PEMANFAATAN LIMBAH INDUSTRI (ONGGOK) SEBAGAI PAKAN UNGGAS

30 11 2009

Oleh : Supratman Waras S

ABSTRAK

Dalam  rangka  meningkatkan  ketersediaan  bahan  pakan  ternak  yang  berkualitas,  serta  mendukung peningkatan produksi peternakan untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani, serta meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan meningkatnya populasi dari nutrisi yang lebih baik. Penggunaan onggok sebagai pakan ternak dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain rendahnya nilai gizi (protein) dan masih tingginya kandungan sianida, untuk itu dicari teknik pengolahan yang dapat mening-katkan kandungan nutrisi dan menurunkan kandungan zat antinutrisi pada onggok. Melalui teknologi fermentasi suatu upaya dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas hasil ikutan agro-industri seperti onggok. Salah satu teknologi altematif untuk dapat memanfaatkan onggok sebagai bahan baku pakan ternak adalah dengan cara mengubahnya menjadi produk yang berkualitas, yaitu melalui proses fermentasi Setelah fermentasi kadar protein onggok meningkat dari sekitar 2,2 menjadi sekitar 18,6%. Produk yang dihasilkan diujicobakan pada berbagai jenis unggas. Penggunaan campuran  onggok dan ampas tahu fermentasi 30 % (RD) memberikan produksi terbaik, berat telur tertinggi dan konversi ransum terendah Hasil ujicoba ,onggok terfermentasi sampai dengan 10% dapat digunakan dalam formulasi pakan ayam pedaging. Dan terhadap persentase bobot karkas, bobot hati dan rempela juga tidak ada perbedaan yang nyata. Namun, pemberian lebih tinggi dari 10%, perlu pengkajian lebih lanjut. Sebab pada penelitian sebelumnya pernah dilaporkan bahwa, penggunaan cassapro ubikayu, lebih dari 10% dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap pertambahan bobot badan maupun konversi pakan.

Kata kunci : onggok, fermentasi, pakan unggas

 PENDAHULUAN

Onggok merupakan limbah padat agro industri pembuatan tepung tapioca yang dapat dijadikan sebagai media fermentasi dan sekaligus sebagai pakan ternak. Onggok dapat dijadikan sebagai sumber karbon dalam suatu media karena masih banyak mengandung PATI(75 %) yang tidak terekstrak, tetapi kandungan protein kasarnya rendah yaitu, 1.04 %berdasarkan bahan kering. Sehingga diperlukan tambahan bahan lain sebagai sumber nitrogen yang sangat diperlukan unmtuk pertumbuhan pakan (Nuraini et al.2007) Media fermentasi dengan kandungan nutrient yang seimbang diperlukakan untuk menunjang kapang lebih maksimal dalam memproduksi β karoten sehingga dihasilkan suatu produk fermentasi yang kaya β karoten.

Penggunaan onggok untuk bahan baku penyusunan pakan ternak masih sangat terbatas, terutama untuk hewan monogastrik. Hal ini disebabkan kandungan proteinnya yang rendah disertai dengan kandungan serat kasarnya yang tinggi (lebih dari 35%).

Dengan proses bioteknologi dengan teknik fermentasi dapat meningkatkan mutu gizi dari bahan-bahan yang bermutu rendah. Misalnya, produk fermentasi dari umbi ubikayu (Cassapro/ Cassava protein tinggi), memiliki kandungan protein 18-24%, lebih tinggi dari  bahan  asalnya  ubikayu,  yang  hanya  mencapai 3%.  Demikian  juga,  onggok terfermentasi juga memiliki kandungan protein tinggi yakni 18% dan dapat digunakan sebagai bahan baku ransum unggas.

 PEMBAHASAN

Penggunaan onggok sebagai pakan ternak dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain rendahnya nilai gizi (protein) dan masih tingginya kandungan sianida, untuk itu dicari teknik pengolahan yang dapat mening-katkan kandungan nutrisi dan menurunkan kandungan zat antinutrisi pada onggok. Melalui teknologi fermentasi dengan Aspergillus niger diharapkan akan meningkatkan nilai gizi (yang dicarikan antara lain dengan meningkatnya kandungan protein kasar) dan menurunkan kandungan zat antinutrisi HCN pada onggok terolah. Menurut Supriyati  (2003), sebelum difermentasi onggok tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu, sampai kadar airnya maksimal 20% dan selanjutnya digiling. Untuk setiap 10 kg bahan baku pakan dibutuhkan 80 gram kapang A. niger dan 584,4 gram campuran mineral anorganik. Sedang  untuk  preparasinya  adalah  sebagai  berikut:   10  kg  onggok  kering  giling dimasukkan ke dalam baskom besar (ukuran 50 kg). Selanjutnya ditambah 584,4 gram campuran mineral dan diaduk sampai rata. Kemudian ditambah air hangat sebanyak delapan liter, diaduk rata dan dibiarkan selama beberapa menit. Setelah agak dingin ditambahkan 80 gram A. niger dan diaduk kembali. Setelah rata dipindahkan ke dalam baki plastik dan ditutup. Fermentasi berlangsung selama empat hari. Setelah terbentuk miselium yang terlihat seperti fermentasi tempe, maka onggok terfermentasi dipotong-potong,  diremas-remas  dan  dikeringkan  dalam  oven  pada  suhu 60  derajat  C  dan selanjutnya digiling

Onggok yang telah difermrntasi  dianalisa  kandungan  nutriennya,  antara  onggok  dan  onggok  terfermentasi berbeda. Yaitu, kandungan protein kasar dan protein sejati, masing-masing meningkat dari 2,2 menjadi 18,4%. Sedang karbohidratnya menurun dari 51,8 menjadi 36,2% Sementara kandungan serat kasar onggok terfermentasi cenderung menurun. (Tabel1). Hal  ini  terjadi  karena  selama  fermentasi,  kapang  A.  niger  menggunakan  zat  gizi (terutama karbohidrat) untuk pertumbuhannya. Dan kandungan protein meningkat dari 2,2 menjadi 18,4%, dengan menggunakan urea dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen.

Tabel 1. Komposisi gizi onggok

Gizi Tanpa ferementasi (%BK) Fermentasi (% BK)
Protein kasar 2,2 18,6
Karbohidrat 51,8 36,2
Abu 2,4 2,6
Serat Kasar 10,8 10,46

 

Hasil penelitian Tabrany S, dkk menunjukkan bahwa fermentasi onggok dengan Aspergillus niger sampai 4 minggu secara statistik sangat nyata (p<0,01) meningkatkan kandungan protein kasar onggok terolah dan menurunkan (p<0,01) kandungan HCN onggok terolah serta cenderung meningkatkan kandungan GE onggok terolah.

 Sabrina et al (2008) telah mencoba memberikan campuran  onggok dan ampas tahu fermentasi 30 % (RD) memberikan produksi terbaik, berat telur tertinggi dan konversi ransum terendah  dibanding dengan perlakuan  perlakuan lainya  (Tabel 2)

 Tabel 2. Performa Ayam Dan Kualitas Telur yang Menggunakan Ransum Mengandung Onggok Fermentasi Dengan N.Crassa

Performa Ransum Perlakuan SE
RA RB RC RD
Konsumsi ransum (g/ekor/hari) 112.01B 112.50B 114.02A 114.79A 1.01
Produksi Hen Day  (%) 65.51D 67.94C 69.12B 71.40A 1.04
Bobot Telur (g/butir) 61.21B 63.07B 67.22A 67.78A 1.07
Massa Telur (g/ekor/hari) 39.61D 40.86C 43.73B 48.40A 1.23
Konversi Ransum (g/hari) 2.85D 2.76C 2.62B 2.55A 1.14
Warna kuning Telur 8.40D 9.00C 10.00B 10.60A 0.23
Kolesterol (mg/100g) 207.20A 175.40B 143.40C 117.80 3.73

 Dari penelitian lainya penggunaan  onggok  fermentasi  sampai  dengan  10%  dalam formulasi  pakan  ayam pedaging masih aman dan tidak menimbulkan dampak negatif. Artinya aman untuk dikonsumsi oleh ayam. Dan dapat meningkat produksinya masing-masing 9,7% dan 30,9%. Bobot telur juga meningkat pada ayam yang memperoleh ransum onggok terfermentasi (Tabel 2)

 Tabel 3. Pengaruh Penggunaan Onggok Terfermentasi dalam Ransum terhadap Kualitas  Telur.

Parameter Tanpa Onggok Terfermrntasi Dengan Onggok Terfermentasi
Jumlah Telur (butir) 10.00 10-.00
Bobot Telur (g) 39.60 42.78
Nilai Warna Kuning 6.50 6.00
Haught Unit 97.20 88.55
Tebal Kerabang 0.36 0.38

 Pada  percobaan  di  Balai  Penelitian  Ternak  Balitnak),  digunakan 144  ekor  ayam pedaging umur tiga hari, dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Masing-masing perlakuan (P1,  P2  dan  P3)  diberi  formula  pakan  dengan  tiga  tingkatan  onggok terfermentasi yang berbeda. Yaitu, P1: 0% (kontrol), P2: 5,0% dan P3: 10,0% (onggok terfermentasi) dalam pakan. Namun kandungan protein kasar dari ransum tersebut telah diperhitungkan dan untuk tiap-tiap formula adalah sebagai berikut: P1:  20,7%, P2: 21,04% dan P3: 21,05%. Percobaan dilakukan selama empat minggu.

Sedang pertambahan  bobot  badan  dari  kelompok  ayam  yang  memperoleh  pakan  onggok terfermentasi 10% (P3) sebesar 960 gram. Dan ini tidak berbeda nyata dengan kelompok ayam P2 (5% onggok terfermentasi). Pada kedua pertakuan (P2 dan P3), juga tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol (0% onggok terfermentasi), yang mempunyai bobot hidup sebesar 988 gram. Konsumsi pakan juga tidak berbeda antar perlakuan dan selama perlakuan konsumsi pada kel. P1, P2 dan P3, masing-masing adalah 1882, 1912 dan 1869 gram. Sedang untuk nilai konversi pakan adalah 1,90 untuk semua perlakuan.

Dengan demikian, maka onggok terfermentasi sampai dengan 10% dapat digunakan dalam formulasi pakan ayam pedaging. Dan terhadap persentase bobot karkas, bobot hati dan rempela juga tidak ada perbedaan yang nyata.

Namun, pemberian lebih tinggi dari 10%, perlu pengkajian lebih lanjut. Sebab pada penelitian sebelumnya pernah dilaporkan bahwa, penggunaan cassapro ubikayu, lebih dari 10% dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap pertambahan bobot badan maupun konversi pakan.

KESIMPULAN

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, mutu onggok dapat ditingkatkan sebagai bahan baku pakan sumber protein, yang pemanfaatannya dapat dikembangkan pada  tingkat  peternak.  Bila  ditinjau  dari  aspek  kandungan  proteinnya,  maka kemungkinan ke depan, penggunaan onggok terfermentasi untuk pakan unggas memiliki prospek yang baik dan diharapkan dapat menggantikan jagung/dedak atau polard. Pengguna onggok terfermentasi   dalam   ransum   memberikan  efesiensi produksi yang lebih baik dan biaya produksi  lebih  rendah.

DAFTAR PUSTAKA

http://acadstaff.ugm.ac.id/profile_dosen_4.php?rand=MTMxNDcxNDg1

http://markusti.multiply.com

http://markustri.multiply.com/photos/album/17/Onggok_Ongok_Ampas_Tapioka

http://markustri.multiply.com/photos/album/17/Onggok_Ongok_Ampas_Tapioka

 ht tp://pemulungilmudankreasi.wordpress.com/

 http://wanipintar.blogspot.com/2009/09/pengaruh-penggunaan-onggok-yang.html

 http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr246027.pdf

http://onlinebuku.com/2009/01/02/pemanfaatan-onggok-fermentasi-sebagai-pakan-ternak/

Nuraini, Sabrina & S.A. Latif 2008. Peforma Ayam dan Kualitas Telur yang Menggunakan Ransum Mengandung Onggok Fermentasi dengan Neurospora Crassa. Media Peternakan. Universitas Andalas: 195-201

Sinurat,   a.p.,   p.   Setiadi,   a.   Lasmini,   a.r.Setioko, t. Purwadaria, i.p. Kompiang dan J.    Darma.  1995.   Penggunaan   Cassapro (Singkong Terfermentasi) untuk Itik Petelur. Ilmu dan Peternakan 8(2): 28-31

Supriati, DKK 2004, Onggok Terfermentasi Sebagai Bahan Baku Pakan ayam Kampung Petelur. Balai Penelitian Ternak. Malangbong Garut: 82-85


 

About these ads

Actions

Information

16 responses

2 12 2009
Supriadi

Sangat baik sekali penelitian tentang onggok ini. Saat ini saya sedang mencobanya untuk makanan ayam kampung. Kalau memang hasilnya sama dengan penelitian ini, bisa dikembangkan untuk makanan ayam kampung secara masal. TQ

3 12 2009
uripsantoso

Mudah-mudahan anda berhasil supriadi. saya yakin onggok bisa memberikan keuntungan yang lebih besar. tq.

20 02 2011
zaifuddin

Saya menyediakan Onggok kering,Asal Lampung.. Kwalitas Super dan Asalan Super. Berminat Contac/sms ke No. 0812 7904 8094/087799946777. Trims. Good Luck!!

16 06 2011
isrofi

mohon petunjuk untuk alamat yang membutuhkan onggok pak,sy menyediakan onggok kering super kwalitas tinggi jemuran terpal hub : 085366675652 /085769991327

9 12 2009
Sohai

P1 wimax is really sux lah, waste money only!

11 04 2011
order augmentin online no prescription

I was wondering if you ever considered changing the layout of your blog? Its very well written; I love what youve got to say. But maybe you could a little more in the way of content so people could connect with it better. Youve got an awful lot of text for only having one or two images. Maybe you could space it out better?

3 07 2011
acan

dimana kita bisa beli a.niger?mahal gak harganya?

26 07 2011
oufik

kalau ada yang membutuhkan onggok
kami menyediakan onggok langsung dari limbah usaha dari aren..
harga RP.500.000,- per ukuran mobil L-100..
Harga belum termasuk ongkos kirim.
hub oufik:085725009570

10 08 2011
elementy kute

Thank you for useful information. Waiting for new posts.

14 09 2011
Qupid Shoes

I absolutely need to frequent this site much more often, information similar to this is tough to discover.

10 09 2012
HMP APPALOOSA

informasi yang super

26 09 2012
Agus Purnomo

slam knal smuanya,sya mau tanya “dimana sya bsa belajar mengolah dan memfermentasi onggok ya pak, soalnya dskitar rmh saya dilampung banyak limbah onggok daripabrik2 singkong, Trmaksh sblmnya…

26 09 2012
uripsantoso

Sebenarnya bisa berlatih sendiri. Di Lampung juga ada Dinas Peternakan kan. Jadi bisa bertanya kesana. Atau bisa ke UNILA. Salam kenal sdr Agus P. Tks

28 10 2012
hikman

hikman/e1c009056
Menarik sekali informasinya, mungkin ada penelitan yang lanjutan sehingga ongok tersebut bisa menjadi pengganti salah satu bahan pakan yang mungkin lebih mahal dan susah di dapat,.

20 11 2013
Yudi

Misal beli dikirim ke Jogja berapa ongkir Kirim ampas pati onggok aren??

14 12 2014
early

Om yudi mauu pesan onggokk aren untuk jogja,,,per bagornya 15-18rb kalau mauu….hub 08976267489..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: