KONSERVASI : SEBAGAI UPAYA MENCEGAH KONFLIK MANUSIA – SATWA

5 09 2010

OLEH

PARPEN SIREGAR *)

*) Progam Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

  1. I. Pendahuluan

Peningkatan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi telah mendorong terjadinya upaya konversi lahan untuk kepentingan ekonomi manusia. Aktivitas konversi lahan untuk perkebunan, pertambangan, hutan tanaman industri (HTI), HPH, perladangan, llegal logging, pemukiman, dll menyebabkan rusaknya habitat alami satwa. Rusaknya habitat alami ini telah menyebabkan konflik manusia dan satwa kerap terjadi dan tidak dapat dihindari. Konflik antara manusia-satwa liar merugikan kedua belah pihak; manusia rugi karena kehilangan hewan ternak bahkan nyawa sedangkan satwa liar rugi karena akan menjadi sasaran balas dendam manusia yang marah dan ingin membunuhnya.

Serangan satwa liar terutama harimau dan gajah terhadap sawah, kebun, rumah-rumah penduduk, hewan ternak, bahkan nyawa manusia telah sering dilaporkan. Nythus and Tilson (2004) mencatat berturut-turut terdapat sebanyak 48, 36, dan 34 kali konflik antara manusia dan harimau sumatera di Propinsi Sumatera Barat, Riau, dan Aceh selama periode 1978 – 1997. Dalam kurun waktu tersebut tercatat sebanyak 146 orang meninggal dunia, 30 orang luka-luka, dan 870 ekor ternak terbunuh. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir di Popinsi Sumatera Barat tercatat 26 kasus konflik harimau dengan manusia, sebanyak 16 kasus menghilangkan nyawa manusia dan sisanya memangsa ternak masyarakat (Kompas, 2008a).  Sementara itu, antara tahun 2002 hingga 2007 tercatat 42 orang warga tewas dan 100 ekor gajah mati akibat konflik manusia dan gajah di Sumatera (Kapanlagi, 2007).

Serangan satwa liar juga terjadi juga di Propinsi Bengkulu. Serangan harimau sumatera yang menewaskan 3 ekor ternak sapi terjadi di Desa Talang Kebun Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma Propinsi Bengkulu (Kompas, 2008b). Sementara itu Antara (2008) melaporkan gajah liar merusak 1.256 tanaman sawit dan pos penjagaan perkebunan PT. Agricinal. Kondisi konflik manusia-satwa ini harus segera dicarikan pemecahannya, sehingga tidak mengakibatkan kerugian yang semakin besar. Diperlukan upaya-upaya khusus agar kelestarian satwa tetap terjaga, namun disisi lain kebutuhan ekonomi manusia juga dapat terpenuhi.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah mengidentifikasi penyebab konflik antara manusia-satwa dan memberikan alternatif solusi terhadap permasalahan tersebut.

  1. II. Penyebab Konflik Manusia – Satwa Liar

Permasalahan gangguan terhadap lingkungan dan kerusakan sumberdaya alam telah dan akan terus lahir seiring dengan pelaksanaan pembangunan. Aktivitas pembangunan yang dilakukan akan terus membutuhkan lahan dan sumberdaya yang mengakibatkan semakin banyak hutan-hutan alam yang dikonversi. Selain itu kemiskinan dan kebutuhan untuk memperbaiki tingkat perekonomian masyarakat juga akan semakin meningkatkan kerusakan hutan. Hutan yang rusak akan mengakibatkan bencana bagi manusia baik secara langsung ataupun tidak langsung. Konversi hutan  untuk keperluan ekonomi manusia telah mendorong terjadinya konflik antara manusia dan satwa. Satwa mengalami penurunan populasi yang sangat signifikan akibat aktivitas manusia. Berikut ini diuraikan beberapa penyebab konflik manusia dan satwa..

  1. 1. Deforestasi dan Degradasi Hutan

Deforestasi dan degradasi hutan yang sangat besar akan mengancam terhadap keanekaragaman hayati yang ada. Deforestasi dan degradasi akan menyebabkan hilangnya hutan atau terpotong-potongnya hutan menjadi bagian-bagian kecil dan terpisah. Alih fungsi hutan banyak digunakan untuk perkebunan, pertambangan, hutan tanaman industri, pemukiman, industri, dll. Investigasi Eyes on the Forest (2008) melaporkan bahwa pembuatan jalan logging oleh Asia Pulp & Paper (APP) sepanjang 45 km yang membelah hutan gambut di Senepis Propinsi Riau  mengakibatkan penyusutan luas hutan dan memicu peningkatan konflik manusia-harimau di kawasan tersebut. Pembuatan jalan untuk pengangkutan sawit oleh PT. Alno Agro Utama di kawasan konservasi gajah ditengarai akan mengganggu upaya konservasi gajah. Pembukaan jalan tersebut akan memudahkan kegiatan illegal hunting terhadap gajah dan harimau sumatera. Tahun 1989 jumlah populasi gajah sebanyak 475 ekor dan sekarang hanya tertinggal 100 ekor, sedangkan yang dipelihara pusat pelatihan gajah sebanyak 30 ekor yang 18 diantaranya sudah mati akibat perburuan. Data periode Desember-Juni 2009 setidaknya sudah 12 jerat harimau yang berhasil ditemukan di kawasan PLG yang berlokasi di dekat jalan tersebut (Rakyat Bengkulu, 2009). Pembuatan jalan di areal hutan juga akan membatasi ruang gerak satwa liar, sehingga akan membatasi satwa dalam mencari mangsa. Perusakan habitat dan perburuan hewan mangsa telah diketahui sebagai faktor utama yang menyebabkan turunnya jumlah harimau secara dramatis di Asia (Seidensticker et al., 1999). Sementara itu Lynam et al. (2000) yang menyatakan bahwa harimau sangat tergantung pada tutupan vegetasi yang rapat, akses ke sumber air, dan hewan mangsa yang cukup.

  1. 2. Perburuan dan Perdagangan

Perburuan ilegal (illegal hunting) merupakan salah satu ancaman terhadap kelestarian satwa liar. Mills and Jackson (1994) melaporkan pada periode 1970 – 1993 tercatat sebanyak 3.994 kg tulang harimau sumatera diekspor dari Indonesia ke Korea Selatan. Bagian tubuh harimau yang diperjualbelikan terutama kulit dan tulang untuk keperluan obat-obatan tradisional bahkan untuk keperluan supranatural. Selain bagian tubuhnya, harimau sumatera juga diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan dan simbol status. Shiel et al. (2003) melaporkan perdagangan satwa liar seperti macan dahan yang digunakan untuk kebutuhan  budaya dan ritual dan beruang madu untuk obat berkhasiat. Pembukaan infrastruktur jalan turut mendorong semakin terbukanya akses terhadap hutan bagi para pemburu liar. Selain itu tingginya demand satwa liar juga akan semakin meningkatkan kegiatan perburuan dan perdagangan satwa ilegal.

  1. 3. Konflik dengan Manusia

Banyaknya kasus masuknya satwa liar seperti gajah dan harimau yang masuk ke pemukiman penduduk akan meningkatkan konflik terbuka. Banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh satwa liar terhadap harta milik masyarakat bakhan jiwa akan semakin menimbulkan dendam masyarakat untuk membunuh satwa liar. Kondisi ini akan semakin membahayakan satwa liar.

  1. 4. Kemiskinan

Kemiskinan masyarakat di sekitar hutan telah mendorong terjadinya perambahan dan perusakan hutan berupa pembukaan hutan untuk keperluan pemukiman, perladangan, dan perkebunan. Kerusakan dan fragmentasi hutan yang merupakan habitat satwa akan mengakibatkan gangguan terhadap kelestarian satwa. Selain itu masyarakat juga menggantungkan hidup pada sumberdaya hutan. Secara tradisional masyarakat memburu satwa yang merupakan mangsa harimau untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Kemiskinan mendorong masyarakat memburu satwa liar untuk kebutuhan makannya dan juga untuk dijual. Puri (1997) melaporkan bahwa sebagian besar masyarkat asli di Kalimantan mengandalkan asupan proteinnya dari berburu satwa liar dan terutama vertebtara. Selain itu juga perburuan satwa-satwa kecil yang merupakan mangsa satwa liar seperti harimau sangat berpengaruh terhadap kelestarian harimau. Karena harimau sangat tergantung dengan kelimpahan mangsanya.

  1. 5. Berkurangnya Mangsa

Beberapa satwa liar seperti harimau dalam struktur piramida makanan merupakan top predator. Satwa predator ini setiap hari harus mengkonsumsi 5 – 6 kg daging yang sebagian besar (75%) terdiri atas hewan-hewan mangsa dari golongan rusa (Sunquist et al., 1999).  Pakan utama harimau sumatera adalah rusa sambar (Cervus unicolor) dan babi hutan (Sus scorfa) (Wibisono, 2006). Dalam keadaan tertentu harimau sumatera juga memangsa berbagai alternatif mangsa seperti kijang (Muntiacus muntjac), kancil (Tragulus sp), beruk (Macaca nemestrina), landak (Hystrix brachyura), trenggiling (Manis javanica), beruang madu (Helarctos malayanus), dan kuau raja (Argusianus argus). Sriyanto dan Rustiati (1997) secara jelas menunjukkan adanya hubungan positif antara penyusutan mangsa dengan populasi harimau. Tingginya laju deforestasi dan degradasi hutan juga akan mengakibatkan penurunan mangsa harimau sumatera. Semakin sedikitnya mangsa juga akan mengakibatkan penurunan populasi harimau sumatera. Dengan semakin sedikitnya mangsa, maka harimau akan semakin jauh mencari mangsa dan akan semakin besar peluang konflik dengan manusia.

III. Konservasi Sebagai Upaya Menjaga Kelestarian Satwa Liar

Untuk mengendalikan konflik manusia-satwa, maka konservasi merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelestarian satwa, khususnya gajah dan harimau. Karena kedua satwa tersebut dikategorikan oleh lembaga konservasi International Union Conservation Nature (IUCN) sebagai satwa yang Sangat Kritis Terancam Punah (critically endangered). Selain itu kedua satwa itu juga termasuk dalam CITES Appendix I yang artinya pelarangan terhadap perdagangan internasional komersial. Beberapa upaya tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Memulihkan dan meningkatkan populasi gajah dan harimau beserta bentang alamnya pulih. Upaya konservasi in-situ merupakan program utama konservasi dengan memulihkan populasi gajah dan harimau dan habitat alaminya. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain adalah :

-          Membangun dan meningkatkan koneksitas antara habitat-habitat utama gajah dan harimau melalui pengembangan koridor dalam rangka memperluas daerah bagi harimau sumatera untuk menjelajah. Karena harimau satwa ini memerlukan teritori (wilayah) yang luas untuk mendapatkan mengsa yang cukup. Semua potensi habitat dan sebaran gajah dan harimau perlu dimasukkan sebagai bahan pertimbangan utama dalam proses perencanaan zonasi taman nasional (Lubis, 2000).

-          Membina kekayaan genetik unit-unit populasi gajah dan harimau, terutama pada habitat yang kritis untuk menghindari erosi ragam genetik melalui pengembangan restocking populasi dan translokasi.

-          Mengembangkan upaya pengelolaan mitigasi konflik untuk menyelamatkan gajah dan harimau yang bermasalah dengan masyarakat melalui relokasi, translokasi, dan penetapan kawasan pelepasliaran alami.

-          Meningkatkan program pemantauan terhadap populasi, ekologi, dan habitat gajah dan harimau dengan memperkuat dasar hukum dan kapasitas aparatur yang berwenang.

Indikator keberhasilan dari kegiatan ini adalah ukuran populasi secara biologis dan ekologis gajah dan harimau dalam jumlah ideal dan habitat serta daerah jelajah gajah dan harimau tidak berkurang, bahkan diharapkan dapat bertambah.

  1. Meningkatkan infrastuktur dan kapasitas instansi terkait dalam pemantauan dan evaluasi terhadap upaya konservasi gajah dan harimau dan satwa mangsanya. Kegiatan yang dilakukan adalah :

-          Meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dengan melaksanakan berbagai program peningkatan kapasitas tim konservasi gajah dan harimau baik yang dikelola oleh pemerintah, lembaga non pemerintah, maupun masyarakat.

-          Memperkuat infrastrukur instansi yang melakukan pelaksanaan dan pemantauan konservasi harimau. Selain itu juga dilakukan penyusunan rencana pengelolaan konservasi pada setiap bentang alam harimau sumatera sesuai dengan karakteristik dan potensi di lapangan.

-          Mengembangkan pusat informasi terpadu tentang konservasi gajah dan harimau yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat.

Indikator keberhasilan dari kegiatan ini adalah terlaksananya pemantauan kinerja konservasi gajah dan harimau secara efektif oleh Kementrian Kehutanan selaku penanggung jawab utam beserta mitra kerjanya.

  1. Membangun jejaring kerja dan infrastruktur komunikasi dan menciptakan kelompok masyarakat yang peduli dan bertanggung jawab terhadap kelestarian gajah dan harimau. Konservasi gajah dan harimau adalah tanggung jawab semua pihak. Oleh karena itu harus dijalin jejaring kerja dan komunikasi yang baik diantara semua pihak. Kegiatan yang dilakukan adalah :

-          Membangun jaringan komunikasi dan kemitraan untuk meningkatkan kerjasama konservasi di semua tingkatan baik lokal, nasional, maupun internasional.

-          Mengembangkan pengawasan terpadu dan intensif antara pemerintah, lembaga non pemerintah, dan masyarakat terhadap kegiatan konservasi. Selain itu juga dilakukan pendidikan dan penyadartahuan masyarakat secara terpadu dan berkesinambungan tentang pentingnya konservasi gajah dan harimau.

-          Membangun mekanisme pendanaan yang berkelanjutan dalam mendukung kegiatan konservasi gajah dan harimau.

Indikator kebersasilannya adalaha terbangunnya komunitas konservasi gajah dan harimau di Indonesia yang berjalan dengan baik dan dapat berafiliasi dan membangun jaringan (networking) dengan jaringan konservasi harimau internasional.

  1. Membangun program konservasi ex-situ yang bermanfaat dan selaras dengan upaya kelestarian gajah dan harimau di alam. Konservasi ex-situ merupakan salah satu alternatif untuk menjaga kelestarian gajah dan harimau. Namun diperlukan regulasi yang mengatur pemanfaatan hasil penangkaran tersebut. Perlu dirumuskan standar-standar konservasi ex-situ agar sesuai dengan standar etika dan kesejahteraan bagi satwa itu sendiri. Selain itu kajian skema conservation/breeding loan dapat dikembangkan dan reintroduksi gajah dan harimau dapat dilaksanakan dengan efektif.

Indikator keberhasilan kegiatan ini adalah  konservasi gajah dan harimau di luar kawasan konservasi mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak dan program konservasi ex-situ harimau sumatera dapat mendukung konservasi in-situ secara efektif.

IV. Simpulan

Manusia sebagai mandate cultural haruslah memelihara bumi dan memanfaatkan sumberdaya dan daya dukungnya secara bertanggung jawab. Pembangunan akan menambah kesejahteraan bagi manusia bila manfaat yang diperoleh melebihi nilai gangguan atau kerusakan yang disebabkan pembangunan itu sendiri. Terancamnya kelestarian satwa liar dan terjadinya konflik manusia-satwa tidak lepas dari tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu upaya konservasi terhadap satwa mendesak untuk segera dilakukan dengan konsisten dan didukung seluruh stake holder dengan merasa memiliki dan membantu upaya pelaksanaan konservasi.

Daftar Pustaka

Antara. 2008. Gajah Liar Rusak Kebun Sawit. Harian Antara. Edisi 31 Maret 2008.

Kapanlagi. 2007. Konflik Gajah Sumatera Tewaskan 42 Warga. www.kapanlagi.com.

Kompas. 2008a. Terkam Orang, Harimau Sumatera Diburu. Harian Kompas Edisi 31 Januari 2008.

Kompas. 2008b. Harimau Mengganas di Bengkulu, Memangsa Tiga Sapi. Harian Kompas Edisi 20 Februari 2008.

Lubis, A.F. 2009. Penyebaran Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) Sebagai Salah Satu Pertimbangan Dalam Pengelolaan dan Zonasi Taman Nasional Batang Gadis Kabupaten Mandailing Natal Propinsi Sumatra Utara. Tesis Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara (Tidak Dipublikasikan).

Lynam, A.J., T. Palasuwan, J. Ray, and S. Galster. 2000. Tiger Survey Techniques and Conservation Handbook. Wildlife Conservation Society-Thailand Program. Bangkok.

Mills, J. A., and P. Jackson. 1994. Killed for a Cure: A Review of the Worldwide Trade in Tiger Bone. TRAFFIC International.Cambridge, UK.

Nyhus, P. J., and R. Tilson. 2004. Characterizing Human-Tiger Conflict in Sumatra, Indonesia: Implications for Conservation. Oryx 38(1) : 68-74.

Rakyat Bengkulu. 2009. Habitat Gajah Terancam Punah. Harian Rakyat Begngkulu Edisi 25 Juni 2009.

Seidensticker, J., S. Christie, and P. Jackson. 1999. Preface. In: Siedensticker, J., S. Christie, and P. Jackson (eds.). Ridding the Tiger: Tiger Conservation in Human Dominated Landscape. Cambridge University Press. Cambridge, UK.

Sriyanto dan Rustiati, E.L. 1997. Hewan mangsa potensial harimau Sumatra di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Dalam: Tilson, R., Sriyanto, E.L. Rustiati, Bastoni, M. Yunus, Sumianto, Apriawan, dan N. Franklin  (ed.). Proyek Penyelamatan Harimau Sumatra: Langkah-langkah konservasi dan Manajemen In-situ dalam Penyelamatan Harimau Sumatra. LIPI. Jakarta.

Sunquist, M.E, K.U. Karanth, and F.C. Sunquist. 1999. Ecology, behaviour and resilience of the tiger and its conservation needs. In: Siedensticker, J., S. Christie, and P. Jackson (eds.). Ridding the Tiger: Tiger Conservation in Human Dominated Landscape. Cambridge University Press. Cambridge, UK.

Wibisono, H. T. 2006. Population Ecology of Sumatran Tigers (Panthera tigris sumatrae) and Their Prey in Bukit Barisan Selatan National Park, Sumatra, Indonesia. Thesis Master. The Department of Natural Resources Conservation, University of Massachusetts, Amherst, MA, USA.

About these ads

Actions

Information

4 responses

24 02 2011
yudhit

mantaaap!ijin nyunting gan!

22 03 2011
chicken pox incubation

Hi my friend! I want to say that this post is awesome, nice written and include almost all significant infos. I’d like to see more posts like this .

9 04 2011
Disco Lighting

Hi my friend! I wish to say that this post is amazing, nice written and include approximately all vital infos. I’d like to see more posts like this .

25 04 2011
paraesophageal hernia

I discovered your blog website on google and test a few of your early posts. Continue to maintain up the superb operate. I simply additional up your RSS feed to my MSN News Reader. In search of ahead to reading more from you afterward!…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: