PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK MERAIH ADIPURA

26 05 2009

 Oleh: Prof. ir. Urip Santoso, S.IKom., M.Sc., Ph.D

Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Bengkulu

 gallery8Pendahuluan

Kelestarian lingkungan hidup amat penting bagi kelangsungan hidup sehat di planet bumi ini. Namun pada kenyataannya, banyak orang yang tidak memahami hal ini. Buktinya mereka  merusak bumi ini. Akibat perbuatan oknum yang tidak bertanggungjawab ini telah banyak kita rasakan seperti banjir, kekeringan, longsor, pemcemaran dll. Kondisi ini diakibatkan oleh rusaknya hutan atau Ruang terbuka Hijau (RTH) sebagai penyimpan air dalam tanah. Rusaknya hutan juga mengakibatkan produksi oksigen berkurang serta sedikitnya gas beracun yang diserap serta sedikitnya debu yang tertangkap oleh tumbuh-tumbuhan.

Kondisi ini dapat kita pulihkan dengan memperbaiki dan menjaga kelestarian hutan serta membuat hijau di lingkungan sekitar kita baik di pemukiman, jalan-jalan, taman-taman dsb, sehingga ruang terbuka hijau (RTH) dapat dioptimalkan. Untuk kebutuhan yang minimal maka ruang terbuka hijau sebanyak 30%. Ruang terbuka hijau ini berguna sebagai penyaring udara, kebersihan lingkungan, penyediaan oksigen, rekreasi, penghijauan, menjaga keseimbangan ekosistem, penahan debu, menurunkan suhu lingkungan dsb. Di Malaysia dan Cina ruang terbuka hijaunya masing-masing sekitar 37% dan 35%. Bahkan di Jepang 60% dari wilayahnya berupa ruang terbuka hijau.
            Selain itu, untuk menjaga lingkungan agar tetap layak huni maka kebersihan lingkungan menjadi amat mendesak untuk dijaga dan ditingkatkan kualitasnya. Untuk keperluan tersebut, maka pada setiap lingkungan mikro seperti pertokoan, pasar, terminal, jalan, perumahan dll. perlu dilengkapi sarana dan prasarana kebersihan antara lain tempat sampah, tempat pembuangan sementara (TPS), pengangkutan sampah dari TPS ke tempat pembungan akhir (TPA), dan pemisahan dan pengolahan sampah. Selain itu, upaya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya RTH dan kebersihan perlu dilakukan secara berkesinambungan. Oleh karena karakteristik masyarakat Indonesia yang cenderung mencontoh para tokoh, maka contoh dari tokoh masyarakat tentang kebiasaan hijau dan bersih selayaknya digalakkan.

Untuk tujuan tersebut di atas maka pemerintah mengadakan suatu kegiatan yang disebut dengan Adipura. Adipura ini berakhir pada tahun 1997 sejalan dengan berakhirnya pemerintah Orde Baru. Sejak itu, kualitas lingkungan di berbagai daerah menjadi menurun, sehingga pada tahun 2002 atas prakarsa Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) diadakan kegiatan Bangunpraja. Pendekatan kegiatan ini bersifat sukarela, artinya bagi kota diberi kebebasan untuk berpartisipasi atau tidak. Kemudian sejak tahun 2005/2006 program Bangunpraja diganti menjadi Adipura kembali dengan wajah yang baru dari Adipura pada era Orde Baru. Setiap kota yang memenuhi syarat wajib mengikuti kegiatan Adipura. Penilaian Adipura dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama dilakukan pada bulan antara September-Oktober, tahap kedua antara bulan Februari-Maret, dan jika lolos dalam tahap kedua kota tersebut masuk dalam tahap verifikasi yang dilakukan antara bulan April-Mei.

A. Strategi Pengendalian Lingkungan Sesuai Kriteria Adipura

            Tujuan utama Adipura adalah membangun kota yang bersih dan hijau (clean and green city). Oleh karena itu, strategi pengendalian lingkungan dalam rangka meraih adipura harus diarahkan kepada tercapainya clean and green city. Jadi ada dua strategi yang harus dilakukan oleh kota atau kabupaten yaitu: 1) mengelola sampah yang dihasilkan; 2) mengelola RTH.

A. 1. Mengelola Sampah

Sampah merupakan konsekuwensi dari adanya aktivitas manusia. Sejalan dengan peningkatan penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (Bapedalda, 2000). Selain Jakarta, jumlah sampah yang cukup besar terjadi di Medan dan Bandung.

            Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia (di TPA) merupakan sampah organik sebesar 60-70% yang mudah terurai. Sampah organic akan terdekomposisi dan dengan adanya limpasan air hujan terbentuk lindi (air sampah) yang akan mencemari sumber daya air baik air tanah maupun permukaan sehingga mungkin saja sumur-sumur penduduk di sekitarnya ikut tercemar.  Lindi yang terbentuk dapat mengandung bibit penyakit pathogen seperti tipus, hepatitis dan lain-lain. Selain itu ada kemungkinan lindi  mengandung logam berat, suatu  salah satu bahan beracun. Jika sampah-sampah tersebut tidak diolah, maka selain menghasilkan tingkat pencemaran yang tinggi juga memerlukan areal TPA yang luas.

            Untuk mengatasi hal tersebut, sangat membantu jika pengolahan sampah dilakukan terdesentralisasi. Pada prinsipnya pengelolaan sampah  haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Selama ini pengelolaan persampahan terutama di perkotaan tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sampah terpusat. Pengolahan sampah terdesentralisasi dapat dilakukan di setiap RT atau RW, dengan cara mengubah sampah menjadi kompos. Dengan cara ini volume sampah  yang diangkut ke TPA dapat dikurangi.

A. 1.1. Akibat Sampah yang Bertumpuk

            Sampah perkotaan adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari bahan organic dan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan, yang timbul di kota.

  1. Lingkungan menjadi terlihat kumuh, kotor dan jorok yang menjadi tempat berkembangnya organisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan manusia, merupakan sarang lalat, tikus dan hewan liar lainnya. Dengan demikian sampah berpotensi sebagai sumber penyebaran penyakit.
  2. Sampah yang membusuk menimbulkan bau yang tidak sedap dan berbahaya bagi kesehatan. Air yang dikeluarkan (lindi) juga dapat menimbulkan pencemaran sumur, sungai maupun air tanah.
  3. Sampah yang tercecer tidak pada tempatnya dapat menyumbat saluran drainase sehingga dapat menimbulkan bahaya banjir.
  4. Pengumpulan sampah dalam jumlah besar memerlukan tempat yang luas, tertutup dan jauh dari pemukiman.

Berdasarkan uraian tersebut pengelolaan sampah tidak cukup hanya dilakukan dengan manajemen 3P (Pengumpulan, Pengangkutan dan Penimbunan di TPA). Sampah dikumpulkan dari sumbernya kemudian diangkut ke TPS dan terakhir ditimbun di TPA, tetapi reduksi sampah dengan mengolah sampah untuk dimanfaatlkan menjadi produk yang berguna perlu dipikirkan.

            Faktor-faktor yang mempengaruhi system pengelolan sampah perkotaan, antara lain:

1)      Kepadatan dan penyebaran penduduk.

2)      Karakteristik fisik lingkungan dan sosial ekonomi.

3)      Karakteristik sampah.

4)      Budaya sikap dan perilaku masyarakat.

5)      Jarak dari sumber sampah ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA).

6)      Rencana tata ruang dan pengembangan kota.

7)      Sarana pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan TPA.

      Biaya yang tersedia.

9)      Peraturan daerah setempat.

A. 1. 2. Paradigma Penanganan Sampah

            Penumpukkan sampah di TPA adalah akibat hampir semua pemerintah daerah di Indonesia masih menganut paradigma lama penanganan sampah kota, yang menitikberatkan hanya pada pengangkutan dan pembuangan akhir. TPA dengan system lahan urug saniter yang ramah lingkungan ternyata tidak ramah dalam aspek pembiayaan, karena pembutuhkan biaya tinggi untuk investasi, konstruksi, operasi dan pemeliharaan.

            Untuk mengatasi  permasalahan tersebut, sudah saatnya pemerintah daerah mengubah pola pikir yang lebih bernuansa lingkungan. Konsep pengelolaan sampah yang terpadu sudah saatnya diterapkan, yaitu dengan meminimisasi sampah serta maksimasi daur ulang dan pengomposan disertai TPA yang ramah lingkungan. Paradigma baru penanganan sampah lebih merupakan satu siklus yang sejalan dengan konsep ekologi. Energi baru yang dihasilkan dari hasil penguraian sampah maupun proses daur ulang dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.

Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu tersebut setidaknya mengkombinasikan pendekatan pengurangan sumber sampah, daur ulang & guna ulang, pengkomposan, insinerasi dan pembuangan akhir. pengurangan sumber sampah untuk industri berarti perlunya teknologi proses yang nirlimbah serta packing produk yang ringkas/ minim serta ramah lingkungan. Sedangkan bagi rumah tangga berarti menanamkan kebiasaan untuk tidak boros dalam penggunaan  barang-barang keseharian. Untuk pendekatan daur ulang dan guna ulang diterapkan khususnya pada sampah non organik seperti kertas, plastik, alumunium, gelas, logam dan lain-lain. Sementara untuk sampah organik diolah, salah satunya dengan pengkomposan.

A. 1. 3. Manfaat Sampah

            Sampah yang tampak tidak berguna sebesarnya masih banyak manfaatnya seperti dapat dibuat biogas, briket, pakan ternak, kompos, pupuk, dan  dapat didaur-ulang bagi sampah anorganik.

            Dalam sampah dan kotoran sungai ditemukan bakteri  yang dapat menghasilkan vitamin B12 yang samajenisnya  dengan vitamin B12 yang dihasilkan oleh hewan. Yang paling aktif dapat memfermentasikan sampah dan kotoran sungai sehingga dihasilkan vitamin B12 adalah bakteri-bakteri yang termasuk Streptomyces. Kadar vitamin B12 dalam sampah dan kotoran sungai berkisar 4,2 – 8,2 µg untuk setiap satu gram berat kering. Diperkirakan dari 26.000 ton sampah dan kotoran sungai akan dihasilkan 465 vitamin B12. Pemberian sampah dan kotoran sungai sebesar 2% pada ternak, ternyata mampu meningkatkan berat badan ternak. Sampah dan kotoran sungai mengandung senyawa organic 40-85%, mineral 15-70%, nitrogen 1-10%, fosfat 1-4,5% dan kalium 0,1-4,5%. Sampah rumah tangga, sampah restoran, kertas, kotoran ternak, limbah pertanian dan industri yang bersifat sampah organic semuanya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

            Dengan pengolahan sampah menjadi bahan-bahan yang berguna akan memberikan keuntungan selain meningkatkan efisiensi produksi dan keuntungan ekonomi bagi pengolah sampah, juga dapat mengurangi biaya pengangkutkan ke pembungan akhir (TPA) dan mengurangi biaya pembuangan akhir, menghemat sumber daya alam, menghemat energi, mengurangi uang belanja, menghemat lahan TPA dan lingkungan asri (bersih, sehat, nyaman).

A. 1. 4. Penanganan Sampah 3-R, 4-R dan 5-R

            Pemikiran konsep zero waste adalah pendekatan serta penerapan sistem dan teknologi pengolahan sampah perkotaan skala kawasan secara terpadu dengan sasaran untuk melakukan penanganan sampah perkotaan skala kawasan sehingga dapat mengurangi volume sampah sesedikit mungkin, serta terciptanya industri kecil daur ulang yang dikelola oleh masyarakat atau pemerintah daerah setempat.

Konsep zero waste yaitu penerapan rinsip 3R (Reduce, Reuse, dan recycle), serta prinsip pengolahan sedekat mungkin dengan sumber sampah dengan maksud untuk mengurangi beban pengangkutan (transport cost). Orientasi penanganan sampah dengan konsep zero waste diantaranya meliputi :

1. Sistem pengolahan sampah secara terpadu

2. Teknologi pengomposan

3. Daur ulang sampah plastik dan kertas

4. Teknologi pembakaran sampah dan insenator

5. Teknologi pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak

6. Teknologi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah

7. Peran serta masyarakat dalam penanganan sampah

8. Pengolahan sampah kota metropolitan

9. Peluang dan tantangan usaha daur ulang.
Pengertian Zero Waste adalah bahwa mulai dari produksi sampai berakhirnya suatu proses produksi dapat dihindari terjadi “produksi sampah” atau diminimalisir terjadinya “sampah”. Konsep Zero Waste ini salah satunya dengan menerapkan prinsip 3 R (Reduce, Reuse, Recycle).

Produksi bersih merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologi. Prinsip ini juga dapat diterapkan pada berbagai aktivitas termasuk juga kegiatan  skala rumah tangga.

            Prinsip-prinsip yang dapat diterapkan dalam penangan sampah misalnya dengan menerapkan prinsip 3-R, 4-R atau 5-R. Penanganan sampah 3-R adalah konsep penanganan sampah dengan cara reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur-ulang sampah), sedangkan 4-R ditambah replace (mengganti) mulai dari sumbernya. Prinsip 5-R  selain 4 prinsip tersebut di atas ditambah lagi dengan  replant (menanam kembali). Penanganan sampah 4-R sangat penting untuk dilaksanakan dalam rangka pengelolaan sampah padat perkotaan yang efisien dan efektif, sehingga diharapkan dapat mengrangi biaya pengelolaan sampah.

            Prinsip reduce dilakukan dengan cara sebisa mungkin lakukan minimisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.

            Prinsip reuse dilakukan dengan cara sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang sekali pakai. Hal ini dapat memeperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.

            Prinsip recycle dilakukan dengan cara sebisa mungkin, barang-barang yang  sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang  bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.

            Prinsip replace dilakukan dengan cara teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga teliti agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan Styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa diurai secara alami.

            Prinsip replant dapat dilakukan dengan cara membuat hijau lingkungan sekitar baik lingkungan rumah,  perkantoran, pertokoan, lahan kosong dan lain-lain. Penanaman kembali ini sebagian menggunakan barang atau bahan yang diolah dari sampah.

Tabel 1. Upaya 5-R di Daerah Perumahan dan Fasilitas Sosial

Penanganan 5-R

Cara Pengerjaannya

Reduce -         Hindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar.-         Gunakan produk yang dapat diisi ulang.-         Kurangi penggunaan bahan sekali pakai-         Jual atau berikan sampah yang telah terpisah kepada pihak yang memerlukan.
Reuse -         Gunakan kembali wadah/kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya.-         Gunakan wadah/kantong yang dapat digunakan berulang-ulang.-         Gunakan baterai yang dapat diisi kembali.-         Kembangkan manfaat lain dari sampah.
Recycle -         Pilih produk dan kemasan yang dapat didaur-ulang dan mudah terurai.-         Lakukan penangan untuk sampah organic menjadi kompos dengan berbagai cara yang telah ada atau manfaatkan sesuai dengan kreatifitas masing-masing.-         Lakukan penanganan sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat.
Replace -         Ganti barang-barang yang kurang ramah lingkungan dengan yang ramah lingkungan.-         Ganti pembungkus plastik dengan pembungkus yang lebih bersahabat dengan lingkungan.-         Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama.
Replant - Buat hijau dan teduh lingkungan anda,  dan gunakan bahan/barang yang dibuat dari sampah.

 

Tabel 2. Upaya 5-R di Daerah Fasilitas Umum

Penanganan 5-R

Cara Pengerjaannya

Reduce -         Gunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi.-         Gunakan alat tulis yang dapat diisi kembali.-         Sediakan jaringan informasi dengan computer.-         Maksimumkan penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali.-         Khusus untuk rumah sakit, gunakan incinerator untuk sampah medis.-         Gunakan produk yang dapat diisi ulang.

-         Kurangi penggunaan bahan sekali pakai.

Reuse -         Gunakan alat kantor yang dapat digunakan berulang-ulang.-         Gunakan peralatan penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali.
Recycle -         Olah sampah kertas menjadi kertas kembali.-         Olah sampah organic menjadi kompos.
Replace -         Gantilah barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. 
Replant - Buat hijau dan teduh lingkungan anda,  dan gunakan bahan/barang yang dibuat dari sampah.

 

Tabel 3. Upaya 5-R di Daerah Komersial (Pasar, Pertkoan, Restoran, Hotel)

Penanganan 5-R

Cara Pengerjaannya

Reduce -         Berikan insentif oleh produsen bagi pembeli yang mengembalikan kemasan yang dapat digunakan kembali.-         Berikan tambahan biaya bagi pembeli yang meminta kemasan/bungkusan untuk produk yang dibelinya.-         Memberikan kemasan/bungkusan hanya pada produk  yang benar-benar memerlukan.-         Sediakan produk yang kemasannya tidak menghasilkan sampah dalam jumlah besar.-         Kenakan biaya tambahan untuk permintaan kantong plastic belanjaan.-         Jual atau berikan sampah yang telah terpilah kepada yang memerlukannya.
Reuse -         Gunakan kembali sampah yang masih dapat dimanfaatkan untuk produk lain, seperti pakan ternak.-         Berikan insentif bagi konsumen yang membawa wadah sendiri, atau wadah belanjaan yang diproduksi oleh swalayan yang bersangkutan sebagai bukti pelanggan setia.-         Sediakan perlengkapan untuk pengisian kembali produk umum isi ulang.
Recycle -         Jual produk-produk hasil daur ulang sampah dengan lebih menarik.-         Berilah insentif kepada masyarakat yang membeli barang hasil daur ulang sampah.-         Oleh kembali buangan dari proses yang dilakukan sehingga bermanfaat bagi proses lainnya.-         Lakukan penanganan sampah organic menjadi kompos atau memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan.-         Lakukan penanganan sampah anorganik.
Replace -         Ganti barang-barang yang kurang ramah lingkungan dengan yang ramah lingkungan.-         Ganti pembungkus plastik dengan pembungkus yang lebih bersahabat dengan lingkungan.
Replant - Buat hijau dan teduh lingkungan anda,  dan gunakan bahan/barang yang dibuat dari sampah.

A. 1. 5. Pemilahan Sampah

            Berdasarkan uraian tentang 3-R, 4-R atau 5-R tersebut, maka pemilahan sampah menjadi sangat penting artinya. Adalah tidak efisien jika pemilahan dilakukan di TPA, karena ini akan memerlukan sarana dan prasarana yang mahal. Oleh sebab itu, pemilahan harus dilakukan di sumber sampah seperti perumahan, sekolah, kantor, puskesmas, rumah sakit, pasar, terminal dan tempat-tempat dimana manusia beraktivitas. Mengapa perlu pemilahan? Sesungguhnya kunci keberhasilan program daur ulang adalah justru di pemilahan awal. Pemilahan berarti upaya untuk memisahkan sekumpulan dari “sesuatu” yang sifatnya heterogen menurut jenis atau kelompoknya sehingga menjadi beberapa golongan yang sifatnya homogen. Manajemen Pemilahan Sampah dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan penanganan sampah sejak dari sumbernya dengan memanfaatkan penggunaan sumber daya secara efektif yang diawali dari pewadahan, pengumpulanan, pengangkutan, pengolahan, hingga pembuangan, melalui pengendalian pengelolaan organisasi yang berwawasan lingkungan, sehingga dapat mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan yaitu.lingkungan bebas sampah.

            Pada setiap tempat aktivitas dapat disediakan empat buah tempat sampah yang diberi kode, yaitu satu tempat sampah untuk sampah yang bisa  diurai oleh mikrobia (sampah organik), satu tempat sampah untuk sampah plastik atau yang sejenis, satu tempat sampah untuk kaleng, dan satu tempat sampah untuk botol. Malah bisa jadi menjadi lima tempat sampah, jika kertas dipisah tersendiri. Untuk sampah-sampah B3 tentunya memerlukan penanganan tersendiri. Sampah jenis ini tidak boleh sampai ke TPA. Sementara sampah-sampah elektronik  (seperti kulkas, radio, TV), keramik, furniture  dll. ditangani secara tersendiri pula. Jadwal pengangkutan sampah jenis ini perlu diatur, misalnya pembuangan sampah-sampah tersebut ditentukan setiap 3 bulan  sekali.

Di Australia, misalnya, sistem pengelolaan sampah juga menerapkan model pemilahan antara sampah organik dan sampah anorganik. Setiap rumah tangga memiliki tiga keranjang sampah untuk tiga jenis sampah yang berbeda. Satu untuk sampah kering (an-organik), satu untuk bekas makanan, dan satu lagi untuk sisa-sisa tanaman/rumput. Ketiga jenis sampah itu akan diangkut oleh tiga truk berbeda yang memiliki jadwal berbeda pula. Setiap truk hanya akan mengambil jenis sampah yang menjadi tugasnya. Sehingga pemilahan sampah tidak berhenti pada level rumah tangga saja, tapi terus berlanjut pada rantai berikutnya, bahkan sampai pada TPA.

            Nah, sampah-sampah yang telah dipilah inilah yang kemudian dapat didaur ulang menjadi barang-barang yang berguna. Jika pada setiap tempat aktivitas melakukan pemilahan, maka pengangkutan sampah menjadi lebih teratur. Dinas kebersihan tinggal mengangkutnya setiap hari dan tidak lagi kesulitan untuk memilahnya. Pemerintah Daerah bekerjasama dengan swasta dapat memproses sampah-sampah tersebut menjadi barang yang berguna. Dengan cara ini, maka volume sampah yang sampai ke TPA dapat dikurangi sebanyak mungkin.

A. 1. 6. Pemanfaatan sampah

            Teknik-teknik pemrosesan dan pengolahan sampah yang secara luas diterapkan di lapangan, khususnya di negara industri antara lain adalah:

- Pemilahan sampah, baik secara manual maupun secara mekanis berdasarkan
   jenisnya

- Pemadatan sampah (baling)

- Pemotongan sampah

- Pengomposan sampah baik dengan cara konvensional maupun dengan
   rekayasa

- Pemrosesan sampah sebagai sumber gas-bio

- Pembakaran dalam Insenerator, dengan pilihan pemanfaatan enersi panas

Sampah basah dapat dibuat kompos, pupuk dan pakan ternak, sampah kering dapat dipakai kembali dan didaur ulang, dan sampah kertas didaur ulang dan pakan ternak.

Daur ulang

            Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk bekas pakai.

            Material yang dapat didaur ulang antara lain botol bekas wadah kecap, saos, sirup, creamer dll., kertas, aluminium bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan kue dll., besi bekas, plastic bekas wadah shampoo, air mineral, jerigen, ember dll., sampah basah dapat diolah menjadi kompos.

            Daur ulang bisa menggunakan prinsip 2 R yaitu reuse dan recycle.

Menggunakan kembali: barang-barang yang dianggap sampah karena sifat dan karakteristiknya dapat dimanfaatkan kembali tanpa melalui proses produksi. Sementara mendaur-ulang sampah didaur ulang untuk dijadikan bahan baku industri dalam proses produksi. Dalam proses ini, sampah sudah mengalami perubahan baik bentuk maupun fungsinya.

            Sampah organik  dapat didaur ulang menjadi produk-produk berguna seperti kompos, pupuk kandang, briket dan biogas.

 

Tabel 4. Beberapa sampah yang dapat dijual

No. Jenis barang Harga/kg
123456

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

Gelas aquaKaleng oliEmber biasaKaset, botol yakult, botol kecapEmber hitam (anti pecah)Botol aqua

Putian (botol bayclin, infuse)

Kardus

Kertas putih

Majalah

Koran

Duplek (kardus tipis)

Pembungkus semen

Besi beton

Besi super

Besi pipa

Tembaga super

Tembaga baker

Aluinium tebal

Aluminium tipis

Botol air besar

Botol bir kecil, sprite, fanta.

160015001100150800700

1600

500

700

350

500

150

400

700

450

250

8000

7000

6000

4000

400

200

 

Proses Pembuatan Kompos Dengan Aktivator EM-4

            Kompos merupakan hasil fermentasi dari bahan-bahan organik sehingga berubah bentuk, berwarna kehitam-hitaman dan tidak berbau. Pengomposan merupakan proses penguraian bahan-bahan organik dalam suhu yang tinggi sehingga mikroorganisme dapat aktif menguraikan bahan-bahan organik sehingga dapat dihasilkan bahan yang dapat digunakan tanah tanpa merugikan lingkungan.

Proses pembuatan kompos adalah dengan menggunakan aktivator EM-4, yaitu proses pengkomposan dengan menggunakan bahan tambahan berupa mikroorganisme dalam media cair yang berfungsi untuk mempercepat pengkomposan dan memperkaya mikroba. Bahan-bahan yang digunakan adalah : Bahan Baku Utama berupa sampah organik, Kotoran Ternak, EM4, Molase dan Air. Sedangkan peralatan yang digunakan adalah : Sekop, Cakar, Gembor, Keranjang, Termometer, Alat pencacah, Mesin giling kompos dan Ayakan. Tahapan pembuatan kompos dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Pemilahan Sampah

Sampah yang dikumpulkan di TPA pada umumnya bercampur antara bahan-bahan organik maupun non organik sehingga pemilahan perlu dilakukan secara teliti untuk mendapatkan bahan organik yang dapat dikomposkan seperti dauan-daunan, sisa makanan, sayuran dan buah-buahan.

              2. Pencacahan

Sampah organik yang telah terkumpul dicacah dengan ukuran 3-4 cm. Pencacahan dilakukan untuk mempercepat proses pembusukan karena pencampuran dengan bahan baku yang lain seperti kotoran ternak dan EM-4 menjadi rata sehingga mikroorganisme akan bekerja serana efektif dalam proses fermentasi.

             3. Pencampuran Bahan Baku

Sampah yang sudah dicacah dideder di tempat yang telah disediakan kemudian dicampur dengan kotoran ternak. Pencampuran/pengadukan dilakukan secara merata kemudian dicampurkan pula campuran EM-4, molase dan air di atas campuran sampah dan kotoran ternak. Pencampuran dilakukan sekali lagi agar seluruh bahan bercampur secara merata. Komposisi bahan-bahan ini adalah sampah cacahan (1,3 m-3), EM-4 (375 ml), kotoran ternak kering (1/5 dari sampah cacahan).

            4. Penumpukan Bahan Baku

Setelah dilakukan pencampuran secara merata kemudian dilakukan penumpukan dengan ketentuan tinggi 1,5 m, lebar 1,75 m dan panjang 2 m. Penumpukan dapat dilakukan dengan model trapesium, gunungan maupu pesesgi panjang. Dalam tumpukan inilah terjadi proses fermentasi sampah organik menjadi kompos.

           5. Pemantauan

Dalam masa penumpukan akan terjadi peningkatan suhu sebagai akibat proses fermentasi. Untuk hari pertama sampai kelima suhu biasanya mencapai 65° C atau lebih. Hal ini berguna untuk membunuh bakteri yang tidak dibutuhkan dan melunakkan bahan. Pada hari keenam dan seterusnya suhu dijaga antara 40-50° C dengan kelembaban lebih kurang 50 %. Suhu dan kelembaban dapat dipertahankan dengan perlakuan antara lain penyiraman dan pembalikan tumpukan.

           6. Pematangan

Pengkomposan berjalan dengan baik dengan suhu rata-rata dalam bahan menurun dan bahan telah lapuk dan berubah warna menjadi coklat kehitaman. Tujuan pematangan untuk menjamin kompos benar-benar aman bagi konsumen.

           7. Pengeringan

Setelah usia tumpukan mencapai usia 21 hari/3 minggu, maka sampah organi sudah menjadi kompos. Selanjutnya dilakukan pembongkaran untuk dikeringkan/dijemur. Pengeringan dapat dilakukan selama lebih kurang 1 minggu sampai kadar air kira-kira mencapai 20-25%.

           8. Penggilingan dan Pengayakan

Proses selanjutnya adalah dilakukan penggilingan terhadap kompos yang sudah kering. Untuk mendapatkan butiran-butiran kompos yang siap untuk dikemas dilakukan pengayakan sesuai dengan kebutuhan.

Produksi Kompos

Adapun Komposisi/kandungan produksi kompos UPTD Komposting berdasarkan hasil uji laboratorium Universitas Airlangga Surabaya adalah sebagai berikut : Kadar Air : 30,48%, PH : 9,17, N : 0,84 %, P : 0,56 %, C : 15,64 % dan C/N Ratio : 18,62.

 

Pengomposan skala rumah tangga

Bahan: sampah organic, dedak, sekam, EM4, molase dan air.

Cara pembuatan:

  1. buat larutan fermentasi EM4 yaitu dengan perbandingan 1:1:1000 ml, aduk rata dan diamkan selama semalam untuk diaktifkan.
  2. Buat bokashi starter yang terdiri dari dedak dan sekam dengan perbandingan 9:1.
  3. Siramkan larutan fermentasi EM4 yang telah didiamkan selama semalam ke dalam sekam, aduk hingga tercampur merata, tambahkan dedak dan aduk kembali hingga merata. Masukkan ke dalam karung dan tutup rapat, fermentasi selama 2-3 hari.
  4. Sampah organic yang akan digunakan, terlebih dahulu dipisahkan dari anorganiknya. Setelah itu dicacah hingga lebih kecil ukurannya. Bila sampah basah lebih baik diangin-anginkan dahulu.
  5. Setelah itu sampah tersebut dicampurkan dengan bokashi starter dan aduk hingga rata, hingga kelembaban mencapai 30%.
  6. Sampah kemudian ditumpuk atau digundukan di atas lantai yang kering dengan ketinggian 20-25 cm, kemudian ditutup dengan karung goni selama 4-5 hari.
  7. Pertahankan suhu gundukan adonan 40-50 oC.

Cara penggunaan

  1. 3-4 genggam bokashi setiap meter persegi disebar merata di atas permukaan tanah, pada tanah yang kurang subur dapat diberikan lebih.
  2. Untuk hasil yang lebih baik, siramkan atau semprotkan 2 cc EM4/liter air ke dalam tanah.
  3. Biarkan tanah yang telah diberi bokashi selama 1 minggu, kemudian bibit siap ditanam.
  4. Untuk tanaman buah-buahan atau pot, bokashi disebar merata di permukaan tanah atau perakaran tanaman dan siramkan 2 cc EM4/liter air selama 2 minggu sekali.

 

Pengomposan secara sederhana

Bahan:

-         drum atau tong plastic yang mempunyai tutup

-         pipa paralon berdiameter 4 inci

-         kas plastic untuk menutup lubang pipa bagian luar, dan

-         batu kerikil.

Cara pembuatan

-         bagian atas  tong plastic diberi  4 lubang diameter 4 inci untuk memasang pipa. Bagian bawah juga dilubangi dengan diameter yang sama, sebanyak 4-5 lubang, lalu ditutup kasa plastic untuk jalan air.

-         Ujung pipa bagian luar ditutup kasa plastic untuk sirkulasi udara.

-         Pipa dilubangi dengan bor sebesar 5 mm setiap jarak 5 cm. Tong juga dilubangi 5 mm dengan jarak 10 cm untuk udara.

-         Pasang pipa pada empat sudut tong, lalu tanam di tanah. Tempatkan pada bagian yang tidak kena hujan secara langsung.

-         Tepi tong ditutup batu kerikil setebal 15 cm. Demikian juga sekeliling pipa ditutup kerikil, baru ditutup tanah. Tempat sampah biasanya berbau karena sampah organic cepat membusuk sehingga diperlukan kerikil untuk meredam bau tersebut.

-         Tong tersebut diisi dengan sampah rumah tangga, tentunya sampah organic, tetapi jangan diikutkan kulit telur dan kulit kacang sebab sukar menjadi kompos. Setelah penuh, tong ditutup dan dibiarkan selama 3-4 bulan. Selam itu akan terjadi proses pengomposan. Sampah yang sudah jadi kompos berwarna hitam dan gembur seperti tanah.

-         Ambil kompos tersebut dari komposter, lalu diangin-anginkan sekitar seminggu. Nah, kompos  itu siap sudah siap dipakai untuk pupuk tanaman.

 

Manfaat Pengkomposan

Usaha pengkomposan sampah kota memiliki beberapa manfaat yang dapat ditinjau baik dari segi teknologi, ekonomi, lingkungan, sosial maupun kesehatan. Dari segi teknologi manfaat pembuatan kompos antara lain :

  1. Teknik pembuatan kompos sangat beragam, mulai dari proses yang mudah dengan menggunakan peralatan yang sederhana sampai dengan proses yang canggih dengan peralatan modern.
  2. Secara teknis, pembuatan kompos dapat dilakukan secara manual sehingga modal yang dibutuhkan relatif murah atau secara masinal (padat modal) untuk mengejar skala produksi yang tinggi.

Dari segi ekonomi, pembuatan kompos dapat memberikan manfaat secara ekonomis, yaitu :

  1. Pengkomposan dapat mengurangi jumlah sampah sehingga akan mengurangi biaya operasinal pemusnahan sampah.
  2. Tempat pengumpulan sampah akhir dapat digunakan dalam waktu yang lebih lama, karena sampah yang dikumpulkan berkurang. Dengan demikian akan menguragi investasi lahan TPA.
  3. Kompos dapat memperbaiki kondisi tanah dan dibutuhkan oleh tanaman. Hal ini berarti kompos memiliki nilai kompetetif dan ekonomis yang berarti kompos dapat dijual.
  4. Penggunaan pupuk anorganik dapat ditekan sehingga dapat meningkatkan efisiensi penngunaannya.

Dari segi ekologi, proses pembuatan kompos memberikan manfaat bagi lingkungan, yaitu:

  1. Pengkomposan merupakan metode daur ulang yang alamiah dan mengembalikan bahan organik ke dalam siklus biologis. Kebutuhan energi dan bahan makanan yang diambil tumbuhan dari dalam tanah dikembalikan lagi ke dalam tanah.
  2. Mengurangi pencemaran lingkungan, karena sampah yang dibakar, yang dibuang ke sungai ataupun yang dikumpulkan di TPA akan berkurang. Ini berarti mengurangi pencemaran udara maupun air tanah.
  3. Pemakaian kompos pada lahan perkebunan atau pertanian akan meningkatkan kemampuan lahan dalam menahan air sehingga terjadi koservasi air. Kompos mempuyai kemampuan memperbaiki dan meningkatkan kondisi kesuburan tanah (konservasi tanah).

Dari segi sosial, manfaat sosial yang dapat diperoleh dari pembuatan kompos adalah :

  1. Dapat mebuka lapangan kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran.
  2. Dapat dijadikan obyek pembelajaran lingkungan baik bagi masyarakat maupun dunia pendidikan.

Dari segi kesehatan, manfaat kesehatan yang diperoleh dari proses pembutan kompos adalah :

  1. Pengurangan tumpukan sampah akan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
  2. Proses pengkomposan berjalan pada suhu yang tinggi sehingga dapat mematikan berbagai macam sumber bibit penyakit yang ada pada sampah.

Secara teoritis apabila program daur ulang sampah dengan sistem terpadu dapat dilakukan, maka sampah yang tersisa hanya tinggal 15 – 20% saja, sehingga akan mengurangi ritasi transportasi sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan umur TPA akan semakin panjang.

Pada akhirnya aspek peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam pengelolaan persampahan. Dalam strategi jangka panjang peran aktif masyarakat menjadi tumpuan bagi suksesnya pengelolaan sampah kota, dan dalam program jangka panjang setiap rumah tangga disarankan mengelola sendiri sampahnya melalui program 3 R (Reduce, reuse dan recycle).

 

A. 1. 7. Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

            TPA tipe open dumping sudah tidak  tepat untuk menuju Indonesia sehat. Oleh sebab itu, secara bertahap semua Kota dan Kabupaten harus segera mengubah TPA tipe open dumping menjadi sanitary landfill. Dianjurkan untuk membuat TPA yang memenuhi kriteria minimum, seperti adanya zona, blok dan sel, alat berat yang cukup, garasi alat berat, tempat pencucian alat berat, penjaga, truk, pengolahan sampah, dan persyaratan lainnya.

 

A. 2. Mengelola Ruang Terbuka Hijau (RTH)

 

            Ruang terbuka hijau (RTH)di suatu wilayah  perkotaan memiliki tiga fungsi penting yaitu ekologis,sosial-ekonomi dan evakuasi. Dalam UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang disebutkan, jumlah RTH di setiap kota harus sebesar 30
persen dari luas kota tersebut. Arsitek Landsekap/ Majelis Ikatan Arsitektur Landsekap Indonesia (IALI). RTH perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka suatu
wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi.
            Fungsi ekologis RTH yaitu dapat meningkatkan kualitas
air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara dan pengatur iklim
mikro. Fungsi lainnya yaitu sosial-ekonomi untuk memberikan fungsi
sebagai ruang interaksi sosial, sarana rekreasi dan sebagai tetenger
(landmark) kota. Sementara evakuasi berfungsi antara lain untuk tempat pengungsian saat terjadi bencana alam. Dengan keberadaan RTH yang ideal, maka tingkat kesehatan warga kota juga menjadi baik. RTH dapat mengurangi kadar polutan
seperti timah hitam dan timbal yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Saat ini, banyak anak di perkotaan yang menderita autis
yang disebabkan antara lain karena tingginya kadar polutan di daerah
perkotaan. Menurut UU Nomor 1 tahun 2007, tujuan penataan RTH adalah: a) menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan; b) mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan di perkotaan; dan c) meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih dan nyaman (Pasal 2). Adapun fungsi RTH (pasal 3) adalah: a) pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan; b) pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara; c) tempat perlindungan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati; d) pengendali tata air; dan e) sarana estetika kota. Adapun manfaat RTH di perkotaan (pasal 4) adalah: a) sarana untuk mencerminkan identitas daerah; b) sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan; c) sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi social; d) meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan; e) menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah; f) sarana aktivitas social bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula.
            Ketentuan luasan 30 persen RTH di setiap perkotaan merupakan hasil kesepakatan dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil (1992) dan dipertegas lagi pada KTT Johannesberg, Afrika Selatan 10 tahun.
Namun tampaknya bagi kota-kota di Indonesia, hal ini akan sulit terrealisir akibat terus adanya tekanan pertumbuhan dan kebutuhan sarana dan prasarana kota, seperti pembangunan bangunangedung, pengembangan dan penambahan jalur jalan yang terus meningkat serta peningkatan jumlah penduduk. Keberadaan RTH seringkali masih dikalahkan oleh berbagai kepentingan lain yang lebih “menguntungkan” dan cenderung berorientasi pada pembangunan fisik untuk kepentingan ekonomi. Akibatnya, kebutuhan
ruang (khususnya RTH) untuk berlangsungnya fungsi ekologis kurang
terakomodasi, dan berdampak pada permasalahan manajemen pengelolaan RTH.
Untuk merealisasikan keberadaan RTH yang mumpuni di perkotaan Indonesia
diperlukan komitmen kuat dari semua pihak baik pemerintah pusat,
pemerintah daerah, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Upaya
tersebut antara lain mendorong permukiman melalui bangunan vertikal.
(Sumber: http://ciptakarya.pu.go.id/)

            Warga dan Pemerintah Kota harus bahu-membahu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Pemkot harus memiliki political will untuk menjaga Ruang Terbuka Hijau. Pengembang dituntut untuk tidak terlalu tamak seperti yang ditunjukkan oleh para pelaku investor Wall Street yang kelak memicu bencana dahsyat. Selain mengkritisi perilaku pemkot dan pengembang, warga Kota Bengkulu pun seharusnya memiliki gaya hidup berwawasan lingkungan dimulai dari hal-hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya.

            Sekali lagi, upaya menjaga eksistensi Ruang Terbuka Hijau adalah sebuah langkah awal yang penting bagi kelestarian lingkungan. Dampak positif yang dirasakan memang lebih banyak yang bersifat jangka panjang. Meski demikian, upaya ini mendesak untuk dilakukan sesegera mungkin. Negara-negara maju seperti AS dan Uni Eropa bahkan sudah menyadari arti penting Ruang Terbuka Hijau. Di tengah derasnya arus aktivitas ekonomi, mereka telah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan dan bahkan menambah ruas Ruang Terbuka Hijau.

            Penataan RTH Kawasan Perkotaan (RTHKP) diatur dalam Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 1 Tahun 2007.  Jenis-jenis RTHKP diatur dalam pasal 6, yaitu: a) taman kota; b) taman wisata alam; c) taman rekreasi; d) taman lingkungan perumahan dan permukiman; e) taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial; f) taman hutan raya; g) hutan kota; h) hutan lindung; i) bentang alam seperti gunung, bukit, lereng dan lembah; j) cagar alam; k) kebun raya; l) kebun binatang; m) pemakaman umum; n) lapangan olah raga; o) lapangan upacara; p) parkir terbuka; q) lahan pertanian perkotaan; r) jalur di bawah tegangan tinggi (SUTT dan SUTET); s) sempadan sungai, pantai, bangunan, situ dan rawa; t) jalur pengaman jalan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian; u) kawasan dan jalur hijau; v) daerah penyangga (buffer zone) lapangan udara; dan w) taman atap (roof garden).

            RTH yang terkait dengan adipura adalah RTH di a) taman-taman, b) hutan kota, c) sempadan sungai, bangunan, pantai, situ dan rawa, d) jalur pengaman jalan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian; dan e) kawasan dan jalur hijau.

            Hal-hal yang dapat dibangun oleh kota dalam rangka meraih adipura antara lain membangun dan atau mengajak warga kota untuk mengupayalkan: a)  RTH pekarangan, b) RTH halaman perkantoran, pertokoan, dan tempat usaha, c) RTH Taman Rukun Tetangga, d) RTH Rukun Warga, e) RTH kelurahan, f) RTH kecamatan, g) RTH Taman Kota, h) Hutan Kota, i)  RTH Jalur Hijau Jalan, j) RTH jalur Pejalan Kaki, k) RTH Sempadan Sungai, l) Jalur Hijau Senpadan Rel Kereta Api, m) RTH Sempadan Pantai.

            Beberapa kelemahan Kota Bengkulu yang perlu diperhatikan: a) hampir semua drainase di Kota Bengkulu kotor (jalan, pasar, perumahan); b) pasar yang kurang tertata dan kotor, c) banyak gulma pada kebanyakan jalan; c) sampah yang kurang tertangani; d) keteduhan yang kurang pada perumahan; e) taman kota yang kurang terawa, f) tidak adanya drainase dan trotoar di jalan arteri. Jika hal tersebut di atas bisa diatasi, Insya Allah Kota Bengkulu akan dapat meraih adipura.

 B. Program yang Direkomendasikan 

1. Sosialisasi pemilahan dan pemanfaatan sampah di masyarakat secara berkesinambungan.

2. Pengolahan sampah organik skala runah tangga.

3. Daur ulang sampah anorganik yang tidak laku dijual.

4. Sosialisasi ruang terbuka hijau di masyarakat.

5. Membangun partisipasi masyarakat dalam menciptakan kota bersih dan hijau (clean and green city).

6. Lomba desa bersih dan hijau.

7. Pembuatan Perda tentang Kota Bersih dan Hijau (jika beluam ada).

8. Aplikasi Perda secara konsisten.

9. Penataan RTH Kota.

10. Pelaksanaan Adiwiyata secara berkesinambungan.

11. Monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan Clean and Green City secara berkesinambungan (minimal 3 kali/tahun), atau prapantau Adipura (minimal 3 kali per tahun).      

C. Penutup

            Berdasarkan uraian di atas maka untuk mengendalikan lingkungan hidup yang terkait dengan Adipura adalah: 1) mengelola sampah melalui sistem pengelolaan terpadu sehingga diperoleh zero waste; 2) mengelola ruang terbuka hijau (RTH) di kota Bengkulu; 3)  menciptakan budaya sadar lingkungan, dimulai dari yang kecil, dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari sekarang.

 

Daftar Pustaka

Anonimus. 2006. Mengolah sampah di rumah. Estate Vol 2. No. 23. Hal. 36-38.

Anonimus. ?. Sampah sebagai sumber daya. ?

KLH.  2005. Buku Panduan Mengelola Sampah Rumah Tangga dengan Prinsip 4R. KLH Kantor Wilayah Sumatera, Pekanbaru.

Santoso, U. 1987. Limbah Bahan Ransum Unggas yang Rasional. Bhratara Karya Aksara, Jakarta.

Sumber-sumber lain dari internet.

About these ads

Actions

Information

2 responses

6 12 2010
Londa Samela

wonderful chart you’ve lock up

3 03 2011
Paul

Please keep on dropping such quality storys as this is a rare thing to find these days. I am always searching online for storys that can help me. looking forward to another great website. Good luck to the author! all the best!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: