TIPISNYA BATAS ANTARA HEMAT DAN KIKIR

17 03 2009

Dikompilasi oleh: Urip Santoso

Hdup Hemat dan Sederhana

            Allah mengajarkan kepada kita untuk hidup hemat. Hemat digambarkan oleh Allah adalah suatu perbuatan yang berada di tengah-tengah antara boros dan kikir. Hidup hemat ini ditegaskan oleh Allah dalam  Al Qur’an, antara lain dalam surat Al Lukman ayat 34, …..dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui ( dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Hal ini juga ditegaskan kembali dalam surat Al Furqon ayat 67, yaitu: “dan orang-orang yang apabilamembelanjakan hartanya, mereka tidak berlebih-lebihan, tidak pula kikir, danadalah ditengah-tengah antara yang demikian. Jelas bahwa hemat itu berbeda dengan kikir dan berbeda pula dengan boros. Hemat merupakan pola hidup yang menerapkan prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan kepentingan generasi yang akan datang. Oarng yang hemat mampu memanfaatkan sumber daya yang ada secara tepat dan dapat menyimpan kelebihan untuk generasi berikutnya. Hemat merupakan salah satu cerminan orang zuhud yang hanya mengambil sesuatu sesuai dengan haknya dan keperluannya. Penerapan pola hidup hemat saat ini sangat penting karena tidak hanya menjamin hidup efisien tetapi juga mampu menjamin kehidupan anak cucu kita. Beberapa manfaat hidup  hemat antara lain sebagai berikut:

a. hemat sebagai upaya menyimpan kebutuhan setelah     kebutuhan primer terpenuhi.

            Rasulullah pernah berdialog dengan Jabir, “ Mengapa engkau berlebih-lebihan wahai Jabir? Jawab jabir, “Wahai ya Rasulullah, Apakah dalam wudhu tidak boleh berlebih-lebihan?, Rasulullah menjawab “Ya, janganlah kamu berlebih-lebihan ketika wudhu, meskipun engkau berada disungai yang mengalir”

            Dari hadist  di atas, jelaslah bahwa kita diperintahkan menggunakan apa saja sesuai  dengan kebutuhan kita. Konsep ini sangat relevan dengan kehidupan masa kini, dimana kita  harus menghemat air. Misalnya, tutup kran air setelah digunakan, tidak dibenarkan menyisakan air ketika minum (artinya ambillah air minum sesuai kebutuhan), mencuci (apa saja) dengan air yang tidak berlebihan. Jika dikaitkan dengan masalah lingkungan, jelas bahwa hadist di atas dapat dikaitkan dengan konservasi terutama air. Meskipun demikian, konsep ini juga dapat diaplikasikan dari yang selain air.

b.Hemat merupakan sebagai modal kemaslahatan     generasi setelah kita.

            Rasulullah bersabda “ Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik dari pada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin. Mereka menerima kecukupan dari orang lain. Mungkin orang lain memberinya atau mungkin orang lain menolaknya. Sesungguhnya tidaklah engkau memberikan nafkah dengan ihklas karena Allah, kecuali engkau mendapat pahala karenanya.( HR Almutaffaq’allaih)

            Dari hadist di atas tersurat bahwa kita sebaiknya berhemat, sebab dengan berhemat kita dapat meninggalkan anak-cucu dalam keadaan yang berkecukupan. Hadist ini juga memotivasi kita untuk terus berkarya dan bekerja untuk mendapatkan rezeki yang disediakan oleh Allah. Kedua sifat ini (produktif dan hemat) merupakan salah satu pintu menuju kaya. Dengan kaya kita dapat meninggalkan ahli waris kita dalam keadaan yang berkecukupan. Dengan berhemat berarti ada sisa uang yang bisa disimpan untuk masa depan. Secara syariah sikap hidup hemat ini dapat meneladani Nabi Yusuf yang berhemat untuk menghadapi musim paceklik di negeri Mesir, kala itu.  Selama ini beredar anggapan yang salah, bahwa kalau ada orang yang hemat atau terlalu hitungan dengan uang disebut kikir. Padahal Anda memang harus hati-hati dalam mengeluarkan uang.

c. Hemat merupakan bentuk dari kedekatan diri     kepada Allah

            Oleh karena hemat adalah perintah Allah, maka barang siapa yang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka mudah-mudahan ia mendapat ridlo Allah.  Namun demikian, orang yang hemat bukanlah yang dekat dengan kikir yang tidak mau mengeluarkan harta kepada orang di sekelilingnya. Orang yang hemat adalah orang yang memberikan hartanya sesuai dengan aturan Islam sebagaiman konsep zakat dan shadaqah dalam syariah Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa pangkal segala penyakit adalah sifat rakus dan pangkal segala obat adalah berpantang. Maksud dari hadits tersebut adalah cara melihat dalam bertindak di kehidupan, tidak hanya selalu disandarkan pda sisi hasilnya saja, namun kita juga harus melihat sisi prosesnya.           Simak pula hadist berikut ini: Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakannya dengan pertengahan, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari dia miskin dan membutuhkannya (HR. Muslim dan Ahmad).

            Nabi Muhammad, seperti nabi-nabi pendahulunya, menyukai kehidupan yang sederhana. Beliau menikmati kesenangan hidup tanpa bermewah-mewah dan berlebihan. Beliau memakan makanan yang sederhana, tinggal dalam rumah yang sederhana dan biasa-biasa saja dan memiliki seekor unta atau seekor kuda untuk tunggangan. Beliau hidup dalam kesederhanaan dan selalu menganjurkan kaum muslim agar membina suatu kehidupan yang sederhana dan menjauhi pemborosan. Nabi juga bersabda : “ Orang yang berhasil adalah orang yang beramal atas dasar prinsip-prinsip Islam dan hidup berdasarkan kebutuhan-kebutuhan hidup yang sederhana”. Menjalani hidup sederhana juga merupakan salah satu pendidikan sosial di dalam masyarakat sebagai upaya untuk upaya untuk menghilangkan kesenjangan sosial antara orang-orang kaya dan miskin. Apalagi jumlah orang miskin di Indonesia tergolong tinggi. Kehidupan yang sederhana ini juga dapat meminimalisasi sikap kemewahan bagi orang-orang kaya.Sikap orang-orang kaya yang secara tidak disadari telsh melipatgandakan kepedihan kaum papa di masyarakat denganberbuat berlebih-lebihan dalam menikmati kesenangan hidup. Tidak akan kekurangan orang yang berlaku hemat..Maksudnya;tidak akan jatuh miskin orang yang membelanjakan hartanya dengan hemat dan tidak boros sebagaimana hal itu juga berlaku bagi individu dan komunitas umat. Inilah solusi dari Islam tentang gaya hidup yang seharusnya bagi seorang muslim diantara boros, mewah dan kikir. Seperti dalam firman-Nya,“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (hartanya) tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir dan jagalah keseimbangan di tengah-tengah antara keduanya”.

 

Hidup Boros Dilarang

            Dalam penggunaan harta benda tidak berlebih- lebihan/ boros. Sebab pemborosan itu termasuk saudara setan. Yang di maksud pemborosan itu, yaitu mereka yang menggunakan hartanya di jalan allah, walapun sedikit dikategorikan sebagai pemboros. Lebih jelas lagi allah berfirman dalam Al-qur’an surah al-isra’ ayat 27, yang artinya: ”sesungguhnya pemboros- pemboros itu adalah saudara- saudara setan,dan setan itu adalah sangat ingkar kepada tuhannya.”  (QS. Al-isra’:27)

                                                                                       

            Sikap hidup boros dalam Islam adalah sikap hidup tercela, karena tidak dapat memanfaatkan harta bendanya yang di anugerahkan allah dengan sebaik- baiknya. Awas, kemiskinan siap mengintai Anda yang boros. Pasalnya, kesejahteraan finansial Anda tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tapi juga ditentukan oleh pola pengeluaran. Meskipun penghasilan gede tetap saja miskin kalau Anda masih suka foya-foya, bermewah-mewah, dan boros dalam menggunakan uang.  Mungkin Anda sering menjumpai teman, tetangga, atau kerabat dekat yang selalu mengeluh kekurangan uang di awal bulan. Sebenarnya gajinya terbilang besar, tapi berhubung pola hidupnya boros, suka menghambur-hamburkan uang, ia tetap saja miskin. Bahkan gali lubang tutup lubang dalam berutang menjadi sahabat setia dalam hidupnya.

            Menurut penulis buku Seven Money Mantras for a Richer Life, Michelle Singletary, penghasilan yang terbatas tidak menutup peluang bagi seseorang untuk hidup sejahtera. Selama ia bisa mengatur pengeluarannya. Kebiasaan selektif dan menilai kemanfaatan dari setiap uang yang dikeluarkan belum banyak dilakukan orang. Masih banyak orang yang dengan gampangnya mengeluarkan uang tanpa alasan, bahkan sekedar mengikuti keinginan. Agar tidak boros, perencana keuangan Safir Senduk, menyarankan berbelanjalah sesuai dengan kebutuhan. Jangan berbelanja berdasarkan keinginan.

Kemewahan dan pemborosan adalah dua hal yang berbeda. Sikap hidup mewah biasanya harus diiringi dengan sikap berlebih-lebihan. Sedangkan sikap berlebih-lebihan tidak harus disertai kemewahan. Allah berfirman “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”. Didalam ayat ini, Allah memperingatkan kita agar tidak menggunakan harta kita untuk berlaku boros. Menurut Yusuf Qardhawi, Pemborosan (tabdzir) adalah membuang-buang harta dan menghambur-hamburkannya tanpa faedah dan mencari pahala. Setiap pembelanjaan dalam hal-hal yang diharamkan adalah suatu perbuatan berlebih-lebihan (melampaui batas) dan pemborosan yang dilarang Islam , meskipun yang dibelanjakan hanya satu dirham dan meskipun pembelanja memiliki harta karun. Fakhrur Razi dalam tafsirnya, tabdzir menurut bahasa adalah menyia-nyiakan harta dan membelanjakannya dalam hal yang melampaui batas.Berkata Ibnu Mas’ud, at-tabdzir (pemborosan) adalah membelanjakan harta pada selain yang benar dan Ibnu Abbas telah mengatakan demikian pula. Pendapat lain datang dari Mujahid,” Seandainya seseorang membelanjakan semua hartanya dalam kebenaran, maka ia bukan orang yang berbuat tabdzir (pemborosan) dan kalau seandainya ia membelanjakan satu mud pada selain yang dibenarkan maka ia adalah pemboros”.Berkata Qatadah, Perbuatan pemborosan adalah membelanjakan harta pada kemaksiatan kepada Allah, pada selain yang dibenarkan dan pada kerusakan.

Sedangkan menurut afzalur rahman, Pemborosan paling tidak mengandung tiga arti. Pertama, membelanjakan harta untuk hal-hal yang diharamkan seperti judi, minuman keras dan lain-lain, apalagi dalam jumlah yang sangat banyak. Kedua, pengeluaran yang berlebih-lebihan untuk barang-barang yang halal baik di dalam maupun di luar batas kemampuan seseorang. Dari Kitab Al-Waro’ Imam Ahmad, Bisyr bin al-Harits berkata,” Tidak selayaknya seseorang itu kenyang dari barang halal di hari itu. Sebab jika ia kenyang dari yang halal, nafsunya akan meyeret dia untuk menyentuh yang haram.Ketiga, pengeluaran untuk tujuan-tujuan amal shaleh tetapi di lakukan semata-mata untuk pamer. Konsumsi yang berlebih-lebihan meskipun kecil termasuk hal yang boros, hal ini tertuang dalam salah satu hadits Nabi SAW, dimana Nabi pernah melewati Sa’ad bin Waqqash ketika ia sedang berwudu, lalu bersabda padanya: “janganlah kamu berlaku boros”. Sa’ad bertanya, “Apakah dalam (pemakaian) air ada tindakan pemborosan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya, meskipun kamu berada pada sungai yang mengalir”. Sehingga Islam sangat menghargai segala pemakaian barang yang efektif dan efisien. Karena meskipun dalam kuantitas yang kecil, hal-hal yang berlebih-lebihan akan sangat merugikan dalam jangka panjang. Sikap boros atau konsumerisasi akan juga berdampak pada rendahnya tingkat tabungan, karena sebagian besar dari pendapatan yang diterima akan dikonsumsi . Oleh karena itu, dalam kapasitas makro, pemborosan akan dapat mengurangi jumlah modal yang digunakan untuk investasi.“ Seorang muslim tidak prerlu melakukan pemborosan seperti ini karena kebutuhan hidup tidak harus lebih dari cukup. Nabi Muhammad SAW bersabda “Bagi anak adam tidak ada wadah yang lebih buruk untuk dipenuhi daripada perut. Cukup bagi anak Adam beberapa suapan makanan yang dapat menegakkan tulang belakangnya, maka apabula ia harus makan banyak, hendaklah ia menjadikan sepertiga isi perutnya untuk makanan, seprtiganya yang lain untuk minum dan sisa sepertiganya lagi untuk nafasnya.”

 

Kemewahan

Menurut afzalurrahman, kemewahan adalah berlebih-lebihan dalam kesenangan pribadi atau dalam pengeluaran belanja nuntuk memenuhi sejumlah keinginan yang tidak terlalu penting.Al-Qur’an gencar mengumumkan kecaman pada kemewahan dan orng yag bermewah-mewahan Kemewahan yang dimaksud adalah tenggelam dalam kenikmatan dan hidup berlebih-lebihan dengan berbagai arena yang serba menyenangkan. Kemewahan adalah perusak individu karena kemewahan menyibukka manusia dengan nafsu perut dan kemaluannya, melaikannya dari hal-hal mulia dan akhlak luhur, disamping membunuh semangat jihad, kesungguhan dan keprihatinan dan menjadikannya hamba kehidupan santai dan kesenangan. Rasulullah SAW bersabda “Celakalah hamba dinar, celakalah budak dirham, celakalah hamba kain sutera dan perut. Kemewahan adalah perusak masyarakat dan lonceng peringatan bagi kehancurannya. Oleh karena itu, al-Qur’an menggabungkannya dengan tindak kedzaliman dan kejahatan seperti dalam firman Allah, “..Dan orang-orang yang dzalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada diri mereka. Kemewahan dalam perspektif al-Qur’an adalah termasuk faktor degradasi sosial dan dekadensi moral bagi umat. Apalagi jika semakin banyak kaum yang hidup mewah atau mereka yang menjadi penguasa.

Kemewahan dapat dinilai melalui fitrah (instink) dan adapt kebiasaan. Ia berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kekayaan (pendapatan per kapita) setiap bangsa dan pendapatan individual. Karena adat dan pendapatan per kapita suatu daerah berbeda-beda dengan daerah lain. Bisa saja ada suatu daerah yang menganggap kepemilikan kendaraan bermotor merupakan hal yang biasa tetapi di daerah yang hal itu merupakan gaya hidup mewah.

Masalah ini juga harus diperhatikan oleh orang kaya atau orang asing di suatu daerah agar tidak menimbulkan kecemburuan atau label negatif dari masyarakat. Berkata imam ar-Razi : “Orang yang hidup mewah adalah penerima nikmat yang dibuat sombong oleh kenikmatan dan keluasan rezeki. Kemewahan timbul karena adanya kelebihan pendapatan dari kebutuhan hidupnya tetapi kelebihan pendapatan itu tidak di tabung atau diinfakkan tetapi digunakan untuk menikmati kehidupan yang lebih .Beliau menjadikan kemewahan terdiri dari aspek material yaitu “hidup senang” dan aspek moril yaitu kesombongan (keangkuhan).Meskipun demikian Islam telah menharamkan beberapa hal tertentu yang dianggap contoh model yang menonjol bagi kemewahan, diuantaranya hal-hal berikut : Bejana-bejana emas dan perak, hamparan yang terbuat dari bahan campuran sutera atau dari kain sutera murni, perhiasdan emas dan pakaian sutera bagi laki-laki. Sementara benda lainnya yang serupa dengan cincin emas adalah ballpoint emas, jam emas , korek apai emas dan sejenisnya. Hadits di atas, — Dan banyak hadits serupa lainnya – dengan tegas menunjukkan bahwa untuk mencegah agar orang-orang tidak tenggelam dalam kehidupan mewah, Islam telah mengharamkan beberapa konsumsi barang-barang mewah, yaitu kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu. Kholid bin Shofwan berkata ,” Aku menikmati waktu malamku, aku berkhayal mencari penghidupan dan emas merah. Ternyata cukup bagiku dengan dua potong roti, dua cangkir air dan dua baju kumal. Hal ini mmenyatakan bahwa kehidupan itu tidak perlu mewah selama kita dapat mencukupi kebutuhan pokok kita sudah sepantasnya kita dapat bersyukur dan tidak royal jika ada rezeki yang lebih.

Kekikiran

Kekikiran mengandung dua arti, pertama, jika seseorang tidak mengeluarkan hartanya untuk diri dan keluarganya sesuai dengan kemampuannya. Kedua, jika sesorang tidak membelanjakan suatu apapun untuk tujuan-tujuan yang baik dan amal. Kekikiran adalah hal yang sangat berbeda dengan pemborosan dan kemewahan. Tetapi sifat ini juga termasuk tercela di dalam Islam. Karena seseorang tidak menggunakan rezeki dan nikmat yang diberikan Alllah kepadanya untuk di konsumsi atau digunakan sesuai dengan kadarnya, kebutuhannya dan tanggungannya. Serta akan mendorong sesorang untuk berlaku bakhil dan takut miskin sehingga akan membuatnya tidaik mau mengeluarkan shodaqah. Sufyan berkata : Syetan tidak punya senjata seampuh rasa takut miskin.Dengan senjata ini ia mulai melakukan kebathilan, mencegah kebenaran, berbicara dengan hawa nafsu dan berprasangka buruk kepada Tuhannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka  di surat yang lain Allah juga mengecam perilaku kikir ini, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu” makna “tanganmu terbelenggu pada lehermu “ adalah sifat kikir dalam menafkahkan harta. Pada ayat yang lain Allah mencela orang-orang yang menimbun harta kekayaannya dengan ungkapan, “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa harta itu dapat mengekalkannya. Keadaan manusia terhadap harta, bertambh dan berkurangnya memang mengherankan. Yang sangat menherankan adalah ia begitu perhatian terhadap berkurangnya harta dan tidak perhatian terhadap berkurangnya sesuatu yang lebih besar daripada harta dunia yaitu akhirat.

Abu al-Ahwas meriwayatkan dari ayahnya bahwa beliau mendatangi Nabi dengan berpakaian kotor. Nabi bertanya kepadanya, “Apakah kamu orang kaya?” Ia menjawab, ya. Lalu Nabi bertanya tentang kekayaan apa saja yang dimilikinya. Ia menjawab bahwa Allah telah mengaruniakan padanya unta, kambing, kuda, dan budak-budak. Kemudian Nabi bersabda : “ Bila Allah telah mengaruniakan nikmat-Nya kepadamu, ia ingin pengaruhnya tampak pada dirimu (dalam bentuk pakaian yang lebih baik, pakaian yang lebih baik dan lain-lain”. Dalam riwayat lain Nabi bersabda, “ Makan dan berpakaianlah sepuasmu, dan bersedekahlah tanpa sikap berlebihan dan tinggi hati.”Ayat dan hadits diatas memberikan bukti bahwa dalam Islam, menikmati kesenangan dan segala yang indah diizinkan, asal tidak melampaui batas-batas yang pantas. Jika ada suatu larangan , maka larangan itu dikenakan terhadap sikap yang merupakan pelanggaran terhadap masyarakat dan merupakan akibat dari kesenangan yang berlebihan dan kenikmatan yang melampaui batas kemewahan dunia ini. Jadi, al-Qur’an mengutuk dengan keras apada semua orang yang menumpuk harta dan yang tidak mau berinfak untuk kebaikan dirinya sendiri dan masyarakat.

 

TIPS: 1) belanjalah sesuai dengan kebutuhan; 2) belanjalah sesuai dengan kemampuan; 3) buat rencana kegiatan dan penggunaan anggaran keluarga; 4) bersenang-senanglah asal tidak berlebihan; 5) hidup sederhana bukan berarti hidup menderita.

 

Terakhir, mari kita semua instropeksi adakah kita telah membelanjakan harta kita secara hemat? Tidak mudah memang membuat garis tegas antara boros, hemat, dan kikir.

About these ads

Actions

Information

5 responses

25 02 2010
iin

trima kasih banyak atas infonya

25 02 2010
uripsantoso

Terima kasih kembali iin.

20 04 2010
Khanapiah Bin Jamaluddin

Assalamualaikum,mungkin silap maksud ayat ini di bawah tajuk pemborosan-Yang di maksud pemborosan itu, yaitu mereka yang menggunakan hartanya di jalan allah, walapun sedikit dikategorikan sebagai pemboros.

21 04 2010
Khanapiah Bin Jamaluddin

Tajuk sebenar ayat itu terdapat adalah Hidup Boros Dilarang

18 11 2011
chupa

Assalamu’allaikum……, dapat d kategorikan orang kikir kah, orang yang dalam kondisi keungan tipis atau masyarakat menengah kebawah…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: