Apa itu kualat? kualat artinya mendapat bencana (krn berbuat kurang baik kepada orang tua dsb) atau kena tulah atau celaka atau terkutuk. Kata ini sering kali dijadikan senjata yang ampuh bagi orangtua atau orang yang lebih tua, atau mereka yang merasa mempunyai status sosial lebih tinggi.
Dalam Islam ada yang disebut sunnatullah. Wa lan tajida lisunnatillahi tabdilla. Bahasa umumnya disebut sebagai hukum alam. Sesuatu yang dapat kita pahami dari beberapa karakteristiknya. Hukum Alam mempunyai tujuh karakteristik. Pertama, berlaku dimana saja (universal). Kedua, berlaku kapan saja dan tak mengenal waktu (timeless). Ketiga, dapat diramalkan (predictable). Keempat, berada di luar kita (eksternal). Kelima, beroperasi dengan atau tanpa pemahaman kita. Keenam, terbukti dengan sendirinya (self evident). Ketujuh, memampukan jika dipahami.
Menariknya, hukum alam ternyata juga berlaku dalam kehidupan sosial. Contohnya adalah “hukum kepercayaan”. Dimanapun di dunia ini tak ada orang yang suka dibohongi. Karena itu berbohong akan menghilangkan kepercayaan orang. Contoh lain adalah “hukum menang-menang”. Siapapun orangnya pasti ingin menang, tak ada orang yang mau kalah. Ada orang yang mengalah tapi tujuannya adalah untuk mencapai kemenangan. Siapa yang berbuat baik maka kebaikkannya adalah untuk diri sendiri. Siapa yang berbuat jahat akan memetik kejahatannya.
Nah, orang lebih mudah percaya kepada hukum alam daripada hukum sosial, sebab hukum alam itu akan langsung akibatnya sedangkan hukum sosial tidak langsung akibatnya malah mungkin berjangka waktu yang lama baru ketahuan akibatnya. Contoh, ketika tangan kita dimasukkan ke dalam api maka kita akan langsung terasa akibatnya, yaitu tangan terbakar. Kalau orang berzina, maka akibat zina itu tidak langsung terasa.
Sayangnya banyak orang yang salah tafsir. Ketika seseorang mendapat kritik dari orang yang lebih muda atau yang status sosialnya lebih rendah, ia akan berkata: “Nanti kualat loh, hati-hati kalau bicara”. Padahal kritik, saran atau nasehat itu adalah amat bagus bagi peningkatan kualitas orang itu. Kita sesama muslim diwajibkan untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kebenaran. Mengapa? Sebab tidak ada satupun manusia yang sempurna. Manusia tempat lupa dan salah. Oleh sebab itu ketika menerima kritik sebaiknya direnungkan. Lihatlah pada diri sendiri. Jika kritik itu benar adalah baiknya jika kita menerimanya. Kritik itu ibarat obat. Pahit di awalnya, tetapi manis selanjutnya. saya percaya itu. Betul loh! Kritik itu jika ditelusur dan ditelaah lalu kemudian memperbaiki diri, akan membuat seseorang meningkat kualitas hidupnya dan akan mempercepat kesuksesan.
Memang, mungkin cara memberi kritik atau saran atau nasehat bermacam-macam. Ada yang dengan santun. Ada yang dengan plos-plosan, lugas dan dengan bahasa yang langsung. Ada pula yang dengan sindiran. Ada yang dengan makian atau umpatan. Untuk itu, seringkali ketika kita menerima kritik pedas langsung emosi tanpa pikir panjang. Apalagi kalau caranya yang kurang berkenan.
Tidak mudah memang menerima kritik — apalagi kalau pedas — Wajah akan beringas ketika dituding kesalahannya, kelemahannya atau kekurangannya. Ia akan melontarkan kata-kata balasan yang senada, yaitu: “Kualat nanti kamu” atau “Celaka nanti” atau kata-kata yang serupa. Tidak mudah memang ketika menerima kritik wajah tetap tenang dan memperhatikan apa isi kritik itu. Yang sering terjadi adalah menyerang balik dengan jiwa yang penuh amarah.
Mari kita belajar menerima kritik meskipun disampaikan dengan bahasa yang kurang sopan. Yakinlah bahwa kritik itu akan membuat derajat kita meningkat baik di mata manusia maupun dihadapan Allah swt, Insya Allah.
0.000000
0.000000
SocialVibe