BURUNG PERKUTUT (Geopelia striata Linn) SEBAGAI HEWAN POTENSIAL

10 11 2009

 

Dicky Trisaputra

Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

 Abstrak

            Burung perkutut (Geopelia striata Linn) sebagai hewan potensial karena memiliki suara kicauan yang sangat indah, sehingga ribuan orang yang menggemari untuk memelihara burung perkutut. Burung perkutut dicatagorikan termasuk golongan hewan potensial maka dari itu diadakan adanya perkembangbiakan, pencegahan penyakit, dan sebagai peluang tenaga kerja.

            Hasil penulisan karya ilmiah ini menyimpulkan bahwa Burung perkutut (Geopelia striata Linn) sebagai hewan potensial untuk peluang pekerjaan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari, serta peluang tenaga kerja bagi siapa yang membutuhkan.

 Kata kunci: Burung Perkutut, hewan potensial, peluang tenaga kerja Read the rest of this entry »





POLA PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI KELAPA SAWIT-SAPI SEBAGAI PENJAMIN KETERSEDIAN PAKAN TERNAK

9 11 2009

EFRYANTONI ,E1C006013 FAKULTAS PERTANIAN : UNIVERSITAS BENGKULU

 ABSTRAK

Pengembangan program integrasi kelapa sawit-sapi mempunyai peluang pengembangan yang sangat prosfektif ditinjau dari aspek permintaan atas sapi  nasional, ketersediaan pakan sapi melalui sinergi dengan kebun sawit dan hasil sampingan proses pengolahan hasil kebun, serta pemanfaatan kotoran sapi secara maksimal. Produksi limbah pertanian sangat tergantung pada waktu panenan yang mengakibatakan ketersediaan secara kontinue sepanjang tahun untuk dibutuhkan tempat penyimpanan untuk menampung limbah pertanian saat panen. Didalam pola integrasi ini, tanaman kelapa sawit sebagai komponen utama, sedangkan ternak sebagai komponen pelengkap. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebagai faktor pembatas dalam pemanfaatanya sebagai pakan. Limbah kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan oleh ternak sebagai pakan adalah : pelepah sawit, lumpur sawit, bungkul inti sawit. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa: pelepah sawit mengandung protein sebesar 1,9%, lemak 0,5% dan lignin 17,4%, Kombinasi serat buah (25%), BIS (15%) dan lumpur sawit (10%) dengan total kontribusi 50% dapat digunakan untuk sapi. Disamping memanfatkan limbah hasil kelapa sawit, sapi yang intgrasikan dengan kelapa sawit ini juga bisa memakan gulma yang berada disekitar perkebunan kelapa sawit. Tanaman penutup lahan kelapa swit juga bisa dimanfaatkan oleh ternak sebagai hijauan, seperti : Callopogonium mucunoides, Centrocema pubescent, Pueraria javanica, Psophocarpus palustris, Callopogonnium caerulium dan Muchuma cochinensisc. Dimana tanaman leguminosa  penutup lahan dapat memproduksi hijauan setara dengan 5-7 ton. Tujuan pembangunan penutup tanah adalah untuk mengurangi erosi permukaan tanah, menambah bahan organik dan cadangan unsure hara, memperbaiki aerasi, menjaga kelembaban tanah menekan perkembanagn gulma, menghemat penyiangan dan pemupukan serta menekan gangguan kumbang orycites. Untuk menunjang keberhasilan sistem integrasi  ternak denagn perkebunan kelapa sawit dibutuhkan teknologi tepat guna dan sosialisasi berkelanjutan dalam hal ; Pengolahan limbah perkebunan/pabrikan sebagai sumber pakan ternak, Pengolahan kompos yang berkualiatas dalam waktu pendek, Pendugaan kapasitas tampungan lahan perkebunan untuk jenis ternak tertentu, Manajemen pemelihararan ternak yang intensif. Disamping itu ternak sapi yang di intgrasikan denagn kelapa sawit juga bisa dimanfaatkan sebagai penarik gerobak maupun mengangkut hasil panenan kelapa sawit dan kotoran sapi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, yang mana pada akhirnaya bisa menghemat biaya produksi.

Kata kunci:  Integrasi,kelapa sawit, hijauan pakan ternak, limbah, sapi Read the rest of this entry »





Kualitas Pellet Pakan Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan Unggas

6 11 2009

 Devi Joni Taufik
Abstrak
Pellet merupakan pakan yang baik untuk digunakan sebagai pakan penambah berat badan pada unggas. Kualitas pellet bervariasi untuk jenis-jenis unggas pedaging. Kualitas pellet terutama penting untuk itik dimana index ketahanan pellet (PDI = pellet durability index) diupayakan 96 % untuk penampilan produksi yang optimum, sedangkan untuk pakan kalkun target PDI 90 % atau broiler PDI 80 %. Pada umumnya upaya mengoptimalkan PDI tetap merupakan alasan yang baik sepanjang perbaikan PDI bisa mengefisienkan biaya. Kendalanya adalah memastikan teknik manajemen dan teknologi pelleting mana yang paling efisien untuk diaplikasikan dalam produksi pakan unggas.

Kebanyakan pakan unggas di banyak negara diproduksi dalam bentuk butiran maupun pellet. Keuntungan memproses pellet adalah: mengurangi pengambilan pakan secara seletif oleh unggas, meningkatkan ketersediaan nutrisi, menurunkan energi yang dibutuhkan sewaktu mengkonsumsi pakan, mengurangi kandungan bakteri pathogen, meningkatkan kepadatan pakan sehingga dapat mengurangi biaya penggunaan truk, mengurangi penyusutan pakan karena debu, dan memperbaiki penanganan pakan pada penggunaan alat makan otomatis. Semua keuntungan ini akan secara dratis menurunkan biaya produksi.

Kualitas pellet bagi ternak terrestrial, berbeda dengan spesies akuatik, sangat terkait dengan durabilitas, yaitu ketahanan fisik dari pakan pellet menghadapi proses penanganan dan transportasi sehingga dihasilkan tepung maupun patahan pellet dalam jumlah minimum. Durabilitas diukur dengan nilai persentase pellet ataupun tepung dalam pakan jadi disingkat sebagai PDI (“pellet durability index”). PDI menggambarkan persentase berat pellet yang tetap utuh setelah melewati alat uji standar (KSU tumbling cane, Holman tester, Kahl tester, dll). Dengan masih terbatasnya pengetahuan kita tentang  pellet maka kita harus mencari, melihat membaca, mengetahui, dan memahami semua tentang pellet dari proses pengolahan, bentuk yang baik, menjaga kualitas,dsb.

 Kata Kunci : pellet, pakan, unggas.  Read the rest of this entry »





MANFAAT DAUN KATUK BAGI KESEHATAN MANUSIA DAN PRODUKTIVITAS TERNAK

24 08 2009

Oleh: Prof. Urip santoso

            Setelah manusia mengarungi samudra dunia modern dengan segala kemudahan sebagai hasil perkembangan teknologi, manusia mulai menyadari bahwa segala sesuatu yang tidak seimbang, tidak fitrah atau tidak alami dapat membawa akibat kurang baik bagi kesehatannya. Perubahan pola makan manusia modern ternyata mengakibatkan berbagai penyakit yang dahulunya kurang dominan sebagai penyebab kematian, sekarang menduduki peringkat atas. Semakin hari semakin banyak manusia yang terkena kanker, stroke, penyakit penyempitan pembuluh darah, penyakit jantung, kencing manis, dan berbagai penyakit degeneratif lainnya, sebagai akibat salah makan atau makan yang berlebihan.

            Hal ini kemudian memicu masyarakat untuk kembali ke alam. Diyakini bahwa sesuatu yang alami baik pada pola pangan, ataupun penggunaan bahan alami sebagai obat akan membawa efek negatif yang lebih sedikit. Dengan demikian, umur fisiologis dari sel dapat diperpanjang. Di Eropa dan Amerika Serikat misalnya, penggunaan tumbuhan obat sebagai alternatif obat kimia telah  banyak di teliti dan diproduksi. Tumbuhan obat juga telah banyak diteliti untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak. Read the rest of this entry »





Beternak Ayam Kampung Petelur

18 08 2009

 Oleh Suharyanto

Pengantar

Ayam kampung boleh dikatakan sebagai ayam asli Indonesia yang sudah dipelihara sejak jaman dahulu. Ayam ini memiliki potensi yang sudah terbukti, mampu member kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan keluarga, setidaknya sebagai penghasil daging dan telur. Kebanyakan ayam kampung bersifat dwifungsi, yaitu sebagai penghasil daging dan penghasil telur, dan biasanya tergantung bagaimana tujuan peternak memelihara ayam kampung. Ayam kampung merupakan hasil domestikasi ayam hutan merah selama berabad-abad. Ayam kampung yang ada di Indonesia morfologinya (bentuk-bentuk fisik) sangat beragam, sulit sekali dibedakan dan dikelompokkan ke dalam klasifikasi tertentu. Karena tidak memiliki cirri yang khusus dan tidak adanya ketentuan tujuan dan arah usaha peternakannya, ayam kampung dinamakan juga sebagai ayam buras (bukan ras), untuk membedakan dengan ayam yang sudah jelas tujuan dan arah usahanya, misalnya khusus petelur atau pedaging) yang disebut dengan ayam ras. Produktivitas ayam kampung yang dipelihara secara ala kadarnya memang masih rendah. Produksi telur per tahunnya sekitar 60 butir dan berat badan ayam jantan dewasa tidak melebihi dari 2 kg. Apa lagi ayam betina dan ayam-ayam yang sudah tua maka berat badannya jauh lebih rendah lagi. Namun demikian, bila ayam kampung dipelihara secara benar, tepat dan intensif maka produktivitasnya dapat ditingkatkan, khususnya bila diarahkan untuk petelur. Read the rest of this entry »





Lumpur Minyak Sawit sebagai Makanan Ternak

13 06 2009

 

 Oleh: Urip Santoso

 Limbah minyak sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku pakan penghasil energi bagi ternak ruminansia dan unggas. Kendalanya adalah masalah tingginya kandungan serat kasar seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin.

 DEWASA ini perkebunan kelapa sawit di Indonesia berkembang pesat untuk memenuhi kebutuhan konsumen baik di dalam maupun di luar negeri. Namun sejalan dengan per­kembangan industi pengolahan minyak sawit, maka telah menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Apalagi limbah-­limbah tersebut langsung dialirkan ke da­Iam sungai. Hal ini tentunva menimbulkan pencernaran air yang dapat membahayakan ekosistem air dan juga kesehatan manusia yang mengkonsumsi air tersebut. Read the rest of this entry »





Penggunaan Derivat Asam Pantotenat pada Industri Ternak

12 06 2009

Oleh Urip Santoso

 

Dewasa ini, industri peternakan yang berkembang cepat temyata menghasilkan berbagai kelainan metabohsme lemak, termasuk di dalamnya fatty liver dan akumulasi lemak yang berlebihan di bagian abdomen dan bagian lainnya. Sebagai contoh,fatty liver tidak hanya menurunkan produksi telur dan menurunkan nilai komoditas broiler sebagai bahan pangan, tetapi juga meng­ganggu efisiensi pertumbuhan dan me­tabolisme normal pada ternak yang me­nyebabkan kerugian ekonomi cukup besar. Pantethine sebagal derivat asam pantotenat mempunyai prospek yang cukup baik untuk mencegah kelainan tersebut di atas.

            Pantelhine, D‑bls‑ (pant thenyl-β‑aminoethyl) disulfide addimer dan Pantethine yang merupakan derivat asam pantote­nat dan cysteamine, dan membentuk se­bagian dani struktur Coenzyme A. Pante­thine telah lama dikenal mempunyai sifat hipolilidemik.. Read the rest of this entry »





Permasalahan Peternakan di Era Otonomi Daerah

10 06 2009

Oleh: Prof. Urip Santoso

Ada beberapa kendala berat yang harus dihadapi dunia peternakan dalam era otonomi daerah. Antisipasinya?

 

DUNIA peternakan di Indonesia dihadapkan kepada kendala-­kendala yang berat yang harus segera diatasi dalam menghadapi tantangan era pasar bebas. Pertama, belum dapat dicapainya standar gizi nasional sebesar 6 gram protein hewani asal ternak per hari per orang. Kedua, produktivitas ternak masih rendah serta angka kematian ternak yang relatif masih cukup tinggi. Ketiga, belum dapat dimanfaatkannya peluang ekspor ternak dan hasil ternak dalam upaya peningkatan penerinnaan devisa dan penciptaan lapangan kerja baru. Keempat, kerugian yang diderita akibat penurunan mutu dan kerusakan hasil‑hasil peternakan karena penanganan yang kurang tepat. Kelima. belum dimanfaatkannya sumberdaya alam secara optimal karena kurangnya minat instansi dan masalah-­masalah lainnya yang terkait, di antaranya kurangnya tenaga teknis terampil. ketersediaan teknologi tepat guna dan lain-­lain. Keenam, lemahnya kelembagaan dan posisi peternak. Ketujuh. adanya tuntutan agar pengelolaan peternakan dapat memperhatikan masalah lingkungan yang dihasilkannya. Read the rest of this entry »





BIOTEKNOLOGI MEAT DESIGNER

16 04 2009

Oleh:

Prof. Ir Urip Santoso, M.Sc., Ph.D.

Disampaikan pada Upacara Pengukuhan Guru Besar Universitas Bengkulu

Rabu, I I Mei 2005

Para hadirin yang terhormat, assalarnu’alaikum wr. wb. Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya menyampaikan Pidato pengukuhan ‑ dengan judul”Bioteknologi Meat Designer”. Apa yang dimaksud dengan meat designer? Meat designer adalah daging yang mempunyai beberapa kriteria sebagai berikut: daging yang enak dan tidak amis, tinggi proteinnya dengan komposisi asarn amino yang seimbang, bebas residu obat dan mikrobia pathogen, seimbang imbangan asam lemak jenuh dan tidak jenuh, rendah koles‑terol dan trigliserida (lemak). Daging dengan criteria tersebut merupakan daging idaman bagi konsumen terutama di Negara maju dan diperkotaan. Selain itu, industri peternakan dituntut untuk dapat menekan seminimal mungkin tingkat polusi baik polusi udara, tanah dan air. Mengapa mereka menginginkan meat designer? Read the rest of this entry »





Menciptakan Broiler yang Seragam

25 12 2008

Oleh: Urip Santoso

 

Ketidakseragaman berat badan akan meningkatkan biaya produksi sehingga menurunkankan pendapatan peternak. Ada cara praktis untuk mendapatkan broiler yang seragam.

 

            Tujuan memelihara broiler adalah mendapatkan produktivitas yang tinggi serta menghasilkan berat badan yang dikehendaki pasar. Untuk mencapainya, seorang peternak harus berupaya agar broiler yang dipelihara sebagian besar mempunyai berat badan yang ideal pada umur pasar. Dengan demikian perlu diciptakan broiler yang mempunyai berat badan yang seragam.

            Sebagai contoh, kerugian yang akan dialami oleh peternak jika berat badan broiler sangat bervariasi antara lain adalah produksi broiler setiap kandangnya menjadi berkurang, sementara biaya produksinya tetap. Hal ini tentu saja akan memperkecil keuntungan yang diperolehnya. Bervariasinya berat badan ini akan menghasilkan bervariasinya berat karkas atau daging yang diproduksi. Selain itu, konsumen cukup selektif dalam memilih karkas broiler. Mereka menyukai  broiler/karkas broiler dengan berat tertentu. Oleh karena itu, bervariasinya berat badan akan berakibat tertundanya pemasaran yang berarti meningkatnya biaya produksi, atau lebih celakanya terpaksa dijual dengan murah.

            Dibawah ini diberikan petunjuk praktis cara-cara membuat broiler seragam. Read the rest of this entry »