KEKURANGAN GIZI INDIKATOR KABUPATEN TERTINGGAL

8 04 2008

Dalam pertemuan anggota tim Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal terungkap bahwa semua kabupaten di Propinsi Bengkulu tertinggal (Rakyat Bengkulu, 17 Mei 2005). Masalah ini kembali diungkap dalam forum diskusi di Bappeda yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan ISEI-Bengkulu pada tanggal 17 Mei 2005 yang baru lalu.

            Apa yang menjadi criteria utama kabupaten tertinggal? Dalam seminar tersebut diungkap ada enam kriteria utama untuk menilai kabupaten tertinggal yaitu perekonomian masyarakat yang rendah, sumber daya manusia yang rendah, infrasturtur yang kurang memadai, kemampuan keuangan daerah untuk pembangunan di bawah Rp 140 milyar, aksesibilitas dan karakteristik daerah yang kurang mendukung. Keenam karakteristik utama tersebut saling terkait. Misalnya rendahnya sumber daya manusia disebabkan oleh perekonomian yang rendah. Perekonomian yang rendah dapat diakibatkan oleh kurangnya infrastruktur, karakteristik daerah dan aksesibilitas.

            Salah satu akibat rendahnya perekonomian rakyat adalah rendahnya asupan gizi oleh masyarakat terutama protein. Sesuai dengan standard nasional, agar manusia Indonesia terpenuhi gizinya maka mereka dianjurkan untuk mengkonsumsi energi 2.100 kkal dan protein sebesar 55 g/kapita/hari. Standar protein sebesar 55 g tersebut terdiri dari 6 g protein asal ternak, 9 g protein asal ikan dan 40 g protein asal tumbuhan.

            Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa secara rata-rata penduduk Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan akan energi sebesar 2.100 kkal. Namun, masih terdapat ketimpangan dalam pemenuhan kebutuhan protein harian. Berapa kebutuhan?

            Kekurangan konsumsi protein tentunya berdampak negatif terhadap mutu sumber daya manusia yang dihasilkan. Seperti yang telah kita ketahui bahwa protein memegang peranan penting dalam tubuh kita. Ia berperan mengembangkan sel-sel otak, sehingga semakin baik mutu protein dalam menu kita sehari-hari akan semakin baik pula perkembangan sel-sel otak, khususnya bagi anak-anak. Protein juga berguna untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak dan mati. Protein merupakan materi penyusun dasar dari semua jaringan tubuh yang dibentuk. Misalnya otot, sel darah, rambut, kuku, dan tulang. Protein sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sejak jaringan masih hidup pada tingkat dinamis, dan sedang mengalami degenerasi yang tetap juga dibutuhkan protein. Enzim yang banyak dibutuhkan dalam reaksi biokimia dalam tubuhpun disusun oleh protein. Dan masih banyak lagi peranan penting protein bagi tubuh. Perlu diingat, zat protein tidak dapat diganti fungsinya oleh zat gizi lainnya.

            Nah, jika asupan protein di bawah standar gizi yang dianjurkan maka dalam jangka panjang  akan menurunkan mutu generasi yang akan datang. Mutu sumber daya manusia yang secara fisik rendah ini akan menyulitkan usaha untuk memperbaiki mutu sumber daya manusia. Sebab, jika  secara fisik mutu generasi kita rendah, atau dengan kata lain kecerdasan dan kesehatannya rendah, maka akan sulit untuk meningkatkan mutu SDM meskipun telah dipenuhi berbagai sarana dan prasarana yang memadai. Jadi, tahap pertama dalam upaya peningkatan SDM adalah perbaikkan gizi masyarakat.

 

Peningkatan dan Pemerataan Pendapatan

            Upaya perbaikkan gizi masyarakat tidak dapat dilepaskan dari upaya perbaikkan pendapatan masyarakat. Penulis telah menghitung secara kasar untuk memenuhi standar gizi seperti yang diuraikan di atas. Untuk penduduk di Kota Bengkulu, diperlukan pengeluarkan sebesar Rp 300.000/kapita/bulan. Jika diasumsikan satu keluarga mempunyai anak rata-rata sebanyak 3 anak, maka untuk memenuhi standar gizi tersebut diperlukan pengeluaran sebesar Rp 1.500.000/bulan. Pengeluaran ini belum termasuk kebutuhan primer lainnya seperti sandang, papan, kesehatan dasar, pendidikan dasar dan transportasi. Penulis belum menghitung secara total berapa pengeluaran yang standar untuk memenuhi kebutuhan primer di atas, tetapi dapat diperkirakan tentunya di atas Rp 2.000.000/bulan. Jika asumsi ini benar bagi semua warga Kota Bengkulu, dapat dipastikan bahwa hanya sebagian kecil saja keluarga yang mempunyai penghasilan di atas dua juta per bulan. Keluarga professor pun kekurangan gizi jika hanya mengandalkan gaji.

            Upaya peningkatan pendapatan ini telah banyak di bahas di berbagai seminar dan diskusi. Salah satu saran yang dikemukakan adalah dengan mendorong perekonomian lokal. Saran ini memang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Akan tetapi bukan berarti tidak bisa. Untuk mendorong perekonomian lokal tentunya diperlukan upaya baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat yang bermodal serta masyarakat luas. Cara awal untuk mendorong wirausaha yang banyak dikemukakan adalah menurunkan retribusi, prosedur perijinan yang sederhana, bantuan modal bagi pengusaha kecil dan menengah dengan persyaratan yang mudah dengan jumlah yang memadai. Untuk menciptakan kondisi tersebut di atas tentunya diperlukan perubahan yang mendasar secara nasional. Seperti yang diungkap oleh Piter Abdullah dalam forum diskusi Pembangunan Daerah Tertinggal di Bappeda baru-baru ini bahwa bank tidak akan memberikan modal kepada pengusaha yang baru atau pengusaha yang belum mempunyai track record yang baik. Jika  hal ini tetap menjadi patokan pihak bank tentunya amat menyulitkan  munculnya wirausaha baru. Untuk mengatasi masalah ini, barangkali kita dapat lebih mengoptimalkan upaya menggalang dana masyarakat non-komersial seperti zakat, infak, sedekah dan sumbangan lain yang tidak mengikat. Dana yang terkumpul dapat digunakan sebagai bantuan modal non-bunga terutama bagi pengusaha kecil baik yang baru maupun yang lama. Sebagai contoh, dana bazis UNIB yang digunakan sebagai bantuan modal non-bunga ternyata mampu mendorong kemajuan pengusaha kecil. Dan tidak macet!

Perubahan prosedur perijinan dan persyaratan bagi investasi  juga memerlukan pemikiran yang mendalam dan perubahan system secara menyeluruh. Bahkan, penurunan retribusi pun tidak dapat begitu saja dilakukan, tanpa upaya lain oleh pihak pemerintah untuk mendapatkan pendapatan asli daerah. Namun, tampaknya  untuk hal yang terakhir ini dapat dilakukan secara bertahap. Pemerintah harus memikirkan perencanaan jangka panjang jika pemerintah mempunyai komitmen untuk meningkatkan pendapatkan masyarakat.

            Peningkatan pendapat saja tidak cukup. Ada suatu konsep yang klasik bahwa keluarga yang miskin akan semakin miskin, sementara keluarga yang kaya akan semakin kaya. Oleh sebab itu, peningkatan pendapatan saja belum cukup. Harus ada upaya lain untuk memutus rantai kemiskinan dan rantai kekayaan, sehingga terjadi pemerataan pendapatan bagi masyarakat. Jadi harus ada sistem yang menjembatani. Sayangnya sistem yang ada tidak mampu untuk memecahkan rantai-rantai tersebut, sehingga gap antara si kaya dan si miskin semakin besar.

 

Intensifikasi Pekarangan

            Dalam jangka pendek untuk memenuhi standar gizi masyarakat bawah adalah penerapan intensifikasi pekarangan. Cara ini terutama dapat dilakukan bagi keluarga miskin yang mempunyai lahan  pekarangan yang cukup luas. Intensifikasi pekarangan dapat menyediakan kebutuhan gizi berupa sayur-sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, kolam ikan dan peternakan skala rumah tangga. Dari program ini, keluarga tersebut akan mendapat asupan gizi yang memadai, dan sisanya (jika ada) dapat dijual untuk kebutuhan non-pangan.

 

Kampanya Gizi

            Beberapa waktu yang lalu mahasiswa Peternakan UNIB melakukan aksi kampanye gizi di simpang lima. Tanpa mengecilkan arti dari upaya baik mahasiswa tersebut, sebenarnya kampanye gizi harus dilakukan secara sistematik, terprogram dan berkesinambungan. Kampaye gizi tidak dapat dilakukan secara sporadis.

            Kampanye gizi yang berkesinambungan yang penting artinya untuk mengubah perilaku konsumsi masyarakat. Jika kita mengamati perilaku konsumsi masyarakat, sebenarnya mereka dapat saja meningkatkan asupan gizinya tanpa harus meningkatkan pendapatannya. Banyak orang yang lebih suka membeli rokok daripada membeli telur. Padahal harga rokok satu batang hampir sama dengan harga sebutir telur. Perilaku masak masyarakat yang suka memasak makanan sampai terlalu  lama (agar enak) juga memberikan kontribusi kepada rendahnya asupan gizi. Dan masih banyak lagi pola makan yang jika diubah mampu  meningkatkan asupan gizi keluarga.

            Kampaye gizi tidak saja berlaku bagi masyarakat yang miskin, tetapi berlaku pula bagi masyarakat kaya. Jika pola makan masyarakat cenderung ke arah kekurangan gizi, maka masyarakat kaya cenderung kelebihan gizi. Kelebihan gizi ini juga berbahaya bagi kesehatan tubuh. Telah diketahui bahwa kelebihan asupan gizi dapat mengakibatkan berbagai penyakit seperti stroke, jantung koroner, kencing manis, kegemukkan, kelainan paru-paru, peka terhadap penyakit dan segudang penyakit lainnya.

            Semua pola makan yang tidak tepat ini harus diubah menjadi pola makan yang sesuai dengan asupan gizi yang standar. Lebih kurang 15 abad yang lalu Nabi Muhammad s.a.w. telah mengingatkan kita untuk  berhenti makan sebelum kenyang, dan jangan makan sebelum lapar. Ini merupakan ajaran pola makan yang sesuai dengan standar asupan gizi. Berdasarkan kriterian standar gizi nasional, saya sependapat bahwa di kota (yang notabene  masuk kriteria bukan kabupaten tertinggal) pun masih banyak desa dan bahkan keluarga yang tertinggal.   (Dosen Pertanian UNIB).

About these ads

Actions

Information

2 responses

6 12 2010
Eugenie Emmond

awesome almanac you’ve enjoy

6 02 2011
Arden Debey (helicopter game)

Wow this game looks uber. How is a girl supposed to get any learning done with all-knowing distractions like this?!?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: