Pola Hidup Sederhana, Bagaimana Sih Penerapannya?

6 12 2011

Banyak persepsi mengenai konsep hidup sederhana. Ada yang berpersepsi bahwa hidup sederhana ya hidup serba kekurangan, hidup yang serba kumuh, hidup yang tidak neka-neka, hidup yang tidak penuh ambisi dan cita-cita. Ada pula yang berpendapat bahwa hidup sederhana itu adalah pola hidup yang sesuai dengan kebutuhan hidup standard.

Saya cenderung setuju pada opini kedua, bahwa hidup sederhana adalah pola hidup yang sesuai dengan kebutuhan yang standard. Masalah berikutnya apa itu kebutuhan? Konsep kebutuhan sering kali dirancukan dengan konsep keinginan. Kita harus membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kalau kebutuhan itu pasti terbatas, sedangkan keinginan itu tidak terbatas.

Okey, mari kita bahas dulu konsep kebutuhan. Kebutuhan manusia itu b isa dibagi menjadi kebutuhan dasar/kebutuhan primer, kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier. Kebutuhan dasar yang saat ini diacu adalah kebutuhan akan  permukiman, sandang, pangan, kesehatan dan pendidikan. Lah, kebutuhan dasar ini saja sudah bervariasi bergantung kepada status sosial orang itu. Sayangnya, kita belum punya standard tentang kelima kebutuhan dasar ini.  Tentu saja kebutuhan dasar petani berbeda dengan dosen, berbeda pula dengan bupati, gubernur atau presiden. Rumah, misalnya! Standardnya bagaimana? Mungkin bisa kita buat untuk aktivitas normal, berapa sih luas ruang/kapita. Nah, jika kita sudah punya standard ini maka kita bisa menentukan luas rumah untuk satu keluarga yang terdiri dari 5 anggota. Ini baru luas ruang! Lalu tipe rumahnya yang standard (yang nyaman) itu yang bagaimana? Nah, untuk yang satu ini juga bervariasi bergantung kepada status sosial orang itu.

Lalu bagaimana kebutuhan pendidikan untuk orang Indonesia? Apa cukup lulus SMP sebagaimana yang dicanangkan oleh pemerintah? Atau lulus SMA? Atau lulus S1? Menurut saya, kebutuhan pendidikan orang Indonesia untuk saat ini adalah setara dengan SMA. Jika sepakat, maka setiap orang Indonesia wajib sekolah  dan lulus minimal setara SMA. Kebutuhan pendidikan inipun bervariasi bergantung kepada status dan pekerjaan orang tersebut. Seorang dosen missalnya, wajib baginya lulus S2, maka kebutuhan pendidikannya adalah setara S2. Lalu kalau petani? Ya, saya pikir minimal lulus SMA atau yang sederajat. Kok? Ya, kedudukan petani sebenarnya sangat strategis sebagai penyedia pangan. Nah, tentu saja mereka memerlukan pendidikan yang cukup, agar mereka mampu menghasilkan pangan dan baik dan kesejahteraan yang memadai. Baru membahas dua kebutuhan dasar saja sudah rumit, belum lagi tiga kebutuhan dasar lainnya seperti kebutuhan pangan, sandang dan kesehatan. Wah, repot juga ya menentukan kebutuhan hidup yang standard bagi orang Indonesia yang tentu saja statusnya bervariasi.

Untuk sementara kita buat patokan untuk diri sendiri. Intinya pola hidup sederhana cirinya antara lain adalah tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. Jika kita hanya butuh pakaian 10 setel, maka jika kita punya lebih dari 10 setel berarti itu sudah berlebih-lebihan. Berarti kita sudah  tidak hidup sederhana. Jika kita makan sesuai dengan kebutuhan gizi yang diperlukan maka kita berarti telah hidup sederhana. Jika lebih dari itu berarti kita sudah keluar dari pola hidup sederhana. Jika kita makan sampai tidak bisa berdiri, itu artinya kita sudah keluar dari pola hidup sederhana. Bagaimana menurut Anda?

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: