UPAYA PELESTARIAN POPULASI HARIMAU SUMATERA SECARA MENYELURUH ¹

5 03 2012

 Oleh : Said Jauhari ²

Abstrak 

      Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis) adalah salah satu satwa yang dilindungi Undang-undang dan terancam punah. Di Indonesia memiliki tiga jenis harimau antara lain Harimau Sumatera, Harimau Jawa dan Harimau Bali. Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau Bali (Panthera tigris Balica) sudah dinyatakan punah. Harimau Bali dinyatakan punah sejak tahun 1950-an, sedangkan Harimau Jawa dinyatakan punah sejak tahun 1970-an dan saat ini jenis kucing besar hanya Harimau Sumatera yang masih tersisa.

Populasi Harimau Sumatera di alam kian menurun diakibatkan kondisi habitat yang terus terganggu. Hutan primer dan sekunder merupakan habitat harimau, keberadaan kedua jenis hutan tersebut sulit ditemukan saat ini. Data terakhir jumlah populasi Harimau Sumatera di alam berkisar antara 400 sampai dengan 500 ekor saja yang habitatnya mulai dari Aceh sampai dengan Lampung.

Habitat Harimau Sumatera semakin menyempit dan kadangkala keluar dari habitatnya sehingga terjadi konflik antara manusia dan satwa liar (harimau). Penangan harimau bermasalah ini perlu dilakukan secara konprehensif dan melibatkan semua pihak dengan tujuan utama adalah harimau yang mengalami konflik harus terselamatkan.

Salah satu pendekatan konservasi dalam penanganan harimau bermasalah adalah membangun areal rehabilitasi harimau sumatera di habitat alam yang dikelola secara insentif sehingga satwa tersebut dapat berkembang biak secara semi alamiah. Sistem pengelolaan ini disebut dengan “Sumatran Tiger Centre” atau Pusat Perlindungan Harimau penyebab konflik. Tiger Centre ini bermanfaat sebagai koridor buatan yang menghubungkan populasi-populasi yang terfragmentasi sehingga terjadi komunikasi diantara populasi, juga sebagai tempat untuk merehabilitasi harimau penyebab konflik dengan manusia.

Kata Kunci : Hutan, Harimau Sumatera, Panthera tigris sumatraensis, konservasi

  1. I.     PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Penghancuran habitat adalah ancaman terbesar terhadap populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis) saat ini. Mayoritas kasus konflik satwa liar ini dengan manusia dikarenakan habitatnya yang semakin sempit sehingga Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis) semakin terdesak dalam melakukan perburuan dan mendapatkan mangsa. Konflik harimau sumatera di Provinsi Bengkulu sering terjadi, salah satunya di Desa Talang Sebaris, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma yang dikarenakan habitat harimau sumatera dikonversi menjadi perkebunan karet dan pemukiman penduduk. Akibatnya populasi dan jenis satwa mangsa/buruan harimau sumatera (rusa, babi hutan, kera, dan lain-lain) berkurang sehingga otomatis terjadi penurunan kuantitas, kualitas dan daya dukung habitat harimau sumatera. Hal ini berdampak pada perilaku harimau sumatera dalam tujuan mencari tempat berlindung dan membesarkan anak serta mencari buruannya karena daerah teritorial harimau sumatera beralih fungsi. Pada akhirnya perubahan daerah teritorial tersebut menekan harimau sumatera untuk mencari daerah teritorial baru, seperti pemukiman, sehingga ada peluang besar harimau sumatera masuk ke pemukiman penduduk.

1.2. Rumusan Masalah

Pada dasarnya kepunahan harimau sumatera dapat dicegah dengan memulihkan kembali populasi-populasi satwa tersebut yang berada pada tingkat tidak sehat ke tingkat populasi sehat melalui tindakan yang secara simultan dapat mengatasi faktor-faktor penyebab kepunahan harimau sumatera. Namun belum ada peraturan dan ketentuan tentang penetapan status harimau bermasalah untuk mencari teritorial baru serta belum adanya prosedur penanganan harimau bermasalah menimbulkan keragaman penetapan dan penanganan. Sebagian masyarakat bertindak sendiri tanpa memperhatikan kaidah konservasi, seperti menangkap harimau bermasalah dengan jerat bahkan sampai membunuh satwa tersebut. Selain itu, penangkapan harimau bermasalah oleh oknum masyarakat tertentu sering disalahgunakan untuk melakukan perburuan dan perdagangan harimau secara liar. Kondisi ini bila tidak segera ditangani, dapat terjadi tindakan berulang-ulang dan dianggap benar.

Disisi lain, penanganan harimau bermasalah yang sudah dilaksanakan selama ini  masih terbatas pada penangkapan dan memindahkannya ke Lembaga Konservasi Eksitu. Kondisi ini kurang menjamin kelestarian populasi harimau sumatera di habitat alami. Oleh karena itu perlu upaya penanganan yang mampu mengatasi penurunan populasi harimau sumatera di alam akibat penangkapan dan pemindahan harimau akibat konflik. Agar penanganan harimau konflik dapat lebih menjamin kelestarian populasi harimau sumatera di alam, maka dikembangkan teknis penangkapan dan pelepasliaran kembali ke habitat alami bagi harimau penyebab konflik. Selanjutnya permasalahan yang dapat diangkat adalah bagaimanakah tindakan yang dapat dilakukan untuk konservasi harimau sumatera tersebut?

Taksonomi Harimau Sumatera

Secara taksonomi dalam biologi Harimau Sumatera termasuk :

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Chordata

Sub phylum     : Vertebrata

Class                : Mammalia

Infraclass         : Eutheria

Ordo                : Carnivora

Sub ordo         : Fissipedia

Superfamily     : Felloidea

Family             : Felidae

Sub family       : Pantherina

Genus              : Panthera

Species            : Panthera tigris

Sub species      : Panthera tigris sumatrae

Harimau Sumatera Terancam Punah

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah salah satu jenis satwa liar dilindungi yang terancam punah. Sebelumnya, populasinya sangat banyak tersebar mulai dari Aceh, di daerah dataran rendah Indragiri, Lumbu Dalam, Sungai Litur, Batang Serangan, Jambi dan sungai Siak, Silindung, bahkan daratan Bengkalis dan Kepulauan Riau. Namun kini penyebarannya terbatas dan endemik di Pulau Sumatera. Harimau sumatera merupakan jenis satwa yang hidup soliter, dimana sebagian besar masa hidupnya menyendiri kecuali selama musim kawin atau memelihara anak.

Spesies ini merupakan harimau terkecil di subspesiesnya. Harimau sumatera jantan memiliki panjang rata-rata 92 inch dari kepala ke ekor atau sekitar 250 cm panjangnya dari kepala hingga kaki, dengan berat 300 pound (140 kg), dan tingginya setelah dewasa dapat mencapai 60 cm. Sedangkan harimau sumatera betina rata-rata memiliki panjang tubuh 78 inch (198,12 cm), dengan berat 200 pound (91 kg). Ciri khas lainnya adalah harimau sumatera memiliki warna paling gelap dan belangnya lebih tipis, memiliki lebih banyak janggut dan surai terutama pada spesies jantan, serta memiliki selaput di sela-sela kaki yang menjadikannya perenang handal.

Harimau sumatera memiliki tingkat perkembangbiakan cukup tinggi. Kematangan seksual harimau betina pada usia 3-4 tahun, sedangkan harimau jantan pada usia 4-5 tahun. Masa kebuntingan sekitar 103 hari, biasanya melahirkan 2 atau 3 ekor anak sekaligus (maksimal 6 ekor). Mata harimau baru terbuka pada hari ke-10, namun ada anak harimau di kebun binatang yang tercatat lahir dengan mata terbuka. Anak harimau sumatera hanya minum susu induknya selama 8 minggu pertama. Setelah itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau sumatera meninggalkan sarang kali pertama pada umur 2 minggu, belajar berburu pada umur 6 bulan, dapat berburu sendiri pada umur 18 bulan, dan dapat hidup sendiri pada umur 2 tahun. Harimau sumatera hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam penangkaran.

Harimau sumatera termasuk jenis satwa yang mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan habitat di alam bebas. Tipe lokasi yang biasa menjadi pilihan habitat harimau sumatera di Indonesia bervariasi dengan kisaran ketinggian 0-3.000 meter dpl, mencakup : (1) hutan hujan tropik, hutan primer dan sekunder pada dataran rendah sampai dataran tinggi pegunungan, savanna, hutan terbuka, hutan pantai, hutan bekas tebangan; (2) pantai berlumpur, mangrove, pantai berawa payau, dan pantai air tawar; (3) padang rumput terutama padang alang-alang; (4) daerah datar sepanjang aliran sungai khususnya pada sungai yang mengalir melalui tanah yang ditutupi oleh hutan hujan tropis; (5) perkebunan dan tanah pertanian; (6) areal hutan gambut. Adapun kondisi mutlak yang mempengaruhi pemilihan habitat seekor harimau sumatera adalah : (1) adanya kualitas habitat yang baik termasuk covercrop sebagai tempat berteduh, beristirahat, membesarkan anak dan berburu; (2) terdapat sumber air untuk minum, mandi dan berenang; (3) tersedia mangsa/buruan.

Harimau sumatera memiliki indera penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam sehingga menjadi pemburu yang efisien. Hewan mangsa/buruannya berupa Celeng atau Babi hutan liar (Sus sp.), Rusa Sambar (Cervus unicolor), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus sp.), Kerbau liar (Bubalus bubalis), Tapir (Tapirus indicus), Kera (Macaca irus), Langur (Presbytis entellus), Landak (Hystrix brachyura), Trenggiling (Manis javanica), Beruang madu (Heralctos malayanus), jenis Reptil seperti Kura-kura, Ular, Biawak, berbagai jenis burung, kadang-kadang unggas dan ikan. Hewan peliharaaan atau ternak yang sering menjadi buruannya adalah kerbau, kambing, domba, sapi, anjing, dan ayam.

Seekor harimau biasanya membutuhkan sekitar 6-7 kg daging per hari, bahkan terkadang mencapai 40 kg daging sekali makan, tergantung apakah satwa tersebut mencari makan untuk diri sendiri atau untuk anak-anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan makan, harimau berburu 3-6 hari sekali, tergantung ukuran mangsa buruan. Kenyataannya makanan harimau sumatera tergantung dari habitat dan seberapa berlimpah mangsanya. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, satwa ini mempertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya. Dengan demikian keseimbangan antara mangsa (konsumen) dan vegetasi (produsen) dalam luas kawasan perburuan tetap terjaga. Biasanya 4-5 ekor harimau sumatera dewasa diperkirakan memerlukan kawasan jelajah seluas 100 km di kawasan dataran rendah dengan kondisi jumlah mangsa/buruannya optimal.

Populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di habitat alami secara menyeluruh belum diketahui secara tepat. Namun demikian dapat dipastikan populasinya saat ini dalam keadaan sangat kritis.  Tahun 1994 diperkirakan populasi harimau sumatera hanya sekitar 400 ekor sampai dengan 500 ekor dan tersebar dalam kelompok-kelompok kecil di Cagar Alam, Taman Nasional, Hutan Lindung, serta daerah-daerah lain yang sudah dikonversi menjadi perkebunan/lahan pertanian di sepanjang Pulau Sumatera. Bahkan Dirjen PHKA memperkirakan kematian harimau sumatera akibat perburuan sebanyak 30 ekor pertahun. Kondisi tersebut bila tidak ditangani serius dan intensif dapat dipastikan bahwa populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di alam menurun drastis dan dalam waktu yang tidak lama akan punah, seperti halnya Harimau Bali, Kaspia dan Harimau Jawa yang sudah dianggap punah.

Penurunan populasi harimau sumatera di alam disebabkan berbagai faktor yang saling mempengaruhi dan terjadi secara simultan, diantaranya :

(1)   Informasi dan pengetahuan di bidang bioekologis harimau sumatera masih terbatas.

(2)   Menurunnya kualitas dan kuantitas habitat harimau sumatera akibat konversi hutan, eksploitasi hutan, penebangan liar, perambahan hutan, kebakaran hutan, dan lain-lain.

(3)   Fragmentasi habitat akibat perencanaan Tata Guna Lahan serta penggunaan lahan dan hutan yang kurang memperhatikan aspek-aspek konservasi satwa liar khususnya Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

(4)   Kematian harimau sumatera secara langsung akibat perburuan untuk kepentingan ekonomi, estetika, pengobatan tradisional, magis, olahraga, dan hobi, serta mempertahankan diri karena terjadi konflik antara harimau dengan masyarakat.

(5)   Penangkapan dan pemindahan harimau sumatera dari habitat alami ke lembaga konservasi eksitu karena konflik dengan manusia atau kebutuhan lain.

(6)   Menurunnya populasi satwa mangsa harimau sumatera karena berpindah tempat maupun diburu masyarakat.

(7)   Rendahnya unsur-unsur manajemen pengelola konservasi harimau sumatera.

(8)   Rendahnya kesadaran masyarakat dalam konservasi alam dan rendahnya penegakan hukum di bidang “Wildlife Crime”.

Upaya Penyelamatan Harimau

Salah satu pendekatan konservasi dalam penanganan harimau bermasalah adalah membangun areal rehabilitasi harimau sumatera di habitat alam yang dikelola secara insentif sehingga satwa tersebut dapat berkembang biak secara semi alamiah. Sistem pengelolaan ini disebut dengan “Sumatran Tiger Centre” atau Pusat Perlindungan Harimau penyebab konflik. Tiger Centre ini bermanfaat sebagai koridor buatan yang menghubungkan populasi-populasi yang terfragmentasi sehingga terjadi komunikasi diantara populasi, juga sebagai tempat untuk merehabilitasi harimau penyebab konflik dengan manusia,     harimau yang habitatnya sempit dan terisolasi karena pembukaan wilayah. Disamping itu juga dijadikan pusat riset dan pendidikan tentang harimau sumatera di dunia dan tempat kunjungan wisata bertaraf Internasional. Adapun lokasi Tiger Centre didasarkan atas kelayakan ekologi dan pertimbangan keamanan bagi masyarakat. Sedangkan model dan sistem pengelolaan Tiger Centre melibatkan berbagai institusi dalam negeri dan luar negeri sehingga dibuat dalam perencanaan pengelolaan tersendiri.

Upaya penyelamatan harimau sumatera dikembangkan melalui program konservasi harimau sumatera yang komprehensif. Program ini diupayakan oleh Sumatera Tiger Conservation Program, sebagai bentuk Kerjasama antara Departemen Kehutanan dengan The Tiger Foundation Canada dan Sumatran Tiger Trust Inggris. Adapun upaya konservasi yang dikembangkan mencakup 8 langkah berikut :

(1)   Melakukan studi bioekologi harimau sumatera

(2)   Melakukan perluasan habitat harimau sumatera yang berada di luar kawasan konservasi sebagai kawasan yang dilindungi untuk konservasi harimau sumatera

(3)   Meningkatkan kegiatan perlindungan harimau sumatera dan habitatnya

(4)   Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi alam dan meningkatkan kualitas penegakan hukum di bidang “Wildlife Crime”

(5)   Meningkatkan kualitas penanganan konflik antara harimau sumatera dengan masyarakat yang dapat menjamin kelestarian harimau sumatera

(6)   Monitoring populasi harimau sumatera di habitat alami dalam jangka panjang

(7)   Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kerjasama pengelolaan antara seluruh institusi yang berkepentingan terhadap kelestarian harimau sumatera

(8)   Mengembangkan Strategi Konservasi Harimau Sumatera di masa depan

 Pengembangan Kawasan Perlindungan Harimau Sumatera

Habitat alami harimau sumatera sudah mengalami degradasi dan terfragmentasi sehingga populasinya terpecah menjadi populasi-populasi kecil dan tersebar. Populasi tersebut berada dalam status populasi yang sehat, kurang sehat, tidak sehat, dan terpencil. Untuk mengetahui status populasi dan kondisi habitat alami harimau sumatera yang tersebar dilakukan kegiatan identifikasi serta inventarisasi habitat dan status populasi yang masih memungkinkan untuk diselamatkan. Kegiatan ini diprioritaskan pada Kelompok Hutan Bengalis (TCU 147), Kelompok Hutan Sungai Siak (TCU 149) dan Kelompok Hutan Sungai Kampar (TCU 150).

Pada pertengahan tahun 2005 telah dilakukan studi pada habitat penting harimau sumatera, antara lain :

(1)   Kelompok hutan Sei Senepis-Buluhala di kota Dumai yang terdapat dalam wilayah TCU 147.

(2)   Kawasan hutan penyangga Bukit Tigapuluh di Kab. Tanjung Jabung Barat, Kab. Tebo di Provinsi Jambi serta Kab. Indragiri Hilir dan Kab. Kuantan Senggigi di Provinsi Riau.

(3)   Sebagian kelompok hutan sungai Kampar (TCU 150) yang terletak di Kab. Pelalawan, Provinsi Riau.

Pengembangan Tiger Protection Unit (TPU)

Tiger Protection Unit (TPU) adalah Tim Perlindungan Harimau dan Habitatnya yang terdiri dari Polisi Hutan dan masyarakat yang memiliki ketrampilan khusus dan dilengkapi dengan peralatan cukup untuk menanggulangi perburuan dan perdagangan liar harimau Sumatera di kawasan konservasi dan kawasan hutan lainnya. Pembentukan tim ini bertujuan untuk mewujudkan perlindungan harimau, satwa mangsa dan habitatnya secara efektif dan efisien dengan melibatkan masyarakat secara aktif. Tim ini bertugas melakukan pencegahan, penindakan dan penanganan kasus perburuan Harimau Sumatera dan mangsanya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Adapun tugas yang diberikan pada TPU adalah sebagai berikut :

(1)   Melakukan pencegahan perburuan harimau sumatera

(2)   Melakukan penghancuran perangkap-perangkap harimau sumatera

(3)   Melakukan pemantauan populasi dan habitat harimau sumatera

(4)   Melakukan pengawasan dan identifikasi pemburu dan pedagang harimau

(5)   Melakukan penindakan terhadap pelaku tindak pidana yang tertangkap tangan

Beberapa contoh hasil kerja Tiger Protection Unit (TPU), Integrated Tiger Protection and Monitoring Unit (ITPMU), Integrated Tiger Protection, Monitoring and Respond Unit (ITPMRU) disajikan dalam tabel di bawah ini :

Satuan Kerja

(Lokasi)

Hasil Kerja

TPU

(TN Way Kambas)

  • Tertangkapnya pelaku perburuan liar
  • Laporan terjadinya illegal logging
  • Laporan terjadinya pengambilan ikan secara liar
  • Laporan terjadinya kebakaran hutan secara dini
  • Laporan terjadinya perambahan hutan
  • Tertangkapnya pelaku illegal logging
  • Tertangkapnya pelaku pengambilan ikan secara liar
  • Berhasil dimusnahkan jerat dan perangkap satwa harimau dan badak
  • Laporan pencurian hasil hutan nonkayu
ITPMU

TN Bukit 30

  • Tertangkapnya jaringan perburuan dan perdagangan harimau secara liar
  • Laporan dan informasi terjadinya illegal logging
  • Laporan terjadinya kebakaran hutan secara dini
  • Berhasilnya dipadamkannya sumber api dan kebakaran dini
  • Tertangkapnya pelaku illegal logging
  • Berhasil dimusnahkan jerat dan perangkap satwa harimau
ITPMRU

di Dumai

  • Menangkap Laporan terjadinya illegal logging
  • Terusir dan berhasil dihalaunya harimau penyebab konflik
  • Terevakuasinya korban konflik harimau dengan baik
  • Laporan dan informasi terjadinya illegal logging
  • Tertangkapnya pelaku illegal logging

 

 

 Pengembangan Pusat Konservasi Harimau

Kawasan hutan di Pulau Sumatera telah terdegradasi sangat berat. Selain itu banyak pembukaan wilayah hutan alam untuk berbagai kepentingan sehingga menyebabkan fragmentasi hutan dan habitat harimau. Fragmentasi habitat ini menyebabkan populasi harimau terbagi menjadi populasi kecil yang tersebar dan tidak dapat berinteraksi. Akibatnya harimau terancam punah karena populasinya sudah tidak sehat.

Monitoring Populasi dan Habitat Harimau Sumatera

Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengetahui populasi, penyebaran dan pola aktivitas harian harimau sumatera, serta mengetahui kepadatan dan keragaman jenis satwa lain. Untuk memperoleh data yang akurat maka digunakan camera inframerah yang dipasang di tempat-tempat lintasan harimau sumatera. Kamera tersebut beroperasi selama 24 jam dalam jangka waktu tertentu, dan secara otomatis memotret dan mencatat waktu setiap individu, baik harimau sumatera maupun satwa lain, yang tertangkap lensa kamera.

Dari hasil survei dan monitoring populasi harimau sumatera diperoleh data berikut : 43-46 ekor hidup di Taman Nasional Way Kambas (terpotret 44 ekor), 23-26 ekor hidup di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (terpotret 7 ekor) dan 11-14 ekor hidup di kawasan Hutan Senepis-Buluhala (terpotret 9 ekor).

 Penanganan Harimau Sumatera Bermasalah

Berdasarkan studi lapangan dalam rangka Program Konservasi Harimau Sumatera diketahui bahwa pembukaan hutan, eksploitasi hutan dan konversi vegetasi hutan alam menjadi tanaman monokultur (lahan kelapa sawit) merupakan sumber penyebab terjadinya konflik antara harimau sumatera dengan masyarakat. Kenyataannya, pembukaan areal hutan dan konversi hutan alam menjadi tanaman monokultur ataupun pemukiman mengakibatkan menurunnya kualitas, kuantitas, dan daya dukung habitat harimau sumatera. Hal ini dapat dilihat dari menurunnya populasi dan jenis satwa mangsa buruan, hilangnya tempat berlindung dan membesarkan anak harimau, serta berubahnya teritorial harimau sumatera.

 Penegakan Hukum

Dalam rangka penanganan konflik harimau sumatera, Program Konservasi Harimau Sumatera menyusun Rancangan Protokol Penanganan Konflik antara Harimau dengan Masyarakat. Kemudian untuk meningkatkan pelaksanaan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana bidang satwa liar, Program Konservasi Harimau Sumatera memfasilitasi Kementerian Kehutanan c.q Direktorat Jenderal PHKA membentuk Tim Penanggulangan Perburuan dan Perdagangan Liar Satwa Dilindungi di tingkat daerah dan di tingkat pusat. Tim ini terdiri dari enam unsure, yakni : Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, Kementerian Kehutanan, Pemerintah Daerah, dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Oleh karena itu diharapkan UPT. PHKA di daerah dapat memperoleh bantuan hukum yang mendukung penyelesaian masalah tindak pidana bidang satwa liar khususnya spesies harimau sumatera.

Sosialisasi Peraturan Perundangan

Disamping penegakan hukum, perlu dilakukan sosialisasi perundangan khususnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa kepada masyarakat sekitar kawasan habitat harimau sumatera, aparat desa dan PEMDA setempat.

Sebagaimana dalam PP No. 7 Tahun 1999, harimau sumatera terlampir (nomor urutan 52) sebagai satwa liar yang dilindungi Undang-Undang. Sosialisasi perundangan ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan kepada pihak-pihak yang berkepentingan terutama masyarakat setempat agar ikut aktif terlibat dalam menjaga habitat harimau sumatera dan tidak menangkap/ melukai/ membunuh/ menyimpan/ memiliki/ memelihara/ mengangkut/ memperniagakan dalam keadaan hidup atau mati. Seperti yang tertuang dalam UU No 5 Tahun 1990 pasal 21 ayat 2 butir a dan b.

Melalui sosialisasi peraturan perundangan ini juga ditegaskan mengenai ketentuan pidana bagi pelanggaran ketentuan UU No 5 Tahun 1990 pasal 21, yaitu dipidana kurungan selama 1 – 5 tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.000,00 – Rp 100.000.000,00. Hal ini dijelaskan dalam UU No 5 Tahun 1990 pasal 40 ayat 2 dan 4. Disamping itu perlu sosialisasi Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 42 tahun 2007 tentang strategi dan rencana aksi konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) 2007 – 2017.

Koordinasi dan Penyelarasan Persepsi

Dalam rangka menyelaraskan persepsi terhadap perlindungan harimau sumatera diantara aparatur pengaman dan penegak hukum, perlu dilakukan ekspose secara kontinyu. Penyelarasan persepsi diantara aparatur penegak hukum yang memiliki latar belakang pendidikan dan profesi yang beragam juga dapat ditunjang dengan adanya kunjungan aparatur penegak hukum ke lokasi-lokasi proyek konservasi alam di kawasan konservasi.

Disamping itu juga dilakukan diskusi dengan aparatur pengaman dan penegak hukum (Polhut, PPNS Kehutanan, Jaksa Penuntut Umum, PEMDA, Polri, TNI, dan Hakim) tentang Penanganan Kasus Tindak Pidana Perburuan dan Perdagangan Harimau Sumatera dan Satwa Dilindungi Lainnya. Diskusi ini memberikaan manfaat besar dalam proses peningkatan kualitas penegakan hukum di bidang wildlife crime.

Untuk membantu kementerian Kehutanan dalam percepatan proses penyelesaian perkara diperlukan dukungan financial dan fasilitasi dari stakeholder terkait terhadap hambatan dan kendala maupun kelemahan-kelemahan yang belum dapat diatasi. Sebagai contoh, Program Konservasi Harimau Sumatera memfasilitasi aparatur pengaman dan penegak hukum (Polhut, PPNS Kehutanan, Jaksa PU, dan Hakim) dalam pembuktian, seperti: peninjauan dan olah TKP, pemeriksaan dan analisa Laboratorium, penyediaan saksi ahli dan dukungan akomodasi bagi tersangka serta dukungan administrasi pemberkasan.

Kampanye Penyadaran Masyarakat

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat menyangkut manfaat dan arti pentingnya harimau sumatera bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh, keberadaan satwa ini dapat mengendalikan populasi babi hutan yang menjadi gulma tanaman pertanian ataupun perkebunan. Kampanye ini juga menyebarluaskan informasi kepada masyarakat bahwa populasi harimau sumatera di habitatnya sudah dalam keadaan kritis (hampir punah) sehingga telah ditetapkan sebagai satwa liar yang dilindungi oleh Undang-undang. Sasaran utama kampanye ini adalah aparatur pemerintah, pengusaha, dan masyarakat sekitar hutan. Sesuai dengan sasaran kampanye, maka materi diutamakan pada penegakan hukum yang disampaikan melalui pameran, ekspose, seminar dan diskusi, media cetak dan elektronik, serta internet.

Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Kualitas Pegawai

Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan kelangsungan pelaksanaan kegiatan Pasca Konservasi Harimau Sumatera, dibutuhkan sumberdaya pegawai yang mampu melaksanakan kegiatan secara mandiri. Untuk itu diupayakan peningkatan kualitas pagawai sesuai dengan jenis dan keahlian yang diperlukan melalui pelatihan, magang, studi banding, diskusi, seminar. Prioritas keahlian dan ketrampilan yang difasilitasi oleh Program Konservasi Harimau Sumatera menyangkut peningkatan kemampuan dalam berbagai aspek, meliputi : penggunaan GIS, penggunaan alat navigasi, melaksanakan survei harimau secara cepat, pengelolaan kamera inframerah, penegakan hukum, penanganan konflik harimau, dan kemampuan dalam analisa habitat.

Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya yang berada di dalam dan sekitar hutan, maka dilakukan berbagai kegiatan berikut :

  • Melibatkan masyarakat dalam kegiatan perlindungan Harimau sebagai anggota Tiger Protection Unit.
  • Menfasilitasi penyelenggaraan Pendidikan Dasar Rumah Sekolah bagi masyarakat Suku Talang Mamak di datai yang hidup terpencil di dalam Taman Nasional Bukit Tigapuluh.
  • Memberikan pendampingan kepada masyarakat Talang Mamak dalam pengembangan tanaman hutan bernilai ekonomis (Rotan Jernang, Gaharu, dan lain-lain).
  • Memfasilitasi pelayanan kesehatan bagi masyarakat terpencil.

Perlindungan harimau sumatera, satwa mangsa, dan habitatnya merupakan komponen penting dan kompleks dalam upaya melestarikan harimau sumatera. Oleh karena itu perlu dilibatkan secara aktif dan terencana peran serta masyarakat dan institusi terkait (Pemerintah, Badan Usaha, Lembaga Swadaya Masyarakat) dalam konservasi alam hayati. Selanjutnya dengan keadaan dan persoalan habitat, populasi harimau, satwa mangsa, dan tingkat kesejahteraan saat ini, maka perlu dilakukan upaya-upaya konservasi secara komprehensif untuk mencapai keberhasilan dalam pelestarian harimau sumatera.

Terkait hal ini, maka kesejahteraan masyarakat, kesadaran terhadap konservasi alam hayati bagi Wakil Rakyat, Pejabat Negara, Pemerintah, dan Badan Usaha di tingkat Lokal, Daerah, Nasional, maupun Internasional menjadi kunci keberhasilan konservasi harimau sumatera menjadi lestari.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Laporan Penanggulangan Konflik Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Talang Sebaris, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu

Alikodra, HS. 2002. Pengelolaan Satwaliar Jilid I. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB.

Endri N. 2006. Distribusi dan Kelimpahan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae, Pocock 1929) dan Satwa Mangsa di Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Hasiholan, W. 2006. Meningkatnya Harapan Dalam Pelestarian Harimau Sumatera. In http://harimau-sumatera.blogspot.com/2006/04/meningkatnya-harapan-dalam-pelestarian.html [3.02.12]

Hasiholan, W. 2006. Sumatran Tiger Conservation Centre. In http://harimau-sumatera.blogspot.com/2006/05/sumatran-tiger-conservation-centre.html [3.02.12]

Hasiholan, W. 2005. Konservasi Harimau Sumatera Secara Komprehensif. In http://harimau-sumatera.blogspot.com/2005/12/konservasi-harimau-sumatera-secara.html [3.02.12]

Hasiholan W. 2005. Pengalaman dalam Implementasi Konservasi Harimau Sumatera Secara In-Situ di Pulau Sumatera. Bogor: PKHS

Lestari NS. 2006. Studi Habitat Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae, Pocock 1929) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Linkie M. 2005. Monitoring Status Populasi Harimau dan Hewan Mangsa di TNKS. London: [DICE] Durel Institute Consernation and Ecology. University of Kent. England.

Prayudhi, R.T.2003-2011. Perburuan dan Perdagangan Satwa Liar di Bengkulu. Profauna Indonesia.Inhttp://www.profauna.org/suarasatwa/id/2006/03/perburuan_dan_perdagangan_satwa_liar_di_bengkulu.html [13.02.12]

Soehartono, T. dkk. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) 2007 – 2017. Departemen Kehutanan. In http://rafflesia.wwf.or.id/library/admin/attachment/books/Sum_Tiger_Nat_ActionPlan_2007_2017.pdf [14.02.12]

Sriyanto. 2003. Kajian Mangsa Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae, Pocock 1929) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung [Tesis]. Bogor Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

About these ads

Actions

Information

5 responses

15 03 2012
Noer

Konservasi keanekaragaman hayati merupakan bagian penting dari upaya menyelaraskan kehidupan dengan alam. Semoga sukses dengan upaya pelestarian harimau sumatera-nya mas…

20 03 2012
hendra apiko

saya sangat mendukung sekali dalam pelstarian harimau, khusus nya di sumatra, semoga sukseks ya pak…

13 09 2012
cleaning services

keren

8 03 2013
jaytee

Saya ingin tanya kenapa tidak membuat Tiger Sanctuary saja di salah satu pulau dekat Sumatera? Pulaunya gak ada? Mana mungkin sih, Indonesia kan ada puluhan ribu pulau? Lebih baik harimau Sumatera di kembang biakan dipulau sehingga jika yg di main land Sumatera punah masih ada yang di pulau. Saya kira ini adalah solusi yg terbaik karena hutan di Sumatera akan semakin berkurang, hutan lindung saja sekarang sudah dapat dikonversi untuk dijadikan kebun.

29 06 2014
Info Beasiswa Bengkalis 2014

I was recommended this blog by my cousin. I am not sure whether this post
is written by him as nobody else know such detailed about
my problem. You’re incredible! Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: