DAMPAK PERLADANGAN BERPINDAH BAGI KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN

13 10 2010

Johan  M. Matinahoru

Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon

Maluku merupakan provinsi yang terdiri dari 632 pulau kecil dan hanya 4 pulau berukuran sedang yaitu pulau  Seram, Buru, Yamdena dan  Wetar.  Mayoritas penduduk Maluku yaitu kira-kira 80 % bertani, 15 % merupakan nelayan dan sisanya adalah pegawai, pedagang dan buruh.

Mayoritas dari penduduk yang bertani di Maluku yaitu kira-kira 70 %  merupakan peladang berpindah, dan  kondisi ini karena perladangan berpindah merupakan suatu warisan kegiatan dari nenek moyang petani, dan nampaknya akan sulit diatasi jika tidak ada kemauan pemerintah untuk pengendaliannya.  Perladangan berpindah adalah sebuah sistem bercocok tanam yang dilakukan oleh masyarakat secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara membuka lahan hutan primer maupun sekunder.   Secara umum peladang di Maluku membuka areal hutan untuk berladang karena alasan kesuburan tanah.  Hal ini karena secara umum para  peladang berpendapat bahwa hutan memiliki tanah yang subur sehingga hasil ladang yang dicapai akan lebih tinggi.             Kerusakan ekosistem pulau kecil di Maluku  secara umum disebabkan oleh 3 hal pokok, yaitu perladangan berpindah, eksploitasi hutan oleh pengusaha hutan  dan kebakaran hutan.           Namun demikian perladangan berpindah memiliki kontribusi kerusakan ekosistem cukup signifikan karena pada pulau-pulau yang berukuran relatif kecil, disana tidak ada aktivitas pengusahaan hutan.  Selain itu perladangan berpindah dan kebakaran memiliki korelasi yang positif, karena musim berladang umumnya pada musim kemarau.  Hasil penelitian menunjukan bahwa pada setiap musim kemarau terjadi kebakaran dimana-mana karena dipicuh oleh aktivitas perladangan.

1.  Proses terjadinya perladangan berpindah

Secara umum proses terjadinya sebuah perladangan berpindah di Maluku dimulai dengan langkah-langkah, yaitu : (a). survei kesuburan tanah untuk menentukan lahan hutan yang tepat untuk dilakukan perladangan.  Biasanya indikator kesuburan tanah yang umum dipakai adalah jenis tumbuhan dan aktivitas mikroorganisme tanah. (b).  Penebasan tumbuhan bawah untuk mempercepat proses pengeringan serasah. (c). Penebangan pohon. (d). Proses pengeringan lahan kurang lebih 3 – 4 minggu. (e). Pembakaran dan pembersihan. (f). Penanaman dan pemeliharaan, dan  (g). Panen hasil.

Rata-rata ukuran luas lahan yang dapat diusahakan setiap kepala keluarga peladang bervariasi, karena bergantung pada : (a). Jumlah anggota dan tenaga kerja keluarga, (b). Jarak antara lokasi berladang dan pemukiman, (c). Aksesibilitas ke pasar. (d). Usia sekolah anak dalam keluarga, (e). Pertambahan penduduk berumah tangga.   Ukuran luas ladang tersebut berkisar antara 0.3 – 1.0 hektar untuk tiap kepala keluarga.  Beberapa peladang menggunakan  2-3 persil lahan, tetapi secara umum hanya 1 persil. Peladang yang memiliki lahan sempit atau tidak memiliki lahan, biasanya mendapat lahan dari peladang yang lahannya luas dengan menggunakan sistem bagi hasil, tetapi ada juga yang tanpa bagi hasil.

Hasil kajian menunjukan bahwa faktor-faktor mendasar yang mendorong peladang untuk hanya bisa memilih berladang, adalah : (1). Mudah dan murah untuk dipraktekkan. Jika dianalisis keseluruhan proses mulai dari persiapan lahan sampai dengan penanaman dan panen hasil, memang sangat mudah untuk dikerjakan. Hal ini karena umumnya petani menggunakan sistem masohi (gotong royong).  Semua aktivitas perladangan dari aspek teknik pekerjaan memang merupakan warisan orang tua (nenek moyang).  Selain itu tidak banyak biaya yang dikeluarkan untuk pengerjaan sebuah ladang, namun demikian beberapa peladang memakai sistem masohi sehingga harus menyiapkan sedikit biaya untuk konsumsi para pekerja. Sistem masohi umumnya hanya digunakan untuk 2 aktivitas utama yang banyak membutuhkan tenaga, yaitu (a). penebangan hutan dan (b). pembuatan pagar  untuk melindungi kebun dari serangan hama babi dan rusa. (2). Terbatasnya pengetahuan dari peladang. Hasil pengamatan menunjukan bahwa mayoritas peladang berpendidikan SD dan SLTP.  Namun demikian terdapat juga yang berpendidikan SMU, terutama  bagi mereka yang sulit untuk mendapat pekerjaan di kota. Kenyataan menunjukan bahwa walaupun ada juga peladang yang berpendidikan SMU, tetapi sistem dan teknik berladang mereka tetap sama karena memang kurikulum di SMU tidak diajarkan tentang teknik-teknik bercocok tanam yang baik.  Berdasarkan pantauan lapangan menunjukan bahwa teknik pembersihan ladang hanya dengan cara membakar, kemudian tidak melakukan pengolahan tanah untuk penanaman dan tidak menguasai teknik seleksi bibit yang baik agar produksi dapat meningkat. (3). Terbatasnya modal usaha dari peladang dan hal ini merupakan kendala utama untuk dapat mempraktekan model bercocok tanam lain yang dapat menjamin kelestarian ekosistem.  Misalnya model pertanian menetap dalam kenyataan banyak membutuhkan  tenaga, biaya dan waktu.  Selain itu pertanian model agroforestry juga masih tetap membutuhkan biaya, karena penanaman tanaman pertanian masih harus dilakukan secara kontinyu pada lahan usaha sampai tajuk pohon-pohon hampir saling bersentuhan.  Tetapi pada sistem perladangan berpindah, modal yang dibutuhkan hanya untuk biaya konsumsi bagi mereka yang terlibat dalam membantu pekerjaan (sistem gotong royong atau masohi).  Namun demikian ada juga peladang yang memiliki kemampuan untuk bekerja tanpa bantuan, sehingga tidak membutuhkan biaya.

2.  Dampak perladangan berpindah

Realitas memang menunjukan bahwa perladangan berpindah memiliki korelasi yang kuat dengan kerusakan ekosistem hutan, terutama pada pulau-pulau kecil dampaknya sangat signifikan. Beberapa dampak yang dapat dikemukakan adalah : (1). Terjadi banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa hampir 100 % sungai yang terdapat pada pulau-pulau kecil mengalami penurunan debit air yang drastis, bahkan pada musim panas banyak sungai mengalami kekeringan.   Selain itu pada musim hujan, selalu terjadi banjir dan erosi  yang mampu mengikis dan mengangkut ribuan ton tanah permukaan ke sungai dan laut sehingga terjadi pendangkalan sungai dan gangguan ekosistem laut. (2). Terjadi penurunan drastis kesuburan tanah.  Kondisi di lapangan menunjukan bahwa bekas-bekas areal berladang telah menjadi semak belukar ataupun padang alang-alang. Pada pulau-pulau kecil dengan kondisi ekosistem yang miskin vegetasi atau lahannya terbuka maka ketika musim hujan,  banyak lapisan tanah permukaan yang terkikis dan hanyut, sehingga kondisi kesuburan tanah menjadi menurun. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi kesuburan tanah secara umum pada daerah-daerah terbuka berbeda 40 – 60 % terhadap lahan hutan primer. (3). Terjadi perubahan iklim dan yang paling drastis adalah kondisi iklim mikro dimana suhu meningkat rata-rata sebesar 1 – 3 oC dengan penurunan kelembaban relatif sebesar 5 – 10 %.  Selain itu dari  aspek iklim makro telah terjadi perubahan pola musim, dimana musim hujan dan musim panas sudah tidak konstan sesuai kalender musimnya. (4).  Terjadi gangguan habitat satwa, dimana lebih disebabkan oleh perubahan kondisi vegetasi sebagai akibat perladangan berpindah dan hal ini berpengaruh signifikan terhadap habitat satwa. Akibatnya ekosistem hutan yang sebelumnya merupakan tempat makan, minum, bermain dan tidur menjadi terganggu, sehingga satwa cendrung bermigrasi ke tempat lain, ataupun memilih tetap bertahan dengan kondisi cover yang terganggu.  (5). Terjadi penurunan biodiversitas, yang secara umum disebabkan perladangan yang dilakukan dengan cara tebang habis dan bakar sehingga banyak spesies langka atau endemik juga ikut musnah.  Sampai sejauh ini walaupun  belum diteliti dampak perladangan terhadap kepunahan spesies, namun dari pendekatan Indeks Shannon-Wienner  menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai keragaman spesies pohon sebesar 10 %  dibandingkan hutan primer yang berada disekitar lokasi penebangan.  Hal ini disebabkan beberapa spesies pohon toleran (kurang butuh cahaya) cenderung menghilang dari habitatnya sebagai akibat meningkatnya  intensitas cahaya. (6). Terjadi peningkatan luas lahan Imperata cylindrica karena pembukaan hutan untuk aktivitas perladangan. Perladangan berpindah biasanya dengan menggunakan masa istirahat  lahan (masa bera) 10 – 20 tahun. Artinya selama periode waktu 10 – 20 tahun, lahan tersebut akan ditinggalkan dan dibiarkan membentuk hutan sekunder (Aong). Aong biasa didominasi oleh vegetasi berupa Macaranga spp dan terdapat juga beberapa spesies asli dari hutan yang dibuka pada awalnya. Setelah masa bera tersebut maka lahan yang sama akan dibuka kembali untuk berladang pada periode ke II.  Setelah periode ke II,  hutan sekunder (Aong) mulai sulit untuk terbentuk karena lahan mulai didominasi oleh alang-alang (Imperata cylindrica) sehingga secara umum jika sistem  pengulangan ini dilakukan sampai pada periode ke III biasanya lahan sudah didominasi alang-alang.

3.  Langkah-langkah  penanggulangan

Mengatasi berbagai dampak yang dikemukakan, maka berikut direkomendasikan beberapa langkah pengendalian, yaitu : (1).  Harus ada  kemauan pemerintah baik pusat maupun daerah untuk menangani permasalahan laju perladangan berpindah terlebih dahulu, agar dapat disusun perencanaan yang tepat dan terarah dalam rangka penanggulangannya. Karena apapun juga pemerintah telah diperhadapkan dengan realitas kondisi bahwa perladangan berpindah memiliki korelasi kuat dengan kerusakan ekosistem. (2). Diperlukan regulasi berupa  peraturan daerah yang dapat mengatur  tentang pelaksanaan dan pengendalian laju peningkatan praktek perladangan. Hal ini sangat penting agar para peladang dapat memahami secara jelas tentang batasan-batasan  dan prosedur praktek perladangan yang menjamin kelestarian ekosistem. Selanjutnya sebagai konsekuensi dari adanya peraturan daerah berarti akan diatur pula sanksi-sanksi terhadap pelanggaran-pelanggaran yang mungkin terjadi sehingga praktek perladangan dapat dilakukan secara terkontrol, (3). Pengembangan model agroforestry. Menurut teori bahwa perladangan berpindah hanya dapat diatasi dengan 3 model  utama, yaitu pengalihan profesi peladang, pengembangan model pertanian menetap dan  model agroforestry.  Berdasarkan ke 3 model ini, bila dikaji lebih jauh ternyata bahwa model pengalihan profesi tidak  berhasil karena persoalan  budaya.  Aktivitas berladang telah dianggap sebagai budaya yang diwariskan nenek moyang mereka.  Selain itu pertanian menetap juga sulit untuk diterapkan karena membutuhkan modal (input) yang besar bagi penerapannya.  Sementara itu model agroforestry nampaknya mudah dan sederhana untuk diaplikasi karena membutuhkan hanya sedikit modal, tetapi hutan yang akan terbentuk nanti selama masa bera adalah hutan yang  nanti memiliki nilai ekonomi dan konservasi yang tinggi. (4). Diperlukan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia untuk mendukung aplikasi ke 3 model utama pengendalian perladangan diatas. Untuk itu pendidikan, training dan latihan bagi peladang untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan sangat dibutuhkan bagi kerberhasilan pelaksanaan dari model yang ditawarkan nanti.

Perladangan berpindah dalam realitas telah menyebabkan kerusakan ekosistem hutan secara serius.  Hal ini berdasarkan kondisi di lapangan  bahwa  wilayah-wilayah hutan yang sebelumnya berada disekitar desa, saat ini  letaknya sudah mencapai radius lebih  7 Km.  Bahkan pada pulau-pulau kecil tertentu, sudah tidak dijumpai hutan. Kebanyakan hutan hanya dijumpai dalam bentuk spot-spot hutan sekunder. Karena itu pemerintah pusat maupun daerah sudah seharusnya mulai mengambil langkah-langkah pengendalian, agar generasi ini tidak mewarisi lahan yang tandus bagi generasi akan datang.

DAFTAR  PUSTAKA

Iskandar, J. 1992. Ekologi perladangan di Indonesia. Penerbit Djambatan, Jakarta.

Dove, R.M. 1988. Sistim perladangan di Indonesia. Gajah Mada University Press, Jogyakarta.

About these ads

Actions

Information

One response

27 10 2010
Mifta Nurdin

nice info!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: