Cara Berpikir Cerdik, Kritis dan Ilmiah

23 08 2008

A. Pendahuluan

Masa belajar di perguruan tinggi adalah masa yang penting bagi pengembangan nilai kepribadian. Anda akan ditantang menghadapi gagasan-gagasan dan filosofi baru. Anda akan membuat keputusan-keputusan pribadi dan karir yang akan mempengaruhi hidupnya. Salah satu pelajaran terpenting yang akan diperoleh di perguruan tinggi adalah mengatur waktu antara bekerja, belajar dan bersantai. Bila anda mampu mengembangkan manajemen waktu dan kemampuan belajar yang baik di awal masa perkuliahan, maka tahun-tahun perkuliahan berikutnya akan dijalani dengan sukses.

            Belajar menguasai materi suatu kuliah tentu saja penting, namun mempelajari cara belajar dan berpikir yang kritis, dalam beberapa hal, jauh lebih penting. Seperti usaha-usaha lainnya dalam kehidupan, upaya untuk berpikir kritis dan belajar efesien pada awalnya membutuhkan usaha dan waktu tambahan, tetapi ketika telah dikuasai, kemampuan-kemampuan tersebut akan menghemat banyak waktu anda di masa depan.

            Banyak fakta yang menunjukkan bahwa mahasiswa-mahasiswa yang sukses secara akademis juga merupakan mahasiswa-mahasiswa yang sangat sibuk. Karena mereka memiliki banyak pekerjaan atau aktivitas ekstra-kurikuler, mereka harus dan mampu mengatur waktu secara efektif dan belajar efesien.

Salah satu kunci utama untuk sukses dalam belajar di perguruan tinggi adalah menghindari menunda-nunda pekerjaan.. Dengan menentukan tujuan-tujuan yang jelas dan spesifik serta bekerja mencapainya dalam keteraturan, anda akan mampu mengurangi keinginan untuk menunda-nunda tersebut.

 

B. Beberapa pengertian

            Menurut Pourwadarminta (1976):

  1. Pikir : akal budi, pendapat
  2. Berpikir: menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan dsb. sesuatu.
  3. Cerdas: sempurna perkembangan akal budinya (pandai, tajam pikiran dsb)
  4. Cerdik: lekas mengerti dan pandai mencari akal; pintar; berakal; panjang akal.
  5. Licik: banyak akal yang buruk. Kelicikan: kepandaian memutar balik perkataan.
  6. Kritis: berusaha  menemukan kesalahan atau kekeliruan
  7. Ilmiah: bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan

 

Jadi definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Berpikir ilmiah adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, mengembangkan dsb. secara ilmu pengetahuan (berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pengethuan. Atau menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
  2. Berpikir cerdik adalah menggunakan akal budi agar cepat mengerti suatu permasalahan yang sedang dihadapi dan mampu memberikan solusinya secara cepat dan tepat.
  3. Berpikir kritis adalah menggunakan akal budi untuk menelaah sesuatu dengan hati-hati. Berpikir kritis didefinisikan sebagai ketetapan yang hati-hati dan tidak tergesa-gesa untuk apakah kita sebaiknya menerima, menolak atau menangguhkan penilaian terhadap suatu pernyataan dan tingkat kepercayaan dengan mana kita menerima atau menolaknya.
  4. Berpikir cerdik, kritis dan ilmiah adalah cara berpikir dengan menggunakan prinsip-prinsip logis, hati-hati, cepat dan tepat untuk menelaah suatu pernyataan atau permasahan, serta  memberikan solusi yang cepat dan tepat.
  5. Proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati. Proses berpikir lahir dari suatu rasa sangsi (atau keyakinan)  terhadap sesuatu dan keinginan untuk memperoleh suatu ketentuan, yang kemudian tumbuh menjadi suatu masalah yang khas. Masalah ini memerlukan pemecahan dan untuk itu dilakukan penyelidikan terhadap data yang tersedia dengan metode yang tepat.  Berpikir mengandung 2 unsur penting yaitu unsur logis dan unsure analitik.

 

C. Mengembangkan kemampuan berpikir cerdik  

Berpikir cerdik  berbeda dengan berpikir licik. Berpikir cerdik berarti kita menggunakan akal budi untuk mendapatkan cara-cara yang baik untuk mengatasi suatu permasalahan. Berbeda dengan berpikir licik yang berusaha menggunakan akalnya untuk mencari cara yang buruk untuk memutarbalikkan fakta. Memang, kadangkala amat sulit membedakan antara berpikir cerdik dan licik.

Simak ceritera “Si Kancil”

Ketika si Kancil tertangkap petani dan dikurung dalam “kurungan” ia tidak panik. Ia sadar bahwa ia akan di sembelih untuk santapan “sang Petani”. Ia kemudian berpikir bagaimana caranya melepaskan diri. Ia kemudian melihat kurungan dan menyimpulkan bahwa ia tidak mungkin mampu membuka kurungan. Apa akal? Selagi ia berpikir datanglah seorang anjing. Pada saat itu terlintaslah sebuah ide.

“Ngapain kau kancil”, tanya anjing.

“Aku mau dijadikan mantu oleh pak Tani”, jawab si Kancil.

“Enak ya kamu Cil”, si Anjing iri.

“Kamu mau dijadikan mantu?”, si Kancil memancing.

“Mau!”, jawab anjing.

“Kalau begitu, kau masuk ke dalam kurungan ini”, kata si Kancil.

“Okey”, kata anjing dengan gembira.

Simak pula ceritera Abunawas berikut ini.

            Baginda Raya Harun Al Rasyid memanggil Abunawas untuk meminta nasehat karena ia sudah sebulan tidak berselera makan. Abunawas berpikir sejenak.

            “Baginda, hamba punya saran. Di hutan Tutupan, ada kijang berbulu putih yang dagingnya sangat lezat. Baginda pasti sembuh. Syaratnya Baginda harus menangkapnya sendiri”, kata Abunawas.

            “Baik, besok kita berangkat”, kata Baginda

Merekapun pergi berburu melalui jalan yang rumit. Baginda tampak lelah, haus dan lapar. Abunawas kemudian pergi memancing dan mendapatkan beberapa ekor ikan yang kemudian diberi garam dan asam serta memanggangnya. Bau harum semakin membuat baginda lapar.

            “Mari kita makan, Baginda”, ajak Abunawas.

            “Baik”, Baginda sangat berselera, dan memakan habis ikan tersebut.

            “Belum pernah aku memakan masakan selezat ini”. Mari kita lanjutkan berburunya”, ajak Baginda.

            “Maaf Baginda kijang itu tidak ada”, jawab Abunawas.

            “Lalu bagaimana dengan kesembuhan saya”, tanya Baginda.

            “Baginda telah sembuh dari penyakit baginda”, jawab Abunawas.

 

Dari ceritera itu, dapat kita baca bahwa si Kancil berusaha menggunakan akal pikirannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Ia berhasil menemukan ide dengan cepat meskipun ia harus mengorbankan pihak lain. Cerdik atau licik?

Berbeda dengan ceritera kedua dimana Abunawas dalam waktu yang singkat mampu mencarikan solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh Baginda. Meskipun ceritera itu agak konyol, dapat dinyatakan bahwa Abunawar mampu berpikir cerdik. Memecahkan masalah dengan tepat dalam waktu yang cepat.

C.1. Strategi berpikir cerdik

Ada 8 strategi yang dapat mendorong  cara berpikir anda lebih produktif untuk memecahkan masalah:

  1. Lihatlah persoalan anda dengan berbagai cara yang berbeda dan cari perspektif baru yang belum perbah dipakai oleh orang lain (atau belum diterbitkan).
  2. Bayangkan
  3. Hasilkan! Karakteristik anak jenius yang membedakan adalah produktivitas.
  4. Buat kombinasi-kombinasi baru. Kombinasikan, dan kombinasikan ulang ide-ide, bayangan-bayangan dan pikiran-pikiran ke dalam kombinasi yang berbeda, tidak peduli akan keanehan atau ketidakwajaran.
  5. Bentuklah hubungan-hubungan; buatlah hubungan antara persoalan-persoalan yang berbeda.
  6. Berpikir secara berlawanan
  7. Berpikir secara metafora
  8. Persiapkan diri anda untuk menghadapi kesempatan.

 

D. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis 

Hanya sedikit hal dalam hidup ini yang berupa hitam dan putih. Sehingga sangat penting untuk mampu melihat segala sesuatu dari berbagai sisi hingga mampu mencapai kesimpulan yang logis. Salah satu hal penting yang akan anda pelajari di perguruan tinggi adalah berpikir kritis dan tidak menerima apa yang anda lihat dan dengar secara seketika. Berpikir kritis sangat penting dalam mempelajari materi baru dan mengaitkannya dengan apa yang telah anda ketahui. Meskipun anda tidak mengetahui semuanya, anda dapat belajar untuk bertanya secara efektif dan mencapai kesimpulan yang konsisten dengan fakta.

·                  Ketika anda menjumpai fakta, gagasan atau konsep baru, pastikan anda memahami dan mengetahui istilah-istilah yang ada.

·                  Pelajari bagaimana fakta atau informasi diperoleh. Apakah diperoleh dari percobaan, apakah percobaan tersebut dilakukan dengan baik dan bebas bias? Dapatkah percobaan itu diulangi?

·                  Jangan terima semua pernyataan pada secara seketika. Apakah sumber informasi tersebut dapat dipercaya?

·                  Pertimbangkan apakah kesimpulan mengikuti fakta? Bila fakta tidak mendukung kesimpulan, ajukan pertanyaan dan tentukan kenapa demikian. Apakah argumen yang dipergunakan logis atau mengambang?

·                  Terbuka terhadap gagasan baru. Contoh terkenal adalah teori tektonik lempeng. Meskipun prinsip-prinsip dasarnya telah diketahui pada awal abad 20, namun teori tersebut baru diterima kalangan luas setelah tahun 1970-an setelah bukti-bukti yang berlimpah.

         Lihatlah pada gambaran yang besar untuk menentukan bagaimana berbagai unsur dalam topik tersebut dihubungkan. Sebagai contoh, bagaimana pembangunan sebuah bendungan akan mempengaruhi bentuk sungai? Apa yang akan terjadi pada pantai di mana sungai tersebut bermuara? Salah satu pelajaran yang sangat penting (yang juga membedakan geologi dengan ilmu lainnya) adalah bagaimana saling keterkaitan dan ketergantungan berbagai sistem di Bumi ini. Ketika anda mengubah salah satu, anda akan mengubah berbagai hal lainnya pula.

 

C.1. Karakteristik pemikir kritis

-         jujur terhadap diri sendiri

-         melawan manupulasi

-         mengatasi kebingungan (confusion)

-         mereka selalu bertanya

-         mereka mendasarkan penilaiannya pada bukti

-         mereka mencari hubungan antar topik

-         mereka bebas secara intelektual

 

C.2. Strategi untuk membaca secara kritis

Tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut pada diri anda sendiri:

-         Apa topiknya?

-         Kesimpulan apa yang diambil oleh pengarang tentang topik tersebut?

-         Alasan-alasan apa yang diutarakan pengarang yang dapat dipercaya?

-         Apakah pengarang menggunakan fakta atau opini?

-         Apakah pengarang menggunakan kata-kata netral atau emosional?

 

E. Mengembangkan berpikir ilmiah

Sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi (terutama di perguruan tinggi) pelajar itu diajar agar berpikir ilmiah, yaitu berpikir logis-empiris. Di perguruan tinggi, sebelum mahasiswa mengadakan penelitian untuk menulis skripsi atau tugas akhir, mereka belajar Metodologi Riset, di situ mereka pasti diajari metode ilmiah (scientific method). Rumus metode ilmiah ialah logico-hypotetico-verificatif. Artinya, sesuatu yang benar itu haruslah logis dan didukung data empiris. Metode ilmiah inilah yang merupakan grand theory yang darinya diturunkan metode-meatode penelitian. Rumus logico-hypotetico-verifikatif adalah tulang punggung teori penelitian ilmiah, sedangkan penelitian ilmiah itu adalah cara yang sah dalam memperoleh kebenaran ilmiah.

 

E.1. Metode ilmiah

            Kerja  memecahkan masalah akan sangat berbeda antara seorang sarjana dengan seorang awam. Seorang sarjana selalu menempatkan logika serta menghindarkan diri dari pertimbangan subyektif. Sebaliknya bagi orang awam, kerja memecahkan masalah dilandasi oleh campuran pandangan perorangan ataupun dengan apa yang dianggap masuk akal oleh banyak orang.

            Dalam menelaah, seorang sarjana dapat saja mempunyai teknik, pendekatan ataupun cara yang berbeda dengan seorang ilmuwah lainnya. Tetapi kedua sarjana tersebut tetap mempunyai satu falsafah yang sama dalam memecahkan masalah, yaitu menggunakan metode ilmiah.

            Dapat didefinisikan bahwa metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Metode ilmiah dalam menelaah atau meneliti mempunyai criteria serta langkah-langkah tertentu dalam bekerja, seperti tertera dalam skema di bawah ini.

 

Metode Ilmiah

 

Kriteria

Langkah-langkah

 

  1. Berdasarkan fakta.
  2. Bebas dari prasangka
  3. menggunakan prinsip-prinsip analisis
  4. menggunaksn hipotesis
  5. menggunakan ukuran obyektif
  6. menggunakan teknik kuantifikasi
  1. memilih dan mendefinisikan masalah
  2. surevi terhadap data yang tersedia
  3. memformulasikan hipotesis
  4. membangun kerangka analisis serta alat-alat dalam menguji hipotesis
  5. mengumpulkan data primer
  6. mengolah, menganalisis serta membuat interpretasi.
  7. membuat generalisasi dan kesimpulan

           

Sistematika dalam metode ilmiah sesungguhnya merupakan manifestasi dari alur berpikir yang dipergunakan untuk menganalisis suatu permasalahan.  Alur berpikir dalam metode ilmiah memberi pedoman kepada para ilmuwan dalam memecahkan persoalan menurut integritas berpikir deduksi dan induksi.


E.2. Pola berpikir induktif dan deduktif

            Pada hakekatnya, berpikir secara ilmiah merupakan gabungan antara penalaran secara deduktif dan induktif. Masing-masing penalaran ini berkaitan erat dengan rasionalisme atau empirisme. Memang terdapat beberapa kelemahan berpikir secara rasionalisme dan empirisme, karena kebenaran dengan cara berpikir ini bersifat relatif  atau tidak mutlak. Oleh karena itu, seorang sarjana atau ilmuwan haruslah bersifat rendah hati dan mengakui adanya kebenaran mutlak yang tidak bisa dijangkau  oleh cara berpikir ilmiah.

Induksi merupakan cara berpikir untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Sementara deduktif merupakan cara berpikir yang berpangkal dari pernyataan umum, dan dari sini ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.

Contoh induktif

Contoh 1.

Proposisi 1: Si A “titip tanda tangan daftar hadir” pada si C agar memenuhi syarat kehadiran kuliah 75% untuk dapat mengikuti ujian.

Proposisi 2: Karyawan X nampak bekerja giat pada saat mandornya mengawasinya, tetapi jika tidak diawasi ia santai saja.

Proposisi 3: Dosen Q “titip” mencetakkan kartu hadirnya ke dalam time recorder  agar tidak ketahuan kalau datangnya tidak pagi dan pulangnya belum siang.

Proposisi 4: Pada saat rapat Kepala Bagian, K tidak pernah mengajukan keberatan-keberatan karena takut dianggap pembangkang dan tidak loyal.

Kesimpulan: Sikap munafik (hipokrit) terjadi karena ketakutan akan sangsi.

 

Contoh 2.

Proposisi 1: Si T selalu mengikuti kuliah karena menganggap kuliah yang diberikan dosen itu menarik dan amat penting isinya.

Proposisi 2: Si U selalu hadir mengikuti penataran walaupun ia menganggap isinya tidak berguna baginya, karena penataran itu menjadi salah-satu syarat bagi kenaikan pangkatnya.

Proposisi 3: Si Z selalu mengikuti kuliah Pak Q karena ia takut jika tidak hadir akan merusakkan hubungannya  dengan keponakan Pak Q

Kesimpula 1: Kesediaan mengikuti kegiatan pendidikan tergantung pada persepsi mengenai manfaatnya.

Kesimpulan 2: Motif orang mengikuti kegiatan pendidikan tidak selalu sama.

 

Kesimpulan-kesimpulan di atas bisa ditingkatkan menjadi teori:

Teori 1: Kemunafikan terjadi karena sikap otoriter atasan.

Teori 2: Kesediaan melakukan sesuatu dipengaruhi oleh persepsi mengenai manfaat sesuatu.

Teori 3: Motivasi orang melakukan sesuatu tidak selalu sama.

Jika ketiga teori itu dipadukan, akan menjadi kesimpulan yang bunyinya: “Perilaku seseorang tergantung pada situasi, persepsi dan motivasi.

Contoh deduktif

Contoh 1.

Proposisi 1: Perilaku merupakan fungsi motif (teori: asumsi)

Proposisi 2: Banyak mahasiswa tidak mau aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. (perilaku: gejala empirik).

Kesimpulan: Ada motif mengapa mahasiswa tidak mau aktif dalam organisasi kemahasiswaan.

Cohtoh 2.

Proposisi 1: Peran serta bergantung pada iklim demokrasi.

Proposisi 2: Peran guru-guru dalam kegiatan administrasi pendidikan sangat tinggi.

Kesimpulan: Atasan para guru bersikap demokratik.

Contoh mendedusi yang salah

Proposisi 1: Manusia merupakan makhluk social yang suka hidup berkelompok dan ada pemimpin di dalamnya.

Preposisi 2: Semut suka hidup berkelompok dan di dalamnya ada pemimpinnya.

Kesimpulan: Manusia itu tergolong semut.

 

Kesimpulan

            Sebagai seorang sarjana atau ilmuwan, kita dituntut berpikir cerdik, kritis dan ilmiah dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup. Namun sebagai seorang sarjana kita juga dituntut untuk mempunyai sifat rendah hati, karena kebenaran yang diperoleh melalui proses berpikir tersebut bersifat relatif.

 

Daftar Pustaka

Amirin, T. M.  1995. Menyusun Rencana Penelitian. PT Raja Grafindo Pustaka, Jakarta.

Anonimus. 2003. Berpikir yang cerdik. www.iss.stthormas.edu/studyguides/Indonesia-Malay/genius.com.

Anonimus. 2003. Berpikir kritis.  www.iss.stthormas.edu/studyguides/Indonesia-Malay/crtthn.htm

Anonimus. 2003. Mengembangkan Kemampuan Belajar dan Berpikir Kritis.(Tips untuk para mahasiswa baru).

Anonimus. 2003. Sakit aneh sang baginda raja. Bobo, 9 Januari 2003, hal. 44-45.

Nazir, M. 1988.  Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta.

Poerwadarminta, W. J. S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. PN Balai Pustaka, Jakarta.

Randa, S. Y. 2003. Keterbatasan empirisme dalam metode ilmiah.

About these ads

Actions

Information

27 responses

30 09 2009
rera

ada pepatah yang mengatakan bahwa semakin banyak pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang, orang itu semakin merasa tidak tau apa-apa…kemudian bagaimana hakikatnyan ilmu yang selama ini orang tersebut pelajari?
selama menjadi mahasiswa, sebagian orang mengalami proses penemuan jati diri, bagaimanakah hal itu berlangsung dan selama apakah proses itu berjalan?
apakah semua orang pada akhirnya bisa menjadi bijaksana?
atau semua itu hanya karena waktu?
terimakasih..

1 10 2009
uripsantoso

Pepatah itu menggambarkan bahwa orang yang telah banyak memahami hakikat hidup itu menyadari bahwa apa yang dia kuasai hanya sedikt. Oleh sebab itu, tidaklah pantas ia menyombongkan diri. Kesadaran ini kemudian mengarahkan dia kepada Dzat Yang Maha Tahu, yang menciptakan semuanya ini. Orang-orang seperti ini kemudian dengan kesadaran yang tinggi tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta, dan mengakui kelemahan diri. Ini bukan berarti mereka berhenti menggali ilmu. Justru dengan kesadaran bahwa yang dikuasai itu sedikit, maka mereka akan terus berusaha meningkatkan ilmu meskipun mereka sadar bahwa apapun yang dilakukan tetap saja bahwa apa yang dikuasai hanya sedikit. thanks.

1 04 2010
MUHAMMAD SHOFAN

Pengetahuan merupakan suatu ilmu yang sebagian kecilnya bisa kita ambil dari kehidupan di sekitar lingkungan yang kita huni…

2 04 2010
uripsantoso

Betul sdr shofan.

15 05 2010
Aris

saya tidak setuju kalau yang contoh kancil termasuk dalam berpikir cerdik padahal anda sudah menjelaskan bahwa berpikir cerdik berarti menggunakan cara – cara yang “BAIK” untuk mengatasi suatu permasalahan.
tapi dari contoh kancil yang anda berikan sama sekali bukan perbuatan “BAIK”
bagaimana bisa melemparkan masalah kita kepada orang lain disebut cara – cara yang “BAIK”.

silakan kalau ada tanggapan.
terima kasih.

7 11 2010
andra e kusuma

ilmu itu cahaya,,, jk ilmu itu bs diamal
kan maka orang yan berilmu itu akan bertambah trus ilmunya,,, jika tidak maka azab Tuhan akan datang pada orang yang berilmu tapi tak beramal

24 02 2011
Rayi

Semua abu abu banyak dari kita tak tahu mana yg benar dan mana yg salah, tetapi menjalani dengan kebaikan pasti hasilnya akan baik seperti halnya ilmu geologi yg tadi di sebutkan. Hidup kita pun akan begitu. Tapi terkadang menjadi warna abu abu tatkala Sang Pencipta telah berkehendak, yg nantinya Ia lah yg akan menentukan jadi hitam atau putih pikiran dan hati kita atau mungkin berarti persepsi kita adalah milikNya juga

26 02 2011
uripsantoso

Manusia diberi wewenang untuk memilh jalan hidupnya, sehingga hitam putihnya jalan hidup bergantung kepada diri sendiri dan lingkungan. Tuhan tidak akan mensia-siakan hambaNya yang taat. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya.

27 06 2012
ihsan

namun kenapa terkadang orang yang selalu taat beribadahhh itu kemudian selalu mendapat cobaan? mengapa

28 06 2012
uripsantoso

Semakin taat seseorang akan semakin banyak dan semakin berat ujiannya. Ini bertujuan agar muslim yang taat akan dapat mencapai derajat tertinggi. Ujian terberat adalah diberikan kepada para Rasul.

12 10 2011
jajang

subhanallah, indah sekali penjabarannya pak, bisa tolong kirimkan ke email saya? (nooralamjajang@gmail.com)

13 10 2011
uripsantoso

Kan bisa dikopi langsung sdr Jajang. Tks

2 11 2011
17051993SAN

Subhanallah,, ,, ,,
MemanG sMua dimulai Dri hal yG kecil. jangan prnah mremehkan ssUatu hal yg kecil,,karena dri hal yg kecil dan yg kelihatan remeh itulah awal dari segalanya. awal dari seMua hal yg Bernilai,, ,, ,,

2 11 2011
uripsantoso

Betul sekali SAN

9 11 2011
dieni

bagus banget..terkadang orang memang lupa untuk berpikir kritis, atau memang secara tidak sadar kalau pikiran’y pd akhirnya akan mengarahkan terhadap hal2 logis selagi fikiran itu dalam keadaan sadar/netral…

10 11 2011
uripsantoso

Betul Dieni.

22 11 2011
ghozian

thanks pak uripsanstoso..

29 05 2012
ngawulangan

orang lebih banyak memilih kata emosional unt.uk pemuas diri dari pada berpikir dengan menggukan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. sangat tertarik dengan artikel ini.

30 05 2012
uripsantoso

Tks mas Ngawulangan.

30 08 2012
Kevin Foristian

Baru masuk perguruan tinggi,lagi cari artikel berpikir kritis, Menarik,semoga bisa diresapi lebih lagi

13 11 2012
and4l

Reblogged this on and4l and commented:
bagus nih blog nya

13 11 2012
uripsantoso

Terima kasih atas kunjungannya.

16 11 2012
maharani

maharani E1C011010. artikel yang sangat bagus untuk para mahasiswa, agar dapt berfikir secara kritis. dimana, sekarang ini banyak mahasiswa yang asal bicara tetapi tidak memikirkan hal-hal yang akan terjadi selanjutnya. terimakasih

17 11 2012
uripsantoso

Thanks Maharani

26 11 2012
rachman sandhi sastra asmara

Ass pak,
dengan berjalannya waktu terus kedepan, alam slalu mewarnai hidup saya. dan alam slalu menjadi pelajaran hidup saya.
sampai akhirnya saya menemukan kata cerdik dan cendekia.
sya mau tanya :
1. orang cerdik apakah slalu licik / negatif?
2. apakah perbedaan makna cerdik dg cendekia?
tlong kecerahannya pak…..

26 11 2012
uripsantoso

cerdik dan cendekia hampir sama maknanya. Cerdik berbeda dengan licik. Cerdik adalah kemampuan seseorang dalam memecahkan persoalan yang dihadapi dengan akurat dan cepat. Cerdik berarti berpikir holistik atau menyeluruh dalam memecahkan masalah tanpa menimbulkan masalah. Jadi, mempunyai nilai positif. Licik cenderung bernilai negatif, karena orang yang licik tidak akan berpikir jolistik. Mereka hanya memikirkan diri sendiri, bagaimana mereka keluar dari persoalan mereka bila perlu mengorbankan orang lain. Tks

4 09 2013
rahman

permisi pak, saya izin men sitasi ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: