td width="48" valign="top">1-25</td>
<td width="50" valign="top">26-30</td>
<td width="59" valign="top">31-35</td>
<td width="59" valign="top">36-40</td>
<td width="59" valign="top">41-45</td>
<td width="61" valign="top">46-50</td>
<td width="57" valign="top">51-55</td>
<td width="59" valign="top">56-60</td>
<td width="59" valign="top">61-65</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">1</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
<td width="50" valign="top">1.1</td>
<td width="59" valign="top">1.2</td>
<td width="59" valign="top">1.3</td>
<td width="59" valign="top">1.4</td>
<td width="61" valign="top">1.5</td>
<td width="57" valign="top">1.6</td>
<td width="59" valign="top">1.7</td>
<td width="59" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">2</td>
<td width="48" valign="top">0.5</td>
<td width="50" valign="top">0.55</td>
<td width="59" valign="top">0.60</td>
<td width="59" valign="top">0.65</td>
<td width="59" valign="top">0.70</td>
<td width="61" valign="top">0.75</td>
<td width="57" valign="top">0.80</td>
<td width="59" valign="top">0.85</td>
<td width="59" valign="top">0.90</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>  </em></p>
<p><em>Tabel 4. Bobot sks  staf per 1 sks mahasiswa pada kegiatan asistensi kuliah atau tutorial untuk jenjang S0, S1dan Pasca Sarjana selama 1 semester</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>Jml dosen</em></td>
<td colspan="9" width="511" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa per kelas</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em> (orang)</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>1-25</em></td>
<td width="50" valign="top"><em>26-30</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>31-35</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>36-40</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>41-45</em></td>
<td width="61" valign="top"><em>46-50</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>51-55</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>56-60</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>61-65</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="50" valign="top"><em>1.1</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>1.2</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>1.4</em></td>
<td width="61" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>1.7</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>1.8</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>2</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0.5</em></td>
<td width="50" valign="top"><em>0.55</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>0.60</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>0.65</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>0.70</em></td>
<td width="61" valign="top"><em>0.75</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.80</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>0.85</em></td>
<td width="59" valign="top"><em>0.90</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tabel 5. Bobot sks  staf setiap kegiatan bimbingan kuliah kerja (PPL, PPSD, KKN, KKU, Magang) untuk jenjang S0 dan S1</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="78" valign="top">Jml dosen</td>
<td colspan="9" width="500" valign="top">Jumlah mahasiswa per kelompok</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"> (orang)</td>
<td width="47" valign="top">1-25</td>
<td width="49" valign="top">26-30</td>
<td width="58" valign="top">31-35</td>
<td width="58" valign="top">36-40</td>
<td width="58" valign="top">41-45</td>
<td width="60" valign="top">46-50</td>
<td width="56" valign="top">51-55</td>
<td width="58" valign="top">56-60</td>
<td width="58" valign="top">61-65</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top">1</td>
<td width="47" valign="top">1</td>
<td width="49" valign="top">1.1</td>
<td width="58" valign="top">1.2</td>
<td width="58" valign="top">1.3</td>
<td width="58" valign="top">1.4</td>
<td width="60" valign="top">1.5</td>
<td width="56" valign="top">1.6</td>
<td width="58" valign="top">1.7</td>
<td width="58" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top">2</td>
<td width="47" valign="top">0.5</td>
<td width="49" valign="top">0.55</td>
<td width="58" valign="top">0.60</td>
<td width="58" valign="top">0.65</td>
<td width="58" valign="top">0.70</td>
<td width="60" valign="top">0.75</td>
<td width="56" valign="top">0.80</td>
<td width="58" valign="top">0.85</td>
<td width="58" valign="top">0.90</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tabel 6. Bobot sks  staf setiap kegiatan bimbingan tugas akhir/skripsi untuk jenjang S0 dan S1</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="79" valign="top">Status</td>
<td colspan="9" width="499" valign="top">Jumlah mahasiswa</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"> Pebimbing</td>
<td width="47" valign="top">1-6</td>
<td width="49" valign="top">7</td>
<td width="57" valign="top">8</td>
<td width="58" valign="top">9</td>
<td width="57" valign="top">10</td>
<td width="60" valign="top">11</td>
<td width="56" valign="top">12</td>
<td width="58" valign="top">13</td>
<td width="57" valign="top">14</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">PU</td>
<td width="47" valign="top">1</td>
<td width="49" valign="top">1.15</td>
<td width="57" valign="top">1.3</td>
<td width="58" valign="top">1.45</td>
<td width="57" valign="top">1.60</td>
<td width="60" valign="top">1.75</td>
<td width="56" valign="top">1.90</td>
<td width="58" valign="top">2.05</td>
<td width="57" valign="top">2.20</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">PP</td>
<td width="47" valign="top">0.75</td>
<td width="49" valign="top">0.825</td>
<td width="57" valign="top">0.90</td>
<td width="58" valign="top">0.975</td>
<td width="57" valign="top">1,20</td>
<td width="60" valign="top">1.312</td>
<td width="56" valign="top">1.425</td>
<td width="58" valign="top">1.537</td>
<td width="57" valign="top">1.65</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Tabel 7. Bobot sks  staf setiap kegiatan bimbingan tugas akhir/skripsi untuk jenjang S2</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>Status</em></td>
<td colspan="7" width="390" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em> Pebimbing</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1-3</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>4</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>5</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>6</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>7</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>8</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>9</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>PU</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.9</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>2,2</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>2,5</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>2,8</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>PP</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.75</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1,0</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1,2</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1,4</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1,65</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>1,9</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>2,1</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Tabel 8. Bobot sks  staf setiap kegiatan bimbingan tugas akhir/skripsi untuk jenjang S3</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>Status</em></td>
<td colspan="7" width="390" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em> Pebimbing</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1-2</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>3</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>4</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>5</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>6</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>7</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>8</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>PU</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>2,0</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>2,5</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>3,0</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>3,5</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>2,8</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"><em>PP</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0,75</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1,1</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1,5</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1,9</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>2,25</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>2,6</em></td>
<td width="62" valign="top"><em>2,1</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tabel 9. Bobot sks  staf setiap kegiatan seminar dihadapan sekelompok mahasiswa untuk jenjang S0 dan S1</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="79" valign="top">Jumlah dan</td>
<td colspan="9" width="511" valign="top">Jumlah mahasiswa per kelas</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top"> Lama keg.</td>
<td width="48" valign="top">1-40</td>
<td width="50" valign="top">41-50</td>
<td width="59" valign="top">51-60</td>
<td width="59" valign="top">61-70</td>
<td width="59" valign="top">71-80</td>
<td width="61" valign="top">81-90</td>
<td width="57" valign="top">91-100</td>
<td width="59" valign="top">101-110</td>
<td width="59" valign="top">111-120</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">6 x 1 jam</td>
<td width="48" valign="top">0.3</td>
<td width="50" valign="top">0.37</td>
<td width="59" valign="top">0.4</td>
<td width="59" valign="top">0.43</td>
<td width="59" valign="top">0.47</td>
<td width="61" valign="top">0.50</td>
<td width="57" valign="top">0.53</td>
<td width="59" valign="top">0.57</td>
<td width="59" valign="top">0.60</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">9 x 1 jam</td>
<td width="48" valign="top">0.5</td>
<td width="50" valign="top">0.55</td>
<td width="59" valign="top">0.6</td>
<td width="59" valign="top">0.65</td>
<td width="59" valign="top">0.70</td>
<td width="61" valign="top">0.75</td>
<td width="57" valign="top">0.80</td>
<td width="59" valign="top">0.85</td>
<td width="59" valign="top">0.90</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">18 x 1 jam</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
<td width="50" valign="top">1.1</td>
<td width="59" valign="top">1.2</td>
<td width="59" valign="top">1.3</td>
<td width="59" valign="top">1.4</td>
<td width="61" valign="top">1.5</td>
<td width="57" valign="top">1.6</td>
<td width="59" valign="top">1.7</td>
<td width="59" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">6 x 2 jam</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
<td width="50" valign="top">1.1</td>
<td width="59" valign="top">1.2</td>
<td width="59" valign="top">1.3</td>
<td width="59" valign="top">1.4</td>
<td width="61" valign="top">1.5</td>
<td width="57" valign="top">1.6</td>
<td width="59" valign="top">1.7</td>
<td width="59" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">9 x 2 jam</td>
<td width="48" valign="top">1</td>
<td width="50" valign="top">1.1</td>
<td width="59" valign="top">1.2</td>
<td width="59" valign="top">1.3</td>
<td width="59" valign="top">1.4</td>
<td width="61" valign="top">1.5</td>
<td width="57" valign="top">1.6</td>
<td width="59" valign="top">1.7</td>
<td width="59" valign="top">1.8</td>
</tr>
<tr>
<td width="79" valign="top">18 x 2 jam</td>
<td width="48" valign="top">2</td>
<td width="50" valign="top">2.2</td>
<td width="59" valign="top">2.4</td>
<td width="59" valign="top">2.6</td>
<td width="59" valign="top">2.8</td>
<td width="61" valign="top">3.0</td>
<td width="57" valign="top">3.2</td>
<td width="59" valign="top">3.4</td>
<td width="59" valign="top">3.6</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em> Tabel 10. Bobot sks  staf setiap kegiatan seminar dihadapan sekelompok mahasiswa untuk jenjang Pasca Sarjana</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>Jumlah dan</em></td>
<td colspan="8" width="439" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa per kelas</em></td>
<td width="3">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em> Lama keg.</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1-25</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>26-30</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>31-35</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>36-40</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>41-45</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>46-50</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>51-55</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>56-60</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>6 x 1 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.3</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>0.37</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.4</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.43</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.47</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>0.50</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>0.53</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>0.57</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>9 x 1 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>0.5</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>0.55</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.6</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.65</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.70</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>0.75</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>0.80</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>0.85</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>18 x 1 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.1</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1.2</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.4</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>1.7</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>6 x 2 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.1</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1.2</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.4</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>1.7</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>9 x 2 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>1.1</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1.2</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.3</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1.4</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>1.5</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>1.6</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>1.7</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78" valign="top"><em>18 x 2 jam</em></td>
<td width="47" valign="top"><em>2</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>2.2</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>2.4</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>2.6</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>2.8</em></td>
<td width="60" valign="top"><em>3.0</em></td>
<td width="56" valign="top"><em>3.2</em></td>
<td colspan="2" width="58" valign="top"><em>3.4</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="78"> </td>
<td width="47"> </td>
<td width="49"> </td>
<td width="57"> </td>
<td width="58"> </td>
<td width="58"> </td>
<td width="60"> </td>
<td width="56"> </td>
<td width="55"> </td>
<td width="3"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tabel 11. Bobot sks  staf setiap kegiatan menguji tugas akhir/skripsi, Bimbingan Seminar Akademik, Pembimbing Akademik dan Bimbingan Konseling untuk jenjang S0 dan S1</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="88" valign="top">Jenis</td>
<td colspan="9" width="489" valign="top">Jumlah mahasiswa</td>
</tr>
<tr>
<td width="88" valign="top">Kegiatan</td>
<td width="46" valign="top">1</td>
<td width="48" valign="top">2</td>
<td width="56" valign="top">3</td>
<td width="56" valign="top">4</td>
<td width="57" valign="top">5</td>
<td width="58" valign="top">6</td>
<td width="55" valign="top">7</td>
<td width="56" valign="top">8</td>
<td width="57" valign="top">9</td>
</tr>
<tr>
<td width="88" valign="top">Menguji tugas akhisr/skripsi</td>
<td width="46" valign="top">0.1</td>
<td width="48" valign="top">0.2</td>
<td width="56" valign="top">0.3</td>
<td width="56" valign="top">0.4</td>
<td width="57" valign="top">0.5</td>
<td width="58" valign="top">0.6</td>
<td width="55" valign="top">0.7</td>
<td width="56" valign="top">0.8</td>
<td width="57" valign="top">0.9</td>
</tr>
<tr>
<td width="88" valign="top">Membimbing Sem. Akad.</td>
<td width="46" valign="top">0.1</td>
<td width="48" valign="top">0.2</td>
<td width="56" valign="top">0.3</td>
<td width="56" valign="top">0.4</td>
<td width="57" valign="top">0.5</td>
<td width="58" valign="top">0.6</td>
<td width="55" valign="top">0.7</td>
<td width="56" valign="top">0.8</td>
<td width="57" valign="top">0.9</td>
</tr>
<tr>
<td width="88" valign="top">Pb. Akademik</td>
<td width="46" valign="top">0.083</td>
<td width="48" valign="top">0.167</td>
<td width="56" valign="top">0.25</td>
<td width="56" valign="top">0.33</td>
<td width="57" valign="top">0.417</td>
<td width="58" valign="top">0.50</td>
<td width="55" valign="top">0.583</td>
<td width="56" valign="top">0.67</td>
<td width="57" valign="top">0.75</td>
</tr>
<tr>
<td width="88" valign="top">Bimbimgan &amp; Konseling</td>
<td width="46" valign="top">0.083</td>
<td width="48" valign="top">0.165</td>
<td width="56" valign="top">0.25</td>
<td width="56" valign="top">0.33</td>
<td width="57" valign="top">0.417</td>
<td width="58" valign="top">0.50</td>
<td width="55" valign="top">0.583</td>
<td width="56" valign="top">0.67</td>
<td width="57" valign="top">0.75</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Tabel 12. Bobot sks  staf setiap kegiatan menguji tugas akhir/skripsi, Bimbingan Seminar Akademik, Pembimbing Akademik dan Bimbingan Konseling untuk jenjang Pasca Sarjana</em></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Jenis</em></td>
<td colspan="9" width="490" valign="top"><em>Jumlah mahasiswa</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Kegiatan</em></td>
<td width="46" valign="top"><em>1</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>2</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>3</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>4</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>5</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>6</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>7</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>8</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>9</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Menguji tugas akhir/skripsi</em></td>
<td width="46" valign="top"><em>0.2</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0.4</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.6</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.8</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1,0</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>1,2</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>1,4</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1,6</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>1,8</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Membimbing Sem. Akad.</em></td>
<td width="46" valign="top"><em>0.1</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0.2</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.3</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.4</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.5</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.6</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>0.7</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.8</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.9</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Pb. Akademik</em></td>
<td width="46" valign="top"><em>0.083</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0.167</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.25</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.33</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.417</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.50</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>0.583</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.67</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.75</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="87" valign="top"><em>Bimbimgan &amp; Konseling</em></td>
<td width="46" valign="top"><em>0.083</em></td>
<td width="48" valign="top"><em>0.165</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.25</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.33</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.417</em></td>
<td width="58" valign="top"><em>0.50</em></td>
<td width="55" valign="top"><em>0.583</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.67</em></td>
<td width="57" valign="top"><em>0.75</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. Penelitian dan Pengembangan Ilmu</strong></p>
<p> 1. Satu judul penelitian kelompok dihargai 4 sks, dengan rincian</p>
<p>            Ketua               = 2 sks</p>
<p>            Anggota           = 2 sks jika jumlah anggota 1 orang</p>
<p>            Anggota           = 1 sks, jika jumlah anggota 2 orang</p>
<p> 2. Satu judul penelitian mandiri 4 sks</p>
<p> 3. Menulis 1 judul naskah buku yang akan diterbitkan dalam waktu sebanyak-banyaknya 4 semester (disetujui oleh pimpinan dan tercatat).</p>
<p>            Diterbitkan oleh penerbit           = 3 sks</p>
<p>            Kalangan sendiri                       = 1 sks</p>
<p> 4. Menterjemahkan atau menyadur 1 judul naskah buku yang akan diterbitkan dalam waktu waktu sebanyak-banyaknya 4 semester (disetujui oleh pimpinan dan tercatat)</p>
<p>            Diterbitkan oleh penerbit           = 2 sks</p>
<p>            Kalangan sendiri                       = 0.75 sks</p>
<p> 5. Menyunting 1 judul naskah buku yang akan diterbitkan dalam waktu waktu sebanyak-banyaknya 4 semester (disetujui oleh pimpinan dan tercatat)</p>
<p>            Diterbitkan oleh penerbit           = 2 sks</p>
<p>            Kalangan sendiri                       = 0.75 sks</p>
<p>5. Menulis artikel ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal</p>
<p>            Lokal               = 1 sks</p>
<p>            Nasional           = 2 sks</p>
<p>            Internasional     = 3 sks</p>
<p><em>7. Artikel ilmiah dalam bentuk presentasi ilmiah</em></p>
<p><em>            Lokal               = 1 sks</em></p>
<p><em>            Nasional          = 2 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 3 sks</em></p>
<p><em>8. Menulis artikel ilmiah dalam bentuk poster</em></p>
<p><em>            Nasional          = 1 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 2 sks</em></p>
<p><em>9. Menulis satu judul artikel ilmiah populer di majalah atau koran</em></p>
<p><em>            Lokal               = 0,05 sks</em></p>
<p><em>            Nasional          = 0,1 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 0,2 sks</em></p>
<p><em>10. Berperan aktif dalam seminar nasional/internasional = 0,1 sks</em></p>
<p><em>11. Membuat satu naskah monografi (disetujui dan tercatat)           = 1,5 sks</em></p>
<p><em>12. Membuat rancangan &amp; karya teknologi yang dipatenkan</em></p>
<p><em>            Nasional          = 2 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 4 sks</em></p>
<p><em>13. Membuat rancangan &amp; karya teknologi, rancangan &amp; karya seni</em></p>
<p><em>            Lokal               = 0,5 sks</em></p>
<p><em>            Nasional          = 1 sks</em></p>
<p><em>            Internasional   = 2 sks</em></p>
<p> 14. Tugas belajar S2/S3 = 12 sks</p>
<p> 15. Tugas belajar untuk Akta Mengajar V = 6 sks</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> C. Pengabdian pada Masyarakat</strong></p>
<p>Jenis pengabdian</p>
<p>1. Membantu 1 perkara di pengadilan (disetujui oleh pimpinan dan tercatat)       = 1 sks</p>
<p>2. Satu kegiatan pengabdian pada masyarakat insidental (disetujui oleh pimpinan    dan tercatat) = 0,1 sks.</p>
<p><em>3. Satu judul pengabdian yang dilakukan selama 2-5 bulan  = 0,5 sks</em></p>
<p>4. Satu judul pengabdian yang dilakukan selama  5 bulan  = 1 sks</p>
<p>5. Satu judul pengabdian yang dilakukan selama  10 bulan = 2 sks</p>
<p><em>6. Menulis karya pengabdian yang tidak dipublikasikan per judul    =0,1 sks</em></p>
<p><em>7. Narasumber/instruktur pada suatu pelatihan per kegiatan           = 0,1 sks</em></p>
<p><em>8. Reviewer atau penelaah pada kegiatan tridarma perguruan tinggi per kegiatan = 0,1 sks. </em></p>
<p>Jika kegiatan tersebut dilakukan secara berkelompok dirinci sebagai berikut:</p>
<p>Ketua = 60% dan sisanya (40%) dibagi rata sesuai dengan jumlah anggotanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> D. Pembinaan Sivitas Akademika</strong></p>
<p>1. Pimpinan pembinaan unit kegiatan mahasiswa (penalaran, UKM dll) = 1 sks;  Sekretaris dan Wakil Ketua       = 0,75 sks; dan Anggota Pengurus = 0,50 sks</p>
<p> 2. Pimpinan organisasi social intern UNIB (Korpri, Dharma wanita dll) = 1 sks; Sekretaris dan Wakil Ketua = 0,75 sks; dan Anggota Pengurus = 0,50 sks</p>
<p><em>3. Membimbing dosen yang lebih rendah jabatan fungsional sebanyak-banyaknya 3 orang dosen = 1 sks</em></p>
<p><em>4 Membimbing kegiatan mahasiswa per semester = 0,5 sks</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong><strong>E. Administrasi dan Manajemen</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="208" valign="top">Jabatan Struktural</td>
<td width="78" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="243" valign="top">Ketua editor jurnal</td>
<td width="49" valign="top">1</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Rektor UNIB</td>
<td width="78" valign="top">12</td>
<td width="243" valign="top">Sekretaris editor jurnal</td>
<td width="49" valign="top">0.75</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Pembantu Rektor</td>
<td width="78" valign="top">10</td>
<td width="243" valign="top">Anggota pengurus jurnal</td>
<td width="49" valign="top">0.25</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Dekan</td>
<td width="78" valign="top">10</td>
<td width="243" valign="top"><em>Ketua panitia ad hock &lt; 1 semester</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>0,5</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Ketua Lembaga</td>
<td width="78" valign="top">8</td>
<td width="243" valign="top"><em>Sekretaris panitia ad hock &lt; 1 semester</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>0,4</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Sekretaris lembaga</td>
<td width="78" valign="top">6</td>
<td width="243" valign="top"><em>Anggota panitia ad hock &lt; 1 semester</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>0,1</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Kepala UPT</td>
<td width="78" valign="top">8</td>
<td width="243" valign="top">Ketua panitia tetap (&gt;2 smt)</td>
<td width="49" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Sekretaris UPT</td>
<td width="78" valign="top">6</td>
<td width="243" valign="top">    Tingkat universitas (U)</td>
<td width="49" valign="top">2</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Pembantu Dekan</td>
<td width="78" valign="top">6</td>
<td width="243" valign="top">    Tingkat fakultas (F)</td>
<td width="49" valign="top">2</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Ketua Jurusan</td>
<td width="78" valign="top">6</td>
<td width="243" valign="top">    Tingkat jurusan/PS</td>
<td width="49" valign="top">1</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Sekretaris Jurusan</td>
<td width="78" valign="top">4</td>
<td width="243" valign="top">    Sekretaris/wakil (U dan F)</td>
<td width="49" valign="top">1.5</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Kepala Pusat</td>
<td width="78" valign="top">6</td>
<td width="243" valign="top">    Anggota pengurus (U dan F)</td>
<td width="49" valign="top">1</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Sekretaris Pusat</td>
<td width="78" valign="top">4</td>
<td width="243" valign="top">    Sekretaris/wakil (Jur/PS)</td>
<td width="49" valign="top">1</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Kepala lab/studio</td>
<td width="78" valign="top">3</td>
<td width="243" valign="top">    Anggota pengurus (Jur/PS)</td>
<td width="49" valign="top">0.5</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top"><em>Sekretaris lab/studion</em></td>
<td width="78" valign="top"><em>2</em></td>
<td width="243" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="49" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Ketua PS setara jurusan (PSSJ)</td>
<td width="78" valign="top">6</td>
<td width="243" valign="top"><em>Direktur Pasca Sarjana setingkat Dekan</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>10</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Sekretaris PSSJ</td>
<td width="78" valign="top">4</td>
<td width="243" valign="top"><em>Asisten Direktur Pasca Sarjana setingkat Pembantu Dekan</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>6</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="78" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="243" valign="top"><em>Ketua Program Studi Pasca Sarjana</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>4</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Jabatan non structural</td>
<td width="78" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="243" valign="top"><em>Asisten Program Studi Pasca Sarjana</em></td>
<td width="49" valign="top"><em>3</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Sekretaris senat universitas</td>
<td width="78" valign="top">4</td>
<td width="243" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="49" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Sekretaris senat fakultas</td>
<td width="78" valign="top">4</td>
<td width="243" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="49" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Ketua Program Studi</td>
<td width="78" valign="top">4</td>
<td width="243" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="49" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Sekretaris Program Studi</td>
<td width="78" valign="top">3</td>
<td width="243" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="49" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top">Ketua Panitia ad hok (&gt; 2 smt)</td>
<td width="78" valign="top"> 1</td>
<td width="243" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="49" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top"><em>Sekretaris panitia ad hock</em></td>
<td width="78" valign="top"><em>0,75</em></td>
<td width="243" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="49" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="208" valign="top"><em>Anggota panitia ad hock</em></td>
<td width="78" valign="top"><em>0,25</em></td>
<td width="243" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="49" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Catatan:</p>
<p>1) Dalam satu event seminar, seorang dosen hanya diperbolehkan satu sebagai pemakalah utama dan satu sebagai pemakalah pendamping.</p>
<p>2) Dalam EWMP bidang pengembangan ilmu jika lebih dari satu dosen, maka penulis utama = 60% dan penulis pendamping 40% dibagi secara proporsional bergantung kepada jumlah anggota.</p>
<p>3) Senat, BPPU, BPM, BATIK, UPM, Komisi Skripsi dan yang sejenis merupakan panitia tetap.</p>
<p>4) Yang dicetak miring adalah baru (yang diusulkan), sementara yang tidak dicetak miring adalah Peraturan Rektor tentang EWMP.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1512/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1512&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/29/pedoman-penghitungan-ekivalen-waktu-mengajar-penuh-ewmp-universitas-bengkulu-usulan-draft-revisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KETERAMPILAN MENAHAN DIRI DARI SEGALA NAFSU</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/27/keterampilan-menahan-diri-dari-segala-nafsu/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/27/keterampilan-menahan-diri-dari-segala-nafsu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 22:48:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[hawa nafsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1510</guid>
		<description><![CDATA[Dikompilasi Oleh: Urip Santoso
Dalam hadist yang terkenal, Rasulullah menyatakan bahwa dirinya tidak diutus kecuali untuk memperbaiki akhlaq manusia. Akhlaq yang mulia berkaitan erat dengan keterampilan mengelola hawa nafsu. Kita semua mengetahui bahwa semakin beradab manusia, maka semakin banyak aturan yang diperlukan untuk menjadikan manusia beradab. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1510&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dikompilasi Oleh: Urip Santoso</p>
<p>Dalam hadist yang terkenal, Rasulullah menyatakan bahwa dirinya tidak diutus kecuali untuk memperbaiki akhlaq manusia. Akhlaq yang mulia berkaitan erat dengan keterampilan mengelola hawa nafsu. Kita semua mengetahui bahwa semakin beradab manusia, maka semakin banyak aturan yang diperlukan untuk menjadikan manusia beradab. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan Allah (terutama jika dibandingkan dengan alam, tumbuh-tumbuhan dan hewan). Untuk mencapai derajat manusia yang mulia (sempurna) diperlukan berbagai aturan yang mengatur perilaku manusia itu sendiri. Untuk menjadi makhluk yang mulia, manusia harus berbeda perilakunya dengan makhluk lain, misalnya hewan. Hewan tidak dituntut untuk menahan hawa nafsu mereka, sementara manusia itu dituntut melakukannya. Ini sesuai dengan derajat manusia. Jika manusia tidak mampu mengelola hawa nafsunya maka mereka sama dengan atau bahkan lebih buruk baru hewan. Nah, untuk menjadi makhluk yang mulia, manusia perlu memiliki keterampilan dalam mengelola hawa nafsu, agar hawa nafsunya terkendali dan mengarah kepada yang dikehendaki oleh Allah s.w.t. <span id="more-1510"></span></p>
<p>1) Pengertian Hawa Nafsu</p>
<p> Hawa nafsu terdiri dari dua perkataan: hawa dan nafsu &#8220;Dalam bahasa Melayu &#8216;nafsu&#8217; bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan perkataan hawa (=hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik. Adakalanya bermakna selera, jika dihubungkan dengan makanan. Nafsu syahwat pula berarti birahi atau keinginan bersetubuh. Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa kepada perkara yang haram. Dinamakan hawa karena menyeret pelakunya di dunia kepada kehancuran dan di akhirat kepada neraka Hawiyah.” (Mufradat Alfazhil Qur’an, hal. 848). Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyeru kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (Yusuf: 53). Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di –rahimahullah- berkata: “Kebanyakan hawa nafsu itu menyuruh pengekornya kepada kejahatan, yaitu kekejian dan seluruh perbuatan dosa.” Taisîr Al-Karîmirrahmān, hal. 400). Nafsu adalah kecondongan jiwa kepada perkara-perkara yang selaras dengan kehendaknya. Kecondongan ini secara fitrah telah diciptakan pada diri manusia demi kelangsungan hidup mereka. Sebab bila tak ada selera terhadap makanan, minuman dan kebutuhan biologis lainnya niscaya tidak akan tergerak untuk makan, minum dan memenuhi kebutuhan biologis tersebut.Nafsu mendorongnya kepada hal-hal yang dikehendakinya tersebut. Sebagaimana rasa emosional mencegahnya dari hal-hal yang menyakitinya. Imam Ghazali menyebut ada tiga bentuk perlawanan manusia terhadap hawa nafsu. Yang pertama, nafsu muthmainnah (nafsu yang tenang), yakni ketika iman menang melawan hawa nafsu, sehingga perbuatan manusia tersebut lebih banyak yang baik daripada yang buruk. Yang kedua, nafsu lawwamah (nafsu yang gelisah dan menyesali dirinya sendiri), yakni ketika iman kadangkala menang dan kadangkala kalah melawan hawa nafsu, sehingga manusia tersebut perbuatan baiknya relatif seimbang dengan perbuatan buruknya. Yang ketiga adalah nafsu la’ammaratu bissu’ (nafsu yang mengajak kepada keburukan), yakni ketika iman kalah dibandingkan dengan hawa nafsu, sehingga manusia tersebut lebih banyak berbuat yang buruk daripada yang baik.</p>
<p>2) Terminologi Hawa Nafsu dalam Alquran dan Sunnah</p>
<p> Hawa nafsu adalah istilah keislaman yang digunakan dalam Alquran dan Sunnah. la menjadi istilah dengan arti khas budaya keislaman. Sering kita menemukan kata hawa nafsu dalam Alquran dan Sunnah. Antara lain, Allah swt berfirman: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Q.S. Al-Furqon 43.) Dan firman Allah swt: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”(Q.S. An-Nazia’at 40- 41.) Amirul Mukminm Ali as dalam Nahjul Balaghahnya berkata: “Sesungguhnya yang paling aku kuatirkan pada kalian adalah dua hal, yaitu taat hawa nafsu dan angan-angan panjang.” Diriwayatkan melalui Imam Shâdiq bahwa Rasulullah saw bersabda: “Waspadalah terhadap hawa uafsu kalian sebagaimana kamu sekalian waspada terhadap musuh. Tiada yang lebih pantang bagi manusia daripada mengikuti hawa, nafsu dan ketergelinciran lidah yang tak bertulang.”</p>
<p>3) Enam Sumber dalam Jiwa Manusia</p>
<p>Untuk mengenal posisi hawa nafsu dalam jiwa dan perannya dalam kehidupan manusia, Allah swt telah memasang beberapa sumber gerak dan kesadaran manusia. Semua gerak -aktif ataupun reaktif- dan kesadaran manusia bermuara dari sumber-sumber ini. Tercatat ada enam sumber penting, yang terutamanya adalah hawa nafsu, sebagai berikut. 1. Fithrah, yang telah dilengkapi Allah dengan kecenderungan. hasrat dan gaya tarik menuju dan mengenal-Nya dan meraih keutamaan-keutamaan akhlak, seperti kesetiaan, harga diri, belas kasih dan murah hati. 2. ‘Aql, adalah titik pembeda manusia. 3. Irâdah, adalah pusat keputusan dan yang menjamin kebebasan manusia (dalam mengambil keputusan) dan kemerdekaannya. 4. Dhamir, yang berfungsi sebagai mahkamah dalam jiwa. la bertugas mengadili, mengecam dan melakukan penekanan terhadap manusia demi menyeimbangkan perilakunya. 5. Qalb, fuad dan shadr, merupakan jendela lain bagi kesadaran dan pengetahuan, sebagaimana kita pahami melalui ayat-ayat Alquran, yang dapat menerima atau menampung pencerahan Ilahi. 6. Al-hawa, adalah kumpulan berbagai nafsu dan keinginan dalam jiwa manuisia yang menuntut pemenuhan secara intensif. Bila tuntutannya terpenuhi, iadapat memberi manusia kenikmatan tersendiri. Inilah keenam sumber penting bagi gerak dan kesadaran jiwa manusia yang telah diberikan oleh Allah.</p>
<p>4) Hukuman yang di segerakan bagi Pengekor Hawa Nafsu</p>
<p>Allah “azza wa jalla- berfirman: “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan pada mereka (menunjukkan bahwa) Kami bersegera memeberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Al-Mukminun: 55-56). Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Barangsiapa menhendaki kehidupan dunia, maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami kehendaki baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Al-Isra’: 18). Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam,dan Jahannam itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Ali Imran: 196-197). Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (Al-Jatsiyah: 23). Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16). Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan mereka memperturutkan hawa nafsunya, maka perumpamaanya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya mengulurkan lidahnya. Dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga).” (Al-A’raf: 176).</p>
<p>5) Ratap Tangis Para Pengekor Hawa Nafsu</p>
<p> Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya dihadapan Rabbnya. (Mereka berkata): “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikan kami (kedunia). Kami akan mengerjakan amal shalih. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (As-Sajdah: 12). Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Mereka menyeru: “Hai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja, “Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).” (Az-Zukhruf: 77). Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka. Orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu mengindarkan kami sebagian api neraka?” Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Dan orang-orang yang kufur kepada Rabbnya, (mereka memperoleh) azab jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang mereka menggelagak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan kedalam sekumpulan (orang-orang yang kufur), penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepadamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada, Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun” Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penhuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.’ (Al-Mulk: 6-10). Allah –‘azza wa jalla- berfirman: “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan ke dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang lurus).” (Al-Ahzab: 66-67).</p>
<p>6) Langkah-langkah mengendalikan hawa nafsu</p>
<p> 1) memahami ilmu tentang baik dan buruk, benar dan salah, hukum fikih untuk berbagai perkara kehidupan dst. 2) Menerjemahkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dengan menggolongkan hal-hal yang terjadi di kehidupan sehari-hari dalam kategori hukum fikih (mubah, makruh, sunah, wajib, haram), atau jika belum bisa dikategorikan kita dapat mengkategorikan ke dalam baik dan buruk, benar dan salah.. 3) Istropeksi ke dalam diri mengenai perbuatan yang kita lakukan sehari-hari ke dalam hukum fikih dan/atau kategori benar dan salah, baik dan buruk. 4) Tabulasikan perilaku kita ke dalam hukum fikih tersebut dan/atau baik dan buruk, benar dan salah. 5) Rencanakan pengendalian hawa nafsu: a) tetapkan tujuan pengendalian hawa nafsu, yaitu mencapai derajat nafsu mutmainnah; b) tabulasikan aktivitas kita sehari-hari; c) baru kemudian setelah diketahui bahwa perbuatan kita termasuk yang tercela, maka secara bertahap kita lakukan pengendalian diri terhadap nafsu yang tercela itu. Mengapa bertahap? Karena saya yakin tidak mungkin dalam sekali niat kita bisa mampu mengendalikan nafsu tercela tersebut. Kita bisa membuat daftar mana yang lebih mudah dikendalikan, dan mana yang lebih susah. Dari ini kita buat tabulasi tentang target pengendalian hawa nafsu tadi.</p>
<p>6) Setelah kita membuat rencana pengelolaan hawa nafsu tersebut, baru kemudian kita lakukan rencana itu. Tahap pertama dalam pelaksanaan pengendalian hawa nafsu adalah bertobat (berniat sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan tercela itu, tidak melakukannya lagi dalam kehidupan sehari-hari, dan melakukan perbaikan).</p>
<p>1. Buang sampah sembarangan buruk a. Buang sampah pada tempatnya. b. Menyediakan tempat sampah di rumah dan kendaraan Segera</p>
<p>2. Setiap minggu minum arak haram a. Konsultasi dengan dokter b. Tidak minum arak lagi Bertahap sesuai anjuran dokter</p>
<p>3 Tidak mau antri buruk Berusaha antri dalam berbagai kesempatan Segera 4 Belanja ke mall di jam kerja buruk Tidak lagi belanja di jam kerja. Segera</p>
<p>Agar pelaksanaan rencana pengendalian hawa nafsu dapat berhasilguna maka kita harus mempunyai: • Tekad membara. • Kesabaran untuk memotivasi dirinya agar bersabar atas kepahitan yang dirasakan saat mengekang hawa nafsu. Kita harus mempunyai kekuatan jiwa untuk menumbuhkan keberaniaannya untuk bersabar. • Selalu memeperhatikan hasil yang baik dan kesembuhan yang didapat dari kesabaran. • Selalu mengingat pahitnya kepedihan yang dirasakan jika menuruti kehendak hawa nafsu. • Hendaklah lebih mengutamakan manis dan lezatnya menjaga kesucian diri dan kemuliaanya daripada kelezatan kemaksiatan. • Hendaklah bergembira dapat mengalahkan musuhnya, membuat musuhnya merana dengan membawa kemarahan, kedukaan dan kesedihan! Karena gagal meraih apa yang diinginkannya. Allah azza wa jalla suka kepada hamba yang dapat memperdaya musuhnya dan membuatnya marah (kesal). Allah berfirman : Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan demikian itu suatu amal shaleh. (At-Taubah:120). Dan salah satu tanda cinta yang benar adalah membuat kemarahan musuh kekasih yang dicintainya dan menaklukannya (musuh kekasih tersebut). • Senantiasa berpikir bahwa ia diciptakan bukan untuk memperturutkan hawa nafsu namun ia diciptakan untuk sebuah perkara yang besar, yaitu beribadah kepada Allah pencipta dirinya. Perkara tersebut tidak dapat diraihnya kecuali dengan mengendalikan hawa nafsu. Dalam upaya mengendalikan hawa nafsu, kita juga perlu memperhatikan hal berikut ini : 1. Banyak melakukan ibadah, terutama ibadah-ibadah sunnah (sholat dhuha, tahajud, baca Al Qur’an, dll). Sebab makanan hati yang bersih adalah ibadah. 2. Minta kepada Allah dengan sungguh-sungguh (berdoa) agar keinginan Anda semakin kuat untuk meninggalkan hal-hal yang buruk. Orang-orang bijak mengatakan, &#8221;Merdekakanlah dirimu dari segala jeratan dunia yang bukan hakmu. Engkau tak akan mampu menguasai sesuatu yang bukan hakmu.&#8221; Allah SWT berfirman, &#8221;Sungguh amat beruntung orang yang mampu memerdekakan dirinya.&#8221; (Q. S. 87: 14). 7) Mengendalikan amarah: 1. turunkan posisi fisik anda ; bila anda berdiri maka duduklah &#8211; bila anda duduk maka berbaringlah&#8230;tenangkan diri dan dengarkan nafas anda. 2. berwudhu-lah segera : dengan air wudhu maka api amarah setan insyaAllah lenyap dan terkontrol 3. baca Al-Quran dan berdzikir : hanya dng mengingat Allah maka hati akan tenang.. 4. berpuasa, adalah melatih manusia untuk mengendalikan amarahnya. Tidak saja hawa nafsu amarah, juga hawa nafsu atau keinginan untuk berumah tangga misalnya. Bila sdh memungkinkan maka bersegeralah berumah tanga krn itu salah satu ibadah, namun bila belum memungkinkan berpuasalah. 5. mind-set : ingatlah bahwa segala sesuatu ada hikmah atau kebaikan yg tersirat dari kejadian baik atau buruk yg kita temui sehari-hari. Bahkan pada taraf yang sudah tinggi, maka mind-set kita bisa distel bahwa tidak ada kejadian yg buruk- karena semua adalah ujian untuk kebaikan dan hikmah dari Allah buat kita sebagai hambaNya. Jamaah sholat subuh yang dimuliakan oleh Allah, tentu saja keterampilan dalam mengendalikan hawa nafsu tidak dating begitu saja. Kita harus terus melatih diri sampai akhir hayat kita. Semoga kita termasuk hamba Allah yang dapat mencapai nafsu muthmainnah (nafsu yang tenang) yang dipanggil oleh Allah ke dalam surga-Nya, amien. (Dikompilasi dari berbagai sumber di internet).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1510/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1510&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/27/keterampilan-menahan-diri-dari-segala-nafsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Diam dalam Komunikasi</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/25/makna-diam-dalam-komunikasi/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/25/makna-diam-dalam-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 03:38:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Diam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/25/makna-diam-dalam-komunikasi/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Urip Santoso 
            Ada kebiasaan di masyarakat tertentu bahwa diam berarti setuju. Misalnya, seorang gadis ketika dilamar oleh seseorang hanya diam. Nah, orang-orang yang disekitarnya menafsirkan bahwa gadis itu menerima. Ada pula ungkapan “diam itu emas”. Hal ini pernah dipraktekkan oleh Ibu Megawati. Beliau diam seribu bahasa. Tidak pernah memberi komentar atau pernyataan. Tapi ternyata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1509&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center">Oleh: Urip Santoso </p>
<p>            Ada kebiasaan di masyarakat tertentu bahwa diam berarti setuju. Misalnya, seorang gadis ketika dilamar oleh seseorang hanya diam. Nah, orang-orang yang disekitarnya menafsirkan bahwa gadis itu menerima. Ada pula ungkapan “diam itu emas”. Hal ini pernah dipraktekkan oleh Ibu Megawati. Beliau diam seribu bahasa. Tidak pernah memberi komentar atau pernyataan. Tapi ternyata lama-lama diam itu membuat orang menjadi ragu. Apa benar diamnya diam emas, atau diamnya diam tidak tahu, atau diam tidak bisa?</p>
<p>            Diam dalam ilmu komunikasi sesungguhnya orang tersebut juga berkomunikasi, sehingga dalam ilmu komunikasi disebutkan bahwa manusia itu tidak bisa tidak berkomunikasi. Diam saja pun juga berkomunikasi. Dalam proses komunikasi sehari-hari diam mempunyai beberapa fungsi, yaitu:<span id="more-1509"></span></p>
<p>1) memberi kesempatan berpikir</p>
<p>            Seringkali diam berfungsi untuk memberikan waktu berpikir bagi seorang pembicara. Pembicara diam sesaat untuk berpikir apa yang sebaiknya dibicarakan berikutnya. Dalam rapat misalnya, semua peserta rapat diam. Diam disini dapat berfungsi sebagai memberi kesempatan berpikir kepada peserta rapat. Demikian pula ketika seseorang bertanya kepada seseorang akan diam sesaat sambil menunggu apa jawaban dari orang itu. Tentu saja disini yang bertanya diam untuk memberi kesempatan berpikir.</p>
<p>2) Menyakiti</p>
<p>            Diam juga bisa bertujuan untuk menyakiti seseorang. Banyak orang yang suka mendiamkan seseorang yang menjengkelkan. Misalnya dua orang yang bertengkar akan saling mendiamkan. Fungsi lain diam adalah menolak keberadaan dan peran seseorang di dalam suatu kelompok.</p>
<p>3) Mengisolasi diri</p>
<p>            Kadangkala diam juga berfungsi sebagai tanggapan seseorang terhadap rasa takut, malu, atau cemas. Misalnya, seseorang merasa cemas dan malu di dalam suatu kelompok orang-orang.</p>
<p>4) Mencegah komunikasi</p>
<p>            Dengan diam dapat dimaksudkan sebagai upaya untuk menolak membicarakan hal-hal tertentu. Contohnya, seseorang menolak membicarakan pribadi orang lain. Disamping itu diam juga berarti mencegah seseorang akan melakukan kesalahan atau berbicara salah.</p>
<p>5) Mengkomunikasikan perasaan</p>
<p>            Diam juga dapat dimaksudkan memberikan tanggapan-tanggapan emosional. Misalnya seseorang diam untuk menolak dominasi satu terhadap yang lain di dalam hubungan antar pribadi.</p>
<p>6) Tidak menyampaikan ssesuatupun</p>
<p>            Seringkali diam terjadi karena di sana tidak ada yang saling berbicara, atau seseorang memang sedang tidak ingin melakukan atau mengatakan apapun.</p>
<p> </p>
<p>            Kadang kala diam juga dimaksudkan untuk menjaga perasaan orang lain. Misalnya seseorang mengatakan sesuatu yang kurang tepat, orang yang mendengarkan diam saja. Orang lain diam karena segan menyanggahnya, karena dapat menyakiti orang tersebut, atau dapat membuat hubungan selanjutnya menjadi kaku. Diam kadang juga mengekspresikan tidak percaya kepada pernyataan seseorang. Diam dapat juga mengekspresikan rasa diri tinggi. Misalnya, ia tidak perlu menanggapi pernyataan seseorang karena dinilai seseorang itu adalah seorang yang lebih rendah derajatnya (dalam anggapannya tentu saja). Diam dapat juga berarti mengejek atau meremehkan.</p>
<p>            Ya, ternyata diam itu banyak memberi informasi dalam komunikasi. Masalahnya, seringkali kita salah menginterpretasikan aksi diamnya seseorang. Dikira menerima, ternyata menolak. Dikira mengejek, nyatanya tidak mendengar.. ha&#8230;ha. Ayo, ada lagi nggak arti diam yang belum saya sebutkan. Ayo&#8230;, saya tunggu tambahannya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1509/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1509&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/25/makna-diam-dalam-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tobat</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/21/tobat/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/21/tobat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 21:41:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[tobat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1506</guid>
		<description><![CDATA[Tobat pada intinya ada tiga kondisi, yaitu berhenti, tidak melakukan lagi dan rekaveri. Jadi jika anda tobat, mohon ampun atas dosa dan kesalahan yang telah anda lakukan maka anda harus melakukan tiga hal tersebut. Pengakuan tobat harus dibarengi dengan niat sungguh-sungguh untuk berhenti dari perbuatan dosa tadi. Niat tersebut kemudian anda benar-benar laksanakan dalam kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1506&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tobat pada intinya ada tiga kondisi, yaitu berhenti, tidak melakukan lagi dan rekaveri. Jadi jika anda tobat, mohon ampun atas dosa dan kesalahan yang telah anda lakukan maka anda harus melakukan tiga hal tersebut. Pengakuan tobat harus dibarengi dengan niat sungguh-sungguh untuk berhenti dari perbuatan dosa tadi. Niat tersebut kemudian anda benar-benar laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan tidak melakukan dosa dan kejahatan tersebut. Bahkan tidak hanya itu, jika anda dalam melakukan kejahatan dan dosa yang berkaitan dengan manusia maka anda harus langsung meminta maaf kepada yangtelah anda jahati. Tnetu saja tidak mudah untuk meminta maaf, tapi itu harus anda lakukan. Jika dalam kejahatan yang anda lakukan ada hak yang telah anda ambil, maka harus anda kembalikan. Rekaveri artinya anda melakukan amal sholeh dengan ikhlas karena Allah s.wt. semata. Amal sholeh yang anda lakukan itu adalah untuk menutupi dosa dan kejahatan yang telah anda lakukan. Dengan cara ini Insya Allah, Allah akan menerima tobat anda dan menghapus dosa dan kesalahan anda serta menggantinya dengan pahala yang berlimpah.</p>
<p>Tapi, anda jangan berpikir bahwa amal sholeh andalah yang menyebabkan tobat anda diterima. Amal sholeh yang anda lakukan adalah untuk diri anda sendiri. Dalam suatu kisah, ada seorang hamba Allah yang beribadah selama 500 tahun, kemudian dalam persidangan dihadapan Allah ditetapkan hamba itu masuk surga karena Allah. Tapi hamba itu menyanggah bahwa dia masuk surga karena ibadahnya selama 500 tahun. Kemudian Allah menyuruh malaikat menghitung amalannya. Ternyata ibadah selama 500 tahun itu hanya mampu mengganti nikmat Allah satu biji mata. Akhirnya sadarlah hamba itu dan mohon dimasukkan ke dalam surga karena rahmat-Nya (bersambung).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1506/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1506&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/21/tobat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Musibah</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/09/musibah/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/09/musibah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 22:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1497</guid>
		<description><![CDATA[Setiap manusia berbeda-beda dalam menanggapi musibah yang dihadapi. Ada yang tabah, ada yang sedih tapi terkendali, ada yang tenang-tenang saja dan ada pula yang sedih berlebihan. Setiap terjadi bencana pada suatu wilayah atau pada diri seseorang, komentar orangpun berbeda-beda pula. Ada yang menganggap itu suatu cobaan dan pasti ada hikmah yang dapat diambil&#8211; tentu saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1497&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setiap manusia berbeda-beda dalam menanggapi musibah yang dihadapi. Ada yang tabah, ada yang sedih tapi terkendali, ada yang tenang-tenang saja dan ada pula yang sedih berlebihan. Setiap terjadi bencana pada suatu wilayah atau pada diri seseorang, komentar orangpun berbeda-beda pula. Ada yang menganggap itu suatu cobaan dan pasti ada hikmah yang dapat diambil&#8211; tentu saja jika mau menggalinya&#8211;, ada juga yang berpendapat itu adalah akibat dari perbuatan dosa dan kesalahan yang diperbuat oleh manusia itu sendiri agar mereka instropeksi, dan ada pula yang berpendapat itu tidak ada kaitan sama sekali dengan perbuatan manusia. Misalnya, gempa yang terjadi di Sumatera Barat itu memang daerah ini merupakan daerah gempa. Bukan berarti bahwa orang Sumbar telah banyak berbuat dosa, sehingga gempa terjadi. Lah, di Kalimantan tidak ada jalur gempa sehingga mereka yang tinggal di Kalimantan tidak pernah merasakan gempa. Apa itu berarti mereka tidak punya dosa?<span id="more-1497"></span></p>
<p>Lepas dari semua pendapat, ada beberapa hal yang akan saya uraikan berkaitan dengan bencana yang menimpa seseorang maupun suatu wilayah. Pertama, musibah merupakan ujian bagi umat manusia, khususnya umat Islam. Hal ini diuraikan dalam beberapa ayat di Al Qur&#8217;an. Tujuan ujian ini adalah untuk membedakan manusia berdasarkan tingkat ketaqwaan. Bagi yang lulus tentu saja meningkat taqwanya. Akan tetapi telah menunggu ujian lain yang lebih berat. Begitu seterusnya. Bagaimana sikap kita sebagai umat Islam? Sabar dan tawakal adalah kunci agar kita lulus ujian, yang berarti kita naik tingkat. Dalam Al Qur&#8217;an disebutkan bahwa manusia tidak akan dibiarkan begitu saja menyatakan beriman. Mereka akan diuji dengan berbagai ujian untuk membedakan mana yang benar imannya dan mana yang pura-pura, dan mana yang kurang sungguh-sungguh.  </p>
<p>Kedua, musibah merupakan peringatan bagi manusia. Manusia telah berbuat kerusakan di muka bumi. Hutan ditebang semau-maunya tanpa kendali, membangun  tanpa mengikuti standard yang berlaku dan lain-lain. Manusia telah berbuat dosa dan kesalahan dan lain sebagainya. Nah, untuk meluruskan perilaku manusia, maka Allah mendatangkan musibah sebagai peringatan. Sayangnya, seringkali kita sebagai manusia kurang peka terhadap peringatan Allah, sehingga perilaku kita tidak berubah atau bahkan menjadi-jadi.</p>
<p>Ketiga, musibah sebagai adzab. Jika kita baca di dalam Al Qur&#8217;an, maka Allah telah menurunkan adzab kepada umat yang terdahulu. Hal ini disebabkan oleh karena peringatan-peringatan Allah tidak digubris dan tidak dipercaya. Jika adzab Allah telah datang maka celakalah kita, karena tidak ada waktu lagi bagi kita bertobat sebab kita telah musnah.</p>
<p>Lalu bagaimana cara membedakan bahwa suatu musibah itu cobaan, peringatan atau adzab? Ada beberapa tahap yang bisa saya kemukakan. Tahap pertama, kita harus menguasai ilmu agama. Kita harus memahami mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Maka, tidak ada jalan lain selain memahami  Al Qur&#8217;an dan Hadist sejauh kemampuan kita masing-masing. Tahap kedua, adalah kita berusaha menerapkan pengetahuan kita itu sebagai amal sholeh dengan niat karena Allah semata. Tahap ketiga, evaluasi diri sejauh mana kita telah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan ketiga tahap ini, saya yakin bahwa kita bisa menilai diri kita dengan baik. Dengan ketiga langkah itu, seseorang akan dapat menilai apakah musibah yang menimpanya itu adalah ujian, peringatan atau adzab.</p>
<p>Jika kita menemukan musibah itu adalah ujian bagi kita, maka bersyukurlah kita bahwa Allah berkenan menguji kita. Kita berusaha sekuat tenaga agar kita lulus dengan baik. Insya Allah jika kita lulus, maka derajat ketaqwaan kita juga akan meningkat di sisi Allah. Akan tetapi kita harus sadar bahwa ujian itu tidak akan pernah habis selama kita masih hidup di dunia ini. Kita harus selalu siap menghadapi ujian-Nya. Kita wajib bersyukur diuji oleh Allah, karena banyak manusia yang tidak diuji oleh Allah, karena mereka sudah tersesat terlalu jauh.</p>
<p>Jika kita memahami bahwa musibah itu sebagai peringatan karena perbuatan kita sendiri, maka kita juga wajib bersyukur. Artinya Allah masih sayang kepada kita. Sebab dengan peringatan itu kita menjadi tahu apa kesalahan kita. Setelah tahu apa dosa dan kesalahan kita, maka kita bertobat dan melakukan perbaikkan. Banyak manusia yang tidak diberi peringatan lagi, karena mereka itu sudah tertutup hatinya. Dalam Al Qur&#8217;an juga disebutkan bahwa peringatan kepada manusia itu berfungsi untuk menyadarkan manusia dan kemudian agar mereka melakukan perbaikan-perbaikan.</p>
<p>Ada musibah yang akan menimpa bukan saja menimpa orang yang berbuat kejahatan tetapi juga menimpa(bersambung).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1497/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1497&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/09/musibah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Contoh Proposal Sarjana Membangun Desa</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/07/contoh-proposal-sarjana-membangun-desa/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/07/contoh-proposal-sarjana-membangun-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 01:16:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[proposal penelitian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1495</guid>
		<description><![CDATA[Swasembada daging diperpanjang sampai tahun 2014. Ini berarti program sarjana membangun desa (SMD) akan terus diperpanjang. Kalau pada tahun 2009 ini diterima 600 judul proposal,  tahun depan pasti lebih banyak lagi. Nah, para sarjana peternakan mari coba berkompetisi mendapatkan SMD. Anda bisa mendapat dana sampai lebih dari 300 juta untuk memulai usaha peternakan bersama kelompok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1495&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Swasembada daging diperpanjang sampai tahun 2014. Ini berarti program sarjana membangun desa (SMD) akan terus diperpanjang. Kalau pada tahun 2009 ini diterima 600 judul proposal,  tahun depan pasti lebih banyak lagi. Nah, para sarjana peternakan mari coba berkompetisi mendapatkan SMD. Anda bisa mendapat dana sampai lebih dari 300 juta untuk memulai usaha peternakan bersama kelompok tani anda. Berikut link contoh proposalnya.<a href="http://ngudimandiri.wordpress.com/2009/07/22/contoh-proposal-sarjana-membangun-desa-smd/"> Klik disini</a> SMDhttp://ngudimandiri.wordpress.com/2009/07/22/contoh-proposal-sarjana-membangun-desa-smd/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1495/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1495&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/07/contoh-proposal-sarjana-membangun-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semuanya Bergerak</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/06/semuanya-bergerak/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/06/semuanya-bergerak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 23:09:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1491</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita perhatikan fenomena alam, maka akan kita dapatkan bahwa semuanya itu bergerak, baik benda mati maupun benda hidup. Anda lihat bintang gemintang di langit. Bergerak bukan? Bintang gemintang itu begerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya saling menjauhi. Langit pun bergerak mengembang, bumi, planet, bulan dan benda-benda angkasa semuanya bergerak. Anda lihat batu yang diam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1491&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jika kita perhatikan fenomena alam, maka akan kita dapatkan bahwa semuanya itu bergerak, baik benda mati maupun benda hidup. Anda lihat bintang gemintang di langit. Bergerak bukan? Bintang gemintang itu begerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya saling menjauhi. Langit pun bergerak mengembang, bumi, planet, bulan dan benda-benda angkasa semuanya bergerak. Anda lihat batu yang diam bukan? sesungguhnya di dalam batu itu juga terjadi gerakan-gerakan. Cuma kita tidak bisa melihat.</p>
<p>Itu pada benda mati. Pada benda hidup pun terjadi gerak. Bahkan gerak menjadi salah satu ciri makhluk hidup. Tentu saja gerak pada makhluk hidup itu berbeda dengan gerak pada benda mati. Di dalam tubuh kita juga semuanya bergerak dan beraktivitas. Jika tidak ada aktivitas di dalam tubuh maka kita pun mati.<span id="more-1491"></span></p>
<p>Demikian pula dengan anggota tubuh kita, pikiran kita, hati kita, dan semuanya yang ada dalam diri kita itu bergerak. Gerakan itu bermacam-macam, tetapi dapat kita bedakan menjadi dua. Kalau tidak bergerak ke arah yang negatif, tentu bergerak ke arah yang positif, dan sebaliknya.  Kaki kita kalau tidak bergerak kepada hal-hal yang positif ya pasti bergerak ke arah yang negatif. Misalnya kaki kita tidak berjalan ke tempat yang negatif apapun namanya, maka sudah pasti kaki kita berjalan ke tempat yang positif. Sebab kaki itu selalu bergerak. Tangan kita juga selalu bergerak. Jika tidak melakukan perbuatan yang negatif, sudah pasti melakukan perbuatan yang positif. Misalnya, tangan kita kadang usil merusak pohon, bunga, koran atau yang lain. Nah, pada saat bergerak usil tadi kan tidak mungkin secara bersamaan bergerak sesuatu yang baik misalnya menolong orang. Ya kan! Nah, kalau tidak bergerak usil, pastilah bergerak ke arah positif misalnya menolong orang. Mulut dan lidah kita pun demikian ingin selalu bergerak. Kalau tidak bergerak yang buruk (misalnya bergunjing, menfitnah, menghasut dll) tentu bergerak yang positif (misalnya berdzikir, berkata santun, memberi nasihat dll). Demikian pula dengan mata, telinga dan hidung kita serta bahkan bibir kita. Nah, ketika semua anggota tubuh dalam keadaan diam, pikiran kita tidak bisa diam. Kalau tidak berpikir yang negatif (misalnya berangan-angan, merencanakan hal yang jahat dll), pastilah berpikir yang positif (misalnya berpikir siapa pencipta alam semesta ini, merencanakan kegiatan yang positif dll). Jadi, semua yang ada dalam tubuh kita bergerak.</p>
<p>Nah, kitalah yang harus mengatur gerakan itu. Untuk itu kita harus mempunyai kecakapan yang memadai agar dalam mengatur gerakan itu kita tidak salah langkah. Untuk mencapai kecakapan yang dibutuhkan maka kita perlu menimba ilmu. Ilmu diperlukan agar kita bisa membedakan salah dan benar, baik dan buruk dan lain-lain. Ilmu yang bersifat universal bukan saja berlaku bagi dunia tetapi juga berlaku bagi akhirat. Nah, disinilah agama berperan. Semua agama mengajarkan kebaikkan, tetapi hanya ada satu yang diakui kebenarannya oleh Sang Pencipta. Oleh sebab itu, kita harus mencurahkan segala akal budi dan kemampuan kita untuk memilih agama yang diakui oleh Sang Pencipta, agar kita tidak salah jalan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1491&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/10/06/semuanya-bergerak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang Pemudik</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/27/selamat-datang-pemudik/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/27/selamat-datang-pemudik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 08:06:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[umum]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1486</guid>
		<description><![CDATA[Lelah tapi puas barangkali itu perasaan para pemudik. Lelah karena mereka harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, puas karena bisa bersilaturahmi secara langsung kepada handai taulan, sahabat, orang tua, orang yang dihormati atau bahkan orang yang dicintainya. Segala macam hambatan terobati sudah.
Meskipun belum puas melepas rindu, namun apa daya pekerjaan telah menunggu. Pemudikpun, sudah puas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1486&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Lelah tapi puas barangkali itu perasaan para pemudik. Lelah karena mereka harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, puas karena bisa bersilaturahmi secara langsung kepada handai taulan, sahabat, orang tua, orang yang dihormati atau bahkan orang yang dicintainya. Segala macam hambatan terobati sudah.</p>
<p>Meskipun belum puas melepas rindu, namun apa daya pekerjaan telah menunggu. Pemudikpun, sudah puas atau belum puas, mau tidak mau harus kembali menekuni pekerjaan yang menjadi andalan dalam mencari sesuap nasi. Akan tetapi walau bagaimanapun tujuan mudik telah tercapai. Apa sebenarnya tujuan para pemudik itu? Tentu saja banyak macam dan ragamnya. Barangkali yang paling utama adalah silaturahmi. Memang di jaman sekarang sangat mudah menjalin silaturahmi dengan adanya teknologi. Akan tetapi silaturahmi secara langsung tetap lebih mempunyai kelebihan. Dengan bersilaturahmi secara langsung kita akan mencapai tujuan silaturahmi lebih baik. Jadi, akan lebih afdol jika silaturahmi dapat dilakukan baik secara langsung maupun via teknologi. Silaturahmi via teknologi dapat dilakukan setiap saat dengan biaya yang sangat murah. Silaturahmi secara langsung dapat dilakukan pada momen-momen yang penting seperti saat lebaran. Selain silaturahmi, mudik juga mempunyai manfaat lain yaitu meningkatkan keakraban keluarga itu sendiri. Mengapa? Sebab selama menempuh perjalanan bersama yang panjang, terjadi komunikasi yang intensif diantara anggota keluarga. Ini tentu saja dapat meningkatkan saling pengertian diantara mereka sendiri. Dalam perjalanan itu, kepala keluarga dapat memberikan pesan-pesan langsung dengan contoh-contoh yang mereka temukan di sepanjang perjalanan mudik. Mudah-mudahan dengan cara ini kualitas keluarga kecil menjadi lebih baik. Yang ketiga, mudik dapat meningkatkan wawasan anggota keluarga. Sebab dengan melihat langsung kota-kota yang ditemui di sepanjang perjalanan akan meningkatkan pengetahuan kognitif anggota keluarga. Pengetahuan kognitif ini diharapkan juga akan mampu  mengubah sikap dan perilaku negatif yang selama ini dilakukan oleh anggota keluarga. Dan masih banyak lagi hikmah yang dapat diambil.</p>
<p>Akan tetapi disamping tujuan yang baik, tentu saja kadang ada yang mempunyai tujuan lain. Ingin pamer! Ingin dipuji sebagai orang yang sukses! Atau tujuan lain yang kurang tepat.</p>
<p>Lepas dari semua tujuan itu, saya sebagai pengasuh blog ini mengucapkan &#8220;SELAMAT DATANG&#8221; dan &#8220;SELAMAT BEKERJA KEMBALI&#8221;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1486/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1486&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/27/selamat-datang-pemudik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MUDIK</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/10/mudik/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/10/mudik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 23:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[umum]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1484</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun liburan belum tiba, para pemudik sudah mulai mudik. Ya, mudik rasanya sudah menjadi budaya Indonesia. Mudik yang identik pulang kampung ketika lebaran sudah mendarah daging. Kalau tidak mudik rasanya ada yang hilang. Saya berpesan, niatkan mudik anda untuk bersilaturahmi karena Allah s.w.t. Perintah menyambung tali silaturahmi memang begitu ditekankan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1484&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Meskipun liburan belum tiba, para pemudik sudah mulai mudik. Ya, mudik rasanya sudah menjadi budaya Indonesia. Mudik yang identik pulang kampung ketika lebaran sudah mendarah daging. Kalau tidak mudik rasanya ada yang hilang. Saya berpesan, niatkan mudik anda untuk bersilaturahmi karena Allah s.w.t. Perintah menyambung tali silaturahmi memang begitu ditekankan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan silaturahmi kita dapat menyambung apa-apa yang telah terputus. Dengan silaturahmi akan tercipta suasana saling pengertian dan saling memaafkan. Dengan silaturahmi kita dapat saling lebih mengenal. Dengan silaturahmi segala kesalahpahaman dapat dihapus. Pokoknya, banyak sekali deh manfaatnya bagi kita semua.</p>
<p>Dengan meniatkan mudik sebagai silaturahmi karena Allah, Insya Allah kita akan mendapat pahala dan dilindungi oleh Allah sebelum, selama dan setelah mudik. Jika terjadi hal-hal tidak dikehendaki, mudah-mudahan Allah mencatat hal itu sebagai penghapus dosa, sehingga mendapat ampunan Allah</p>
<p>Saya sebagai pengasuh blog ini mengucapkan selamat jalan, semoga anda semua sampai di tujuan dengan selamat dan kembali dengan selamat pula. Semoga Allah memberi pahala yang sepadan kepada anda semua. Saya juga mohon maaf atas segala kesalahan dan dosa baik yang sengaja maupun yang tidak saya sengaja kepada semua pembaca tercinta.</p>
<p>SALAM MANDIRI</p>
<p>Urip Santoso</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1484/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1484&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/10/mudik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Pendirian Program Pasca Sarjana Guna Mempercepat Terbentuknya Center of Exellence</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/06/pentingnya-pendirian-program-pasca-sarjana-guna-mempercepat-terbentuknya-center-of-exellence/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/06/pentingnya-pendirian-program-pasca-sarjana-guna-mempercepat-terbentuknya-center-of-exellence/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 23:40:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[perguruan tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Center of exellence]]></category>
		<category><![CDATA[ipteks]]></category>
		<category><![CDATA[UNIB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1478</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Urip Santoso (2003)
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Pendahuluan
Pada zaman kesejagatan ini, peranan pengemangan ipteks yang handal sangat mendesak bagi kemajuan bangsa dan negara. Demikian juga, agar suatu perguruan tinggi dapat berjaya, maka para pengelola perguruan tinggi harus mampu mengembangkan ipteks yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat pengguna. Perguruan tinggi dewasa ini tidak saja dituntut untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1478&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Urip Santoso (2003)</p>
<p>Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu</p>
<p>Pendahuluan</p>
<p>Pada zaman kesejagatan ini, peranan pengemangan ipteks yang handal sangat mendesak bagi kemajuan bangsa dan negara. Demikian juga, agar suatu perguruan tinggi dapat berjaya, maka para pengelola perguruan tinggi harus mampu mengembangkan ipteks yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat pengguna. Perguruan tinggi dewasa ini tidak saja dituntut untuk melakukan proses belajar-mengajar yang baik, namun juga harus mampu menjawab tantangan dunia usaha. Oleh sebab itu, kesepakatan sivitas akademika UNIB yang akan menjadikan UNIB sebagai Center of Exelence (COE) sangatlah tepat.<span id="more-1478"></span></p>
<p>Namun banyak kendala dan tantangan yang harus dihadapi oleh UNIB untuk mewujudkan COE yang handal. Meskipun telah dilakukan workshop tentang hal tersebut, pada kenyataannya belum diperoleh kesepakatan tentang COE yang akan dikembangkan.</p>
<p>Fakultas Pertanian dengan sangat beragamnya bidang keilmuan yang ada di dalamnya, sangatlah sulit untuk membentuk COE yang mampu mewadahi keberagaman tersebut. Oleh sebab itu, sangatlah penting dibentuk COE yang mampu mewadahi setidak-tidaknya sebagian besar dari keberagaman tersebut dengan tidak mengesampingkan persyaratan pembentukkan COE yang handal. Barangkali, COE yang mengeluti masalah lingkungan atau pengembangan sumberdaya alam potensial dapat mewadahi sebagian besar aspirasi dan sekaligus mempunyai nilai jual yang tinggi.</p>
<p>Untuk mempercepat terbentuknya COE tersebut diperlukan langkah-langkah strategis. Salah satu lankah yang dapat dikemukakan adalam pendirian Program Pasca Sarjana Unggulan di Fakultas Pertanian UNIB.</p>
<p>Program Pasca sarjana Unggulan</p>
<p>Program Pasca sarjana unggulan merupakan program terpadu dan terintegrasi antara kegiatan belajar-mengajr, penelitian dan pengembangan, dan aplikasi ipteks unggulan. Unggul berarti program tersebut harus mampu menyajikan proses belajar-mengajr yang sesuai dnegan kebutuhan pasar. Unggul berarti program tersebut harus bersifat khas tetapi berwawasan nasional bahkan global. Unggul berarti program tersebut harus mampu mengembangkan ipteks untuk menjawab tantangan masyarakat pengguna. Unggul berarti juga, penggunaan anggaran  untuk melaksanakan atau mengikuti program tersebut, dengan seefesien mungkin dalam pengelolaannya, sehingga keberlangsungan program dapat dipertahankan (sustainable).</p>
<p>Pasca Sarjana dan Pengembangan Ipteks</p>
<p>Idealnya, program pasca sarjana harus mampu mengembangkan ipteks yang mampu memecahkan masalah pembangunan baik jangka pendek, menengah maupun juangka panjang. Oleh karena itu, Pasca Sarjana yang handal selain mampu menciptakan kegiatan belajar-mengajar yang bermutu, juga harus melakukan riset terprogram dan terintegrasi bagi mahasiswanya. Hasil-hasil riset nantinya selain untuk mengembangkan kegiatan belajar-mengajar yang bermutu guna menghasilkan lulusan yang bermutu pula, juga dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang ada di masyarakat pengguna. Inilah sebenarnya tugas perguruan tinggi melalui kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi yang terintegrasi dan terpadu.</p>
<p>Memanmg idealnya, suatu perguruan tinggi bisa membagi secara proporsional kegiatan riset dari riset dasar, riset aplikatif sampai dengan pengembangan. Namun, untuk melakukan semua jenis kegiatan riset tersebut, memerlukan biaya yang sangat tinggi. Bagi Pasca Sarjana dari perguruan tinggi kecil (dan bahkan perguruanh tinggi yang besar) di negara berkembang sangat sulit untuk melaksanakan semua jenis riset tersebut. Oleh sebab itu, Pasca Sarjana dapat memilih salah satu jenis riset yang akan dikedepankan. Tampaknya, di Indonesia Pasca sarjana akan l;ebih tepat jika melakukan riset-riset yang mampu menghasilkan produk-produk unggulan yang bersifat masal daripada riset dasar. Kunci dan modal utamanya adalah keterpaduan dan mempunyai rasa kebersamaan yang tinggi di antara sumber daya manusia yang ada.</p>
<p>Untuk mengembangkan ipteks suatu Pasca sarjana haruslah mempunyai arah yang jelas tentang riset dan mengusahakan kerjasama yang terpadu antar  perguruan tinggi-lembaga pemerintah-industri-himpunan ilmiah. Pola riset mempunyai arah yang jelas dan mengoptimalkan keterpaduan antara lemabaga-lembaga penelitian yang berorientasi ke produk masal.</p>
<p>Berdasarkan uraian tersebut, maka Pasca sarjana yang unggul memerlukan beberapa prasyarat, yaitu: 1) keterpaduan yang mantap, 2) adanya pemandu yang tepat (dengan cara menjalin kerjasama dengan lembaga dan industri terkait), 3) pemilihan jenis riset yang tepat, 4) pemilihan program-program yang bernilai jual tinggi di tingkat nasional maupun global, 5) sistem yang kondusif, 6) arah riset yang jelas, dan 7) komitmen yang jelas dari sivitas akademika dan para pemimpinnya. Jika Pasca sarjana dapat dikembangkan ke arah tersebut, maka COE yang handal dengan sendirinya akan terbentuk.</p>
<p>Pasca Sarjana dan Pengembangan Sumber Daya Manusia</p>
<p>Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu tinggi (menguasai ipteks dan bermental tinggi) akan menghambat perkembangan suatu bangsa dan negara. Dalam era kesejagatan ini, jelas SDM menjadi faktor utama bagi kemajuan suatu negara. Sebagai contoh, Jepang tidak mempunyai sumber daya alam yang banyak, tetapi Jepang dengan SDM-nya mampu menjadikan Jepang menjadi salah satu negara maju dan menguasai ipteks.</p>
<p>SDM berkaitan erat dengan lapangan kerja dan profesi, dan usaha pengembangan SDM adalah identik dengan usaha menata pendidikan nasional dan menata riset dan pengembangan pada semua sektor, yang menggunakan ipteks sebagai faktor dominan. Kedua hal tersebut (pendidikan-riset dan pengembangan) tidak mungkin dipisahkan, karena pendidikan menghasilkan SDM yang siap latih (lulusan S1 ke bawah), dan  selanjutnyaq SDM tersebut bisa meningkatkan kegiatan riset dan pengembangan yang bertujuan memperbaiki kualitas produk masal dengan menggunakan hasil inovasi ipteks.(bersambung)&#8230;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1478/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1478&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/06/pentingnya-pendirian-program-pasca-sarjana-guna-mempercepat-terbentuknya-center-of-exellence/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Daun Katuk sebagai Feed Additive pada Broiler</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/06/mengenal-daun-katuk-sebagai-feed-additive-pada-broiler/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/06/mengenal-daun-katuk-sebagai-feed-additive-pada-broiler/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 23:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Katuk (Sauropus)]]></category>
		<category><![CDATA[broiler]]></category>
		<category><![CDATA[katuk]]></category>
		<category><![CDATA[Sauropus androgynus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1475</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Urip Santoso
Dewasa ini paket teknologi pembuatan produk hewani yang murah dan bermutu tinggi sangat mendesak. Ada beberapa hal yang menjadi dasar alasan. Pertama, untuk meningkatkan tingkat gizi masyarakat Indonesia, maka produksi protein hewani harus lebih ditingkatkan mengingat target kebutuhan protein hewani asal ternak belum terpenuhi. Kedua, tingkat pendapatan masyarakat Indonesia rata-rata masih belum memenuhi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1475&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Urip Santoso</p>
<p>Dewasa ini paket teknologi pembuatan produk hewani yang murah dan bermutu tinggi sangat mendesak. Ada beberapa hal yang menjadi dasar alasan. Pertama, untuk meningkatkan tingkat gizi masyarakat Indonesia, maka produksi protein hewani harus lebih ditingkatkan mengingat target kebutuhan protein hewani asal ternak belum terpenuhi. Kedua, tingkat pendapatan masyarakat Indonesia rata-rata masih belum memenuhi standard hidup jika tingkat kebutuhan gizi dijadikan standard kebutuhan hidup untuk pangan. Oleh karena itu penurunan harga produk ternak menjadi sangat penting. Namun penurunan harga produk ternak ini  diharapkan tidak menurunkan tingkat keuntungan peternak. Untuk itu, peningkatan efisiensi usaha menjadi hal yang sangat urgen.<span id="more-1475"></span></p>
<p>Selain itu, diketahui bahwa ternak lebih banyak menghasilkan lemak daripada protein sebagai akibat seleksi ternak berdasarkan pertambahan berat badan, sehingga tujuan peternakan sebagai penghasil protein belum tercapai. Untuk itu perlu adanya perubahan orientasi ke arah produktivitas protein daripada berat badan. Hal ini sangat relevan dengan tuntutan konsumen &#8212; terutama di perkotaan&#8211; terhadap kualitas produk ternak. Telah terbukti bahwa  mengkonsumsi daging berlemak tinggi merupakan salah satu faktor predisposisi terkena penyakit degeneratif seperti atherosclerosis, kanker, kegemukan dan jantung koroner. Disamping itu, tingginya tingkat kontaminasi mikrobia dalam daging akan memperbesar tingginya resiko tertransfernya mikrobia berbahaya dari daging kr manusia seperti Salmonella sp. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu dicari pemecahan untuk memproduksi daging yang aman, efisien dan menghasilkan warna, bau dan rasa yang dikehendaki oleh konsumen.</p>
<p>Katuk</p>
<p>Tanaman katuk (Sauropus androgynus) merupakan tanaman obat yang mempunyai zat gizi tinggi, mengandung zat antibakteri, serta tidak berbahaya bagi kesehatan manusia dan mengandung beta-karotin sebagai zat aktif warna karkas.</p>
<p>Katuk sebagai sayuran mengandung zat gizi yang baik. Vitamin A dalam bentuk karotin terkandung sebanyak 10020 mikrogram, vitamin C 164 mg, mineral 334,5 mg, protein kasar 6,4%, dan energi 59 kalori dalam 100 g daun katuk. Menurut Djojosoebagio (1964) daun katuk mengandung 6,46% protein, 1,76% lemak, 2,18% serat kasar, 78,21% air dan 2,04% abu. Oomen et al. (1984) menyatakan bahwa dalam 100 g daun katuk terkandung bahan kering 19 g, kalori 58 kalori, protein 4,8 g, kapur 50 mg, besi 2,7 mg, karotin 6200 mikrogram, vitamin C 8,5 mg.  Sartini (1996) pada tepung daun katuk tua mengandung kadar air 10,8%, bahan kering 89,18%, protein kasar 15,02%, lemak kasar 20,08%, serat kasar 31,19%, abu 12,71% dan BETN 10,18%. Perbedaan kandungan gizi yang ditemukan oleh para peneliti barangkali disebabkan oleh perbedaaan umur panen, lingkungan, dan varietas.</p>
<p>Menurut Anonimus (1995) bahwa hasil ekstraksi yang dilakukan oleh Puslitbang Biologi LIPI Bogor dan Fakultas Farmasi UNTAG dengan menggunakan 3 macam zat yakni heksana, eter dan etil asetat. Ekstraksi heksana menunjukkan beberapa senyawa alifatik, pada ekstraksi eter terdapat 3 senyawa utama yaitu monometil suksinat, asam benzoat dan asam fenil manolat dan 5 senyawa minor. Ekstraksi dengan etil eter, terdeteksi 3 senyawa utama yaitu cis-2-metil siklopentanol asetat, 2-piridinon dan metil piroglutamat dan satu senyawa minor. Dinyatakan bahwa daun katuk mengandung alkaloid papaverin. Katuk juga mengandung saponin, flavonoid dan tanin.</p>
<p>Manfaatnya pada broiler</p>
<p>Hasil penelitian Santoso (1997a) menunjukkan bahwa pemberian tepung daun katuk sebesar 3% menurunkan  akumulasi lemak dan menaikkan efisiensi pakan tanpa menurunkan berat badan. Hasil yang sama diperoleh dengan menggunakan ekstrak daun katuk pada pemberian 4,5 g/l air (Santoso, 1997b).</p>
<p>Hasil penelitian Santoso et al. (1999) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk sebesar 18 g/kg pakan ternyata mampu meningkatkan efisiensi pertumbuhan, menurunkan akumulasi lemak, meningkatkan rasa daging, menurunkan bau amis daging, serta mampu menekan jumlah Salmonella sp dan E. coli daging dengan tingkat keuntungan yang lebih baik daripada broiler yang tidak diberi ekstrak daun katuk.</p>
<p>Santoso (1997b) melaporkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk sebesar 4,5 g/l air mampu menurunkan akumulasi lemak perut serta jumlah Salmonella sp, E. coli, dan Streptococcus namun tidak menurunkan Lactobacillus sp dan Bacillus subtilis dalam feses broiler.  (bersambung)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1475/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1475&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/06/mengenal-daun-katuk-sebagai-feed-additive-pada-broiler/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suka Penceramah yang Lucu</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/03/suka-penceramah-yang-lucu/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/03/suka-penceramah-yang-lucu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 01:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[lucu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1473</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini ada kecenderungan para pendengar atau pemirsa menyukai penceramah agama yang banyak humor. Jika seseorang punya hajat, maka yang dipanggil ustad yang lucu. Ustad yang bisa mendatangkan gelak ketawa. Gejala apa ini? Apa karena sekarang ini banyak orang yang stress? Atau butuh hiburan? Atau fenomena apa ini? Sekarang ini, banyak dicari ustad yang demikian. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1473&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Akhir-akhir ini ada kecenderungan para pendengar atau pemirsa menyukai penceramah agama yang banyak humor. Jika seseorang punya hajat, maka yang dipanggil ustad yang lucu. Ustad yang bisa mendatangkan gelak ketawa. Gejala apa ini? Apa karena sekarang ini banyak orang yang stress? Atau butuh hiburan? Atau fenomena apa ini? Sekarang ini, banyak dicari ustad yang demikian. Jika anda seorang penceramah yang lucu barangkali anda akan dapat order yang banyak. Anda akan sibuk dari satu acara ke acara yang lain. Jika anda seorang penceramah yang tidak ada humornya barangkali kurang  diminati. Melihat permintaan konsumen akan yang lucu-lucu itu, membuat para penceramah pun mencoba memberi selingan segar. Kalau hanya selingan saja sich oke-oke saja. Tapi yang diminta adalah ustad yang sering humor sepanjang sebagian besar ceramah.<span id="more-1473"></span></p>
<p>Humor sepanjang hanya sebagai selingan, dimana diperkirakan pendengar sudah mulai kurang konsentrasi memang oke-oke saja. Tentu saja ada syaratnya,  seperti humor itu relevan dengan isi ceramah, isi humor itu benar menurut syar&#8217;i, tidak terlalu sering. Humor yang dilakukan sembarangan dan terlalu sering akan membuat isi ceramah kurang diperhatikan dan kurang tertanam dalam sanubari pendengar. Yang diingat adalah humornya. Tentu saja hal ini telah melenceng dari tujuan ceramah itu sendiri, yang biasanya berisi peringatan, anjuran, pengetahuan agama dalam rangka meningkatkan iman kepada Allah. Tentu saja cara ini dapat menghilangkan pahala dan hikmah yang seharusnya diperoleh. Lalu, bisa jadi tujuan mengundang ustad sudah bergeser yaitu hanya mendapatkan hiburan. Lah, kalau ini tujuannya jangan dong undang ustad, tapi undang penghumor saja.</p>
<p>Sebenarnya banyak cara yang dapat dilakukan oleh para ustad agar isi materinya menarik dan tertanam dalam hati pendengar. Saya berpikir sebaiknya para penceramah mencoba mendalami berbagai metode ceramah agar para pendengar tertarik sepanjang ceramah dan isi ceramah benar-benar tertanam di hati dan dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Memang tidak mudah. Salah satu cara agar pendengar tetap setia adalah dengan memberikan materi ceramah sesuai dengan kebutuhan pendengar. Jadi, ada baiknya sang penceramah survei terlebih dahulu tentang calon pendengar ceramahnya. Dengan cara ini, diharapkan penceramah mendapat gambaran yang tepat. Berdasarkan hal itu, maka penceramah memilih isi materi dan metode penyampaian yang tepat. Jangan sampai menjadi ustad dengan materi yang baku. Kemana-mana materinya sama saja tanpa ada perubahan, tanpa tahu apa yang dibutuhkan oleh pendengar. Yang penting bisa membuat pendengar tertawa terbahak-bahak. Jangan-jangan cara ini bukan saja menghilangkan pahala tapi malah mendapat dosa. Coba mari kita renungkan kembali kesukaan kita ini.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1473/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1473&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/03/suka-penceramah-yang-lucu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Kita Bersyukur</title>
		<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/02/agar-kita-bersyukur/</link>
		<comments>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/02/agar-kita-bersyukur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 23:20:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[dengki]]></category>
		<category><![CDATA[iri]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://uripsantoso.wordpress.com/?p=1466</guid>
		<description><![CDATA[Bersyukur atas segala nikmat Allah merupakan hal yang mudah diucapkan tetapi sulit dipraktekkan. Ketika melihat tetangga beli mobil baru, iri mencengkam. Ketika orang lain memperoleh anugerah jabatan yang lebih tinggi, iri menggila. Ya, iri hati, dengki, hasut dll. sering menggoda di hati yang lemah.
Ada beberapa tips untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa iri ini agar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1466&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bersyukur atas segala nikmat Allah merupakan hal yang mudah diucapkan tetapi sulit dipraktekkan. Ketika melihat tetangga beli mobil baru, iri mencengkam. Ketika orang lain memperoleh anugerah jabatan yang lebih tinggi, iri menggila. Ya, iri hati, dengki, hasut dll. sering menggoda di hati yang lemah.</p>
<p>Ada beberapa tips untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa iri ini agar kita bisa bersyukur atas segala nikmat-Nya, yaitu  seringkalilah melihat ke bawah. Kita melihat kepada orang lain yang mempunyai peruntungan yang lebih sedikit daripada kita. Dengan memandang ke bawah kita akan dapat masih sangat banyak orang lain yang mempunyai rezeki yang lebih sedikit. Dengan cara ini kita akan timbul rasa syukur bahwa kita dikaruniai nikmat yang lebih banyak. Rasa syukur ini kita <span id="more-1466"></span>wujudkan dalam bentuk ucapan, seperti Alhamdulillah atau yang semacam itu, dan bertambah mantap hati dalam iman, serta diimplementasikan ke dalam perilaku yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun, bukan berarti kita tidak boleh melihat ke atas. Sekali-kali melihat ke atas adalah baik, karena dengan demikian kita akan termotivasi untuk berusaha lebih giat. Tentu saja dengan cara-cara yang baik dan benar tanpa ada rasa iri, dengki dan hasut.</p>
<p>Kita boleh dan bahkan harus iri untuk hal-hal tertentu, seperti misalnya dalam hal beribadah kepada Allah. Kita boleh iri ketika melihat orang lain mampu bersedekah. Kita boleh iri kepada orang yang sholatnya sempurna. Ya, kita boleh iri dalam hal kebaikkan dan kebenaran. Dalam kasus ini kita malah sebaiknya sering melihat ke atas. Kita bahkan diperintahkan oleh Allah untuk berlomba-lomba dalam kebaikkan secara ikhlas karena Allah semata.</p>
<p>Merasa cukup terhadap karunia Allah di dunia tanpa menghilangkan motivasi untuk berusaha, dan merasa tidak cukup untuk amalan yang berkaitan dengan kehidupan di akherat justru dianjurkan dalam Islam. Di akherat nanti semua orang menyesal, karena merasa sewaktu di dunia sebenarnya bisa berbuat kebaikkan lebih banyak lagi. Namun penyesalan tersebut sudah terlambat. Oleh sebab itu, selagi kita masih hidup di dunia mari kita berlomba-lomba dalam mengejar amalan untuk bekal hidup di akherat nanti.</p>
<p>Yang kedua secara rutin membaca Al Qur&#8217;an, atau mendengarkan bacaaan Al Qur&#8217;an. Akan lebih baik lagi jika kita memahami Al Qur&#8217;an. Dengan membacanya hati kita akan tenang. Dengan mempelajarinya kita menjadi tenang dan menjadi tahu apa yang sebaiknya kita lakukan dalam menghadapi berbagai masalah dan goncangan duniawi. Yang ketiga, banyak-banyaklah berzikir kepada Allah dan bersholawat kepada Rasulullah. Dengan hati yang tenang maka kita akan dengan mudah melihat betapa sangat banyak nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Insya Allah dengan cara ini kita akan dengan penuh kesadaran bersyukur dan memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kita. (bersambung)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/uripsantoso.wordpress.com/1466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/uripsantoso.wordpress.com/1466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/uripsantoso.wordpress.com/1466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/uripsantoso.wordpress.com/1466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/uripsantoso.wordpress.com/1466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/uripsantoso.wordpress.com/1466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/uripsantoso.wordpress.com/1466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/uripsantoso.wordpress.com/1466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/uripsantoso.wordpress.com/1466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/uripsantoso.wordpress.com/1466/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=uripsantoso.wordpress.com&blog=3351830&post=1466&subd=uripsantoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://uripsantoso.wordpress.com/2009/09/02/agar-kita-bersyukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/baa2106ac865bb1b45b5348ccec777be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">uripsantoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>