POLIGAMI, NIKAH SIRI DAN NIKAH KONTRAK

8 03 2010

Oleh: Urip Santoso

Kini sedang hangat-hangatnya isu tentang poligami, nikah siri dan nikah kontrak. Nikah/kawin kontrak adalah nikah yang dibatasi waktunya. Begitu habis waktunya maka habis pula kontraknya. Fenomena nikah kontrak sudah lazim di beberapa kota. Biasanya nikah kontrak dilakukan oleh orang asing yang tinggal sementara di Indonesia. Akan tetapi nikah kontrak juga dilakukan oleh orang Indonesia karena sejumlah alasan. Nikah kontrak barangkali sama dengan nikah mut’ah. Pada awal perkembangan Islam nikah kontrak pernah ada dan tidak dilarang oleh Rasulullah. Hal ini terkait dengan bahwa pada zaman jahiliyah menikah itu banyak jenisnya dan kacau balau. Salah satu contoh, bagi wanita yang bermaksud menikah maka ia memasang bendera di depan pintu rumahnya. Siapapun boleh menggaulinya sejauh wanita itu suka. Akan tetapi setelah beberapa lama nikah mut’ah itu dilarang oleh Rasulullah. Nikah kontrak memang bertentangan dengan prinsip berkeluarga dalam Islam yaitu membentuk keluarga sakinah, mawadah warohmah. Lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya baik bagi pria itu sendiri, wanita, anak-anak maupun masyarakat pada umumnya.

Baru-baru ini timbul gejolak di kalangan tertentu dikarenakan banyak suami mereka yang menikah siri. Mereka kemudian memprakarsai peraturan perundangan-undangan yang mempidanakan nikah siri. Siri artinya rahasia atau diam-diam. Dalam Islam nikah siri sesungguhnya tidak dikenal, sebab nikah dalam Islam mewajibkan adanya dua orang saksi, selain mereka yang menikahkan. Adanya saksi itu sendiri berarti bahwa nikah dalam Islam tidak rahasia. Adanya saksi itu sendiri berarti bahwa pernikahan seseorang telah diumumkan. Sementara walimah tidak wajib tetapi dianjurkan agar pernikahan tersebut diketahui oleh masyarakat luas.

Berbeda dengan pengertian nikah siri dewasa ini (di Indonesia). Nikah siri adalah pernikahan yang tidak dicatatkan pada catatan sipil. Padahal pernikahan di Indonesia nikah wajib untuk dicatat sesuai dengan UU No. 1 tahun 1974. Masalahnya adalah bahwa nikah siri (nikah yang tidak dicatat) telah menjadi tradisi atau kebiasaan di banyak tempat seperti di pesantren, di lokasi yang jauh dari KUA, atau karena alasan tidak mampu membayar biaya pernikahan. Apakah karena perilaku sejumlah oknum yang berpoligami melalui nikah siri itu, kemudian yang lainnya (yang nikah siri tapi tidak berpoligami) juga kena getahnya? Bukankah para isteri bisa melaporkan kepada polisi bahwa suami telah menikah lagi tanpa seijinnya? Sementara poligami itu sendiri tidak dilarang dalam Islam.

Saya yakin poligami pada suatu saat akan tampak hikmahnya. Semisal, sekarang ini jumlah wanita lebih banyak daripada pria. Fenomena ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tingkat tertentu hal ini tentu saja akan menimbulkan kekacauan sosial. Bagi wanita yang tahan mungkin mereka memilih menjadi perawan seumur hidup. Tentu saja dengan menahan derita sepanjang hayat. Bagi mereka yang tidak tahan tentu saja akan mencari jalan keluar. Mereka akan agresif menggoda pria meskipun pria itu sudah menikah. Atau lebih parah lagi seks bebas semakin merajalela demi kebutuhan biologis. Nah, dalam kondisi seperti ini apa solusinya? Islam menawarkan poligami.

Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan utama para wanita menjadi pelacur adalah karena alasan ekonomi alias kemiskinan yang mendera mereka. Tingkat kemiskinan ini masih menjadi masalah yang pelik hingga kini. Jika mereka yang mampu secara materi dan juga mampu secara batin sesuai dengan persyaratan yang ditentukan oleh Islam berpoligami, barangkali masalah kemiskinan sebagian juga dapat diatasi. Memang ini bukan satu-satunya cara untuk mengatasi kemiskinan. Saya berpendapat bahwa poligami (di negara Indonesia yang sebagian besar pemeluknya Islam) sebaiknya tidak dilarang apalagi dipidanakan, tetapi diatur sedemikian rupa sehingga meminimalisasi efek negatif dan memaksimalkan efek positifnya. Tidak semua pria mampu melakukan poligami, hanya sebagian kecil saja yang mampu. Mungkin tidak sampai 1%. Pria yang beriman tidak akan sembarangan memutuskan berpoligami, karena begitu besar resiko yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Wanita yang beriman juga – menurut saya – tidak begitu saja menolak dipoligami. Ada alasan-alasan yang rasional yang sebaiknya dikemukakan kepada sang suami mengapa sang wanita menolak dipoligami. Orang yang memutuskan poligami harus mampu secara materi, batin dan mampu berbuat adil sejauh kemampuannya sebagai manusia biasa. Nah, bagi mereka yang melanggar ketentuan tersebut barulah mereka dapat dipidanakan. Sangsi perlu diterapkan untuk menghindari kejadian poligami yang tidak sesuai dengan syiar Islam.

Ada hal lain yang dalam Islam justru haram yang barangkali lepas dari isu dewasa ini, yaitu zina. Zina justru difasilitasi dengan alasan untuk melokalisasi kegiatan tersebut. Seharusnya, kegiatan zina – yang banyak sekali bentuknya – yang dikriminalitaskan. Alasan bahwa lokalisasi adalah untuk membatasi kegiatan seks bebas tidak dapat dimengerti. Sebab, saya pikir yang liar tetap ada dan bahkan berkembang banyak, sementara yang legal juga semakin marak dikunjungi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak sekali anak di bawah umur yang sudah melakukan seks bebas, apalagi mereka yang di atas umur barangkali lebih banyak lagi. Kejadian seks bebas ini yang menurut saya lebih penting untuk mendapat perhatian dari berbagai pihak.

About these ads

Actions

Information

3 responses

6 12 2010
Vincenzo Savich

I’d come to engage with you here. Which is not something I usually do! I love reading a post that will make people think. Also, thanks for allowing me to comment!

4 06 2013
lukmanromadhoni

Asslmkm…wrwb

GAK SALAHHH???

Dan……

Berdasarkan sensus penduduk 2000 dan 2010 ternyata justru JUMLAH PRIA DI INDONESIA LEBIH BANYAK DARI WANITANYA.

“laki2 jaman sekarang biasanya mati2an menentang atau berusaha menutup2i fakta ini dengan berbagai alasan dan dalih”

Begitu juga dengan data negara2 di dunia (CIA, Bank Dunia, PBB, dll) ternyata jumlah pria juga lebih banyak dari wanitanya (terutama untuk China, India, dan negara-negara Arab)

Yup jumlah wanita memang sangat melimpah tapi di usia di atas 65 tahun, mauu?? hehe….kalo ngebet, silakan poligami dengan golongan wanita usia ini.

Cek di data resmi BPS dan masing2 pemda atau coba klik di:

http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/16/makan-tuhh-poligami-vs-fakta-demografi-560923.html

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=40¬ab=1

http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=263&wid=0

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=12&notab=4

http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321

http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php?option=com_content&task=view&id=211&Itemid=211&limit=1&limitstart=2

http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=penduduk_ratio&info1=4

Kira2 apa ya solusi dari kelebihan pria ini?
masih tetap POLIGAMI? Hanya akan semakin “merampas” kesempatan bujangan pria lain untuk dapat menikah

perkiraan dan kepercayaan selama ini “turun temurun” yang selalu jadi senjata bagi pria yang ngebet ingin berpoligami bahwa jumlah wanita jauh berlipat lipat di atas pria ternyata SALAH BESAR

Hasil Sensus Penduduk 2010 berdasar jenis kelamin perpropinsi
Kode, Provinsi, Laki-laki, Perempuan, Total Penduduk
1 Aceh, 2 248 952, 2 245 458, 4 494 410
2 Sumatera Utara, 6 483 354, 6 498 850, 12 982 204
3 Sumatera Barat, 2 404 377, 2 442 532, 4 846 909
4 Riau, 2 853 168, 2 685 199, 5 538 367
5 Jambi, 1 581 110, 1 511 155, 3 092 265
6 Sumatera Selatan, 3 792 647, 3 657 747, 7 450 394
7 Bengkulu, 877 159, 838 359, 1 715 518
8 Lampung, 3 916 622, 3 691 783, 7 608 405
9 Bangka Belitung , 635 094, 588 202, 1 223 296
10 Kepulauan Riau, 862 144, 817 019, 1 679 163
11 DKI Jakarta, 4 870 938, 4 736 849, 9 607 787
12 Jawa Barat, 21 907 040, 21 146 692, 43 053 732
13 Jawa Tengah, 16 091 112, 16 291 545, 32 382 657
14 DI Yogyakarta, 1 708 910, 1 748 581, 3 457 491
15 Jawa Timur, 18 503 516, 18 973 241, 37 476 757
16 Banten, 5 439 148, 5 193 018, 10 632 166
17 Bali, 1 961 348, 1 929 409, 3 890 757
18 Nusa Tenggara Barat, 2 183 646, 2 316 566, 4 500 212
19 Nusa Tenggara Timur, 2 326 487, 2 357 340, 4 683 827
20 Kalimantan Barat, 2 246 903, 2 149 080, 4 395 983
21 Kalimantan Tengah, 1 153 743, 1 058 346, 2 212 089
22 Kalimantan Selatan, 1 836 210, 1 790 406, 3 626 616
23 Kalimantan Timur, 1 871 690, 1 681 453, 3 553 143
24 Sulawesi Utara, 1 159 903, 1 110 693, 2 270 596
25 Sulawesi Tengah, 1 350 844, 1 284 165, 2 635 009
26 Sulawesi Selatan, 3 924 431, 4 110 345, 8 034 776
27 Sulawesi Tenggara, 1 121 826, 1 110 760, 2 232 586
28 Gorontalo, 521 914, 518 250, 1 040 164
29 Sulawesi Barat, 581 526, 577 125, 1 158 651
30 Maluku, 775 477, 758 029, 1 533 506
31 Maluku Utara, 531 393, 506 694, 1 038 087
32 Papua Barat, 402 398, 358 024, 760 422
33 Papua, 1 505 883, 1 327 498, 2 833 381
TOTAL, 119 630 913, 118 010 413, 237 641 326
Sex Ratio Indonesia (menurut BPS) beginilah data yang saya dapat:
- Tahun 1971 = 97.18 pria : 100 wanita
- Tahun 1980 = 99.82 pria : 100 wanita
- Tahun 1990 = 99.45 pria : 100 wanita
- Tahun 1995 = 99.09 pria : 100 wanita
- Tahun 2000 = 100.6 pria : 100 wanita
- Tahun 2010 = 101,01 pria : 100 wanita
Bisa dilihat, ternyata tren sex ratio semakin meningkat, dalam arti dari tahun ke tahun jumlah pria semakin melebihi wanita

Poligami?????

4 06 2013
uripsantoso

Ya, memang berdasarkan data BPS jumlah pria lebih banyak dari wanita. Demikian pula data statistik menunjukkan bhw wanita lbh panjang umurnya. Jadi banyak wanita usia manula. Tks masukkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: