MANUSIA ADALAH MAKHLUK BERLATIH

10 09 2008

Oleh: Urip Santoso

            Ada perbedaan yang mendasar antara binatang dan manusia. Jika anda amati, seorang ayam yang baru menetas sudah bisa langsung berdiri dan kemudian mencari makanan. Mereka telah siap hidup mandiri. Manusia lahir dalam keadaan lemah. Tidak bisa begitu lahir langsung bisa duduk, merangkak, berdiri, berjalan dan apalagi berlari. Yang sudah barang tentu sang bayi tidak dapat mencari makan sendiri. Manusia begitu lahir belum siap mandiri. Sang bayi dengan bantuan orangtunya kemudian belajar dan berlatih secara bertahap dari temkurap, duduk, berdiri, berjalan dan berlari. Proses ini memerlukan waktu yang cukup lama, tidak bisa dalam hitungan bulan. Setelah manusia mampu berlari, apakah ia sudah mampu mencari makanan sendiri? Belum! Kebanyakan dari manusia belum mampu mencari makanan sendiri dalam arti mempunyai pekerjaan yang bisa mendatangkan penghasilan. Ya, sang anak masih memerlukan bantuan orangtuanya sampai ia menjadi dewasa dan akhirnya bisa hidup mandiri. Selama proses ini manusia selalu belajar dan berlatih. Manusia dapat dinyatakan merupakan makhluk belajar dan berlatih sepanjang hayatnya. Tidak pernah berhenti. Itulah sebabnya manusia diibaratkan belajar dan berlatih dari ayunan sampai ke liang kubur. Bahkan, mungkin manusia telah belajar dan berlatih ketika ia masih dalam kandungan ibunya. Ada beberapa hasil penelitian yang membuktikan hal ini.

            Ya, manusia ditakdirkan untuk menjadi makhluk  belajar dan berlatih. Untuk itu Allah sesungguhnya telah memberi bahan-bahan yang dapat digunakan oleh manusia untuk belajar dan berlatih. Tujuannya adalah agar manusia mencapai tujuan untuk apa sesungguhnya manusia itu diciptakan. Allah berfirman: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribah kepada-Ku”. Agar manusia tidak tersesat jalan, maka Allah menurunkan tuntunan-Nya melalui para rasul-Nya, dimana yang terakhir adalah nabi Muhammad s.a.w.

            Ayat-ayat pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad adalah perintah membaca dan menulis. Perintah ini sudah jelas bahwa betapa pentingnya membaca dan menulis bagi umat manusia. Dengan membaca, manusia dapat belajar dan dengan menulis apa yang telah dibacanya dapat didokumentasikan dengan baik dan dapat menjadi bahan bacaan untuk orang lain. Akhirnya diperolehlah bermacam-macam ilmu yang berguna bagi manusia itu sendiri. Ilmu-ilmu itu dibaca dan ditulis kemudian diterapkan setelah melalui berbagai latihan. Berlatih itu sendiri juga pada hakekatnya adalah membaca. Membaca pada hakekatnya adalah belajar.

            Dalam kaitannya dengan hal ini, sesungguhnya Allah selalu melatih kita, agar kita dapat mencapai tujuan kita yaitu menjadi orang bertaqwa. Kita dilatih dalam bentuk persaksian, sholat, puasa, zakat dan haji. Dalam rangkaian kelima ibadah itu, sesungguhnya kita dilatih. Melalui syahadat (persaksian) kita dilatih untuk mengakui tiada tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah. Persaksian ini membutuhkan ilmu. Ilmu dapat kita peroleh melalui kegiatan belajar. Dari belajar kita memperoleh bukti-bukti, dan berdasarkan bukti itulah kita membuat persaksian. Sebagai konsekwensi persaksian ini maka kita wajib patuh dan tunduk. Hal ini dinyatakan oleh Allah:”Jika dating kepada mereka (orang beriman) suatu perintah, maka tidak ada pernyataan lain selain “kami dengar dan kami patuh”. Implikasi mengucapkan  dua kalimat syahadat memang sungguh luar biasa. Nah, untuk sampai kepada pemahaman dan aplikasi itu (mendengar dan patuh)  manusia memerlukan belajar dan berlatih.

            Demikian pula halnya dengan sholat. Kita tahu bahwa tujuan sholat adalah agar kita bisa mencegah diri dan orang lain dari perbuatan keji dan mungkar. Nah, untuk sampai ke tujuan itu kita harus belajar dan berlatih. Kita belajar gerakan sholat dan melatihnya, kita belajar memahami arti dan makna yang terkandung dalam bacaan sholat dan kemudian kita berlatih menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara logika, jika sholatnya benar, maka sholat lima kali sehari seharusnya dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar. Hal ini diilustrasikan oleh Rasullullah: “jika engkau mandi sehari lima kali, masih adakah kotoran melekat pada tubuhmu”; para sahabat menjawab:”tidak ya Rasullullah; Rasullullah melanjutkan: “demikian pula dengan sholat lima waktu”. Memang, sesungguhnya sholat bukan sekadar gerakan dan bacaan yang tidak bermakna. Semuanya bermakna dan mengandung pelajaran yang harus dipraktekkan oleh orang-orang yang mengaku beriman. Demikian pula dengan ibadah-ibadah lainnya. Semuanya bertujuan untuk melatih kita agar kita dapat mencapai tujuan hidup kita sebagai seorang muslim, yaitu menjadi orang yang bertaqwa.

            Jika kita lihat dalam kehidupan sehari-hari betapapun umat Islam sudah melaksanakan kelima bentuk ibadah tersebut, tetapi pada kenyataannya umat Islam masih terbelenggu dalam berbagai kegiatan yang keji dan mungkar. Apa yang salah? Yang salah ya kita sendiri sebagai umat Islam. Banyak diantara kita yang melakukan ibadah tanpa ilmu. Banyak diantara kita yang beribadah karena riya. Banyak diantara kita yang beribadah dengan tujuan yang berbeda. Dan masih banyak lagi sebab-sebabnya. Untuk itu, marilah kita sebagai manusia belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh agar tujuan kita tercapai, yaitu menjadi orang yang bertaqwa. Mari kita perbaiki niat kita. Mari kita bersihkan hati kita. Mari kita perbaiki perilaku kita. Mari kita instropeksi dan bertobat serta berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak melakukan perbuatan keji dan mungkar.

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: