Pedoman Akreditasi Berkala Ilmiah 2011

21 08 2011

Akreditasi jurnal semakin ketat saja. Kalau dahulu jurnal bisa diakreditasi C, maka sekarang akreditasi minimal B. Tidak heran jika banyak jurnal yang terakrfeditasi C berguguran. Pelaksanaan akreditasi jurnal juga semakin ketat, sehingga banyak jurnal terakreditasi B mengalami nasib yang sama. Mereka yang tak terakreditasi lagi disebabkan oleh karena tidak mampu mempertahankan & meningkatkan mutu jurnal.

Sebenarnya ada beberapa poin yang bisa dikelola dan dikendalikan oleh pengurus jurnal dalam meningkatkan mutu jurnal seperti lay out, mutu isi jurnal, konsistensi, mekanisme review, arsiparis, ukuran jurnal dll. Poin-poin ini bisa ditingkatkan oleh pengelola sendiri. Jumlah artikel ilmiah yang masuk memang sering menjadi kendala terbitnya jurnal tepat waktu. Tentu saja ini memerlukan kiat-kiat promosi yang jitu.

Baiklah, pedoman akreditasi jurnal atau berkala ilmiah telah direvisi. Berikut ini peraturan terbarunya.

2011_06_Peratuan_Dirjen_Dikti_Nomor_49

2011_06_Permendiknas_Terbitan_Berkala_Ilmiah_No_22





Akreditasi Program Studi di Universitas Selingkung Provinsi Bengkulu

15 06 2011

Akreditasi Program Studi sangat penting artinya bagi mahasiswa. Berikut saya tampilkan informasi akreditasi tersebut dari BAN-PT. Beberapa program Studi telah kadaluwarsa, beberapa yang lain tinggal sedikit lagi. Saya mengucapkan selamat kepada Jurusan Ekonomi Pembangunan Unib yang terakreditasi kembali dengan predikat A. Program Studi ini juga sempat kadaluwarsa. Jika melihat daftar beberapa program studi S1 di Unib sudah habis masa berlaku akreditasinya. Program studi D-2 dan D-3 di Unib sebagian besar sudah tidak beroperasi lagi, sehingga sudah tidak terakreditasi. Saya juga mengucapkan selamat kepada Fakultas Teknik Unib yang juga sudah terakreditasi. Berikut daftar selengkapnya. Klik Disini.

AKREDITASI PROGRAM STUDI SELINGKUNG PROVINSI BENGKULU Read the rest of this entry »





Conveying Better Future

15 06 2011

Unib mempunyai slogan Conveying Better Future. Slogan ini mengandung makna bahwa Unib senantiasa menghantar siapapun dan apapun ke masa depan yang lebih baik.

Mungkin yang dimaksud dengan menghantar adalah mempersiapkan stakeholders Unib untuk menggapai cita-citanya. Kalau dulu, perguruan tinggi itu hanya menghasilkan lulusan  S1 yang siap latih, maka sekarang perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan lulusan  S1 siap pakai. Istilahnya sarjana plus. Tuntutan ini tentu saja cukup berat bagi perguruan tinggi. Dunia kerja seolah-olah lepas tangan untuk melatih para sarjana, padahal itu tugas mereka. Lulusan S1 sesungguhnya dididik untuk menjadi lulusan yang berwawasan luas, sehingga siap dilatih untuk bekerja di berbagai jenis pekerjaan. Okey, jadi Unib harus mampu menghasilkan lulusan yang paling tidak mendekati tuntutan stakeholders.

Slogan itu juga dapat berarti bahwa Unib selalu siap sedia bekerjasama secara profesional untuk memajukan stakeholders selain mahasiswa seperti pihak pemerintah, swasta ataupun yang lain. Tentu saja ini dilakukan melalui beberapa cara seperti pelatihan, kerjasama yang seimbang dll. Oleh sebab itu, Unib harus mempersiapkan SDM dan non-SDM yang ada di Unib untuk memenuhi harapan mereka.

Masa depan yang lebih baik masih bersifat umum. Masa depan yang lebih baik apa yang dimaksud oleh Unib? Dalam pemikiran saya tentu saja masa depan dalam jangka panjang dan bersifat menyeluruh, yaitu meliputi  kesejahteraan lahir dan batin bagi stakeholders Unib.

Untuk itu, Unib harus memberikan layanan tidak saja intelektual, tetap juga moral dan spiritual. Nilai-nilai ini sudah dijabarkan dalam Rencana strategis Unib 2006-2016. Conveying better future telah diterjemahkan dalam Renstra Unib tersebut. Namun sayangnya implementasi Renstra dalam RPKA/RBA tahunan belum terlihat. Masih cukup banyak kegiatan yang lebih cenderung kepada orientasi proyek/kepanitaan daripada keberhasilan program. Maka tidak heran jika 60% dana masyarakat terserap untuk kegiatan manajemen/honor. Ini tentu saja tidak sejalan dengan surat edaran menteri yang memberikan arahan dana masyarakat (khususnya SPP) bahwa untuk pendidikan dan pengajaran maksimal 65%, pengembangan ilmu minimal 10%, pengabdian pada masyarakat maksimal 5% dan manajemen maksimal 20%.

Jadi, Unib harus bisa lebih bekerja keras dan lebih banyak pengorbanan. Tentu saja ini harus  ada contoh. Pimpinan harus mampu menjadi tauladan dalam hal ini. Beberapa inovasi harus dilakukan agar Unib benar-benar mampu memberi layanan sebagaimana yang dijanjikan. Paradigma proyek harus diubah menjadi paradigma baru, yaitu berorientasikan keberhasilan program. Apa itu? Ya, memberikan layanan prima bagi stakeholders Unib agar mereka benar-benar percaya bahwa Unib mampu menghantar mereka ke masa depan yang lebih baik sesuai dengan persepsi stakeholders tentunya bukan sesuai dengan persepsi Unib.Persepsi  stakeholders perlu diteliti secara periodik (satu tahu satu kali paling sedikit) sebagai bahan evaluasi dan perbaikkan layanan Unib kepada stakeholders.

 





World Class Unversity

14 06 2011

Indonesia sekarang lagi demam-demamnya go internasional, yaitu menuju universitas kelas dunia. Ramai-ramai banyak perguruan tinggi di Indonesia menyatakan siap menuju kesana. Paling tidak statutanya diperbaharui dengan membuat visi menjadi salah satu world class university. Entah ini latah atau memang keharusan dari Dikti. Saya tidak tahu.

Unib pun akan siap berlomba menuju kesana. Saya berpikir world class university itu impian atau tantangan. Memang, sekarang ini seluruh perguruan tinggi di dunia akan bersaing untuk menjadi yang terbaik, sehingga akan tetap bertahan. Kini tidak ada batas antar negara untuk menghalangi orang mau belajar kemana. Yang jadi masalah, apakah kita semua sebagai sivitas akademika sudah memahami apa itu world class universty? Jika ini saja tidak tahu, lalu bagaimana mau kesana.

Philip G Albach dalam The Costs and Benefits of World-Class Universities (2005), ‘universitas kelas dunia’ adalah universitas yang memiliki rangking utama di dunia, yang memiliki standar internasional dalam keunggulan (excellence). Keunggulan tersebut mencakup, antara lain, keunggulan dalam riset yang diakui masyarakat akademis internasional melalui publikasi internasional, keunggulan dalam tenaga pengajar (profesor) yang berkualifikasi tinggi dan terbaik dalam bidangnya, keunggulan dalam kebebasan akademik dan kegairahan intelektual, keunggulan manajemen dan governance, fasilitas yang memadai untuk pekerjaan akademis, seperti perpustakaan yang lengkap, laboratorium yang mutakhir, dan pendanaan yang memadai untuk menunjang proses belajar-mengajar dan riset. Dan tidak kurang pentingnya, keunggulan dalam kerja sama internasional, baik dalam program akademis, riset, dan sebagainya.

Jika membaca pengertian di atas maka yang harus dilakukan oleh Unib adalah melakukan studi kelayakan yang jujur tanpa manipulasi. Masalahnya, data di Unib itu sering kali tidak sama. Kadang sulit data mana yang valid. Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus dilakukan Unib adalah menyusun data dasar yang valid dan dapat dipercaya. Berdasarkan data yang valid ini Unib baru bisa melakukan studi kelayakan. Tentu saja studi kelayakan yang valid bukan dimanipulasi. Hasil studi kelayakan itu kemudian dibandingkan dengan standard internasional untuk menjadi world class university. Dari sini kita akan tahu dimana posisi Unib sesungguhnya jika dibandingkan dengan standard. Berdasarkan hal itu, Unib lalu membuat perencanaan atau langkah-langkah untuk mencapainya. Jika ini kita lakukan kita akan dapat memprediksi kapan kita bisa mencapai standard tersebut.

Berikut saya tampilkan artikel world class university untuk dipelajari oleh kitas, agar kitasemua mempunyai gambaran yang agak jelas.  world class university





Unib Menuju Universitas Kelas Dunia 2025

9 06 2011

Visi Unib ini tidak main-main. Banyak pihak yang meragukan hal ini. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu 15 tahun Unib bisa menjadi World Class University, sementara Unib belum mempunyai perencanaan tentang hal ini.

Tentu saja hal pertama yang harus disepakati adalah definisi universtas kelas dunia itu. Apakah jika sudah ada tukar menukar dosen dan mahasiswa dengan universitas di luar negeri meskipun hanya beberapa sudah dikatakan universitas kelas dunia? Jika ini yang dijadikan patokan maka tidak sulit bagi Unib untuk mencapainya. Apakah jika sudah banyak mahasiswa asing yang kuliah di Unib meskipun hanya dari satu negara sudah bisa dikatakan visi itu tercapai? Jika ini yang dijadikan patokan tidak sulit bagi Unib untuk mencapainya. Apakah jika sudah ada mahasiswa  asing yang belajar di Unib khusus tentang budaya lokal Bengkulu itu sudah masuk kelas dunia? Jika ini yang dijadikan patokan maka tidak sulit visi itu tercapai.

Definisi lain yang barangkali yang menjadi pertimbangan  banyak orang menjadi ragu-ragu adalah jika kreteria universtas kelas dunia adalah Unib mempunyai keunggulan khusus yang tidak dimiliki oleh universtas mananpun di dunia. Unib mempunyai sesuatu yang diakui oleh dunia yang terbaik. Dengan alasan ini, maka banyak mahasiswa asing dan peneliti asing yang belajar ke Unib.

Saya punya teman di Jepang, mengapa ia sangat ingin melanjutkan belajar ke Perancis. Ia berkata bahwa Jepang belum mampu membuat kereta api secepat Perancis. Ia ingin mempelajarinya dan sehingga nanti Jepang akan mampu membuatnya atau bahkan lebih cepat dari kereta api yang di Perancis. Apakah unggulan semacam ini yang akan dicapai oleh Unib melalui visinya menjadi unierstas kelas dunia pada tahun 2025?

Lebih dari pro dan kontra tentang visi Unib yang baru, saya mengusulkan beberapa langkah yang harus dilakukan oleh Unib dalam rangka mencapai visi tersebut, yaitu: 1) buatlah studi kelayakan tentang universitas kelas dunia. Tentu saja yang menjadi acuan definisi adalah definisi standard internasional. jangan buat definisi sen,diri, atau definisi Dikti yang menurut saya tidak standard; 2) dari studi kelayakan tersebut pastilah akan diketahui kekuarangan Unib, maka buatlah rencana untuk melengkapi kekuarangan baik fasilitas, intrastruktur dll; 3) Buat keunggulan yang spesifik yang hendak dicapai. Unggulan ini harus khas. jika saya melihat unggulan di statuta ini terlalu luas dan tak spesifik karena universitas lan juga ada yang mengarah kesana. Undip misalnya unggulannya adalah pengembangan daerah pesisir; 3. Semuanya tersebut dijabarkan dalam Rencana Stategis, Rencana Operasional Tahunan dan jangan lupa anggaran yang memadai. Sudahkah Unib memikirkan anggaran untuk mencapai visi tersebut tahun 2025?

Saya tidak yakin visi itu akan tercapai tahujn 2025. Saya setuju Unib harus mampu menjadi world university tapi tidak tahun 2025. Saya mengusulkan tahapan misalnya kita sejajarkan dulu Unib dengan universitas-universitas terkemuka di Asian Tenggara. Jika itu sudah tercapai baru kita mulai melirik tingkat Asia, baru kemudian kita bisa berpikir menjadi World Class University.

 





PENERAPAN ABSEN HARIAN DOSEN

12 02 2011

Oleh: Urip Santoso

Sejak PP 53 digulirkan, di kampusku terjadi beberapa perubahan. Beberapa waktu yang lalu Rektor mensosialisasikan PP 53 ini, kemudian dilanjutkan oleh Dekan. Lalu dicoba diterapkan.

Dalam setiap sosialsasi saya selalu mengingatkan kepada pimpinan agar pelaksanaan PP 53 dapat berjalan secara seimbang. Maksud saya adalah bahwa benar dosen wajib hadir di kantor di jam kerja. Masalahnya adalah bahwa di kampusku tidak semua dosen mempunyai ruang kerja yang memadai. Ruang kerja yang aman, nyaman dengan beberapa falisitas untuk mendukung kinerja dosen. Sayangnya pimpinan baik pimpinan PT maupun fakultas kurang menanggapi hal ini. Jika ada tanggapan pun tidak menjawab masalah yang dihadapi para dosen.

Saja sangat setuju tentang pelaksanaan jam kerja dosen sebaga PNS. Namun hendaknya pimpinan juga memperhatikan apa-apa yang dibutuhkan oleh para dosen agar mereka bisa berprestasi. Apalah artinya dosen masuk setiap hari namun hanya ngobrol hanya karena tidak ada ruang yang memadai. Tidak ada prestasi! Banyak dosen yang punya ruang kerja yang nyaman, aman, lengkap dengan fasilitas yang dibutuhkan di rumah mereka masing-masing. Ketika mereka bermaksud membuat proposal, buku, artikel ilmiah dll., mereka justru lebih banyak bekerja di rumah. Mengapa? Ya, karena di sanalah mereka bisa konsentrasi; karena di sanalah mereka bisa menghasilkan apa yang diharapkan dengan cepat dan efisien.

Sekali lagi, saya berharap penerapan PP 53 bagi dosen di kampusku, diimbangi dengan usaha untuk memperbaiki fasiltas bagi dosen, khususnya adanya ruang yang aman dan nyaman, fasiltas internet yang cepat, buku dan jurnal dll. Saya yakin jika ini dilakukan, prestasi para dosen di lingkungan Universitas Bengkulu akan meningkat dengan pesat, dan akhirnya prestasi UNIB pun meningkat pula. Saya prihatin bahwa peringkat UNIB dalam meraih penelitian di Dikti menurun drastis, dari peringkat 5 di masa-masa lalu menjadi peringkat 29.





Program Detasering Dikti

21 11 2010

Setiap tahunnya Dikti mengadakan kegiatan detasering bagi dosen di seluruh Indonesia. Para dosen senior yang terpilih ditempatkan di perguruan tinggi sasaran (Pertisas) selama 5 bulan. Tugas mereka antara lain adalah membina perguruan tingi tersebut agar kualitasnya meningkat. Banyak dosen yang baru ikut detasering pada awalnya agak bingung. Oleh sebab itu, saya mencoba menyajikan hal-hal yang terkait dengan detasering.

Jika Anda terplih tahun 2011 sebagai detaser, beberapa hal perlu dipersiapkan, yaitu: 1) Mempersiapkan materi-materi yang sekiranya diperlukan. Materi yang perlu dipersiapkan adalah yang terkait dengan tridharma perguruan tinggi dan manajemen perguruan tinggi; 2) Meningkatkan kemampuan memotivasi, sebab disana Anda bertugas untuk memotivasi pimpinan, dosen, mahasiswa dan karyawan untuk meningkatkan kualitasnya; 3) Setelah sampai di Pertisas segera berkomunikasi dengan pimpinan dan sivitas akademika untuk menjaring permasalahan dan kebutuhan utama Pertisas; 4) Berdasarkan hal tersebut buat rencana kegiatan selama 5 bulan. Tahap ini seharusnya dapat dilakukan paling lambat 1 minggu. Rencana kegiatan detasering kemudian dikomunikasikan dengan Pertisas. Setelah disetujui maka susunlah jadwal kegiatan bersama tim pendamping detasering Pertisas.

Sebaagai detaser Anda wajib hadir kerja setiap hari  sesuai dengan jam kerja di Pertisas tersebut. Hadir setiap hari sangat ditekankan oleh Dikti untuk memberi contoh kepada sivitas akademika disana. Kegiatan yang Anda lakukan setiap hari harus dicatat dalam catatan harian (log book). Kehadiran Anda dibuktikan dengan absen yang disetujui oleh Rektor/PR I Pertisas.  Anda sebagai detaser diwajibkan memberikan laporan kegiatan setiap bulannya ke Dikti. Berikut sajian yang berkaitan dengan detasering.

Laporan Akhir Kelompok

Pengesahan Laporan Kelompok

LAPORAN AKHIR INDIVIDU

BUKU CATATAN HARIAN JULI 2010

TERM OF REFERENCE

BORANG EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM DETASERING