KIAT-KIAT PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH UNTUK GURU

30 11 2009

 Prof. Ir. Urip Santoso, S.IKom., M.Sc., Ph.D

Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

 Pendahuluan  

Tujuan pelaksanaan kenaikan pangkat guru melalui angka kredit adalah untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru. Namun pada kenyataannya hal ini masih menjadi kendala yang besar bagi guru, dikarenakan ketika para guru akan naik pangkat ke IV/b mereka mengalami kesulitan untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh peraturan yang berlaku. Mereka   terbentur pada keharusan membuat unsur pengembangan profesi ,dengan angka kredit sebesar 12 . Unsur kegiatan Pengembangan Profesi Guru meliputi 5 ( lima ) macam yaitu;
1. Menyusun Karya Tulis Ilmiah.
2. Menemukan Teknologi tepat guna.
3. Membuat alat peraga atau bimbingan.
4. Menciptakan karya seni
5. Mengikuti kegiatan Pengembangan Kurikulum.

Khusus karya ilmiah para guru mengalami kesulitan yamng mendasar. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kemampuan menulis karya ilmia para guru, maka pelatihan tentang bagaimana menyusun karya ilmiah yang baik sangat diperlukan. Yang lebih penting lagi, jangan lupa berlatih dan berlatih terus.

Adapun macam kegiatan karya tulis ilmiah ada 7, yaitu ;
1. Karya ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survei dan atau evaluasi di bidang pendidikan.
2. Karya tulis/ makalah berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan.
3. Menyampaikan prasaran berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah dalam pertemuan ilmiah.
4. Tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa.
5. Buku Pelajaran
6. Diktat Pelajaran.
7. Modul
8. Mengalihbahasakan buku pelajaran/ karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan.

            Pada kesempatan ini saya hanya membahas kiat-kiat penulisan karya ilmiah hasil penelitian, survei, observasi atau yang sejenis. 

1. Pemilihan Jurnal Ilmiah

            Setelah selesai melakukan penelitian, maka seorang peneliti harus dapat menentukan derajat keaslian sumbangan ilmiahnya, dapat menentukan keterkaitan dan ruang lingkup disiplin ilmu yang tertarik akan hasilnya, serta macam masyarakat ilmiah yang berminat akan simpulan yang dihasilkan.

Macam media mana yang dipilih untuk menerbitkan temuan ilmiah tersebut harus sudah ditentukan dengan baik sebelum naskah ditulis. Cara yang paling sederhana adalah pergi keperpustakaan untuk mendapatkan jurnal ilmiah yang sesuai dengan bidang ilmu kita. Pertama-tama kita baca keterangan dalam halaman dalam depan atau belakang atau dalam Instuction for Authors tentang cakupan bidang ilmu yang sesuai dengan jurnal tersebut. Jika di perpustakaan tidak ada, maka dapat berkonsultasi dengan kolega kita di lembaga lain untuk membicarakan ke jurnal mana artikel tersebut paling tepat dikirim. Survey mengenai jurnal ilmiah juga dapat dilakukan melalui internet.

Seorang pemula mungkin akan mengalami kesulitan untuk memilih jurnal yang tepat jika tersedia banyak pilihan. Sebagai patokan mulailah mempertimbangkan kemungkinan untuk memasukkannya ke dalam berkala superspesialis. Jika setelah dinilai belum cukup mendalam, maka lanjutkan penjajakan ke berkala spesialis cabang ilmu yang melingkupinya. Sebagai alternatif terakhir baru kemudian persiapkan artikel untuk berkala bidang ilmunya.

Dianjurkan untuk tidak menerbitkan hasil temuan kita pada majalah atau jurnal yang merupakan bunga rampai bermacam ilmu. Berkala seperti ini tidak akan sampai ke tangan ilmuwan sebidang.

2. Pedoman Penulisan

            Setelah diperoleh jurnal yang tepat, segera simaklah gaya penyajiannya dengan membaca beberapa tulisan yang dimuat dalam nomor-nomor atau jilid terakhir. Perhatikan pula tentang tujuan dari jurnal tersebut yang biasanya memuat tentang cakupan bidang ilmu yang diutamakan, jenis karya tulis yang diminta. Setelah itu pelajari pedoman penulisan pada jurnal tersebut.

Pemunculan pedoman penulisan untuk setiap jurnal berbeda-beda. Jika pedoman tersebut pendek biasanya ditulis pada setiap satu nomor penerbitan jurnal. Akan tetapi jika panjang biasanya ditulis sekali dalam satu tahun, bisa pada awal tahun atau akhir tahun. Jika tidak dapat diperoleh di perpustakaan maka kita dapat mengirim surat ke editor untuk mendapatkannya.

3. Penulisan Artikel

            Kita harus membaca pedoman penulisan artikel dengan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan. Memang derajat pedoman tersebut berbeda-beda pada setiap jurnal dari yang hanya garis besar saja sampai dengan yang sangat rinci.

            Informasi umum yang diberikan dalam panduan penulisan itu adalah format penulisan (ukuran dan jenis kertas, spasi, penomoran halaman, jumlah baris per halaman, margin dan penomoran setiap baris tulisan), penulisan title page (judul artikel, penulis berserta  alamatnya, alamat korespondensi dan permintaan reprint), penulisan badan artikel.

            Kita harus memperhatikan format pada jurnal terpilih. Sering terjadi editor menolak suatu artikel ilmiah dikarenakan tulisan tersebut tidak memenuhi persyaratan format yang telah ditentukan. Oleh sebab itu format harus dicermati.

            Hal yang pertama yang harus diperhatikan adalah ukuran dan jenis kertas. Pada umumnya ukuran yang digunakan adalah A4 atau letter dengan berat 80 gram. Setelah itu perhatikan ukuran spasi (biasanya 2 spasi), ukuran marjin kiri, kanan, atas dan bawah (bervariasi tergantung jurnal), ukuran font (paling sedikit 10 point), petunuk penomoran halaman (atas atau bawah, kanan, tengah atau bawah), batas jumlah halaman yang diijinkan, jumlah baris per halaman (biasanya 20-25 baris). Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa setiap baris pada setiap halaman diberi penomoran pada sisi kiri kertas. Penomoran baris sangat penting sebagai rujukan bagi reviewer atau editor serta penulis pada waktu memberi jawaban atas ulasan yang diberikan oleh reviewer. Selain itu, perlu diperhatikan boleh tidaknya pemenggalan kata dan penggunaan right justification. Kadang sebuah jurnal juga menentukan jenis huruf yang digunakan.

3.1. Penulisan Halaman Judul

            Pada halaman judul biasaya ditulis judul artikel, nama penulis dan alamat lembaga dimana penelitian itu dilakukan, dan alamat penulis korespondensi. Umumnya judul pelari, yaitu judul artikel dalam bentuk singkat (yang nantinya akan muncul pada halaman tertentu pada artikel yang telah dicetak bersama dengan nama penulis) juga dicantumkan pada halaman judul ini. Cara penulisan halaman judul ini untuk setiap jurnal berbeda-beda.

            Pada halaman judul ini perlu diperhatikan apakah judul ditulis tebal, miring, huruf kapital atau huruf kecil. Secara umum judul ditulis paling atas dan di tengah-tengah. Ada jurnal yang menentukan judul dicetak tebal, nama penulis dan alamat dicetak miring. Selain itu, perlu diperhatikan penggunaan ukuran huruf. Justifikasi judul, nama penulis dan alamat juga perlu diperhatikan.

            Alamat  penulis dalam jurnal bertaraf internasional adalah lembaga yang betul-betul memberi sumbangan dan ikut ambil bagian dalam penelitian. Sebagai contoh, seorang dosen melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Andalas. Setelah lulus ia pulang kembali ke institusi dimana ia bekerja. Jika ia mempublikasikan hasil penelitiannya, maka alamat penulis adalah Universitas Andalas. Penulis dapat mencantumkan alamat sekarang (alamat dimana ia bekerja) pada catatan kaki.

            Judul biasanya diminta sesingkat mungkin tetapi mencerminkan isi dari artikel ilmiah termaksud. Singkatan biasanya tidak dianjurkan dalam judul. Jumlah huruf pada running head bervariasi (biasanya tidak lebih dari 55 huruf ).

            Nama penulis yang dicantumkan biasanya yang benar-benar memberikan kontribusi pada penelitian tersebut. Memang tidak ada patokan yang berlaku. Bisa saja, pencantuman nama penulis tergantung pada kesepakatan di antara penulis. Jika penulis lebih dari satu, maka cantumkan penulis yang bertanggungjawab dalam surat-menyurat. Biasanya penulis atau peneliti senior. Peneliti senior tidak harus sebagai penulis utama.

3.2. Abstrak

            Format abstrak juga bervariasi, sehingga kita harus benar-benar teliti membaca pedoman penulisan pada jurnal tersebut yang meliputi format (kapital atau tebal, center atau pada baris baru yang diikuti oleh kalimat pertama abstrak, spasi). Pada umumnya, jurnal meminta abstrak ditulis pada halaman terpisah. Untuk mempermudah, sebaiknya kita memperhatikan contoh artikel terbaru.

            Secara umum, abstrak ditulis dalam satu paragraf yang berisi tujuan penelitian, materi dan metodologi penelitian, hasil utama penelitian, kesimpulan dan kata kunci (key words). Jika artikel tersebut berupa tinjauan pustaka, abstrak berisi tentang latar belakang, hasil utama berupa temuan teoritik, kesimpulan dan kata kunci. Pada abstrak biasanya tidak terdapat pembahasan, tabel, pustaka, sitasi, dan gambar. Singkatan biasanya diperbolehkan dalam abstrak.

            Abstrak inilah yang biasanya digunakan dalam abstracting yang akan disebarluaskan baik secara elektronik maupun cetak. Oleh sebab itu kita harus mampu mengungkapkan hasil penelitian kita secara menyeluruh sehingga pembaca bisa menangkap isi artikel tanpa harus mengacu ke artikel yang lengkap. Pembaca yang tertarik biasanya akan mencari artikel lengkapnya.

            Jumlah kata maksimum dalam abstract umumnya dibatasi antara 100 dan 250 kata. Namun ada juga jurnal yang memberi batasan sampai dengan 400 kata. Satu kata ditetapkan sebagai kumpulan karakter yang diapit oleh space. Abstract ditulis dengan kalimat past tense, dan umumnya tidak diperkenankan lagi mengulangi judul artikel dalam isi abstract. Abstract biasanya akan ditutup dengan kata kunci (keywords).

            Kata kunci sangat penting dalam pengideksan artikel. Jika pembaca ingin mencari artikel dengan kata kunci, maka salah satu kata kunci yang kita tulis akan bisa membuka artikel tersebut. Oleh sebab itu, kita harus memilih kata kunci yang paling baik mewakili topik yang dibahas. Jumlah kata kunci bervariasi dari 3-6. Tata cara penulisan key words bervariasi. Ada jurnal yang menuliskan kata kunci berdasarkan urutan abjad. Ada juga yang berdasarkan urutan dimulai dari kata kunci spesifik sampai dengan kata kunci umum atau sebaliknya. Ada juga yang dimulai dari kata kunci yang paling penting sampai dengan yang kurang penting atau sebaliknya. Lihat contoh abstract pada lampiran 3.

3.3. Pendahuluan

            Bagian ini mengandung isi sebagai pengantar yang berisi justifikasi penelitian, hipotesis dan tujuan penelitian. Jika artikel berupa tinjauan pustaka, maka pendahuluan berisi latar belakang yang memuat tentang pentingnya “permasalahan” tersebut diangkat, hipotesis (jika ada) dan tujuan penulisan artikel. Pada bagian ini pustaka hanya dibatasi pada hal-hal yang paling penting. Perlu diperhatikan metode penulisan pustaka rujukan sesuai dengan contoh artikel atau ketentuan dalam Instruction for authors. Jumlah kata dalam bagian ini juga kadang dibatasi jumlah katanya. Ada juga jurnal yang membatasi jumlah referensi yang dapat disitir pada pendahuluan, tidak lebih dari tiga pustaka. Tidak dibenarkan membahas secara luas pustaka yang relevan pada pendahuluan. Pada sebagian besar  jurnal Introduction ditulis dalam kalimat present tense. Perlu diperhatikan apakah “introduction” ditulis segera setelah abstract, atau harus pada halaman baru.

3.4. Materi dan Metode

            Bagian ini bisa dibagi menjadi beberapa subheading untuk  lebih rapi. Dalam bagian ini umumnya tidak dibatasi jumlah kata atau panjang tulisan, sehingga kita akan lebih leluasa menjelaskan materi dan metodologi yang digunakan. Perlu diketahui bahwa para reviewer akan banyak menekankan pemeriksaan pada materi dan metode ini. Karena, kevalidan hasil yang kita peroleh ditentukan oleh penggunaan materi dan pendekatan metodologi yang digunakan. Oleh sebab itu, kita harus menulis secara lengkap jenis materi dan metodologi yang kita lakukan dalam penelitian, sehingga reviewer bisa memahami prosedur yang digunakan dalam penelitian.

            Dalam bagian ini kita bisa menyajikan tabel, skema atau gambar untuk memperjelas dan meringkas informasi yang akan ditulis. Bagian ini ditulis dengan kalimat past tense.

            Jika kita merujuk metode dari hasil penelitian orang lain, maka kita tidak perlu menuliskannya secara mendalam. Cukup ditulis bahwa pengukuran “apa” menggunakan metode “siapa”.

Contoh:

  1. Kadar bahan kering, protein kasar dan lemak diukur dengan menggunakan metode AOAC (1990).
  2. NDF, ADF,  lignin and hemicellulosa diukur dengan metode yang dijelaskan oleh Van Soest et al. (1991).

Hal ini juga berlaku bagi model analisis statistik. Kita tidak perlu mencantumkan model matematikanya.

Contoh:

            Pengaruh dua musim, e.g. musim gugur dan musim dingin terhadap komposisi gizi dianalisis dengan menggunakan uji t (Steel and Torrie, 1980).

            Dalam artikel tinjauan, biasanya tidak dicantumkan materi dan metode penulisan yang digunakan.

3.5. Hasil dan Pembahasan

            Setiap jurnal mempunyai pola yang baku atau yang fleksibel dalam bagian ini. Ada jurnal yang memisahkan Hasil dari Pembahasan, atau menyatukannya, dan ada pula yang menyerahkannya kepada penulis sesuai dengan kenyamanan dalam penyajiannya.

            Jika Hasil terpisah, bagian ini hanya menyajikan hasil penelitian tanpa membahasnya. Keuntungan cara ini adalah pembahasan bisa lebih terarah dan menyeluruh karena bisa membahas variabel atau parameter yang saling berhubungan sekaligus. Keburukannya adalah bahwa dalam membahas kita cenderung memulai lagi sedikit dengan hasil, sehingga akan mengulang lagi apa yang sudah disajikan dalam hasil.

            Jika hasil digabung dengan pembahasan, pembahasan bisa langsung mengikuti penyajian hasil. Keuntungan cara ini adalah setiap hasil langsung dibahas, sehingga tidak perlu menyinggung lagi jika membahasnya. Keburukkannya adalah kita cenderung mengulang pembahasan yang saling berkaitan. Namun untuk menulis pada salah satu cara di atas kita bisa menggunakan teknik yang baik sehingga penyajian hasil dan pembahasan bisa lebih menarik.

            Dalam penyajian results ungkapkan hasil yang diperoleh secara jelas dan lugas tanpa komentar. Pembaca diundang untuk mengambil kesimpulannya sendiri, kemudian membandingkannya dengan pernyataan penulis setelah pembaca sampai pada bagian pembahasan. Sajikan data terpilih dengan ringkas. Pada tahap ini, penulis sebaiknya membentuk argumen yang akan menjadi tulang punggung pembahasan. Dengan demikian, hal-hal pokok dalam results perlu diberi penekanan. Untuk penyajian data yang sederhana gunakan tabel. Untuk data yang rumit dan banyak gunakan gambar. Tidak dibenarkan menyajikan gambar dari tabel yang telah disajikan. Rataan angka yang disajikan dalam tabel dan gambar pada sebagian besar jurnal internasional disertai oleh ukuran penyebaran seperti SD, SE.

            Hasil harus ditulis secara sistematis. Kita tulis hasil mulai dari hasil utama baru diikuti oleh data atau hasil pendukungnya atau sebaliknya, dari data pendukung baru ke hasil utamanya.

            Pada umumnya jurnal nasional tidak menginginkan bahasa statistik ditulis dalam teks hasil. Sebagai contoh kalimat “Berat badan secara nyata dipengaruhi oleh perlakuan (P<0,01)” adalah kalimat statistik, yang sangat sulit dipahami oleh pembaca. Oleh sebab itu sebaiknya tulis saja secara langsung, misalnya “Suplementasi probiotik pada tingkat 1% secara nyata meningkatkan berat badan pada ayam broiler (P<0,01)”.

            Dalam bagian pembahasan yang perlu kita bahas adalah hasil tersebut apakah menerima atau menolak hipotesis yang kita kemukakan.  Jadi disini dibahas kenapa hipotesis diterima atau ditolak. Biasanya pembahasan akan ditutup dengan simpulan jika tidak ada heading khusus untuk kesimpulan.

            Agar pembahasan menarik untuk dibaca, maka mulailah dengan kata-kata kunci. Demikian pula setiap paragraf sebaiknya dibuka dengan kalimat topik yang membawa gambaran jelas kepada pembaca. Sebaiknya pembahasan dirancang dengan argumen yang kuat. Ini akan memberikan kesempatan kepada penulis untuk merangsang minat pembaca, sehingga pembaca tertarik untuk membaca seluruh artikel. Spekulasi dapat dibenarkan dalam pembahasan sepanjang didukung oleh argumen yang kuat.

            Kutipan dalam pembahasan sangat penting untuk memperkuat argumentasi penulis. Kutipan harus memberikan informasi yang benar. Hal ini sangat penting bagi pembaca yang ingin mengikuti argumen penulis dengan seksama, agar dengan tepat menemukan apa yang dicarinya dalam artikel asli sesuai dengan pengarahan penulis.

            Acuan mempunyai banyak kegunaan, antara lain dapat dijadikan otoritas tertinggi yang menjadi dasar argumen. Acuan dapat menjadi otoritas sementara yang keabsahannya menjadi tantangan pembaca, atau bahkan ternyata salah sama sekali. Mungkin saja penulis dapat memberikan penekanan pada waktu penulisan kutipan dalam teks. Perhatikan beberapa pernyataan berikut:

            “Semua bakteri aerobil peka terhadap umtomycin (Burhan, 1979).”

Pernyataan ini menyiratkan bahwa konsep tersebut dapat diterima. Burhan adalah orang pertama yang mengemukakan, dan penulis menyetujuinya.

            “Burhan (1979) menemukan bahwa semua bakteri aerobik peka terhadap umptomycin.”

Pernyataan ini menyiratkan konsep yang kurang dikenal, Burhan yang menyimpulkan, dan penulis setuju dengan pendapatnya.

            Burhan (1979) menyatakan bahwa semua bakteri aerobik peka terhadap umptomycin.”

Dalam kalimat ini tersirat bahwa pendapat Burhan mungkin bertentangan dengan pendapat umum, dan penulis untuk sementara tidak menentukan pilihan dalam masalah ini.

3.6. Simpulan

            Dalam simpulan sarikan apa yang menjadi hasil utama penelitian (menolak atau menerima hipotesis) dalam kalimat yang sederhana. Hindari kalimat berbau statistik. Simpulan disusun berdasarkan  fakta yang ditemukan dalam penelitian.

3.7. Ucapan Terima Kasih

            Ucapan terima kasih biasanya ditempatkan pada akhir tulisan sebelum daftar pustaka. Biasanya yang perlu disebutkan adalah penyandang dana. Berikan nomor kontraknya jika ada, karena ini juga nanti sebagai dokumentasi bagi pemberi dana bahwa penelitian yang dibiayai telah dipublikasikan di tingkat internasional.

            Ucapan terimakasih juga dapat diberikan kepada perorangan, lembaga atau kelompok yang telah memberi bantuan teknis dan saran. Ucapan terimakasih sebaiknya ditulis dengan sederhana.

3.8. Daftar Pustaka

            Penulisan daftar pustaka bervariasi tergantung kepada format setiap jurnal. Untuk itu, kita harus mengacu kepada pedoman penulisan pada jurnal tersebut. Secara umum, penyusunan daftar pustaka terdiri atas dua jenis, yaitu dengan cara penomoran dan penyusunan secara alfabetis. Daftar pustaka yang digunakan diutamakan dari artikel-artikel yang telah dipublikasikan secara internasional. Daftar pustaka dari publikasi nasional dapat digunakan pada jumlah terbatas. Tesis dan disertasi dapat pula digunakan sebagai daftar pustaka. Kadang subuah artikel ditolak karena daftar pustaka hanya berasal dari hasil penelitian yang tidak dipublikasikan, seperti misalnya laporan penelitian, atau hanya berasal dari publikasi lokal.

3.9. Penulisan Tabel

            Dalam penerbitan jurnal internasional, tabel selalu ditulis dalam halaman terpisah dari teks, biasanya setelah daftar pustaka. Tabel diberi nomor urut mengikuti angka arab, dan setiap tabel diketik dalam halaman terpisah. Sebelum membuat tabel perhatikan dulu format yang ada pada contoh artikel terbaru.

            Umumnya garis horisontal sepanjang halaman yang diperbolehkan hanya tiga, yaitu pada bagian atas (judul kolom) dan satu pada penutup tabel. Garis vertikal sama sekali tidak diperbolehkan.

            Judul tabel biasanya ditempatkan di atas tabel. Perhatian format penulisan judul tabel. Sistem penulisan satuan variabel yang ditabulasikan juga perlu diperhatikan dengan cermat.

            Syarat yang selalu ditekankan dalam pembuatan tabel adalah bahwa pembaca bisa memahami dan menginterpretasikan tabel itu sendiri tanpa harus membaca teks. Susunlah data pada tabel sesuai dengan urutan penyajian dan pembahasan dalam teks. Kelompokkan data sejenis dalam satu tabel.

3.10. Judul Gambar

            Biasanya judul gambar dilampirkan setelah tabel. Tuliskan judul gambar dalam halaman terpisah dari gambarnya. Jika ada beberapa gambar, bisa diberi nomor dan judulnya dan mengetiknya dalam satu halaman. Perhatikan format penulisan judul gambar pada artikel contoh.

3.11. Gambar

            Gambar digunakan untuk menyajikan data yang sangat banyak. Setiap gambar dicetak pada halaman terpisah. Untuk tidak membingunkan, tuliskan nomor gambar dan nama penulis dibalik (halaman belakang) gambar tersebut. Selain itu, untuk gambar yang tidak langsung kelihatan mana bawah dan atas, harus ditunjukkan di margin gambar tersebut dengan pensil. Karena gambar tidak disertai dengan judulnya, jangan sampai salah memberikan nomor di belakang gambar atau salah mengurutnya dalam teks.

4. Pengiriman Artikel

            Setelah artikel selesai ditulis dengan baik, sekali lagi periksa kelengkapan dan kesesuaian dengan format. Yang penting diperhatikan adalah aturan bahasa yang digunakan apakah sudah sesuai, dan apakah ejaaannya benar. Jika perlu, sebelum kita mengirimkan naskah tersebut ke jurnal yang dituju, ada baiknya kita mintakan kolega kita di dalam dan di luar negeri untuk membacanya dan memberikan komentar. Pada sebagian besar jurnal internasional, penulis yang bukan “native speaker” biasanya disarankan agar naskahnya dikoreksi pemakaian bahasanya oleh “native speaker”. Hal ini untuk menghindari pemakaian bahasa asing yang tidak standar. Sering terjadi, artikel ditolak karena pemakaian bahasa asing yang tidak standar. Jika sudah siap, maka artikel diperbanyak sesuai dengan permintaan dan mengirimkannya ke Editor-in-Chief. Setelah artikel difotokopi, maka sekali lagi periksa kelengkapan halaman. Buatlah surat pengantar yang memohon redaktur untuk mempertimbangkan penerbitan atikel anda, lengkap beserta alamat lengkap untuk keperluan surat-menyurat. Selain itu, sejumlah jurnal juga mensyaratkan adanya “surat pernyataan” dari semua peneliti yang isinya tentang persetujuan antar peneliti tentang isi artikel, keaslian hasil penelitian/tulisan, dan pernyataan lain yang dipersyaratkan.

            Artikel dikirim beserta kelengkapannya. Artikel dibungkus dalam amplop besar (artikel jangan dilipat) dan kuat.

5. Pengembalian Artikel oleh Editor

            Biasanya setelah artikel tersebut diterima oleh editor, mereka akan mengirimkan surat pemberitahuan bahwa artikel tersebut telah sampai di meja redaksi  yang biasanya disertai nomor yang diberikan oleh editor ke artikel tersebut. Dalam beberapa bulan, artikel akan dikembalikan oleh editor dengan dua kemungkinan. Yang pertama artikel ditolak sama sekali, atau diterima yang umumnya dengan perbaikan. Artikel dapat diperbaiki sesuai dengan komentar reviewer jika kita setuju. Kita dapat tidak setuju dengan komentar reviewer dengan mengemukakan alasan ilmiahnya.

6. Perbaikan Artikel

            Artikel yang telah dikembalikan untuk diperbaiki biasanya disertai dengan lembaran komentar reviewer yang bisa bersifat umum dan spesifik. Selain itu juga Editor-in-Chief juga menambahkan beberapa catatan dan perbaikan pada artikel. Perbaiki artikel sesuai dengan saran dan komentar serta koreksian yang diberikan. Biasanya kita diminta untuk memberikan jawaban secara rinci baris demi baris apa.

            Disini kita dapat tidak setuju dengan saran para reviewer, dengan mengemukakan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Disini kita juga dapat menambahkan hal-hal yang kita anggap penting, meskipun tidak ada saran dari para reviewer.

7. Pengiriman Kembali Artikel

            Setelah semua  diperbaiki, kita kirim kembali artikel tersebut beserta jawaban atau komentar kita terhadap saran para reviewer, yang biasanya disertai dengan artikel yang lama yang berisi koreksian. Perhatikan surat dari Editor in Chief berapa kopi kita harus mengirim. Jika tidak ada surat pemberitahuan yang meminta artikel diperbaiki kembali, maka kita tinggal menunggu galley proof. Pada saat revisi terakhir biasanya kita juga diminta untuk mengirimkan artikel elektronik dalam disket, sehingga proses setting lebih cepat.

Daftar Pustaka

Haryanto, A. G., H. Ruslijanto, D. Mulyono. 2000. Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah. Penebit Buku Kedokteran, Jakarta.

Lindsay, D. 1988. A Guide to Scientific Writing.  (Penerjemah S. S. Achmadi). UI-Press, Jakarta.

Manalu, W. 1999. Penulisan artikel ilmiah pada jurnal ilmiah internasional. Makalah Pelatihan Penatar Penulisan Artikel Ilmiah di Perguruan Tinggi, DIKTI, Jakarta.

Nafiah, A. H. 1981. Anda Ingin Jadi Pengarang? Usaha Nasional, Surabaya.

Purbo-Hadiwidjojo, M. M. 1993. Menyusun Laporan Teknik. Penerbit ITB, Bandung.

Rifai, M. A. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. UGM Press, Yogyakarta.

Santoso, U. 1998. Penyusunan penulisan ilmiah populer. Pelatihan penulisan ilmiah populer bagi mahasiswa, Bengkulu.

About these ads

Actions

Information

7 responses

20 09 2010
KS

kiat penulisan karya ilmiahnya saya rasa akan sangat bermanfaat, tidak hanya bagi guru tapi juga profesi lain yang berkaitan dengan penulisan karya ilmiah.

21 09 2010
uripsantoso

Saya setuju sdr KS. Silahkan dimanfaatkan bagi yang membutuhkannya. tq.

15 10 2010
nsputra

Pak Urip Yth.,

Maaf, baru baca tulisan Bapak dan mencerahkan saya. Terima kasih sudah berbagi.

Nugroho

http://ilmuserangga.wordpress.com

19 10 2010
uripsantoso

terima kasih nsputra.tq

3 03 2011
Richard

Great stuff from you, man. Ive scan your stuff before and youre just too awesome. I love what youve got here, love what youre saying and the way you say it. You make it entertaining and you still manage to keep it smart. I cant wait to scan more from you. This is really a great site.

27 09 2011
Gregory Despain

Zune and iPod: Most people compare the Zune to the Touch, but after seeing how slim and surprisingly small and light it is, I consider it to be a rather unique hybrid that combines qualities of both the Touch and the Nano. It’s very colorful and lovely OLED screen is slightly smaller than the touch screen, but the player itself feels quite a bit smaller and lighter. It weighs about 2/3 as much, and is noticeably smaller in width and height, while being just a hair thicker.Replica watches

8 02 2012
jakasamudra

terima kasih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: