29 03 2011

This slideshow requires JavaScript.

Teman-temanku berhaji, saya  sajikan album kenang-kenangan haji tahun 2005. Halo Pak Widodo dan mbak Tiwuk, Pak Bambang dan mbak Lis, Pak Tri sekeluarga ini saya sajikan album haji sebagai kenang-kenangan. Pak Bambang Trihardi, saya mohon izin foto-foto ini saya sajikan di blog ini. Semoga menjadi kenang-kenangan yang indah. Jika melihat foto ini rasanya ingin lagi berhaji. Bagi yang belum berhaji semoga begitu melihat foto ini  timbul semangatnya untuk berhaji.
Haji adalah wajib hukumnya bagi seorang muslim yang mampu. Jadi, bagi teman-teman yang sudah mampu segeralah berhaji. Jangan menunda-nunda karena kesibukan dunia tidak akan pernah habis, dan juga kita tak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita.





Pembatasan Makanan dan Kesehatan

1 06 2012

Penelitian mengenai pembatasan makanan sudah termasuk tua.Dari hasil penelitian terungkap betapa besar manfaat pembatasan makanan bagi kelangsungan hidup baik bagi hewan maupun manusia. Berikut saya sajikan power point tentang pembatasan makanan dan kesehatan. Sajian ini disampaikan pada pengajian minggu pagi di masjid Darussalam, Perumnas Unib, Bengkulu. Semoga bermanfaat.

Pembatasan Makanan





Doa Kupanjatkan

29 05 2012

Ya Allah betapa hamba telah banyak berbuat dosa. Betapa hamba berburuk sangka kepada Engkau. Betapa banyak hamba mengumpat dan tak percaya kepada-Mu. Betapa hamba telah banyak melanggar larangan-Mu. Ya Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, betapa hanya sedikit dosa dan kesalahan yang hamba ketahui telah hamba lakukan. Hanya Engkau yang mengetahui betapa besar dosa dan kesalahan hamba. Hamba hina, Engkau Maha Mulia, Engkau Maha Pengampun, maka ampunilah dosa dan kesalahan hamba  baik yang hamba ketahui maupun tidak, baik  yang hamba sengaja maupun tidak, dan ampunilah semua dosa dan kesalahan hamba yang hanya Engkau yang mengetahui. Ya Allah hamba mohon dengan segenap  jiwa berilah kepada hamba kekuatan untuk meninggalkan perbuatan dosa dan menuju ke jalan yang lurus. Jalan yang Engkau ridhai dan bukan jalan orang-orang sesat dan orang-orang yang Engkau murkai.

Ya Allah betapa sering hamba tidak menyadari bahwa karunia-Mu begitu besar. Betapa sering hamba mengeluh. Betapa jarang hamba bersyukur. Betapa sering hamba kurang bisa memegang amanah dan sering ingkar janji. Betapa sering hamba mencari alasan atas segala perilaku hamba tidak terpuji. Untuk itu ampunilah hamba dan berilah hamba kekuatan untuk mengubah diri. Namun ya Allah hamba tidak mempunyai kekuatan untuk itu, maka tolonglah hamba-Mu ini. Ya Allah jadikan hamba, hamba-Mu yang hanya menyembah dan mohon pertolongan hanya kepada Engkau.

Ya Allah, hamba juga sadar bahwa hamba belum ikhlas dalam menaati perintah-MU. Sering terselip dalam diri hamba riya, waswas dan sejuta rasa negatif bersemayan dalam hati hamba. Ya Allah, Dzat yang menbolak-balikkan hati manusia, hamba mohon agar hati hamba Engkau balikkan untuk selalu taat kepada-Mu dan selalu menjauhi larangan-Mu. Namun, ya Allah betapa sering terjadi tipisnya batas antara yang hak dan yang batil. Untuk itu ya Allah, berilah kepada hamba pengetahuan tentang yang hak dan yang batil. Dan berilah hamba kekuatan untuk mematuhi yang hak dan menjauhi yang batil.

Ya Allah, berilah hamba keselamatan baik di dunia maupun di akherat, aamiin.





Sulitnya Satunya Kata dan Perbuatan

27 05 2012

Satunya kata dan perbuatan, suatu kata bijak yang sangat populer di masyarakat. Banyak orang yang mendambakan lahirnya pemimpin yang mampu menerapkan kata bijak itu dalam kehidupan bangsa berbangsa. Banyak orang yang ingin agar orang lain itu mempraktekkannya dalam berhubungan dengan dirinya. Banyak orang pula yang ingin agar dirinya mampu mempraktekkan kata tersebut dalam setiap langkahnya.

Ternyata tidaklah mudah mengintegrasikan kata bijak itu dalam diri. Ketika kita menasehati orang lain agar berinfak, sudahkah kita mempraktekkannya? Ketika kita menasehati anak kita agar berbuat jujur, sudahkah kita melakukannya? Seringkali kita tidak sadar bahwa apa yang kita ucapkan tidak sesuai dengan perilaku kita. Kita menyuruh orang lain jangan korupsi, tetapi toh sadar atau tidak sadar kita korupsi. Kita mengkritik orang lain yang ingkar janji, sementara kita sendiri ternyata beringkar ria. Kita mencela orang lain, tetapi kita sendiri tidak tahu bahwa kita juga demikian.

Kita lihat dalam kehidupan berpolitik di Indonesia. Kita disuguhi oleh perilaku para politikus yang berbeda antara kata dan perbuatan. Malah kadangkala berseberangan. Para politikus dan pengambil kebijakan tahu bahwa ingkar janji itu tidak baik dan itu diakuinya dalam setiap kesempatan, tapi apa yang dilakukannya? Jauh berbeda! Ketika seorang pemimpin diingatkan akan janjinya, mulailah ia mencari alasan untuk pembenaran atau malah marah dan mengancam. Yah, perilaku seperti di atas sudah tersebar luas dalam diri sendiri, kelompok dan bahkan pada komunitas yang lebih besar.

Apa yang harus dilakukan? Paling tidak kita mencoba menerapkan kata bijak tadi di tingkat diri. Caranya? Kenali diri kita sendiri, kelemahan, kekuatan, tantangan dan peluang. Evaluasilah diri sendiri sejujur mungkin, agar kita bisa mengenal diri ini secara holistik. Evaluasilah setiap ucapan yang terlontar dari mulut kita. Evaluasilah perbuatan yang telah kita lakukan. Lalu evaluasilah kesesuaian antara kata dan perbuatan/perilaku diri. Hasil evaluasi itu dijadikan bahan untuk perbaikan diri.

Setelah kita mengenal dan mengevaluasi diri, maka cobalah kendalikan setiap kata dan perilaku yang dilontarkan. Ketika kita hendak mengkritik atau mencela, segera kita lihat diri kita adakah kita pernah melakukan hal yang serupa. Jika ya, maka lebih baik dikendalikan dan mencoba diri untuk memperbaikinya. Baru setelah kita merasa mampu menyelaraskan antara kata dan perbuatan terkait dengan hal yang akan kita lontarkan, baru kita mengkritik atau memberi saran bagi orang lain secara santun.

Saya yakin, jika setiap diri itu mencoba menyelaraskan kata dan perbuatan, Insya Allah masyarakat dimana kita tinggal akan aman dan tenteram. Tentu saja tidak satupun manusia yang sempurna. Untuk itu, saling menasehati dalam kebenaran, saling mengingatkan dan saling menerima nasehat/kritik/saran menjadi hal yang mutlak jika kita hendak menerapkan satunya kata dan perbuatan. Tentu saja satunya kata dan perbuatan yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw.





Maladaptasi

24 05 2012

Maladaptasi itu menggambarkan suatu fenomena dimana suatu masyarakat kehilangan kemampuan/keterampilan tertentu ketika suatu adopsi telah diterima dan dipakai oleh masyarakat tersebut. Misalnya, suatu masyarakat yang biasanya menarik kereta di salju dengan rusa, kemudian mengadopsi suatu alat yang digunakan untuk menarik kereta menggantikan rusa atau juga mengganti sama sekali kereta dengan rusanya dengan kendaraan yang baru. Dengan adopsi tersebut, segala fasilitas yang terkait dengan kereta salju tersebut lenyap seperti peternakan rusa, keretanya, keterampilan & pengetahuan masyarakatnya hilang sama sekali. Suatu saat, kendaraan tersebut macet, maka macet pulalah semua aktivitas tersebut. Ketika mau menggunakan kereta salju seperti dulu sudah tidak bisa lagi.

Nah, dalam era teknologi ini banyak kearifan lokal yang ditinggalkan oleh masyarakatnya karena dianggap tidak praktis, kuno, tidak ekonomis atau alasan lainnya. Contoh sederhana, seseorang telah mengadopsi multimedia untuk setiap presentasinya, sehingga ia sangat tergantung kepada fasilitas pendukungnya seperti listrik. Suatu saat ketika ia akan presentasi listrik atau sarana lainnya tidak dapat digunakan. Ia menjadi kacau dan tidak dapat presentasi dengan baik, dan akhirnya proposalnya ditolak. Mengapa ia kacau dan panik? Karena ia telah kehilangan kemampuan presentasi secara oral tanpa multimedia. Seharusnya, ketika ia mengadopsi teknologi baru untuk presentasi ia tetap menjaga kemampuan yang sebelumnya telah dimilikinya, sehingga ketika teknologi yang diadopsinya tidak bisa berfungsi ia masih mempunyai kemampuan presentasi oral tanpa media tersebut.





Sifat Anjing

12 05 2012

Ada catatan menarik pengajian yang saya hadiri Minggu pagi tanggal 6 Mei 2012 yang lalu. Sang ustad mendeskripsikan salah satu sifat seekor anjing yang negatif. Ia menyatakan bahwa seekor anjing yang menggonggong ketika ada orang asing lewat di dekatnya. Tidak peduli apakah yang datang itu ustad, pencuri, guru atau yang lain. Namun ketika datang ‘sang bos’ ia akan menjilat-jilatkan lidahnya tidak peduli meskipun ‘sang bos’ itu adalah koruptor ulung.

Tentu saja manusia beda dengan anjing. Manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang benar dan mana yang salah; mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki; mana yang asli dan mana yang palsu. Manusia dengan akal dan petunjuk-Nya, akan mampu membedakan mana jalan yang lurus dan mana jalan yang bengkok. Oleh sebab itu, manusia seharusnya tidak akan terjebak dalam sikap ‘membabi buta’. Manusia tidak akan setia membabi buta. Ia akan mendukung sahabatnya, bosnya, orangtuanya dll. jika mereka berada di jalan yang benar; ketika mereka melakukan hal yang baik. Ia akan mengingatkan sahabatnya, bosnya, orangtuanya ketika mereka berada di jalan yang salah; ketika mereka melakukan kesalahan. Ia tidak takut akan dipecat oleh bos; ia tidak takut jika ditinggalkan sahabatnya. Ia mengkritik dengan santun kepada yang menyimpang dari kebenaran meskipun akibatnya pahit bagi dirinya.

Itulah yang ideal. tapi bagaimana di alam empiris (nyata) dalam kehidupan sehari-hari? Banyak manusia yang setia membabi buta. Mereka tetap membela sahabatnya meski sahabatnya salah. Mereka tetap setia pada kelompoknya meski kelompoknya itu berbuat nista. Mereka tetap melaksanakan apa yang diperintah bosnya meski ia tahu itu salah. Dihadapan bosnya mengangguk hormat, di belakang bos mencaci maki habis-habisan. Ia menyerang habis-habisan kelompok lain meski ia tahu kelompok itu benar. Dicarinya kelemahan kelompok itu, lalu dibuat berita negatif yang tentu saja sudah jauh dari fakta. Ini demi membela kelompoknya sendiri. Tidak peduli kelompoknya itu salah. Tidak peduli bosnya itu koruptor kakap. Ia baru meninggalkan kelompoknya atau bosnya jika ia telah dapat gantungan yang lebih menjanjikan.

Jika kita bandingkan antara anjing dan manusia yang berperilaku seperti yang saya gambarkan di atas, maka tampak bahwa sang anjing masih lebih baik daripada manusia sejenis itu. Mengapa? Karena anjing akan selalu setia kepada bosnya tanpa ada pikiran mencaci bosnya itu; tanpa ada pikiran berkhianat kepada bosnya  jika ada gantungan yang lebih menjanjikan. Benarlah firman Allah bahwa manusia adalah makhluk yang mulia (secara fitrah), tetapi ia bisa jatuh martabatnya menjadi seperti hewan atau bahkan lebih rendah dikarena perbuatannya sendiri.

 





Kualat

9 05 2012

Apa itu kualat?  kualat artinya mendapat bencana (krn berbuat kurang baik kepada orang tua dsb) atau kena tulah atau celaka atau terkutuk. Kata ini sering kali dijadikan senjata yang ampuh bagi orangtua atau orang yang lebih tua, atau mereka yang merasa mempunyai status sosial lebih tinggi.

Dalam Islam ada yang disebut sunnatullah. Wa lan tajida lisunnatillahi tabdilla. Bahasa umumnya disebut sebagai hukum alam. Sesuatu yang dapat kita pahami dari beberapa karakteristiknya. Hukum Alam mempunyai tujuh karakteristik. Pertama, berlaku dimana saja (universal). Kedua, berlaku kapan saja dan tak mengenal waktu (timeless). Ketiga, dapat diramalkan (predictable). Keempat, berada di luar kita (eksternal). Kelima, beroperasi dengan atau tanpa pemahaman kita. Keenam, terbukti dengan sendirinya (self evident). Ketujuh, memampukan jika dipahami.

Menariknya, hukum alam ternyata juga berlaku dalam kehidupan sosial. Contohnya adalah “hukum kepercayaan”. Dimanapun di dunia ini tak ada orang yang suka dibohongi. Karena itu berbohong akan menghilangkan kepercayaan orang. Contoh lain adalah “hukum menang-menang”. Siapapun orangnya pasti ingin menang, tak ada orang yang mau kalah. Ada orang yang mengalah tapi tujuannya adalah untuk mencapai kemenangan. Siapa yang berbuat baik maka kebaikkannya adalah untuk diri sendiri. Siapa yang berbuat jahat akan memetik kejahatannya.

Nah, orang lebih mudah percaya kepada hukum alam daripada hukum sosial, sebab hukum alam itu akan langsung akibatnya sedangkan hukum sosial tidak langsung akibatnya malah mungkin berjangka waktu yang lama baru ketahuan akibatnya. Contoh, ketika tangan kita dimasukkan ke dalam api maka kita akan langsung terasa akibatnya, yaitu tangan terbakar. Kalau orang berzina, maka akibat zina itu tidak langsung terasa.

Sayangnya banyak orang yang salah tafsir. Ketika seseorang mendapat kritik dari orang yang lebih muda atau yang status sosialnya lebih rendah, ia akan berkata: “Nanti kualat loh, hati-hati kalau bicara”. Padahal kritik, saran atau nasehat itu adalah amat bagus bagi peningkatan kualitas orang itu. Kita sesama muslim diwajibkan untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kebenaran. Mengapa? Sebab tidak ada satupun manusia yang sempurna. Manusia tempat lupa dan salah. Oleh sebab itu ketika menerima kritik sebaiknya direnungkan. Lihatlah pada diri sendiri. Jika kritik itu benar adalah baiknya jika kita menerimanya. Kritik itu ibarat obat. Pahit di awalnya, tetapi manis selanjutnya. saya percaya itu. Betul loh! Kritik itu jika ditelusur dan ditelaah lalu kemudian memperbaiki diri, akan membuat seseorang meningkat kualitas hidupnya dan akan mempercepat kesuksesan.

Memang, mungkin cara memberi kritik atau saran atau nasehat bermacam-macam. Ada yang dengan santun. Ada yang dengan plos-plosan, lugas dan dengan bahasa yang langsung. Ada pula yang dengan sindiran. Ada yang dengan makian atau  umpatan. Untuk itu, seringkali ketika kita menerima kritik pedas langsung emosi tanpa pikir panjang. Apalagi kalau caranya yang kurang berkenan.

Tidak mudah memang menerima kritik — apalagi kalau pedas — Wajah akan beringas ketika dituding kesalahannya, kelemahannya atau kekurangannya. Ia akan melontarkan kata-kata balasan yang senada, yaitu: “Kualat nanti kamu” atau “Celaka nanti” atau kata-kata yang serupa. Tidak mudah memang ketika menerima kritik wajah tetap tenang dan memperhatikan apa isi kritik itu. Yang sering terjadi adalah menyerang balik dengan jiwa yang penuh amarah.

Mari kita belajar menerima kritik meskipun disampaikan dengan bahasa yang kurang sopan. Yakinlah bahwa kritik itu akan membuat derajat kita meningkat baik di mata manusia maupun dihadapan Allah swt, Insya Allah.





Iblis vs Adam

9 05 2012

Mengapa iblis dilaknat dan Adam diampuni oleh Allah, padahal mereka sama-sama melakukan kesalahan? Untuk menjawab pertanyan di atas, mari kita telusuri peristiwanya. Di dalam Al Qur’an dikisahkan bahwa Allah memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai penghormatan. Para malaikat sujud kecuali iblis. Melihat ketidakpatuhan iblis, maka Allah menegurnya. Bukannya menyadari kesalahannya tapi malah iblis menjawab dengan sombongnya: “Aku lebih baik dari Adam”. Disebabkan kesombongannya, maka Allah melaknat iblis. Iblis minta tunda, dan Allah mengabulkannya. Mendengar permintaannya dikabulkan oleh Allah, maka iblis bersumpah akan menyesatkan manusia. jadi, iblis sadar apa yang dilakukannya dan menolak perintah Allah dengan sombongnya.

Berbeda dengan iblis, mari kita simak peristiwa Adam dan Hawa melakukan kesalahan. Iblis yang telah bersumpah itu kemudian melaksanakan misinya yang pertama, yaitu menggoda Adam dan Hawa. Sebelumnya iblis telah menyelidiki kelemahan Adam dan Hawa. Setelah mengetahui kelemahan Adam dan Hawa, maka mulailah iblis menggoda, membujuk, merayu dengan segala macam cara. Akhirnya, Adam dan Hawa tergoda dan terbujuk dan kemudian melanggar larangan Allah. Begitu Adam dan Hawa melanggar larangan Allah, maka terbukalah auratnya. Sadarlah mereka bahwa mereka telah melanggar larangan Allah. Dengan penuh sesal mereka menutupi auratnya dengan daun-daun yang ada disana. Mereka kemudian dengan penuh penyesalan memohon ampun kepada Allah. Larangan telah dilanggar. Meskipun mereka telah mohon ampun, maka hukuman atas kesalahan mereka tetap dilaksanakan. Akhirnya, Allah mengampuni mereka dikarenakan mereka bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Dari peristiwa yang dideskripsikan di atas, maka dengan jelas dapat diketahui perbedaan sikap antara iblis dan Adam & Hawa ketika mereka tidak patuh kepada Allah. Iblis tidak menyadari kesalahannya malah membantah dengan sombongnya, sementara Adam dan Hawa menyadari kesalahannya dan segera mohon ampun.

Dari peristiwa iblis dan Adam, dapat ditarik hikmah sebagai berikut:

1) jangan bersikap sombong terutama kepada Allah dan rasul-Nya, dan juga kepada manusia dan makhluk Allah yang lain;

2) segera bertaubat ketika sadar telah melakukan dosa dan kesalahan;

3) hukuman tetap harus diberikan kepada mereka yang bersalah meskipun mereka telah bertaubat.