Deskripsi Diri dalam Sertifikasi Dosen (Bagian 3)

Bagian 2

Anda sebagai komunitas sosial diminta menjelaskan aspek-aspek yang berkaitan dengan hal tersebut. Sebelum anda menjelaskan ada baiknya anda mempelajari terlebih dahulu istilah-istilah tersebut. Hal ini akan membantu anda untuk menjelaskan aspek-aspek sosial tersebut lebih terukur. Sebagai contoh, istilah kesabaran. Anda sebaiknya memahami betul apa itu sabar, dan bagaimana cara mengukur sabar atau kesabaran. Jika anda tidak paham apa itu sabar, bisa saja anda salah menjelaskan. Berikut contohnya. Ada seorang dosen menjelaskan kepada saya bahwa ia sangat sabar. Ia menjelaskan bahwa ketika mahasiswa terlambat 30 menit dalam ujian, ia kemudian tidak menegurnya dan bahkan menyuruh ia ikut ujian dengan diberi tambahan waktu karena ia terlambat. Apakah ini contoh sabar? Tidak bukan? Jika pernyataan tadi dinilai oleh asesor maka si dosen itu akan mendapat nilai satu. Nilai mati! Sayang bukan? Contoh sabar yang saya anggap lebih baik adalah sebagai berikut. Ada seorang dosen, yang menghadapi  mahasiswa yang kurang pandai. Si dosen tidak kecewa dan tidak mengeluh menghadapi mahasiswa tersebut. Si dosen kemudian memberikan penjelasan khusus tentang materi perkuliahannya diluar perkuliahan. Semacam tutor gratis. Ini ia lakukan agar mahasiswa mampu menyerap materi tersebut. Ini dilakukan oleh si dosen kepada semua mahasiswanya yang kurang pandai. Ia  meluangkan waktunya untuk itu. Akhirnya mahasiswa tersebut mampu menguasai materi tersebut, dan bahkan bukan saja mendapat nilai A, tetapi juga telah mampu mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.  

Jadi sangat penting artinya bagi dosen untuk memahami istilah-istilah dalam deskripsi diri agar ia mampu menjelaskannya dengan baik, benar, terukur, singkat dan padat. Penjelasan yang bertele-tele akan membuat sang asesor menjadi tidak paham apa yang sebenarnya yang dimaksud oleh dosen tersebut. Juga, kepada asesor agar juga memahami istilah-istilah tersebut agar mampu menilai deskripsi diri dengan lebih obyektif.

f. Karakter pribadi dalam berbagai situasi dan kondisi

Pada sub bagian ini, anda diminta menjelaskan dan memberi contoh tentang kendali diri, kesabaran, ekspresi perasaan (empati) dan rasionalitas pada berbagai kondisi dan situasi yang anda hadapi selama anda bertugas sebagai dosen. Kendali diri dinilai lemah (1) jika anda kurang mampu mengendalikan diri dalam beberapa situasi dan kondisi. Misalnya, ketika dalam rapat argumentasi anda dimentahkan oleh teman sejawat anda, anda menjadi marah sambil mencaci, memukul meja dll. Kendali diri dinilai kuat (5) jika anda umumnya mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan kondisi yang menekan. Misalnya, anda dinilai oleh  bawahan anda bahwa anda telah korupsi. Menghadapi situasi itu anda tetap tenang dan berusaha dengan hati yang tulus menjelaskan duduk perkaranya. Anda tunjukkan bukti-bukti bahwa anda tidak korupsi.

Anda dinilai rendah (1) dalam kesabaran ika kurang mampu menahan diri menghadapi kekecewaan. Ya, tentu saja dalam melaksanakan tugas anda tentunya anda pernah kecewa. Kecewa karena atasan kita tidak adil. Kecewa karena teman sejawat kita curang. Nah, bagaimana kita menghadapinya. Memukul? Teriak? Atau protes melalui jalur yang sewaarnya? Jika anda langsung marah-marah, langsung mengancam artinya anda kurang mampu menahan diri. Akan tetapi jika anda protes melalui saluran yang seharusnya berarti anda mempunyai kesabaran yang tinggi (5), yaitu memiliki  kemampuan untuk bersikap sabar dalam menghadapi berbagai hal yang tidak sesuai dengan harapan dalam berbagai situasi dan kondisi.

Ekspresi perasaan dinilai antipati (1) ika anda kurang mampu untuk merasakan perasaan orang lain dan cenderung memberikan reaksi negatif. Dinilai empati (5) jika dapat merasakan berbagai perasaan orang lain dan mengekspresikan dengan baik (cara dapat diterima).

dalam hal rasionalitas, anda dinilai emosional (1) jika anda cenderung mengutamakan perasaan  dan anda akan dinilai rasional  (5) jika cenderung mengutamakan logika dari pada perasaan dalam menghadapi berbagai masalah.

g. Etos kerja

Ada empat variabel yang dinilai dalam etos kerja, yaitu semangat, target, disiplin dan ketangguhan. Disini anda diminta mendeskripsikan ke empat variabel tersebut dan juga bagaimana cara anda ketika anda menghadapi masalah. Ada baiknya anda memahami terlebih dahulu definisi etos kerja yang diturunkan ke dalam empat variabel tersebut di atas. Variabel semangat menunjukkan upaya yang tidak henti dan penuh dedikasi tanpa keluhan, ketika anda menghadapi suatu masalah. Anda terus melakukan upaya sampai masalah itu terselesaikan. Dalam menunaikan tugasnya anda tidak saja menjalankan perintah tetapi juga mengembangkan perintah atasan sedemikian rupa. Ada baiknya anda memberikan contoh peristiwa yang anda alami yang menunjukkan tingkat semangat anda. Pada variabel semangat ini, anda dinilai rendah (1) jika kurang bersemangat dalam bekerja, hanya menjalankan tugas sebagaimana diperintahkan saja. Anda dinilai tinggi (5) jika memiliki semangat kerja yang tinggi dalam berbagai situasi dan kondisi.

Setiap dosen dalam menunaikan tugasnya tentu saja mempunyai target kerja, terutama dalam menyelesaikan tugas mereka di bidang tridharma perguruan tinggi. Jadi apa target kerja anda di bidang pendidikan dan pengajaran, pengembangan ilmu dan pengabdian pada masyarakat. Setiap kegiatan anda mempunyai target dan indikator pencapaian yang rinci dan terukur. Memang, seharusnya seorang dosen mempunyai apa yang disebut dengan academic plan atau rencana akademik. Di dalam academic plan anda sebutkan jenis kegiatan, tujuan, target, waktu, sumber dana, dan hasil. Dengan adanya academic plan anda mempunyai target kerja yang jelas sekaligus sebagai pedoman dalam aktivitas anda sebagai dosen. Anda target kerjanya dinilai kabur (1) jika tidak memiliki target kerja yang  jelas, dan anda akan dinilai jelas (5) jika memiliki target yang jelas untuk dicapai dalam bekerja dan rentang waktu yang tegas untuk mencapainya sehingga mendukung perannya sebagai  dosen.

Anda juga diminta mendeskripsikan tingkat kedisiplinan anda. Agar deskripsi mudah ditafsirkan sebaiknya anda memberi contoh nyata yang berkaitan dengan kejujuran anda. Contoh misalnya anda datang tepat waktu ketika diundang; anda mengajar tepat waktu, anda juga melaksanakan tugas-tugas anda sesuai dengan aturan yang berlaku. Tingkat kedisiplinan anda dinilai rendah (1) jika kurang patuh dan taat pada aturan dan tat tertib dalam bekerja sebagai dosen dalam berbagai situasi dan kondisi. Anda dinilai tinggi (5) jika patuh dan taat pada aturan dan tata tertib dalam bekerja sebagai dosen dalam berbagai situasi dan kondisi.

Variabel ketangguhan dapat anda deskripsikan sejauhmana anda berusaha dalam mencapai target kerja anda atau target kerja yang dibebankan dan ditetapkan. Deskripsikan dan beri contoh kongkritnya. Anda dinilai tingkat ketangguhan rendah (1) jika mudah menyerah dalam mencapai target kerja yang telah ditetapkan, apabila menghadapi rintangan, dan dinilai tinggi (5) jika tidak mudah menyerah dalam mencapai target kerja yang telah ditetapkan, sekalipun menghadapi banyak rintangan.

(Bersambung)

3 Responses to “Deskripsi Diri dalam Sertifikasi Dosen (Bagian 3)”

  1. Ahmad Says:

    Subhanallah. Terimakasih

  2. uripsantoso Says:

    Terima kasih atas kunjungannya.

  3. uripsantoso Says:

    Dik, kuliah tidaklah mutlak untuk menggapai cita-cita. Banyak orang yang sukses padahal pendidikan formalnya tidak tinggi. Adik bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan non formal dan praktek langsung. Dalam dunia maya juga disajikan beragam pengetahuan dan keterampilan. Yang penting dalam meraih cita-cita adalah tekun dan tidak kenal putus asa. Semoga kesuksesan selalu menyertai anda.

Leave a Reply