Hari gini jujur? Ah ancur! Lihatlah, banyak kejadian yang jujur malah masuk penjara, dan yang tidak jujur bebas sambil menepuk dada. Semua bisa saya suap. Hukum? Ah, gampang! Dengan uang semuanya beres. Lihatlah kasus KPK vs polisi. Begitu rebetnya, sampai-sampai rakyat bingung dibuatnya. Siapa sich yang benar? Siapa yang berkata jujur? Jangan-jangan semuanya bohong untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Jadi untuk apa jujur, kalau akan hancur. Lihatlah fenomena CPNS, promosi jabatan, atau lain lain, semuanya penuh dengan ketidakjujuran. Yah, memang banyak yangt pesimis bahwa masih ada yang jujur di negeri yang diambang kehancuran.
Jujur sudah menjadi barang langka, yang perlu dikonservasi, kata orang yang suka istilah lingkungan hidup. Atau perlu dimusiumkan, kata ahli sastra. Ah, pusing!
Jujur itu sendiri sebenarnya merupakan salah satu sifat manusia yang akan membawa kepada kesejahteraan manusia. Coba bayangkan jika seorang pemimpin itu jujur. Ia pasti akan berusaha untuk menciptakan sebuah sistem yang jujur pula. Ia akan memulai mengelola apa yang menjadi tanggungjawabnya dengan sebuah kejujuran. Ia akan anti manipulasi. Ia akan transparans. Ia akan mampu menciptakan sebuah sistem yang bebas dari manipulasi, korupsi, kolusi, nepotisme dan yang sejenisnya. Ia tidak akan mendahulukan kepentingan diri dan keluarganya. Misalnya, ia tidak minta keluarganya diistimewakan dalam kegiatan-kegiatan tertentu; ia tidak minta keluarganya diistimewakan masuk PNS. Ia akan menyerahkan mekanisme penerimaan pegawai sesuai dengan aturan yang berlaku, meskipun berakibat keluarganya tidak diterima sebagai PNS. Kegiatan manajerialnya akan dimulai dari perencanaan yang bebas manipulasi. Lah, gimana bisa kan sistem pertanggungjawaban keuangan di negeri ini memaksa seseorang untuk manipulasi? Siapa bilang! Kita bisa bebas dari manipulasi jika kita mampu membuat perencanaan yang baik yang mampu memprediksi hal-hal yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Nah, jika perencanaan dibuat dengan kejujuran yang tinggi, saya yakin manipulasi akan menjadi berkurang jauh dan akhirnya hilang sama sekali. Masih adakah pemimpin yang jujur di negeri ini? Itulah pertanyaan rakyat yang belum pernah terjawab.
Kejujuran juga tidak hanya harus dimiliki oleh pemimpin. Iapun harus dimiliki oleh masyarakat. Jika sebagian besar masyarakat jujur, saya yakin ini dapat menjadi kekuatan yang mampu mematahkan sistem yang dibuat oknum. Dengan kekuatan ini masyarakat dapat membentuk opini publik, sehingga dapat sebagai kekuatan oposisi yang tidak dapat diabaikan oleh pemimpin yang berkuasa. (bersambung)
Aku sedang di warung kecil, di dekat masjid jamik menikmati bubur kacang hijau. Persis di depan aku ada dua orang yang asyik ngobrol.
Saya ikut terusik dengan maraknya pemberitaan eksodus calon jemaah haji di Bengkulu. Betapa tidak, banyak calon jemaah haji dari luar Bengkulu yang mendaftar di Bengkulu. Bagaimana caranya? Ya, tentu saja dengan cara-cara yang tidak benar, misalnya membuat KTP aspal (asli tapi palsu) dll. Kita harus sadar bahwa untuk mencapai tujuan yang baik harus digunakan cara yang baik pula. Jika tujuan baik, tapi cara mencapainya tidak baik, maka hasilnya tidak baik pula. Allah, hanya menerima yang baik-baik.
Recent Comments