Budaya Buang Sampah Sembarangan

5 07 2008

Oleh: Urip Santoso

 

Bus-bus meluncur cepat di jalur Pantura. Jalur yang amat padat. Diantara berkelebatnya para bus, terseliplah luncuran-luncuran daun, plastic, kaleng  dan bahkan botol kaca dari jendela yang terbuka. Di arah berlawanan meluncur dengan cepat sebuah mobil mewah. Terlihat pula jendela dibuka sebentar dan terbanglah botol aqua gelas. Di pinggir jalan tampak beberapa orang bergerombol bergunjing sambil makan dan minum. Sesekali tangan mereka bergerak membuang sisa-sisa minuman dan makanan mereka. Bila anda mengedarkan pandangan anda, akan anda lihat berserakan sampah-sampah. Teras rumah, halaman rumah, pinggir jalan sampai jalan  dihiasi oleh sampah. Jika anda mengedarkan pandangan anda ke selokan dan sungai akan anda dapati pemandangan serupa.  Jika anda ke pesta perkawinan coba anda perhatikan. Wah, sampah ada dimana-mana. Jika ada pasar malam atau perayaan, apa yang anda lihat? Sampah, sampah, sampah,  menggunung ada dimana-mana. Cobalah anda ke terminal atau ke pasar atau ke pusat-pusat keramaian. Mungkin akan anda jumpai pemandangan yang tidak sedap. Sampah menggunung. Bukan itu saja, baunya pun kurang sedap masuk ke hidung. Bagaimana sikap anda? Anda  jengkel bukan? Tapi jangan-jangan tanpa anda sadari sebagian dari sampah itu adalah dari anda.

Yah, pemandangan itu sudah merupakan kenyataan sehari-hari. Banyak orang membuang sampah sembarangan, dari yang berpendidikan tinggi sampai yang rendah, dari  yang kaya sampai yang miskin, dari mereka yang menjabat (maaf) sampai yang tidak menjabat. Sampai-sampai ada orang yang menyatakan bahwa buang sampah sembarangan sudah menjadi tradisi atau budaya. Kalau betul alangkah menyedihkan.

Pemerintah, melalui dinas kebersihan kemudian mengambil inisiatif. Disebar kontainer dimana-mana. Memasang tempat sampah di tempat-tempat strategis. Mobil juga dianjurkan ada tempat sampahnya. Kampanye anti sampah. Dan bermacam-macam program. Intinya agar masyarakat hidup sehat dan jangan membuang sampah sembarangan. Tapi apa yang terjadi dengan tempat sampah itu? Hanya dalam beberapa hari hilang sedikit demi sedikit. Entah siapa yang mengambil? Atau malah, ada juga yang membuang sampah di tempat sampah tetapi apa? Bangkai! Jika masih ada tempat sampah pun banayak yang tidak terawat. Ini suatu kenyataan, bukan dibuat-buat. Petugas mengeluh, masyarakat tidak patuh.

Lain pula dengan masyarakat. Mereka berkilah kalau membuang sampah di tempat sampah repot. Tempat sampahnya kan jauh, kilahnya. Mereka juga enggan  buang sampah ke kontainer. Repot, jauh dsb. Yang menggiriskan, ada juga orang yang  sampai ke tempat kontainer, sayangnya mereka justru membuang sampah di luar kontainer bukan di dalamnya. Yang lebih menggiriskan, ada masyarakat yang menolak kontainer ada di daerahnya. Alasannya bau…bau. Lho? Ya, karena sampahnya dibiarkan menggunung dan jarang disentuh oleh petugas. Alhasil, masyarakat membakar sampah di kontainer itu untuk mengurangi bau.

Jika hal ini ditanyakan ke petugas, mungkin lain pula alasannya. Lah bagaimana kami akan bertugas dengan baik, honornya kan tidak cukup untuk makan. Atau, mungkin akan dijawab jumlah truk sampah terbatas. Jumlah petugas yang sedikit, dana yang tidak mencukupi, atau alasan-alasan lainnya.

Yah, memang masalah sampah bagaikan lingkaran setan yang tidak ada putus-putusnya. Penanganan sampah gampang-gampang susah. Gampang jika kita semua sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Gampang jika fasilitas persampahan untuk cukup dan terpelihara. Gampang jika semua aturan mengenai persampahan ditegakkan. Gampang jika semua petugas bekerja penuh semangat. Susah, ya jika sebagian besar masyarakat  suka buang sembarangan. Susah jika aturan tidak ditegakkan. Susah kalau fasilitas tidak cukup dan tidak dipelihara. Susah kalau kita saling tuding, saling menyalahkan, saling berlepas diri.

Oleh sebab itu, marilah kita mulai dari diri kita sendiri untuk tidak membuang sampah sembarang. Dimulai dari rumah kita sendiri. Dimulai dari tempat bekerja kita sendiri. Didik dan tanamkan pada diri sendiri, anak-anak kita, siswa-siswi kita, mahasiswa-mahasiswi kiat, saudara kita, ayah-ibu kita, masyarakat kita, para pemimpin kita dll. untuk tidak membuang sampah sembarangan. Jangan lupa, jangan jadikan proyek persampahan. Sebab, proyek biasanya proyek habis maka kegiatannya pun akan habis pula. Tidak mudah memang. Mari koreksi diri sendiri sambil mengoreksi orang lain. Mari saling ingat-mengingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Nabi Muhammad bersabda: Kebersihan adalah sebagian dari iman.

About these ads

Actions

Information

14 responses

11 07 2008
nanit

Memang menyedihkan, buang sampah sembarangan sudah menjadi kebiasaan. Bagaimana mengatassinya?

28 07 2008
atashii

bukannya mau riya, tp sy pgn share …
biasanya jika saya dalam perjalanan membawa makanan yang menyisakan sampah/bungkus dan kebetulan sulit mencari tmp sampah, biasanya sampah itu saya simpan dulu di tas atau saku saya sampai menemukan tempat sampah …
kalau ternyata blm menemukan juga, saya bawa sampah itu sampai rumah, baru kemudian saya buang di tempat sampah di rumah …

memang benar kalau kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya itu susah kalau bukan dari diri sendiri …
atau umumnya kesadaran itu muncul setelah mengalami akibat yang mereka perbuat (banjir misalnya) …

semoga menginspirasi …

28 07 2008
uripsantoso

Saya salut atas contoh dari anda. Semoga contoh ini ditiru oleh orang lain. memang betul budaya buang sampah di tempatnya harus dimulai dari diri sendiri dan kemudian di contoh oleh orang lain. Thanks atas masukannya.

15 01 2009
Norman Harsya

Iya Mas, saya sedih sekali kalo lihat prilaku bangsa kita, saya gak terpikir, yang kayaknya elit, kaya, berpendidikan, juga gak mau mikir, buang sampah dari jendela mobil mercy, bmw, crv. Kebetulan saya pengurus RT, saya lama2 stress susahnya minta warga perhatikan sampah, jangan main lempar saja jatuh ke selokan. Yang nyebelin banyak warga yang kelebihan duit, kerjanya renov rumah terus, dipercantik terus, tapi brangkal2nya pada jatuh ke selokan dibiarin, semen2 yang jatuh dibiarin sampe mengeras, terjadi pendangkalan, air selokan gak bisa ngalir, tergenang, sampah2 yang sudah jatuh dibiarin nyangkut ke mana2, juga dibiarin berbulan2, kalo gak ditegur gak samasekali diperhatikan. Banyak atas selokan langsung dibeton jadikan taman, padahal selokannya sudah penuh lumpur dan brangkal, tutup aja, yang penting gak kelihatan. Mentalnya payah, padahal elit sering jalan2 ke LN.

15 01 2009
uripsantoso

Begitulah, saya juga amat prihatin. thanks.

20 03 2009
indri

saya sependapat dengan Norman Harsya, karena saya juga melakukan hal yang sama.
saya tidak mengerti kenapa masih saja ada orang yang nyaman berada dalam lingkungan yang di sekitarnya begitu banyak sampah berserakan, dan itu akibat “kemalasannya” membuang sampah pada tempatnya.

20 03 2009
uripsantoso

Memang memerlukan waktu yang lama untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang telah mendarah daging. thanks.

2 06 2009
Yosa Rosario

kalo qw lagi mikir gimna caranya agar ga buang sampah sembarang

qw lagi pingin coba untuk membuat sadar buang sampah dimualai dari anak TK

menurut kalian gmna?

Tapi jelasnya qw juga udah buang sampah di tempatnya dunk ^^

2 06 2009
uripsantoso

Kalo guwe pikir bukan aja dari TK, malah sejak dari kandungan, sang bayi ditanamkan budaya buang sampah di tempatnya. Gimana?

9 09 2009
Mayang

iya terutama pelajar seperti saya, kadang jika mereka diingatkan malah bilang “ga usah sok-sok an nasehat lah kan ga ada tempat sampah” kesel rasanya, susah amat nyadarin orang

10 09 2009
uripsantoso

demikian perilaku kita, padahal jelas bahwa semua orang kan tidak suka yang jorok tapi kok buang sampah sembarangan. Yang penting kita yang sadar tidak buang sembarangan. tq.

1 06 2010
Buanglah Sampah Pada Tempatnya « Indonesian Collective Straight Edge

[…] : http://uripsantoso.wordpress.com/2008/07/05/budaya-buang-sampah-sembarangan/ var a2a_config = a2a_config || {}; a2a_config.linkname="Buanglah Sampah Pada Tempatnya"; […]

5 08 2010
30 04 2011
dwiana

ya prihatin skl dgn kondisi negeri tercinta ini, rasanya ada biji salak nyangkut ditenggorokan mengenai kesadaran buang sampah, kok ya sulit skl.. tulisan mas Urip Santoso diatas duhh itu bgt yg aku jg biasa lht,, edukasi dan kesadaran yg minim mengenai hal ini bkn hanya tjd dikalangan bwh tp jg banyak contoh tjd dr org yg trpelajar, ekonomi mapan.. dr dlm mbl yg mewah lempar sampah kluar spt slh satu contoh wkt pulang ke Indonesia thn 2009 dlm antrian lintasan kreta api di stasiun bekasi msh tertegun mata ini lht org2 msh aja nyebrang walau kreta sdh mo deket ditambah lg lht aksi didpn aku mbl bagus wanita disebelah supir buang plastik es kemot, daun pisang.. ya ampun.. hadoooh. kesel jg wkt itu, blm lg sampah2 yg dipinggir jln.. sedih lht negara ini punya banyak hal yg patut dibanggakan dr banyak aspek, negeri dgn temperatur yg indah.. tp punya banyak problem.. slh satunya kesadaran buang sampah yg mmprihatinkan, ya skl lg setuju dgn tulisan2 diatas akibat dr buang sampah siapa yg rugi? siapa yg susah? siapa yg ga nyaman? kualitas hidup sehat lhr batin krisis, klo banjir dtg.. ya ALLAH ampun dech. kembali lg ke manusianya ya kita bersama bagaimana berinteraksi dgn alam ini, buatku itu jg ibadah, tiap kali terpukau lht negeri org yg bersih, dgn manusia2nya yg sadar utk menjaga kebersihan skitar bkn krn ada denda yg terapkan terbukti dr kota sampai prjalannanku ke country side, mountain walk, pushbike trail, besarnya national park dan bbrp tmpt lg yg sgt jauh dr keramaian serta petugas2 kebersihan yg hanya dtg sesekali, sedangkan pengunjung dtg setiap hari.. tetap masalah sampah=NOL, bersih dan natural alam, mereka disiplin walaupun ditempat yg sgt sepi… namun teringat negeri sendiri, sedih! populasi melonjak seiring sampah yg melonjak.. merubah fungsi sungai disulap jd tmpt buang sampah, dan tulisan Bpk pengurus RT diatas ttg warganya .. hadooh.. hadooh, hoby renovasi rmh klo suatu saat disapu banjir apa senang? minta2 tlg sama stasiun2 Tv diIndonesia perbanyaklah tayangan yg mendidik dan bermanfaat buat remaja jd kondisi tmn yg saling mengingatkan utk hal yg baik bs diolah dlm pikirannya bkn memperkaya mata dan pikiran remaja2 Indo dgn sinetron2 yg banyak tdk ada mutunya.. maaf ini menurut aku pribadi swaktu msh diIndonesia sinetron produksi punjabi sungguh tdk mencerminkan org2 Indonesia yg natural, kurang mendidik mungkin sekarang sinetron produksi mereka sdh berubah, yah harapanku sama, bersih Indonesia mudah2an bkn cm mimpi! amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: