Riya Enyahlah Engkau!

29 07 2009

hati Oleh: Urip Santoso 

Ketika  aku beramal engkau datang; Ketika aku shalat engkau datang; Ketika aku berbuat baik engkau datang; Kapanpun aku berbuat yang benar engkau datang; Bahkan ketika aku berbuat yang jahat engkau juga datang.

Riya tanpa lelah engkau datang; Menyelinap ke dalam sanubari; Engkau tertawa ketika aku lengah; Engkau benci ketika aku sadar; Namun engkau tidak pernah putus asa.

Betapa lemah hati ini; Betapa lelah jiwa dan raga ini; Betapa kadang putus asa menyelinap; Betapa dahsyatnya pertempuran di hati ini; Antara kesadaran dan kelemahan.

 Ya, Allah hamba sadar, hamba insan yang lemah; Hamba yang lemah yang butuh pertolongan; Tanpa-Mu  hamba sadar tidak mampu memenangkan pertempuran ini;  Karenanya Ya Allah, bimbinglah hamba; Beri hamba kekuatan; Untuk mengeyahkan riya’ di hati ini.





Renungan Insan yang Lemah

25 02 2009

Ya, Allah betapa nistanya diri ini, yang tidak mensyukuri nikmat-Mu. Aku sering merasa tidak puas atas karunia-Mu. Padahal nikmat-Mu tidak bisa kuhitung. Ya, Allah betapa aku telah menganiaya diriku sendiri. Betapa aku telah menyuburkan penyakit di dalam dada ini. Selama ini tak kusadari bahwa aku telah menyemai bibit-biti penyakit di dalam kalbuku.

Kini kudapati kalbuku penuh dengan noda dan dosa. Sadar atau tak sadar aku setiap detik, menit, jam atau hari menyemai noda-noda hitam. Kini kulihat hatiku telah menghitam. Hanya ada sedikit titik putih disana.

Ya Allah, adakah dari titik putih itu aku bisa mulai menghapus noda hitam? Adakah masih ada kesempatan buatku untuk membersihkan tinta hitam yang membanjiri kalbuku? Adakah Engkau masih memberi waktu buat aku untuk memperbanyak titik-titik putih yang terang dalam kalbuku? Banyak tanya dan pikiran bergelut dalam sanubariku. Rasa putus asa kandang menghampiri, walau kemudian diganti dengan asa. Silih berganti asa dan putus asa datang. Aku nyata terombang-ambing dalam kegelapan, penyelasan, kegelisahan dan berbagai rasa yang membuat hati ini tidak tenteram.

Aku menangis  di malam yang kelam. Menangis mengingat dosa dan noda itu. Menangis karena aku telah membuat hitam kalbuku sendiri. Menangis karena kalbuku telah penuh noda dan dosa. Menangis karena selama ini aku jauh dari Ilahi. Menangis karena takut tidak ada lagi ruang bagiku untuk menambah titik terang di hatiku. Takut dan khawatir titik terang/putih yang hanya kecil hilang sama sekali.

Ya, Allah di malam yang penuh berkah ini aku memohon dengan penuh penyesalan ampunan dari-Mu. Berilah kepadaku kekuatan untuk mampu membaca petunjuk-Mu, karena aku hanyalah seorang insan yang lemah. Berilah kepadaku kekuatan untuk bisa menempuh jalan-Mu. Hamba sadar, betapa berat ujian yang Engkau tebar untuk menguji hamba-Mu. Hamba sadar, hamba tak punya daya, maka tolonglah hamba dalam menempuh ujian yang Engkau berikan. Berikan kesabaran dalam menghadapi ujian yang amat dahsyat ini. Ujian yang hanya sedikit dari hamba-Mu yang lulus. Jadikanlah aku insan yang termasuk dalam golongan yang sedikit itu.

Ya, Allah. Betapa aku melihat kalbuku telah penuh bercak hitam, aku masih mempunyai setitik terang. Kuyakin seyakin-yakinnya bahwa Engkau masih memberi kesempatan. Selama nyawa masih di badan. Selama masih ada kemauan. Selama masih ada iman.  Kuyakin Engkau masih memberi kesempatan.

Ya Allah, di malam yang benderang ini, kumemohon jadikanlah daku hamba-Mu yang tunduk kepada-Mu dengan rela. Berilah daku kekuatan untuk  berjalan dijalan-Mu. Aku hanyalah makhluk yang lemah, yang tidak punya daya selain Engkau anugerahkan.





Sebuah Renungan

15 12 2008

Oleh: Urip Santoso

            Ketika mengurus surat keterangan penduduk di walikota Gifu, haus mencengkam tenggorokanku. Terpandang olehku mesin minuman di sudut ruangan. Maka kuambil uang 100 yen, dan kumasukkan ke dalam lubang uang yang tersedia dengan perlahan, lalu kutekan tombol minuman yang kuinginkan. Dengan segera, turunlah gelas plastik ke tempatnya diikuti oleh bunyi jatuhnya kepingan es batu dan dilanjutkan oleh gemerciknya air kopi. Kudengar pula gemerincingnya uang kembali. Kuhitung uang tersebut, barangkali kurang atau lebih. Eh, tak tahunya pas, duapuluh yen persis.

            Sambil menikmati minuman tersebut, aku merenungkan peristiwa yang barusan terjadi. Mesin ini jelas tidak bernyawa. Kalaupun bernyawa belum tentu mampu melakukan hal tersebut. Hanya makhluk yang mampu berpikir dan terpilih saja yang mampu melakukan pekerjaan yang walaupun ringan, perlu ketelitian dan kecermatan. Pikiranku terus berbicara. Kalau begitu mesin ini pasti dibuat oleh makhluk yang berakal yaitu manusia. Yah walaupun tentu saja tidak semua manusia mampu melakukannya. Ia dibuat dalam suatu rangkaian tertentu yang amat rumit, sehingga dengan memasukkan uang yang memenuhi syarat, minuman pun keluar dengan otomatis. Begitu pula uang kembalinya. Tentu saja, sebelumnya, mesin itu telah di isi dengan aneka rasa dan warna minuman yang sesuai dengan yang tertera di dada mesin itu, dan tak boleh lupa uang recehpun harus disediakan cukup. Read the rest of this entry »