Back to Nature

Oleh: Urip Santoso

Back to nature telah menjadi idola dewasa ini. Betapa tidak, setelah manusia bergelimpang dengan obat sintetis, maka ditemukan banyak sekali efek samping dari obat sintetis ini. Juga, sekarang banyak bertebaran suplemen, pewarna, pengawet, penyedap rasa dari senyawa sintetis. Ternyata, senyawa-senyawa ini dalam jangka panjang menimbulkan efek samping terhadap kesehatan manusia. Pupuk pun demikian, kembali ke pupuk organik. Orang mulai kembali mengembangkan sayur mayur tanpa pupuk anorganik. Mereka menggunakan pupuk organik seperti kompos, pupuk kandang atau yang sejenis. Orang mulai menghindari antibiotika yang dianggap berbahaya dalam jangka panjang. Antibiotik dijadikan kambing hitam penyebab resistensinya beberapa mikrobia patogen. Jadilah sekarang dikembangkan dan digunakannya mikrobia efektif dalam kegiatan manusia. Maka, berkembanglah produk-produk mikrobia efektif dengan berbagai kegunaannya. Orang pun kembali cenderung mengkonsumsi jamu (obat yang berasal dari senyawa alami). Orang mulai enggan minum obat sintetis.
Benarkah demikian? Apakah sesuatu yang alami pasti lebih baik daripada yang sintetis? Apakah benar jamu selalu lebih baik daripada obat sintetis? Apakah benar bahwa pupuk organik selalu lebih baik daripada pupuk anorganik? Benarkah pengawet alami pasti lebih baik daripada pengawet buatan? Benarkah pewarna alami selalu lebih baik daripada pewarna buatan? Dan mungkin masih sejuta pertanyaan dapat diajukan.
Marilah sedikit kita kaji masalah ini. Mari kita bandingkan jamu dengan obat sintetis. Jika ditinjau dari sudut efektifitas maka obat sintetis akan lebih baik daripada jamu. Sebab, obat sintetis biasanya murni sehingga dapat ditentukan dosis yang tepat bagi penyembuhan suatu penyakit. Sementara jamu yang dibuat dari bahan alami tidak dapat dipastikan bahwa kandungan senyawa aktifnya selalu sama dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu, dosis yang tepat sulit ditentukan. Bisa jadi, dosis yang sama tidak menjamin untuk menyembuhkan penyakit yang sama, sebab dosis senyawa aktifnya mungkin berbeda. Memang sekarang sudah dikembangkan fitofarmaka sehingga kandungan senyawa aktifnya lebih terjamin. Kelebihan obat sintesis yang lain adalah bahwa ia dapat diminum dalam jumlah yang lebih sedikit daripada jamu. Hal ini disebabkan obat sintetis, senyawa aktifnya murni hampir seratus persen.
Hal lain yang dapat dikemukakan antara obat sintetis dan alami adalah pendapat bahwa obat alami lebih aman. Pendapat ini tidak seratus persen benar. Penulis beranggapan, selama senyawa kimia itu sama persis – rumus kimianya, strukturnya, sifat-sifatnya dll. – maka senyawa tersebut baik yang alami maupun yang sintetis akan sama aktifitas biologisnya. Jika terjadi aktifitas senyawa yang alami berbeda dengan senyawa sintetisnya mungkin mereka berbeda dalam strukturnya. Contoh asam linoleat. Pada asam linoleat posisi rantai gandanya berdekatan (conjugated linoleic acid) akan mempunyai daya khasiat yang berbeda jika rantai gandanya berjauhan. CLA bersifat antikanker, sedangkan lainnya bersifat menstimulasi kanker. Sama-sama rantai gandanya berdekatan, jika posisinya berbeda maka akan mempunyai daya khasiat yang berbeda pula. Bahkan kedudukan atom hidrogen yang berbeda, misalnya sis-sis akan berbeda dengan yang sis-trans atau trans-trans. Nah, yang sering ditemukan adalah senyawa alami ditemukan dalam bentuk yang berbeda dengan senyawa sintetisnya. Tentu saja dan sudah pasti daya khasiatnya berbeda pula.
Kalau begitu senyawa alami tidak punya kelebihan? Tentu saja ada. Pertama jamu biasanya mempunyai dosis senyawa aktif yang lebih rendah. Nah, dengan cara ini jamu akan menyembuhkan penyakit dengan secara perlahan. Hal ini mempunyai manfaat antara lain tidak menyebabkan daya resisten mikrobia patogen terhadap jamu itu. Kedua, jamu biasanya dibuat dari bahan-bahan alami tanpa ekstraksi. Nah, biasanya di dalam bahan alami terdapat banyak senyawa yang sering kali mempunyai khasiat yang berbeda-beda, sehingga jamu akan mempunyai daya khasiat terhadap beberapa penyakit. Selain itu, terdapat pula antinya. Maksudnya, jika di dalam bahan alami itu terdapat senyawa yang berbahaya maka di dalam bahan alami itu biasanya mempunyai senyawa antinya sehingga jika dikonsumsi oleh manusia tidak berbahaya lagi. Akan tetapi, jangan lupa bahwa jamu juga mempunyai efek samping seperti obat sintetis. Ada yang lemah, ada yang sedang dan ada yang kuat. Ada pula yang efek sampingnya lebih tinggi dari pada obat sintetis.
Fenomena ini juga berlaku bagi senyawa-senyawa kimia lainnya seperti senyawa kimia untuk suplemen, pengawet, pewarna, penyedap rasa dll. Jadi yang alami belum tentu lebih baik. Tapi juga sebaliknya, yang sintetis belum tentu lebih baik. Yang paling baik adalah anda menggunakannya sesuai dengan kebutuhan. Tidak berlebih-lebihan. Yang berlebih-lebihan inilah yang menjadi pangkal sebab utama efek samping dari senyawa kimia, baik yang alami maupun yang sintetis. Pelajarilah secara seksama sifat, fungsi dan dosisnya sebelum anda mengkonsumsinya.

3 Responses to “Back to Nature”

  1. janu Says:

    Sekarang ini banyak orang yang back to nature tentu ada alasannya, yaitu banyak efek samping senyawa sintetis. Mungkin teknologi sekarang manusia belum mampu membuat senyawa yang sama sifatnya dengan yang alami.

  2. najwaazizah Says:

    Sekarang ini banyak orang yang back to nature tentu ada alasannya, yaitu banyak efek samping senyawa sintetis. Mungkin teknologi sekarang manusia belum mampu membuat senyawa yang sama sifatnya dengan yang alami.

  3. uripsantoso Says:

    Di dalam bahan alami terdapat banyak senyawa yang mungkin saja saling sinergi. Akan tetapi ketika senyawa-senyawa itu diekstrak sendiri-sendiri maka akan lain sifat dan khasiatnya. Jadi harus hati-hati juga mengkonsumsi bahan alami yang sudah diekstrak.

Leave a Reply