PERLUNYA REVISI PERATURAN EKUIVALENSI WAKTU MENGAJAR PENUH BAGI DOSEN

25 06 2009

picOleh: Urip Santoso 

Sejauh pengetahuan saya, peraturan tentang ekuivalensi waktu mengajar penuh (EWMP) bagi dosen sudah sangat tua, yaitu tahun 1983. Memang ada revisi mengenai aturan tersebut yaitu dimasukkannya publikasi ilmiah ke dalam penghitungan EWMP. Setiap perguruang tinggi berdasarkan aturan tahun 1983 kemudian melakukan beberapa tafsir atau modifikasi. Sebagai contoh mengajar S1 sebanyak-banyaknya 40 mahasiswa dihitung 1 sks. Nah, ini menimbulkan tafsir yang berbeda. Perguruan tinggi tertentu menerapkan bahwa sampai dengan 40 mahasiswa mendapat sks 1 dan lebih dari itu diperhitungkan lebih dari 1 sks secara proporsional menurut jumlah mahasiswa. Sementara itu, perguruan tinggi lain menafsirkan bahwa jika kelas kurang dari 40 maka sks-nya pun kurang dari 1 sks, dan dihitung secara proporsional ke bawah.

            Lepas dari perbedaan tafsir terhadap aturan EWMP, perlu adanya pemikiran untuk merevisi peraturan EWMP sebab disamping peraturan tentang angka kredit berubah yaitu dengan keluarnya Kepmen Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 38/KEP/MK.WASPAN/8/1999 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya, juga terdapat beberapa kegiatan dosen yang belum diperhitungkan dalam penghitungan EWMP.

            Saya dapat mengambil beberapa contoh. Dalam aturan EWMP dicantumkan bahwa bagi mereka yang sekolah mendapat EWMP 12 sks, akta V 6 sks. Akan tetapi jenis kegiatan yang serupa seperti pelatihan, magang, sandwich program dll yang serupa belum diperhitungkan. Contoh lain misalnya dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran kegiatan seperti mengembangkan program kuliah, mengembangkan bahan pengajaran, membimbing dosen yang lebih rendah jabatan fungsionalnya dan melaksanakan kegiatan detasering dan pencangkokan dosen serta menyampaikan orasi ilmiah belum masuk dalam peraturan tentang EWMP. Demikian pula di bidang penelitian dan pengembangan ilmu, beberapa poin kegiatan dosen belum ada dalam peraturan EWMP seperti karya ilmiah dalam bentuk seminar, poster, menulis karya ilmiah populer di koran atau majalah, membuat rancangan dan karya teknologi yang dipatenkan dll. juga belum di perhitungkan. Padahal kegiatan-kegiatan tersebut jelas menyita banyak waktu dan pikiran serta biaya. Ada sebuah perguruan tinggi yang memberi bobot untuk  seminar sebagai pemakalah sebagai berikut: seminar lokal 1 sks, seminar nasional 2 sks dan seminar internasional 3 sks. Jika yang menyajikan lebih dari satu maka ketua 60% dan anggota 40% dari jumlah sks. Mungkin ini dapat dijadikan pedoman bagi perguruanh tinggi lain yang belum menghitung bobot EWMP untuk seminar. Masalah yang sama juga terdapat dalam poin pengabdian pada masyarakat dan kegiatan penunjang. Masih banyak kegiatan dosen yang belum masuk dalam peraturan EWMP.

            Berdasarkan masalah tersebut, maka sudah sangat wajar jika peraturan tentang EWMP bagi dosen segera direvisi. Revisi ini sangat penting artinya bagi dosen, terutama jika dikaitkan dengan sertifikasi dosen dan hak yang akan diperoleh oleh dosen yang telah disertifikasi. Tidak mudah memang untuk menentukan EWMP bagi setiap kegiatan. Hal ini terkait dengan beban normal dosen yaitu sekitar 40 jam kerja/minggu. Jika 1 sks mengajar dihitung sebagai 50 menit tatap muka, 50 menit tugas terstruktur dan 50 menit tugas mandiri atau 1 sks setara dengan 3 jam/minggu, maka setiap kegiatan lain yang setara dengan 150 menit (3 jam) per minggu dapat dinyatakan sebagai 1 sks.  Untuk itu setiap kegiatan yang dilakukan dosen harus dirinci sedemikian rupa sehingga masing-masing kegiatan mempunyai jumlah waktu tertentu per minggu selama satu semester.

            Masalah lain yang perlu kita revisi atau perhatikan kembali adalah jumlah sks yang telah ditetapkan pada peraturan yang ada. Apakah pembobotan tersebut sudah tepat? Sebagai contoh misalnya bobot penelitian mandiri yang diberi bobot 4 sks bagi penelitian mandiri (hanya satu dosen tanpa anggota). Jika kita hitung barangkali masih belum tepat. Mari kita hitung bersama. Seorang dosen melakukan penelitian dengan beban kerja sebanyak 10 jam/minggu selama 8 bulan penelitian. Jika kita hitung maka dosen tersebut telah menghabiskan waktu sebanyak 320 jam. Jika 1 sks itu setara dengan 50 jam per semester, maka seharusnya dosen tersebut mendapat EWMP paling sedikit 6 sks. Nyatanya hanya 4 sks.  Contoh lain adalah pengabdian incidental yang hanya diberi EWMP 0,1 sks (UNIB). Bagaimana ini cara menghitungnya? Okey, memang dalam kegiatan ini memang hanya barangkali 2 jam tatap muka. Akan tetapi hal ini membutuhkan persiapan yang tidak sedikit, antara lain dosen harus menyiapkan makalah, bahan presentasi, alat bantu, mempelajari audiens, latihan presentasi dll. yang semuanya itu memerlukan waktu, tenaga dan pikiran.  Belum lagi jika pengabdian itu disertai dengan praktek bagi peserta pengabdian yang bisa menyita 10 jam. Jika itu semua diperhitungkan maka beban EWMP yang wajar adalah 0,5 sks karena diperkirakan kegiatan itu memerlukan waktu 25 jam (kasus ini ditemukan pada UNIB). Jika kita mengacu kepada Keputusan Dirjen No.48/DJ/Kep/1983, kegiatan pengabdian yang setara dengan 50 jam/semester diberi bobot 1 sks. Contoh lain tentang pembimbing skripsi. Secara normal jika seorang dosen membimbing 3 mahasiswa dengan bobot skripsi 6 sks. Memerlukan jam kerja sebanyak 6 jam/minggu atau sekitar 100 jam/semester. Oleh sebab itu mestinya seorang dosen yang membimbing 3 orang mahasiswa mendapat EWMP 2 sks, tapi nyatanya hanya 1 sks untuk membimbing 6 orang mahasiswa S1. Pembobotan yang seperti ini kemudian menimbulkan asumsi bahwa penentuan bobot EWMP untuk suatu kegiatan tidak hanya memperhitungkan jumlah waktu yang diperlukan. Ini okey-okey saja jika memang rasional.

            Nah, kegiatan-kegiatan dosen yang lain yang tercantum dalam kepmen tahun 1999 seperti yang telah disebutkan di atas tentang angka kredit dosen perlu diekivalenkan/disetarakan. Jelas sangat merugikan dosen jika beberapa kegiatan mereka tidak mendapat bobot EWMP. Bukankah seminar, membuat poster, orasi ilmiah dll. memerlukan waktu! Bukankah membuat bahan ajar itu memerlukan waktu! Dan sebagainya! Mengapa ini tidak diekuivalensikan? Revisi peraturan EWMP ini menjadi sangat mendesak karena jumlah EWMP merupakan salah satu syarat bagi dosen untuk dapat disertifikasi dan mendapat tunjangan profesi. Saya ambil contoh, membuat diktat kuliah secara normal itu memerlukan waktu 2 jam per minggu selama satu tahun atau setara dengan 100 jam. Jika 1 sks itu setara dengan 50 jam, maka membuat diktat kuliah itu dapat disetarakan dengan 2 sks. Membuat buku ajar (yang diterbitkan dan tersebar secara nasional) tentu saja memerlukan waktu lebih lama lagi, sehingga bobot EWMPnya harus lebih tinggi dari membuat diktat, atau dapat disetarakan dengan EWMP untuk buku ilmiah.

            Saya yakin sebagian besar dosen sangat mengharapkan revisi peraturan tentang EWMP, sehingga tidak merugikan para dosen.

About these ads

Actions

Information

2 responses

9 03 2012
des walantri

sy salut dengan ketelitian Anda ttg EWMP dosen. berarti penghargaan Anda thd dosen tinggi. Sekarang, yg membuang sy risau adalah PP no 53 tahun 2010 ttg disiplin PNS. berdasarkan PP tsb, dosen seperti PNS lainnya harus masuk kantor tiap hari, dr jam .30 s.d 15.30. sy ingin tahu, bagaimana menurut Anda?

14 03 2012
uripsantoso

Sdr Des W, kewajiban PNS memang harus masuk kantor setiap hari termasuk dosen. Di kantor inilah, aktivitas dapat dilakukan oleh dosen. Jika dosen harus keluar kota untuk penelitian, pengabdian atau tugas yang lain maka dapat diberi surat tugas, sehingga dosen resmi tugas luar kantor. Kalau kegiatan itu dalam kota, maka usahakan datang ke kantor untuk absen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: