ANALISIS NILAI KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU PADA KAWASAN PERKOTAAN DI KOTA BENGKULU

2 05 2013

 Oleh:  FITRI WAHYUNI EKA PUTRI

ABSTRAK

Kawasan perkotaan merupakan  pusat dari segala usaha dan aktiitas manusia. Sehingga kota dibangun untuk dapat menciptakan kenyamanan bagi penghuninya. Namun sayangnya, pembangunan tersebut kurang memperhatikan aspek lingkungan, yaitu berkurangnya ruang terbuka hijau, sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan dan daya dukung lingkungan. Untuk itu perlu dilakukan  pengelolaan ruang terbuka hijau melalui pembangunan, penataan dan pengembangan ruang terbuka hijau yang dilakukan secara baik dan terpadu. Sehingga perlu disusun suatu strategi pengelolaan ruang terbuka hijau yang berintergasi pada kepentingan ekonomi dan ekologinya, untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis nilai keberlanjutan pengelolaan ruang terbuka hijau kawasan perkotaan di Kota Bengkulu dari lima dimensi keberlanjutan, yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial budaya, dimensi infrastruktur dan teknologi serta dimensi hukum dan kelembagaan

 

Pendahuluan

Kota sebagai pusat dari segala usaha dan aktifitas manusia, merupakan tempat yang selalu menjadi tujuan dan daya tarik untuk dikunjungi oleh masyarakat. Ketertarikan ini membuat kota menjadi tempat yang tak pernah berhenti untuk membangun sarana dan prasarana demi mendukung kenyamanan hidup di perkotaan. Meningkatnya pembangunan kota, berimbas kepada berkurangnya ruang terbuka hijau. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan peruntukan, dari ruang terbuka hijau menjadi kawasan pemukiman, industri, perdagangan, pelebaran jalan, parkir dan tempat pedagang kaki lima. Perubahan ini mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan dan daya dukung lingkungan.

Pembangunan kota yang selama ini dilakukan memang telah berhasil meningkatkan kesejahteraan sebagian masyarakat namun disisi lain juga menimbulkan dampak lingkungan, sehingga kawasan perkotaan menjadi tidak nyaman untuk dihuni. Pembangunan tanpa memperhatikan aspek lingkungan, menyebabkan kita banyak kehilangan ruang terbuka hijau. Kondisi lingkungan yang memprihatinkan tersebut akan bisa mengakibatkan efek bagi manusia dan lingkungan itu sendiri, yang secara global dapat mengakibatkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Untuk itu perlu dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian lingkungan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam mengembangkan ruang terbuka hijau adalah dengan melakukan kegiatan penghijauan kota.

Dengan melakukan pengelolaan ruang terbuka hijau secara baik dan benar diharapkan akan dapat memberikan manfaat bagi kita, diantaranya dapat memperindah kota, menyejukkan udara kota, mengurangi kebisingan, menyerap dan menjerap polutan, sebagai sarana rekreasi, penelitian dan habitat bagi aneka ragam mahluk hidup, dan masih banyak lagi manfaat lainnya. Dengan manfaat yang kita rasakan tersebut, maka pembangunan, penataan dan pengembangan ruang terbuka hijau harus dapat dilaksanakan secara baik dan terpadu.

Saat ini setiap daerah telah memiliki otonomi daerah, dengan demikian Pemerintah Daerah seharusnya lebih memperhatikan kualitas lingkungan kotanya masing-masing agar menjadi tempat yang sehat dan produktif. Sehingga kota tidak hanya maju secara ekonomi, tapi juga maju secara ekologi. Pemerintah Daerah harus melakukan pengelolaan ruang terbuka hijau dengan memperhatikan etika dan estetika lingkungan sehingga ruang terbuka hijau ini dapat berfungsi secara maksimal.

Pengelolaan ruang terbuka hijau ini diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan kualitas dan daya dukung lingkungan hidup di perkotaan, tapi juga dapat menambah keindahan kota. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak terutama Pemerintah Daerah dan masyarakat. Untuk itu sosialisasi perlu dilakukan, karena betapapun baiknya perencanaan, penataan dan pengembangan ruang terbuka hijau di kota, apabila tidak didukung oleh semua aparat dan seluruh warga masyarakatnya, maka pengelolaan ruang terbuka hijau tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Sehingga dukungan dari semua pihak terhadap pengelolaan ruang terbuka hijau ini sangat diharapkan.

Berdasarkan PP No.46 Tahun 1986, Kota Bengkulu memiliki luas 14.454 Ha. Kota Bengkulu diharapkan memiliki Ruang Terbuka Hijau yang memadai agar kualitas lingkungan dan kehidupan perkotaan tetap sehat, tertib dan nyaman.  Berdasarkan data dari Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Bengkulu, saat ini Kota Bengkulu memiliki ruang terbuka hijau yang dapat dilihat dari tabel sebagai berikut :

 

No

Jenis RTH

Luas

1. Taman Kota     12,98 Ha
2. Jalur Hijau     10,85 Ha
3. Taman Pemakaman Umum (TPU) 1040,68 Ha
  Total 1064,51 Ha

 

Untuk mencapai luas ideal ruang terbuka hijau, setiap wilayah membutuhkan sekitar 30% dari luas total wilayah kota. Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa untuk mencapai ruang terbuka hijau ideal, Kota Bengkulu membutuhkan sekitar 4336,20 Ha, sementara yang dimiliki hanya sekitar 1064,51 Ha, sehingga Kota Bengkulu masih membutuhkan ruang terbuka hijau sekitar 3271,69 Ha lagi untuk mencapai ruang terbuka hijau ideal.

Kondisi ruang terbuka hijau di Kota Bengkulu secara umum masih alami dan sebagian sudah dikembangkan untuk tempat pariwisata, rekreasi, olahraga, maupun fasilitas umum lainnya. Namun akhir-akhir ini sedikit demi sedikit tanaman yang ada mulai ditebangi untuk berbagai macam kepentingan, hal ini apabila dibiarkan terus menerus dapat merusak lingkungan dan mengurangi jumlah ruang terbuka hijau, sehingga berbagai usaha dilakukan untuk mencegah hal tersebut, misalnya dengan melakukan penanaman kembali tanaman sejenis di daerah yang sama, sehingga keberlanjutan dari ruang terbuka hijau ini tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Oleh karena itu perlu suatu rumusan strategi pengelolaannya.

Untuk merumuskan strategi pengelolaan ruang terbuka hijau, pengelolaan ini perlu berintergasi pada kepentingan ekonomi dan ekologinya, sehingga tercapai pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan berkelanjutan harus memenuhi kriteria-kriteria yang secara umum dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) dimensi, yaitu ekologi, sosial ekonomi, sosial politik, serta hukum dan kelembagaan (Dahuri, et al dalam Debby.V.Pattimahu, et al, 2010). Berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai status keberlanjutan pengelolaan ruang terbuka hijau pada kawasan perkotaan di Kota Bengkulu. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan, khususnya Pemerintah Kota Bengkulu dalam rangka meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan ruang terbuka hijau.

Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai keberlanjutan pengelolaan ruang terbuka hijau kawasan perkotaan di Kota Bengkulu dari lima dimensi keberlanjutan, yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial budaya, dimensi infrastruktur dan teknologi serta dimensi hukum dan kelembagaan.

 

Pengertian Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Ruang Terbuka Hijau adalah penataan ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung, kawasan hijau pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau kegiatan olahraga, kawasan hijau pemakaman, kawasan hijau pertanian, kawasan hijau jalur hijau dan kawasan hijau pekarangan (Kementerian Lingkungan Hidup, 2001)

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan menyatakan bahwa Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan adalah bagian dari ruang terbuka dalam suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika.

 

 Jenis Ruang Terbuka Hijau (RTH)

-              Taman kota

-              Taman wisata alam

-              Taman rekreasi

-              Taman lingkungan perumahan dan permukiman

-              Taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial

-              Taman hutan raya

-              Hutan kota

-              Hutan lindung

-              Cagar alam

-              Kebun raya

-              Kebun binatang

-              Pemakaman Umum

-              Lapangan olahraga

-              Lapangan upacara

-              Parkir terbuka

-              Lahan pertanian perkotaan

-              Jalur dibawah tegangan tinggi

-              Sempadan sungai, pantai, bangunan, situ dan rawa

-              Jalur pengaman jalan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian

-              Kawasan dan jalur hijau

-              Daerah penyangga (buffer zone)

-              Taman atap (roof garden)

 

 

 Manfaat Ruang Terbuka Hijau

1.           Manfaat Ekologi

a.         Sebagai paru-paru kota. Tanaman sebagai elemen hijau, pada pertumbuhannya menghasilakan zat asam (O2) yang sangat diperlukan bagi mahluk hidup untuk pernapasan (Irwan, 2012).

b.        Penanaman pohon yang tepat di sempadan sungai, danau dan waduk dapat mencegah risiko pendangkalan karena mengurangi laju limpasan air permukaan

c.         Pohon dan tanaman dapat menjaga kondisi tanah agar tetap stabil dan mencegah risiko pencemaran

d.        Sebagai habitat satwa liar

Pohon-pohon tersebut menjadi tempat bagi beberapa jenis burung sebagai tempat bertelur dan bersarang, dan bunga kaliandra sangat disenangi oleh burung pengisap madu. Pohon yang berulat banyak dikunjungi oleh burung pemakan ulat dan untuk jenis burung lainnya dapat memakan biji dan buah dari pohon tertentu.

e.         Pelestarian plasma nutfah

Pelestarian plasma nutfah perlu mendapatkan perhatian, karena merupakan sumber kekayaan alam. Pelestarian ini sebaiknya lebih menitik beratkan pada jenis lokal sehingga keberadaannya tidak tersingkir oleh jenis- jenis bangkok yang saat ini marak dibudidayakan.

Untuk mencegah kepunahan, maka setiap jenis  harus sudah diketahui status kelangkaannya. Jenis-jenis yang sangat kritis, genting dan rawan perlu diawetkan dengan cara melindungi dalam kawasan suaka alam. Atau dapat pula dengan tetap menanam dengan jenis lokal pada kawasan budidaya.

Beberapa jenis tanaman langka yang ada di Indonesia yaitu bacang (Mangifera foetida), kepel (Stechocarpus burahol), gandaria (Bouea macrophlla), juwet (Eugenia cumini), kemang (Mangifera caesia), kecapi (Sandoricum koetjape), lobi-lobi (Flacourtia inermis), sawo kecik (Manilkara kauki), jeruk jari budha (Citrus medica), pisang baki (Ensete superbum), serdang (Livistona rotundifolia) dan wijayakusuma (Pisonia grandis)

 

2.      Manfaat Penyehatan Lingkungan

a.     Penyerap dan penjerap partikel logam dari industri

Udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang dihasilkan dari kegiatan manusia maupun kegiatan alami. Pencemaran ini dapat mengganggu kesehatan. Dengan adanya tajuk pohon dengan daun yang banyak dan rimbun, maka jumlah debu yang melayang-layang di udara dapat menempel pada permukaan daun dan juga sebagian lagi ada yang masuk ke dalam lubang stomata, sehingga udara kota menjadi lebih bersih.

b.    Penyerap dan penjerap partikel timbal dari kendaraan bermotor

Kendaraan bermotor merupakan sumber utama timbal yang mencemari udara di daerah perkotaan. Salah satu upaya menurunkan kadar pencemaran dengan memperbanyak tanaman di perkotaan dengan jenis yang mampu menyerap dan menjerap timbal. Menurut Dahlan  (2004) bahwa damar (Agathis alba), mahoni (Switenia macrophylla), Jamuju (Podocarpus imbricatus), pala (Myristica fragrans), asam landi (Pithecelebium dulce), johar (Cassia siamea) mempunyai kemampuan yang sedang sampai tinggi dalam menurunkan kandungan timbal dari udara.

c.    Penyerap gas karbondioksida

Tanaman merupakan penyerap gas CO2 yang cukup penting, maka perlu dibangun lebih banyak lagi ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan. Tanaman akan menyerap gas CO2 melalui proses fotosintesi yang kemudian menghasilkan O2 yang sangat diperlukan bagi manusia dan hewan. Sehingga perlu dilakukan pembangunan dan perluasan ruang terbuka hijau untuk membantu mengatasi efek rumah kaca. Jenis tanaman yang dapat menyerap CO2 adalah bungur, cempaka, tanjung, kupu-kupu, kembang merak, mahoni, filisium, asam keranji, angsana dan glodogan (Dirjen Bina Marga, 1999)

 

3.        Manfaat Estetika

Penghijauan perkotaan yang direncanakan secara baik dan menyeluruh akan dapat menambah keindahan kota (Irwan, 2012).  Pada masyarakat perkotaan, ruang terbuka hijau dibuat dengan membangun taman-taman yang indah yang bernilai estetika. Benda-benda yang ada disekelilingnya ditata sedemikian rupa agar menjadi indah. Kesadaran dan kepedulian masyarakat akan kesegaran udara, kenyamanan dan keindahan pemandangan maka taman-taman banyak dibangun di bangun di kawasan perkantoran, pusat perbelanjaan, jalur hijau di pinggir jalan di median jalan, di tengah persimpangan jalan (traffic island), serta daerah penyangga dalm bentuk taman kota, hutan kota maupun sekadar sabuk hijau (Arifin, 2005).

Selain itu, dengan pembangunan ruang terbuka hijau akan dapat menjadi penyekat untuk menutupi bagian kota yang kurang baik. Tanaman yang dipilih sebaiknya memiliki fungsi ekologi maksimal dan memadupadankannya pada komposisi yang sesuai. Untuk memperoleh hasil maksimal tanaman ditanam secara massal sejajar. Pohon bertajuk kolumnar (oval meninggi), fastigiate (oval meruncing), dan kerucut dapat menjadi pilihan terbaik, seperti glodogan tiang, bambu dan cemara (Lestari, 2008).

 

4.      Manfaat Perlindungan

a.       Peredam kebisingan

Tanaman yang memiliki daun yang rapat dapat meredam kebisingan, Menurut Grey dan Daneke (1978) dalam Dahlan (2004), dedaunan tanaman dapat menyerap kebisingan sampai 95%. Jenis yang paling efektif adalah tanaman yang memiliki tajuk tinggi dan rindang.

b.      Penahan angin

Menurut Dahlan (2004), tanaman yang ditanam dengan kerapatan yang berkisar 70-85% akan dapat menahan angin dengan baik. Dan tanaman yang terdiri dari beberapa strata, akan membuat tidak ada celah yang kosong, sehingga angin dapat dikendalikan dengan baik.

c.    Penepis cahaya silau

Pohon dan tanaman memberikan kenyamanan dan keteduhan dari sinar matahari, selain itu pemakai jalan menjadi tidak silau sehingga dapat memberikan efek fisiologis yang menyehatkan dan menyegarkan serta efek psikologi yang menyenangkan. Menurut Lestari (2008), hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah tanaman tersebut harus memiliki tajuk yang cukup lebar agar dapat melindungi objek yang ada dibawahnya.Umumnya rata-rata lebar tajuk tanaman pelindung sekitar 10 m, misalnya angsana (Pterocarpus indicus) dan kerai payung (Filicium decipiens).

d.      Mengatasi penggenangan

Pada kawasan perkotaan, banyak mengalami drainase yang kurang baik, sehingga pada saat musim hujan sering terjadi penggenangan air. Untuk itu perlu dilakukan penanaman dengan menggunakan tanaman yang dapat tahan terhadap genangan dan memiliki evapo-transpirasi yang tinggi, sehingga dapat menyerap air yang tergenang. Menurut Manan (1976) dalam Dahlan (2004), tanaman penguap air yang sedang sampai tinggi diantaranya adalah Nangka (Arthocarpus integra), Sengon (Paraserienthes falcataria), Acacia vilosa, Indigofera galegoides, Sonokeling (Dalbergia latifolia), Mahoni (Swietenia spp), Jati (Tectona grandis), Hihujan (Samanea saman) dan Lamtoro (Leucaena glauca).

 

5.      Manfaat Sosial

a.       Sebagai identitas kota

Setiap kota dapat memilih dan menetapkan satu atau lebih jenis tannaman sebagai simbol atau identitas kota, misalnya bunga bangkai (Ammorphophalus titanium) menjadi  flora identitas di Propinsi Bengkulu. (Dahlan, 2004)

b.      Kehidupan di perkotaan banyak menimbulkan stress akibat dari aktiitas yang tinggi. Dengan melakukan program pengembangan taman kota dan hutan kota diharapkan dapat menjadikan lingkungan lebih sejuk dan nyaman.

c.       Dapat digunakan sebagai tempat pesta dengan tema pesta kebun. Seperti saat ini, orang sering mengadakan pesta pernikahan di alam terbuka, karena memberikan kesan alami dan santai, namun mewah (Dahlan, 2004).

d.      Bagi sebagian orang, tanaman juga diyakini memilki kekuatan magis, sehingga sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana untuk melindungi dirinya dari marabahaya. Menurut Surawiria (2003), jenis tanaman yang mengandung daya magis, seperti Hanjuang (Cordyline sp.) yang dipercaya dapat menolak bahaya, Glodogan tiang (Polyalthia longifolia) yang bagi umat Hindu pohon ini dianggsp suci sehingga ditanam di pelataran candi atau tempat peribadatan umat hindu.

e.       Tanaman dapat menjadi pengarah dan pedoman bagi pejalan kaki maupun pengendara bermotor. Secara psikologis, tanaman dapat berfungsi sebagai pengarah jika ditanam pada jarak dan pola tertentu. Indahnya bunga dan hijaunya daun di sepanjang jalan dapat menciptakan suasana santai, naman dan segar. Menurut Lestari (2008), tanaman yang digunakan sebagai pengarah jalan, diantaranya kayu manis (Cinnamomun burmanii), sikat botol (Callistemon citrinus), dan palem (Palmae).

 

6.      Manfaat Ekonomi

a.       Sebagai tempat berjualan

Pedagang banyak menjajakan makanan dan minuman jualannya di tempat yang teduh di bawah pohon yang rindang. Masyarakat dapat menikmati makanan dengan kesan yang istimewa ketika menikmati dibawah pohon. Suasana seperti ini lebih mereka sukai daripada menikmati di restoran dan warung makan di dalam gedung (Dahlan, 2004).

b.      Penunjang rekreasi dan pariwisata

Salah satu kegiatan yang dilakukan orang dalam menghilangkan kejenuhannya adalah dengan rekreasi dan berwisata. Pembangunan dan pengembangan ruang terbuka hijau dapat diarahkan dengan melakukan pembangunan agrowisata, misalnya mengembangkan kebun raya. Daya tarik yang dapat ditawarkan adalah kekayaan flora yang ada, keindahan pemandangan didalamnya dan kesegaran udara yang memberikan rasa nyaman (Tirtawinata, 1996).

 

7.      Manfaat bagi ilmu pengetahuan

a.       Sebagai sarana pendidikan

Ruang terbuka hijau yang dikembangkan menjadi sebuah hutan kota ataupun kebun raya memiliki nilai pendidikan yang tinggi. Para pelajar yang berkunjung ke tempat ini akan dapat belajar mengenai ilmu tumbuhan dan ilmu lingkungan yang langsung didapat dari alam (Tirtawinata, 1996). Taman ataupun jalur hijau yang diisi dengan berbagai vegetasi mengandung nilai-nilai ilmiah (Irwan, 2012).

b.      Sebagai sarana penelitian

Kekayaan flora dan fauna serta ekosistem yang ada di dalam kawasan hutan kota ataupun kebun raya akan mengundang rasa ingin tahu dari para peneliti, ilmuwan ataupun pelajar. Sehingga kehadirannya akan sangat membantu mereka yang haus akan ilmu pengetahuan (Tirtawinata, 1996).

 

8.      Manfaat Produksi

a.       Persediaan air tanah

Melalui pembangunan taman kota serta hutan kota, dengan penanaman pohon diharapkan akan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas air tanah. Pohon-pohon yang ditanam, akarnya akan mampu mengikatkan dan menyaring air, sehingga air menjadi lebih baik kualitasnya. Selain itu akar pohon juga dapat membuat rekahan tanah sehingga air lebih mudah masuk kedalam tanah. Daun-daun yang berjatuhan akan terdekomposisi dan membentuk humus yang tebal sehingga dapat mengikat air lebih banyak (Dahlan, 2004).

b.      Sebagai penghasil kayu, kulit, getah, buah dan bunga

Tanaman di taman kota atau hutan kota dapat diarah dengan tanaman yang menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis,.seperti biji atau buah yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat, atau dapat pula dibuat kerajinan tangan yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Selain bunga dan buah, hutan kota juga bisa menghasilkan kayu (Dahlan, 2004).

 

c.       Lebah madu

Selain tanamannya sendiri dapat dimanfaatkan, ada produk lain yang dapat dihasilkan seperti bunga yang dihasilkan akan menghasilkan nectar dan benang sari yang merupakan bahan makanan bagi lebah, sehingga menghasilkan  madu lebah (Dahlan, 2004).

Dengan begitu banyak manfaat yang dapat kita ambil dari pembangunan dan pengembangan ruang terbuka hijau, maka pentinglah bagi kita untuk dapat melakukan pengelolaannya secara baik dan benar.

 

Akibat Berkurangnya Ruang Terbuka Hijau pada Kawasan Perkotaan

            Menurut Kementerian Lingkungan Hidup (2001), kurangnya ruang terbuka hijau mengakibatkan :

a.         Menjadi daerah kumuh

Saat ini kondisi ruang terbuka hijau pada kawasan perkotaan banyak mengalami penurunan baik secara kuantitas maupun kualitas. Penyediaan ruang terbuka hijau sangat sedikit karena beralih fungsi untuk berbagai keperluan. Perhatian yang rendah terhadap upaya konservasi menyebabkan  kota menjadi kumuh dan tidak nyaman untuk ditempati.

b.         Merusak estetika kota

Ruang terbuka hijau yang tidak terpelihara dengan baik cenderung menjadi tempat pembuangan sampah yang dapat mengeluarkan bau tidak sedap, menjadi tempat sarang tikus dan nyamuk, serta menjadi tempat gubuk-gubuk liar sehingga mengurangi nilai estetika kota.

c.         Kehilangan keanekaragaman hayati

Keterbatasan ruang terbuka hijau menyebabkan kita banyak mengalami kehilangan keanekaragaman hayati, yang seharusnya dapat menjadi bahan pengetahuan dan pemahaman terhadap lingkungan.

d.        Berkurangnya tempat rekreasi

Berkurangnya tempat rekreasi dan tempat berolahraga, mengakibatkan anak-anak menjadi tidak mempunyai tempat untuk bermain, anak muda tidak mempunyai tempat untuk berolahraga dan orangtua tidak mempunyai tempat untuk bersantai dan bersosialisasi.

e.         Berkurangnya tempat resapan air

Ruang terbuka hijau di perkotaan umumnya tidak memadai karena didominasi dengan bangunan gedung dan perkerasan. Pembangunan ini mengakibatkan berkurangnya daerah resapan air sehingga menurunkan suplai air tanah dan air permukaan, serta mengganggu aliran air tanah yang dapat digunakan untuk sumber air minum. Pengurangan ruang terbuka hijau juga menyebabkan menurunnya fungsi penyerapan air sehingga dapat menimbulkan banjir.

f.          Terjadinya pencemaran udara

Tidak tersedianya ruang terbuka hijau yang memadai, dapat menyebabkan  terjadinya pencemaran udara, karena pada dasarnya tanaman dapat memberikan udara yang bersih sehingga menimbulkan kesejukan dan kenyamanan bagi lingkungannya.

 

Solusi Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Ruang Terbuka Hijau

Masalah lingkungan bukan hanya menjadi masalah pribadi ataupun golongan, tapi juga merupakan masalah global, sehingga peran masyarakat dan pemerintah harus saling mendukung untuk menciptakan suatu kondisi lingkungan yang baik. Pembangunan yang dilakukan saat ini belum mengikuti perencanaan dan strategi daerah sehingga ketersediaan ruang terbuka hijau belum memadai.

Untuk mewujudkan hal tersebut, organisasi pengelolaan dan aturan perundangan perlu dibentuk, agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan. Kewajiban masing-masing pihak perlu dijelaskan secara rinci agar tercapai keselarasan dan keserasian dalam perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan monitoring dan evaluasi serta upaya untuk perbaikannya (Dahlan, 2004).

Pengelolaan ruang terbuka hijau sangat tergantung kepada perangkat yang ada dan juga keperluannya. Pimpinan daerah mempunyai peranan penting dalam membuat kebijakan dan bertanggung jawab atas pembangunan dan pengembangan ruang terbuka hijau di wilayahnya masing-masing. Peraturan daerah juga perlu dipersiapkan sebagai dasar kebijakan pemerintah daerah dalam menetapkan aturan sekaligus  juga sebagai acuan dalam memberikan sanksi ataupun penghargaan terhadap aparat maupun masyarakat (Dahlan, 2004).

Masyarakat dan pemerintah, harus ikut berperan serta didalam menyelamatkan lingkungan melalui suatu gerakan pelopor lingkungan, dan melakukan sosialisasi mengenai lingkungan sehingga dapat meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya penghijauan pada lingkungan. Banyak kegiatan yang sudah dilakukan dalam rangka menyelamatkan lingkungan, seperti yang dilakukan oleh Profesor Wanagari Maatai dari Kenya, yang membentuk kelompok lingkungan yang bernama Gerakan Sabuk Hijau dan mendorong masyarakat Kenya untuk menanam pohon. Dan sudah menanam 40 juta pohon untuk mencegah erosi tanah dan memberi kayu bakar untuk memasak, sehingga beliau dianugerahi Nobel Perdamaian (Rusbiantoro, 2008). Kitapun dapat melakukan hal serupa untuk menjadikan kota kita hijau dengan menanam pohon pelindung ataupun pohon produktif di sekitar rumah dan lingkungan kita. Dengan melakukan kegiatan tersebut berarti kita juga telah menanmbah jumlah ruang terbuka hijau bagi lingkungan kita.

Dengan menambah jumlah luasan ruang terbuka hijau, artinya kita telah ikut berperan serta membantu mengantisipasi global warming. Peningkatan jumlah ruang terbuka hijau akan dapat menekan jumlah emisi CO2 yang merupakan penyebab efek rumah kaca. Hal ini telah dilakukan di beberapa kota di Indonesia seperti Yogyakarta yang telah melaksanakan program Langit Biru sejak tahun 2004 program ini bertujuan menciptakan mekanisme koordinatif dalam pengendalian pencemaran udara dan mewujudkan perilaku masyarakat Yogyakarta yang cinta lingkungan (Susanta, 2007).

Salah satu jenis ruang terbuka hijau yang memiliki manfaat ekologis paling tinggi adalah hutan kota. Berdasarkan PP No. 63 Tahun 2002 menyatakan bahwa persentase penyediaan hutan kota di suatu wilayah paling sedikit 10 % dari wilayah perkotaan atau disesuaikan dengan kondisi setempat. Mengingat betapa pentingnya hutan kota, maka setiap daerah perlu melakukan pembangunan hutan kota. Seperti yang dilakukan oleh 50 keluarga di Surabaya melakukan aksi Family Tree Planting (tanam pohon bersama keluarga) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Keputih yang dijadikan hutan kota seluas 2000 Ha (Suara Surabaya net, 2013).

Pembangunan dan pengelolaan ruang terbuka hijau sangat dibutuhkan dan perlu ditingkatkan untuk memaksimalkan fungsi dan manfaat dari ruang terbuka hijau itu sendiri. Sehingga kota mempunyai kualitas lingkungan yang baik dan memiliki daya dukung yang tinggi, sehingga dapat menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan dan permukiman yang asri dan sehat. Bahkan apabila kota tersebut memiliki lingkungan yang baik kota tersebut akan dapat pula dijadikan sebagai kota pariwisata.

 

Simpulan

  1. Ruang terbuka hijau memiliki manfaat baik secara ekologi, ekonomi, estetika, dan sosial.
  2. Kurangnya ketersediaan ruang terbuka hijau dapat mengganggu lingkungan, merusak estetika, mengganggu kesehatan dan berkurangnya daerah resapan air.
  3. Perlu adanya peningkatan jumlah luasan ruang terbuka hijau baik berupa hutan kota, taman kota, maupun jalur hijau.
  4. Pengelolaan ruang terbuka hijau pada kawasan perkotaan harus dilakukan secara baik dan berkelanjutan.
  5. Perlunya peranan aktif dari masyarakat yang berkolaborasi dengan pemerintah sehingga mendapatkan kondisi lingkungan yang berkualitas.
  6. Dengan menggunakan analisis keberlanjutan MDS (Multi Dimensional Scalling) diharapkan dapat menjawab keberlanjutan dari pengelolaan ruang terbuka hijau pada kawasan perkotaan di Kota Bengkulu.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terimakasih kepada  :

1.    Drs. Hilma Fuadi, MM selaku Kepala Dinas dan Syarnubi, SE selaku Kepala Bidang Pertamanan dan Pemakaman Dinas  Pertamanan dan Kebersihan Kota Bengkulu yang telah bersedia memberikan data-data yang dibutuhkan dalam pembuatan makalah ini.

2.    Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia yang telah bersedia memberikan ijin untuk mengutip dokumennya bagi makalah ini.

3.    Novi Syatria, S.Hut, yang telah bersedia memberikan masukan bagi kesempurnaan makalah ini.

 

Daftar Pustaka

Anonim, 2013, Bekas TPA Keputih Jadi Hutan Kota, Suara Surabaya net, 24 Februari 2013.

 

Arifin, Hadi Susilo dan Nurhayati H.S. Arifin, 2005, Pemeliharaan Taman (Edisi Revisi), Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Dahlan, Endes Nurfilmarasa, 2004, Membangun Kota Kebun (Garden City) Bernuansa Hutan Kota, IPB Press, Bogor.

 

Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Bengkulu, 2011, Buku Saku Profil Tahun 2011, Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Bengkulu, Bengkulu.

 

Direktorat Jenderal Bina Marga, 1999, Pedoman Pemilihan Tanaman untuk Mereduksi Polusi Udara (NOx, CO dan SO2), Direktorat Jenderal Bina Marga, Jakarta.

 

Irwan, Zoer’aini Djamal, 2012, Prinsip-Prinsip Ekologi : Ekosistem, Lingkungan dan Pelestariannya, Bumi Aksara, Jakarta.

 

Kementerian Lingkungan Hidup, 2001, Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau, Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta.

 

Lestari, Garsinia dan Ira Puspa Kencana, 2008, Galeri Tanaman Hias Lanskap, Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan.

 

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota.

 

Rusbiantoro, Dadang, 2008, Global Warming For Beginner : Pengantar Komprehensif Tentang Pemanasan Global, O2, Yogyakarta.

 

Suriawiria, Unus, 2003, Tanaman Bernilai Magis, Papas Sinar Sinanti, Jakarta.

 

Susanta, Gatut dan Hari Sutjahjo, 2007, Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global, Penebar Plus, Jakarta.

 

Tim Penulis Penebar Swadaya, 1990, Mengenal Tanaman Langka Indonesia, Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Tirtawinata, Moh. Reza dan Lisdiana Fachruddin, 1996, Daya Tarik dan Pengelolaan Agrowisata, Penebar Swadaya, Jakarta.

 

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: