BURUNG PERKUTUT (Geopelia striata Linn) SEBAGAI HEWAN POTENSIAL

10 11 2009

 

Dicky Trisaputra

Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

 Abstrak

            Burung perkutut (Geopelia striata Linn) sebagai hewan potensial karena memiliki suara kicauan yang sangat indah, sehingga ribuan orang yang menggemari untuk memelihara burung perkutut. Burung perkutut dicatagorikan termasuk golongan hewan potensial maka dari itu diadakan adanya perkembangbiakan, pencegahan penyakit, dan sebagai peluang tenaga kerja.

            Hasil penulisan karya ilmiah ini menyimpulkan bahwa Burung perkutut (Geopelia striata Linn) sebagai hewan potensial untuk peluang pekerjaan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari, serta peluang tenaga kerja bagi siapa yang membutuhkan.

 Kata kunci: Burung Perkutut, hewan potensial, peluang tenaga kerjaPendahuluan

            Burung prkutut (Geopelia striata Linn) pada dasarnya adalah Satwa liar merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat dipulihkan. Hal ini berarti satwa liar dapat dipertahankan keberadaannya. Sejalan dengan maksud tersebut, pemerintah Indonesia telah merintis beberapa bentuk usaha pelesarian satwa liar baik secara ex-situ maupun in-situ.

            Burung perkutut berasal dari satwa liar maka dari itu didomestikasikan terlebih dahulu sehingga akan diadakan perkembangbiakkan untuk menghasilkan keuntungan yang tinggi. Dengan demikian burung perkutut memiliki potensi.

            Penangkaran jati padang dan penangkaran kebon duren merupakan penangkaran milik perorangan. Penangkaran ini lebih bersifat sebagai usaha sambilan (sebagai tabungan), hobi dan percobaan. Disamping memilihara perkutut, pemilik penangkaran memilki penghasilan tetap sebagai pegawai dan wiraswasta. Pendidikan pegawai dipenangkaran ini berkisar pada jenjang SMTP dan SMTA. Tingkat pendidikan ini menentukan kemampuan berpikir pekerja. Keterampilan dan pengalaman pekerja dalam memelihara burung perkutut belum diikuti oleh pendidikan khusus dibidang penangkaran, secara formal.

            Penulisan karya ilmiah menunjukkan bahwa Burung perkutut (Geopelia striata Linn) sebagai hewan potensial serta penangkaran pemeliharaannya.

 Perkembangbiakan

            Burung perkutut mencapai dewasa kelamin pada umur 6 bulan dan siap untuk kawin pada umur 10 bulan (sarwono, 1991). Burung mencapai masa dewasa kelamin tergantung pada faktor genetis, lingkungan dan makanan. Semakin baik kualitas makanan yang diberikan akan semakin cepat mencapai masa dewasa kelamin. Menurut Sarwono, (1991) bibit yang baik adalah Pejantan dipilih dari burung yang suaranya bagus (nyaring, bening dan jelas), sehat, bertubuh besar dan rajin berbunyi. Burung mempunyai sifat monogamus, dimana sex ratio jantan dan betina adalah sama yaitu, 1:1. untuk menghasilkan keturunan yang berkualitas diperlukan bibit induk dan jantan yang sudah diseleksi.

            Menurut Warwick et al. (1990), silang dalam (inbreeding) adalah Perkawinan individi-individu yang lebih dekat hubungannya dibandingkan rata-rata ternak dalam bangsa atau populasi, yaitu ternak-ternak yang mempunyai moyang bersama dalam 4 sampai 6 generasi pertama dari silsilahnya. Pengaruh genetik dari silang dalam yaitu meningkatkan proporsi lokus-lokus genetik yang homosigot, sedangkan efek fenotipik dari silang dalam adalah menurunnya ukuran kekuatan (vigor) badan dan fertillitas, kadang-kadang diikuti dengan bentuk yang cacat, sedangkan out-breeding (silang luar) merupakan kebalikan dari silang dalam. 

            Menurut Nugroho (1986), mengawinkan burung yang masih muda akan menyebabkan :

  1. Daya tetas telur dan kualitas anak yang akan
  2. Umur muda cenderung belum dapat mengasuh anak secara baik.
  3. Kesempatan seleksi kurang.

Waktu yang tepat untuk mengawinkan burung yaitu, apabila calon-calon

pasangan burung telah siap kondisi badan, dan datangnya masa birahi. Secara alami musim kawin burung perkutut adalah antara bulan april-juni (Grzimek, 1972).

Pencegahan penyakit

            Pendekatan untuk pencegahan penyakit menurut Mcardle (1972), harus memperhatikan pengandangan dan pemberian makanan. Beberapa hal yang menyebabkan masalah penyakit adalah pemberian makanan yang tidak tepat dan tidak disukai, keadaan kandang yang buruk, kandang terlalu padat isinya, sirkulasi udara buruk dan secara umum pengontrolan terhadap pemberian makan, minum dan hama penganggu kurang diperhatikan secara rutin. Ciri-ciri perkutut sakit menurut Sarwono (1991), Bulu tampak kasar, suka berdiri dan diam ditepi sangkar, tidak mau makan dan minum, serta tidak lincah. Beberapa jenis penyakit yang bisa menyerang perkutut adalah Stres, bulu rontok disebabkan oleh (kutu, jamur kulit, tungau atau parasit lain) yang merusak bulu dan kulit, pilek, keracunan makanan, cacingan, menceret dan pilar.    

Peluang tenaga pekerjaan

            Keberhasilan suatu organisasi, baik organisasi besar maupun organisasi kecil bukan semata-mata ditentukan oleh sumber daya alam yang tersedia tetapi banyak ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang berperan dalam merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan organisasi yang bersangkutan (manullang, 1990).

            Pembagian kerja didalam suatu perusahaan sangat penting, karena jika tidak ada pembagian kerja kemungkinan terjadinya tumpang tindih menjadi amat besar. Dalam mengadakan pembagian kerja, ada beberapa yang dapat dipakai pedoman (Manullang, 1990), yaitu :

  1. Pembagian kerja atas dasar wilayah atau teritorial.
  2. Pembagian kerja atas dasar jenis benda yang diproduksi.
  3. Pembagian kerja atas dasar langganan yang dilayani.
  4. Pembagian kerja atas dasar fungsi.
  5. Pembagian kerja atas dasar waktu.   

Jumlah tenaga kerja dipenagkaran jati padang sebamyak 4 orang dengan tugas yang berbeda. Satu orang bertugas sebagai penanggung jawab dikandang reproduksi, satu orang bertugas sebagai penanggung jawab dikandang soliter, dan dua orang bertugas membantu dikandang reproduksi dan soliter. Tingkat pendidikan yang bertanggung jawab dikandang reproduksi adalah sekolah menengah atas (SMA), yang bertanggung jawab dikandang soliter sekolah teknik (ST), dan yang membantu dikandang reproduksi dan soliter Sekolah menengah pertama (SMP). Sedangkan dipenangkaran kebon duren tenaga kerja satu orang yang menangani seluruh pekerjaan penangkaran.

            Penangkaran jati padang dan penangkaran kebon duren merupakan penangkaran milik perorangan. Penangkaran ini lebih bersifat sebagai usaha sambilan (sebagai tabungan), hobi dan percobaan. Disamping memilihara burung perkutut, pemilik penangkaran memilki penghasilan tetap sebagai pegawai dan wiraswasta.

            Pendidikan pegawai dipenangkaran ini berkisar pada jenjang sekolah SMTP dan SMTA. Tingkat pendidikan ini menentukan kemampuan berpikir pekerja. Keterampilan dan pengalaman pekerja dalam memelihara burung perkutu belum diikuti oleh pendidikan khusus dibidang penangkaran, secara formal. Tenaga kerja yang digunakan pada pemeliharaan burung perkutut hanya untuk memberi makan, minum, membersihkan kandang, memandikan burung, melatih mental burung, menjemur dan mengontrol kesehatan burung.

            Menurut Manullang (1990), agar suatu organisasi dapat berjalan baik perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut :

  1. perumusan dengan jelas.
  2. Pembagian kerja.
  3. Delegasi kekuasaan
  4. Rentang kekuasaan
  5. Tingkat pengawasan.
  6. Kesatuan perintah dan tanggung jawab
  7. koordinasi  

Dari data-data literatur yang tercantum diatas maka bahwa didalam suatu

organisasi dapat dijadikan sebagai peluang tenaga kerja, akan tetapi selalu penuh dengan persaingan. Dalam penangkaran pemeliharaan burung perkutut sangat berpotensi sehingga terciptanya sebuah perusahaan penangkaran pemeliharaan burung perkutut dan akan menghasilkan keuntungan yang maksimal. Suatu perusahaan harus lebih teliti dengan system pemeliharan sehingga konsumen akan lebih puas untuk memiliki burung perkutut yang sangat indah suaranya, baik fisik dan kesehatan akan terjamin seutuhnya.

Simpulan

            Berdasarkan  isi penulisan karya ilmiah, maka dapat disimpulkan bahwa burung perkutut (Geopelia striata Linn) adalah sebagai hewan potensial yang memilki potensi melalui kicauan suara yang sangat indah dengan demikian sangat banyak orang untuk berminat memilihara burung perkutut. Akan tetapi dibalik semua itu ada beberapa tokoh masyarakat dan nenek moyang mengatakan bahwa memelihara burung perkutut akan membawa Rezeki bagi yang memelihara.

Daftar pustaka

 Sarwono, B. dan Sujatmaka. 1991. Perkutut bali yang istimewa. Trubus, no. 208-Tahun       XV111-1 Maret. Pp :271-273

Sarwono, B. 1991. Perkutut manakah yang anda piara. Trubus, no.209-Tahun XV111-1 April.

Warwick, E.J., J.M. Astuti., dan W. Hardjosubroto. 1990. Pemulian Ternak Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Nugroho. 1986a. Beternak burung puyuh. Penerbit Eka Offset. Semarang.

Grzimek, B.H.C. 1972. Animal life Encyclopedia Bird 11. Vol 8. Van nonstrand Reindhold Company. New York. Pp:275-276

Mcardle, A.A. 1972. Poultry Management and Production. Angus and  Robertson. Australia.

Manullang, M. 1990. dasar-dasar Manajemen. Ghalia Indonesia. Jakarta.

About these ads

Actions

Information

2 responses

9 12 2011
adehumaidi/mr.bejo

wah ketemu juga ahirnya. ini nich yang gw cari2. maksih gan infonya top markotop

4 09 2013
Intan

Sangat menjanjikan ya berbisnis burung perkutut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: