Manipulasi Itu Salah Satu Tanda Kemunafikan

23 02 2013

Oleh: Urip Santoso

Dalam hadistnya, Rasulullah menyatakan bahwa tanda-tanda orang munafik itu jika ia berkata bohong, jika ia berjanji ia ingkar dan jika ia diberi amanah ia khianat. Dalam hadistnya yang lain ditambahkan jika berkompetisi ia licik.

Okey, saya ingin urun rembug satu saja dari empat ciri, yaitu bohong. Diilustrasikan bahwa ada seorang sahabat Rasulullah yang dulunya sebelum beriman ia adalah penjahat yang ulung, lalu ia ingin bertobat. Lalu Rasulullah memberikan satu syarat, yaitu jangan bohong. Nah, ketika sahabat itu mau mencuri lalu ia ingat akan janjinya untuk tidak bohong. Bagaimana jika Rasulullah nanti tanya apa yang ia lakukan hari ini. Ingat akan janjinya ia tidak jadi mencuri. Demikianlah seterusnya, dan akhirnya ia benar-benar tidak melakukan kejahatan apapun dan benar-benar bertobat.

Beberapa hadist:

“Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menghantarkan kepada surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kelaliman, dan kelaliman itu akan menghantarkan ke arah neraka. Seseorang yang terus menerus berbuat bohong akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim )
 “Pertanda orang yang munafiq ada tiga: apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.).

Saat ini istilah bohong banyak bentuknya, seperti manipulasi dengan segala istilah turunannnya, siasat dalam dunia politik dandalam  segala aspek kehidupan, tipuan dengan segala bentuknya dan mungkin masih banyak lagi.  Dalam dunia hewan juga terdapat hewan yang ahli menipu. Namun tujuan dari hewan itu adalah untuk mempertahankan hidupnya. Tipuannya itu bertujuan agar pemangsa tidak jadi memangsanya. Sementara dalam dunia manusia bohong atau trik-trik menipu bertujuan tidak hanya untuk mempertahankan hidupnya tapi untuk tujuan-tujuan yang lain.

Istilah manipulasi barangkali tidak asing bagi kita. Ada manipulasi data, ada manipulasi laporan keuangan, ada manipulasi dagang, ada manipulasi timbangan, ada manupulasi iklan, ada manipulasi karya ilmiah (plagiat), ada manipulasi hak cipta  dll.

Kasus 1: Saya punya teman. Ia keki! Mengapa? Ia melihat sebuah iklan tentang pembersih kompor di TV. Dalam TV ditayangkan betapa hebatnya pembersih itu. Hanya sekali lap, mengkilaplah kompor itu seperti baru. Lalu ia beli, dan lalu ia bersihkan kompornya. Tapi apa yang terjadi? Sudah 30 menit ia mengerahkan tenaga namun kompornya tidak juga bersih. Tidak kapok! Ia tertarik pada iklan yang lain, dan beli. Hasilnya? Ia marah-marah sendiri! “Bohong semua!!!!”

Kasus 2: Suatu saat saya membeli buah dua kilo. Iseng-iseng saya timbang lagi di rumah. Ehhh ternyata hanya 1,8 kg.

Kasus 3: Di saat lain saya tertarik dengan buah rambutan yang masih tampak segar, lalu saya beli. Ehhhh sampai di rumah saya jadi bingung kok rambutannya banyak yang busuk. Sepertinya pedagang itu memanipulasi dagangannya, yang di atas buah yang masih segar dan yang di bawah buah yang sudah layu.

Kasus 4: Seorang peneliti sedang melihat datanya. Ia lihat datanya sangat bervariasi. Lalu setelah dianalisis hasilnya berbeda tidak nyata, padahal jika dilihat dari perubahan yang ada seharusnya signifikan. Lalu ia memanipulasi data agar hasilnya berbeda nyata. Ia tidak memanipulasi rata-ratanya tapi memanipulasi variasi datanya.

Kasus 5: Di suatu Program Studi akan divisitasi oleh asesor BANPT. Untuk itu dilakukan beberapa persiapan. Ruang laboratorium diubah menjadi ruang dosen untuk sementara. Di petak-petak sesuai dengan jumlah dosen. Lalu pinjam ruang di program studi yang lain dan diakunya sebagai miliknya, dan berbagai macam trik untuk mensiasati agar asesor nantinya menilai bagus.

Kasus 6: Seorang mahasiswa tidak masuk kuliah lalu ia titip tandatangan.

Kasus 7: Seorang dosen menelpon staf Jurusan dan minta agar diabsenkan.

Kasus 8: Seorang bendahara ingin berbuat jujur, maka ia membuat SPJ sesuai dengan apa yang dilakukan dan dibeli di isntitusinya. Hasilnya? ia dimaki-maki oleh atasannya dan akhirnya dicopot.

Kasus 9: Seorang ilmuwan hendak menulis karya ilmiahnya, ia mengambil kutipan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber kutipan tersebut. Ia dapat dikatakan berbohong sengaja ataupun tidak sengaja.

Kasus 10: Seorang bendahara membuat SPJ yang tidak sesuai dengan aktivitas dan pembelian yang sesungguhnya agar ada sisa yang bisa disimpan untuk keperluan lain.

Masih banyak kasus yang bahkan lebih dahsyat dari yang saya contohkan. Kita bisa melihat di TV bagaimana para politikus kita bersiasat dan memanipulasi sesuatu. Kita bisa melihat bagaimana para koruptor itu bersiasat dan memanipulasi agar mereka tidak terjerat hukum.

Kita semua sudah merasakan bagaimana dampak negatif dari suatu kebohongan, seperti misalnya keluarga bisa bubar, masyarakat dan negara bisa hancur lebur dan bahkan alam semesta bisa hancur karena kebohongan yang terencana. Dampak negatif kebohongan bukan saja menimpa orang yang berbohong tetapi juga menimpa orang lain dan bahkan dampak kebohongan bisa lebih luas lagi tergantung siapa yang berbohong. Jika yang berbohong itu orang kecil maka dampaknya kecil, tetapi jika yang berbohong orang besar (pemimpin) maka dampaknya sangat luas.

Kok  menimpa juga yang berbohong? Ya ialah! Jika seseorang berbohong ia akan menutupi kebohongannya dengan kebohongan pula, dan ini akan menyiksa dirinya sendiri. Ia gelisah. Takut kebohongannya ketahuan. Ia gelisah, bagaimana merencanakan kebohongan berikutnya. Ia takut bertemu dengan orang lain kalau-kalau ditanya soal yang ia bohong. Nah, kalau ketahuan ia bohong, maka orang lain selamanya tidak percaya lagi. Semua ucapannya tidak lagi dipercaya, bahakan sekalipun ia berkata jujur. Kalau sudah seperti ini tentu saja akibat lain menyusul, seperti putusnya tali silaturahmi, orang lain tidak mau bekerjasama dengannya, orang lain tidak mau memberi kepercayaan kepadanya. hal ini tentu saja dapat menghambat cita-cita yang hendak dicapainya. Hal ini tentu saja akan menjadi penghalang untuk mencapai sukses. Akhirnya, penyakit pun datang baik penyakit hati maupun penyakit fisik.

Nah, kalau gitu mari dikurangi kebiasaan berbohong meski hanya bergarau!

About these ads

Actions

Information

4 responses

27 02 2013
line

Assalamu alaikum..

Blog anda selalu bagus saya baca pak. Tanggapan2 anda pun ckup memuaskan tanpa ada rasa sok atau memaksakan jwbn.

Saya mau tanya, ttg bohong manipulasi…menurut anda apakah menyogok dgn uang utk tujuan tertentu jg trmasuk tindakan yg salah dlm artian munafik?

Kalau ada twitter pak selain blog yg bs dijadikan media mempererat silaturahmi bileh share? Trims….wassalam

27 02 2013
uripsantoso

Terima kasih. Saya selalu berusaha agar blog ini bermanfaat bagi pembaca. Dalam hadistnya Rasulullah menyatakan bhawa yang menyuap dan yang disuap masuk neraka. Menurut saya, ini berarti bahwa menyuap itu hukumnya haram. Misalnya untuk mempertahankan jabatannya atau untuk bbisa dipromosikan seseorang menyuap, maka berdasarkan hadist tadi hukumnya haram. Dalam masalah menyuap dan yang disuap para ulama sepakat bahwa hukumnya haram. Di blog ini saya tampilkan twitter saya. Saya juga mohon masukan atau artikel yang sekiranya bisa dipublikasikan di blog ini. Tks

6 03 2013
ani

Assalamualaikum Pak Dosen…
saya mau tanya : apabila memanipulasi data perusahaan termasuk munafik..? (saat ini saya bekerja di cabang perusahaan dan harus melaporkan data yang bukan sebenarnya kekantor pusat atas permintaan kepala cabang) saya jadi bingung dan merasa tertekan.
mohon pencerahannya….
terimakasih.

9 03 2013
uripsantoso

Memang susah hidup di Indonesia. Mau jujur malah susah. Sebenarnya manipulasi data jelas merupakan kebohongan, saya yakin Anda pun paham. Sistem di perusahaan Anda pun membuat karyawan untuk tidak jujur. Memang ada dualisme. Di satu sisi perusahaan menekankan kejujuran kepada karyawan (untuk kalangan internal perusahaan), namun disisi lain perusahaan memerintahkan karyawan untuk berbuat tidak jujur (biasanya untuk kepentingan luar). Misalnya saja sudah menjadi rahasia umum bahwa perusahaan biasanya mempunyai beberapa data untuk keperluan yang berbeda. Manipulasi data tidak saja terjadi di perusahaaan, tetapi juga di instansi pemerintah. Apa sikap kita? Susah sekali! Jika kita menolak, maka kemungkinan besar kita akan kehilangan pekerjaan tetapi jika melakukan maka hati menjadi tidak tenang. Dalam keadaan sulit ini ada beberapa langkah yang dapat dilakukan : tetap bekerja disitu sambil mencari kemungkinan alternatif lain tempat bekerja yang lebih nyamaN. Dengan suatu catatan bahwa apa yang Anda lakukan tidak benar menurut agama Allah. Kemudian berdoa kepada Allah, mohon agar diberi jalan keluar yang terbaik. Tks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: