Profil Universitas Bengkulu

11 06 2009

Universitas Bengkulu (Unib) yang merupakan salah satu dari ’50 Promising Indonesian Universities’ didirikan atas inisiatif dan kehendak masyarakat propinsi Bengkulu untuk meningkatkan kualitias sumberdaya manusia di propinsi Bengkulu yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI nomor 17 tahun 1982. Untuk memenuhi mandat yang diberikan kepada Unib, pengembangan universitas dilakukan dengan mengacu kepada visi dan misi yang tertera dalam Statuta Unib (Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 111/O/2004). Dalam mencapai visi insitusi dan menjalankan misi tersebut, pimpinan universitas dan fakultas melaksanakan program-program pengembangan universitas dengan mengacu kepada Rencana Strategis (Renstra) Unib 2006-2016 (Keputusan Rektor Unib nomor. 5997/2.30/HK/2006). Renstra ini merupakan penyempurnaan dari Renstra sebelumnya yang telah disesuaikan dengan dinamika perkembangan tuntuan terhadap peran perguruan tinggi dalam menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Komitmen Unib dalam upaya menjalankan fungsi tri dharma perguruan tinggi juga dilakukan dengan penetapan nilai-nilai masukan, nilai-nilai proses dan nilai-nilai keluaran yang harus dimiliki oleh setiap sivitas akademika dan tenaga kependidikan dalam Renstra 2006-2016. Nilai-nilai masukan tersebut adalah amanah, professional, antusias dan bermotivasi tinggi, bertanggungjawab, kreatif, disiplin, dan peduli. Sedangkan nilai-nilai proses yang ditetapkan adalah visioner dan berwawasan, menjadi teladan, memotivasi, mengilhami, memberdayakan, membudayakan, taat azas, koordinatif dan bersinergi dalam kerangka kerja tim, dan akuntabel. Nilai-nilai keluaran yang diharapkan agar dimiliki sumberdaya manusia dalam bekerja adalah produktif, suka akan mutu, dapat dipercaya, antisipatif dan inovatif, demokratis dan berkeadilan, dan pembelajar sepanjang hayat. Komitmen institusi juga ditunjukkan dengan menetapkan slogan universitas secara eksplisit di dalam Renstra, yakni “Conveying Better Future”. Slogan ini diharapkan mampu mendorong sivitas akademika dan tenaga kependidikan selalu berkomitmen untuk memberikan layanan yang terbaik untuk semua stakeholders-nya (terutama lulusan dan masyarakat pengguna lulusan), termasuk layanan internal untuk dosen dan karyawan. Dengan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki, Unib berkomitmen untuk mengantarkan lulusannya, stakeholders lainnya, dan ilmu pengetahuan untuk dapat berada dalam kondisi yang lebih baik, untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.

1. Visi, Misi dan Rencana Pengembangan Insititusi

 a. Visi

Sesuai Statuta, visi Unib adalah ‘menjadi salah satu universitas terdepan dalam pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang mendukung pembangunan berkelanjutan yang beretika dan bermoral dalam suatu sistem akademik yang demokratis dan didukung oleh fasilitas yang efisien, efektif dan terpadu serta memberikan pelayanan yang memuaskan’ b. Misi

Misi Unib adalah : 1. Menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk mencerdaskan dan memenuhi kebutuhan masyarakat 2. Meningkatkan suasana akademik yang lebih beretika, bermoral dan demokrati 3. Meningkatkan dan mengembangkan program-program akademik unggulan, kemitraan dengan dunia usaha 4. Meningkatkan kemampuan kompetensi lulusan melalui program-program akademik yang strategis, efektif, komprehensif dan relevan 5. Meningkatkan kualitas sivitas akademika

c. Rencana Pengembangan Institusi

Rencana pengembangan institusi Unib dituangkan dalam Rencana Strategis Universitas 2006-2016. Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa rencana pengembangan universitas dituangkan dalam 10 program pokok universitas, yaitu : 1. Peningkatan akses masyarakat 2. Peningkatan komitmen masyarakat 3. Peningkatan kualitas program akademik 4. Peningkatan kualitas penelitian dan publikasi 5. Peningkatan kualitas pengabdian pada masyarakat 6. Peningkatan softskills dan lifeskills mahasiswa 7. Peningkatan sistem informasi manajemen berbasis ICT 8. Percepatan UNIB menjadi PT-BHP melalui peningkatan otonomi pengelolaan sumberdaya manusia 9. Percepatan UNIB menjadi PT-BHP melalui peningkatan otonomi pengelolaan keuangan dan asset 10. Peningkatan brand image Universitas.

2. Keuangan (Sumber Dana dan Penggunaan Dana) Penerimaan pendanaan Universitas Bengkulu dari tahun 2005 hingga tahun 2007 meningkat, sedangkan pada tahun 2008 relatif tidak berubah. Sumber penerimaan tersebut berupa dana DIK (Rutin), Proyek (PKUPT) dan DIKS (PNBP). Sumber penerimaan PNBP ini berasal dari sumbangan mahasiswa, baik mahasiswa program S1, S2, D1, D2, dan D3, maupun program ekstensi. Sumbangan mahasiswa tersebut terdiri atas: a. Dana SPP dan Sumbangan, b. Dana Praktikum, Magang, PKL, dan KKN, c. Biaya Ujian, Laporan Akhir, Skripsi, dan Tesis, d. Biaya Bebas Pustaka, e. Biaya Yudisium, f. Biaya Wisuda, dan lain lain. Penerimaan dana Unib yang bersumber dari DIK selama tiga tahun terakhir (2006-2008) berjumlah Rp. 140.223.433.000, untuk Proyek berjumlah Rp 48.609.325.000 dan PNBP berjumlah Rp 89,639,458,000 (Lampiran 1a). Selain itu, terdapat sumber penerimaan berupa program hibah kompetisi (block grant) seperti: Program Semi Que, PHK A1, A2, A3, Due-like, Hibah SP-4, TPSDP, IMHERE, dan sumber-sumber lain yang relevan termasuk sumbangan atau bantuan pihak ketiga dan kerjasama-kerjasama yang dilakukan oleh universitas dan fakultas. Total dana yang diserap dari tahun 2006, 2007 dan 2008 masing-masing Rp. 9.287.866.575, Rp. 13.548.104.000, dan Rp. 6.221.404.725. Jumlah penerimaan dari kegiatan hibah kompetisi selama tahun 2006, 2007 dan 2008, masing-masing sebesar Rp 8,768.163.318,-, Rp 10.202.248.500,- dan Rp. 3.797.975.000,- . Penggunaan dana yang ada tersebut meliputi belanja pegawai, penyelenggaraan dan operasional perkantoran, penyelenggaraan dan operasional pendidikan, penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, program pengembangan dan kegiatan lainnya. Total semua komponen untuk tahun 2006 sebesar Rp. 57.871.870.212, tahun 2007, Rp. 89.716.826.171 dan tahun 2008 Rp 78.729.220.302.

3. Tingkat kematangan sistem informasi

Salah satu prioritas strategis yang ada dalam Renstra 2006-2016 adalah pengembangan Unib yaitu adanya penguatan sistem informasi Unib, yang merupakan suatu program Pengembangan sistem informasi manajemen (SIM) berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk kepentingan manajemen. SIM berbasis TIK, telah mulai diaplikasikan Unib sejak tahun 1994 berupa sistem informasi nasional (SINAS) yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI). SINAS tersebut terdiri dari beberapa subsistem, yang merupakan sistem transaksional untuk masing-masing area fungsional, yaitu : Sistem Informasi Akademik (SIAKAD), Keuangan (SIKEU), Kepegawaian (SIPEG), Sarana Prasarana (SINAPRA), Kemahasiswaan (SIMAWA), Perpustakaan (SIPERPUS), Kerjasama (SIKERSA), Penelitian (SIPEN), dan Pengabdian Pada Masyarakat (SIPEMAS) serta area fungsional Pimpinan (SIPIM). Sejalan dengan pengembangan Local Area Network (LAN) Unib yang telah memungkinkan semua unit/gedung di area kampus terhubung dalam backbone jaringan serat optic (fo) pada tahun 2000-2001, maka masing-masing Subsistem SINAS DIKTI dikelola oleh masing-masing unit fungsional yang terkait. Berdasarkan pada kinerja SINAS DIKTI dan perkembangan TIK yang sangat pesat, maka Unib sejak tahun 2006 menggagas SIM terpadu berbasis TIK , dengan sistem operasi under windows “web” . Gagasan tersebut menampakkan wujud nyata, karena UNIB menangkan program hibah kompetisi I-MHERE batch 1- sub component B.2.a., yang menitik beratkan pada pada penguatan tata kelola perguruan tinggi yang relevan dan efisien. Program tersebut akan melahirkan suatu sistem informasi tatakelola Unib berbasis TIK terpadu, dan untuk menjamin mutu tatakelola yang dimaksud, telah dibentuk Badan Penjaminan Mutu (BPM) Unib. Sistem Informasi Manajemen (SIM) terpadu berbasis TIK, yang akan dikembangkan meliputi SIM Akademik, Kepegawaian, Keuangan, dan Manajemen Aset. SIM tersebut diharapkan akan menghasilkan sejumlah informasi-data yang valid, aman dan mudah diakses. Informasi tersebut sangat bermanfaat untuk perencanaan dan pengembangan. Sejalan dengan hal tersebut Unib telah membentuk Badan Perencanaan dan Pengembangan Universitas (BPPU), yang dalam aktivitasnya selalu memanfaatkan informasi-data yang dihasilkan oleh SIM. Dukungan website http://www.unib.ac.id serta infra struktur TIK yang dimiliki Unib, seperti LAN yang telah memungkinkan koneksi ke semua area fungsional, aksesibilitas koneksi melalui jaringan kabel dan wireless-hotspot yang telah tersebar di semua gedung, fasilitas video conference dan pendukungnya, maka sistem informasi terpadu yang akan dikembangkan Unib akan menjadi lebih bermakna. Disamping itu, beberapa hibah Kompetisi berbasis TIK (K1 dan K2) yang dimenangkan Unib, penugasan Unib sebagai lembaga pendidikan pengembang telematika serta terpilihnya Unib sebagai salah satu simpul jaringan perguruan tinggi (INHERENT), maka sistem informasi – TIK Universitas Bengkulu semakin menunjukkan keberadaannya dalam era global. Layanan ICT untuk mahasiswa, dosen dan karyawan juga sudah dikembangkan di Unib, dimana akses dapat dilakukan dengan wired connections maupun dengan wireless connections. Pada bulan Mei 2008, Rektor sudah me-launching Unib sebagai Cyber Campus. Cakupan layanan wireless connections saat ini sudah mencapai 100 persen. Pengembangan ICT untuk dosen dan mahasiswa akan diarahkan pada upaya pengembangan pembelajaran berbasis web, yang merupakan pelengkap dari pembelajaran konvensional. Pada tahun 2008, aksesibilitas layanan untuk dosen, mahasiswa dan karyawan sudah mencapai 9000 pengguna. Untuk mendukung kualitas layanan ICT, Unib mendirikan gedung ICT seluas 970 m2 yang akan menjadi pusat pengendalian sistim informasi Unib dan pusat pelatihan bagi dosen dan mahasiswa dalam pemanfaatan ICT sebagai media pembelajaran.

4. Sumberdaya Manusia

Pada akhir tahun 2007, jumlah staf (dosen dan tenaga kependidikan) mencapai 1034 orang, dengan komposisi 700 orang staf dosen dan 373 orang tenaga kependidikan.

a. Berdasarkan usia

Dari 700 orang tenaga akademik di Unib sebanyak 93 orang (13,29%) berusia antara 20-30 tahun, sebanyak 135 orang (19,3%) berusia antara 31-40 tahun, sebanyak 74 orang (10,6%) berusia antara 41-45 tahun, sebanyak 286 orang (40,9%) berusia antara 46-50 tahun, sebanyak 88 orang (12,6%) berusia 51-55 tahun, sebanyak 17 orang (2,4%) berusia antara 56-60 dan lebih yang berusia dari 60 tahun sebanyak 7 orang (1%). Berdasarkan sebaran usia ini Unib perlu segera untuk menerima tenaga akademik dalam jumlah yang cukup banyak untuk mengantisipasi para tenaga akademik yang pensiun. Demikian juga dengan tenaga kependidikan. Dari 373 pegawai administrasi, sebanyak 38 orang (10,2%) berusia antara 15-30 tahun, sebanyak 74 orang (19,8%) berusia 31-40 tahun, sebanyak 120 orang (32,17%) berusia antara 41-45, sebanyak 109 orang (29,2%) berusia 46-50 tahun, sebanyak 31 orang (8,31%) berusia 51-55 tahun, dan sebanyak 1 orang (0,27%) berusia antara 56-60 tahun.

b. Berdasarkan bidang ilmu

Distribusi tenaga akademik berdasarkan sebaran bidang ilmu dapat dinilai cukup tersebar merata. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan memiliki 76 bidang ilmu yang relatif tersebar merata di semua bidang. Fakultas Hukum memiliki 16 bidang ilmu yang terbanyak tersebar pada bidang Ilmu Hukum (38,78%). Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik memiliki 33 bidang ilmu dengan sebaran terbanyak pada bidang IlmuKomunikasi (12,86%). Fakultas Pertanian memiliki 88 bidang ilmu yang hampir tersebar merata. Fakultas MIPA memiliki 25 bidang ilmu dengan sebaran terbanyak pada bidang Biologi (21,43%) dan selebihnya tersebar relatif merata. Namun demikian, untuk beberapa fakultas memiliki jumlah tenaga akademik yang terkonsentrasi pada salah satu jenis bidang ilmu. Fakultas Ekomomi memiliki 27 bidang ilmu dan sebaran paling banyak adalah bidang manajemen (22,62%) dan selebihnya tersebar relatif. merata. Fakultas Teknik memiliki 9 bidang ilmu dengan sebaran tertinggi pada bidang ilmu teknik sipil (28,16%). Hanya beberapa bidang ilmu yang jumlah tenaga akademiknya masih kurang seperti pada Fakultas Teknik, karena fakultas ini masih baru. Untuk tenaga kependidikan, mereka tersebar di beberapa unit seperti rektorat, masing-masing fakultas, dan lain-lain dan kesemuanya relatif tersebar merata menurut bidang ilmunya.

c. Berdasarkan kualifikasi pendidikan dan jabatan akademik

 Data per November 2008 menunjukkan bahwa, komposisi staf akademik yang berkualifikasi S3 mencapai 15,3 % (107 orang), dan dengan Master sebanyak 67 % (467 orang), sisanya (17.7 % atau 126) masih di jenjang Sarjana. Komposisi akan segera berubah di tahun 2009 yang akan datang, karena masih ada dosen yang sedang melanjutkan program Magister dan Doktor. Dari 700 orang dosen tersebut, sebanyak 20 orang belum ada jabatan (CPNS yang baru direkrut tahun 2007), sebanyak 18,9 % atau 132 orang menjabat sebagai Asisten Ahli, sebanyak 32.3% atau 233 orang menjabat sebagai Lektor, sebanyak 43.1 % atau 302 orang menjabat sebagai Lektor Kepala, dan sebanyak 1.9% atau 13 orang menjabat sebagai Guru Besar. Jumlah Guru Besar akan terus bertambah dengan rata-rata laju penambahan 1 persen per tahun, sehingga diharapkan dalam 6 (enam) tahun ke depan jumlah Guru Besar Unib mencapai 65 orang. Rasio dosen dengan mahasiswa di Unib dikategorikan baik (tahun 2008), yakni 700 orang dosen melayani 9203 orang mahasiswa, di luar Program Magister, karena di atas standar yang ditetapkan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi. Demikian juga dengan rasio tenaga kependidikan yang dimiliki Unib dianggap cukup ramping, karena dengan sejumlah 373 karyawan untuk melayani 9203 orang mahasiswa. Rasio dosen dan tenaga kependidikan terhadap jumlah mahasiswa yang baik ini merupakan peluang bagi Unib untuk memasuki era otonomi perguruan tinggi. e. Berdasarkan jenis kelamin Dari 700 tenaga akademik, jumlah tenaga akademik berjenis kelamin laki-laki berjumlah 466 orang (66,6 %) dan jumlah perempuan sebanyak 234 orang (33,4%). Untuk tenaga kependidikan, dari 373 orang yang ada, sebanyak 254 orang (68,1 %) berjenis kelamin laki-laki, dan sebanyak 119 orang (31,9%) berjenis kelamin perempuan.

5. Sumberdaya pembelajaran

a. Laboratorium dan Gedung Perkuliahan Untuk mendukung suasana akademik yang kondusif, Unib memiliki sarana dan prasarana penunjang yang memadai sebagai tempat proses transformasi dan dialetika insan akademis yang dibangun di atas lahan seluas lebih dari 170 ha (2008). Luas bangunan untuk menunjang visi dan misi Unib pada tahun 1984 luas bangunannya hanya sekitar 9.662 m2, namun pada tahun 2008, luas gedung perkuliahan, laboratorium, dan gedung lainnya sudah berkisar 88.061 m2. Kondisi yang sama terjadi pada fasilitas lainnya seperti jalan kampus yang semakin panjang sehingga mempermudah aksesbilitas di dalam kampus, kendaraan operasional untuk menunjang operasional, fasilitas mahasiswa yang semakin beragam untuk menunjang aktivitas pembelajaran. Luas gedung laboratoium di Unib saat ini mencapai 15.452 m2, studio seluas 96 m2, dan rumah kaca seluas 1.086 m2. Selain itu, Unib juga memiliki laboratoium kandang/lapangan peternakan seluas 331 m2. Untuk kepentingan praktek kerja lapangan, Unib juga memiliki lahan seluas 59 hektar lahan untuk stasiun percobaana pertanian yang merupakan bagian dari Taman Hutan Raya Rajolelo Bangkulu untuk kepentingan praktikum dan penelitian, yang kepemilikannya masih dalam proses penyelesaiaan. Untuk mendukung kegiatan praktikum dan penelitian, setiap laboratorium dilengkapi peralatan pendukung. Peralatan ini masih perlu ditambahkan agar layanan praktikum dapat meningkat. Perkuliahan untuk mahasiswa Sarjana dan Diploma diselenggarakan di ruangan kuliah seluas 13.705 m2, yangterutama tersebar di beberapa Gedung Kuliah Bersama (GKB). Dalam kondisi tertentu, untuk kepentingan pembelajaran, perkuliahan juga dilakukan secara di beberapa laboratorium. Manajemen pengelolaan Gedung Kuliah khusus pada Gedung Kuliah Bersama (GKB 1,GKB2 dan GKB3) dilaksanakan melalui sistem yang terpadu yaitu satu gedung kuliah digunakan oleh berbagai fakultas dan program studi secara bersama. Sistem ini selama ini mampu mengoptimalkan penggunaan gedung kuliah dan sekaligus bermanfaat untuk menciptakan persatuan dan iklim akademis antar program studi. Pada tahun 2009 yang akan datang, Unib akan menambah satu unit Gedung Kuliah Bersama (GKB) lagi seluas 3.000 m2. Perkuliahan untuk program Magister dilaksanakan di gedung yang terpisah, sebagai contoh program Magister Manajemen memiliki Gedung administrasi dan perkuliahan seluas 1.200 m2, Magister Manajemen Pendidikan memiliki gedung untuk adminsitrasi dan pembelajaran seluas 670 m2, Magister Ilmu Hukum dengan luas bangunan untuk adminsitrasi seluas 800 m2.

b. Perpustakaan

Untuk mendukung proses pembelajaran, Unib terus menerus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan untuk para mahasiswa, dosen dan pengguna lainnya. Jumlah koleksi buku teks di UPT Perpustakaan hingga November 2008 mencapai 13.799 judul berbahasa Indonesia dengan jumlah eksamplar sebanyak 52.962 eksamplar, dan buku asing sebanyak 7.304 judul dengan jumlah eksamplar sebanyak 19.348. Sedangkan untuk buku referensi berbhasa Indonesia sebanyak 3.120 judul dengan jumlah eksamplar sebanyak 10.964. Untuk buku referensi berbahasa asing berjumlah 1.659 judul dengan jumlah eksamplar sebanyak 4.333. Koleksi yang ada di UPT Perpustakaan juga meliputi laporan tugas akhir mahasiswa, disertasi, laporan penelitian dan laporan tugas akhir mahasiswa. Jumlah tersebut di atas tidak termasuk jumlah koleksi yang ada di ruang baca dan perpustakaan yang ada di fakultas-fakultas dan seluruh program pascasarjana. Setiap tahun Unib selalu menambah koleksi untuk perpustakaan, baik untuk di perpustakaan Universitas maupun yang ada di fakultas-fakultas. Kemutakhiran koleksi selalu dilakukan setiap tahun, baik melalui dana rutin, hibah kompetisi, atau sumbangan pihak lain yang tidak mengikat.  UPT Perpustakaan Unib memiliki luas bangunan 6.000 m2 (tiga lantai) mempunyai service hours 8 jam per hari dan ruang baca yang nyaman dan memenuhi persyaratan pencahayaan dan sirkulasi udara, koleksi/referensi bahan bacaan, mesin fotocopy, jaringan LAN, hot-spsots dan fasilitas peminjaman antar perpustakaan. Pencarian bahan bacaan di perpustakaan pusat (univeristas) dapat dilakukan secara elektronik melalui program LONTAR. Melalui program block grant IM-HERE, Unib sedang menyempurnakan sistem informasi manajemen perpustakaan agar dapat saling terkoneksi dengan seluruh Ruang Baca dan Perpustakaan di fakultas-fakultas dan seluruh program pascasarjana. Melalui program ini nantinya pengguna perpustakaan dapat mengakses ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan, memesan buku, mengecek expire date buku yang sedang dipinjam melalui internet. Rata-rata pengunjung perminggu perpustakaan universitas pada tahun 2006 dan 2007 adalah 2461 dan 4.344 orang dengan jumlah peminjaman buku per minggu, masing-masing sebanyak 1.028 dan 1.059 peminjaman perminggu. Jumlah ini tidak termasuk kunjungan dan transaksi yang terjadi di perpustakaann fakultas dan program pascasarjana.

6. Program studi

Untuk menjalankan misi Unib dalam rangka mencapai visi dan membangun keunggulan yang diinginkan, hingga tahun 2008, Unib menawarkan program-program studi melalui program Diploma (S0), Sarjana (S1), dan Pascasarjana (S2). Program-program tersebut tersebar di tujuh fakultas, yakni (1) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, (2) Fakultas Hukum, (3) Fakultas Ekonomi, (4) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, (5). Fakultas Pertanian, (6) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta (7) Fakultas Teknik. Jumlah program studi di lingkungan Unib terdiri dari 32 program studi Sarjana, 10 program studi Diploma, dan 6 program studi Pascasarjana S2. Beberapa program sarjana juga menawarkan program ekstensi, yang terdiri dari Ekstensi ekonomi Pembangunan, Ekstensi Manajemen, Ekstensi Akuntansi, Ekstensi Ilmu Hukum, dan Ekstensi Administrasi negara Upaya untuk mencapai pengakuan publik terhadap Unib juga dilakukan dengan ususlan akreditasi program studi kepada Badan Akreditasi Nasional-Pendidikan Tinggi (BAN-PT). Hasil akreditasi program studi hingga pertengahan 2008 menunjukkan bahwa semua program studi Sarjana yang telah diakreditasi oleh BAN-PT mendapatkan nilai A dan B. Program studi Ilmu Hukum, Manajemen, dan Pendidikan Bahasa Indoensia mendpatkan nilai A, sedangkan yang lainnya mendapat nilai B. Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan memiliki akreditasi B, sedangkan program Magister Manajemen masih dalam proses menunggu keputusan BAN-PT (reakreditasi) dan beberapa Program pasacasarjan yang lainnya masih dalam proses reakreditasi. Jumlah dan nomenklatur program studi di Unib pada tahun akademik 2009/2010 akan mengalami perubahan sesuai Sk Dikti no 163 tahun 2007.  Jumlah mahasiswa baru tahun 2008 adalah sebesar 2420 mahasiswa. Dari sejumlah tersebut, sebanyak 1568 orang sebagai mahasiswa reguler dan 852 non reguler. Jumlah mahasiswa Sarjana dan Diploma yanag terdaftar tahun 2008/2009 sebanyak 9.208 orang. Jumlah mahasiswa terbanyak untuk program reguler adalah adalah FKIP yang tersebar di 10 Program Studi dengan sebaran yang relatif merata, kemudian Fakultas Pertanian yang tersebar di 7 Program Studi dimana jumlah paling sedikit adalah pada program sstudi Ilmu Tanah dan program studi paling banyak jumlah mahasiswanya adalah Sosek. Jumlah mahasiswa terbanyak ketiga adalah FISIP yang tersebar merata di 4 program studi, kemudian Fakultas Ekonomi yang tersebar di 3 program studi, dengan program studi Manajemen yang terbanyak. Jumlah mahasiswa di FMIPA tersebar relatif merata di 4 program studi. Selanjutnya juga pada Fakultas Teknik tersebar secara merata di 4 program studi. Sedangkan di fakultas Hukum hanya ada satu program studi. Program studi yang menawarkan program ekstensi adalah program studi Ilmu Hukum, Manajemen, Studi Pembangunan, Pendidikan Fisika, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Kesejahteraan Sosial, Ilmu Administrasi Negara (Lampiran 10). Jumlah mahasiswa non reguler tidak tersebar merata, sesuai dengan daya tampung masing-masing program studi. Pada tahun 2008, ini program studi Akuntansi juga sudah menerima mahasiswa ekstensi. Jumlah mahasiswa baru pascasarjana pada tahun 2006, 2007, dan 2008, masing-masing sebanyak 260 orang, 380 orang dan 547 orang. Sedangkan jumlah mahasiswa pascasarjana yang terdaftar pada tahun 2006, 2007, dan 2008 masing-masing sebesar 473 orang, 755 orang, dan 1775 orang. Peningkatan jumlah dari tahun ke tahun, baik dari jumlah mahasiwa baru dan yang terdaftar terjadi karena adanya pertambahan jumlah program pascasarjana. Jumlah lulusan Unib pada tahun 2006 sebanyak 1.933 lulusan, pada tahun 2007 sebanyak 2.350 lulusan, dan tahun 2008 sebanyak 1.613 orang (tidak termasuk 1017 orang yang akan diwisuda tanggal 18 Desember yang akan datang. Distribusi lulusan per tahun, 2006, 2007, 2008 dari masing-masing perogram studi disajikan dalam Lampiran 12. Metode rekruitmen mahasiswa Sarjana yang dilakukan hingga tahun 2008 adalah melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Penelusuran Potensi Akademik dan Penelusuran Bakat dan Minat yang diperuntukkan bagi program reguler. Untuk program ekstensi dan diploma, dilakukan Ujian Masuk Unib (UM Unib). Untuk Program Diploma, pelaksanaannya tersentralisir di Universitas, tetapi program ekstensi didesentralisir di masing-masing fakultas. Pada tahun 2009 yang akan datang, Unib akan melakukan rekrutmen dengan jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Unib pada tahun 2009/2010 ini dengan tetap mempertimbangkan porsi SNMPTN paling banyak. Sedangkan metode rekruitmen mahasiswa pascasarjana dilakukan secara terdesentralisir di masing-masing fakultas dan program studi. Penetapan mahasiswa dilakukan oleh Rektor atas usul Dekan masing-masing program/fakultas. Unib belum memiliki mahasiswa asing, meskipun Unib merupakan salah satu dari 44 perguruan tinggi di Indonesia yang terdaftar untuk menerima mahasiswa asing melalui program Dharma Siswa. Namun demikian, justru saat ini 3 (tiga) mahasiswa Unib yang melalukan pertukaran mahasiswa dengan Radjamangala University of Srivijava Technology, Thailand. Sedangkan mahasiswa dari perguruan tinggi tersebut akan mengirimkan mahasiswanya pada bulan Maret 2009 yang akan datang.

7. Riset dan Publikasi dosen

Publikasi yang dilakukan selama tiga tahun terakhir (2006-2008) sebanyak 268 judul dengan rincian 58 buah (21,64%) judul buku, 162 buah (60,45%) jurnal nasional, 18 buah (6,7%) pada jurnal ilmiah internasional dan 30 buah (11,19%) merupakan artikel ilmiah populer. Data ini didasarkan pada banyaknya publikasi dan penerbitan yang diajukan untuk mendapatkan insentif dari pihak Unib. Ditengarai banyak dosen yang melakukan publikasi ilmiah, populer maupun buku tetapi belum atau tidak diajukan kepada Unib untuk mendapatkan insentif. Hal ini karena masing-masing dosen melakukan publikasi sendiri tanpa ada laporan ke pihak institusi. Jumlah HAKI /paten yang erdaftar hingga saat ini belum ada. Namun Unib berkomitmen utnuk mendorong agar peneliti dari Unib mampu menghasilkan HAKI/paten, salah satunya melalui penyediaan dana peneltian unggulan universitas masing-masing sebesar Rp. 50 juta per proposal, disamping dana penelitian untuk dosen muda lainnya. Pada tahun 2007, jumlah dana yang disediakan penelitian unggulan sebanyak 3 judul penelitian, dan pada tahun 2008 disediakan sebanyak 7 judul penelitian. Upaya lain adalah dengan melakukan penguatan kelembagaan yang mendorong munculnya HAKI/paten di Unib, melalui pembentukan Unit Transfer Teknologi dan HAKI. Jumlah dana untuk kegiatan penelitian dosen selama periode 2006 sampai 2008, masing-masing sebesar Rp. 1.863.271.400,-, Rp. 4.708.339.000,- dan Rp. 2.969.554.725,- . Jika dibandingkan dengan total anggaran Unib (Lampirn 1a), maka persentase per tahunnya adalah, masing-masing sebesar 2,9 persen, 4,4 persen dan 2,8 persen pad tahun 2008.

8. Tantangan dan Peluang

a. Persoalan Utama

Tiga persoalan utama yang dirasakan sangat perlu diregulasi adalah tata pamong universitas menuju good university governance, optimalisasi sumberdaya manusia (dosen dan karyawan) dan keleluasaan penggunaan dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Persoalan pertama. Upaya penerapan prinsip-prinsip manajemen profesional dan koporat dalam budaya sistem birokrasi pegawai negeri sipil bukanlah hal yang mudah untuk diterapkan. Salah satu pendekatan untuk menciptakan good university governance adalah dengan melakukan pengembangan sistem informasi manajemen dan ketersediaan data yang terpadu antara satu bidang dengan bidang lainnya. Sehingga decicion support systems dapat terbangun dengan menggunakan data yang baik dan juga pemenuhan permintaan data dari berbagai pihak dapat dilakukan dengan efisien. Upaya lain yang sudah dilakukan adalah mengembangkan berbagai prosedur operasional standar untuk semua jenis layanan, baik di tingkat Rektorat, fakultas, UPT, jurusan, maupun program studi. Upaya lain juga sedang dilakukan dengan memperkuat sistem perencanaan universitas dengan mengembangkan Badan Perencanaan dan Pengembangan Universitas (BPPU) agar perencanaan universitas lebih berbasiskan aktivitas. Keberadaan badan ini terus ditingkatkan fungsinya agar efisiensi penyelenggaraan program dapat dicapai dengan baik. Universitas juga mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi internal yang dipadukan dalam Satuan Pengendali Internal (SPI) untuk meningkatkan kepastian bahwa perencanaan prograam dapat diimplementasikan dengan baik. Persoalan kedua adalah dalam hal pengelolaan sumberdaya manusia. Persoalan yang sangat dikhawatirkan dalam hal sumberdaya manusia di Unib adalah pensiun secara massal dosen dan tenaga kependidikan. Usia sumberdaya dosen yang berada dalam kelompok kisaran 46-50 tahun yang mencapai 41%, sehingga dalam 20 tahun ke depan akan terjadi pensiun secara massal. Demikian juga dengan tenaga kependidikan, dimana 32 persen pada kelompok 41-45 tahun dan kelompok usia 46-50 tahun sejumlah 29 persen. Kesemuanya akan segera pensiun dalam waktu 5-10 tahun ke depan. Dengan sistem dan kebijakan rekruitmen pegawai negeri sipil yang ada saat ini, maka hal ini sangat tidak mungkin bagi Unib untuk dapat memberikan layanan akademis secara ideal di 20 tahun mendatang. Meskipun dari sisi jumlah sumberdaya manusia (dosen dan karyawan) yang ada saat ini cukup efisien dalam melayani jumlah mahasiwa yang ada, tetapi pengelolaan sumberdaya manusia dengan mengunakan berbagai aturan pemerintah dirasakan agak kurang fleksibel. Aturan kepegawaian dirasakan masih memberi peluang untuk dosen berkilah dan memanfaatkan kelemahan yang ada, sehingga masih ada dosen dapat bernaung dibalik azaz legalitas, misalkan keberadaan di kampus, pemecatan dosen, dan lain-lain. Demikian juga dengan upaya optimalisasi penggunaan sumberdaya tenaga kependidikan (karyawan dan teknisi). Sebagai contoh, jabatan Kepala Biro, yang jumlahnya sangat terbatas merupakan puncak promosi bagi banyak karyawan. Sistim dan aturan kepegawaian tidak memungkinkan untuk menjadikan seorang yang memiliki pangkat IV c untuk menjadi kepala bagian atau kepala sub-bagian, atau menjadi staf biasa. Hal ini membuat kesempatan promosi menjadi berkurang bagi yang lainnya. Dengan demikian, perlu melakukan deregulasi tentang sistem promosi tenaga kependidikan yang berbasiskan kinerja, bukan senioritas. Persoalan lain adalah masih terjadinya kesenjangan persepsi antara dosen (yang mendapatkan tugas tambahan, seperti Rektor dan Dekan) dengan tenaga kependidikan dalam prinsip-prinsip dan orientasi pengembangan dan pengelolaan lembaga pendidikan tinggi. Persoalan yang ketiga adalah keleluasaan Unib dalam penggunaan PNBP. Mekanisme dan izin penggunaan PNBP dirasakan sangat birokratis dan cenderung menunda pelaksanaan kegiatan yang sudah direncanakan. Dalam upaya memperbaiki sistem pengelolaan program, kegiatan dan anggaran perguruan tinggi yang lebih efisien, efektif, otonom, dan akuntabel ada beberpa hal yang perlu di-deregulasi. Misalkan, mengingat PNBP di perguruan tinggi negeri digunakan lebih banyak untuk membiayai operasional kegiatan pendidikan dan pengajaran yang harus berlangsung secara terus-menerus sepanjang tahun, maka penggunaan PNBP di perguruan tinggi negeri perlu diatur tersendiri dan tidak mengikuti mekanisme pembayaran dana APBN yang ada saat ini. Hal lain misalnya sebaiknya penggunaan PNBP sebaiknya tidak dibatasi dengan MAK secara kaku, sehingga luwes penggunaannya, paling tidak perguruan tinggi diberi kewenangan menentukan perubahan MAK yang diinginkan. Secara umum perguruan tinggi negeri perlu diberikan kewenangan secara otonom dalam pengelolaan PNBP dengan tetap menerapkan prinsip pengelolaan anggaran yang efisien, efektif, akuntabel, dan transparan. Untuk mengatasi persoalan ini, saat ini Unib sedang mengajukan ke Departemen Keuangan untuk mendapatkan status PTN yang merupakan Badan Layanan Umum (BLU). Diharapkan dengan status sebagai BLU , maka optimalisasi penggunaan PNBP universitas dapat ditingkatkan lagi.

b. Fokus pengembangan akademik

 Sesuai dengan mandat pendirian Unib, dan program unggulan Unib yang menitikberatkan pada upaya pengembangan sumberdaya alam & hutan tropis dan pengembangan wilayah pesisir, maka pengembangan program akademik diarahkan pada upaya untuk memenuhi kebutuhan lokal, regional dan nasional dengan memanfaatkan pengetahuan dan teknologi global. Upaya memberikan kontribusi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, regional dan nasional dilakukan dengan menawarkan berbagai program studi (baik diploma, sarjana, dan pascasarjana) yang dapat memenuhi kebutuhan dan dinamika kehidupan masyarakat lokal. Saat ini, Unib sedang mengajukan usulan pembukaan program studi manajemen sumberdaya perairan, program studi pendidikan jasmani dan kesehatan. Unib juga, bersama-sama dengan pemerintah daerah sedang mempersiapkan pembukaan program studi pendidikan dokter, dimana rekomendasi dari Kansil Kedokteran Indonesia sudah keluar, dan saat ini dalam proses penyiapan pengajuan izin penyelenggaraan ke Dirjen Dikti, Depdiknas. Sejalan dengan peningkatan keilmuan para dosen, Unib juga akan meningkatkan akses masyarakat untuk belajar pada jenjang pascasarjana, terutama program magister. Pengembangan program pascasarjana tidak hanya diharapkan untuk dapat memenuhi kebutuhan intelektual para dosen Unib semata, tetapi juga merupakan respon terhadap dinamika kebutuhan masyarakat akan tenaga-tenaga yang lebih profesional dan juga merupakan salah satu strategi dalam upaya meningkatan kualitas penyelenggaraan program sarjana yang dilakukan. Upaya pengembangan akademik di Unib juga dilakukan dengan mendorong tumbuhnya berbagai pusat studi dan peer groups agar dapat menghasilkan kualitas penelitian publikasi Program akademik yang berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan lokal, regional dan nasional adalah melalui penetapan unggulan penelitian Unib, yakni menitikberatkan pada upaya pengembangan sumberdaya alam & hutan tropis dan pengembangan wilayah pesisir. Dana riset unggulan universitas diberikan kepada dosen yang memenuhi kriteria untuk pengembangan sumberdaya alam & hutan tropis dan pengembangan wilayah pesisir. Demikian juga dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen, dan bahkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata mahasiswa, semuanya dirahkan pada upaya pengembangan sumberdaya alam & hutan tropis dan pengembangan wilayah pesisir. Pengembangan akademik juga dilakukan dengan mendorong tumbuhnya suasana akademik yang baik di Unib. Salah satu yang sedang dalam proses pengembangan dan sosialisasi adalah meningkatkan budaya penggunaan ICT sebagai salah satu media untuk mendapatkan informasi. Pada bulan Desember ini, semua kawasan kampus sudah tercakupi dengan layanan hot-spots. Unib juga memberikan pelatihan e-learning kepada para dosennya, sehingga ke depan e-learning akan menjadi suplemen bagi mahasiswa dalam pembelajarannya. Mahasiswa, dosen dan karyawan diberikan akses untuk itu, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

c. Harapan institusi 5 tahun ke depan

Untuk mencapai visi universitas ada beberapa harapan yang ingin dicapai oleh Unib dalam 5 tahun mendatang, sesuai dengan Renstra Unib 2006-2016, yakni peningkatan kapasitas dan moderenisasi, penguatan pelayanan, dan peningkatan daya saing regional. Ke-tiga orientasi tersebut harus dilaksanakan dalam prinsip good university governance agar Unib dapat lebih siap untuk menjadi perguruan tinggi yang berbadan hukum. Peningkatan Kapasitas dan Modernisasi Salah satu kendala dalam pemerataan pendidikan di Propinsi Bengkulu dan sekitarnya adalah cakupan geografisnya yang luas. Apalagi jika mengacu kepada era global maka diharapkan cakupan Unib bukan hanya diakses oleh masyarakat setempat, tetapi juga oleh masyarakat nasional maupun internasional. Hal ini memerlukan modernisasi pada sistem dan jaringan informasi menggunakan TIK yang memadai. Modernisasi dengan menggunakan TIK juga dapat meningkatkan sistem pengawasan pada implementasi program-program pendidikan. Dilengkapi dengan sistem informasi manajemen yang tangguh, tantangan untuk mewujudkan sistem tata kelola yang sehat, efisien, dan akuntabel akan lebih mudah tercapai. Citra Unib sebagai salah satu perguruan tinggi negeri akan meningkat baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Penguatan Pelayanan Strategi penguatan pelayanan ini merupakan peralihan penekanan dari pendidikan yang berorientasi aspek kuantitas kepada aspek kualitas. Penguatan pelayanan diharapkan akan memudahkan akses masyarakat baik lokal, nasional maupun internasional ke Unib dan meningkatkan akuntabilitas publik. Hal-hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan citra publik baik terhadap lulusan yang dihasilkan maupun pelayanan jasa lainnya, dan meningkatkan akses dan komitmen masyarakat terhadap Unib. Untuk itu, sasaran-sasaran pendukungnya antara lain implementasi dan operasi yang optimal terhadap tata nilai, mekanisme dan koordinasi kerja akan direstrukturisasi. Daya Saing Regional Salah satu elemen pada deklarasi visi pendidikan nasional tahun 2025 adalah kompetitif pada tingkatan global. Oleh karena itu, pada periode pengembangan Unib tahun 2015-2020 difokuskan pada kualitas pendidikan yang memiliki daya saing regional pada tingkat ASEAN terlebih dahulu. Standar mutu yang berkesinambungan pada periode ini diharapkan relevan dengan pasar regional ASEAN. Standar tersebut harus berdasarkan pada benchmarking yang obyektif dan realistis. Unib melalui sepuluh programnya akan terus meningkatkan daya saing. Untuk mencapai tujuan itu, maka peningkatan kualitas program akademik, penelitian dan pengembangan ilmu serta pengabdian kepada masyarakat akan menjadi prioritas utama. Semua kegiatan tersebut akan diarahkan untuk selalu menjembatani kebutuhan stakeholder di tingkat ASEAN.

9. Karateritisk institusi yang menonjol

a. Penjaminan Mutu

Unib sudah memiliki Lembaga Penjaminan Mutu Internal yang bernama Badan Penjaminan Mutu (BPM; SK Rektor No.1865/J30/HK/2008) dan sudah memiliki kebijakan (policy) resmi mengenai Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Badan ini merupakan penguatan dari Unit Penjaminan Mutu (UPM; SK Rektor No. 1620/J30/HK/2004), diangkat oleh Rektor dengan tugas: (a) Merencanakan, melaksanakan, dan mengembangkan sistem penjaminan mutu secara keseluruhan di Universitas Bengkulu; (b) Menyusun perangkat yang diperlukan dalam pelaksanaan sistem penjaminan mutu dan manajemen; (c). Melakukan monitoring, audit, dan evaluasi pelaksanaan sistem penjaminan mutu dan manajemen; (d). Menyiapkan sumberdaya manusia dalam pelaksanaan penjaminan mutu. Dalam 3 (tiga) tahun terakhir ini fokus utama BPM adalah pengembangan penjaminan mutu akademik. Hingga saat ini, BPM menghasilkan dokumen penjaminan mutu berupa: (a). Kebijakan Akademik, (b) Standar Akademik, (c). Peraturan Akademik, (d). Manual Mutu, dan (e) Manual Prosedur. Secara bertahap, BPM juga akan mengembangkan sistem penjaminan mutu selain bidang akademik, misalkan dalam hal sarana dan prasarana. Ke depan, implementasi SPMI harus tercemin dalam penyusunan Rencana Anggaran yang berbasi mutu. BPM sudah menjalankan Sistem Penjaminan Mutu Akademik dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan; Pertama, ditentukan standar dan disiapkan dokumen penjaminan mutu di tiap unit pejaminan mutu (dari fakultas hingga jurusan/program studi). Kedua, dilakukan audit mutu akademik internal (AMAI), yang pada saat ini baru berupa pilot project (baru 12 prodi dari 32 prodi S-1) dan telah adanya 30 orang Auditor dari pelatihan Auditor yang diselenggarakan. Ketiga, dilakukan perbaikan dengan penetapan standar baru berdasarkan evaluaasi hasil audit mutu akademik internal. Di tingkat Fakultas dibentuk Unit Penjaminan Mutu (UPM) Fakultas dengan yang dalam pelaksanaan tugasnya bertanggungjawab kepada Pembantu Dekan Bidang Akademik, dan menghasilkan (a). Kebijakan Akademik, (b) Standar Akademik, (c). Peraturan Akademik, (d). Manual Mutu, dan (e) Manual Prosedur di tingkat Fakutlas. UPM Fakultas melakukan audit akademik ke tiap program studi di lingkungan masing-masing. Di tingkat Jurusan/Progam Studi dibentuk Gugus Kendali Mutu (GKM), yang dipimpin oleh Ketua Jurusan/Ketua Prodi, dengan dokumen penjaminan mutu berupa: (a) Spesifikasi Program Studi, (b). Kompetensi Lulusan, (d) Peta Kurikulum, (d) EPSBED, dan (e) Program Pembelajaran (GBPP-SAP).

b. Satuan Pengawas Internal (SPI)

Unib juga membentuk Satuan Pengawas Internal (SPI; SK Rektor No. 2405/J30/KU/2008) yang bertugas : merencanakan kegiatan pengawasan, pengendalian, monitoring dan evaluasi internal secara komprehensif terhadap program, kegiatan dan anggaran di lingkungan Unib untuk disetujui Rektor. Pada saat ini, SPI sudah melakanakan tugasnya dengan menindaklanjuti temuan-temuan dari Irjen Diknas. Dalam pelaksanaan tugasnya, SPI juga dibekali dengan Panduan Monitoring dan Evaluasi Internal yang sudah disetujui oleh Senat Universitas.

c. Badan Perencanaan dan Pengembangan Universitas

Untuk membantu peningkatan kualitas perencanan yang berbasis aktivitas, Unib membentuk Badan Perencanaan dan Pengembangan Universitas (BPPU) sejak tahun 2006 yang merupakan ad hoc tim yang memperkuat Bagian Perencanaan Universitas. Tim ini juga membantu universitas dalam monitoring dan penguatan implementasi berbagai skema hibah kompetisi di berbagai jurusan dan program studi.

d. Penelitian unggulan universitas

Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dilakukan untuk memenuhi unggulan universitas sesuai dengan Renstra Unib 2006-2016, yakni pengembangan sumberdaya alam &hutan tropis dan pengembangan wilayah pesisir. Penjabaran unggulan ini didasarkan pada bidang penelitian dan pengabdian menjadi 1) Bidang Humaniora mengusung tema a) pemberdayaan masyarakat untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan b) pemberdayaan masyarakat untuk mewujudkan good governance dan pembangunan berkeadilan dan berkelanjutan. 2) Bidang Ilmu-ilmu Pertanian memiliki tema Pengelolaan dan pengembangan sumberdaya manusia, alam dan lingkungan tropis. 3) Bidang Teknik dan Rekayasa bertemakan pengembangan dan pengelolaan sumberdaya alam dan teknologi berwawasan lingkungan. 4) Bidang MIPA memiliki tema pengembangan, pengkajian dan pemodelan potensi sumberdaya alam lingkungan tropis. Sejak tahun 2007, hingga 2008, Unib secara bertahap terus meningkatkan alokasi dana untuk penelitian unggulan.

e. Cyber campus

Layanan ICT untuk mahasiswa, dosen dan karyawan juga sudah dikembangkan di Unib, dimana akses dapat dilakukan dengan wired connections maupun dengan wireless connections. Pada bulan Mei 2008, Rektor sudah me-launching Unib sebagai Cyber Campus. Cakupan akses wireless connections di kampus Unib sudah mencapai 100 persen. Pengembangan ICT untuk dosen dan mahasiswa akan diarahkan pada upaya pengembangan pembelajaran berbasis web, yang merupakan pelengkap dari pembelajaran konvensional. Pada tahun 2008, aksesibilitas layanan untuk dosen, mahasiswa dan karyawan sudah mencapai 9000 pengguna.

f. Program capacity building in financial management and in procurement Pada tahun 2007, Unib juga sudah menyampaikan program capacity building in financial management and in procurement, dokumen wajib yang harus disampaikan Unib untuk implementasi program I-MHERE komponen b.2a. Dokumen ini juga merupakan bagian dari komitmen Unib dalam upaya meningkatkan kualitas sistem pengelolaan universitas transparan dan akuntabel.

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: