Kebun Teh Kabawetan, Kepahiang, Bengkulu

14 01 2012

This slideshow requires JavaScript.

Pemandangan kebun teh Kabawetan, Kepahiang, Bengkulu sangat indah. Sayangnya belum ada villa yang disewakan, atau rumah-rumah yang bisa untuk homestay. Kabawetan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi agrowisata. Tentu saja harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana lain yang dibutuhkan oleh para wisatawan.





Menciptakan Budaya Riset di Perguruan Tinggi (Bagian 4)

27 01 2012

Oleh: Urip Santoso

Terdapat beberapa peluang yang dapat digunakan oleh perguruan tinggi dalam menciptakan budaya riset.

1)      Terdapatnya dana corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan/BUMD/BUMN yang besarnya 5% dari keuntungan perusahaan. Perusahaan mempunyai kewajiban untuk mengalokasikan dana CSR untuk kegiatan riset. Tentu saja peluang inni tidak bisa begitu saja diperoleh. Perguruan tinggi harus menjalin komunikasi dan kerjasama sehingga mendapat dana tersebut. Pada dasarnya, dana CSR bisa dikeluarkan oleh perusahaan jika hasil riset nantinya secara langsung berguna bagi perusahaan tersebut. Oleh sebab itu, sebelum berkomunikasi dengan perusahaan, perguruan tinggi perlu menganalisis kebutuhan riset perusahaan sasaran. Berdasarkan analisis tersebut kemudian perguruan tinggi melakukan pendekatan untuk mencapai kerjasama yang saling menguntungkan.

2)      Terdapatnya dana riset yang ditawarkan oleh berbagai institusi baik dalam maupun luar negeri. Dengan adanya TIK yang semakin canggih, maka informasi dana riset yang ditawarkan oleh berbagai institusi bisa diperoleh dengan mudah. Syaratnya ya harus intensif melakukan browsing yang kemudian ditindaklanjuti. Ini memang membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang besar, sehingga banyak peneliti yang kurang berminat. Apalagi jika dananya tidak menjanjikan. Beberapa perguruan tinggi yang besar telah mempunyai kerjasama dengan penyandang dana riset di luar negeri, sehingga peneliti di perguruan tinggi tersebut lebih mudah dalam memperoleh dana riset. Lain halnya dengan perguruan tinggi yang kecil yang mengalami kesulitan dikarenakan banyak penyandang dana hanya memprioritaskan perguruan tinggi yang telah membuat MoU. Jika perguruan tinggi kecil bermaksud membidiknya, maka ia harus melalui perguruan tinggi besar yang telah punya MoU. Tetap saja yang dapat nama perguruan tinggi besar, sementara yang kecil hanya sebagai peneliti yang bekerja pada perguruan tinggi besar tersebut. Read the rest of this entry »





Menciptakan Budaya Riset di Perguruan Tinggi (Bagian 3)

26 01 2012

Oleh: Urip Santoso

Terdapat beberapa hambatan yang dihadapi oleh perguruan tinggi untuk menciptakan budaya riset, yaitu:

1)      Terbatasnya dana untuk kegiatan riset dan pengembangan. Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa perguruan tinggi dianjurkan untuk mengalokasikan dana untuk riset dan pengembangan minimal sebanyak 10% dari dana masyarakat. Jika sebuah perguruan tinggi mempunyai dana masyarakat sebesar 50 milyard/tahun maka dana untuk riset dan pengembangan minimal 5 milyard/tahun. Sayangnya, banyak perguruan tinggi yang belum mengalokasikan minimal 10% sebagaimana edaran menteri tersebut. Beberapa perguruan tinggi malah 60% dari dana masyarakat untuk kegiatan manajerial. Dana penelitian dialokasikan oleh Indonesia juga sangat minim, yaitu sebesar 0,01%. Ironis sekali. Dengan dana sekecil ini bagaimana mungkin inovasi dan kreativitas dapat berkembang di Indonesia. Sangat  wajarlah jika kemudian produktivitas ilmiah para ilmuwan Indonesia di kancah internasional sangat sedikit. Hal ini berdampak kepada daya saing bangsa Indonesia di dunia internasional.

2)      Kurangnya minat untuk melakukan riset.  Mengapa demikian? Yak arena riset itu memerlukan kesungguhan, energy dan pemikiran. Kita sadar bahwa riset masih belum menjanjikan dari sisi materi, sehingga riset tidak bisa diharapkan sebagai penghasilan utama bagi para peneliti. Tentu saja hal ini membuat peminat untuk menggeluti riset sebagai kegiatan utamanya sangat rendah. Tidak seperti di negara maju, penghargaan terhadap peneliti tinggi dan bisa menjamin untuk mencukupi kebutuhan mereka. Berkaca dari pengalaman UI yang merintis sejak tahun 2007, karier dosen-dosen dibagi dalam dua jalur, yakni sebagai dosen inti pengajaran dan penelitian.Dosen yang berkarya di bidang penelitian mendapat gaji yang lebih tinggi. Para dosen yang memilih karier di penelitian mendapatkan beban mengajar yang lebih sedikit.Contohnya, dosen yang berkarya di bidang penelitian mendapat gaji yang lebih tinggi. Para dosen yang memilih karier di penelitian mendapatkan beban mengajar yang lebih sedikit. Gaji dosen peneliti di UI Rp 15 juta-Rp 38 juta. Kebijakan ini telah mampu mendongkrak produktivitas ilmiah UI sangat fantastis. Barangkali model yang diterapkan oleh UI bisa dicontoh oleh perguruan tinggi lain. Read the rest of this entry »





Menciptakan Budaya Riset di Perguruan Tinggi (Bagian 2)

23 01 2012

Oleh: Urip Santoso

Apa ciri-cirinya suatu perguruan tinggi sudah mempunyai budaya riset? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Menurut saya, beberapa ciri bahwa budaya riset sudah dianut oleh suatu perguruan tinggi antara lain:

1)      Riset sudah menjadi kebutuhan dalam pengambilan keputusan atau kebijakan di perguruan tinggi tersebut.

2)      Riset sudah menjadi bagian utama dalam proses belajar mengajar (PBM).

3)      Riset sudah menjadi bagian utama dalam pengabdian pada masyarakat.

4)      Sebagian besar dosen aktif dalam riset, seminar/desiminasi, publikasi ilmiah, mimbar akademik atau yang sejenis.

5)      Sebagian besar mahasiswa aktif dalam kegiatan penalaran baik yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi maupun oleh pihak lain.

6)      Karya ilmiah yang dihasilkan oleh sivitas akademika diakui kontribusinya dalam pengembangan iptek minimal di tingkat nasional. Paten yang dihasilkanpun bernilai tinggi.

7)      Para dosen aktif melakukan networking di bidang keilmuan. Read the rest of this entry »





Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah 2011

22 01 2012

Pedoman Akreditasi terbitan berkala ilmiah telah diperbaharui, yaitu dengan keluarnya Peraturan Ditjen Dikti no. 49/DIKTI/Kep/2011 tentang Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah. Ada beberapa perubahan di dalam peraturan ini jika dibandingkan dengan pedoman sebelumnya. Untuk lebih jelaskan silahkan download pedoman berikut ini. Pedoman Terbitan Berkala Ilmiah (Perdirjen Dikti No.49)





Sebuah Cerita Dibalik Pilkada

22 01 2012

Ini sebuah cerita dibalik pilkada. Entah benar, entah salah. Yang jelas cerita ini sudah menyebar kemana-mana dengan cepat bagaikan virus ganas. Seorang pemilih sebut saja Za. Didatangi oleh tim sukses calon bupati A. Mereka memberi uang Rp 100.000,- Pesannya tentu saja coblos calon A.  ”Ya, jawab Za. Tidak lama kemudian, datanglah tim sukses calon bupati B. Mereka tanya berapa A memberi uang. Dijawab oleh si pemilih dengan jujur Rp 100.000,-. Maka tim sukses B memberi uang Rp 150.000. Pesannya juga coblos calon B. Dijawab sama “ya”.  Beberapa saat kemudian datang tim sukses calon bupati C. Langsung saja mereka tanya berapa dikasih oleh calon B. Dijawab jujur Rp 150.000,-. Lalu tim sukses calon C memberi uang Rp 200.000,-. Pesannya juga coblos calon C. Dijawab juga “ya.  Begitu seterusnya.

Tibalah hari pencoblosan. Sang pemilih yang sudah menerima uang tersebut dan sudah berjanji untuk mencoblos calon tersebut sedikit bingung. Ia tidak mau dikatakan ingkar janji dan ia memang tidak mau ingkar janji. Lalu apa yang dilakukannya? Ia mencoblos semua calon bupati yang telah memberi uang tersebut.

Akhirnya, sang calon bupati gigit jari….





Menciptakan Budaya Riset di Perguruan Tinggi (Bagian 1)

21 01 2012

Oleh: Urip Santoso

(Mohon maaf tulisan ini masih sangat dangkal tapi sebagai awal saya kira cukup memadai)

Menciptakan budaya riset dalam suatu perguruan tinggi sangat penting karena salah satu karakteristik atau tugas perguruan Tinggi adalah meneliti dan mengembangkan keilmuan, yang merupakan salah satu dharma dari tiga dharma perguruan tinggi. Sebelum sampai kepada budaya riset sebelumnya mari kita bahas terlebih dahulu apa itu budaya.

Pengertian budaya

Budaya adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Adapun perwujudan budaya adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Budaya riset

Menurut Prof. Stephen Mines, budaya riset merupakan struktur yang memungkinkan seorang peneliti menghasilkan, mengkomunikasikan dan memahami ilmu pengetahuan baru. Budaya penelitian juga merupakan salah satu tahapan, yang diperlukan bagi seorang calon peneliti atau akademisi memperkenalkan diri kepada dunia publikasi.

Lalu apa yang perlu diperhatikan seorang peneliti dalam menciptakan budaya riset? Stephen menjelaskan bahwa seorang peneliti penting untuk menentukan harapan dan dukungan, menyeimbangkan harapan (sebagai contoh : mengajar, administrasi dan penelitian), group membaca, dukungan dan dorongan dari teman, menulis review, program seminar, melakukan presentasi di konferensi, mempublikasikan karya tulis ilmiahnya, mencoba menentukan penghalang dan peluang dalam penelitian, peran dari sebuah pernyataan, kinerja yang diharapkan, pengajaran yang diharapkan, training ketrampilan penelitian, bahan kepustakaan dan ketrampilan, waktu, penyebaran hasil penelitian, serta mempersiapkan diri dari segi bahasa. Read the rest of this entry »





Pertempuran Calon Dekan Semakin Panas

20 01 2012

Hari ini, Jum’at, tanggal 20 Januari 2012 jam 14.00 WIB akan digelar pemilihan Dekan di Fakuktas Pertanian Universitas Bengkulu (UNIB). Ada 6 kandidat yang mencoba keberuntungan, yaitu Edi Suharto, Johan Setianto, Zamdial, Dwinardi, Abimayu DN dan Ketut Sukiyono. Mereka masing-masing mengklaim dukungan senat. Kalau dihitung jumlah anggota senat yang akan memilih naik dua kali lipat. Faktanya hanya 30 anggota senat yang memilih, tetapi berdasarkan hasil klaim para kandidat anggota senat naik kira-kira menjadi 60 orang.

Dari enam kandidat Dekan Fakultas Pertanian, ada dua kandidat yang diprediksi akan bersaing ketat, yaitu Prof. Dwinardi dan Prof. Johan Setianto. Tampaknya, persaingan antara kedua kandidat ini memanas. Apalagi menjelang pemilihan Dekan ini, mereka harap-harap cemas. Kedua kandidat ini tentu saja telah melakukan konsolidasi dan pasang strategi yang dianggap jitu. Mereka juga telah memprediksi berapa suara yang bakal diperoleh. Tentu saja mereka masing-masing mengklaim sebagai kandidat yang akan memenangkan pertempuran tersebut. Pokoknya seru deh!

Lepas dari siapa yang akn menang, saya berharap Dekan terpilih nantinya bisa mengayomi seluruh lapisan kampus di Fakultas Pertanian, dan mampu mendorong kemajuan Fakultas Pertanian UNIB ke arah yang membanggakan. Sebab jika Dekan terpilih masih dikukung oleh kelompokisme maka kemajuan fakultas akan tersendat. Mengapa? Ya, karena ia tidak akan memberdayakan semua sumber daya manusia (SDM) yang ada. Hal ini akan menimbulkan konflik horizontal dan vertikal, dan akan lebih banyak lagi SDM yang apatis di Fakultas Pertanian UNIB.

Saya tunggu gebrakan Dekan Fakultas Pertanian UNIB terpilih, kami sivitas akademika (SDM) di Fakultas Pertanian UNIB akan mendukung penuh jika Bapak mampu memimpin secara bijaksana dan adil





Boros Itu Membahayakan

19 01 2012

Oleh: Urip Santoso

 Allah swt berfirman dalam Surat Al-Israa’ ayat 26-27 sebagai berikut:

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan”.

Kalau membaca arti dari ayat di atas, maka boros artinya menghambur-hamburkan harta. Atau bisa juga menggunakan harta secara berlebih-lebihan. Atau bisa juga menggunakan harta melebihi dari kebutuhan. Sebagai ilustrasi, seorang ibu pergi ke mall dan disana terdapat diskon pakaian 75%. Ibu itu tertarik dan membeli pakaian banyak-banyak. Sampai di rumah pakaian itu tidak dipakainya karena memang tidak butuh.  Contoh lain, seorang ibu pergi berbelanja membeli bahan makanan, sampai di rumah bahan makanan itu tidak dimasak-masak akhirnya busuk. Ini juga bisa dikatakan boros. Jadi, boros bisa dilakukan oleh siapa saja, baik yang miskin maupun yang kaya. Boros bisa dikatakan merupakan gaya hidup berlebih-lebihan dalam menggunakan sumber daya demi untuk kesenangan semata-mata. Gaya hidup boros bisa dilakukan oleh individu dan juga beramai-ramai (institusi).

Contoh Sifat Boros yang Lainnya dalam Kehidupan

  1. Suka membeli produk yang mahal karena gengsi.
  2. Suka belanja dengan kartu kredit tanpa melihat daya beli.
  3. Boros dalam mengunakan  energi dan air.
  4. Pengeluaran lebih besar dari penghasilan (kecuali penghasilan rendah).
  5. Suka menyisakan dan membuang-buang makanan.
  6. Membeli barang yang tidak dibutuhkan.
  7. Boros pulsa telepon, bensin, gas dan lain-lain
  8. Memiliki hobi yang mahal biayanya.
  9. Makan berlebihan ketika datang ke pesta, sehingga banyak makanan yang terbuang.
  10. Lain-lain yang sejenis. Read the rest of this entry »




Indonesia, Negeri Autopilotkah?

16 01 2012

Akhir-akhir ini istilah autopilot populer di Indonesia. Asalnya istilah autopilot adalah sistem mekanikal, elektrikal, atau hidrolik yang memandu sebuah kendaraan tanpa campur tangan manusia.  Umumnya autopilot dihubungkan dengan pesawat,  tetapi autopilot juga digunakan di kapal  dengan istilah yang sama.

Nah, dewasa ini autopilot digunakan untuk menggambarkan kondisi negara Indonesia, dimana pemerintah seolah-olah tidak berperan dalam dinamika kehidupan rakyat Indonesia. Indonesia dibiarkan berjalan begitu saja. Kemiskinan dibiarkan mengatasi masalahnya sendiri. Bisnis dibiarkan berjalan apa adanya. Semuanya dibiarkan begitu saja. Istilahnya biarlah masyarakat mengatasi masalahnya sendiri. Dimana pemerintah?

Negeri ini berjalan sendiri, tanpa kehadiran pemerintah. Semua persoalan diserahkan kepada masyarakat untuk diselesaikan atau tidak bisa diselesaikan. Diserahkan kepada masyarakat untuk diselesaikan dengan cara damai atau dengan cara kekerasan.

Contohnya, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,5 persen tahun 2011, terjadi bukan karena sentuhan dari pemerintah. Dengan dibiarkan saja perekonomian berjalan oleh pemerintah, maka ekonomi negara ini memang akan tumbuh dengan sendirinya.

Ini terjadi karena pilot di Indonesia tidak berusaha mengendalikan sistemnya, tidak berusaha mengatasi berbagai masalah yang terjadi di negara ini. Semuanya dibiarkan begitu saja.

Inilah kritik yang pedas bagi presiden. Meskipun apa yang terjadi sebenarnya ditentukan oleh berbagai pihak dan berbagai hal, tetapi presiden kan pengambil keputusan. Jika presiden mampu mengendalikan pemerintahnya; jika presiden mampu bertindak tegas, maka barangkali kondisi negeri ini tidaklah separah ini.

Autopilot membuat kontrol rendah terhadap semua persoalan. Masing-masing institusi melakukan aktivitasnya sendiri. Eksekutif berjalan sendiri, legislatif berjalan sendiri, yudikatif berjalan sendiri. Tidak ada yang mengendalikan. Jika sistemnya belum bagus sebagaimana Indonesia maka autopilot bisa menghancurkan negeri ini.

Istilah autopilot juga bisa menggambarkan bahwa suatu negara telah mempunyai sistem yang baik, sehingga aktivitas di suatu negara sudah dapat berjalan dengan sendirinya. Masing-masing sudah memahami dan melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Hal ini membuat gejolak politik tidak akan banyak berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.





Alexa Rank Blogku Anjlog

15 01 2012

Dari pertengahan bulan Desember 2011 yang lalu alexa rank blog ini anjlog, demikian pula blog-blog lain yang saya kelola. Saya bingung apa ya sebabnya. Lalu saya coba analisis sebagai berikut:

1) Site link in: site link in blog ini naik terus. Jadi, saya simpulkan bahwa penurunan alexa rank tidak ada kaitannya dengan site link in, walaupun pada dasarnya site link in itu mengidenkasikan reputasi blog. Semakin tingi jumlah link in maka semakin baik pula reputasinya.

2) Jumlah pengunjung: jumlah pengunjung memang turun dari rata-rata di atas 1500/hari menjadi di atas 1000/hari. Akan tetapi ketika jumlah pengunjung naik menjadi kira-kira 1200/hari ternyata blog ini turun terus peringkatnya. Wah, saya jadi bingung nich.

3) Jumlah page view: Page view adalah jumlah halaman yang diakses oleh pengunjung per harinya. kalau saya baca dari ini, maka jumlah halaman yang diakses per harinya relatif naik turun. Lah, kalau dihubungkan dengan alexa rank saya tidak nyambung. Mungkin saja ada pengaruhnya tapi kurang signifikan. Wah, jadi tambah bingung!

4) Lamanya pengunjung akses: Data ini belum saya peroleh. Mungkinkah lamanya pengunjung mengakses blog ini ada pengaruhnya terhadap alexa rank? Ini memang perlu kajian yang lebih mendalam.

5) Keaslian artikel: Saya berusaha membuat artikel original (asli) meskipun belum 100%. Mungkinkah hal ini yang berpengaruh terhadap peringkat alexa? Akhir-akhir ini, dalam menulis saya selalu berusaha mencantumkan sumbernya misalnya di daftar pustaka. Tapi toh seperti kurang mampu mengerem anjlognya alexa ranknya.

6) Kualitas artikel: kalau mengenai hal ini tentu saja saya sulit menilai kualitas artikel yang saya sajikan. Menurut saya sih sudah bermutu, tapi bagaimana menurut alexa? Jangan-jangan masih dinilai kurang bermutu.

7) Jumlah Komentar: jumlah komentar di blog ini  naik turun, jadi sulit dijadikan indikator penurunan alexa rank. Artikel yang dinilai bermutu biasanya banyak komentar yang masuk. Sayangnya, tidak semua pengunjung mau menyediakan waktu memberi komentar. lebih baik dikunjungi oleh 50 orang/per hari tapi dengan komentar 10 daripada dikunjungi 100 orang/hari tapi tanpa komentar.

8) Alexa rank blog lain: Mungkinkah turunnya alexa rank blog saya ini disebabkan oleh naiknya alexa blog lain? Sayangnya sulit mendapatkan alexa rank blog lain secara lengkap. Bukankah jumlah blog seluruh dunia jutaan jumlahnya. Atau paling tidak data daftar blog di Indonesia, sehingga kita bisa membandingkan peringkat alexa blog lain di Indonesia.

9) Up dating blog: Saya rutin mengisi blog ini paling sedikit satu kali per minggu. Jadi rasanya tidak mungkin penurunan peringkat alexa disebabkan oleh hal ini.

Simpulannya? Saya belum tahu persis penyebab utama anjlognya peringkat alexa blog ini! Tolong pembaca, bantu saya!





Impianku Tentang Para Pemimpin

13 01 2012

Aku merasa sedih, betapa banyak orang berebut kedudukan tanpa mempertimbangkan apakah dirinya mampu atau tidak. Betapa banyak musibah ketika kandidat tertentu tidak terpilih. Masa begitu beringas ketika calonnya gagal mencapai kursi kekuasaan. Padahal, bila kandidat mereka terpilih mereka dilupakan begitu saja.

Aku sedih, betapa banyak calon pemimpin mengumbar janji dan mengumbar sumpah. Betapa banyak janji kosong yang membuai para pemilih mereka luncurkan. Tapi apa yang terjadi ketika mereka terpilih? Mereka pura-pura lupa akan janjinya. Mereka menyusun seribu alasan untuk membela diri sendiri. Rakyat ternganga, rakyat mengumpat tanpa daya.

Aku sedih betapa para calon penguasa/penguasa membodohi rakyatnya. Mereka tidak membuat pintar rakyat malah membuat bodoh. Sebab, jika rakyat bodoh maka mereka mudah diarahkan kemana para penguasa sukai. Sebab jika rakyat pintar mereka tidak punya ruang di kursi empuk.

Aku sedih melihat betapa mereka yang mendapat amanah tidak memenuhi amanah itu, bahkan melupakan janji yang pernah diucapkan. Aku sedih melihat mereka hanya mementingkan diri mereka dan kelompok mereka. Mereka berusaha menghancurkan kelompok lain dengan berbagai cara agar mereka tetap berukuasa. Mereka begitu getol memperkaya diri dengan senyum pongahnya.

Aku bermimpi, kita semua tidak memperebutkan jabatan, tidak meminta jabatan, karena jabatan adalah amanah yang  sangat berat. Aku bermimpi, mereka yang mendapat kesempatan memperoleh kekuasaan mengayomi semua lapisan masyarakat, sehingga kesejahteraan, keamanan, kenyamanan dll. dapat dirasakan semua lapisan masyarakat.

Aku bermimpi, mereka yang berkuasa menangis setiap malam karena takut kepada Allah; takut kalau-kalau mereka tidak memegang amanah yang dipercayakan kepadanya. Dengan demikian mereka akan berhati-hati dalam setiap langkahnya.

Aku bermimpi, mereka yang menjabat tidak memperkaya diri bahkan mengorbankan harta mereka demi kesejahteraan rakyatnya.

Aku bermimpi, para pemimpin kita benar-benar pemimpin yang sebenarnya. Yang membuat rakyatnya pintar, yang membuat rakyatnya tersenyum bahagia, yang membuat negeri ini disegani oleh penduduk dunia, yang membuat negeri ini aman sentosa, yang membuat negeri ini maju tak tertandingi, yang membuat negeri ini kuat tapi tidak sombong.

Aku bermimpi, mereka yang berkuasa sadar bahwa amanah yang dipegangnya akan dipertangungjawabkan dihadapan Allah, Sang Penguasa yang Sesungguhnya.

Aku bermimpi dan bermimpi terus  dan tidak mau bangun dari tidurku, karena mimpi itu terasa lebih indah daripada kenyataan.





MEMBANGUN DAYA SAING FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU MELALUI REALISASI BUDAYA RISET DAN JIWA KEWIRAUSAHAAN SIVITAS AKADEMIKA

12 01 2012

Oleh: Prof. Ir. Urip Santoso, S. IKom., M. Sc., Ph. D 

Pendahuluan

Kemajuan suatu bangsa bergantung kepada kualitas sumber daya manusia (SDM) nya. Indikator kualitas SDM yang tinggi di negara maju ditandai oleh dua hal, yaitu 1) riset dan pendidikan dijadikan ujung tombak negara tersebut, 2) tingginya persentase pengusaha di negara tersebut. Di negara maju riset dijadikan landasan dalam semua aspek pengambilan keputusan dan kebijakan baik di sektor pemerintah maupun sektor swasta. Oleh sebab itu terdapat jembatan antara riset & pengembangan dengan aktivitas nyata baik di sektor pemerintah maupun sektor swasta.

Selain itu, saat ini lapangan kerja di sektor publik dan sektor  swasta  di Indonesia sangat terbatas.  Bursa kerja di sektor publik semakin rendah dengan adanya kebijakan pemerintah yaitu zero growth. Kebijakan ini menekankan bahwa penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) hanya dilakukan untuk mengganti PNS yang pensiun, kecuali jika terdapat pengembangan propinsi atau kota/kabupaten. Disisi lain, masyarakat masih beranggapan bahwa menjadi PNS atau menjadi pegawai swasta (perusahaan, industri dll.) merupakan kebanggaan sekaligus tumpuan masa depan yang menjanjikan. Keadaan yang tampak berlawanan ini harus segera diatasi agar tidak terjadi stagnansi dalam pertumbuhan suatu wilayah atau negara.

Jika kita mempelajari negara maju, maka yang membuat suatu negara mengalami pertumbuhan yang luar biasa sehingga menjadi negara yang mandiri bukan karena banyaknya PNS tetapi dikarenakan oleh sektor swasta yang berkembang pesat. Artinya, lebih banyak penduduk yang bekerja secara mandiri (wirausaha) untuk kemudian menciptakan lapangan kerja daripada menjadi PNS. Selain itu, pengambil kebijakan baik di sektor publik maupun swasta selalu mengedepankan riset sebelum mereka mengambil suatu keputusan atau kebijakan. Rendahnya perkembangan sektor swasta di Indonesia khususnya di Propinsi Bengkulu juga disebabkan oleh motivasi penduduk untuk membuka wirausaha baru sangat rendah. Mereka cenderung menjadi pencari kerja daripada pencipta kerja.

Kondisi ini memaksa perguruan tinggi sebagai penghasil sumber daya manusia (SDM) yang diharapkan handal untuk mencari solusi agar lulusan mereka mampu bersaing  di bursa kerja. Pada abad ini dan ke depan, orientasi perguruan tinggi harus berubah dari transfer pengetahuan ke pencipta pengetahuan; dari demanding university menjadi entrepreneur university; dari pencipta keterampilan  menjadi perguruan tinggi berbasis riset. Read the rest of this entry »







Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers