Problematika tentang Kewajiban Mahasiswa Publikasi Ilmiah

18 10 2012

Gonjang ganjing surat edaran menteri yang mewajibkan mahasiswa untuk publikasi ilmiah di jurnal ilmiah mulai mereda. Menteri telah menurunkan kriteria publikasi bagi mahasiswa. Bagi mahasiswa S1 yang tadinya harus publikasi di jurnal ilmiah lokal diturunkan menjadi cukup disimpan di reprositori masing-masing perguruan tinggi, sementara mahasiswa S2 cukup di jurnal ilmiah lokal.

Namun meskipun sudah diturunkan, kebijakan ini masih menyisakan beberapa problematika. Kewajiban menulis bagi mahasiswa itu apa berarti mahasiswa harus menjadi penulis utama pada tulisan ilmiah tersebut, ataukah boleh sebagai penulis pendamping? Kalau penelitian itu dibiayai oleh mahasiswa, maka wajarlah jika mahasiswa itu tampil sebagai penulis utama, sementara dosen pembimbing sebagai penulis pendamping. Namun, di masa lalu dan mungkin sampai sekarang banyak skripsi dan tesis yang dibiayai oleh mahasiswa sering dipublikasikan oleh¬† dosen pembimbing. Ada yang minta izin, ada yang minta izin dengan tekanan, dan ada pula yang tidak izin. Menurut saya perilaku dosen seperti ini — khususnya yang tidak minta izin — kurang bisa dipertanggungjawabkan.

Nah, masalah timbul juga ketika mahasiswa ikut penelitian dosen. Dalam kasus ini apa boleh penulis utamanya adalah sang dosen yang punya penelitian, sementara mahasiswanya hanya sebagai penulis pendamping. Lebih rumit lagi jika yang menjadi dosen pembimbing itu bukan dosen yang punya kegiatan penelitian. Apakah dikarenakan surat edaran menteri itu tidak memerinci secara detail, maka hal ini diserahkan kepada kebijakan perguruan tinggi masing-masing? Jika demikian, maka akan terjadi perbedaan ketentuan di antara perguruan tinggi. Ini juga tidak baik bagi terciptanya suasana akademika.

Saya punya saran bagi para dosen yang melibatkan mahasiswa dalam kegiatan penelitian mereka. Dosen sebaiknya memberikan variabel/parameter penelitian yang tidak diukur dalam penelitian dosen. Dengan cara ini, maka skripsi mahasiswa tidak akan menjadi bagian laporan penelitian dosen. Dengan cara ini maka skripsi atau tesis mahasiswa tidak akan dituduh sebagai plagiat. Demikian pula ketika mahasiswa mempublikasikannya sebagai persyaratan kelulusannya.

Model yang saya sarankan ini bisa jadi memberatkan mahasiswa, sebab bisa jadi mahasiswa harus mengeluarkan biaya analisis bagi variabel yang ditelitinya. Mengapa? Sebab variabel itu tidak masuk dalam penelitian dosen. Tapi hal ini harus dilakukan agar skripsi atau tesis dan publikasinya tidak plagiat dengan laporan penelitian atau publikasi dosennya.

Untuk memperingan mahasiswa agar terhindar dari biaya atau meminimalisir biaya yang dikeluarkan mahasiswa, maka dosen dapat merencanakannya sejak awal, yaitu sejak mereka mengajukan proposal penelitian. Dalam proposal itu sang dosen bisa memasukkan variabel-variabel penelitian yang memerlukan biaya analisis sebagai variabel penelitian dosen. Sementara variabel-variabel yang tidak berbiaya atau yang kecil biayanya tidak dimasukkan sebagai variabel yang diteliti oleh sang dosen. Nah, variabel-variabel inilah yang nantinya bisa diberikan kepada mahasiswa sebagai variabel yang akan diteliti oleh mahasiswa. Saya kira wajar, jika mahasiswa tersebut mendapatkannya karena mereka toh telah membantu memperlancar kegiatan penelitian dosen.

Jadi, harus ada kebijakan yang ditentukan oleh perguruan tinggi mengenai tata cara pelaksanaan surat edaran menteri tersebut sebagai acuan di perguruan tinggi tersebut. Hal ini penting agar tidak merusak suasana akademik yang sudah terjalin.

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: