Ancaman Kepunahan dan Upaya Konservasi Penyu DI Taman Wisata Alam Air Hitam-Mukomuko

21 03 2010

Oleh

Mugiharto HP, SHut

Abstrak

Beberapa jenis penyu hidup di perairan laut Bengkulu dan sering bertelur di kawasan konservasi Taman Wisata Air Hitam seperti Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) Penyu Belimbing (Dermochelys corriacea) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olevacea). Keberadaan penyu di TWA. Air Hitam tak luput dari beberapa ancaman yang dapat menurunkan jumlah populasi dan dapat mengarah kepunahan. Beberapa faktor ancaman telah di identifikasi yang dapat menimbulkan kepunahan populasi penyu. Ancaman tersebut baik secara alamiah berupa predator penyu yang hidup di sekitar habitat sarang penyu maupun dari tekanan gangguan manusia berupa pengambilan telur dan penangkapan penyu. Berdasarkan hal tersebut Instansi pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya dalam penyelamatan dan pelestarian penyu berupa kegiatan konservasi penyu di TWA. Air Hitam. Adapun kegiatan yang telah di lakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu selaku instansi berwenang yang mengelola perlindungan satwa di lindungi yaitu Penyelamatan dan Penetasan Semi Alami di TWA. Air Hitam, Perlindungan Kawasan TWA. Air Hitam, Penegakan Hukum, dan Pemberdayaan Masyarakat sekitar. Namun dalam pelaksanaan kegiatan konservasi penyu ini terdapat juga kendala dan permasalahan.

Abstract

Some kind of sea turtle live in Sea Bengkulu territorial and often lay eggs at area of conservation of Taman Wisata Air Hitam like green turtle, (Chelonia mydas),hawksbill turtle( Eretmochelys imbricata, ) leatherback turtle, (Dermochelys cariacea), olive ridley turtle Lepidochelys olivacea). Existence of Turtle around Taman Wisata Air Hitam also have some threat which can degrade amount of population and will be make extinct. Some factor of threat have in identifying which can generate destruction of turtle population. The threat either through natural in the form of predator of turtle which live around habitat of nest of turtle and also from pressure of trouble of human being in the form of intake of egg and turtle arrest. Base on those mentioned ,  governmental Institution have also conducted] various effort in protection of turtle in the form of sea turtle conservation  activity at TWA. Air Hitam. As for activity which have in conducting by Bengkulu Natural Resource Conservation Agency as authoritative institution managing protection of protection  wildlfie that are Sea Turtle Hatchery  and Protection at TWA. Air Hitam , Protection of Area TWA. Air Hitam, Law Enforcement, and Community Outreach. But in execution of activity conservation of this turtle there are also have constraint and problems.

PENDAHULUAN

Negara Indonesia yang juga merupakan Negara bahari memliki laut yang mengandung kekayaaan flora dan fauna yang beragam. Salah satu fauna laut yang terdapat di Indonesia adalah Penyu.(Juhandara I dkk, 2005)

Keanekaragaman habitat perairan taut Indonesia (yang memiliki pesisir sepanjang 81.000 km, terdiri dari 17.508 pulau) telah menjadi tempat hidup 6 dari 7 spesies penyu yang ada di dunia. Dari ke enam species tersebut, 5 di antaranya adalah penghuni tetap, membentuk kelompok populasi tersendiri di perairan kita yaitu penyu hijau/ green turtle, Chelonia mydas, penyu sisik/hawksbill turtle, Eretmochelys imbricata, penyu belimbing/leatherback turtle, Dermochelys cariacea, penyu lekang/olive ridley turtle, Lepidochelys olivacea, dan penyu tempayan/loggerhead turtle, Caretta caretta. Sedangkan penyu pipih/flatback turtle, Natator depressa diduga berada di perairan Indonesia, terutama sekitar perairan Timor dan Laut Arafuru. Penyu Pipih melakukan aktivitas bertelur di pantai-pantai eksklusif di Australia Barat.( Anonim 2010)

Penyu adalah kura-kura laut yang masuk hewan kelompok vertebrata kelas reptilia. Suku penyu terdiri dari lima marga dan mempunyai 7 jenis yaitu Penyu Bromo ( Caretta caretta) , Penyu Hijau (Chelonia mydas) Penyu Pasifik  ( Chelonia Agasizii) Penyu Sisik ( Eretmochelys imbricata ) Penyu Lekang ( Lepidochelys olivacea) Penyu Pipih ( Natator depressus) dan Penyu Ridley (Lepidochelys kempi). Jenis yang disebutkan terakhir tidak terdapat di Indonesia. ( Iskandar D.T, 2000)

Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat dan hasil laporan dari kelompok Pemuda Pemudi Penggiat Alam dan Lingkungan Hidup ( KP3LH) Desa Air Hitam Kecamatan Pondok Suguh Kabupaten Mukomuko yang merupakan kader konservasi Alam Binaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, dimana enam jenis penyu yang bertelur di perairan Indonesia empat diantaranya sering ditemukan di Taman Wisata Alam Air Hitam yaitu  Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) Penyu Belimbing (Dermochelys corriacea) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olevacea) ( Jauhari S, Shut dkk, 2009)

Populasi penyu di Propinsi Bengkulu saat ini telah penurunan populasi . Di habitat alaminya, penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari dua-delapan tahun. Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Tingkat keberhasilan penyu dapat bertahan hidup di laut kira- kira 1 % tanpa adanya gangguan manusia.

Musuh utama dari telur dan tukik selain manusia adalah burung berukuran besar, babi hutan, anjing, biawak dan kepiting. Begitu masuk ke dalam laut mereka akan menghadapi bahaya- bahaya dari ikan berukuran sedang sampai besar ( D.T Iskandar , 2000)

Meski diakui banyak predator atas telur penyu seperti babi hutan , biawak dan anjing  namun manusia musuh utama karena mengambil keseluruhan telur yang berada dalam lobang. Kalau biawak, babi hutan dan pemangsa lainnya itu alami dan hanya mengambil sesuai dengan kebutuhannya, tapi kalau manusia begitu menemukan lubang telur penyu pasti seluruhnya diambil.  Secara formal Pemerintah Indonesia telah berusaha melindungi penyu laut dari kepunahan dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tantang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa ( Prihanta W, Drs, 2007)

Pemerintah Indonesia telah menetapkan perlindungan terhadap populasi penyu melalui : Surat Keputusan Menteri Kehutanan, antara lain: No. 327/Kpts/um/5/1978 untuk penyu belimbing (Dermochelys coriacea) ; No. 716/Kpts/um/10/1980 untuk penyu lekang (Lepidochelys  olivea) dan penyu tempayan (Caretta caretta) ; No. 882/Kpts-II/1992 untuk penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999 untuk penyu hijau.( Tribowo E, 2001).

Di Indonesia terdapat enam dari tujuh jenis penyu yang hidup di dunia. Keenam jenis penyu tersebut telah di lindungi  melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar dan secara international yaitu CITES dengan memasukan penyu sebagai satwa appendix 1. Perdagangan satwa liar yang telah masuk dalam Appendix I di larang, kecuali hasil  penangkaran  mulai dari keturunan F2 ( Ivan Juhandara dkk, 2005)

Permasalahan yang muncul adalah masih adanya pengambilan telur penyu oleh masyarakat dan penjualan telur penyu secara ilegal di lokasi kawasan konservasi Taman Wisata Alam Air Hitam – Mukomuko Hal ini dapat menimbulkan penurunan populasi penyu di lokasi tersebut. Perlu adanya telaah tentang ancaman kepunahan penyu dan evaluasi upaya apa saja yang telah dilakukan untuk perlindungan satwa penyu di Taman Wisata Air Hitam –Muko -muko? Dari hasil telaahan ini diharapkan menjadi masukan bagi pengelolaan konservasi penyu di Bengkulu khususnya di TWA. Air Hitam – Mukomuko.

KONDISI POPULASI DAN  PENYEBARAN HABITAT PENYU

DI TWA. AIR HITAM

Propinsi Bengkulu memiliki pesisir pantai yang beragam  dari Bengkulu bagian Selatan sampai Bengkulu bagian Utara. Beberapa kawasan pantai sangat datar dengan kondisi berpasir halus sampai kasar. Seringkali ditemukan penyu mendarat di pantai – pantai Bengkulu untuk bertelur baik itu di dalam kawasankonservasi maupun diluar. Diantara lokasi kawasan konservasi yang termasuk habitat bertelur penyu di bagian pantai Bengkulu Utara yaitu pada kawasan Taman Wisata Alam Air Hitam.

Bengkulu sebagai salah satu propinsi di Indonesia yang wilayahnya berada disepanjang pesisiri pantai sumatera mempunyai banyak kawasan pantai, salah satunya Taman Wisata Alam Air Hitam. Kawasan yang mempunyai luasan 433 ha ini secara administrasi berada di kecamatan Pondok Suguh, Kabupaten Mukomuko. TWA. Air Hitam merupakan salah satu kawasan konservasi yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Departemen Kehutanan yang ada didaerah.( Jauhari S, SHut, dkk , 2009)

Kawasan ini diketahui merupakan habitat alami penyu laut bertelur. Lokasi peneluran penyu pada sekitar pantai ipuh sampai dengan pantai pasar bantal terdapat di 3 lokasi yaitu : Muara Air Retak, Muara Air Hitam dan Muara Air Teramang ( Jauhari S, S.Hut dkk, 2001)

Tabel 1. Data Lokasi sarang peneluran penyu di TWA.Air Hitam.

TANGGAL DITEMUKAN LOKASI
5-6-08 Muara Air Hitam
6-7-08 TSM
7-7-08 Teramang
12-7-08 Pancuran Ruyung
18-1-09 Teramang
22-1-09 D. Nipah
9-4-09 T. Kancil
9-4-09 D.Nipah
13-4-09 TSM
16-4-09 D. Nipah

Sumber data Balai KSDA Bengkulu 2009

Hasil monitoring sarang peneluran penyu di TWA. Air Hitam oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu  ditemukan beberapa kali penyu mendarat dan bertelur di TWA . Air Hitam.  (tabel 2)

Tabel 2 . Data monitoring sarang peneluran penyu di TWA.Air Hitam.

TANGGAL DITEMUKAN LOKASI JUMLAH TELUR (butir)
5-6-08 Muara Air Hitam 55
6-7-08 TSM 75
7-7-08 Teramang 95
12-7-08 Pancuran Ruyung 100
18-1-09 Teramang 110
22-1-09 D. Nipah 100
9-4-09 T. Kancil 105
9-4-09 D.Nipah 90
13-4-09 TSM 101
16-4-09 D. Nipah 100

Sumber data Balai KSDA Bengkulu 2009.

Jenis- jenis penyu yang bertelur dapat teridentifikasi dari hasil penetasan semi alami yang dilakukan oleh petugas Balai KSDA Bengkulu di TWA. Air Hitam (Tabel 3).

Tabel 3. Data Penetasan Telur Penyu di TWA. Air Hitam

TANGGAL MENETAS JUMLAH MENETAS JUMLAH TDK MENETAS JENIS TERINDENTIFIKASI
28-8-08 40 15 Penyu Lekang
29-8-08 55 20 Penyu Sisik
30-8-08 50 45 Penyu Lekang
1-9-08 65 35 Penyu Lekang
12-3-09 100 10 Penyu Lekang
20-3-09 95 5 Penyu Hijau
2-6-09 46 54 Penyu Lekang
2-6-09 77 13 Penyu Lekang
5-6-09 100 1 Penyu Lekang
5-6-09 77 23 Penyu Lekang

Sumber Data Balai KSDA Bengkulu 2009

Terlihat bahwa pantai Bengkulu juga merupakan lokasi penyebaran habitat peneluran penyu hijau. Binatang penyu ini memiliki sebaran yang sangat luas. dan bermigrasi hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari tempat berbiaknya. Penyu hijau dijumpai di Papua New Guinea (Ulaiwi, W. 1997), Malaysia (Clark, L.H. 1997), Australia (Carter, D. 1997), Indonesia (Siswomartono, D. 1997).

Jenis penyu hijau yang paling banyak dijumpai di Indonesia. Penyu hijau berbiak di seluruh Indonesia  dari yang terbesar seperti kepulauan Berau Kalimantan Timur hingga pulau-pulau kecil yang terisolir (Wicaksono, A. 1992). Tempat peneluran yang paling penting di kepulauan Riau (Schulz, J. 1987), pantai Pangumbahan Jawa Barat (Subagio, 1991), Sukamade Jawa Timur (Triwibowo. 1990).

Menurut  Limpus, C.J  dalam Tribowo, E (2001) sebagian besar wilayah pesisir Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Australia merupakan daerah peneluran penyu. Namun demikian di kawasan itu pula penyu hijau banyak diburu dan dieksploitasi telurnya. Populasi penyu di Indonesia menurun sejak 50 tahun yang lalu. Kondisi ini telah ditunjukkan dari semakin kecilnya ukuran penyu hasil tangkapan nelayan.

Selain penyu hijau, terdapat juga penyu lekang yang sering ditemukan bertelur di lokasi TWA. Air Hitam. Sedangkan dari hasil wawancara dengan masyarakat sekitar desa dikatakan bahwa memang pernah ada seekor penyu yang sangat besar dengan ciri-ciri seperti penyu belimbing pada tahun 1999

(Jauhari S, SHut dkk, 2001)

Jenis seperti penyu belimbing di laporkan telah sangat berkurang jumlahnya dan termasuk salah satu jenis yang hampir hilang di perairan , hanya beberapa tempat yang masih sesekali menjadi tempat memijah bagi jenis penyu ini  ( Ma’ruf Kasim , 2009)

ANCAMAN POPULASI PENYU DI TWA. AIR HITAM

Terdapat beberapa faktor ancaman yang dapat menurunkan populasi Penyu laut di TWA. Air Hitam seperti kerusakan habitat sarang penyu, pemangsaan alami, pemungutan telur, perburuan liar, penangkapan secara tidak langsung.

Ancaman terhadap telur penyu adalah pemungutan telur di lokasi peneluran dan pemangsaan predator seperti biawak, babi hutan, macan tutul, elang, ikan besar pada tingkat telur hingga anakan (tukik)  (Triwibowo. 1990). Hanya 1 s/d 3 % anakan yang mampu mencapai tingkat dewasa (Enrenfeld, D.W. 1974).

Ancaman lainnya dihabitat alami peneluran penyu TWA.Air Hitam adalah pemangsa alami. Untuk penyu hijau, seekor Induk betina dapat melepaskan telur-telurnya sebanyak 60 – 150 butir, dan secara alami tanpa adanya perburuan oleh manusia, hanya sekitar 11 ekor anak yang berhasil sampai kelaut kembali untuk berenang bebas untuk tumbuh dewasa.  Beberapa peneliti pernah melaporkan bahwa presentase penetasan telur hewan ini secara alami hanya sekitar 50 % dan belum di tambah dengan adanya beberapa predator-predator lain saat mulai menetas dan  saat kembali kelaut untuk berenang.  Predator alami di daratan misalnya kepiting pantai (Ocypode saratan, Coenobita sp.), Burung dan tikus.  Dilaut, predator utama hewan ini antara lain ikan-ikan besar yang berupaya di lingkungan perairan pantai.

Tingkat kematian anakan penyu menuju dewasa sangat tinggi, diasumsikan hanya sebutir sampai dengan tiga butir telur yang bertahan hidup dari 100 butir yang dihasilkan seekor induk penyu.Sedangkan ancaman yang paling utama adalah penangkapan oleh manusia. Penangkapan baik yang disengaja maupun yang tidak dapat mengancam kelangsungan populasi penyu (Sumardja,E. dalam Tribowo,E, 2001).

Perburuan penyu merupakan salah satu faktor ancaman terbesar bagi penurunan populasi penyu di TWA. Air Hitam. Hal ini juga tidak menutup kemungkinan bahwa lokasi TWA.Air Hitam merupakan salah satu tempat suplay perburuan penyu hijau yang sangat di butuhkan oleh masyarakat Bali.

Bali merupakan pusat penyembelihan penyu hijau yang paling intensif di Indonesia dan di dunia (Limpus, C.J. 1997) dan khususnya di wilayah Denpasar Selatan, Kabupaten Badung (Triwibowo, E. 1991). Untuk memasok kebutuhan masyarakat Bali penyu hijau dieksploitasi dan diangkut dari hampir seluruh tempat di perairan Indonesia. Pada tahun 1994-1995 tercatat 15.000-21.000 ekor penyu setiap tahunnya ditangkap dan diangkut ke Bali (Troeng, S. 1997). Lebih dari itu, sejumlah lainnya juga ditangkap seperti di Maluku (Compost. 1980 ; Suarez and Starbird. 1995), di Sulawesi Selatan (Schulz, J. 1984). Jumlah total penangkapan penyu di Indonesia diperkirakan sebanyak 25.000 ekor/ tahun (Groombidge and Luxmoore. 1989). ( Triwibowo, E. 2001)

Penyu laut dapat mengeluarkan lebih dari 150 telur persarang dan bertelur beberapa kali selama musimnya, agar semakin banyak penyu yang berhasil mencapai tingkat dewasa. Keseimbangan antara penyu laut dan pemangsanya dapat menjadi lawan bagi keberlanjutan hidup penyu saat pemangsa baru diintroduksi atau jika pemangsa alami tiba-tiba meningkat sebagai hasil dari kegiatan manusia. Seperti yang terjadi di pantai perteluran di Guianas, kini anjing menjadi ancaman utama bagi telur dan penetasan.(  Anonim, 2001).

Pengambilan telur secara langsung oleh masyarakat di TWA. Air Hitam juga merupakan salah satu ancaman terbesar. Hal ini karena harga telur penyu yang dijual dapat mencapai Rp. 2.000,- sampai Rp. 3.000,- per buah.

Ketertarikan masyarakat untuk “berburu” telur penyu karena harganya relatif mahal Harga telur penyu pada tingkat pedagang setempat mencapai Rp2.500/butir, bila satu orang menemukan rata-rata lima tempat yang jumlahnya atas 600 butir maka penghasilannya mencapai Rp1,5 juta Akibat perburuan telur penyu dapat menganggu populasi satwa itu, yang kini  diperkirakan jumlahnya makin menyusut, padahal penyu hijau termasuk satwa dilindungi. Hal ini juga di buktikan dari pengakuan beberapa nelayan setempat bahwa biasanya tiap minggu mendapatkan 400  telur penyu hijau, namun kini diraih 100 telur. Dengan kondisi itu, jika tidak segera diambil langkah-langkah penyelamatan termasuk pencegahan pengambilan telur, maka binatang itu dalam waktu dekat akan punah.

Sangat di sayangkan memang, walaupun beberapa daerah peneluran telur penyu jauh dari pemukiman penduduk, namun tidak luput dari perburuan illegal oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kondisi ini semakin menurunkan populasi penyu laut di lingkungan asli mereka.  Keunikannya tidak akan tampak lagi, saat banyak dari penduduk pantai merusak dan menjarah telur-telur meraka, memburu induk-induk mereka dan merusak rumah-rumah mereka.

Pemanfaatan telur dan daging penyu di TWA. Air Hitam oleh beberapa nelayan di sekitar kawasan tersebut juga kadang untuk memenuhi kebutuhan protein mereka sehari.hari.Biasanya mereka pun kadang- kadang menemukan tanpa sengaja penyu yang sedang bertelur ketika masyarakat sedang menjaring ikan di sekitar pantai TWA.Air Hitam. Namun bila itu terjadi secara rutin juga akan menimbulkan upaya nelayan untuk memanfaatkan penyu secara komersil.

Peningkatan intensitas aktifitas perburuan, pembantaian dan pemanfaatan penyu berlangsung sejalan dengan pengaruh teknologi baru. Aktivitas tersebut mulai bersifat komersial setelah Perang Dunia II berakhir, bersamaan dengan pengenalan masyarakat nelayan pada perahu motor dan teknik-teknik baru dalam penangkapan ikan. Dampak aktivitas tersebut semakin meningkat bersamaan dengan kemajuan teknologi, peningkatan jumlah penduduk, serta peningkatan ragam dan mutu kebutuhan. Hal ini terjadi karena terdorong oleh usaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kemudian berkembang menjadi suatu kegiatan usaha yang bersifat komersial.

Pemanfaatan penyu secara komersial dapat dikatakan bersifat menular di kalangan nelayan di penjuru kepulauan Indonesia. Penting untuk ditekankan bahwa semua spesies penyu di Indonesia berada dalam kondisi tereksploitasi berat, dengan derajat berbeda-beda pada siklus hidup tiap-tiap spesies. Meskipun telah berstatus dilindungi, pemanfaatan daging penyu hijau untuk konsumsi restoran maupun penduduk masih terus berlangsung.

Ditemukan pula pada beberapa rumah penduduk sekitar pantai TWA.Air Hitam karapas penyu dan sisiknya yang udah diawetkan. Yang lebih tragis lagi adanya temuan offesan penyu laut secara utuh di rumah penduduk

Dalam pemanfaatan sumber daya penyu terjadi banyak penyimpangan yang dilakukan dengan tidak memperhatikan asas pelestarian lingkungan hidup dan keberlanjutan sumber daya tersebut. Hingga saat ini pemanfaatan sumber daya penyu masih belum mengikuti cara-cara yang baik dan benar, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara tingkat pemanfaatan dengan tingkat pertambahan populasi. Eksploitasi yang berlebihan tanpa menghiraukan pelestariannya, akan menyebabkan status populasi di alam yang sudah langka itu semakin terancam punah.

Hilang dan rusaknya habitat sarang penyu di TWA. Air Hitam juga mengancam punahnya populasi penyu. Pembukaan wilayah hutan di sekitar kawasan pantai TWA. Air Hitam secara ilegal memberi dampak cepatnya abrasi pantai. Hal ini menimbulkan hilangnya habitat pantai peneluran penyu.

Pembangunan yang tidak terkendali menyebabkan rusaknya pantai-pantai yang penting bagi penyu hijau untuk bertelur. Demikian juga habitat tempat penyu hijau mencari makan seperti terumbu karang dan hamparan lamun laut terus mengalami kerusakan akibat sedimentasi atau pun pengrusakan oleh manusia.

UPAYA KONSERVASI PENYU DI TWA. AIR HITAM

Berbagai upaya telah dan akan dilakukan guna menyelamatkan hewan yang kini mulai langka itu oleh intansi yang berwenang, diantaranya mengajak masyarakat yang berada di sekitar habitatnya untuk ikut menjaga dan mengurangi pengembilan telur-telurnya. Masyakarat akan suliat dilarang untuk pengambilan telur penyu karena hal itu merupakan salah satu sumber mata pencaharian  masyarakat . Oleh karena itu  mengajak untuk mengurangi saja sehingga ada sebagian dari telur itu yang menetas merupakan salah satu upaya dalam rangka pelestarian penyu.

  1. 1. Penyelamatan dan Penetasan Penyu

Dalam upaya konservasi penyu di TWA Air Hitam, Balai KSDA Bengkulu melakukan kegiatan pembinaan habitat berupa pengamanan habitat penyu bertelur dan kegiatan pelestarian penyu. Kegiatan pembinaan habitat penyu di sepanjang pantai TWA. Air Hitam, dilakukan dengan menyusuri pantai setiap hari untuk mencari sarang- sarang telur penyu, yang selanjutnya telur-telur tersebut diambil untuk dikumpulkan pada suatu tempat yang telah disiapkan untuk ditetaskan.  Setelah telur-telur tersebut berada pada tempat (pasir pantai) penetasan kira – kira limapuluh hari, maka telur- telur tersebut telah siap menetas dan perlu adanya peyelamatan selama beberapa hari. Telur-telur tersebut menetas menjadi tukik (anakan penyu). Tukik-tukik  tersebut cukup kuat kemudian dapat dilepas ke laut.   Kegiatan ini telah berhasil menetaskan telur penyu. Jenis penyu yang telah di tetaskan adalah Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Sisik dan Penyu Hijau. .Keberhasilan penetasan telur penyu merupakan keberhasilan antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu dan mitra masyarakat Kelompok Pemuda Pemudi Pencinta Alam dan Lingkungan (KP3ALH) Air Hitam, Kecamatan Pondok Suguh Kabupaten Muko Muko  sebagai upaya dalam penyelamatan telur dan sarang penyu di kawasan TWA Air Hitam. Secara teknis upaya penyelamatan terhadap penyu perlu di lakukan mulai dari tahap telur sampai dewasa karena kondisi populasi penyu di alam semakin lama menurun. Salah satu usaha yang tersebut adalah penanganan sarang dan merelokasi telur penyu yang tidak aman baik oleh kondisi lingkungan (pasang air laut) aktivitas manusia maupun predator. Penanganan sarang dan relokasi telur penyu dapat di lakukan dengan cara penetasan alami, semi  alami dan buatan. Kedepan di harapkan populasi penyu di Bengkulu dapat kembali meningkat dan anak cucu kita dapat melihat penyu secara aslinya bukan bentuk boneka atau gambar saja.

  1. 2. Perlindungan Kawasan Habitat Penyu

Upaya lain dalam mendukung konservasi penyu di TWA. Air Hitam adalah perlindungan kawasan habitat penyu berupa kegiatan patroli kawasan oleh tenaga pengaman hutan seperti polisi kehutanan. Namun dirasakan bahwa tidak sesuainya jumlah tenaga pengaman hutan dengan luasan yang dipatroli merupakan permasalahan dalam perlindungan kawasan TWA. Air Hitam. Kuranngnya juga sarana prasarana yang mendukung kegiatan ini juga menambah kendala yang dirasakan.

  1. 3. Penegakan Hukum

Operasi gabungan kehutanan dalam rangka penegakan hukum bagi masayrakat yang melakukan pembukaan lahan di kawasan TWA Air Hitam  secara ilegal.  Perambahan kawasan di TWA.Air Hitam telah berlangsung lama dan beberapa kebun milik masyarakat berada di dalam kawasan. Penegakan hukum merupakan salah satu upaya konservasi dalam rangka perlindungan terhadap penyu di TWA. Air Hitam.Diharapkan  dengan penegakan hukum ini berdampak kepada kembalinya fungsi kawasan hutan pantai TWA. Air Hitam yang merupakan habitat peneluran

penyu.

  1. 4. Pemberdayaan Masyarakat sekitar kawasan konservasi penyu

Upaya pelestarian penyu di Bengkulu bukan saja tanggung jawab Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu tetapi juga masyarakat. Pelibatan masyarakat generasi muda secara aktif dalam upaya pelestarian penyu merupakan salah satu usaha pemerintah untuk memberi kesempatan bagi masyarakat berperan aktif dalam pelestarian  satwa penyu. Diharapkan masyarakat akan memiliki kesadaran dan pengetahuan akan pentingnya konservasi dan pelestarian satwa penyu.

Awal tahun 2008  Balai Konservasi Sumber Daya Bengkulu  melakukan kegiatan pelestarian penyu di Taman Wisata Air Hitam dengan melibatkan masyarakat pemuda dari sekitar kawasan TWA Air Hitam yang terbentuk dalam Kelompok Pemuda Pemudi Pencinta Alam dan Lingkungan (KP3ALH) Air Hitam, Kecamatan Pondok Suguh Kabupaten Muko Muko. Pemberdayan Masyarakat juga dilakukan melalui pembinaan daerah penyangga. Kegiatan pembinaan daerah penyangga ini dillakukan dengan cara pemberian bantuan usaha ekonomi kepada masyarakat dalam rangka peningkatan usaha ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi. Tujuan dari kegiatan ini agar ekonomi masyarakat akan meningkat dan  akan mengurangi tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumber ekonomi yang berasal dari kawasab konservasi. Dengan tidak tergantungnya masyarakat pada kawasan konservasi diharapkan akan kawasan mengurangi gangguan dan tekanan dari masyarakat.

Daftar Pustaka

Anonim, (tanpa tahun). Pengelolaan penyu di Indonesia. http //www.menlh.go.id/home/inedxphp?option=can.content dan viewartikel//

Anonim, 1988. Pedoman Penangkaran Penyu. Departemen Kehutanan Dirjen PHKA- Direktorat Perlindungan Hutan. Bogor.

Anonim, 1992. Buku Saku pengenalan Jenis Satwa Liar ( Reptilia). Departemen Kehutanan Dirjen PHKA- Bogor.

Alikodra, H.1990. Pengelolaam SatwaLiar Jilid I –IPB- Bogor

Carr, A.1980. Some Problems of Sea Turtle Ecology. Amer.Zool.

Carter, D. 1997. Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Australia. Makalah Seminar Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Indonesia. Jember. Indonesia.

Clark, L.H. 1997. Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Malaysia. Makalah Seminar Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Indonesia. Jember. Indonesia.

Enrenfeld, D.W. 1974. Conservasing The Edible Sea Turtle. Can Marineculture help?. America Scientific Journal.

Groombidge and Luxmoore. 1989. The Green Turtle and Hawksbill (Reptilia : Cheloniidae) World status, exploitation and trade. Secreatariat of the Convention of International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora : Lassaunne.

Halliday et.al. 1986. Editor Encyclopaedia of Reptiles and Insect. Equinox (Oxford) Ltd. Littlegate House. St Ebbe’s Street. Oxford.

Hirth, H.F. 1971. Synopsis of Biological Data on Green Turtle (Chelonia mydas L.) FAO Fiesheries Synopsis. Rome.

Iskandar, D. T. 2000. Kura- kura dan Buaya Indonesia dan Papua . PALmedia Citra – Bandung.

Jauhari S, SHut dkk. 2001. Laporan Identifikasi Populasi Fauna Suku Penyu (Cheloniidae) dan Penyu Belimbing (Dermochelys coricea). Balai KSDA Bengkulu – Bengkulu.

Jauhari S, SHut dkk. 2009. Petunjuk Teknis Pembinaan Habitat Penyu Semi Alamidi TWA. Air Hitam Kecamatan Pondok Suguh Kabuapaten Mukomuko. Balai KSDA Bengkulu – Bengkulu.

Juhandara I dkk. 2005. Penyelamatan Sarang dan Penetasan Telur Penyu. Majalah Silvika – Departemen Kehutanan . Jakarta.

Kaler, I.K. 1982. Butir-butir Tercecer Tentang Adat Bali. Penerbit Bali Agung. Bali.

Limpus, C.J. 1986. Observations on Sea Turtles in Indonesia, 18-31 August 1986. Unpublished report to Sub-Directorate Marine Conservation, Ministry of Forestry, Republic of Indonesia. IUCN SSC MTSG and Queensland National Parks and Wildlife Service.

Limpus, C.J. 1997. Populasi Penyu di Asia Tenggara dan Wilayah Pasifik Barat: Penyebaran dan Statusnya. Makalah Seminar Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Indonesia. Jember. Indonesia.

Ma’ruf kasim. 2010. Penyu laut ( Hewan cantik yang tergusur) . htp//digilib.biologi.lipi.go.id/view.html?idm:26644.

Nuitja, N.S. 1981. Konservasi dan Pengembangan Penyu di Indonesia. Makalah Seminar Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Indonesia. Jember. Indonesia.

Palma, J.A.M. 1997. Konservasi Penyu di Filippina dan Inisiatif Menuju Program Konservasi dan Pengelolaan Regional. Makalah Seminar Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Indonesia. Jember. Indonesia.

Prihanta W, Drs, M.Kes .2007. Laporan penelitian Pengembangan Iptek- Problematika Kegiatan Konservasi Penyu di Taman Nasional Meru Betiri – Universitas Muhammadiyah Malang.( Tidak dipublikasikan)

Rohman F.SP.2009.Cara Mudah Identifikasi Penyu Laut. BKSDA Bali- Bali.

Rohman F.SP.2009.Tahapan relokasi dan penetasan telur penyu. BKSDA Bali- Bali.

Schulz, J. 1984. Turtle Conservation Strategy in Indonesia. Field Report No.6, Marine Conservation. Bogor.

Schulz, J. 1987. Observations on Sea Turtles in Indonesia. Report to IUCN. Bogor.

Siswomartono, D. 1997. Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Indonesia. Makalah Seminar Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Indonesia. Jember. Indonesia.

Suarez and Starbird. 1995.  A Traditional Fishery of Leatherback Turtles, in Maluku. Indonesia. Marine Turtle Newsleter.

Subagio. 1991. Pembahasan Strategi Nasional dan Action Plan Konservasi dan Pengelolaan Penyu. Rencana Pengelolaan dan Konservasi Penyu di Pantai Pangumbahan dan Sekitarnya. KLH, Departemen Kehutanan, EMDI-3 dan Indonesian Wildlife Fund. Jakarta.

Sukresno, S.A. 1997. Pemanfaatan Penyu Laut di Indonesia. Makalah Seminar Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Indonesia. Jember. Indonesia.

Sumardja, E. 1991. Pembahasan Strategi Nasional and Action Plan Konservasi dan Pengelolaan Penyu. KLH, Departemen Kehutanan, EMDI-3 dan Indonesian Wildlife Fund. Jakarta,

Supriyadi, D. 1989. Pendekatan Ekonomi sebagai Strategi Konservasi Penyu Hijau untuk Propinsi Bali. Kantor Sub Balai KSDA Bali. Denpasar.

Triwibowo dan Sunandar, T.N. 1990. Upaya Pemanfaatan dan Pelestarian Penyu Laut di Propinsi Jawa Timur. Surabaya.

Triwibowo, E. 1991. Studi Tentang Pemanfaatan Penyu Laut Dalam Kaitan Dengan Usaha Pelestariannya Di Daerah Tingkat II Kabupaten Badung. Propinsi Bali. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Indonesia.

Triwibowo, E. 2001.Kajian Pengelolaan Penangkaran Penyu Sukamaju – Lampung Barat. http://www.scribd.com/doc/7678477/BAB-I-Kajian- pengelolaan -penangkaran-penyu-sukamaju-lampung-barat

Troeng, S. 1997. Pemanfaatan Penyu di Indonesia. Makalah Seminar Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Indonesia. Jember. Indonesia.

Ulaiwi, W. 1997. Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Papua New Guinea. Makalah Seminar Penelitian dan Pengelolaan Penyu di Indonesia. Jember. Indonesia.

Wicaksono, A. 1992. Berau Turtle Island in The Regency  of Berau, The Province of East Kalimantan. Unpublished Report. EMDI and KLH. Jakarta.

About these ads

Actions

Information

10 responses

21 03 2010
Konservasi Penyu « Dewan Riset Daerah Bengkulu

[...] — drdbengkulu @ 10:57 pm Tags: Muko Muko, penyu Berikut tulisan tentang konservasi penyu.  klik disini   Leave a [...]

8 03 2011
ivan

Oke pisan informasina, ayo selamatkan penyu dari kepunahan

21 03 2010
Konservasi Penyu « JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

[...] Posted by uwityangyoyo on March 21, 2010 Berikut tulisan tentang konservasi penyu. Klik disini. [...]

1 04 2010
gunawan

bagus jg sharing yah ke http://www.wisatapesisir.com

11 05 2010
MicyqVny8

Thats a great article! I am so delighted you decided to talk about it.

11 07 2010
bali tour murah

moga penyu2 di Indonesia tidak punah dan terus berkembang menjadi lebih banyak

25 08 2010
akar bahar

semoga gelombang pasang pantai TWA Air hitam tidak membuat kerusakan habitat PENYUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU na

25 08 2010
uripsantoso

Semoga sdr akar bahar

12 03 2012
anjas bintoro

keren info2nya..
kira2 bisa gak y kalo seandainya kami mau belajar kesana..?
mohon tanggapannya….
thanks y…..

15 03 2014
Lila

Hey there! I could have sworn I’ve been to this site before but after checing through some of the post I realized it’s
new to me. Anyhow, I’m definitely happy I found it and I’ll be bookmarking and checking back often!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: