Dialog ini sering diungkapkan ketika terjadi kecelakaan.
A: Si Badrun kecelakaan. Sekarang ia di rumah sakit. Lagi koma.
B: Gimana sih kejadiannya?
A: Dia diserempet mobil sehingga jatuh. Kepalanya membentur badan jalan.
C: Pakai helm nggak?
A: Tidak, kan hanya dekat. Jadi ia tidak pakai helm.
D: Si Badrun meninggal, baru saja!
Semua: Innalillahi
C: Itulah, coba kalau pakai helm. Mungkin tidak akan kejadian.
D: Ah, kalau sudah waktunya mbok pakai helm pasti meninggal juga!
Memang betul bahwa ajal itu tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Saya juga mengimani hal ini. Masalahnya, seorang muslim juga diwajibkan melakukan usaha. Bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang mengubahnya. Untuk itu, kita harus berhati-hati. Misalnya ketika mengendarai motor pakai helm. Ketika mengendari mobil pasang sabuk pengaman. Penggunaan peralatan tersebut sesungguhnya untuk keselamatan kita sendiri. Jangan pakai helm kalau ada polisi saja. Jangan pakai helm kalau pergi jarak jauh saja. Saya punya teman, yang selalu mewanti-wanti kepada isterinya pakai helm meskipun perginya hanya dekat-dekat saja. Ia mengatakan kepada isteri helm itu untuk keselamatanmu, selebihnya pasrah kepada Allah.
Betul! Kita kan tidak tahu kapan kita akan dipanggilnya. Yang menjadi pusat perhatian kita ya usaha — dalam hal ini pakai helm –. Kalau sudah berhati-hati tetapi masih juga kejadian, ya memang sudah saatnya. Ada suatu riwayat di zaman Rasulullah. Seorang sahabat datang ke masjid dengan mengendari unta. Begitu turun ia langsung ke masjid tanpa mengingat untanya. Rasulullah lalu menegur: ” kenapa untamu tidak diikat?” Sahabat itu lalu menjawab: ” saya pasarah kepada Allah”. Lalu Rasulullah menjawab: “ikatlah, baru kemudian pasrah kepada Allah”.
Jadi, menjaga keselamatan itu harus dilakukan oleh setiap muslim. Segala upaya harus dilakukan agar selamat dalam setiap aktivitas. Setelah melakukan usaha optimal, maka sebagai seorang muslim berserah diri kepada Allah swt.
Ada dua bencana atau musibah yang menimpa seseorang, yaitu musibah yang sudah ditentukan oleh Allah, dan musibah yang terjadi karena perbuatan sendiri/ manusia. Musibah yang disebabkan oleh manusia itu terjadi dikarenakan melanggar hukum alam semesta. Misalnya, hutan banyak ditebang. Akibatnya banjir bandang melanda. Pola makan tidak teratur, akibatnya terkena sakit mag. Tidak hati-hati, akibatnya kecelakaan. Oleh sebab itu sebagai seorang muslim harus menjaga keselamatan diri, agar tidak terkena musibah akibat perbuatan sendiri. Kalaupun terkena musibah itu dikarenakan sudah ditentukan oleh Allah swt. Yang terakhir ini memang tidak bisa dihindari.



























subhanallah,… semoga menjadi renungan kita semua dan bekal dikemudian hari, maaf pak mohon ijin copas, trims