KONSEP DAN MODEL KEBEBASAN AKADEMIS DI PERGURUAN TINGGI

4 06 2008

Oleh: Urip Santoso
Kebebasan menyatakan gagasan, pikiran, ide, berkumpul dan berserikat merupakan salah satu hak-hak azasi manusia (HAM). Hak-hak ini telah diakui oleh dunia internasional melalui Perjanjian Hak-hak Sipil dan Politik pasal 18, 19, 21 3 dan 22. Hak-hak ini juga tercantum dalam Pernyataan Sedunia tentang HAM pasal 18, 19, 20 dan 23. Kebebasan menyatakan gagasan, pikiran, ide, berkumpul dan berserikat merupakan salah satu hak hak asasi manusia (HAM). Hak hak ini telah diakui oleh dunia intemasional melalui Perjanjian Hak hak SiHak hak ini juga
Di Indonesia hak hak tersebut di atas juga diakui dan tercantuni dalam UUD 1945. Undang Undang Republik Indonesia No. 39 tahun 1999 tentang HAM juga menjamin hak hak tersebut. Hak hak tersebut tercantum dalam pasal 11 16. Intinya bahwa negara menjamin seorang warga negara Indonesia berhak untuk mengembangkan diri. Pasal 14 ayat 2 menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memilih, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jemis sarana yang tersedia. Sementara pasal 20 27 menjamin kebebasan pribadi. Pasal pasal 23 ayat 2 dinyatakan bahwa setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum dan keutuhan bangsa.
Kebebasan mengeluarkan gagasan d1l. bagi masyarakat (sivitas) akademika disebut dengan kebebasan akademik. Kebebasan akademik dijamin yaitu pada Peraturan Pemenintah Republik Indonesia No. 60 Tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi pada Bab VI pasal 17 20. Ketentuan ini telah dicantunikan dalam statuta pada masing masing perguruan tinggi termasuk UNIB.
Mengingat pelaksanaan kebebasan akademik diserahkan sepenuhnya kepada, masing masing perguruan tinggi (PP No.60 Tahun 1999 pasal 19 ayat 2), maka, terdapat variasi dalam pelaksanaannya. Bahkan, sejauh pengetahuan penulis banyak perguruan tinggi yang belum mengatur kebebasan akademik mi. Agar pelaksanaan kebebasan akademik di Universitas Bengkulu dapat berjalan dengan baik, maka sebaiknya tata cara pelaksanaan kebebasan akademik perlu segera dibuat, disosialisasikan, dilaksanakan dan kemudian dievaluasi.

Definisi Kebebasan Akademik
Menurut PP No. 60 Tahun 1999, kebebasan akadernik merupakan kebebasan yang dimiliki oleh anggota sivitas akademika untuk melaksanakan kegiatan yang terkait dengan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggungjawab dan mandiri.
Menurut Arthur Lovejoy yang dikutip oleh Haryasetyaka (2004), kebebasan akademik adalah kebebasan seseorang atau seorang peneliti di lembaga 11mu. pengetahuan untuk mengkaji persoalan serta mengutarakan kesimpulannya baik melalui penerbitan atau perkuliahan tanpa campur tangan dari penguasa politik atau keagamaan atau dan lembaga yang memperkerjakannya kecuali apabila metode yang digunakannya tidak memadai atau bertentangan dengan etika professional atau lembaga yang berwenang dalam bidang keilmuannya.
Menurut Nymeyer (1956) kebebasan akademik adalah kebebasan anggota fakultas untuk mengajar pada suatu sekolah dengan pikirannya sendiri dan mempromosikan spekulasi dan kesimpulan yang dibuat secara independen atau. bebas dari apa yang mungkin institusi kehendaki.
Dari definisi tersebut dapat dibaca bahwa kebebasan akademik dilaksanakan olch lembaga ilmu pengetahuan. Jika kedua definisi tersebut digabung maka lembaga pelaksana kebebasan akademik adalah Perguruan Tinggi. Kebebasan akademik yang dilaksanakan oleh sivitas akademik tidak bersifat mutlak atau absolut. Kebebasan tersebut harus memperhatikan etika professional, etika yang berlaku dalam masyarakat. Jika kita mengacu kepada UU No. 39 Talum 1999 tentang HAM, maka kebebasan akademik tidak dibenarkan bertentangan dengan nilai nilai agama, kesusilaan, keterbitan, kepentingan umum dan keutuhan bangsa. Pelaksanaan kebebasan akademik dapat dilakukan melalui berbagai media seperti melalui media cetak, media elektronik, tatap muka atau bentuk media lainnya. Kebebasan akdemik harus dipahami sebagai seperangkat hak dan kewaJiban dengan tetap bertanggung jawab dan akuntabel penuh kepada masyarakat. Mandiri, dapat diartikan marnpu berbicara dengan bebas tentang masalah masalah etika, budaya, social, ekonomi d1l. secara mandiri.
Ada tiga konsep dasar bagi kebebasan akademik. Pertama, sebagai peneliti, dosen harus bebas. Bagaimana mungkin penelitian dapat dilakukan tanpa kebebasan. Kedua, sebagai pemikir asli, dosen harus bebas. Bagaimana mungkin seseorang dapat menjadi pemikir asli, jika ia harus mematuhi hal hal yang telah berlaku di masa yang lalu. Ketiga, sebagai penyebar gagasan kedua, dosen dalam beberapa hal mungkin bebas, dan dalam beberapa hal mungkin t1dak bebas. Oleh karena itu, dosen sebagai guru/pengajar dijamin bebas dalam kelas jika mereka membahas tentang kajian ilmu yang diajarkan dan menghindari materi materi yang tidak berkaitan dengan maten pembelajaran.
Kebebasan akademik terdiri dari proteksi terhadap independensi intelektual professor, peneliti dan mahasiswa dalam mencani/menggali pengetahuan dan mengekspresikan gagasan gagasan yang bebas darii turut campur legislator atau pihak yang berwenang dalam instutisinya sendiri. Ini berard tidak ada kekolotan politik, ideology atau agama yang dibebankan kepada professor, peneliti dan mahasiswa melalui bebagai cara. Juga pimpinan tidak memasukkan kekolotan tersebut melalul pengontrolan budget universitas.
Dalam kondisi tertentu, kebebasan akademik bagi dosen sebagai pengaJar (untuk membedakan dosen sebagai peneliti dan pemikir asli) diperlukan tanpa memperhatikan apa yang orangtua atau mahasiswa inginkan. Hal ini berlaku pada sekolah negeri.
Mahasiswa bebas belajar, mengambil, menyimpan data atau pandangan yang diberikan dalam perkuliahan dan bebas menilai materi atau pendapat tersebut. Mahasiswa mendapat perlakuan yang sama dalam pembelajaran serta t1dak boleh dipaksa dalam kelas maupun di lingkungan akademik untuk menerima pendapat atau gagasan tentang filosofi, politik dan isu isu lain.

Manfaat Kebebasan Akademik
Kebebasan akademik ini mempunyai banyak manfaat anatara lain yaitu:
1. Mempercepat transfer ipteks.
2. Mempercepat pengembangan ipteks.
3. Membantu memecahkan problema di masyarakat (menjawab permasalahan masyarakat).
4. Membantu masyarakat berpikir, memahami dan bertindak.
5. Pada gilirannya mampu mendorong kearah kemajuan dan keseiahteraan masyarakat.
6. Kebebasan akademik akan melahirkan masyarakat beradab dimana nilai nilai kemanusiaan mendapat tempat tertinggi, subyektivitas individu diakul, setiap individu menyadari tanggung jawabnya terhadap diri dan masyarakat, dengan hukum sebagai sumber aturannya dan kepentingan bersama adalah tujuannya.
7. Hal ini akan mendorong atau mempercepat pelaksanaan demokrasi di masyarakat. Demokrasi mendambakan manusia manusia kritis, rasional,antiabsolutisme, yang mengharhai pluralitas individu dengan dialog sebagai jalan kompromi.
8. Menumbuh dewasakan kadar intelektual, emosional dan spiritual manusia.
9. Menjaga nilai nilai masyarakat dan kebenaran universal.
10. Menumbuh kembangkan kepeloporan dan keteladanan dari para cendekiawan dan calon cendekiawan, sehingga, erosi moral dapat diatasi.
11. Menghasilkan para sarjana sebagai pencipta kerja bukan sebagai pencari kerja.
12. Menumbuhkan perubahan dan pembaharuan yang sangat radikal di masyarakat.
13. Sarana bagi pengembangan masyarakat yang berbasis ipteks. Oleh sebab itu, pembelajaran dan penclitian menjadi komponen penting dari pembangunan berkelanjutan dari kebudayaan, sosio ekonomi dan lingkungan dari orang seorang, komunitas dan bangsa.

Model Sistem Akademik

Gambar 1. Model sistem Akademik

Dimulai dari pengaruh yang datang dari lingkungan sistem akademik melalui input baik berupa tuntutan maupun dukungan. Input inilah sebagal energi bagi system akademik untuk melaksanakan tugas. Tuntutan mengacu kepada kelangkaan sumber sumber dan keterbatan kemampuan sistem akademik dalam rangka memenuhi dan mengalokasikan sumber sumber yang langka tesebut secara memuaskan kepada masyarakat akademik. Dukungan mengacu pada energi yang dibutuhkan oleh sistem akademik tersebut dalam rangka memenuhi tuntutan-¬tuntutan yang muncul. Ketika sistem menghadapi tuntutan, maka ia memerlukan dukungan yang merupakan energi untuk mengubah tuntutan menjadi output yang mampu memenuhi tuntutan sebagian besar masyarakat akademis. Pada dasamya keberhasilan sistem adalah keberhasilan memenuhi tuntutan, mengendalikan dan mengatasi masalah yang timbul. Masalah atau tuntutan terjadi karena kebutuhan manusia cenderung tidak terbatas dan tidak selalu tersedia dengan sendirinya pada saat dibutuhkan. Tanpa dukungan yang cukup dari lingkungan sukar bagi sistem itu untuk dapat melaksanakan tuagsnya. Input oleh sistem akademik diubah menjadi output berupa keputusan dan kebijakan yang mengikat bagi masyarakat akademik sebagai jawaban terhadap pengaruh lingkungan. Selanjutnya output yang dihasilkan dikembalikan lagi ke dalam lingkungan, yang melalui proses umpan balik, pada akhimya akan mempengaruhi atau menjadi input baru bagi sistem akadernik. Sistem akademik tersebut kembali akan bekerja dengan cara yang sama melalui input input baru yang muncul.
Bentuk sistem akademik yang diharapkan adalah sistem akademik yang demokratis. Dalam bentuk sistem akademik yang demokratis cenderung untuk menggunakan komunikasi terbuka dalam arti setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menyampaikan tuntutan tersebut ke dalam sistem.

Fungsi Input dan Output
Disini perlu dijelaskan fungsi input dan output. Ada tiga fungsi input dalam sistem akademik yaitu 1) sosialisasi akademik dan rekrutmen akademik; 2) artikulasi kepentingan; 3) komunikasi akademik. Fungsi output adalah 1) pembuatan kebijakan; 2) penetapan kebijakan; 3) penghakiman kebijakan.
Dalam pengertian sosiologis, sosialisasi merupakan proses bagi anak anak berkenalan dengan nilai milai dan sikap sikap yang dianut masyarakat mereka, serta bagaimana, mereka mempelajari peranan peranan yang akan mereka lakukan bila mereka dewasa. Sosialisasi akademik tidak lain adalah bagian dari proses sosialisasi masyarakat akademis. Sosialisasi akademik secara khusus berfungsi membentuk nilai nilai akademik dan pola pola tingkah laku akademik dibentuk dan juga merupakan sarana, bagi suatu generasi untuk menyampaikan patokan patokan akademik dan keyakinan akademik kepada generasi berikutnya. Rekruitmen akademik merupakan proses penseleksian individu untuk dapat menjadi anggota sivitas akademika, mengisi lowongan dan jabatan jabatan akademik. Rekruitmen akademik berkaitan erat dengan karier akademik seseorang.
Sementara artikulasi kepentingan merupakan cara bagi anggota, masyarakat akademik agar kepentingan dan keberadaannya dapat terpenuhi secara memuaskan. Berbagai macam kepentingan dan kebutuhan masyarakat akademik mungkin dapat terpenuhi oleh sistem akademik apabila dikemukakan secara nyata, yaitu melalui lembaga, yang ada dalam masyarakat akdemik.
Adapun agregasi kepentingan adalah suatu kegiatan memadukan semua kepentingan anggota sivitas akademika yang telah diartikulasikan. Sedangkan komumkasi akademik adalah proses penyampaian informasi informasi yang bersifat akademik.
Pembuatan kebijakan, pelaksanaan kebijakan dan penghakiman kebijakan merupakan output dari sistem akadernik.

Sistem Akademik: Struktur dan Fungsi
Struktur dan fungsi akademik dapat penulis ilustrasikan pada Gambar 2.
I

Modei Pelaksanaan Kebebasan Akademik di Perguruan Tinggi
Dalam institusi akademik, suatu organisasi yang sehat dicirikan oleh kemampuannya menumbuh kembangkan kebebasan akademik, tingginya tingkat inovasi dan kreativitas, pemberdayaan individu untuk saling bertukar pengetahuan dan pekerjawi untuk membangun keberhasilan organisasi.Penulis mencoba membuat suatu model penerapan kebebasan akademik di perguruan tinggi (Gambar 3).

Gambar 3. Model Pelaksanaan Kebebasan Akademik Di Perguruan Tinggl
Gambar 3 menjelaskan model pelaksanaan kebebasan akademik di perguruan tinggi. Aktivitas kebebasan akademik adalah di tingkat peer group di bawah koordinasi komisi guru besar. Tuntutan dari peer group naik ke komisi guru besar. Di komisi guru besar ini tuntutan dikonversikan menjadi rancangan keputusan dan kebijakan. Dalam merumuskan rancangan ini komisi berkoordinasi dengan PR I dan 111, LP an LPM. Rancangan yang sudah matang kemudian dibawa ke rapat senat universitas. Di rapat senat rancangan digodok untuk menjadi keputusan dan kebijakan. Keputusan dan kebijakan ini kernudian ditetapkan oleh rector. Output yang dihasilkan kemudian disampaikan di tingkat peer group untuk dilaksanakan. Dalam pelaksanaan output ini akan timbul tuntutan tuntutan baru, yang kemudian menjadi input baru.
Disini lembaga (perguruan tinggi) hendakuya menjamin bahwa semua anggota komunitas akademik yang sibuk meneliti diberikan pelatihan yang tepat, sumber daya dan dukungan yang dibutuhkan. Hak hak intelektual dan budaya penggunaan hasil hasil penelitian hendaklah digunakan bagi kemaslahatan umat manusia dan hendaknya dilindungi sehingga tidak sampai disalahgunakan. Lembaga hendaklah meningkatkan penelitian di semua bidang ilmu, memajukan pengetahuan melalui penelitian, dan mendidik mahasiswa menjadi saijana yang kritis dalam menganalisis masalah masyarakat.

Tugas Komisi
I . Mengkonversikan tuntutan tuntutan dari masyarakat akademis, lingkungan
dalam lainnya serta lingkungan luar menjadi rancangan keputusan dan kebijakan.
2. Melakukan koordinasi baik ke peer group maupun ke birokrasi.
3. Mensosialisasikan keputusan dan kebijakan ke peer group (sivitas
akademika).
4. Membuat rancangan aturan main kegiatan akademik.
5. Evaluasi kegiatan akademik di perguruan tinggi.

Tugas Peer Group
1. Melaksanakan kebebasan akdemik sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Memberi input kepada birokrasi universitas melalui komisi guru besar.
3. Membuat rancangan kegiatan akademik.
4. Melakukan networking dengan pihak internal maupun eksternal.
5. Evaluasi dini pelaksanaan kebebasan akademik.

Tugas Senat
Membahas rancangan keputusan dan kebijakan yang dibuat oleh komisl guru besar. Setelah rancangan disetujui oleh senat universitas, maka keputusan dan kebijakan tersebut ditetapkan oleh rector.

Model Kebebasan Akademik di Tingkat Peer Group
Pelaksanaan kebebasan akademik di tingkat peer group dapat dijelaskan pada Gambar 4.

Gambar 4. Model Pelaksanaan Kegiatan Akademik Di Tingkat Peer Group

Ada tuntutan kebutuhan di lingkungan yang perlu dipecahkan. Peer group pertama-¬tama membuat rancangan kegiatan berupa penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, pengembangan ilmu. dan pengabdian pada masyarakat. Sebagian rancangan kemudian diusulkan ke universitas dan yang lainnya dapat langsung dilaksanakan atau sebagian lainnya dapat diusulkan di luar unliversitas. Setelah tersedia sarana dan prasarana. yang memadai maka peer group kemudian melaksanakan kegiatan. Pelaksanaan kegiatan memerlukan sarana dan prasarana dan komitmen pimpman. Selama dan setelah pelaksanaan kegiatan terjadi diskusi di tingkat peer group mengenai evaluasi kegiatan, penyempurnaan program d1l. Pada tahap ini peer group dapat mengundang tamu ahli sebidang. Peer group kemuchan menghasilkan output seperti publikasi, patent, seminar nasional/intemasional, mimbar akademik, produk komersial. Dari output yang dihasilkan dan selama pelaksanaan kegiatan timbul masalah masalah yang memerlukan pemecahan. Timbullah ide ide baru ataupun usulan usulan baru. Sebagian ide baru atau usulan baru dapat langsung ditangani oleh peer group, dan yang tidak dapat ditangani dapat diusulkan ke birokrat melalui komosi guru besar. Dalam model ini peer group secara bebas melakukan networking dengan siapa saja.
Hal yang penting pada pelaksanaan kebebasan akademik adalah perlunya perubahan pola piker sesual dengan perkembangan masyarakat global. Caranya setiap pergunian tinggi harus, melakukan pernbinaan SDM yang mampu menjadi ”agent of change” lewat cara pendidikan dan pelatihan yang memadai. Hasilnya SDM yang mampu melakukan perbaikan sinambung terhadap organisasi atau menciptakan karya karya baru bagi peningkatan keunggulan kompetitif oraganisasi. Pembinaan ini dapat dilakukan melalui pendekatan “learning artinya “study and practice constantly”. Jadi learning sebagai filosofi pendidikan.
Learning berarti:
1. kemahiran/perolehan ketrampilan atau know how yang menunjukkan kemampuan menghasilkan
beberapa kegiatan produktif
2. kemahiran/perolehan know why untuk mengeluarkan gagasan, ide, pikiran tentang pengertian secara
konseptual dari suatu pengalaman.

Jika hal ini dilakukan yang benar, maka akan dihasilkan berbagai terobosan, inovasi
dan konsep konsep baru.

Kesimpulan
1. Kebebasan akademik di perguTuan tinggi tidak mutlak bebas karena harus memperhatikan nilai nilai yang ada di masyarakat dan negara.
2. Kebebasan akademik dilaksanakan oleh peer group di bawah koordinasi kornisi guru besar.
3. Kebebasan akademik memerlukan sarana dan prasarana pendukung yang memadai.
4. Kebebasan akademik adalah kebebasan asasi yang dimiliki oleh dosen/guru, peneliti dan mahasiswa.
5. Kebebasan akademik yang dilaksanakan dengan benar dan tepat akan menghasilkan terobosan, inovasi dan konsep konsep baru.

Daftar Pustaka

Budiardjo, M. 2001. Pengantar Emu Politik. UT Press, Jakarta.

DGHE. 2003. Basic framework for higher education development KPPTJP IV (2003¬2010).

Dikti. 2003. Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Lintasan Waktu dan Peristiwa. Pnerbit Ditjen Dikti, Jakarta.

Dirdjosisworo, S. 2002. Pengadilan Hak Asasi Manusia Indonesia. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Ida, L. 2002. Desentralisasi dan demokrasi. Jurnal Demokrasi dan HAM, 2 (2): 94¬105.

Konperensi Dunia tentang Pendidikan Tinggi~ 2001. Pendidikan Tinggi di Abad XXI: Visi dan Visi. Diterjemahkan oleh W. P. Napitupulu, Jakarta.

Mustakim. 2002. Desain perguruan tinggi berorientasi kompetensi lulusan dan esensi sertifikat internasional dalam bidang pendidikan. Dalam: Paradigma Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi Tahun 2000. Prabawa, A. H. dan S. Z. Ariatmi ed. FKIP UMS, h1m. 21 28.

Nymeyer, F. 1956. Academic freedom. Contra Mundum Number I I Spring 1994.

Pusposutardjo, S. 2002. Kebijakan pengembangan kurikulum dan institusi perguruan tinggi di era kehidupan mendunia. Dalam: Paradigma Pengembangan Kurikulurn Perguruan Tinggi Tahun 2000. Prabawa, A. H. dan S. Z. Ariatmi ed. FKIP UMS, h1m. 39 73.

Salam, B. 2000. Etika Individual. Pola Dasar Filsafat Moral. Rineka Cipta. Jakarta.

Syamsuddin, N. S., Z. Hamid dan T. Pribadi. 2000. Sistem Politik Indonesia. UT Press. Jakarta.

About these ads

Actions

Information

9 responses

30 06 2008
nanit

Ide independensi senat di perguruan tinggi sudah menasional. Masalahnya adalah perlu adanya perubahan peraturan yang ada. Apa bisa?

30 06 2008
uripsantoso

Sulit memang, tetapi bukan hal yang mustahil bukan?

11 04 2009
rainer

mas , bisa bantu saya .
tolong jelaskan fenomena sosial apa saja , yang bagaimana yang mempengaruhi kemajuan studi mahasiswa . tolong berikan referensi yang dapat saya dapat ( situs internet ) .
dan kalau tidak keberatan mohon dibalas juga keemail saya .
Terimakasih atas balasannya .

12 04 2009
uripsantoso

Banyak faktor yang mempengaruhi kemajuan studi, al. faktor lingkungan dimana mahasiswa tinggal, ekonomi keluarga, status mahasiswa (kuliah sambil kerja, sudah menikah, dll.), strategi belajar, motivasi mahasiswa dan masih banyak lagi. thanks.

4 11 2010
kaum budak

Kampus sekarang berbah jadi munafik, itu semboyan terahir disematkan oleh mhsw kritis ketika dibungkam diberbagai segi.

23 03 2011
ihsani

mas, bisa tlg saya carikan bentuk-bentuk kebebasan akademis dalam sejarah intelektual islan dan tantangannya terhadap kebebasan akademis

19 01 2012
made pram

Kok tidak tampak sih di tulisan mas, semangat bahwa mahasiswa juga memiliki kebebasan akademik???

19 01 2012
uripsantoso

Sivitas akademika itu terdiri atas dosen dan mahasiswa. Tks.

15 04 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: