Pembatasan Makanan dan Kesehatan

1 06 2012

Penelitian mengenai pembatasan makanan sudah termasuk tua.Dari hasil penelitian terungkap betapa besar manfaat pembatasan makanan bagi kelangsungan hidup baik bagi hewan maupun manusia. Berikut saya sajikan power point tentang pembatasan makanan dan kesehatan. Sajian ini disampaikan pada pengajian minggu pagi di masjid Darussalam, Perumnas Unib, Bengkulu. Semoga bermanfaat.

Pembatasan Makanan





Doa Kupanjatkan

29 05 2012

Ya Allah betapa hamba telah banyak berbuat dosa. Betapa hamba berburuk sangka kepada Engkau. Betapa banyak hamba mengumpat dan tak percaya kepada-Mu. Betapa hamba telah banyak melanggar larangan-Mu. Ya Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, betapa hanya sedikit dosa dan kesalahan yang hamba ketahui telah hamba lakukan. Hanya Engkau yang mengetahui betapa besar dosa dan kesalahan hamba. Hamba hina, Engkau Maha Mulia, Engkau Maha Pengampun, maka ampunilah dosa dan kesalahan hamba  baik yang hamba ketahui maupun tidak, baik  yang hamba sengaja maupun tidak, dan ampunilah semua dosa dan kesalahan hamba yang hanya Engkau yang mengetahui. Ya Allah hamba mohon dengan segenap  jiwa berilah kepada hamba kekuatan untuk meninggalkan perbuatan dosa dan menuju ke jalan yang lurus. Jalan yang Engkau ridhai dan bukan jalan orang-orang sesat dan orang-orang yang Engkau murkai.

Ya Allah betapa sering hamba tidak menyadari bahwa karunia-Mu begitu besar. Betapa sering hamba mengeluh. Betapa jarang hamba bersyukur. Betapa sering hamba kurang bisa memegang amanah dan sering ingkar janji. Betapa sering hamba mencari alasan atas segala perilaku hamba tidak terpuji. Untuk itu ampunilah hamba dan berilah hamba kekuatan untuk mengubah diri. Namun ya Allah hamba tidak mempunyai kekuatan untuk itu, maka tolonglah hamba-Mu ini. Ya Allah jadikan hamba, hamba-Mu yang hanya menyembah dan mohon pertolongan hanya kepada Engkau.

Ya Allah, hamba juga sadar bahwa hamba belum ikhlas dalam menaati perintah-MU. Sering terselip dalam diri hamba riya, waswas dan sejuta rasa negatif bersemayan dalam hati hamba. Ya Allah, Dzat yang menbolak-balikkan hati manusia, hamba mohon agar hati hamba Engkau balikkan untuk selalu taat kepada-Mu dan selalu menjauhi larangan-Mu. Namun, ya Allah betapa sering terjadi tipisnya batas antara yang hak dan yang batil. Untuk itu ya Allah, berilah kepada hamba pengetahuan tentang yang hak dan yang batil. Dan berilah hamba kekuatan untuk mematuhi yang hak dan menjauhi yang batil.

Ya Allah, berilah hamba keselamatan baik di dunia maupun di akherat, aamiin.





Sulitnya Satunya Kata dan Perbuatan

27 05 2012

Satunya kata dan perbuatan, suatu kata bijak yang sangat populer di masyarakat. Banyak orang yang mendambakan lahirnya pemimpin yang mampu menerapkan kata bijak itu dalam kehidupan bangsa berbangsa. Banyak orang yang ingin agar orang lain itu mempraktekkannya dalam berhubungan dengan dirinya. Banyak orang pula yang ingin agar dirinya mampu mempraktekkan kata tersebut dalam setiap langkahnya.

Ternyata tidaklah mudah mengintegrasikan kata bijak itu dalam diri. Ketika kita menasehati orang lain agar berinfak, sudahkah kita mempraktekkannya? Ketika kita menasehati anak kita agar berbuat jujur, sudahkah kita melakukannya? Seringkali kita tidak sadar bahwa apa yang kita ucapkan tidak sesuai dengan perilaku kita. Kita menyuruh orang lain jangan korupsi, tetapi toh sadar atau tidak sadar kita korupsi. Kita mengkritik orang lain yang ingkar janji, sementara kita sendiri ternyata beringkar ria. Kita mencela orang lain, tetapi kita sendiri tidak tahu bahwa kita juga demikian.

Kita lihat dalam kehidupan berpolitik di Indonesia. Kita disuguhi oleh perilaku para politikus yang berbeda antara kata dan perbuatan. Malah kadangkala berseberangan. Para politikus dan pengambil kebijakan tahu bahwa ingkar janji itu tidak baik dan itu diakuinya dalam setiap kesempatan, tapi apa yang dilakukannya? Jauh berbeda! Ketika seorang pemimpin diingatkan akan janjinya, mulailah ia mencari alasan untuk pembenaran atau malah marah dan mengancam. Yah, perilaku seperti di atas sudah tersebar luas dalam diri sendiri, kelompok dan bahkan pada komunitas yang lebih besar.

Apa yang harus dilakukan? Paling tidak kita mencoba menerapkan kata bijak tadi di tingkat diri. Caranya? Kenali diri kita sendiri, kelemahan, kekuatan, tantangan dan peluang. Evaluasilah diri sendiri sejujur mungkin, agar kita bisa mengenal diri ini secara holistik. Evaluasilah setiap ucapan yang terlontar dari mulut kita. Evaluasilah perbuatan yang telah kita lakukan. Lalu evaluasilah kesesuaian antara kata dan perbuatan/perilaku diri. Hasil evaluasi itu dijadikan bahan untuk perbaikan diri.

Setelah kita mengenal dan mengevaluasi diri, maka cobalah kendalikan setiap kata dan perilaku yang dilontarkan. Ketika kita hendak mengkritik atau mencela, segera kita lihat diri kita adakah kita pernah melakukan hal yang serupa. Jika ya, maka lebih baik dikendalikan dan mencoba diri untuk memperbaikinya. Baru setelah kita merasa mampu menyelaraskan antara kata dan perbuatan terkait dengan hal yang akan kita lontarkan, baru kita mengkritik atau memberi saran bagi orang lain secara santun.

Saya yakin, jika setiap diri itu mencoba menyelaraskan kata dan perbuatan, Insya Allah masyarakat dimana kita tinggal akan aman dan tenteram. Tentu saja tidak satupun manusia yang sempurna. Untuk itu, saling menasehati dalam kebenaran, saling mengingatkan dan saling menerima nasehat/kritik/saran menjadi hal yang mutlak jika kita hendak menerapkan satunya kata dan perbuatan. Tentu saja satunya kata dan perbuatan yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw.





Maladaptasi

24 05 2012

Maladaptasi itu menggambarkan suatu fenomena dimana suatu masyarakat kehilangan kemampuan/keterampilan tertentu ketika suatu adopsi telah diterima dan dipakai oleh masyarakat tersebut. Misalnya, suatu masyarakat yang biasanya menarik kereta di salju dengan rusa, kemudian mengadopsi suatu alat yang digunakan untuk menarik kereta menggantikan rusa atau juga mengganti sama sekali kereta dengan rusanya dengan kendaraan yang baru. Dengan adopsi tersebut, segala fasilitas yang terkait dengan kereta salju tersebut lenyap seperti peternakan rusa, keretanya, keterampilan & pengetahuan masyarakatnya hilang sama sekali. Suatu saat, kendaraan tersebut macet, maka macet pulalah semua aktivitas tersebut. Ketika mau menggunakan kereta salju seperti dulu sudah tidak bisa lagi.

Nah, dalam era teknologi ini banyak kearifan lokal yang ditinggalkan oleh masyarakatnya karena dianggap tidak praktis, kuno, tidak ekonomis atau alasan lainnya. Contoh sederhana, seseorang telah mengadopsi multimedia untuk setiap presentasinya, sehingga ia sangat tergantung kepada fasilitas pendukungnya seperti listrik. Suatu saat ketika ia akan presentasi listrik atau sarana lainnya tidak dapat digunakan. Ia menjadi kacau dan tidak dapat presentasi dengan baik, dan akhirnya proposalnya ditolak. Mengapa ia kacau dan panik? Karena ia telah kehilangan kemampuan presentasi secara oral tanpa multimedia. Seharusnya, ketika ia mengadopsi teknologi baru untuk presentasi ia tetap menjaga kemampuan yang sebelumnya telah dimilikinya, sehingga ketika teknologi yang diadopsinya tidak bisa berfungsi ia masih mempunyai kemampuan presentasi oral tanpa media tersebut.





Sifat Anjing

12 05 2012

Ada catatan menarik pengajian yang saya hadiri Minggu pagi tanggal 6 Mei 2012 yang lalu. Sang ustad mendeskripsikan salah satu sifat seekor anjing yang negatif. Ia menyatakan bahwa seekor anjing yang menggonggong ketika ada orang asing lewat di dekatnya. Tidak peduli apakah yang datang itu ustad, pencuri, guru atau yang lain. Namun ketika datang ‘sang bos’ ia akan menjilat-jilatkan lidahnya tidak peduli meskipun ‘sang bos’ itu adalah koruptor ulung.

Tentu saja manusia beda dengan anjing. Manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang benar dan mana yang salah; mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki; mana yang asli dan mana yang palsu. Manusia dengan akal dan petunjuk-Nya, akan mampu membedakan mana jalan yang lurus dan mana jalan yang bengkok. Oleh sebab itu, manusia seharusnya tidak akan terjebak dalam sikap ‘membabi buta’. Manusia tidak akan setia membabi buta. Ia akan mendukung sahabatnya, bosnya, orangtuanya dll. jika mereka berada di jalan yang benar; ketika mereka melakukan hal yang baik. Ia akan mengingatkan sahabatnya, bosnya, orangtuanya ketika mereka berada di jalan yang salah; ketika mereka melakukan kesalahan. Ia tidak takut akan dipecat oleh bos; ia tidak takut jika ditinggalkan sahabatnya. Ia mengkritik dengan santun kepada yang menyimpang dari kebenaran meskipun akibatnya pahit bagi dirinya.

Itulah yang ideal. tapi bagaimana di alam empiris (nyata) dalam kehidupan sehari-hari? Banyak manusia yang setia membabi buta. Mereka tetap membela sahabatnya meski sahabatnya salah. Mereka tetap setia pada kelompoknya meski kelompoknya itu berbuat nista. Mereka tetap melaksanakan apa yang diperintah bosnya meski ia tahu itu salah. Dihadapan bosnya mengangguk hormat, di belakang bos mencaci maki habis-habisan. Ia menyerang habis-habisan kelompok lain meski ia tahu kelompok itu benar. Dicarinya kelemahan kelompok itu, lalu dibuat berita negatif yang tentu saja sudah jauh dari fakta. Ini demi membela kelompoknya sendiri. Tidak peduli kelompoknya itu salah. Tidak peduli bosnya itu koruptor kakap. Ia baru meninggalkan kelompoknya atau bosnya jika ia telah dapat gantungan yang lebih menjanjikan.

Jika kita bandingkan antara anjing dan manusia yang berperilaku seperti yang saya gambarkan di atas, maka tampak bahwa sang anjing masih lebih baik daripada manusia sejenis itu. Mengapa? Karena anjing akan selalu setia kepada bosnya tanpa ada pikiran mencaci bosnya itu; tanpa ada pikiran berkhianat kepada bosnya  jika ada gantungan yang lebih menjanjikan. Benarlah firman Allah bahwa manusia adalah makhluk yang mulia (secara fitrah), tetapi ia bisa jatuh martabatnya menjadi seperti hewan atau bahkan lebih rendah dikarena perbuatannya sendiri.

 





Kualat

9 05 2012

Apa itu kualat?  kualat artinya mendapat bencana (krn berbuat kurang baik kepada orang tua dsb) atau kena tulah atau celaka atau terkutuk. Kata ini sering kali dijadikan senjata yang ampuh bagi orangtua atau orang yang lebih tua, atau mereka yang merasa mempunyai status sosial lebih tinggi.

Dalam Islam ada yang disebut sunnatullah. Wa lan tajida lisunnatillahi tabdilla. Bahasa umumnya disebut sebagai hukum alam. Sesuatu yang dapat kita pahami dari beberapa karakteristiknya. Hukum Alam mempunyai tujuh karakteristik. Pertama, berlaku dimana saja (universal). Kedua, berlaku kapan saja dan tak mengenal waktu (timeless). Ketiga, dapat diramalkan (predictable). Keempat, berada di luar kita (eksternal). Kelima, beroperasi dengan atau tanpa pemahaman kita. Keenam, terbukti dengan sendirinya (self evident). Ketujuh, memampukan jika dipahami.

Menariknya, hukum alam ternyata juga berlaku dalam kehidupan sosial. Contohnya adalah “hukum kepercayaan”. Dimanapun di dunia ini tak ada orang yang suka dibohongi. Karena itu berbohong akan menghilangkan kepercayaan orang. Contoh lain adalah “hukum menang-menang”. Siapapun orangnya pasti ingin menang, tak ada orang yang mau kalah. Ada orang yang mengalah tapi tujuannya adalah untuk mencapai kemenangan. Siapa yang berbuat baik maka kebaikkannya adalah untuk diri sendiri. Siapa yang berbuat jahat akan memetik kejahatannya.

Nah, orang lebih mudah percaya kepada hukum alam daripada hukum sosial, sebab hukum alam itu akan langsung akibatnya sedangkan hukum sosial tidak langsung akibatnya malah mungkin berjangka waktu yang lama baru ketahuan akibatnya. Contoh, ketika tangan kita dimasukkan ke dalam api maka kita akan langsung terasa akibatnya, yaitu tangan terbakar. Kalau orang berzina, maka akibat zina itu tidak langsung terasa.

Sayangnya banyak orang yang salah tafsir. Ketika seseorang mendapat kritik dari orang yang lebih muda atau yang status sosialnya lebih rendah, ia akan berkata: “Nanti kualat loh, hati-hati kalau bicara”. Padahal kritik, saran atau nasehat itu adalah amat bagus bagi peningkatan kualitas orang itu. Kita sesama muslim diwajibkan untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kebenaran. Mengapa? Sebab tidak ada satupun manusia yang sempurna. Manusia tempat lupa dan salah. Oleh sebab itu ketika menerima kritik sebaiknya direnungkan. Lihatlah pada diri sendiri. Jika kritik itu benar adalah baiknya jika kita menerimanya. Kritik itu ibarat obat. Pahit di awalnya, tetapi manis selanjutnya. saya percaya itu. Betul loh! Kritik itu jika ditelusur dan ditelaah lalu kemudian memperbaiki diri, akan membuat seseorang meningkat kualitas hidupnya dan akan mempercepat kesuksesan.

Memang, mungkin cara memberi kritik atau saran atau nasehat bermacam-macam. Ada yang dengan santun. Ada yang dengan plos-plosan, lugas dan dengan bahasa yang langsung. Ada pula yang dengan sindiran. Ada yang dengan makian atau  umpatan. Untuk itu, seringkali ketika kita menerima kritik pedas langsung emosi tanpa pikir panjang. Apalagi kalau caranya yang kurang berkenan.

Tidak mudah memang menerima kritik — apalagi kalau pedas — Wajah akan beringas ketika dituding kesalahannya, kelemahannya atau kekurangannya. Ia akan melontarkan kata-kata balasan yang senada, yaitu: “Kualat nanti kamu” atau “Celaka nanti” atau kata-kata yang serupa. Tidak mudah memang ketika menerima kritik wajah tetap tenang dan memperhatikan apa isi kritik itu. Yang sering terjadi adalah menyerang balik dengan jiwa yang penuh amarah.

Mari kita belajar menerima kritik meskipun disampaikan dengan bahasa yang kurang sopan. Yakinlah bahwa kritik itu akan membuat derajat kita meningkat baik di mata manusia maupun dihadapan Allah swt, Insya Allah.





Iblis vs Adam

9 05 2012

Mengapa iblis dilaknat dan Adam diampuni oleh Allah, padahal mereka sama-sama melakukan kesalahan? Untuk menjawab pertanyan di atas, mari kita telusuri peristiwanya. Di dalam Al Qur’an dikisahkan bahwa Allah memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai penghormatan. Para malaikat sujud kecuali iblis. Melihat ketidakpatuhan iblis, maka Allah menegurnya. Bukannya menyadari kesalahannya tapi malah iblis menjawab dengan sombongnya: “Aku lebih baik dari Adam”. Disebabkan kesombongannya, maka Allah melaknat iblis. Iblis minta tunda, dan Allah mengabulkannya. Mendengar permintaannya dikabulkan oleh Allah, maka iblis bersumpah akan menyesatkan manusia. jadi, iblis sadar apa yang dilakukannya dan menolak perintah Allah dengan sombongnya.

Berbeda dengan iblis, mari kita simak peristiwa Adam dan Hawa melakukan kesalahan. Iblis yang telah bersumpah itu kemudian melaksanakan misinya yang pertama, yaitu menggoda Adam dan Hawa. Sebelumnya iblis telah menyelidiki kelemahan Adam dan Hawa. Setelah mengetahui kelemahan Adam dan Hawa, maka mulailah iblis menggoda, membujuk, merayu dengan segala macam cara. Akhirnya, Adam dan Hawa tergoda dan terbujuk dan kemudian melanggar larangan Allah. Begitu Adam dan Hawa melanggar larangan Allah, maka terbukalah auratnya. Sadarlah mereka bahwa mereka telah melanggar larangan Allah. Dengan penuh sesal mereka menutupi auratnya dengan daun-daun yang ada disana. Mereka kemudian dengan penuh penyesalan memohon ampun kepada Allah. Larangan telah dilanggar. Meskipun mereka telah mohon ampun, maka hukuman atas kesalahan mereka tetap dilaksanakan. Akhirnya, Allah mengampuni mereka dikarenakan mereka bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Dari peristiwa yang dideskripsikan di atas, maka dengan jelas dapat diketahui perbedaan sikap antara iblis dan Adam & Hawa ketika mereka tidak patuh kepada Allah. Iblis tidak menyadari kesalahannya malah membantah dengan sombongnya, sementara Adam dan Hawa menyadari kesalahannya dan segera mohon ampun.

Dari peristiwa iblis dan Adam, dapat ditarik hikmah sebagai berikut:

1) jangan bersikap sombong terutama kepada Allah dan rasul-Nya, dan juga kepada manusia dan makhluk Allah yang lain;

2) segera bertaubat ketika sadar telah melakukan dosa dan kesalahan;

3) hukuman tetap harus diberikan kepada mereka yang bersalah meskipun mereka telah bertaubat.





Susunan Pengurus DRD Bengkulu

4 05 2012

Berikut susunan pengurus dan anggota Dewan Riset Daerah Provinsi Bengkulu periode 2009-2013. Setiap anggota DRD berkewajiban memberikan kontribusi pemikirannya bagi pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat Provinsi Bengkulu. Selamat bekerja dan berjuang para pemikir pembangunan.

drd





IBUNDAKU TERCINTA

1 05 2012





Fenomena Gunung Es

1 05 2012

Gunung es adalah gumpalan es yang terapung-apung di laut. Gunung es ini tampak dari luar sebagian kecil saja, padahal yang tidak tampak begitu besarnya terendam dalam laut. Gunung es ini tentu saja berbahaya bagi pelayaran,  sebab dikiranya kecil saja tiba-tiba kapal menumbuk sesuatu dan akhirnya karam.

Nah, fenomena gunung es ini dijadikan satu landasan untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi di masyarakat. Misalnya kejadian penyelewengan pajak oleh Gayus, atau kejadian pejabat ketahuan korupsi, atau penulis/peneliti ketahuan melakukan plagiat. Nah, diduga bahwa kejadian tersebut ibarat gunung es tadi. Yang muncul kepermukaan hanya lapisan yang paling tipis alias sangat sedikit sedangkan yang tidak terdeteksi sesungguhnya sangatlah banyak. Contoh dalam kasus korupsi. Sudah banyak gosip betapa banyaknya uang negara dikorupsi, dan bahkan korupsi berjamaah. Malah jangan-jangan ada yang bangga telah mampu korupsi tanpa ketahuan. Semuanya itu terbungkus dengan sangat rapi sehingga susah membuktikannya. Padahal, dalam hukum tertulis kita tanpa bukti yang syah seseorang tidak bisa dihukum. Masalahnya untuk mengungkapkan bukti-bukti itu yang sangat susah. Apalagi kalu yang menjcuri/korupsi itu orang yang pintar dan berpengalaman. Oleh sebab itu, tidak heran jika yang mudah masuk penjara adalah orang-orang yang tidak tahu hukum. Jadi jangan heran jika kemudian yang masuk penjara adalah mereka yang korupsi atau mencuri kecil-kecilan, seperti mencuri 3 buah coklat dan yang sejenisnya. Buktinya jelas dan mudah dibuktikan.

Demikian pula di perguruan tinggi yang notabene dikenal sebagai lembaga yang bersih, ternyata banyak praktek yang tidak terpuji seperti jual beli nilai, jasa pembuatan skripsi, tesis atau mungkin saja desertasi, plagiat, pemanfaatan mahasiswa bagi kepentingan dosen dll. Sebagai kecil muncul dipermukaan dikarenaka ada pihak yang berani melaporkan tindak tersebut. kebanyakan tidak melapor dikarenakan tidak berani atau malah merasa diuntungkan.

Misalnya masalah plagiat. Plagiat bisa diproses oleh institusi jika ada yang melaporkan dengan bukti-bukti yang nyata. Masalahnya, banyak kasus plagiat yang tidak dilaporkan, sementara yang melaporkan dan berani menjadi saksi sangat sedikit. Makanya, saya katakan bahwa yang dilaporkan plagiat adalah orang yang ketiban sial yang tentu saja jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan fakta-fakta yang ada. Betapa banyak kasus mahasiswa ketika diberi tugas oleh dosennya hanya copypaste dari internet atau dari sumber lain, diubah judulnya, nama penulis dan paling banter diubah sedikit-sedikit. sementara, sang dosen mungkin mengalami kesulitan untuk membuktikan hal ini. Akhirnya mahasiswa memperoleh nilai yang tinggi padahal mereka telah melakukan plagiat.

Dalam kasus plagiat ini, bisa jadi sang pelaku tanpa sengaja melakukan plagiat dikarenakan ketidaktahuan. banyak kasus plagiat dikarenakan alasan ini. Ini bisa terjadi dikarenakan belum ada standard baku yang dapat dijadikan pedoman untuk semua pihak. Untuk itu, Dikti dengan Permendiknas 17/2010 mencoba untuk menyamakan persepsi tentang plagiat itu. Sayangnya, Permendiknas ini belum secara intensif disosialisasikan kepada mahasiswa dan dosen. Sosialisasi ini perlu ditindaklanjuti dengan juklak/juknis atau pedoman untuk melaksanakannya. Setiap perguruan tinggi perlu mengeluarkan pedoman mengenai hal itu agar setiap dosen dan mahasiswa mempunyai persepsi yang sama. Setelah itu, setiap dosen dan mahasiswa selalu saling mengoreksi apakah tindakannya plagiat atau tidak. Untuk mahasiswa khususnya dalam membuat tugas, skripsi, laporan praktikum, karya ilmiah atau yang lainnya. Ada dua tugas bagi dosen, yaitu selain saling mengontrol karya-karya dosen, juga secara sungguh-sungguh mengontrol karya mahasiswa dan secara intensif memberikan pengertian kepada mahasiswa. Dengan demikian diharapkan mahasiswa dan dosen sadar  bahwa plagiat itu sangat merugikan baik bagi orang lain maupun bagi diri sendiri.





Bersungguh-sungguh

28 04 2012

Saya yakin pembaca sudah sering membaca atau mendengar kata mutiara dalam novel lima menara, yaitu: “man jadda wa jada” yang artinya “Siapa bersungguh-sungguh, akan berhasil”. Sebuah kalimat yang bijaksana yang jika Anda mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, Insya Allah, kesuksesan akan selalu menyertai Anda.

Untuk bisa bersungguh-sungguh, barangkali Anda perlu menanamkan rasa percaya diri bahwa Anda Insya Allah akan mampu mengatasi segala rintangan dan menggapai sukses. Segala rintangan atau tantangan bukanlah musuh tetapi sahabat yang akan mengantar Anda kepada kesuksesan. Atasi hambatan yang ada di depan Anda. Jadikan tantangan itu sebagai peluang untuk menuju sukses. Tidak ada kata “tidak bisa” dalam hati, kata dan perbuatan Anda. Ciptakan peluang dari hambatan dan tantangan yang dihadapi. Jangan ada kata “alasan” dalam hati, kata dan perilaku Anda. Jika Anda sudah bermain-main dengan alas an itu berarti Anda sudah tidak sungguh-sungguh. Dan itu berarti Anda berada di ambang kegagalan.Yah, jauhkan mencari-cari alasan. Saya gagal karena… Saya tidak bisa karena…. Dan lain-lain. Tinggalkanlah!

Sebagai ungkapan sungguh-sungguh tentu saja Anda harus mampu mengalahkan malas dalam diri Anda. Sebab malas adalah musuh sungguh-sungguh. Curahkan segala energy Anda untuk menjauhi malas untuk pindah kea lam sungguh-sungguh. Jika Anda sudah berada di alam sungguh-sungguh, Insya allah sang malas akan takut kepada Anda dan dengan sendirinya menjauh dari Anda. Tapi ingat “malas” itu selalu mengintip Anda dan mencari-cari kelemahan Anda. Oleh sebab itu Anda harus selalu waspada.

Satu hal yang juga penting diingat adalah Anda harus selalu mengevaluasi diri. Kenali diri Anda. Kelebihan Anda dan kekurangan Anda. Kelebihan Anda merupakan bekal yang penting bagi kesuksesan Anda. Manfaatkan sebaik-baiknya kelebihan Anda. Ketika Anda memehami kekurangan Anda yang dapat menghalangi cita-cita Anda, maka carilah jalan untuk menutupi kekurangan itu, sehingga Anda menjadi sosok yang hampir sempurna dalam pandangan semua pihak.

Tentu saja dalam menggapai kesuksesan banyak hal yang belum bisa Anda lakukan dan banyak hal yang belum Anda ketahui dan kuasai. Untuk itu jangan mals dan jangan malu untuk belajar kepada siapa saja yang sekiranya bisa memberikan Anda ilmu yang dibutuhkan. Read the rest of this entry »





Manusia Lebih Sombong Daripada Iblis?

25 04 2012

Dalam pengajian subuh di masjid Darussalam Perumnas Unib ada pernyataan yang menggelitik. Apa itu? Disampaikan bahwa seorang ulama pernah menyatakan bahwa manusia itu lebih sombong daripada iblis. Okey mari kita coba bahas mengenai hal ini. Pertama-tama mari kita kaji mengapa iblis dilaknak Allah swt.

Ia berkata, “Aku lebih baik darinya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Dikisahkan dalam Al Quran bahwa Allah memerintahkan malaikat bersujud kepada Adam sebagai pernyataan hormat. Semuanya mentaati perintah Allah kecuali iblis. Ketika Allah bertanya kepada iblis tentang sikapnya, maka iblis bukannya sadar tetapi malah dengan sombongnya ia mengatakan aku lebih baik sebagaimana ayat diatas. Dengan kesombongannya itulah maka iblis dilaknat oleh Allah swt. Tahu bahwa dirinya tidak akan lepas dari hukuman Allah swt, maka iblis minta tunda sampai hari kiamat, dan Allah kemudian mengabulkan. Mendengar Allah swt mengabulkan permintaannya, maka iblis bersumpah akan menyesatkan kebanyakan dari manusia kecuali orang-orang yang berserah diri kepada Allah swt.

Mari kita bandingkan sikap iblis dengan orang Yahudi.

Falih Ibrahim Abud dalam tesisnya 133) mengatakan, “Bukan sesuatu yang melampaui batas kebenaran ilmiah jika kita katakan, bahwa orang-orang Yahudi lebih bersikap tidak sopan terhadap Allah ketimbang Iblis. Karena Iblis hanya tidak patuh ketika disuruh sujud kepada Adam. Pembangkangannya bukan semata ditujukan kepada perintah Allah itu sendiri, namun pada Adam sebagai makhluk yang ia harus sujud di hadapannya. Sedangkan Bani Israel, di hadapan nabi mereka, sengaja menyekutukan Allah. Meskipun Taurat dan tanda-tanda semesta yang datang dari Allah menjadi mukjizat yang nyata, namun mereka tetap menjadikan anak sapi sebagai sesembahan selain Allah, yang mereka cintai.” 134) “Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi.” (QS. Al-Baqarah: 93). Iblis berbicara kepada Allah dengan sopan, dengan menyebutkan julukan ketuhanannya. Ia berkata, “Tuhanku!” (QS. Al-Hijr: 39) Sedangkan Bani Israel berbicara kepada Musa a.s. seenaknya saja. Mereka berkata, “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami.” (QS. Az-Zukhruf: 49) “Pergilah engkau bersama Tuhanmu.” (QS. Al-Ma’idah: 24). Iblis bersumpah dengan kemuliaan Allah. Iblis berkata, “Demi kekuasaan Engkau.” (QS. Shad: 82) Sedangkan Bani Israel sama sekali tidak mengenal kemuliaan Allah. Mereka tidak pernah berharap keagungan Allah. Mereka berkata, “Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami adalah orang-orang kaya.” (QS. Ali Imran: 181) Mereka juga berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” (QS. Al-Ma’idah: 64) Mereka juga berkata, “Uzair adalah anak Allah.” (QS. AtTaubah: 30). Akibat perilaku mereka yang rendah dan buruk terhadap Allah, mereka mendapatkan kemarahan Allah, dilaknat berkalikali, terlantar, dicekam perasaan takut mati dan cinta kehidupan dunia. Allah memaparkan kepada Yahudi semua hakikat ini, memperingatkan mereka akan akibat kemarahan Allah, serta melarang mereka agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang mengundang kemarahan Allah. Akan tetapi mereka tetap saja menentang Allah, “Karena itu mereka mendapat murka di atas kemurkaan.” (QS. Al-Baqarah: 90) Akibat kemarahan Allah, mereka akan mengalami kejatuhan yang tidak dapat dihindari, meskipun mereka telah mencapai terminal puncak di dalam sejarah mereka. Umat yang memiliki kemuliaan garis keturunan Ibarahim a.s. ini telah terlepas dari kemuliaannya, setelah mereka terjerumus dalam kesesatan. Dengan demikian, mereka terputus-secara teologis dan genetis – dari Ibrahim a.s. “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada lbrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman. Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.“ (QS. Ali-Imran:68) (http://www.akhirzaman.info/yahudi/yahudi-dan-islam/22-yahudi-dan-iblis.html). Read the rest of this entry »





Polemik Menghitung Angka Kredit Penelitian

23 04 2012

Diskusi mengenai apakah hasil penelitian bisa dinilai angka kreditnya sekaligus dalam bentuk laporan penelitian, publikasi, seminar dan bentuk lainnya cukup ramai di facebook Forum Dosen Unib. Jika berdasarkan peraturan dari Dikti mengenai angka kredit sebenarnya sudah jelas bahwa satu kegiatan hanya bisa dinilai angka kreditnya satu kali. Jika hasil penelitian, maka yang dinilai hanya laporan penelitian, atau publikasi atau seminar atau bentuk lainnya. Tidak bisa semuanya dihitung. Namun, banyak pula yang memprotes aturan ini, sebab kan bentuknya beda. Laporan penelitian berbeda bentuk dengan publikasi, berbeda dengan seminar, berbeda dengan yang lain. mestinya itu dihitung semua. Lalu bagaimana dengan  program Dikti? Kan sehabis meneliti (laporan penelitian) diminta seminar apakah ini tidak bisa dinilai? Lalu bagaimana dengan program seminar internasional Dikti? Jika data yang sama dipublikasikan kan berarti seminar yang diikuti tidak bisa dinilai. Padahal bentuknya berbeda, kok tidak dinilai, apa betul? Dikarenakan kesimpangsiuran pendapat, maka terjadilah berbagai corak pengusulan angka kredit bidang penelitian ini.

Dalam prakteknya mungkin ada yang curang. Misalnya, laporan penelitian diajukan untuk kenaikan jabatan ke Lektor III/c. Kemudian, publikasi untuk data yang sama dari laporan penelitian diajukan untuk angka kredit ke lektor III/d, dan seterusnya. Hal ini dimungkinkan terjadi  dikarenakan database di tingkat fakultas, universitas dan bahkan Dikti tidak lengkap. Atau mungkin ada tim angka kredit yang tidak tahu aturan tentang hal ini, sehingga ketika satu kegiatan penelitian dilaporkan dalam berbagai bentuk seperti laporan penelitian, publikasi dan seminar, semuanya dihitung angka kreditnya. Tentu saja hal ini merupakan pelanggaran dalam penghitungan angkakredit. Atau bisa jadi dosen yang beranggapan bahwa semuanya bisa dinilai, maka ia mengajukan semua bentuk tadi untuk dinilai angka kreditnya.

Mungkin ada sedikit kesalahpahaman antara penghitungan beban kerja dosen (BKD/EWMP) dengan angka kredit. Pada penghitungan beban kerja dosen semua aktivitas tersebut dapat dihitung, sebab yang dihitung oleh BKD adalah besarnya beban kerja/kegiatan. Oleh sebab itu laporan penelitian, publikasi dan seminar bisa dihitung nilai BKD-nya. Berbeda dengan penghitungan angka kredit, dimana disitu dijelaskan bahwa untuk satu kegiatan hanya dinilai angka kreditnya satu bentuk. Jika sudah mengajukan laporan penelitian, maka yang lainnya tidak bisa lagi diajukan untuk penghitungan angka kredit.

Saya punya kiat untuk kasus ini. Laporan penelitian tidak saya ajukan untuk kenaikkan jabatan fungsional dosen. Yang saya ajukan adalah dalam bentuk publikasi atau seminar. Jika saya penelitian, saya sudah mengatur agar data yang diperoleh bisa dipilah menjadi tiga topik kajian/penelitian atau tiga parameter. sebagai  contoh saya membuat 3 rangkaian data, yaitu satu rangkaian data tentang parameter performans, satu rangkaian data tentang kualitas misal daging, dan satu parameter deposisi lemak. Ketiga parameter itu bisa dibahas secara terpisah. Ketiga rangkaian data inilah yang saya publikasikan, yaitu satu untuk publikasi internasional, satu untuk publikasi di jurnal nasional terakreditasi dan satu untuk seminar. Jika ini dilakukan, maka semuanya bisa dihitung angka kreditnya. Nah, tentu saja ada kesamaan metode penelitian. Untuk menghindari duplikasi, maka publikasi berikutnya tidak menjelaskan metode penelitian yang telah dipublikasikan. Cukup ditulis sbb.: “macam perlakukan pada penelitian ini telah dipublikasikan pada artikel ilmiah yang lain (……… , …..)”. Dengan cara ini, maka artikel berikutnya tidak bisa dikatakan autoplagiat.

Cara lain untuk memperkaya publikasi adalah ketika melakukan pengabdian. Ketika saya melakukan pengabdian, saya mempunyai demplot tapi disetting seperti penelitian. Hasil demplot tidak dilaporkan dalam pengabdian masyarakat, atau hanya dilaporkan intisarinya. Dengan demikian hasil demplot pengabdian pada masyarakat bisa dipublikasikan atau diseminarkan dan bisa dihitung angka kreditnya.

Demikianlah semoga bermanfaat. Jika saya salah dalam membahas tentang hal ini mohon koreksinya.