Prof. Ir. Urip Santoso, S. IKom., M. Sc., Ph. D
Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan Universitas Bengkulu (periode 2007-2008)
Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Bengkulu (periode 2004-2008)
Ketua Tim Pembina dan Pembimbing Penalaran Mahasiswa Universitas Bengkulu (periode 2006-2008
Pendahuluan
Dewasa ini lapangan kerja di sektor publik dan sektor swasta menjadi sangat terbatas. Bursa kerja di sektor publik semakin rendah dengan adanya kebijakan pemerintah yaitu zero growth. Kebijakan ini menekankan bahwa penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) hanya dilakukan untuk mengganti PNS yang pensiun, kecuali jika terdapat pengembangan propinsi atau kota/kabupaten. Disisi lain, masyarakat masih beranggapan bahwa menjadi PNS atau menjadi pegawai swasta (perusahaan, industri dll.) merupakan kebanggaan sekaligus tumpuan masa depan yang menjanjikan. Keadaan yang tampak berlawanan ini harus segera diatasi agar tidak terjadi stagnansi dalam pertumbuhan suatu wilayah atau negara.
Jika kita mempelajari negara maju, maka yang membuat suatu negara mengalami pertumbuhan yang luar biasa sehingga menjadi negara yang mandiri bukan karena banyaknya PNS tetapi dikarenakan oleh sektor swasta yang berkembang pesat. Artinya, lebih banyak penduduk yang bekerja secara mandiri (wirausaha) untuk kemudian menciptakan lapangan kerja daripada menjadi PNS. Selain itu, pengambil kebijakan baik di sektor publik maupun swasta selalu mengedepankan riset sebelum mereka mengambil suatu keputusan atau kebijakan. Rendahnya perkembangan sektor swasta di Indonesia khususnya di Propinsi Bengkulu juga disebabkan oleh motivasi penduduk untuk membuka wirausaha baru sangat rendah. Mereka cenderung menjadi pencari kerja daripada pencipta kerja. Sementara, gagalnya projek, keputusan atau kebijakan yang diambil oleh para pemimpin disebabkan terutama oleh tidak ditempatkannya riset sebagai ujung tombak.
Kondisi ini memaksa perguruan tinggi sebagai penghasil sumber daya manusia (SDM) yang diharapkan handal untuk mencari solusi agar lulusan mereka mampu bersaing di bursa kerja. Pada abad ini dan ke depan, orientasi perguruan tinggi harus berubah dari transfer pengetahuan ke pencipta pengetahuan; dari demanding university menjadi entrepreneur university; dari pencipta keterampilan menjadi perguruan tinggi berbasis riset.
Yang mana yang harus kita pilih? Untuk menjadi pencipta pengetahuan, sebuah perguruan tinggi harus mengedepankan riset sebagai unggulannya. Jika, kita bertujuan untuk menuju knowledge creator maka budaya riset harus dikembangkan di perguruan tinggi tersebut. Mahasiswa dan dosen bersama-sama (dalam tataran mitra kerja) mengembangkan riset dan pengetahuan yang menjadi ciri khusus perguruan tinggi tersebut. Jadi hal ini tentu saja akan mengubah proses belajar mengajar (PBM) yang konvensional. Namun demikian, sejalan dengan menyempitnya lapangan kerja serta tingginya angka pengangguran di Propinsi Bengkulu khususnya dan di Indonesia pada umumnya, barangkali suatu perguruan tinggi dituntut untuk pula mengembangkan apa yang disebut dengan kewirausahaan.atau yang disebut dengan enterprener university. Sangat sulit bagi kita, untuk menjadi perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang knowlegde, research dan entrepreneur. Oleh sebab itu, kita harus memilih salah satu yang menjadi unggulan sementara kedua hal lainnya sebagai pendukung saja.
Fakultas Pertanian dengan tujuh program studinya mempunyai ciri khas bernuansa kewirausahaan. Namun, kurikulum yang dikembangkannya belum mengacu kepada bagaimana menciptakan lulusan yang berjiwa mandiri & berjiwa kewirausahaan serta keterampilan dan pengetahuan yang memadai untuk mandiri sebagai wirausahawan baru. Untuk itu, kurikulum sebagai jiwa program studi perlu dievaluasi untuk menuju ke ciri khusus tadi. Berdasarkan ciri khusus tersebut tampaknya Fakultas Pertanian akan lebih tepat jika mengembangkan entrepreneur based faculty. Untuk mencapai hal ini, kesehatan organisasi dan otonomi harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga akan dicapai daya saing yang tinggi. Ketiga persyaratan ini tertuang dalam HELTS Dikti 2003-2010 yang menekankan tiga isu utama yaitu daya saing bangsa, otonomi dan kesehatan organisasi. HELTS 2003-2010 ini mempertajam HELTS Dikti 1996-2005 yang mengedepankan isu paradigma baru penataan sistem pendidikan tinggi yang mengedepankan 5 isu utama yaitu kualitas berkelanjutan, otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi.
Evaluasi Diri Fakultas Pertanian
Visi Fakultas Pertanian adalah akan menjadi suatu institusi pendidikan tinggi, penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang mampu memberikan pelayanan terbaik dalam pengelolaan sumber daya manusia, alam dan lingkungan tropis untuk mewujudkan harapan dan keinginan mahasiswa, masyarakat, pemerintah dan pengusaha secara memuaskan. Misinya adalah: 1) melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi untuk mencapai kemaslahatan dan keselamatan manusia, 2) meningkatkan dan mengembangkan program akademik unggulan di lingkungan tropis dalam bidang ilmu-ilmu pertanian yang bermitra dengan masyarakat, pemerintah dan pengusaha, 3) membangun dan memperbaiki suasana dan sistem akademik untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dalam bidang pertanian menghadapi era kesejagatan, 4) menjalin kerjasama dengan masyarakat, pemerintah dan pengusaha. Tujuan Fakultas Pertanian adalah: 1) mewujudkan sistem pendidikan pertanian yang mendorong sivitas akademika untuk menghayati dan melaksanakan proses penyerapan IPTEK; 2) menyelenggarakan program pendidikan jenjang S1 dalam ilmu pertanian melalui jalur akademik berlandaskan peraturan pemerintah yang ada; 3. menemukan, mengembangkan, menerapkan dan menyebarluaskan IPTEK di bidang pertanian sesuai dengan sumberdaya alam yang tersedia dan kebutuhan masyarakat dalam mendukung kepentingan pembangunan pertanian yang berwawasan lingkungan dan sistem pertanian yang berkelanjutan.
Nilai SPMB mahasiswa Fakultas Pertanian berturut-turut sebesar 439,34, 430,49 dan 437,84 untuk tahun 2004, 2005 dan 2006. Angka SPMB ini berada di bawah rata-rata UNIB yang berturut-turut sebesar 500,12, 509,41 dan 450,01 untuk tahun 2004, 2005 dan 2006. Nilai ini juga berada di tingkat terbawah jika dibandingkan dengan fakultas lain.
Angka kompetitif mahasiswa yang diterima melalui jalur SPMB Fakultas Pertanian berturut-turut 0,92, 0,62 dan 0,55 untuk tahun 2004, 2005 dan 2006. Meskipun terjadi peningkatan angka kompetitifnya, namun jika dibandingkan dengan fakultas lain, Fakultas Pertanian berada ditingkat terbawah. Peringkat ini juga berada di bawah rata-rata UNIB.
Nilai TOEFL lulusan Fakultas Pertanian masih belum menembus angka 400 yang merupakan standard TOEFL bagi lulusan Universitas Bengkulu (UNIB). Secara rata-rata TOEFL lulusan Fakultas Pertanian berturut-turut 359, 356 dan 360 untuk tahun 2004, 2005 dan 2006. Tidak ada kenaikkan yang berarti. Ini berarti perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan nilai TOEFL sampai dengan 400. Untuk mendorong nilai TOEFL dan kemampuan lulusan dalam berbahasa Inggris, maka diperlukan adanya peningkatan kualitas program akademik melalui penugasan mahasiswa untuk membaca dan menterjemahkan texbook berbahasa Inggris. Oleh sebab itu, perlu pengembangan media sistem informasi manajemen dengan jaringan komunikasi lebih diperluas. Usaha ini harus dilakukan secara terstruktur dan intensif serta mendapat pengawasan dari pihak pimpinan.
Indeks prestasi kumulatif (IPK) lulusan Fakultas Pertanian berturut-turut 2,94, 2,92 dan 2,89 untuk tahun 2004, 2005 dan 2006. IPK lulusan Fakultas Pertanian berada di urutan terbawah jika dibandingkan dengan fakultas lain. Ini memerlukan perhatian dari pimpinan fakultas dan sivitas akademika untuk berupaya memperbaiki IPK lulusan.
Masa studi lulusan juga masih berada ditingkat terlama jika dibandingkan dengan fakultas lain yaitu berturut-turut 5,6, 5,8 dan 6,0 tahun untuk tahun 2004, 2005 dan 2006. Dari sisi ini, Fakultas Pertanian mengalami kemunduran. Hal ini juga menjadi salah satu sebab mengapa calon mahasiswa lebih memilih fakultas lain.
Kondisi di atas diperparah oleh fakta bahwa lulusan Fakultas pertanian mempunyai masa tunggu yang relatif lama, berkisar antara 1 – 4 tahun. Hal ini tentu saja menurunkan minat mahasiswa untuk memilih Fakultas Pertanian.
Jadi jika dilihat dari prestasi akademik lulusan Fakultas Pertanian, maka Fakultas Pertanian harus berbenah diri mencari solusi dari permasalahan rendahnya prestasi akademik lulusan.
Ruang perkuliahan Fakultas Pertanian seluas 2.000 m2, ruang dosen seluas 1.000 m2, ruang administrasi 750 m2, ruang laboratorium 7.350 m2, ruang perpustakaan 120 m2 dan ditambah dengan stasiun percobaan serta kandang. Ruang administrasi Fakultas Pertanian perlu diperluas untuk mengantisipasi layanan ke depan.
Tenaga pengajar Fakultas Pertanian pada tahun 2007 mempunyai pendidikan S1 11, S2 96 dan S3 44 dosen. Jika mengacu lepada UU guru dan dosen, maka setiap dosen didorong untuk mempunyai kualifikasi S3. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan jumlah dosen berkualifikasi S3 melalui studi lanjut.
Prestasi dosen dalam penelitian berada di peringkat teratas di UNIB yaitu 88 judul di tahun 2007. Namun demikian, sebaran dosen yang aktif sebagai ketua peneliti tidak merata. Hal ini tentu saja harus menjadi prioritas ke depan agar terjadi pemerataan penelitian yang baik. Sayangnya, jumlah penelitian yang cukup baik ini, Belem diimbangi oleh jumlah publikasi ilmiah baik di tingkat nasional apalagi tingkat internasional. Perlu ada upaya untuk memotivasi dosen mempublikasikan karya ilmiahnya.
Namun, prestasi di bidang penelitian kurang diimbangi oleh jumlah pengabdian kepada masyarakat yang pada tahun 2007 hanya 24 judul. Gejala ini perlu diidentifikasi sebab atau akar masalahnya, agar bisa dicarikan alternatif pemecahannya.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa rasio dosen dan mahasiswa sangat rendah jauh dari ideal. Idealnya rasio dosen dan mahasiswa adalah satu dosen lima belas mahasiswa.
Dari SWOT analisis (Tabel 1) teridentifikasi 33 buah gejala atau fenomena masalah yang ada di Fakultas Pertanian. Jadi cukup banyak masalah yang dihadapi oleh Fakultas Pertanian sekarang dan ke depan. Dalam kegiatan yang melibatkan masyarakat terdapat beberapa kelemahan antara lain lemahnya kerjasama antar Fakultas Pertanian dengan stakeholders, kurangnya partisipasi masyarakat dalam turut serta memajukan Fakultas Pertanian. Kurangnya partisipasi masyarakat ini menunjukkan adanya kurangnya komunikasi antar Fakultas Pertanian dengan masyarakat khususnya dengan stakholders. Selain itu, jumlah mahasiswa Fakultas Pertanian masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan facultas lain di lingkungan UNIB. Keadaan ini tentu saja kurang mendukung program UNIB yang mentargetkan 15.000 mahasiswa pada tahun 2015. Akibat kurangnya komunikasi antara Fakultas Pertanian dengan stakeholders berdampak kepada pembukaan Program Studi yang kurang diminati oleh pasar serta kurikulum yang dikembangkan belum sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Hal inilah yang mendorong Fakultas Pertanian untuk berbenah diri memperbaiki partisipasi/komitmen masyarakat dan akses masyarakat di masa yang akan datang.
Dalam kegiatan program akademik terdapat beberapa kelemahan antara lain mutu input yang rendah, lamanya masa studi, nilai TOEFL yang rendah, lamanya masa tunggu mendapat pekerjaan, masih menjadi kendala bagi Fakultas Pertanian untuk menghasilkan lulusan yang bermutu baik. Kendala ini ditunjang lagi dengan kurangnya luas ruang kuliah, ruang laboratorium, ruang dosen serta sarana dan prasarana akademik lainnya. Untuk itu ke depan Fakultas Pertanian akan memperbaiki melalui aktivitas peningkatan program akademik.
Dalam bidang penelitian dan pengabdian, partisipasi dosen dan mahasiswa meskipun sudah cukup baik, namun distribusinya kurang normal. Hal ini disebabkan antara lain keterbatasan dana yang tersedia di UNIB, Dikti ataupun sumber lainnya serta motivasi dosen untuk berpartisipasi sangat bervariasi. Untuk itu Fakultas Pertanian perlu menyiapkan sivitas akademikanya agar mampu bersaing meraih dana-dana penelitian yang bersifat kompetititf. Rendahnya karya ilmiah dosen dan mahasiswa juga berdampak kepada rendahnya citra Fakultas Pertanian di mata stakeholders.
Kelemahan lainnya adalah kemampuan softskill dan lifeskill mahasiswa Fakultas Pertanian yang belum memadai. Hal ini ditandai oleh banyaknya mahasiswa yang rendah kemampuan dan keterampilannya dalam berbagai bidang kegiatan mahasiswa. Kelemahan ini terutama di bidang penalaran. Selain itu, banyak mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah dikarenakan pendapatan orang tuanya di bawah UMR. Kekurangmampuan orangtua menjadi salah satu penyebab stop outnya mahasiswa di Fakultas Pertanian.
Dewasa ini kebutuhan akan teknologi informasi dan komunikasi dalam penyelenggaraan perguruan tinggi menjadi sangat mendesak agar UNIB mampu mensejajarkan diri dengan perguruan tinggi lainnya di Indonesia. Dalam kaitannya dengan hal ini, meskipun UNIB telah mempunyai perlengkapan teknologi informasi dan komunikasi, namun dalam pengelolaannya masih belum efisien. Oleh sebab itu penataan sistem informasi di UNIB pada umumnya, dan Fakultas Pertanian pada khususnya menjadi prioritas untuk dikembangkan. Pusat data di Fakultas Pertanian perlu diberdayakan dan ditingkatkan kemampuannya.
Dalam tatakelola terdapat beberapa kelemahan yang harus segera dibenahi antara llain belum terbentuknya sistem pengelolaan SDM, fasilitas fisik, keuangan dan lain-lain yang baik. Hal ini berdampak negatif terhadap efisiensi penyelenggaraaan pendidikan di Fakultas Pertanian. Kelemahan lainnya adalah bahwa di Fakultas Pertanian belum terbentuk sistem database, sehingga dalam setiap aktivitasnya, ketika Fakultas Pertanian akan menyusun program hal yang menjadi kendala pertama adalah ketersediaan data. Ini mengakibatkan banyak waktu yang tercurah untuk mengumpulkan dan mengolah data dan informasi. Hal ini tentunya berdampak negatif terhadap kualitas program yang diusulkan oleh Fakultas Pertanian. Oleh sebab itu, sistem database ke depan akan diperbaiki dan dikembangkan.
Terakhir, semua aktivitas itu akan bermuara kepada citra publik Fakultas Pertanian. Citra publik masih dinilai rendah. Hal ini ditandai antara lain oleh rendahnya kerjasama institusi, rendahnya jumlah dan mutu input mahasiswa, rendahnya angka kompetisi masuk ke Fakultas Pertanian dan lain-lain.
Dari SWOT analysis dan uraian di atas, maka disusnlah akar masalah dalam isu leadership & commitment (L), Relevance (R), academic atmosphere (A), internal management (I), sustainability (S), dan eficiency & productivity (E), yang sering disingkat LRAISE (Tabel 2).
Visi Kepemimpinan
Visi: Membangun Fakultas Pertanian menjadi Institusi Pendidikan Tinggi yang Berbudaya Mandiri.
Misi:
1. Membangun sistem untuk menghasilkan lulusan yang mandiri.
2. Mengedepankan kompetensi keilmuan melalui penelitian dan pengabdian unggul sebagai landasan bagi proses belajar mengajar berbasis jiwa kewirausahaan.
3. Mengembangkan kesehatan organisasi, demokrasi dan otonomi serta membangun daya saing menuju budaya mandiri.
4. Membangun suasana akademik yang mendukung kebersamaan menuju kesuksesan kolektif.
Motto: Maju Bersama Membangun Kemandirian
Strategi Pengembangan
Strategi pengembangan Fakultas Pertanian UNIB tentunya mengacu kepada paradigma baru dan yang dipertajam dalam tiga isu sentral HELTS 2003-2010. Meskipun demikian, penerapan paradigma baru yang dipertajam oleh HELTS 2003-2010 harus disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh Fakultas Pertanian. Berdasarkan analisis SWOT – yang menghasilkan strategi umum –, maka strategi pengembangan Fakultas Pertanian adalah sebagai berikut:
- Pengembangan semangat/jiwa kewirausahaan bagi sivitas akademik dan karyawan.
- Peningkatan student body.
- Pembukaan Pasca Sarjana.
- Pengembangan jaringan bisnis & kerjasama.
- Pengembangan program khusus bagi stakeholders.
- Peningkatan jumlah dan mutu penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
- Pengembangan pusat pelatihan agribisnis
- Pengembangan model integrasi kegiatan intra dan ekstrakurikuler berbasis kebutuhan stakeholders.
- Pengembangan praktikum berbasis bisnis.
- Peningkatan jumlah dan mutu PKM.
- Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan lebih menekankan untuk menghasilkan lulusan yang mandiri.
- Income generating venture.
- Pengembangan integrated promotion.
- Pengembangan dan penguatan laboratorium yang standard.
- Peningkatan jumlah dan mutu PKM.
- Peningkatan soft skill sivitas akademika dan karyawan.
- Peningkatan beasiswa dan usaha alternatif bagi mahasiswa.
- Peningkatan jumlah publikasi sivitas akademika melalui insentif karya ilmiah.
- Peningkatan jumlah dan mutu PKM.
- Peningkatan kerjasama.
- Pengembangan model kegiatan pasca block grant.
- Pengembangan Pasca Sarjana.
- Perancangan proses belajar mengajar berbasis kewirausahaan.
- Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan lebih menekankan untuk menghasilkan lulusan yang mandiri dan siap membuka usaha baru.
- Pengembangan program studi S1 berbasis isu internasional.
- Pengembangan semangat/jiwa kewirausahaan.
- KKN berbasis kewirausahaan agribisnis.
- Peningkatan komitmen pimpinan terhadap GUG.
- Pengembangan PBM berbasis riset dan pengabdian.
- Standardisasi laboratorium & fungsi laboratorium untuk praktikeum berbasis kewirausahaan.
- Monevin Fakultas.
- Pengembangan PBM berbasis TIK.
- Pengembangan jalinan komunikasi dengan stakeholders internal dan eksternal.
Strategi pengembangan prioritas:
1) Pengembangan entrepreneur based faculty.
2) Pengembangan tata pamong yang sehat (GUG), otonomi dan berdaya saing.
3) Pengembangan jalinan komunikasi dengan stakeholders baik internal maupun eksternal.
4) Pengembangan jaringan bisnis dan kerjasama.
5) Peningkatan jumlah dan mutu penelitian, pengabdian dan publikasi serta HAKI.
6) Pengembangan PBM & kegiatan akademik berbasis kewirausahaan.
7) Pengembangan soft skill karyawan dan sivitas akademika
Pengembangan sistem informasi dan komunikasi.
9) Pengembangan akses dan komitmen masyarakat.
10) Standardisasi laboratorium & fungsi laboratorium untuk praktikum berbasis kewirausahaan.
11) Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dengan lebih menekankan untuk menghasilkan lulusan yang mandiri dan siap membuka usaha baru.
12) Income generating venture.
13) Pengembangan program studi S1 berbasis isu internasional.
14) Peningkatan kesejahteraan sivitas akademika dan karyawan.
Muara dari empat belas strategi pengembangan tersebut adalah kesejahteraan berbasis kinerja, kesehatan organisasi, otonomi dan daya saing yang baik menuju budaya kewirausahaan. Semua strategi tersebut di atas akhirnya bermuara kepada peningkatan brand image Faperta UNIB.
Program Kerja
Program kerja Fakultas Pertanian disusun berdasarkan akar masalah yang telah diidentifikasi (Tabel 3). Akar-akar masalah yang telah diidentifikasikan tersebut kemudian dicarikan jalan pemecahannya melalui alternatif kegiatan. Oleh karena masa jabatan Dekan terbatas hanya dalam empat tahun, maka dari sejumlah pemecahan masalah tersebut dipilihlah kegiatan-kegiatan prioritas. Kegiatan-kegiatan prioritas ini ditujukan untuk membangun Fakultas Pertanian yang mempunyai budaya kewirausahaan, atau setidak-tidaknya mengarah ke budaya tersebut. Berdasarkan alternatif pemecahan masalah dalam Tabel 3, maka terpilihlah program prioritas Fakultas Pertanian seperti tertera dalam Tabel 4.
1. Leadership & Commitment.
a. Peningkatan kesejahteraan sivitas akademika dan karyawan.
b. Institusionalisasi kerjasama.
c. Menumbuhkan kaderisasi pimpinan.
d. Pengembangan keputusan/kebijakan pimpinan berlandaskan fakta dan informasi
yang akurat.
e. Pengelolaan Sumber Daya Manusia Fakultas Pertanian.
f. Lebih menekankan kepada pembangunan berbasis akademik & jiwa kewirausahaan.
2. Relevance
a. Peningkatan keterlibatan alumni dalam tracer study dan promosi.
b. Penerapan KBK bernuansa jiwa kewirausahaan.
c. Pemberdayaan UPM.
d. Pengembangan model integrasi kegiatan intra dan ekstrakurikuler berbasis
jiwa kewirausahaan.
e. Pengembangan soft skill berbasis jiwa kewirausahaan.
f. Telusur informasi sumber dana & peningkatan kerjasama.
g. Pengembangan produk ungulan Fakultas Pertanian.
h. Telusur beasiswa untuk studi diploma, S1 S2 & S3, post graduate dll.
i. Pendirian S3 Pengelolaan Sumber Daya Alam & Lingkungan
j. Desiminasi hasil-hasil penelitian kepada stakeholders dalam rangka kerjasama &
pengembangan kewirausahaan.
k. Kuliah program khusus bagi stakeholders.
l. Pendirian S2 Magister Manajemen Agribisnis.
m. Pengembangan paket-paket pelatihan berbasis kewirausahaan yang dibutuhkan oleh
stakeholders baik internal maupun eksternal.
n. Integrated promotion.
o. Penurunan masa tunggu lulusan melalui budaya mandiri.
p. Seminar rutin berbahasa Inggris bagi sivitas akademika.
q. Pembentukan unit Humas.
r. Peningkatan akreditasi program studi.
3. Academic atmosphere
a. Pemberian insentif & penghargaan kepada sivitas akademika yang mempublikasikan
karya ilmiahnya.
b. Bantuan dana seminar nasional untuk pemakalah.
c. Sinergi dosen-mahasiswa dalam pembuatan proposal PKM (Program Kreativitas
Mahasiswa).
d. Pembentukan peer group sivitas akademika.
e. Peningkatan jalinan komunikasi pimpinan-dosen-mahasiswa.
f. Peningkatan efisiensi dan efektivitas PBM.
g. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan soft skill karyawan & sivitas akademika.
h. Pelibatan sivitas akademika & karyawan dalam aktivitas faculty venture.
i. Internalisasi jiwa kewirausahaan kepada sivitas akademika dan karyawan.
j. Peningkatan fasilitas untuk mendorong jumlah dosen yang terlibat dalam pembuatan
proposal penelitian & pengabdian pada masyarakat.
k. Peningkatan kesejahteraan honorer melalui keterlibatannya dalam kepanitiaan &
kegiatan dosen.
l. Pengembangan laboratorium baru.
4. Internal Management
a. Pembuatan, pelaksanaan & Monitoring dan evaluasi SOP akademik dan non-
akademik.
b. Peningkatan sarana dan prasarana untuk mengelola database.
c. Pemberdayaan SDM di Pusat Data melalui pelatihan.
d. Pelaksanaan monitoring & evaluasi internal RPKA
e. Peningkatan kesadaran bekerja, pengetahuan rokhani (ESQ).
f. Penerapan merit system secara adil & bijaksana.
g. Pelayanan LHS tepat waktu melalui peningkatan frekuensi komunikasi dengan dosen
dan staf akademik.
h. Komputerisasi proses kenaikkan pangkat dosen dan karyawan.
i. Peningkatan jalinan komunikasi secara rutin dan terjadwal.
j. Peningkatan kemampuan manajerial pimpinan.
k. Pemberian penghargaan kepada sivitas akademika dan karyawan.
l. Keterpaduan dalam kegiatan Bidang I, Bidang II dan Bidang III serta Bidang lainnya.
5. Sustainability
a. Integrated promotion
b. Analisis kebutuhan stakeholders
c. Pembuatan model pasca block grant melalui lokakarya.
d. Penyempurnaan SIM.
e. Pengembangan sistem informasi akademik berbasis WEB.
f. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana.
g. Peningkatan sarana dan prasarana TIK.
h. Pengembangan usaha komersial di unit-unit di lingkungan Fakultas Pertanian.
i.. Penggalian sumberdaya berasaskan kapasitas lebih.
j. Resource sharing.
k. Pendirian PS S1 Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PS berisu internasional).
l. Pendirian PS S1 Perikanan & Kelautan.
m. Pendirian PS lain yang dibutuhkan oleh stakeholders.
6. Efficiency & productivity
a. Pengembangan pembelajaran berbasis kewirausahaan yang didukung oleh riset dan
pengabdian kepada masyarakat.
b. In job training bagi teknisi & laboran, staf administrasi dan dosen.
c. Peningkatan pengetahuan sivitas akademika tentang pentingnya academic plan.
d. Pengembangan metode pembelajaran untuk memotivasi belajar mahasiswa.
e. Peningkatan penghargaan kepada dosen yang menulis buku ajar.
f. Pembentukkan laboratorium baru (minimal 4 laboratorium).
g. Peningkatan sarana & prasarana laboratorium.
h. Peningkatan jumlah mahasiswa yang terlibat dalam penelitian dosen.
i. Pengembangan forum ilmiah antara dosen- mahasiswa.
j. Penguatan jurnal ilmiah di lingkungan Faperta.
k. Peningkatan keterampilan dosen dalam PBM melalui diskusi terbatas.
May 29, 2008 at 4:03 am |
d/h,
sungguh menarik sekali apa yang Bapak paparkan di atas. namun saya ingin menanyakan, apakah paparan tersebut mengacu kepada pemasaran universitas ? mohon penerangan. terima kasih sebelumnya.
h/s,
aris as
May 29, 2008 at 7:10 am |
Ya. tulisan ini didasarkan kepada problema yang dihadapi oleh para lulusan perguruan tinggi, dimana mereka hanya sebagai pencari kerja yang jelas akan meningkatkan angka pengangguran. Jika mereka mampu menjiwai jiwa kewirausahaan maka mereka akan menjadi pencipta kerja yang dapat memecahkan masalah bangsa. Ada anekdot di negeri ini bahwa setiap perguruan tinggi mewidusa sarjana baru itu berarti tambahlah angka pengangguran. Perguruan tinggi dihujat sebagai pencipta penggangguran bukan sebagai pemecah pengangguran di negeri ini. Ide entrepreneur university ini sudah menjadi isu internasional.
Thanks. Urip Santoso
June 4, 2008 at 8:46 am |
Benar sekali Pak Urip Santoso,
Kita memang benar-benar kekurangan pengusaha,
Menurut sosiolog David McClelland, negara bisa makmur apabila minimal 2% dari jumlah penduduknya menjadi pengusaha. Untuk Indonesia, jumlah 2 % dari 200 juta penduduk berarti 5 juta pengusaha. Dan Indonesia ternyata masih jauh dari harapan, karena jumlah pengusaha Indonesia baru sekitar 400.000 pengusaha, atau “hanya” 0,18% dari jumlah penduduk Indonesia. Kebanyakan usaha yang ada di Indonesia masih bersifat mikro (kecil) sehingga tidak memberikan peluang terbukanya lapangan pekerjaan.
Singapura merupakan salah satu bukti kebenaran teori David McClelland. Pada tahun 2007, Singapura memiliki pengusaha sekitar 7,2% dari jumlah penduduknya, padahal pada tahun 2001 baru 2,1 %. Sekalipun negaranya kecil dan gersang, namun Singapura mampu menjadi negara yang makmur. Besarnya pengusaha di Singapura memaksa negeri itu mengimpor tenaga kerja dari negara lain, seperti dari Indonesia, Malaysia, India dan Philipina.
Kemakmuran negara Amerika Serikat juga di dongkrak oleh banyaknya pengusaha di negara tersebut, yang lebih dari 8% dari jumlah penduduknya, sehingga terkenal dengan negaranya para pengusaha. Lainnya adalah Jepang dan Korea Selatan yang memiliki pengusaha lebih dari 5 %. Sedangkan Indonesia terkenal dengan sebagai negara pengirim tenaga kerja ke luar negeri (baca TKI), karena sempitnya lapangan pekerjaan di dalam negeri.
Masukan untuk perguruan tinggi adalah bagaimana materi kewirausahaan itu juga disharingkan dengan para pengusaha yang sudah sukses dan mampu menjadi seorang trainer.
Sepertinya kalau hanya mengandalkan kemampuan dosen yang tidak terliabt langsung dalam dunia bisnis akan sangat mahasiswa untuk termotavasi dan terkesan.
Selamat berjuang terus Pak, sampai Indonesia benar-benar menjadi negerinya para pengusaha.
June 4, 2008 at 11:09 pm |
Terima kasih. Memang kerjasama dengan pengusaha dalam proses belajar-mengajar amat penting bagi kualitas mahasiswa. Namun sayangnya, pihak perguruan tinggi masih sedikit sekali yang melibatkan pengusaha secara intensif. Memang banyak faktor yang menjadi kendala, seperti terbatasnya dana, terbatasnya pengusaha yang bersedia, terbatasnya pengusaha yang mempunyai kemampuan untuk menstranfer ilmunya serta belum intensifnya perguruan tinggi mengarahkan mahasiswa untuk menguasai kemampuan entrepreneur, kurikulum yang kurang menunjang dll.
Urip Santoso
January 22, 2009 at 4:20 am |
Menurut pendapat saya sbg alumni Unib Fak Pertanian yang merasakan sendiri kecendrungan untuk mencari kerja daripada menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini disebabkan oleh pola pikir masyarakat indonesia yg merasa lebih punya predikat dan kebanggaan trsendiri jika sudah mendapatkan pekerjaan baik itu PNS ataupun karyawan swasta. Kebanggan menggunakan pakaian seragam dan mendapatkan penghormatan lebih dari masyarakat sekitarnya. Sedangkan wiraswasta dijadikan alternatif terakhir jika sudah mentok mncri krj
January 22, 2009 at 8:59 am |
Itulah yang harus diubah. Animo masyarakat yang seperti inilah yang menjadi salah satu penghambat berkembangnya dunia swasta. thanks
January 22, 2009 at 4:30 am |
Yang sangat saya sesalkan, tidak sedikit teman2 saya alumni Unib yg terobsesi menjadi PNS. Sebenarnya itu tdk masalah, masalah timbul ketika mereka hanya menunggu dan menunggu tanpa melakukan usaha apa2 smpai pembukaan tes tiba. Banyak faktor yg menyebabkan mereka enggan berusaha atau jadi wiraswasta, salah satu nya gengsi. Contoh saja “Masa iya saya kerja itu, saya kan sarjana”. Jadi mereka lebih memilih menunggu dan menganggur drpd mencoba mencari peluang dan membuka lapangan pekerjaan sendiri.
January 22, 2009 at 4:43 am |
Menurut saya animo masyarakat indonesia secara tdk langsung telah di bentuk jenjang pendidikan dasar (SD). Sistem pendidikan kita telah mengarahkan kita menjadi karyawan atau aparat pemerintah tanpa di imbangi dgn pengetahuan,keahlian dan motivasi menjadi seorang enterphreneur. Saya optimis jika hal ini diterapkan dari jenjang dasar pendidikan, maka 10 atau 20 th ke depan persentase pengusaha di Indonesia akan meningkat.
January 22, 2009 at 8:56 am |
Ya. Agar negara kita menjadi negara yang maju memang kita harus meningkatkan jumlah pengusaha secara signifikan. Budaya pencari kerja harus diubah menjadi budaya pencipta kerja. Memang, sayangnya kurikulum kita sering kali tidak jelas arahnya. thanks
March 5, 2009 at 2:06 am |
Trimakasih, infonya sangat bermanfaat..
March 5, 2009 at 2:11 am |
Oya pak saya alumni agronomi unib, saya minta pendapat bpk tentang kuliah S2 PSL di Faperta yg beberapa tahun lalu dibuka, apakah ijazahnya legal? informasinya klw kuliah Sabtu-minggu ijazahnya tidak legal. apakah benar pak? kemudian untuk lulusan PSL lapangan kerjanya cenderung ke dinas apa pak? trims
March 6, 2009 at 11:05 am |
PSL UNIB ijazahnya legal, karena telah mendapat izin dari Dikti. Jadi anda tidak usah khawatir masuk ke PSL-UNIB. Lapangan pekerjaan tentu saja pada instansi yang terkait dengan lingkungan seperti Badan Lingkungan Hidup, dinas kebersihan, KSDA, KLH, dinas kehutanan, dll. thanks