Siapa Menanam Dia yang Memetik

4 04 2011

Oleh: Urip Santoso

Ungkapan ini adalah salah satu nilai ideal yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan nyata. Banyak tata nilai ideal (das sollen) yang seharusnya menjadi pedoman manusia dalam bertingkah laku. Sebab, yang membedakan manusia dengan binatang adalah tata nilai yang mengatur tingkah laku manusia. Mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang seharusnya dtinggalkan. Manakala manusia tidak menganut tata nilai tersebut maka manusia tidak lebih baik dari binatang atau bahkan lebih buruk lagi.

Namun alam ideal (das sollen) sering bertentangan dengan alam empiris (nyata, das sein). Di alam empiris semua tata nilai menjadi dilupakan manusia karena adanya nafsu yang tak terkendali. Banyak contoh kasus bahwa ungkapan di atas sering jauh dari kenyataan. Misalnya, banyak orang yang menanam itu tidak memetik hasilnya karena nafsu manusia yang lain. Anda menanam orang lain yang memetik (mencuri). Anda menanam padi, ternyata orang lain yang memetik. Anda menanam tanaman di kebun, ternyata dicuri orang lain. Anda yang membuat proposal, orang lain yang menikmati hasilnya. Anda bersusah payah mendirikan sekolah orang lain yang menikmatinya.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ya, karena perilaku sebagian manusia tidak memperhatikan tata nilai yang menjadi pedoman hidup bermasyarakat. Mereka ini hanya mengikuti hawa nafsu jahatnya. Kalau yang berperilaku ini orang kecil barangkali akibatnya hanya menimpa diri dan keluarganya. Akan tetapi jika ini dilakukan oleh para pejabat, betapa besar dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat luas. Di Indonesia dalam era demokrasi ini banyak tata nilai luhur yang  dilupakan. Banyak yang menggunakan cara pragmatis tanpa peduli dengan tata nilai. Ah, apa itu tata nilai, yang penting tercapai tujuanku.

Dengan tidak dianutnya tata nilai tersebut, maka tatanan masyarakat menjadi kacau balau. Yang benar dikatakan salah, yang salah dikatakan benar. Yang jujur difitnah, yang jahat berkuasa. Yang gila dianggap waras, yang waras dianggap gila. Celakanya, ibarat penyakit menular, perilaku seperti itu dengan cepat menyebar dan mewabah. Memang, penyakit ini mempunyai daya tarik yang kuat sehingga banyak yang dengan suka cita menganutnya. Sogok menyogok, jatuh menjatuhkan, fitnah menfitnah dsb. Berkembang dengan suburnya. Istilahpun diganti agar tidak tampak buruk. Sogok diganti dengan investasi, promosi diganti dengan jual diri, bunga bank diganti dengan syariah dll. Hukum yang sudah jelas dicari-cari perkecualiannya agar mereka dapat dengan sah membenarkan perilaku buruknya. Berbagai bidang kegiatan manusia (ipoleksosbudhanham) pun diwarnai dengan perilaku yang abnormal. Akhirnya masyarakat pun kacau bin balau. Hukum siapa yang kuat dialah yang menang (hukum rimba) pun berlaku dimana saja. Rakyat tidak dilindungi dan tidak diberi kesempatan untuk mempertahankan haknya. Masyarakat disuguhi tontonan yang tidak menarik. Ingkar janji, bohong dan tidak amanah sudah menjadi tontonan sehar-hari. Sebagian masyarakat pun ikut-ikutan. Pedomannya: “Masa hanya mereka yang menikmatinya kami juga ingin menikmatinya”. Namanya juga rakyat kecil dapatnya juga kecil. Tapi tak apalah daripada tidak sama sekali.

Apakah benar mereka yang melanggar tata nilai itu sukses? Dilihat dari segi materi mungkin mereka sukses. Mereka kaya raya tanpa batas, mereka berkuasa tanpa tanding, mereka bebas kemana saja dan bebas berbuat. Akan tetapi jika dilihat dari kaca mata batin, mereka sesungguhnya termasuk makhluk yang tidak sukses. Batin mereka penuh dengan penyakit. Semakin hari semakin parah. Ajaibnya, mereka tidak tahu dan bahkan tidak merasa bahwa mereka itu sakit. Bahkan mereka bangga, bahwa mereka berhasil menipu misalnya. Mereka dikelilingi oleh rasa dengki, iri, hasut, bohong, takut dan segudang penyakit batin lainnya. Hidup mereka tampak bahagia, tapi sesungguhnya mereka tidak bahagia.

Jadi, meskipun tampaknya mereka yang menanam tidak memetik, sesungguhnya mereka itu yang beruntung. Jika saja mereka sabar, mereka akan mendapat gantinya berlipat ganda. Nama mereka harum di mata masyarakat. Mereka hidup bahagia dalam arti nyang sesungguhnya. Mereka tidak dikejar-kejar ketakutan. Mereka tidak harus mencari akal untuk menutupi kebohongan demi kebohongan. Mungkin mereka miskin harta dan kehormatan, tapi mereka kaya batinnya.

Sayangnya banyak orang yang berpikir terbalik. Ah, untuk apa jujur kalau miskin. Ah, lebih baik menyogok biar dapat pekerjaaan atau jabatan. Biar menikmati hidup ini. Kapan lagi? Hidup kan hanya satu  kali. Hukum pun diubah-ubah menurut selera mereka. Yang halal dikatakan haram, yang haram dikatakan halal. Pedoman mereka adalah “Yang haram saja susah diperoleh apalagi yang halal”. Orang yang sok suci itu hidupnya melarat. Apa yang mereka dapatkan dari kejujuran mereka? Apa yang mereka dapatkan dari lurusnya perilaku mereka? Tidak ada dan bahkan hanya kesengsaraan, keterpencilan dll. yang mereka dapatkan. Omong kosong dengan tata nilai… Demikianlah mereka berkoar.

About these ads

Actions

Information

2 responses

7 05 2011
Hendro Fadly

Assalamualaikum…
ajarkan saya lebih dalam belajar blog pak
hehehe….
salam dari mahasiswa peternakan

10 05 2011
uripsantoso

Ok Hendro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: