Kecerdasan Naturalis

31 07 2008

Oleh: Urip Santoso
Barangkali di masa-masa yang lalu, kecerdasan akademik dianggap hal yang paling menentukan keberhasilan seseorang. Seorang murid atau mahasiswa dinilai cerdas apabila ia mempunyai prestasi akademik yang tinggi. Kalau siswa/siswa ukurannya adalah nilai NEM, UN yang tinggi, kalau mahasiswa ukurannya adalah IPK yang tinggi. Kecerdasan akademik begitu mendominasi dunia pendidikan, sehingga prestasi murid hanya dinilai dari prestasi akademiknya. Prestasi akademik pun hanya dinilai dari satu sudut pandang saja, yaitu nilai akademik yang biasanya merupakan indikasi penguasaan ilmu secara teoritik dan praktek yang sangat terbatas. Padahal masih banyak lagi prestasi akademik lainnya yang seharusnya dimasukkan ke dalam ukuran prestasi akademik seperti kemampuan menulis karya ilmiah, kemampuan presentasi karya ilmiah, kemampuan berargumentasi dll. Sayangnya ini semua tidak menjadi ukuran yang mutlak dalam menilai prestasi akademik seorang siswa atau mahasiswa.
Sesungguhnya prestasi akademik yang notabene hanya dinilai berupa UN, NEM, IPK hanyalah sebagian kecil saja dalam menentukan keberhasilan seseorang. Kini — meskipun sebenarnya dari dulu sudah ada dengan istilah yang berbeda — semakin disadari betapa untuk menjadi sukses seseorang harus memiliki kecerdasan lainnya seperti kecerdasan sosial, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual dll. Salah satu kecerdasan yang amat penting bagi kelestarian hidup makhluk hidup dan alam semesta adalah kecerdasan naturalis.
Seorang psikolog AS yang bernama Dr. Howard Gardner mengemukakan teorinya tentang kecerdasan jamak. Ia berpendapat bahwa kecerdasan seseorang bukan hanya kecerdasan matematis-logis (kecerdasan intelektual), tetapi ia harus memiliki delapan kecerdasan lainnya. Salah satunya adalah kecerdasan naturalis atau kecerdasan alam. Kecerdasan naturalis adalah kecerdasan yang dimiliki oleh individu terhadap tumbuhan, hewan dan lingkungan alam sekitarnya. Individu yang memiliki kecerdasan naturalis yang tinggi akan mempunyai minat dan kecintaan yang tinggi terhadap tumbuhan, binatang dan alam semesta. Ia tidak akan sembarangan menebang pohon. Ia tidak akan sembarangan membunuh dan menyiksa binatang. Dan ia juga akan cenderung menjaga lingkungan dimana ia berada. Ia akan menyayangi tumbuhan, binatang dan lingkungan sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri. Inilah kecerdasan naturalis yang tinggi. Nah, orang-orang yang bersusah payah menanam kembali pohon di area yang gundul tanpa mengharapkan imbalan yang memadai itulah orang-orang yang mempunyai kecerdasan naturalis yang tinggi. Sebaliknya, orang-orang yang dengan mudahnya merusak lingkungan, menyiksa dan membunuh binatang serta menebang tumbuhan secara sembarangan itulah orang-orang yang mempunyai kecerdasan naturalis yang rendah.
Kecerdasan naturalis perlu diajarkan dan ditanamkan sejak anak usia dini, yaitu antara 0-6 tahun sesuai dengan teori perkembangan otak. Pada saat ini efektifitasnya sangat tinggi, artinya pada saat usia ini internalisasi nilai-nilai naturalis akan sangat efektif diserap dan diterapkan oleh anak-anak. Diatas usia ini efektifitasnya diprediksi berkurang dan semakin kurang efektif sejalan dengan bertambahnya usia anak tersebut.
Jika melihat usia 0-6 tahun, maka yang banyak berperan dalam menanamkan nilai-nilai naturalis adalah kedua orangtua alias keluarga. Jika pada usia ini mereka juga telah dimasukkan ke PAUD, maka keluarga dan PAUD-lah yang mempunyai peranan dalam menanamkan nilai-nilai naturalis. Untuk itu, setiap orang tua dan guru PAUD harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang nilai-nilai naturalis agar mereka dapat memberi pengetahuan teori dan contoh nyata kepada anak-anak tersebut. Amat penting artinya untuk memasukkan ke dalam kurikulum PAUD nilai-nilai naturalis, sehingga sejak dini anak-anak sudah mendapat pengetahuan tentang lingkungan dan bagaimana melestarikan lingkungan. Praktek dan contoh nyata amat penting bagi anak-anak usia dini ini.
Apa yang dapat diajarkan dan dicontohkan oleh keluarga (orang tua) dan guru PAUD? Mereka dapat memberi pelajaran dan praktek memelihara tanaman (menanam, menyiram, menyiangi, memupuk dll.), memelihara dan menyayangi binatang, membersihkan lingkungan sekitar, membuang sampah pada tempatnya, membiasakan mereka untuk tidak mencabut tumbuhan secara serampangan dll. Kebiasaan-kebiasaan yang ditanamkan sejak dini ini akan berurat akar, sehingga mereka akan secara konsisten mempraktekkan nilai-nilai naturalis. Muatan naturalis juga harus terus diberikan dan ditanamkan secara berkesinambungan dari PAUD hingga perguruan tinggi. Dengan cara ini, diharapkan mereka mempunyai kecerdasan naturalis yang tinggi.
Internalisasi nilai-nilai naturalis ini harus dibarengi dengan aturan-aturan yang dilaksanakan secara konsekuen. Aturan-aturan itu dapat dibuat oleh pemerintah pusat ataupun oleh pemerintah daerah. Pelaksanaan aturan (Perda) yang tidak konsisten akan berdampak kepada tidak patuhnya masyarakat terhadap aturan itu. O)leh sebab itu, sekali aturan itu dibuat harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Tentu saja, aturan itu sebelumnya harus disosialisasikan ke masyarakat.

About these ads

Actions

Information

One response

8 02 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: