PENGEMBANGAN EKONOMI KELOMPOK SIMPAN PINJAM PEREMPUAN MELALUI USAHA PRODUKSI CHIP KETELA DI KECAMATAN SEBERANG MUSI

4 03 2013

 Oleh: HELMIYESI

Abstrak

Hakekat pembangunan merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu masalah yang dihadapi masyarakat di Kecamatan Seberang Musi Kabupaten Kepahiang adalah kemiskinan. Kemiskinan ditandai oleh kurangnya akses untuk mendapatkan barang, jasa, aset dan peluang penting yang menjadi hak setiap orang. Adanya upaya mengurangi kemiskinan dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd) antara lain adanya bantuan dana khusus untuk kelompok simpan pinjam perempuan. Alokasi dana untuk kelompok simpan pinjam perempuan maksimal sebesar 25% dari jumlah total dana yang dialokasikan untuk setiap Kecamatan setiap tahunnya. Dana tersebut dapat dimanfaatkan oleh kelompok untuk menambah modal dan peningkatan ekonomi keluarga. Namun karena mayoritas penduduk di Kecamatan Seberang Musi Kabupaten Kepahiang adalah petani maka dana tersebut belum terserab secara maksimal dan tidak efektif karena mereka kesulitan untuk mengangsur pinjaman setiap bulannya. Hal ini dikarenakan hasil panen mereka yang bersifat musiman. Akibatnya sering timbul penunggakan dan penyelewengan dana. Untuk itu perlu adanya upaya pemberian keterampilan kepada masyarakat agar tercipta lahan usaha rumah tangga sehingga dana yang telah disiapkan oleh PNPM MPd dapat digunakan secara maksimal. Salah satu bahan baku yang mudah di dapatkan adalah ketela atau singkong. Ketela menjadi produk alternatif sebagai bahan pangan strategis karena memiliki karbohidrat tinggi, produksinya tinggi dan budidayanya mudah. Oleh karena itu, ketela/singkong memiliki prospek yang besar untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan yang memiliki kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat dan perekonomiannya.Maka upaya pengembangan ekonomi kelompok simpan pinjam perempuan melalui usaha produksi chip ketela ini akan dapat berjalan maksimal.

Kata kunci: Ekonomi, Kelompok Simpan Pinjam Perempuan, PNPM MPd, chip ketela

Selengkapnya





Jumlah Penduduk Miskin Per Provinsi di Indonesia

13 08 2011

Menurut BPS, jumlah penduduk miskin dari tahun ke tahun terus menurun. Setiap kali BPS mempublikasikan datanya selalu menuai kritik. Hal ini disebabkan angka garis kemiskinan yang dibuat oleh BPS dianggap terlalu kecil. Saya pribadi cenderung kepada pendapat bahwa garis kemiskinan dihitung bagi penduduk yang pendapatannya kurang dari $2/kapita/hari. Saya juga beranggapan bahwa pendapatan/kapita pada garis kemiskinan yang dikeluarkan oleh BPS terlalu rendah.

Meskipun demikian, data resmi yang dikeluarkan oleh BPS dapat dijadikan dasar untuk menghitung jumlah penduduk miskin di setiap provinsi. Kita juga bisa membuat hal yang sama sebagai bahan pembanding. Berikut data penduduk miskin setiap provinsi dari tahun 2007-2010. Download Disini





PEMANFAATAN DAN ANALISIS EKONOMI USAHA TERNAK KELINCI DI PEDESAAN MELALUI DIVERSIFIKASI PRODUK

30 10 2009

 Oleh: Pobi Tarosman

      NPM: E2A009018

ABSTRAK

Pengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada wilayah sentra pariwisata. Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya pengaruh psychologis antara manusia dengan ternak kelinci dalam hal memotong dan sekaligus untuk dimakan. Kendala lainnya adalah angka kematian yang cukup tinggi dan masih perlu adanya sosialisasi mengkonsumsi daging dan penyediaan produk daging olahan yang menarik konsumen. Disisi lain ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak beranak yang pendek sehingga mampu menghasilkan jumlah anak yang cukup tinggi pada satuan waktu yang singkat (per tahun) sehingga dikenal sebagai penyedia daging yang handal. Teknologi pengolahan daging kelinci meliputi teknologi pembuatan sosis, kornet, burger, nugget, karage, bakso, abon dan lain-lain,Manfaat lainnya adalah sebagai penghasil kulit bulu, kotoran (feces) dan sebagai ternak kesayangan. Semua manfaat tersebut dapat menjadi tambahan pendapatan peternak. Usaha peternakan kelinci selain sebagai pemenuhan gizi (subsisten) perlu adanya dukungan untuk mengarah pada usaha komersil berorientasi pasar. Telah dicoba dilakukan analisis terhadap usaha kelinci intensif yang berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan pada skala usaha tersebut adalah sebesar Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan (dalam perhitungan ini dilakukan penilaian terhadap sisa kelinci yang belum berumur potong, karena dalam kas opnam masih tersisa sejumlah (ternak muda).

 Kata Kunci: Kelinci, Teknologi, Pengolahan, Pemanfaatan, Keuntungan

Read the rest of this entry »