Dalam suatu pengajian terdengar beberapa komentar sebagai berikut:
1) Kalau shalat di masjidil haram nilainya 100.000 kali daripada di tempat lain, tidak adil dong!
2) Wah, kalau saat lailatul qadar beribadah nilainya sama dengan 1000 bulan, berarti setelah itu tak usah beribadah. Kan rata-rata umur manusia sekitar 60 tahun, sebab 1000 bulan sama dengan 83 tahun lebih.
3) Lah, kalau lailatul qadar sampai sekarang masih ada, lalu bagaimana mungkin terjadi. Kan waktu setiap tempat berbeda-beda. Saat di suatu tempat masih sore, di tempat lain sudah malam, dan di tempat yang lainnya lagi sudah pagi.
4) Lah kenapa Allah memilih baitullah di Mekah?
Demikianlah contoh-contoh ungkapan yang saya anggap berlebih-lebihan. Sebagai manusia yang sangat terbatas, bagaimana mungkin bisa mengetahui ilmu Allah? Ungkapan itu adalah ungkapan berpikir manusia yang serba terbatas. Kita tidak tahu apa-apa sehingga tidak layak kita berpikir seperti di atas.
Contoh (1) sumbernya jelas dari hadist yang syaheh, kenapa diragukan? Tidak adil? Itu menurut anggapan kita. Allah telah menetapkan keistimewaan suatu tempat beribadah, maka tidak ada yang kita katakan selain: “Kami mendengar dan kami taati”. Jika yang dimaksud bahwa orang Mekah berarti mendapat pahala banyak karena dekat dengan masjidil haram itu belum tentu. Syetan pasti akan menghalang-halangi mereka untuk shalat di masjidil haram. Sementara, orang yang jauh bisa jadi mendapat pahala shalat lebih banyak walaupun hanya ketika haji mereka shalat di masjidil haram. Kita tidak tahu kan!
Contoh (2) itu pernyataan yang tergesa-gesa. Ada suatu riwayat, bahwa Aisyah heran mengapa Rasulullah shalat malam setiap hari dan sangat lama, lalu ia bertanya:”Wahai Rasulullah shalat engkau lama sekali, padahal engkau telah dijamin masuk sorga”. Jawab Rasulullah: “Oleh sebab itu aku bersyukur telah dikaruniai hal ini, maka akupun lebih banyak lagi beribadah”. Kira-kira demikianlah dialog Rasul dan isterinya. Nah, orang yang mendapat lailatul qadar pasti akan lebih banyak beribadah, sebagai rasa syukur mereka. Lah, kalau mereka berhenti beribadah artinya mereka tidak mendapat lailatul qadar dong!
Contoh (3) itu cara berpikir logika manusia yang serba terbatas. Yang tidak mengetahui yang ghaib. Ingat surat Al Ikhlas yang menyatakan bahwa Tidak Ada Satupun yang Menyamai-Nya! Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Contoh (4): Ini adalah hak Allah. Bagi mereka yang berpikir ala manusia lalu membuat tandingan dengan membuat ka’bah sendiri dan haji tidak perlu ke Mekah. Padahal, penentuan baitullah itu hak Allah, dan jika kita beriman kepada-Nya, maka hanya ada satu kalimat: Kami dengar dan kami taati”.
Mari jangan sampai kita berlebih-lebihan, yang dapat membuat kita tanpa sadar sudah keluar dari agama Islam. Harus disadari bahwa banyak sekali hal-hal yang tidak bisa diungkap. Nah, kita bisa menganalisis hal-hal yang dapat dianalisis oleh kemampuan manusia, khususnya ayat-ayat yang berkaitan dengan alam semesta. Kalau ayat-ayat yang berkaitan dengan hal-hal yang ghaib — yang hanya Allah yang mengetahui — langsung saja kita imani.



























SocialVibe