Membaca dan Menulis Ibarat Dua Sisi Mata Uang

9 01 2013

Banyak orang mengeluh tidak bisa menulis. Ungkapan ini tidak hanya beredar di kalangan masyarakat umum, tetapi juga di kalangan menengah-atas. Para dosen, para peneliti, para guru dll. yang seharusnya menulis itu sudah menjadi kebiasaan juga mengeluhkan hal ini. Bagaimana mungkin kita bisa menulis kalau tidak membaca? Bagaimana bisa membaca kalau tidak menulis?

Saya coba bahas pertanyaan pertama. Membaca tidak hanya membaca tulisan, tetapi membaca apa-apa yang ada di sekeliling kita. Membaca alam semesta, membaca kejadian yang ada dalam diri sendiri, membaca apa yang terjadi di sekitar kita dll. Meneliti itu sendiri juga membaca. Membaca gejala yang dapat dilihat baik dengan mata telanjang maupun dengan alat. Dengan membaca itu, maka akan timbul ide atau gagasan untuk menulis. Menulis itu sendiri gampang-gampang susah. Ia memerlukan latihan yang terus menerus. Saya berpendapat tidak ada orang yang normal tidak bisa menulis. Buktinya ketika seseorang jatuh cinta bisa membuat puisi yang romantis; bisa menulis surat yang menggugah. Yang ada barangkali perasaan tidak mampu menulis. Jadi membacalah secara terjadwal agar bisa menulis.

Pertanyaan kedua. Membaca memotivasi menulis, dan menulis menginspirasi untuk membaca sesuatu. Seseorang yang banyak menulis akan termotivasi untuk membaca terus. Sebab ketika menulis atau selesai menulis timbul ide atau pertanyaan baru. Nah, pertanyaan atau ide baru ini memaksa seseorang untuk membaca lagi agar pertanyaan atau ide baru terjawab.

“Saya tidak punya waktu membaca!” Apa benar? Itu hanya alasan yang dibuat-buat. Ketika Anda pergi ke tempat kerja banyak yang bisa dibaca sepanjang jalan. Ketika Anda di tempat kerja juga banyak waktu untuk membaca. Ketika Anda pulang dari kerja juga banyak bacaan di sepanjang jalan pulang.

“Saya tidak mampu menulis!” Masak?1 Apa sudah dicoba? Kalau sudah dicoba berapa kali mencoba? ” Baru dua kali, dan saya menyerah”. Kalau begitu sih belum mencoba namanya. Menulis butuh pengetahuan, maka harus membaca. Menulis itu butuh latihan, maka berlatihlah tanpa putus asa.

“Saya malas membaca.” Wah kalau ini sih  bukan alasan! Jika mals membaca sudah dipastikan tidak akan pernah menulis. Bagi orang awam yang tidak punya kewajiban menulis mungkin tidak apa-apa. Akan tetapi bagi guru, dosen atau peneliti lain lagi. Guru untuk bisa naik ke golongan IV/b-IV/e harus publikasi ilmiah. Para peneliti dan dosen untuk bisa naik jabatan juga harus publikasi ilmiah. Tentu saja jika mereka tidak menulis maka tidak akan bisa mencapai posisi tertinggi.

Jadi, mari membaca dan menulis sebagai bagian hidup kita!





Teknik Wawancara

28 12 2012

Saya sajikan point power tentang teknik wawancara yang saya ambil dari berbagai sumber.

7-teknik-wawancara-sae





Kiat-kiat Memenangkan Debat (Sebuah Kompilasi)

16 11 2012

Debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan. Secara formal, debat banyak dilakukan dalam institusi legislatif terutama di negara-negara yang menggunakan sistem opisi

Debat Bahasa Indonesia

1. Gunakan Bahasa Indonesia Baku dan sesuai dengan EYD

Kita harus menggunakan cara ini karena sudah ketentuan dalam lomba. Kita (khususnya orang jawa) harus lebih behati-hati dalam mengucapkan argumentasi kita. Jangan gunakan bahasa jawa pada saat menyampaikan argument kita walaupun itu keceplosan karena akan mengurangi nilai dalam penilaian. Dan jangan gunakan bahasa Indonesia masa kini, misal kamu diganti dengan lo, tetap menjadi tetep, dll.

2. Gunakan paragraf Argumentasi

Paragraf argumentasi adalah paragraph yang digunakan untuk mempertahankan pendapat kita mengenai tema yang diperdebatkan. Semakin kuat argument kita semakin sulit pula lawan kita untuk melawan/ memberi kalimat sanggahan terhadap argument. Argument yang kita gunakan harus sesuai dan masih berkaitan dengan tema debat.

3. jangan gunakan kalimat pengandaian

Hindari penggunaan kata andaikan, jika, bila, andaikata, seandainya, dll. Kata-kata seperti itu akan melemahkan argumentasi kita sehingga akan mengurangi nilai. Read the rest of this entry »





Komunikasi Massa

12 11 2012

Materi kuliah Pengatar Ilmu Komunikasi di Jurusan Peternakan, Fakultas  Pertanian Unib.

KOMUNIKASI MASSA





Maladaptasi

24 05 2012

Maladaptasi itu menggambarkan suatu fenomena dimana suatu masyarakat kehilangan kemampuan/keterampilan tertentu ketika suatu adopsi telah diterima dan dipakai oleh masyarakat tersebut. Misalnya, suatu masyarakat yang biasanya menarik kereta di salju dengan rusa, kemudian mengadopsi suatu alat yang digunakan untuk menarik kereta menggantikan rusa atau juga mengganti sama sekali kereta dengan rusanya dengan kendaraan yang baru. Dengan adopsi tersebut, segala fasilitas yang terkait dengan kereta salju tersebut lenyap seperti peternakan rusa, keretanya, keterampilan & pengetahuan masyarakatnya hilang sama sekali. Suatu saat, kendaraan tersebut macet, maka macet pulalah semua aktivitas tersebut. Ketika mau menggunakan kereta salju seperti dulu sudah tidak bisa lagi.

Nah, dalam era teknologi ini banyak kearifan lokal yang ditinggalkan oleh masyarakatnya karena dianggap tidak praktis, kuno, tidak ekonomis atau alasan lainnya. Contoh sederhana, seseorang telah mengadopsi multimedia untuk setiap presentasinya, sehingga ia sangat tergantung kepada fasilitas pendukungnya seperti listrik. Suatu saat ketika ia akan presentasi listrik atau sarana lainnya tidak dapat digunakan. Ia menjadi kacau dan tidak dapat presentasi dengan baik, dan akhirnya proposalnya ditolak. Mengapa ia kacau dan panik? Karena ia telah kehilangan kemampuan presentasi secara oral tanpa multimedia. Seharusnya, ketika ia mengadopsi teknologi baru untuk presentasi ia tetap menjaga kemampuan yang sebelumnya telah dimilikinya, sehingga ketika teknologi yang diadopsinya tidak bisa berfungsi ia masih mempunyai kemampuan presentasi oral tanpa media tersebut.





TUJUAN DAN AKIBAT KOMUNIKASI

16 02 2010

Tujuan komunikasi dapat dilihat dari dua perspektif kepentingan, yaitu kepentingan sumber dan kepentingan penerima. Tujuan komunikasi dari suut kepentingan sumber antara lain: 1) memberikan informasi, 2) mendidik, 3) menyenangkan/menghibur, dan 4) menganjurkan suatu tindakan/persuasi. Tujuan komunikasi dari sudut kepentingan penerima antara lain: 1) memahami informasi, 2) mempelajari, 3) menikmati, dan 4) menerima atau menolak anjuran. Tujuan komunikasi juga dapat dipandang dari sudut sosial dan individu. Tujuan komunikasi dipandang dari sudut kepentingan sosial adalah: 1) berbagai pengetahuan umum tentang lingkungan sekitarnya, 2) sosialisasi peran, nilai, kebiasaan terhaap anggota-anggota baru, 30 memberi hiburan kepada warga masyarakat, menciptakan bentuk-bentuk kesenian baru, dll, 4) pencapaian konsensus, mengontrol tingkah laku. Tujuan komunikasi dipandang dari keentingan individu adalah: 1) menguji, mempelajari dan memperoleh gambaran tentang realitas, kesempatan dan bahaya, 2) memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk hidup bermasyarakat, 3) menikmati hiburan, rileks, melarikan diri dari kesulitan hidup sehari-hari, dll, 4) menentukan keputusan/pilihan, bertindak sesuai aturan sosial.

Hasil dan akibat komunikasi pada dasarnya menyangkut tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek konatif. Aspek kognitif, yaitu menyangkut kesaaran dan pengetahuan. Misalnya: menjadi sadar atau ingat, menjadi tahu dan kenal. Aspek afektif yaitu menyangkut sikap atau perasaan/emosi. Misalnya: sikap setuju/tidak setuju, perasaan sedih, gembira, perasaan benci an menyukai. Aspek konatif, yaitu menyangkut perilaku/tindakan. Misalnya: berbuat seperti apa yang disarankan, atau berbuat sesuatu tidak seperti apa yang disarankan (menentang).

Komunikasi juga mempunyai empat fungsi sosial. Keempat fungsi sosial tersebut adalah: 1) pengawasan lingkungan, 2) korelasi di antara bagian-bagian dalam masyarakat untuk mencapai konsensus; 3) transmisi nilai-nilai/warisan sosial dari satu generasi ke generasi  selanjutnya atau dari satu kelompok ke kelompok lainnya (fungsi ini disebut fungsi sosialisasi), dan 4) fungsi hiburan. Fungsi pengawasan menunjuk pada upaya pengumpulan, pengolahan, produksi dan penyebarluasan informasi mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi. Upaya selanjutnya adalah diarahkan paa tujuan untuk mengendalikan apa yang terjadi di lingkungan masyarakat. Fungsi korelasi menunjuk paa upaya memberikan interpretasi atau penafsiran informasi mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi. Atas dasar penafsiran informasi ini diharapkan berbagai kalangan masyarakat mempunyai pemahaman, tindakan atau reaksi yang sama  atas peristiwa-peristiwa yang terjadi. Fungsi sosial menunjuk pada upaya pendidikan dan pewarisan nilai-nilai, norma-norma, dan prinsip-prinsip dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Terdapat banyak model yang menjelaskan proses tahapan hasil atau akibat komunikasiyang terjadi i kalangan penerima. Tiga diantaranya adalah model AIDA (Attention, Interest, esire an Action), model Hierarki Efek dan model Adopsi Inovasi. Model AIDA memberikan gambaran bahwa dampak atau hasil komunikasi yang terjadi pada seseorang setelah ia menerima sesuatu pesan akan menyangkut empat hal, yaitu perhatian, minat, keinginan dan tindakan. Diasumsikan bahwa tindakan yang diambil pada dasarnya didorong oleh adanya perhatian, minat dan keinginan. Model Hierarki Efek hampir sama dengan AIDA, hanya saja proses pentahapannya lebih kompleks, yaitu mencakup 6 tahap, yaitu menyadari, mengetahui, menyukai, memilih, meyakini dan membeli. Model adopsi inovasi (penerimaan ide/gagasan) meluputi lima tahap, yaitu pengetahuan, persuasi, keputusan, pelaksanaan dan konfirmasi. Model AIDA dan Hierarki Efek banyak digunakan dalam penelitian persuasi dan periklanan, sementara model Adopsi Inovasi digunakan dalam penelitian difusi inovasi (penyebaran ide baru) Ketiga model ini menjelaskan urutan tahapan hasil/akibat komunikasi dari mulai tahap kognitif, ke tahap afektif sampai tahap konatif. Dalam prakteknya ketiga tahapan hasil/akibat komunikasi tersebut dapat terjai secara terbalik atau tidak berurutan.





TINGKATAN PROSES KOMUNIKASI

16 02 2010

Menurut Denis McQuail (1987) secara umum kegiatan komunikasi dalam masyarakat dapat berlangsung dalam 6 tingkatan, yaitu

1)      Komunikasi intrapribadi, yaitu proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, berupa proses pengolahan informasi melalui panca indera dan sistem syaraf.

2)      Komunikasi antar pribadi, yaitu kegiatan komunikasi yang dilakukan secara langsung antara seseorang dengan orang lain. Corak komunikasinya lebih bersifat pribadi dalam arti pesan atau informasi yang disampaikan hanya ditujukan untuk kepentingan pribadi para pelaku komunikasi. Misalnya: pembicaraan tatap muka di antara dua orang, surat menyurat pribadi, percakapan melalui telepon dll.

3)      Komunikasi dalam kelompok, yaitu kegiatan komunikasi yang berlangsung diantara anggota suatu kelompok. Pada tingkatan ini, tiap individu yang terlibat masing-masing berkomunikasi sesuai dengan peran dan kedudukannya dalam kelompok. Pesan yang dikomunikasikan menyangkut kepentingan semua anggota kelompok, bukan bersifat pribadi. Misal: ngobrol-ngobrol dalam keluarga antara bapak, ibu dan anak-anaknya, diskusi diantara warga kelompok karang taruna, kegiatan belajar mengajar.

4)      Komunikasi antar kelompok/asosiasi, yaitu kegiatan komunikasi yang berlangsung antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya, atau antara suatu asosiasi dengan asosiasi lainnya. Misalnya: pertemuan antara pengurus Karang Taruna esa A dengan Karang Taruna Desa B, atau pertemuan antara pengurus ISKI dengan ISEI.

5)      Komunikasi organisasi, yaitu kegiatan komunikasi dalam suatu organisasi dan komunikasi antar organisasi. Contoh: Rapat atau pertemuan antara Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Sosial termasuk contoh komunikasi organisasi. Komunikasi organisasi bersifat formal dan mengutamakan prinsip-prinsip efisiensi dalam melakukan komunikasi.

6)      Komunikasi dengan masyarakat luas. Pada tingkatan ini kegiatan komunikasi ditujukan kepada masyarakat secara luas. Ada dua cara, yaitu: 1) komunikasi massa yaitu komunikasi yang dilakukan melalui media massa seperti radio, TV, majalah, surat kabar; 2) langsung tanpa melalui media massa, misalnya ceramah atau pidato di lapangan terbuka. Sifat isi pesan komunikasi yang disampaikan menyangkut kepentingan orang banyak, tidak bersifat pribadi. Proses penyampaian pesan melalui media massa berlangsung cepat dan mampu menjangkau wilayah geografi yang sangat luas (tidak terbatas). Contoh komunikasi massa adalah forum dialog dengan Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional melalui TV.





PRINSIP DASAR PROSES KOMUNIKASI

15 02 2010

Proses komunikasi melibatkan tujuh elemen, yaitu sumber, pesan, saluran, penerima, akibat/hasil, umpan-balik, dan gangguan. Dalam setiap proses komunikasi, sumber dan penerima pesan komunikasi, masing-masing melakukan tiga kegiatan atau tindakan: encoding (membentuk kode-kode pesan), decoding (memecahkan kode-kode pesan), dan interpreting (menginterpretasikan arti pesan). Sumber/pengirim pesan/komunikator adalah seseorang atau sekelompok orang atau suatu organisasi/institusi yang mengambil inisiatif menyampaikan pesan. Pesan adalah berupa lambang atau tanda seperti kata-kata tertulis atau secara lisan, gambar, angka, gestura. Saluran yaitu sesuatu yang dipakai sebagai alat penyampaian/pengiriman pesan  (misalnya telepon, radio, surat, surat kabar, majalah, TV, gelombang udara dalam konteks komunikasi antarpribadi secara tatap muka). Penerima/komunikan, yaitu seseorang atau sekelompok orang atau organisasi/institusi yang menjadi sasaran penerima pesan. Akibat/dampak/hasil yang terjadi pada pihak penerima/kominikan. Umpan balik/feedback, yaitu tanggapan balik dari pihak penerima/komunikan atas pesan yang diterimanya. Gangguan (noise) adalah faktor-faktor fisik ataupun psikologis yang dapat mengganggu atau menghambat kelancaran proses komunikasi.

Proses komunikasi akan berjalan baik, apabila antara sumber dan penerima pesan terdapat pertautan minat dan kepentingan (overlaping of interest). Pertautan minat  dan kepentingan ini akan terjadi apabila terdapar persamaan (dalam tingkatan yang relatif) dalam hal kerangka referensi antara sumber dan penerima pesan. Proses komunikasi antara sumber dan penerima ini, dalam prakteknya seringkali tidak dapat berjalan baik karena adanya gangguan, baik gangguan yang bersifat fisik maupun gangguan yang bersifat psikologis. Berdasarkan tingkat partisipasi dari sumber  dan penerima pesan, proses komunikasi dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah adalah suatu bentuk proses komunikasi dimana yang aktif adalah pihak sumber. Pihak penerima pesan bersifat pasif. Dalam arti hanya menerima pesan yang disampaikan oleh sumber tanpa memberikan umpan balik berupa tanggapan, reaksi atau pendapat atas pesan yang diterimanya. Komunikasi dua arah adalah sumber dan penerima masing-masing terlibat aktif dalam penyampaian pesan dan umpan balik. Contoh komunikasi satu arah adalah komunikasi melalui media massa seperti radio, TV, surat kabar dan majalah. Contoh komunikasi dua arah antara lain komunikasi antar pribadi seperti percakapan tatap muka antara dua orang atau lebih atau pembicaraan melalui telepon dan HP.